Headlines News :

    Follow Kami di Twitter

    Cari Berita / Artikel disini

    Like Fun Page Kami

    Keteraturan Berfikir Tentang Pembangunan

    Dedi Purwanto, S.H.
    PEWARTAnews.com – Kenapa kita terlalu sering mendefinisikan berkembang atau maju (modern) hanya pada bentuk fisik (infrastruktur) semata. Kenapa pembangunan itu identik dengan bangunan saja, kenapa tidak mengakomodir definisi tersebut sampai pada dimensi yang lain?. Kenapa kita tidak utuh untuk melihatnya. Bukankah dalam lagu kebangsaan kita ada dua tipologi pembangunan secara filosofis ''bangunlah jiwanya, bangunlah raganya". Kita hanya fokus pada bagian kedua yaitu bangunan raga (infrastruktur), padahal sebelum raga itu dibangun kita harus terlebih dahulu untuk membangun jiwa (mental dan kepribadian). Kita tidak bisa maksimal dalam bangunan yang bersifat raga (infrastruktur) kalau bangunan jiwa (roh) kita belum terisi.

    Semestinya sebelum bangunan raga itu di lakukan kita harus membangun jiwa terlebih dahalu, atau mungkin, kedua hal tersebut bisa saja kita bangun dalam waktu yang bersamaan lewat program-program kemanusia dan infrastruktur. Bangunan jiwa itu termanisfestasi dalam upaya yang serius untuk melihat dan menyelesaikan persoalan anak-anak, remaja dan pemuda karena mengalami dekradasi yang cukup memprihatinkan dalam hal moral, etika, dan pergaulan. Semestinya itu yang kita utamakan. Sebab apa gunanya rumah mewah kalau kita tidak tau bertegur sapa dengan tetangga, apa gunanya hasil panen bawang yang melimpah kalau kita sudah buat jarak dengan orang lain, apa gunanya bangunan desa kalau setiap orang dalam desa tersebut sudah tidak mengenali diri mereka sendiri dalam realitas diri dan sosialnya.

    Gejala-gejala semacam itu mungkin saja bisa terjadi karena ada beberapa faktor. Pertama, kita tidak utuh mengamati sebuah realitas sosial. Maksudnya, dalam analisis pembangunan kita harus mengawinkan beberapa pendekatan supaya sesuatu tidak cacat dalam konsep maupun praxis. Melihat secara menyuruh dan utuh dari kacamata filosofis, yuridis, sosiologis, budaya dan agama sebelum sesuatu itu dilakukan. Kedua, Mental kita masih mental kolonial (penjajah). Kita meneriakkan suatu ketidakadilan ketika hak-hak kita tidak diindahkan namun apabila hak kita sudah di penuhi kita menjadi penjajah yang baru untuk orang lain. Semisal, kita tidak suka melihat orang kaya yang serakah karena kita masih miskin, tapi ketika kita kaya kita malah membenarkan cara-cara tersebut untuk kepentingan diri. Ketika : Kita tidak tau atau kurang tau identitas dan personalitas Ke-daerahan-an kita dan Ke-desa-an. Maksudnya dalam suatu daerah atau desa sesungguhnya hidup suatu falsafah, cara pandang, dan pandangan hidup, yang dimana semua itu ada untuk membentuk sistem nilai, etika, moral dan spiritual suatu daerah atau desa. Misalnya kata Ncera, dibalik nama sebuah Ncera sesungguh hidup identitas dan personalitas sekelompok orang yang hidup didesa tersebut. Berarti Ncera tidak hanya di maknai sebagai nama suatu desa secara administrasi tapi juga Ncera adalah identitas dan personalitas. Ncera tidak hanya sebagai kata benda tapi Ncera adalah kata sifat dan kata kerja. Ncera sendiri dalam bahasa Indonesia berarti ‘murah’.

    Setidaknya ada dua indikator untuk mendefinisikan Ncera (murah) yaitu ekonomis dan filosofis. Secara ekonomis Ncera (murah) bisa didefinisikan untuk dua keadaan ekonomi. Pertama, Ncera (Murah), sesuatu itu murah karena harganya dibawah rata-rata. Kedua, Harga sesuatu itu tidak kurang atau tidak lebih. Sedangkan kata Ncera (murah) berdasarkan filosofis adalah baik, baik hati, murah hati. Dan orang Ncera (murah) semestinya mensifati diri mereka pada definisi dari Ncera (murah) itu sendiri. Sebab suatu nama adalah doa dan harapan, selain doa nama adalah suatu identitas dan personalitas. Contoh kalimatnya “ orang Ncera yang punya sifat ke-Ncera-an”.

    Kemajuan memang tolak untuk suatu daerah atau desa supaya diakui secara normative. Namun disisi lain kemajuan akan tercipta apabila visi-misinya tidak hanya terfokus pada infraktruktur belaka. Akan tetapi, yang terpenting adalah proses untuk mengelaborasikan diri dan keteraturan setiap komponen sosial pada pembangunan yang berbasis jiwa (roh) dan juga raga (jasad). Maksudmua, dalam setiap konsep pembangunan itu mereka melihat diri mereka sendiri pada bangunan itu. Ini penting supaya setiap orang tidak merasa asing dengan desa, daerah, dan Negaranya. Kalau setiap orang sudah merasa asing maka penolakan dan kerusakan pasti terjadi.

    Tanah adalah asal segala sesuatu, dari tanah kita ada, di tanah kita bersujud, dan kepada tanah kita kembali. Semestinya tata ruang tidak hanya dibangun berdasarkan terminologi positivistik tapi juga harus di bangun berdasarkan pendekatan kosmos (melihat manusia, alam dan Tuhan sebagai satu kesatuan). Upaya membuat lingkungan kita sendiri sebagai manifestasi dari diri kita adalah kaharusan sebab itu akan melahirkan keteraturan dan keharmonisan. Semua elemen wajib bahu membahu untuk merealisasikan itu. Kita tidak mau hanya melihat Tuhan di masjid saja, setiap orang pasti ingin melihat tanda kekuasaan Tuhan di mana-mana. Dari kemampuan kita untuk merasa dan melihat tuhan (nyaman, tenang, indah) di setiap rencana administrasi desa inilah yang membuat setiap orang nyaman dan tenang di desanya sendiri.

    “Mari ngopi, banyak baca dan ketik. Jangan banyakin intrik dan menghujat. Kalau mau lumpahkan kekecewaan atau kritik, silahkan minta sama pemerintah desa atau daerah untuk sediakan panggung ilmiah. Supaya diskusinya agak sedikit disiplin dan tidak terkesan ngawur.


    Penulis: Dedi Purwanto, S.H.
    Eks Ketua Umum Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY) / Pemuda Asal Ncera, Belo, Bima, NTB. 

    Hukum dan Radikalisme Agama di Indonesia

    PEWARTAnews.com -- Tahun 2015 silam, salahsatu anggota Dewan Pewakilan Daerah Republik Indonesia, Farouk Muhammad dalam bukunya pernah menerawang akan kondisi bangsa terkait radikalisme, beliau mengatakan bahwasannya memasuki usianya yang ke-70, bangsa dan negara Indonesia tampaknya akan terus diuji untuk menyelesaikan sejumlah persoalan dalam menjaga karakternya sebagai bangsa yang plural dan majemuk. Salah satu agenda mendesak yang sudah semestinya menjadi perhatian kita bersama adalah isu tentang penanganan konflik-konflik sosial bernuansa agama (Farouk Muhammad, 2015: 17). Hasil terawangan tersebut, kini benar-benar terbukti adanya. Dewasa ini banyak kita temukan penyimpangan yang keluar dari aturan secara legal formal berlaku di Indonesia, salahsatunya terkait radikalisme.

    Negara Indonesia adalah negara hukum, begitu bunyi Pasal 1 Ayat (3) amandemen ketiga Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945). Karena Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menganut Negara hukum, maka dalam suatu negara hukum semua orang harus diperlakukan sama dihadapan hukum (equality before the law). Oleh karenanya, setiap orang yang melakukan perbuatan melawan hukum, termasuk pelaku radikalisme, maka akan menerima konsekwensi hukum atas apa yang ia perbuat (M. Jamil[1], 2016: 23). R. Soepomo memandang bahwa setiap hukum merupakan suatu sistem, yang mana peraturan-peraturannya merupakan suatu kebulatan berdasarkan alam pikiran (M. Jamil[2], 2016: 43). Oleh karenanya membangun Indonesia agar lebih besar dan lebih bermartabat lagi, kita harus memulainya dengan memurnikan alam pikiran kita semata-mata untuk membangun bangsa dan negara tercinta ini.

    Agar sama persepsi dalam pemaknaan radikalisme, Penulis perlu menjelaskan terlebih dahulu secara sederhana apa itu makna atau pengertian dari radikalisme.

    Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memberikan pengertian radikalisme adalah paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis (KBBI, 1995).

    Radikalisme merupakan embrio lahirnya terorisme. Radikalisme merupakan suatu sikap yang mendambakan perubahan secara total dan bersifat revolusioner dengan menjungkirbalikkan nilai-nilai yang ada secara drastis lewat kekeraan (violence) dan aksi-aksi yang ekstrem. Ada beberapa ciri yang bisa dikenali dari sikap dan paham radikal, diantaranya; 1) intoleran (tidak mau menghargai pendapat dan keyakinan orang lain), 2) fanatik (selalu merasa benar sendiri; menganggap orang lain salah), 3) eksklusif (membedakan diri dari umat Islam umumnya) dan 4) revolusioner (cenderung menggunakan cara-cara kekerasan untuk mencapai tujuan). (belmawa.ristekdikti.go.id, 24/05/2017).

    JRP French & Bertram Reven dalam bukunya The Basic of Social Power, mereka mengatakan bahwa perbutan kekuasaan dengan menggunakan radikalisme diklasifikasinya sebagai kekuatan pemaksaan (coercive power) yang selalu diluar konstitusional yang lazim disebut kudeta (coup d’etat) (Inu Kencana Syafiie, 1999: 19). Adanya kodisi yang demikian, Penulis jadi berpikir panjang, apa jadinya kekuatan pemaksaan yang sedang di gadangkan oleh kelompok-kelompok tertentu yang akhir-akhir ini sedang berkembang di Indonesia untuk merongrong keutuhan dan warna-warni yang terbingkai rapi dalam kebhinekaannya benar-benar akan terjadi. Jauh-jauh hari, para funding father bangsa ini sudah mendialogkan panjang lebar terkait idiologi mana yang lebih baik di terapkan untuk Indonesia terkasih, akhirnya disepakatilah Pancasila sebagai idiologi dasar negara ini.

    Warga Indonesia mayoritas memeluk agama Islam. Jauh sebelum bangsa Indonesia berdiri tegak dan menyatakan kemerdekaannya, yakni pada masa Nabi Muhammad SAW, seorang nabi pembawa kedamaian di muka bumi ini, pernah mengingatkan dengan tegas pada umatnya (orang-orang Islam), “Barang siapa membawa senjata untuk mengacau kita, maka bukanlah ia termasuk umatku.” (H.R. Bukhâri dan Muslim dari Ibn ‘Umar). Hadist tersebut menggambarkan bahwasannya seorang nabi begitu sangat bencinya pada orang-orang yang berbuat kekacauan di tengah masyarakatnya yang beradab, hidup tentram dan rukun dalam kebersaaan yang utuh, kalau ada yang bersikap demikian, tidak segan-segan dikatakan bahwasannya mereka bukan sebagai umatnya.

    Dewasa ini, orang yang radikal atau penyebar paham radikalisme sering dikaitkan dengan agama tertentu. Untuk meluruskan pandangan itu, pada prinsipnya semua agama di dunia ini, oknumnya bisa berpotensi sebagai orang yang radikal atau penyebar paham radikalisme, baik itu agama Kristen, Protestan, Hindu, Buddha, Konghuchu, Islam maupun Agama dan kepercayaan lainnya. Oleh karenanya, pelabelan secara massal pada agama tertentu sebagai sarang atau penyebar radikalisme harus kita hindari bersama, apalagi di Indonesia terbingkai dalam Bhineka Tunggal Ika (yang walau pun berbeda suku, ras, agama, dan kepercayaan dalam pribadi masing-masing, namun tetap satu tujuan) yakni tujuan sama-sama meyakini Indonesia sebagai satu tumpah darah dan sama-sama bercita-cita menjadikan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar serta disegani oleh bangsa-bangsa lain (M. Jamil[1], 2016: 24).

    Kondisi yang terjadi dewasa ini, baik di warung kopi, bangku kuliah, ruang kajian, ruang seminar, bahkan tulisan-tulisan di media massa sering memperbincangkan semua persoalan dan seluk beluk seputar radikalisme. Pada hakikat dasarnya, istilah dan persoalan radikalisme bukan merupakan konsep yang asing lagi di mata dan telinga kita sebagai bangsa Indonesia. Berkaitan dengan ini, M. Sidi Ritaudina menggambarkan, pada dasarnya secara umum ada tiga kecenderungan yang menjadi indikasi radikalisme yang berkembang dewasa ini, yaitu :

    Pertama, radikalisme merupakan respons terhadap kondisi yang sedang berlangsung, biasanya respons tersebut muncul dalam bentuk evaluasi, penolakan atau bahkan perlawanan. Masalah-masalah yang ditolak dapat berupa asumsi, ide, lembaga atau nilai-nilai yang dipandang bertanggung jawab terhadap keberlangsungan kondisi yang ditolak (M. Sidi Ritaudin, 2014: 391-392). Sedangkan biasanya yang dilakukan perlawanan adalah hal-hal yang terkadang termaknai belum matang (dimaknai sempit), ujung-ujungnya cepat mengambil sikap sebagai rujukan tindakan tanpa menelaah, mengkaji serta menyaringnya terlebih dahulu.

    Kedua, produktifitas radikalisme yang tidak berhenti pada upaya penolakan, melainkan terus berupaya mengganti tatanan tersebut dengan bentuk tatanan lain. Tatanan lain yang dimaksud adalah implementasi penegakan syari’ah Islam dalam negara, karena hanya Islam yang mengandung ajaran dan tata nilai yang sempurna, holistik dan mandiri dalam arti tidak membutuhkan ideologi Barat yang sekuler. Kaum radikalis berupaya kuat untuk menjadikan tatanan tersebut sebagai ganti dari tatanan yang ada. Dengan demikian, sesuai dengan arti kata ‘radic’, sikap radikal mengandaikan keinginan untuk mengubah keadaan secara mendasar dari semua sistem kehidupan, baik ekonomi, politik, sosial dan negara (M. Sidi Ritaudin, 2014: 391-392).

    Pada dasarnya semua upaya pembawaan perubahan ke arah yang lebih baik itu sah-sah saja, selama sikap dan tata cara yang dilakukan tidak menyalahi aturan yang ada. Berbeda halnya bila sikap dan tindakan yang diambil oleh seseorang atau kelompok tertentu bertindak secara radikalisme serta menyalahi peraturan perundang-undangan yang secara legal formal melarangnya, maka sikap kita harus sigap dan mengambil tindakan tegas atas hal itu. Bila tidak bisa dilakukan seorang diri, maka laporkan tindakan-tindakan tersebut pada aparat yang berwenang untuk itu (polisi), biar mereka yang menindak lebih lanjut. Karena kalau kita hanya menonton tanpa megambil tindakan apa-apa, itu sama saja kita melakukan pembiaran untuk itu, efeknya kedepan akan lebih parah, bukan hanya akan berdampak pada kita, bisa jadi juga berdampak pada anak cucu kita, bahkan bisa jadi mengancam keutuhan dan ketentraman bangsa yang selama ini kita jaga dan pelihara bersama.

    Ketiga, kelompok radikalis ini memiliki suatu keyakinan yang sangat kuat terhadap kebenaran program atau ideologi yang mereka bawa. Sikap ini pada saat yang sama dibarengi dengan panafian kebenaran sistem lain yang akan diganti dalam gerakan sosial, keyakinan tentang kebenaran program atau filosofi sering dikombinasikan dengan cara-cara pencapaian yang mengatasnamakan nilai-nilai ideal seperti ‘kerakyatan’ atau kemanusiaan, yang dibarengi dengan sikap emosional dan memberi penilaian bahwa hanya arah dan keyakinan mereka sajalah yang mengandung kebenaran. Bahkan Sayyid Qutb membagi masyarakat, secara ekstrim, menjadi dua golongan yaitu masyarakat yang terdiri dari golongan Allah (hizbullah) dan vis a vis berhadapan dengan golongan syaithan (hizbussyaithan) (M. Sidi Ritaudin, 2014: 392).

    Kelompok-kelompok radikalisme sangat kuat dan tekun mendidik kadernya agar menjadi kader yang militan, embrio dari didikan itulah yang akan dijadikan sebagai kaki tangan untuk memuluskan kerja-kerja mereka dalam mewujudkan impian akhir mereka. Sebagai umat bangsa yang meyakini Pancasila sebagai idiologi dasar negara yang sudah final, perlu kita renungkan bersama kemilitansian mereka, dengan menyadari itu semua, kita harus jauh lebih militan dari didikan-didikan mereka untuk mempertahankan Pancasila. Pancasila sudah teruji dapat merawat dan mengharmoniskan berbagaimacam ras, agama, dan kepercayaan yang ada di Indonesia. Karena kalau kita melisik lebih dalam makna Pancasila, tidak ada yang bertentangan dengan nilai luhur yang terkandung dalam Islam.

    Strategi BNPT untuk Mencegah Radikalisme
    Dalam bidang pencegahan, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menggunakan dua strategi untuk mencegah radikalisme dan terorisme, Pertama, kontra radikalisasi yakni upaya penanaman nilai-nilai ke-Indonesiaan serta nilainilai non-kekerasan. Dalam prosesnya strategi ini dilakukan melalui pendidikan baik formal maupun non formal. Kontra radikalisasi diarahkan masyarakat umum melalui kerjasama dengan tokoh agama, tokoh pendidikan, tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh pemuda dan stakehorlder lain dalam memberikan nilai-nilai kebangsaan. Strategi kedua adalah deradikalisasi. Bidang deradikalisasi ditujukan pada kelompok simpatisan, pendukung, inti dan militan yang dilakukan baik di dalam maupun di luar lapas. Tujuan dari deradikalisasi agar; kelompok inti, militan simpatisan dan pendukung meninggalkan cara-cara kekerasan dan teror dalam memperjuangkan misinya serta memoderasi paham-paham radikal mereka sejalan dengan semangat kelompok Islam moderat dan cocok dengan misi-misi kebangsaan yang memperkuat NKRI (belmawa.ristekdikti.go.id, 24/05/2017).

    Strategi kedua, adalah deradikalisasi. Bidang deradikalisasi ditujukan pada kelompok simpatisan, pendukung, inti dan militan yang dilakukan baik di dalam maupun di luar lapas. Tujuan dari deradikalisasi agar; kelompok inti, militan simpatisan dan pendukung meninggalkan cara-cara kekerasan dan teror dalam memperjuangkan misinya serta memoderasi paham-paham radikal mereka sejalan dengan semangat kelompok Islam moderat dan cocok dengan misi-misi kebangsaan yang memperkuat NKRI (belmawa.ristekdikti.go.id, 24/05/2017).

    Pancasila sebagai Pencegah Disintegrasi Bangsa
    Dewasa ini banyak orang yang lebih mementingkan kepentingan pribadi atau kelompok daripada kepentingan umum. Akibat dari itu, hilangnya persatuan dan kesatuan diantara kita, sehingga dapat menyebabkan timbulnya disintegrasi bangsa. Kamus Besar Bahasa Indonesia memberi pengertian disintegrasi, adalah hilangnya keutuhan dan kesatuan.

    Bila melirik secara umum, disintegrasi bangsa merupakan suatu keadaan dimana suatu bangsa mengalami perpecahan. Mulai dari kondisi tanah air yang dihadapkan pada konflik dan pertikaian serta masalah lain sebagai pemicu terjadinya disintegrasi bangsa. Berbagai akumulasi masalah sosial yang terpendam dimasa lalu, bisa muncul dalam bentuk yang berbeda satu sama lain. Asalkan ada sedikit saja pemicunya, persoalan yang sepele pun dengan cepat bisa meledak, menyebar dan meluas secara cepat (karyatulisilmiah.com, 25/05/2017). Hal demikian perlu kita hindari bersama, agar persatuan dan kesatuan di negeri ini semakin kokoh.

    Pencegahan hal-hal yang tidak diinginkan seperti yang disebutkan diatas, terutama disintegasi bangsa, maka peningkatan pemahaman dan penghayatan serta pengamalan terhadap nilai-nilai pancasila merupakan suatu condition sine quanon. Nilai-nilai Pancasila dijadikan ukuran-ukuran dalam setiap pengambilan keputusan kebijakan penyelenggaraan negara, terutama dengan mempertimbangkan parameter-parameter keadilan dan keadaban. Hal ini sebagaimana yang diamanatkan dalam konstitusi bahwa pemerintah, penyelenggara negara dan lain-lain wajib memelihara budi pekerti kemanusiaan yang luhur dan memegang teguh cita-cita moral rakyat yang luhur (Armaidy Armawi, 2016: 25). Kita sebagai anak bangsa yang suatu saat nanti akan melanjutkan estafet kepemimpinan dari segala lini negara ini, harus bahu membahu dari sekarang menjaganya, agar kelak tidak hanya kita yang menikmati akibat baiknya, bahkan anak cucu serta cicit kita juga ikut menikmati dan melanjutkan dalam prosesi bernegara.

    Pancasila sebagai dasar negara sudah Final, namun masih perlu bahkan harus sering digaungkan diseluruh pelosok dan seantero Nusantara, karena pemaknaan-pemaknaan tiap warga negara berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu, perlu campur tangan kita semua untuk menyuarakan itu, lebih-lebih pemerintah harus pro aktif menggaungkan nilai-nilai luhur Pancasila, baik pemerintah di tingkat pusat, lebih-lebih pemerintah tingkat provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, desa, bahkan tigkat RT/RW, karene mereka-mereka juga bagian dan unsur terkecil dari pemerintah atau negara.

    Akhir paragraf, Penulis ingin mengatakan bahwa tulisan ini masih jauh dari sempurna. Walau dalam ketidaksempurnaannya itu, mudah-mudahan dapat memberi terang dan mampu menyemangati kita untuk turut andil dalam menggaungkan Pancasila dan UUD 1945 sebagai roh dan idiologi dasar negara Indonesia yang harus kita pertahankan bersama keutuhannya, serta mengutuk dengan keras segala bentuk radikalisme dan pelanggaran hukum lainnya yang meresahkan masyarakat, bangsa dan negara.

    [Tulisan ini, sebelumnya pernah dipublikasikan di Majalah Nusantara].


    Penulis: M. Jamil, S.H.
    Mahasiswa Magister Kenotariatan, Fakultas Hukum, Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Dapat dihubungi via Twitter/Instagram: @MJamilSH.

    Peran Orang Tua dalam Memberikan Pendidikan Politik Keluarga

    PEWARTAnews.com – Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari ayah, ibu dan nak-anak yang belum menikah yang sering disebut dengan keluarga batih. Disamping keluarga batih juga terdapat unit-unit pergaulan hidup lainnya misalnya keluarga luas, komunitas dan lain sebagainya.

    Di antara fungsi keluarga adalah fungsi edukatif. Ada banyak pendidikan yang harus dimulai dari keluarga, seperti pendidikan iman, pendidikan moral, pendidikan fisik, pendidikan intelektual, pendidikan psikis, pendidikan sosial, pendidikan seksual, dan pendidikan politik. Namun untuk bagian terakhir ini pendidikan politik sering luput dari perhatian. Keluarga (suami isteri) atau keluarga kecil, dianggap sebagai proyek percontohan kecil umat dengan berbagai karakteristik yang dimilikinya. Hal ini tercermin dalam nilai-nilai mendasar yang menentukan sistem Islam dan pada saat yang sama dianggap sebagai tonggak Islam dan batu pondasi yang sangat penting bagi sistem ini. Barangkali konsep kepemimpinan dan konsep syura merupakan karakteristik yang paling menonjol padanya.

    Kajian mengenai pendidikan politik dalam keluarga telah dimulai sejak zaman Plato dan Aristoteles yang mengasumsikan pendidikan anak-anak itu serupa dengan tabiat negara. Pemikir lainnya, Boden, dalam tulisan-tulisannya mengemukakan mengenai urgensi ketaatan dalam institusi keluarga sebagai dasar ketaatan terhadap institusi pemerintah. Kendati demikian, kesadaran akan adanya pendidikan politik dalam keluarga seperti ini memang belum dimiliki oleh sebagian masyarakat kita. Mereka hanya memberikan hak pendidikan politik ini kepada pemerintah dan partai politik.

    Praktik pendidikan politik dalam institusi keluarga dapat berlangsung dengan baik apabila didukung oleh berbagai perangkat dan mekanisme yang paling penting di antaranya adalah, pertama, hierarki kekuasaan dalam institusi keluarga, kedua, suasana keluarga, dan ketiga, bahasa, konsep serta simbol-simbol.

    Hierarki kekuasaan dalam keluarga merupakan cara pendidikan politik, karena institusi keluarga merupakan negara mini bagi anak-anak. Pengetahuan anak-anak tentang kekuasaan yang ada dalam institusi keluarga merupakan awal pengetahuannya terhadap kekuasaan di dalam negara dan kedudukannya di dalam negara.

    Sumbangan besar dari hierarki dalam keluarga beserta segala implikasinya dalam konteks pendidikan keluarga, bisa dilihat dari beberapa tema berikut: konsep kepemimpinan, ketaatan dalam kebaikan, serta konsep musyawarah. Keluarga harus memiliki kepemimpinan yang jelas, dan harus bersikap adil terhadap yang dipimpinnya. Agar bisa berlaku adil dalam memimpin, sehingga kepemimpinannya layak ditaati, diperlukan prinsip syura atau musyawarah. Dalam keluarga, hendaknya selalu membina suasana musyawarah.

    Oleh karena itulah agama menolak adanya paksaan seorang ayah untuk menikahkan putrinya tanpa meminta pendapatnya, walaupun putri itu masih gadis. Suasana keluarga juga memegang peranan penting dalam pendidikan politik. Cinta, kasih sayang dan kemesraan hubungan yang diperoleh anak-anak dalam keluarga merupakan sesuatu yang dapat mencetak jiwa dan perilaku sosial serta politik mereka. Jika anak-anak ditumbuhkan dalam suasana cinta dan kasih sayang, akan membentuk karakter cinta, kasih dan sayang dalam jiwa dan kehidupan mereka. Sebaliknya anak-anak yang tumbuh dalam suasana kekerasan, akan mudah mentransformasikan kekerasan itu dalam perilaku sosial dan politik mereka. Untuk masyarakat Barat memberikan petunjuk bahwa ketika anak kecil dihadapkan kepada pemilihan afiliasi partai politik kedua orang tuanya, ia akan cenderung kepada orientasi ibunya. Ini dianggap sebagi pengaruh ibu dalam pembinaan orientasi politik individu. Langton juga menunjukkan hasil kajian yang lain, adanya pengaruh ayah terhadap perilaku politik anak-anaknya sebagai pemain politik dalam masyarakat.

    Simbol-simbol yang ada dalam keluarga juga merupakan bagian dari pendidikan politik. Menurut Izaat, simbol-simbol politik bukanlah simbol-simbol yang berkaitan dengan kekuasaan dan negara saja, melainkan semua simbol budaya memiliki muatan makna politik. Bahkan sesungguhnya simbol-simbol itu sifatnya tidak langsung, tetapi terkadang lebih besar dan lebih dalam pengaruhnya dalam membentuk kesadaran politik anak-anak daripada simbol-simbol yang langsung. Dalam hal ini institusi sosial khususnya keluarga, lebih efektif dibandingkan dengan institusi-institusi politik pada umumnya.


    Penulis: Chichi 'aisyatud Da'watiz Zahroh, S.Pd.I., M.Pd.I.
    Mahasiswi Doktor Kependidikan Islam di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta.

    Fatima Mernissi, Sang Pejuang Hak Perempuan

    PEWARTAnews.com – Fatima Mernissi dilahirkan di sebuah Harem pada tahun 1940 di Fez kota ke sembilan di Maroko sekitar 5000 km dari Makkah dan 1000 km dari sebelah selatan Madrid. Dia dilahirkan  ditengah situasi kacau karena kaum laki-laki dan perempuan Kristen tidak mau menerima batas suci dalam Islam (hudud). Mernisi kecil hidup di dalam Harem diantara perempuan-perempuan yang secara tidak sengaja membentuknya menjadi pribadi yang kritis dan pemberani.

    Harem adalah rumah bertembok anggun yang didiami oleh sebuah keluarga besar dengan maksud mencegah perempuan memiliki kontak dengan dunia luar, sekaligus memudahkan proses pemantuan terhadap istri dan anak perempuan dari pengaruh dunia luar. Sebuah harem dijaga ketat oleh penjaga pintu agar perempuan tidak keluar. Tempat ini digunakan oleh suami untuk melindungi keluarganya, istrinya, anak-anaknya, dan saudara perempuannya. Tidak ada laki-laki yang boleh masuk tanpa seijin pemilik harem, jika mereka mau masuk, harus mematuhi aturannya. Perempuan penghuni harem telah kehilangan kebebasan bergerak.

    Ayah Mernissi adalah seorang penganut nasionalis yang menolak poligami, sedangkan ibunya tidak bisa baca tulis karena waktunya dihabiskan di Harem. Neneknya, Yasmina Mernissi membentuk jiwa pemberontak dalam diri Mernissi. Neneknya tidak terlalu terpelajar, namun kecerdasan, pengalaman di lingkungan pertanian yang terbuka, dan semangatnya menjadikannya solidarity maker diantara istri-istri Sidi Tazi (suami Yasmina atau Kakek Mernissi), yang menjadi potret nyata dari sisi lain perempuan bagi Mernissi.

    Mernissi belajar kepada neneknya tentang kesetaraaan sesama manusia, arti keterkungkungan dalam Harem, serta hubungan sebab akibat antara kekalahan politik yang dialami kaum muslim dengan keterpurukan yang dialami perempuan. “Ketika negara tidak mampu menyuarakan kehendak rakyat, perempuan menjadi korban dari situasi yang rawan kekerasan,” begitu kata-kata nenek kepada Mernissi.

    Mernissi mengajar sosiologi di Universitas Muhammad V di Rabat, yang banyak mempengaruhinya dalam memahami agama tentang relasi laki-laki dan perempuan.

    Mernissi juga aktif dalam gerakan-gerakan perjuangan hak perempuan dan dalam dunia perpolitikan ia menghasilkan karya tulis yang diberi judul Ratu-ratu Islam yang terlupakan.

    Gagasan tentang Harem yang tak tampak, sebuah hukum yang terpatri di dalam benak itulah yang membuat Mernissi selalu risau. Lewat pengalaman dan cerita yang didapat dari orang dewasa di sekitarnya di Harem, akhirnya Mernissi kecil mencoba memberontak dan akhirnya mampu menghasilkan karya-karya yang dapat membuka mata dunia tentang perempuan dan Islam yang terlupakan.

    Menurut Mernissi, siapa saja yang meyakini bahwa seorang wanita muslim yang berjuang untuk meraih kemuliaan hak-hak sipilnya berarti telah mengeluarkan dirinya sendiri dari lingkungan umat adalah orang yang salah paham tentang warisan agama dan identitas agamanya sendiri. Ia berpendapat bahwa jika hak-hak wanita menjadi masalah bagi sebagian kaum laki-laki muslim modern, hal itu bukan karena Al-Quran, Nabi, dan tradisi Islam, melainkan karena hak-hak tersebut bertentangan dengan kepentingan kaum elite laki-laki.

    Dari hasil analisis Mernissi adalah keadaan yang dialami perempuan dimanapun, sungguh merupakan hal yang sangat memperhatinkan. Persoalannya adalah bagaimana mengatasi kesenjangan yang terlalu lebar ini. Mernissi tidak tinggal diam dalam menghadapi masalah perempuan yang masih terus diperbincangkan melalui karya-karyanya. Ia menyampaikan petunjuk dan tuntutan kepada perempuan khususnya Islam agar memiliki mutu yang tinggi sebagai manusia yang memiliki kelengkapan moral serta tidak canggung menghadapi dan memcahkan persoalan hidup yang penuh dinamika, khususnya masalah hak perempuan dalam Islam.

    Dari hasil analisis Mernissi adalah keadaan yang dialami perempuan dimanapun, sungguh merupakan hal yang sangat memperhatinkan. Persoalannya adalah bagaimana mengatasi kesenjangan yang terlalu lebar ini. Mernissi tidak tinggal diam dalam menghadapi masalah perempuan yang masih terus diperbincangkan melalui karya-karyanya. Ia menyampaikan petunjuk dan tuntutan kepada perempuan khususnya Islam agar memiliki mutu yang tinggi sebagai manusia yang memiliki kelengkapan moral serta tidak canggung menghadapi dan memecahkan persoalan hidup yang penuh dinamika, khususnya masalah hak perempuan dalam Islam.


    Penulis: Chichi 'aisyatud Da'watiz Zahroh, S.Pd.I. M.Pd.I.
    Mahasiswi Doktor Kependidikan Islam di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta

    DPC PERMAHI DIY Ziarah Kubur Peringati 72 Tahun NKRI

    Pengurus DPC PERMAHI DIY saat ziarah kubur di makam pahlawan Kusumanegara (17/8/2017).
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Keluara besar Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY) selenggarakan ziarah kubur pada 17 Agustus 2017 dalam rangka peringati 72 tahun Indonesia proklamirkan kemerdekaan.

    DPC PERMAHI DIY merupakan Organisasi kader profesi di bidang hukum yang ada di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, melihat permasalahan hukum yang sangat kompleks pada hari ini, maka PERMAHI ada bertujuan untuk menciptakan mahasiswa kader profesi yang berkualitas di bidang hukum.

    Tema yang diangkat dalam momentum kegiatan ini yakni “Memaknai Semangat Pahlawan Hari Ini: Yang Mati tidak Berarti Mati, Jerih Semangatmu adalah Kami”. Pihak-pihak yang terlibat dalam memeriahkan acara tersebut adalah seluruh kader DPC PERMAHI DIY.

    Pengurus DPC PERMAHI DIY mempunyai banyak harapan dari terlaksananya ziarah makam pahlawan tersebut, diantaranya para kaum muda dapat belajar dari pendiri bangsa ini bagaimana para pahlawan merelakan jiwa raganya serta meninggalkan keluarga demi berjuang memerdekakan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kegiatan pada hari ini juga mencoba membawa kembali semangat juang yang di curahkan oleh para pahlawan pada waktu merebut Kemerdekaan ke masa sekarang. "Sepatutnya kita sebagai penerus generasi yang sekarang khususnya mahasiswa memberikan teladan yang baik untuk terwujudnya kesatuan dan persatuan Republik Indonesia di dalam warna warni keberagaman berbudaya ataupun beragama serta tidak melupakan sejarah yang telah membesarkan dan mendirikan negara ini diatas perbedaan," ucap Ketua Umum DPC PERMAHI DIY, Rouf Fajrin Widiantoro melalui rilisnya yang diterima PEWARTAnews.com belum lama ini.

    Dalam momentum bersejarah itu, seluruh keluarga besar DPC PERMAHI DIY yang hadir juga kesempatan bertemu langsung dengan saksi hidup perjuangan bangsa Indonesia yaitu Bp. Sersan Ponidin Liknyo Soeharto (90) yang merupakan mantan prajurit Tentara Republik Indonesia yang berperang dalam kapal Gajah Mada di Cirebon.

    Lebih jauh, Ketua Umum DPC PERMAHI DIY, Rouf Fajrin Widiantoro menyampaikan bahwa dihari yang besar ini, pada hari Kamis 17 Agustus 2017 bangsa Indonesia telah mendeklarasikan hasil dari semangat juang untuk merdeka tepatnya 72 tahun yang lalu, "maka kita sebagai mahasiswa harus merefleksikan peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia ini dengan sedalam-dalamnya. Bukan hanya menyampaikan rasa kegembiraannya melalui media sosial saja, melainkan kita harus memberikan wujud nyata bagi Nusa dan Bangsa serta mengamalkan nilai-nilai Pancasila sebagai ideologi Negara Kesatuan Republik Indonesia," bebernya.

    Pada kesempatan yang sama, Wakil Ketua I DPC PERMAHI DIY, Ade Suryadi mengingatkan pada seluruh kader PERMAHI bahwanya kita harus menghormati jasa-jasa pahlawan yang telah mendahului kita. “Yang mati tidak berarti mati, semangat pahlawan selalu terasa di dalam dada laksana api yang membara, di setiap detak jantung ini. Bahkan jika ada orang lain atau bangsa kita sendiri yang ingin mencoba memecah belahkan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Marilah saudara/saudariku jangan pernah melupakan sejarah karena Soekarno pernah berkata Bangsa Yang Besar Adalah Bangsa Yang Menghormati Pahlawannya,” cetus Ade Suryadi.

    Selain itu, salah satu kader PERMAHI yakni Umar Rumalutur penyampaian kebanggaannya terhadap bangsa dan negara Indonesia. “Saya bangga dilahirkan bagian dari negara ini karena saya berasal dari Indonesia Timur yakni Merauke, dari kecil saya ingin sekali melihat dan menaburkan bunga langsung kemakam Pahlawan, dan baru ini di Yogyakarta saya mendapatkannya,” imbuhnya dengan menggebu-gebu. (PEWARTAnews)



    Sikap PCNU Yogyakarta tentang Full Day School

    Yogyakarta, PEWARTAnew.com – Kebijakan 5 (lima) hari sekolah, familiar dikenal dengan istilah full day school akhir-akhir ini ramai diperbincangkan netijen maupun lembaga organisasi. Salahsatu lembaga yang menanggapi hal tersebut adalah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kota Yogyakarta, dibawah ini merupakan pernyataan sikap secara lengkap PCNU Yogyakarta tersebut.

    Pernyataan Sikap Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kota Yogyakarta Terhadap Kebijakan 5 (Lima) Hari  Sekolah.

    Sehubungan dengan terbitnya Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor : 23 Tahun 2017 tentang  Hari Sekolah, serta berdasarkan surat dari Pengurus Besar Nahdlatu Ulama (PBNU) Nomor : 1460/C1.34/08/2017 tentang Penolakan Permendikbud dimaksud, maka kami Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Yogyakarta,  dengan tanggungjawab social sebagai jam’iyah diniyah dan ijtimaiyah, bersama ini kami menyatakan sikap sebagai berikut:

    Pertama, Menolak memberlakukan 5 (lima) hari sekolah oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan karena sangat berpotensi memarginalkan pendidikan non formal yang selama ini eksis dan telah berkontribusi nyata terhadap pendidikan karakter anak didik, dan 5 (lima) hari sekolah tidak sesuai dengan keragaman dan sosilologis masyarakat Yogyakarta.

    Kedua, Meminta pemerintah pusat untuk mencabut Permendikbuad nomor 23 tahun2017 yang mendasari keluarnya kebijakan 5 (lima) hari sekolah, karena bertentangan dengan UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, diantaranya pasal 13 bahwa pendidikan terdiri atas pendidikan formal, non formal dan informal yang dapat saling melengkapi dan meperkaya.

    Ketiga, Meminta Pemerintah Kota Yogyakarta untuk mengkaji ulang dan membatalkan  pelaksanaan 5 (lima) hari sekolah di tingkat sekolah SD/MI, SMP/MTs dan SMA/Aliyah di wilayah Kota Yogyakarta.

    Keempat, Meminta semua komponen bangsa, khususnya pemegang kuasa public, untuk senantiasa menjaga stabilitas bangsa dengan menjauhkan diri dengan menetapkan kebijakan yang kontroversi
    Kelima, Mendorong seluruh elemen masyarakat khususnya warga Nahdliyin untuk tetap menjaga ketenangan dan ketentraman di tengah berbagai isu-isu kebangsaan dan keagamaan yang mengemukan saat ini.

    Demikian  pernyataan sikap ini kami buat untuk dapat menjadikan pertimbangan bagi Walikota Yogyakarta  dan seluruh pemangku kepentingan dalam menetapkan kebijakan yang menyangkut kepentingan masyarakat luas.

    Pernyataan sikap PCNU Yogyakarta tersebut ditandatangani di Yogyakarta, pada 15 Agustus 2017, oleh KH. Munir Syafaat sebagai Rais Syuriah, Dr. H. Munjahid. M.Ag. sebagai Katib, H. Ahmad Yubaidi, SH. S.Pd. M.H. sebagai ketua Tanfidiyah, dan Abd. Su’ud sebagai Sekretaris.

    Pentingnya Pendidikan Karakter Terhadap Anak Usia Dini

    Muhammad Akhir.
    PEWARTAnews.com – Sering kita dengar bahwa pendidikan karakter itu berkaitan dengan bagaimana peran moral siswa/siswi dan para pemangku ilmu pendidikan dimanapun, khususnya diwilayah kita Negara Republik Indonesia. Dalam konteks hari ini sangat relevan terjadi terkait tawuran dan lainya antara pelajar, itu semuah menandakan bahwa krisisnya nilai moral yang ditanam terhadap anak-anak, dan dari krisinya nilai moral tersebut mengakibatkan terjadi pergaulan bebas, lingkungan tidak stabil, dan sifat emosianal anak-anak dan remaja tumbuh dengan keras, juga yang terjadi akhir-akhir ini terjadi kejahatan antara pelajar satu dengan yang lain, kejahatan terhadap teman, guru, dan bahkan terhadap orang tua, itu semua terjadi karena kurangya pendidikan yang tumbuh dalam benak siswa-siswi. Hal-hal tersebut sampai hari ini belum bisa kita atasi secara tuntas dan maksimal, maka melihat kondisi-kondisi yang demikian memungkinkan kita untuk pentingnya pendidikan berkarakter.

    Pendidikan karakter merupakan usaha yang dilakukan dengan baik supaya membentuk nilai moral terhadap seseorang (individu) sehingga seseorang tersebut dapat memahami, mempelajari, mencermati, dan mengajarkan nilai etika moral terhadap masyarkat yang adil juga bijaksana. Pendidikan karakter dapat didefinisikan juga sebagai usaha guru atau para pendidik untuk mempengaruhi karakter siswa.

    Pendidikan karakter menjadi harapan utama bagi umat, bangsa, dan negara pada hari ini, untuk membentuk generasi yang berkualitas tidak hanya memberikan mata pelajaran yang berupa hafalan dan tugas terhadap siswa/siswinya, melainkan kegiatan untuk mementikan individu, kelompok, dan bahkan untuk masyrakat setempat. Nilai-nilai karakter yang terkandung dalam wadah guru sebagai pengajar juga diperlukan untuk mewujudkan generasi berkarakter dan bersosial masyarakat, sehingga generasi tersebut tidak hanya pintar dalam bangku kademis saja, melainkan pintar untuk mewujudkan peringkat cerdas diwilayah akademis, sosial, dan individu.

    Guru adalah salah satu sektor utama sebagai ujung pembentukan karakter siswa, yang harus mengajrkan anak-anak dengan sangat profesional dan tidak hanya dalam profesi mereka sendiri. Maka dibutuhkan juga seleksi guru yang profesional dalam hal mendidik, guru yang mampu membuat tabel kesuksesan dan cara mengajar jangka pendek, jangka panjang, dan jangka menengah dengan sangat baik. Seleksi guru yang profesional juga dilakukan dengan cara melihat bagaimana mereka bekerja dan tutur kata sebagai guru, juga bisa dilihat dengan cara pendekatan emosionalnya antara guru dan anak-anak serta dapat dilihat dari cara penjelasan mereka yang masuk akal.

    Proses terjadinya pembentukan karakter terhadap siswa itu bukan didalam kelas, bukan karena di kasih tugas, dan bukan karena dikasih uang buat belanja, karena didalam kelas mereka hanya menerima ajaran sesui dengan mata pelajaran, jelas tidak untuk membentuk karakter, tetapi di ruang-ruang tertentu atau kegiatan sore dan bahkan pendekatan silaturahmi ke rumah-rumah, rt/rw, atau silaturahmi ke desa-desa untuk memberikan motivasi dan semangat kepada anak-anak dengan didampingi orang tua siswa. Dengan demikian, seorang guru harus mampu memiliki sifat intelektual, sikap emosional, dan sikap spiritual sebagai pendamping cara pembentukan nilia-nilai karakter terhadap siswa.
     
     
    Penulis: Muhammad Akhir
    Mahasiswa IST AKPRIND Yogyakarta

    Cerita Sang Waktu

    A. S. Matupha.
    Zaman telah berubah
    Waktu terus berlalu
    Bersama jejak-jejak kehidupan anak manusia
    Melewati siklus panjang kehidupan
    Dari tiada hingga ada
    Menjadi tiada sampai ada

    Semesta, tetap patuh pada titah Sang Maha Raja
    Seperti diwaktu sedia kala
    Angin masih berhembus
    Menawarkan kesejukan, menebarkan kedamaiaan pada alam
    Hamparan bumi menjadi pijakan segala apa
    Bersama air yang terus mengalir menawarkan kehidupan
    Mengajarkan arti hidup yang bersahaja
    Mengurai makna dari semesta yang tiada bertepi

    Sementara semesta kecil ini
    Tak kunjung usai mencari makna
    Menuai cerita kehidupan yang tak pasti
    Kapan menjadi tiada sampai ada
    Menjelajahi sesmesta
    Bersama hembusan nafas yang seirama dengan desiran angin
    Aliran darah dengan gemericik air yang mengalir
    Atau potongan daging-daging yang akan menjadi tanah

    Entahlah, bila saatnya telah tiba
    Biarlah waktu yang berkisah
    Tentang cerita hidup anak manusia
    Yang belajar mengenali dirinya

    Kulon Progo, 16 Agustus 2017
    Oleh : A. S. Matupha

    Menkopolhukam Lantik Pusat Studi Pancasila dan Bela Negara UIN Sunan Kalijaga

    Menkopolhukan saat melantik Pusat Studi Pancasila dan Bela Negara di UIN Sunan Kalijaga. Foto: uin-suka.ac.id.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Republik Indonesia Jendral (purn) TNI Wiranto melantik pengurus Studi Pancasila dan Bela Negara UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta untuk periode 2017-2018, di kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Rabu (9/8/2017). Kegiatan pelantikan ini di rangkaikan dengan seminar nasional yang bertemakan “Pancasila Rumah Semua Anak Bangsa”.

    Menurut Wiranto, dengan adanya Pusat Studi Pancasila dan Bela Negara yang diinisiasi oleh UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sesuai dengan harapan dan keinginan bersama di tengah krisis makna Pancasila  sebagai pemersatu bangsa.

    “Membangun kesadaran masyarakat tentang ideologi Pancasila harus diperkuat sebab ancaman-ancaman di dalam yang sangat berbahaya, diantaranya narkoba, terorisme, radikalisme, illegal logging, human traffiking, illegal fishing, konflik masyarakat dengan aparat dan ancaman-ancaman lainnya,” katanya.

    Ia menambahkan hal ini sangat penting untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila dan Bela Negara dalam civitas akademik. (Rizal / PEWARTAnews)

    Merdeka?


    Jumratun. 
    Jangan bicara merdeka jika korupsi masih merajalela
    Jangan bicara merdeka jika fakir miskin, gelandangan masih bertebaran dimana-mana
    Jangan bicara merdeka jika memerdekan diri sendiri saja belum bisa
    Jangan bicara merdeka jika bhineka tunggal ika saja masih tak kau laksanakan
    Jangan bicara merdeka jika pengangguran dimana mana masih keliaran
    Jangan bicara merdeka jika pertikaian, pembantaian di tiap-tiap sudut
    Dan jangan berbicara merdeka jika jasa pahlawan pun masih tidak kau hargai

    Sebenarnya merdeka itu apa?
    Apakah merdeka itu bebas melangkah
    Apakah merdeka itu bebas berekspresi
    Apakah merdeka itu bebas tentang cinta
    Atau mungkin merdeka itu bebas tentang hati?

    Entahlah merdeka itu seperti apa
    Sampai sekarang saya belum merasa merdeka!


    Yogyakarta, 17 Agustus 2017
    Karya: Jumratun

    The Art of Doing, Sebuah Konsep Mengabdi untuk Bima NTB

    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- “Keterampilan untuk MAU BERTINDAK” amat dibutuhkan saat membahasakan cinta pada negeri. Sikap yang diperlukan saat ini adalah kemauan untuk bersumbangsih dan tidak menyibukkan diri dalam wacana kosong apalagi kritik penuh cela.

    Peran serta yang dapat kita berikan selalu dimulai dari yang ada pada diri kita dan dimulai persis di tempat kita berada.

    Jika kita bisa menulis, kita tidak akan diminta membuat pesawat seperti BJ Habibie. Jika kita ahli di bidang arsitektur, kita tidak dituntut untuk mempopulerkan Indonesia melalui batik dan kebaya seperti Anne Avanthie.

    Lakukan apa yang kita bisa. Lakukan Sesuatu!

    Nah sebentar lagi, 25 orang relawan Ekspedisi Nusantara Jaya (ENJ) Bima 2017 akan siap berangkat mengerahkan daya dan upaya, untuk menolong para saudara kita di Bajo Pulo, Bima, NTB.

    Kami tidak ingin sendirian. Jika kamu mungkin belum berkesempatan untuk terjun langsung, maka kami ajak kalian ikut serta dengan cara yang berbeda. Donasi akan sangat berarti, begitu pula sumbangan buku untuk adik-adik kita disana.

    Yuk, ambil langkah. Walau kecil, namun berarti. (Tim ENJ Bima 2017)

    Full Day School dan Suara Santri untuk Negeri

    Mukaromah. 
    PEWARTAnews.comFull day school akan di terapkan di Indonesia pada bulan Juli ini. Tentu hal itu menimbulkan pro dan kontra dari berbagai lapisan masyarakat. Mendikbud berharap dengan adanya full day school akan dapat lebih mengoptimalkan dan memberdayakan potensi dan skill siswa baik dalam ranah kognitif, afektif maupun psikomotorik. Visi misi beliau ingin mencetak generasi bangsa yang tidak hanya cerdas secara intelektual akan tetapi juga cerdas secara spiritual yakni dengan melalui program full day school, dimana anak melakukan berbagai kegiatan di lingkungan sekolah dari pukul 07.00 sampai sore hari. Hal ini bertujuan agar anak-anak tidak terjrumus dalam pergaulan bebas seperti tawuran, narkoba, dan lain-lain.

    Program full day school telah terimplementasi dalam lembaga pendidikan yang berbasis pesantren, baik tradisional maupun modern. Banyak kita jumpai pondok pesantren yang sepaket dengan sekolah/madrasah formal, sehingga anak-anak mudah untuk melakukan berbagai aktivitas dan kegiatan dari bangun tidur sampai tidur lagi, begitu seterusnya. Titik berat yang menjadi persoalan adalah, program full day school telah terimplementasi dengan baik di suatu lembaga yang memang telah menerapkan hal itu, akan tetapi bagaimana jika program tersebut di implementasikan dalam sekolah/madrasah yang sebelumnya tidak menerapkan full day school? Apakah sekolah-sekolah beserta infrastrukturnya akan siap? Menurut hemat Penulis, perlu melihat segala hal secara komperhensif sebelum program tersebut benar-benar diterapkan secara nasional.

    Berikut argumen full day school dan sedikit opini dari Penulis, mudahan dapat menggugah hati pengambil kebijakan.

    Pertama, Tujuan full day school untuk kemaslahatan ummat agar anak-anak tidak menghabiskan sisa waktu sepulang dari sekolah untuk hal-hal yang tidak bermanfaat sehingga dikhawatirkan terjrumus dalam pergaulan bebas (narkoba, seks bebas,,mabuk-mabukan) dan lain-lain. Maka dari itu,  di gulirkan program full day school untuk penanaman karakter anak (pendidikan karakter).

    Jika memang tujuan program tersebut seperti itu, alangkah baiknya dimulai dari hal-hal kecil dahulu yakni penambahan jam mapel agama disemua jenjang. Selain itu juga, yang diutamakan sebagai pendidik pertama-tama adalah fungsinya sebagai model atau figure keteladanan, baru kemudian sebagai fasilitator atau pengajar. Kemudian guru juga tidak hanya mentransfer mata pelajaran saja akan tetapi yang lebih dari itu menjadi motivator, dan sebelum memulai pelajaran sebaiknya guru memberikan cerita tauladan (kisah orang-orang hebat ; Nabi, Sahabat, ilmuan muslim dan sebagainya) dengan di desain oleh masing-masing guru dan dilaporkan kepada kepala sekolah beserta dengan RPP yang telah dibuat oleh guru. Selain itu hal yang tidak kalah pentingnya di lingkungan sekolah harus membiasakan dalam mengimplementasikan nilai-nilai  agama dan Pancasila. Bagaimana mungkin anak akan tau dan paham etika kalau jam pelajaran agama saja hanya maksimal dua kali dalam seminggu, itupun masih lumayan. Ada juga sekolah yang mata pelajaran agama hanya satu kali dalam seminggu. miris bukan?

    Kedua, Maksud dari full day school bukan belajar pelajaran seharian suntuk tetapi di isi dengan kegiatan ekstrakurikuler yang mendukung pembentukan karakter anak.

    Berdasar hal ini, menurut pengalaman Penulis sejak Madrasah Tsanawiyah (MTs -- setara sekolah menengah pertama) sampai Aliyah (setara sekolah menengah atas), ekstrakurikuler itu selalu ada. Yakni terbagi dalam dua hal. Wajib dan pilihan. Adapun ekstrakurikuler yang wajib adalah pramuka. Sedangkan ekstrakurikuler pilihan diantaranya tilawah, tartil, tahfidz,  volli, basket, paduan suara, arabic and english club, dan sebagainya. Ekstrkurikuler tersebut merupakan program lama. Anak-anak yang memiliki bakat tertentu pasti akan memilih ekstrakurikeluer yang mendukung bakatnya tersebut. Sehingga ia puya skill komparatif, dengan kunci tlaten dan tidak malas-malasan. Lalu yang tidak ikut ekstrakurikuler pilihan bagaimana? Ya mungkin mereka sibuk, dipondok sudah ada kegiatan sendiri yakni diniyah. Ada juga anak yang takut, nanti kalau tidak ikut kegiatan pondok dita'zir atau ada juga yang berpendapat bahwa waktu sekolah ya pagi sampai siang. Kalau sore waktunya di pondok, dan memang masing-masing sudah ada waktunya sendiri-sendiri. Lalu terkait dengan ekstrakurikuler yang bertujuan untuk penanaman pendidikan karakter, saya setuju. Tapi itu dibatasi dengan waktu. Karena apa? kasihan santri, jika full day school dilaksanakan dengan berangkat jam 7 pagi pulang jam sore. Lelah fisik bisa beristirahat, tetapi jika lelah Pikir? Semuanya malah membuat down anak. Padahal pendidikan menurut Ki. Hajar Dewantara adalah Taman yakni harapan agar orang (peserta didik) selalu senang dan tidak ingin jauh dari taman tersebut. Yang mana taman merupakan sekolah, yang selalu di dambakan oleh setiap orang, bukan sebaliknya yakni menjadi momok yang ditakuti dan membuat kapok/jera orang yang ingin datang ke tempat tersebut.

    Ketiga, Tujuannya untuk menunggu orangtua yang sedang bekerja, sehingga sekolah merupakan sarana strategis untuk mengatasi hal itu. harapan dari ini, ketika orangtua pulang anakpun juga pulang. Program ini pun menjadi sarana strategis untuk mengoptimalisasi pembentukan jati diri anak, termasuk faktor psikologis.

    Berdasar hal itu, kiranya kita perlu memposisikan segala sesuatu dengan berbagai kacamata dari sudut pandang yang berbeda, termasuk harus melihat dulu subjeknya. Iya mungkin kasus tersebut terjadi di daerah perkotaan yg highclass. Tapi beda ketika di Desa. Setiap ba'da Ashar anak-anak selalu mengisi waktunya untuk mengaji di TPA dan sebagainya. Begitupula dengan gurunya, banyak yang mempunyai tanggungan mengajar TPA maupun privat diluar sekolah. Sebenarnya jika memang itu kekhawatirannya, kita kembalikan lagi pada pendidikan dalam keluarga. Karena keluarga merupakan pusat pendidikan pertama dan utama. Orangtua salah besar jika kemudian menyerahkan sepenuhnya pendidikan si anak kepada guru disekolah, kemudian orangtua lepas tangan. Sehingga mereka acuh tak acuh dengan perilaku anak, bahkan tidak mengontrol anak. Oleh karenanya, harus ada sinergisitas antara orangtua, peserta didik, lembaga sekolah dan lingkungan untuk bersama-sama mewujudkan tujuan pendidikan. Jika berkaca di daerah pedesan, banyak anak-anak sekolah yang ikut melebur dan berpartisipasi dalam kegiatan masyarakat dan begitu pula banyak anak-anak desa yang ikut membantu orangtua nya untuk mencari nafkah, misal nya angon kambing, sapi atau lembu, menjaga warung, ikut ke sawah dan lain-lain. Jika waktu mereka dihabiskan di sekolah, tentu hal-hal semacam itu (interaksi sosial dan ajar prihatin dalam kaitan ini berhubungan dengan akhlaq) kurang optimal. Karena pendidikan bukan hanya soal otak/kognitif, tetapi pendidikan harus seimbang antara IQ, EQ dan SQ. Sehingga, unsur pendidikan bukan hanya terdiri dari Sekolah/madrasah saja, melainkan yang lebih dari itu ialah lingkungan/masyarakat.

    Dalam paradigma yang objek sasarannya santri, satu hal yang harus menjadi pertimbangan pula ialah, tidak semua sekolah/madrasah sepaket dengan pesantren (tidak semua berbentuk MBS). Jika pondok pesantren tersebut sepaket dengan sekolahnya, maka program ini merupakan program yang efektif dan efisien. Akan tetapi, di sisi lain ada anak yang harus menempuh jalan berkilo-kilo untuk menuju dari pondok ke sekolah, begitu sebaliknya, karena memang bukan sistem MBS. Kondisi demikian pun harus berangkat pagi-pagi agar tidak telat ke sekolah, dan jika pulangnya sore, tentu hal itu akan tabrakan dengan jadwal kegiatan pondok yang memang sudah mengakar dan menjadi aktivitas wajib bagi semua santri, tanpa terkecuali. Bukankah agama mengajarkan kita untuk seimbang antara duniawi dan ukhrowi? Marilah kita melihat santri yang mencuri-curi waktu di sela- sela kesibukannya untuk menyetor hafalan, murojaah kitab dan sebagainya.

    Sehubungan dengan hal ini, kabarnya mapel agama dikelas akan dihapuskan, diganti dengan pengintegrasian pembelajaran agama diluar kelas. Yang mana melalui program full day school, pembelajaran tidak sepenuhnya berada di dalam kelas, akan tetapi belajar di alam terbuka, seperti pergi ke masjid (bagi Islam), gereja dll (bagi non muslim). Sehingga dari hal itu, tidak perlu lagi pembelajaran agama di dalam kelas. Menurut hemat Penulis, tentu hal itu akan berbenturan dengan kurikulum sekolah/madrasah sebagaimana yang tercantum dalam KMA Nomor 165 Tahun 2014. Sehingga jika mapel agama di hapuskan maka akan merubah kurikulum yang selama ini diterapkan di Indonesia. Lalu pertanyaannya adalah, apakah mapel agama seperti Akidah Akhlaq, Qur’an hadist, SKI, Fiqih dan sebagainya juga akan dihapuskan?

    Pada dasarnya setiap sesuatu pasti ada sisi positif dan negatifnya. Ada kelebihan, ada pula kelemahan. Jika dilihat dari sisi positifnya, di daerah perkotaan program ini menjadi solusi tepat untuk mengatasi problem remaja yang kian memprihatinkan, mengingat orangtua mereka sibuk dengan pekerjaannya sehingga waktu bersama keluarga khususnya pemantauan dan penjagaan terhadap anak menjadi berkurang.  Sehingga anak merasa free will dengan melampiaskan kepada sesuatu yang kurang baik, seperti tawuran, narkoba dan sebagainya. Adapun sisi positif yang lain, sekolah yang memang telah menerapkan program full day school dengan daya dukung dan kompleksitas yang baik telah mencetak lulusan yang hafal Al-Qur’an. Akan tetapi jika FDS ini di implementasikan secara nasional, kiranya perlu untuk melihat berbagai hal dari sudut pandang yang berbeda-beda dan dengan pertimbangan yang matang guna tercapainya visi misi pendidikan untuk Indonesia yang lebih baik, untuk saat ini, esok dan selamanya. Jika mengacu pada filsafat Pendidikan, pada dasarnya rekontruksi pendidikan sangat diperlukan dengan tujuan untuk menemukan solution and problem solving yang berkaitan dengan krisis moral, sains dan realitas sosial. Oleh karena itu, pendidikan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, guru, orangtua dan menteri saja, tetapi tanggung jawab setiap warga negara. Karena maju mundurnya bangsa, dilihat dari pendidikannya.

    Terakhir, besar harapan, semoga ada yang memperjuangkan Nasib "Santri".


    Penulis: Mukaromah
    Mahasiswi PAI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta



    ________
    Ikuti Survey kebijakan #FullDaySchool, KLIK DISINI

    PW Muhammadiyah DIY memandang Full Day School Bisa Jadi Solusi Klithih

    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memandang kasus klithih dilakukan siswa yang marak terjadi akhir-akhir ini merupakan akumulasi kenakalan dan perilaku negatif mereka. Karenanya, untuk meminimalisir kenakalan itu, sekolah harus mengalihkan kegiatan negatif siswa kepada hal-hal yang positif. Salah satunya dengan memperpanjang jam belajar siswa di sekolah. “Full day school bisa jadi solusi,” terang Tasman Hamami Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY Bidang Pendidikan Dasar dan Menegah (Dikdasmen) dalam Konferensi Pers baru-baru ini seperti diwartakan suaramuhammadiyah.id pada 16-12-2016.

    Sejauh ini, Tasman memaparkan, sekolah Muhammadiyah sudah menerapkan full day school tapi belum semua sekolah. Sebagian lain justru mendirikan boarding school, pondok pesantren Muhammadiyah. “Tapi secara umum kami sudah memberlakukan penambahan jam pelajaran Keislaman dan Kemuhammadiyahan (Ismuba) menjadi 12 jam per minggu,” jelasnya.

    Kebijakan penambahan jam pelajaran Ismuba ini, sambungnya, setidaknya menambah durasi siswa beraktivitas di dalam sekolah. Tujuanya untuk mengalihkan dunia remaja kepada hal yang bersifat positif serta bagian dari sarana pembentukan akhlakul karimah, karakter. “Dengan catatan penambahan tersebut disajikan dengan lebih menarik. Jika tidak, mungkin justru akan membebani siswa dalam belajar. Karena itu peran guru dan sekolah sangat menentukan sukses tidaknya kebijakan ini,” ucap Tasman Hamami Wakil Ketua PWM DIY Bidang Dikdasmen.

    Sumber: suaramuhammadiyah.id



    ________
    Ikuti Survey kebijakan #FullDaySchool, KLIK DISINI

    Ini Dia Sikap Pengurus Pusat KMNU terhatap Full Day School

    Logo KMNU. 
    Jakarta, PEWARTAnews.com – Akhir-akhir ini  isu Full Day School (FDS) ramai dibicarakan semua elemen, dari pemerintah, juga masyarakat biasa, lebih-lebih masyarakat akademik.

    Salahsatu masyarakat akademik yang memberikan sikap adalah Pengurus Pusat Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU). Sikap Pengurus Pusat KMNU tersebut, seperti yang telah dibagikan oleh Ali Ruslan sebagai Ketua KMNU DIY, berikut dibawah ini lengkapnya.

    Pengurus Pusat KMNU Berharap Pemerintah Kaji Ulang Penerapan Full Day School

    Wacana Mendikbud perihal Full Day School kembali mencuat beberapa hari terakhir. Banyak pro dan kontra mengenai kebijakan tersebut. Sebagai sebuah organisasi mahasiswa, Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama merasa perlu untuk ikut mengkritisi wacana Full Day School (FDS) tersebut. Berikut beberapa poin hasil pengkajian Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama atas wacana tersebut.

    1. Gagasan FDS seharusnya didahului dengan kajian yang matang. Selain itu, pemerintah seharusnya meminta pendapat dan pertimbangan serta mengadakan dialog dengan stakeholder terkait, seperti Lembaga Madrasah Diniyyah, para guru, orang tua/wali murid, dan tentunya siswa-siswi sebagai objek kebijakan.

    2. Jika FDS tetap dipaksakan untuk direalisasikan, berarti pemerintah melanggar UU Sisdiknas tahun 2003, bahwa pendidikan bukan hanya Pendidikan Formal tetapi juga Nonformal dan Informal. Kebijakan FDS secara tidak langsung memproklamirkan bahwa Pendidikan di negeri ini hanyalah Pendidikan formal berwujud Sekolah, tidak ada pendidikan Pesantren, Madrasah Diniyah, TPA, TPQ, keluarga, masyarakat, lembaga kursus, dan sebagainya.

    3. Jika alasan FDS untuk memfasilitasi anak-anak yang ditinggal bekerja oleh orang tuanya hingga sore hari, faktanya tidak semua orang tua demikian. Tidak semua orang tua bekerja sehri penuh. Kami berharap pemerintah tidak memaksakan diri untuk merealisasikan kebijakan FDS ini. Sebaiknya, FDS dijadikan sebagai “alternatif” saja bagi orang tua yang memang memerlukan FDS untuk pendidikan anaknya. 

    4. Penerapan FDS secara luas akan membuat kesenjangan pendidikan antara kota dan pelosok nusantara semakin besar karena kami menilai sarana dan prasarana, serta sumber daya manusia belum memadai untuk penerapan FDS secara luas. Menurut kami, akan lebih baik jika pemerintah memfokuskan diri pada pengentasan permasalahan lain yang lebih krusial untuk ditangani, seperti pemerataan sarana dan prasarana, peningkatan kualitas SDM di daerah 3T, dan lain sebagainya. 

    5. Penerapan FDS membebani anak, orang tua, dan guru. Secara fisik maupun psikologis, anak akan merasa terbebani dengan adanya FDS ini. Secara fisik, anak-anak tentu merasa lebih lelah karena penambahan jam belajar, sedangkan secara psikologis FDS berpengaruh terhadap tingkat stres anak. Dengan latar belakang ekonomi yang berbeda, sebagian orang tua akan terbebani dengan adanya FDS ini. Anak-anak yang biasanya membantu bekerja selepas sekolah, tidak akan bisa membantu lagi karena “ditahan” di sekolah. Guru juga akan terbebani dengan penerapan FDS ini, apalagi guru perempuan. Mereka pun punya keluarga yang harus diurus setelah mereka bekerja setengah hari. 

    6. Penerapan FDS mematikan eksistensi Madrasah Diniyyah dan Taman Pendidikan Al-Qur-an khususnya di pedesaan yang dilaksanakan siang atau sore hari setelah pulang dari sekolah formal. Tujuan FDS memang baik, salah satunya untuk menanamkan pendidikan karakter yang mana pekerjaan ini sudah dilakukan oleh Madrasah Diniyyah dan TPA/TPQ selama ratusan tahun dan tebukti efektif. Menurut kami, sebaiknya pemerintah memanfaatkan keberadaan Madrasah Diniyyah dan TPA/TPQ untuk mencapai tujuan tersebut, sehingga anggaran yang sedianya akan dialokasikan untuk penerapan FDS dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan lain yang lebih krusial. Barangkali kebijakan ini cocok diterapkan di daerah perkotaan yang hampir tidak ada Madrasah Diniyyah dan TPA/TPQ.

    7. Kebijakan FDS yang diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan pariwisata domestik sangat memihak masyarakat ekonomi kelas menengah ke atas dan mendorong perilaku konsumtif. 

    Oleh karena itu, Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama menyatakan tidak setuju jika Full Day School diterapkan secara luas pada tingkat Pendidikan Dasar dan Menengah. Kami menawarkan solusi agar Full Day School dijadikan sebagai alternatif saja bagi orang tua yang memang membutuhkan jasa Full Day School, sebagaimana yang telah berjalan di banyak sekolah swasta di perkotaan. 

    Besar harapan kami agar pemerintah bersedia mengkaji ulang mengenai wacana penerapan Full Day School tersebut. 

    Ttd.
    Presnas KMNU


    Ikuti Survey kebijakan #FullDaySchool, KLIK DISINI

    Survey #FullDaySchool via Twitter @PewartaNews

    PEWARTAnews.com -- #FullDaySchool akhir-akhir ini ramai diperbincangkan masyarakat Indonesia, baik di ruang-ruang terbuka (forum-forum ilmiah), lebih-lebih di jagat maya (media sosial). Mengingat begitu pentingnya hal ini, oleh karena itu, media PEWARTANEWS.COM menjaring tanggapan masyarakat luas melalui Survey via twitter @PewartaNews terkait kebijakan #FullDaySchool. Bila Anda ingin terlibat dalam suvey ini, klik tautan dibawah ini dan tentukan pilihan anda:
    https://twitter.com/PewartaNews/status/895477069039063041

    Jangan lupa Like, dan Retweet via twitter anda.


    Catatan:
    * Survey ini akan berlangsung selama 7 Hari, pada tanggal 10-16 Agustus 2017. Hasil akhirnya akan kami publikasikan via PEWARTAnews.com pada 17/18 Agustus 2017 (bertepatan dengan 72 tahun #NKRI Proklamirkan Kemerdekaan).
    * Tentukan pilihan anda sekarang juga.


    #PEWARTAnews
    #FullDaySchool
    #72TahunNKRI
    #BantuViralkan

    AMP Gelar Konferensi Pers Terkiat DO 22 Mahasiswa UP 45 Yogyakarta

    Suasana saat AMP gelar Konferensi pers (8/8).
    Bantul, PEWARTAnews.com – Demonstasi yang dilakukan oleh mahasiswa di Universitas Proklamasi (UP) 45 Yogyakarta beberapa waktu lalu menuntut transparansi anggaran dan keterbukaan ruang demokrasi di kampus berujung drop out (DO).

    Akibat dari peristiwa itu, Aliansi Mahasiswa Proklamasi (AMP) Yogyakarta menggelar Konferensi Pers yang  berlangsung di Pendopo LKis Jalan sorowajan, Bantul, Yogyakarta (8/8).

    Hal ini berkaitan dengan surat edaran pemecatan yang dilakukan oleh rektor terhadap 22 mahasiswa Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta.

    AMP Yogyakarta menyatakan Pemberhentian status sebagai mahasiswa UP 45 Yogyakarta berkaitan dengan aksi demonstrasi yang dilakukan dikampus UP 45 Yogyakarta terkait upaya mahasiswa untuk menuntut transparansi keuangan pengembangan kampus. “Selama delapan tahun terakhir ini kami tidak melihat suatu perkembangan yang ada terkait fasilitas yang ada di UP 45, padahal setiap tahun kampus selalu menaikan uang kuliah,” ungkap M. Junaidi Presiden mhasiswa UP 45 Yogyakarta yang juga ikut terkena DO.

    Dalam konferensi pers tersebut di hadiri oleh beberapa media dan sebanyak 44 organisasi mahasiswa yang ada di Yogyakarta.

    Mahasiswa dalam tuntutannya, mengutuk dan mengecam apa yang telah di lakukan oleh pihak kampus UP 45 dan menyatakan ini adalah kejahatan kemanusian yang di mana kampus-kampus di Yogyakarta mulai di tutup ruang demokrasi dan kampus di jadikan ladang bisnis, ungkap peserta konferernsi pers.

    Wardi selaku Jubir Aliansi Mahasiswa Proklamasi (AMP) Yogyakarta menyatakan mahasiswa akan mengedapankan mediasi, dan kalau pun cara itu tidak di indahkan oleh pihak kampus mereka siap untuk menempuh jalur litigasi dan sudah siap dengan data-data. (Rizal / PEWARTAnews)

    Ditinggalkan Senja

    Erika Putri. 
    Oh senja
    Aku ingin menatapmu lebih lama lagi
    Menikmati indahmu tanpa ada jeda

    Oh senja
    Aku mengejarmu
    Dan disanalah kau semakin menjauh

    Oh senjaku
    Jangan biarkan kegelapan malam datang
    Karena diriku takut akan hadirnya

    Oh senja
    Kukira kau setia menemaniku
    Dalam sunyinya angin sore
    Kau menjauh dariku
    Seakan kau muak melihat diriku menatapmu

    Oh senja
    Mengapa engkau menghilang dan meninggalkan rasa ingin tahu dalam diri ini

    Oh senjaku
    Tenggelammu, menghilangmu, lalu datang kembali
    Menjadikan misteri hidupku



    Samarinda, 6 Agustus 2017
    Karya: Erika Putri
    Siswi SMA 7 Samarinda, Kalimantan Timur

    Puisi: "Bu"

    Jumratun. 
    Aku ingin pulang
    Aku ingin memeluk erat tubuhmu
    Aku ingin mencium telapak kakimu

    Bu
    Aku ingin bercerita kepadamu
    Tentang sepi yang tak bertepi
    Tentang rindu yang tak kunjung padam
    Tentang angin yang berbisik haru
    Dan tentang senja waktu itu yang meninggalkanku sendiri disini

    Bu
    Anakmu terjerat dalam kebingungan
    Tentang waktu yang merenggut manisnya kehidupan
    Tentang dia yang mengikis sisa keharmonisan
    Pada akhirnya anakmu terlukis pada akhir goresan
    Dan bisakah anakmu bertahan di lautan rasa
    Yang memaksanya melupakan kisah hati yang terpaut ketulusan jiwa?

    Entahlah bu
    Pada akhirnya anakmu hanya ingin mati saja


    Yogyakarta, 27 Juli 2017
    Karya: Jumratun
    Mahasiswi Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo (STIPRAM) Yogyakarta 

    Menulis untuk Keabadian

    Mukarromah. 
    PEWARTAnews.com – "Jika engkau bukan anak raja dan bukan anak ulama' besar, maka Menulislah (Imam Ghazali)". Kata-kata inspirasi itulah yang menggetarkan jiwa manusia untuk berkarya nan menjadi insan yang bermakna. Seiring dengan perkembangan zaman, hal itu tak hanya sekedar kata-kata biasa, akan tetapi dapat dimaknai sebagai amanah (pesan yang harus direalisasikan oleh setiap insan, tanpa terkecuali). Karena pada realitanya, menulis merupakan hal yang urgent dalam kehidupan manusia. Menulis merupakan bahasa komunikasi untuk mengungkapkan suatu hal kepada orang lain yang dengan hal itu akan menambah informasi,  ilmu dan wawasan orang lain. Karena setiap orang diberi otak untuk berpikir, maka otak manusia tersebut bisa memikirkan banyak hal. Sehingga Menulis merupakan manifestasi dari uraian pikiran di otak nya sekaligus sebagai luapan emosinya. Dengan tulisan, manusia bebas mengungkapkan apa yang ia rasa dan pikirkan. Selain itu, tulisan juga dapat memotivasi dan menginspirasi insan. Sebagai contoh, tentu kita mengenal Ahmad Fuadi, Habiburrahman el Shirazy, Asma Nadia bahkan dosen saya sendiri Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M.Ag., Dr. H. Karwadi, M.Ag., Dr. Mujahid., Dr. Rofiq, dan lain-lain, mereka lah penulis-penulis hebat yang melalui karya-karyanya dapat memotivasi dan menginspirasi banyak orang. Hal itu pasti menambah kebahagiaan tersendiri bagi mereka, karena hakikat dari kebahagiaan ialah ketika melihat orang lain juga bahagia dan merasa terdorong (termotivasi) untuk melakukan suatu hal ke arah yang lebih baik dari sebelumnya.

    Oleh karenanya, seorang penulis (orang yang menulis) disadari ataupun tidak ia telah menjadi orang yang bermanfaat bagi sesama, sehingga menulis merupakan ladang beramal yang tiada habisnya. Hal ini senada dengan ungkapan gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan karya, salah satunya adalah tulisan. Jasad dan raga memang telah tiada, tapi kata-kata inspirasi, petuah, nasihat, pikiran, ide, gagasan penulis akan tetap abadi dan akan terkenang sepanjang masa. Karena itulah, Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M.Ag., memberikan nasihat kepada kami sebagai pamungkas (penutup) kuliah Ma'anil Qur’an, di IAT Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga, yakni tulisan dapat memberikan motivasi dan inspirasi orang, yang pada akhirnya pembaca akan menemukan secercah cahaya kesadaran meski sedetik namun menggugah jiwa raganya itu lebih berharga nan bermakna daripada pengalaman seumur hidupnya yang hanya membekas dalam memori otaknya tanpa menghasilkan perubahan dalam hidupnya.

    Banyak orang yang mengetahui manfaat dan urgensi dari menulis, akan tetapi belum merefleksikan dalam diri pribadinya sehingga berimplikasi pada rendahnya rasa ingin tahu, mencoba dan berkarya. Bukankah untuk mewujudkan sesuatu hal yang besar harus diawali dengan sesuatu hal yang sederhana? Banyak orang berpendapat, ironisnya mahasiswa, pelajar, kaum intelektual dan akademisi yang mengkritik habis-habisan mengenai Negeri ini, mengapa dari dulu hingga sekarang Indonesia merupakan negera yang berkembang?

    Tidakkah sadar, bahwa aktivitas membaca dan menulis merupakan modal pertama bagi suatu bangsa untuk memajukan negaranya. Seandainya masyarakat Indonesia paham akan pentingnya membaca dan menulis, tentu Indonesia lebih dulu maju daripada Malaysia, Singapura dan Jepang.  Berdasar pada penelitian UNESCO yang mengatakan bahwa minat membaca orang Indonesia sangat rendah, bisa dijadikan sebagai acuan (referensi) yang melatarbelakangi rendahnya tulis menulis. Karena kunci utama bagi seorang penulis ialah membaca, sehingga sangat relevan maqolah yang mengatakan Al kitabu khairu jalisun wa khairu anisun, Al qiro’ah asasun najah.

    Berdasar pada Seminar yang diadakan oleh Prodi PAI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang bertempat di Confension Hall UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dengan narasumber Dr. Suyatno (Dosen UAD Yogyakarta) yang mengangkat tema "Menghadapi Bonus Demografi dengan meningkatkan Budaya Literasi dikalangan Akademisi". Beliau mengatakan bahwa literasi merupakan jantung kehidupan bagi rakyat Indonesia dalam menghadapai tantangan abad 21. Kemajuan dan kemunduran suatu bangsa bergantung pada budaya literasinya, sehingga menurut Penelitian Programme for International Student Assessment (PISA), budaya literasi masyarakat Indonesia (minat baca dan tulis) amat rendah.

    Masyarakat Indonesia harus menyadari urgensi baca tulis kemudian melestarikannya sehingga menjadi suatu kebudayaan yang akan turun temurun dari generasi ke generasi, yang dengan itu merupakan salah satu cara diantara cara-cara lain yang harus ditempuh untuk membangun Negeri agar lebih baik lagi.

    Terkhusus kepada mahasiswa sebagai kaum intelek sekaligus agent social control, mari tingkatkan diskusi dengan memperbanyak referensi dan menuliskannya sebagai permata abadi yang tak kan lekang oleh waktu.

    Menulis untuk Keabadian ! Jika tidak berkarya, lantas apa makna umur kita ini?

    Jadilah pelaku sejarah, bukan hanya menjadi pembaca dan penikmat sejarah!


    Penulis: Mukarromah
    Mahasiswi PAI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Pengaruh Media Televisi Terhadap Perkembangan dan Pendidikan Anak

    Gunawan. 
    PEWARTAnews.com – Barang yang bernama televisi atau biasa disingkat TV ini, gampang sekali kita temukan di setiap rumah seseorang. Hampir semua rumah (di perkotaan) yang ada penghuninya terdapat barang yang bernama televisi ini. Di pedesaan pun, demikian. Bahkan, ada juga yang mempunyai lebih dari satu TV di rumahnya, yang satunya biasa di tempatkan di ruang tamu, dan yang lainnya di kamar pribadi.

    Dengan adanya media televisi ini, berbagai informasi dan berita yang disajikan pun bisa kita nikmati. Caranya juga gampang. Tinggal pegang remote dan klik channel yang sesuai dengan selera kita. Dalam sekejap berbagai acara dan tayangan yang dimaksud bisa kita nikmati. Singkatnya, barang yang satu ini, jika kita nyalakan dapat memberikan kita berbagai macam acara dan tayangan. Entah itu, acaranya bermanfaat atau tidak, bisa didapatkan melalui media yang satu ini.

    Adanya media televisi ini, bisa juga menjadi bom waktu buat anggota keluarga, terlebih buat anak-anak. Dikatakan bisa menjadi bom waktu, karena media yang satu ini bisa menghipnotis siapa pun yang menontonnya. Orang bisa lupa waktu, lupa makan, bahkan lupa untuk melakukan aktivitas lainnya.

    Memang dari menonton berbagai acara di media televisi mempunyai banyak dampak positif, tetapi tidak sedikit juga dampak negatifnya. Dampak positifnya, antara lain: kita bisa mengetahui berbagai informasi dan berita terkini yang sedang terjadi di berbagai daerah dan mancanegara. Bahkan, mungkin kita bisa meniru kebiasaan-kebiasaan positif dari para tokoh yang ditampilkan di media tersebut.

    Tetapi, sekali lagi dampak negatif pun sangat banyak akibat dari media yang satu ini. Selain yang disebutkan pada paragraf ketiga di atas, ada juga dampak negatif lainnya, terutama bagi anak-anak. Misalnya, anak-anak akan lupa belajar bila sudah berhadapan dengan media televisi ini. Apalagi, jika acara yang ditontonnya kurang mendidik, maka bisa berakibat fatal bagi perkembangan dan psikologis anak tersebut.

    Sejauh pengamatan saya, berbagai acara yang disuguhkan oleh media televisi saat ini, banyak yang kurang mendidik khususnya bagi anak-anak. Contohnya saja, tokoh-tokoh yang ditampilkan pada acara-acara tertentu, jika dilihat dari segi penampilan/pakaian mereka, banyak yang seharusnya tidak boleh ditonton oleh anak-anak. Belum lagi, berbagai film atau sinetron yang ditayangkan oleh TV, banyak yang kurang mendidik. Sekali lagi, efeknya berimbas pada pendidikan, perkembagan, dan psikologis anak.

    Kita telah ketahui bersama, bahwa masa anak-anak merupakan masa di mana mereka masih sangat polos. Semuanya, apa pun yang ia dengar dan lihat maunya langsung dipraktikkan. Bayangkan saja, efek apa yang terjadi jika yang ia tonton sesuatu yang negatif. Apalagi sampai ia meniru dan mempraktikkannya.

    Oleh karenanya, para orang tua, sebisanya mendampingi anak-anaknya (jika ia menonton TV) untuk memilih dan menonton acara-acara yang bisa membuat anak-anaknya semakin bersemangat untuk belajar. Acara-acara yang bisa memotivasi anak-anaknya untuk berkarya. Bukan sebaliknya, malah mengajak anak-anaknya untuk menonton acara semaunya (tanpa filter). Jangan biarkan anak-anak untuk menonton sendiri acara di televisi tanpa ada kontrol. Karena membiarkan anak tumbuh kembang dengan membebaskannya menonton televisi semaunya, sangat berbahaya bagi perkembangan anak. Mungkin efeknya tidak atau belum kelihatan secara langsung, namun jika kita jeli dan teliti dampaknya bisa kita rasakan.

    Saya berharap juga, kiranya media televisi jangan hanya mengejar rating. Perhatikan juga konsumennya. Cobalah sajikan informasi-informasi atau acara-acara yang mendidik (bermanfaat dan berguna bagi pendidikan, perkembangan, dan psikologis anak-anak). Tampilkanlah tokoh-tokoh yang memiliki pengaruh, baik dalam dunia pendidikan, dunia usaha, dan lainnya. Karena figur-figur yang ditampilkan dalam televisi ini bisa memicu anak-anak untuk mencontoh kesuksesan mereka.

    Wallahu a’lam.

    Ditulis pada hari Kamis, 16 Februari 2017

    Penulis: Gunawan
    Pemuda Asal Bima, NTB.

    For the Rent of My Life

    Mukarromah. 
    PEWARTAnews.com -- Mukarromah adalah panggilan akrabku. Teman-teman biasa memanggilku dengan sebutan “Muk”. 18 tahun aku hidup di Desa Santri (kata orang-orang) yakni Desa Dobalan Timbulharjo, Sewon, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.  Aku adalah anak terakhir dari 3 bersaudara. Kedua kakakku telah menikah. Bapak Sarmidi adalah nama sosok laki-laki hebat yang mengajarkanku arti Perjuangan dan Kerja keras. Sedangkan ibu Sudariyah adalah sosok wanita hebat dalam sejarah hidupku, beliaulah  yang mengajarkanku arti Keikhlasan dan indahnya Kesabaran.

    Pengalaman pahit sekaligus berharga dalam hidupku ialah Masa kanak-kanak yang penuh dengan kebodohan.  Aku memang tidak menempuh pendidikan TK seperti  layaknya anak-anak biasa sebayaku. Saat itu, pendaftaran SD telah dibuka. Dan akhirnya aku didaftarkan di SDN Kepuhan oleh ibu terhebatku. Banyak orang yang mengejekku bahkan merendahkanku dengan berkata “mana mungkin anak yang tidak TK bisa dengan mudahnya diterima di SD” ! “Kalaupun diterima, pasti akan kalah dengan anak-anak yang sudah menempuh pendidikan TK”. Saat itu aku yang masih belum tau apa-apa, bahkan tidak merasakan sakit hati sedikitpun karena saat itu masih labil yakni masih masa anak-anak. Tetapi, Ibu selalu menguatkanku. Selalu mensupportku untuk tetap optimis dan niat sekolah.

    SDN Kepuhan adalah jejak pertamaku. Disini kenangan itu terukir. Ketika kelas 1-3 SD, aku selalu di contekin oleh temanku yang bernama Devi Noor Arviani. Karena memang ketika SD aku memulai semuanya dari nol, mengingat tidak menempuh pendidikan TK dan pada waktu itu belum pernah diajari baca tulis. Setelah akhir kelas 3, aku dijauhi bahkan dihina, dicemooh dan diremehkan oleh  teman-temanku karena mereka tidak mau berteman dengan orang bodoh sepertiku. Awal kelas 4 aku bangkit dan berjanji pada diriku sendiri bahwa apapun yang terjadi, itulah hasil kerja kerasku. Sejelek apapun nilai jika dikerjakan dengan usaha dan kerja keras sendiri tentu akan memuaskan hati. Akhirnya kelas 6 lulus dengan nilai yang lumayan. Saat itu tidak ingin lanjut ke SMP, tetapi cukup ingin tinggal di pondok saja. Karena memang orangtua tidak mensupportku dikarnakan mind set mereka yang mana anaknya bisa mengaji itu lebih dari cukup. Tetapi suami dari kakakku bilang “Ayo terus lanjut, yang S1 saja masih tetap lanjut di S2, lalu yang S2 tetap lanjut di S3, masak kamu yang cuma  lulusan SD sudah tidak mau lanjut, apa kamu cukup puas dengan ilmu yang telah kamu dapatkan”? Kata-kata itulah yang sampai sekarang masih terngiang-ngiang dibenakku.

    Perjalananku selanjutnya adalah di MTs Negeri Gondowulung Bantul. Disinilah Citra diri itu ku bangun, mengingat ketika SD dipandang sebelah mata oleh orang lain. Sebelum MOS, aku persiapkan semua untuk mendalami vocabulary (mufrodat) dalam bahasa Arab. Karena memang di MTs bahasa Arab selau diprioritaskan. Dengan Niat dan dilandasi dengan Usaha maksimal dan kesungguhan serta digenapkan dengan Doa akhirnya aku meraih Juara 2 paralel tingkat kelas 7 dan 8 di Mts Gondowulung Bantul. Selain itu juga menjuarai Pidato Bahasa Arab tingkat Kabupaten Bantul. Itu semua menunjukkan bahwa niat dan kerja keras yang dilandasi dengan semangat dan doa semuanya akan  terealisasikan. Disinilah, kutemukan jati diriku, dan ku bangun citra diri itu. Karena ku sadar, Orang bodoh itu pahit sekali dan aku tidak mau jatuh dilubang yang sama seperti dulu ketika SD. Di MTs Negeri Gondowulung ini aku bertemu dengan guru-guru yang sangat baik dan menginspirasi. Ibu Siti Juwariyah, M.Sc beliau adalah guru yang sangat mumpuni dan kalau udah mendengarkan ngendikane beliau, hati ini jadi tenang dan tentram. Ibu Sunariyah dan Ibu Sri Suharti yang mengajarkan bahasa Arab padaku. Mereka yang melatihku ketika akan lomba. Dan dari mereka berdualah kini aku sangat menyukai bahasa Arab. Ibu Rita Yuana, S.Pd beliau adalah wali kelasku ketika kelas 7E. Nasihat dan kata-kata motivasi beliau yang sampai saat ini masih ku ingat dan akan terus ku ingat sepanjang hidupku, yakni “Jadilah Bintang diantara bintang-bintang yang Lainnya”. Karena kata-kata motivasi inilah, untuk pertama kalinya saya dpt Juara 1, karena SD tidak pernah juara. Beliau guru Matematika, beliau sangat sabar dalam mengajariku matematika karena Matematika adalah pelajaran tersulit sepanjang aku menempuh pendidikan. Ibu Noor Aini, M.Pd adalah Guru tersabar dan tercantik yang pernah ku jumpai di MTs Gondowulung. Cantik Luar dalam. Beliau yang senantiasa sabar dalam menasihatiku agar tidak terlambat. Dulu ketika di MTs saya berangkat dari pondok naik sepeda, disepanjang jalan saya senam jantung. Karena saya tau bahwa saya telat dan pintu gerbang telah ditutup, bahkan karena sering telat akhirnya di sidang di BK bahkan wali kelas harus terjun langsung dan akhirnya sempat ibuku dipanggil di MTs. Malu itu pasti, kasihan bu Noor Ainni sebagai wali kelasku. Heheheh nggak papa Alhamdulillah pernah merasakan terlambat masuk kelas, pengalaman masa lalu (J). Ibu Noor Ainni juga yang selalu mendorong dan memotvasiku untuk terus melanjutkan sekolah ke yang lebih tinggi. Terimakasih banyak dan  dan teriring Doa untuk kalian, Guru-guru terhebatku.    

    MAN Wonokromo Bantul adalah jejak perjalananku selanjutnya. Ketika MOS, kami disuruh untuk menulis mimpi-mimpi diatas kertas HVS. Dengan penuh keyakinan dan Percaya diri ku tulis mimpiku yang berjumlah 100. Aku masih ingat mimpi yang ku tulis pada saat itu ialah Menjadi Siswa berpretasi dan Masuk PAI UIN Sunan Kalijaga tanpa tes dan masih banyak lagi. Qadarullah, Allah memang Sebaik-baik pengabul Doa. Mimpi yang kutulis semuanya menjadi kenyataan dan kini aku berani bermimpi. Karena pada dasarnya, tidak ada suatu hal apapun yang mustahil jika Allah berkehendak. Banyak materi pelajaran dan materi kehidupan yang ku dapatkan di Madrasah ini. Bpk Ahmad Lutfian Antoni, S.Th.I, M.Pd.I yang selalu mengajar

    PAI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta adalah saksi bisu perjalanan panjangku. Mimpi ketika masuk disini ialah Kuliah S1 3 tahun dan lulus dengan predikat Mumtazah (cumlaude). Mimpi-mimpi yang ku tulis sangat banyak, hanya keteguhan dan kejernihan hati serta niat yang dilandasi kerja keras dan semangat adalah kunci untuk merealisasikan itu semua.

    Sebuah prinsip yang akan terus ada dalam benak dan hati sanubari ialah long life education. Yang menjadi patokan berhenti belajar ialah saat sudah dipanggil Allah SWT. Maka dari itu, Pendidikan bagiku adalah segala-galanya. Karena pada hakikatnya pendidikan adalah merubah cara hidup, merubah mind set, menemukan jati diri serta membangun citra diri. Goal dari Pendidikan sendiri ialah mencetak subjek didik yang berintegritas, berkualitas dan berkarakter. Sehingga, pembentukan akhlaq adalah visi misi utama dari pendidikan.

    IPK bagi sebagian orang memang tidak penting. Tetapi, bagiku amat sangat penting. Dan saya berusaha sekuat tenaga untuk diatas itu, lebih spesifik lagi diatas 3,5. Di Umur 18 tahun saya menulis IPK 3,75 dan itu saya tulis di KRS yang di tandatangani oleh DPA (Dr. Mahmud Arif). Alhamdulillah dengan bermodalkan  keyakinan, usaha dan doa Allah mengabulkannya bahkan memberikan lebih yakni 3,80. Semoga semester ini lebih baik lagi. Nah disini terlihat bahwa peran usaha adalah elemen terpenting to get success. Berbicara akan hal ini, Allah SWT berfirman Qs. Ar-Ro’du ayat 11 : "Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum manakala kaum tersebut tidak merubahnya sendiri atau dalam kata lain kaum (manusia) itu pasif/tidak mau berusaha". Juga diperkuat dengan dalil lain dalam Qs. Al Anfal : "Yang demikian itu ialah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu ni’mat yang telah dianugrahkan-Nya kepada suatu kaum hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri". Nah di dalam ayat ini ada ibrah yang dapat kita jadikan mantra untuk lebih menguatkan hati kita yakni Allah tidak akan mencabut ni’mat yang telah dilimpahkan-Nya kepada kita,  selama kita tetap taat dan bersyukur kepada Allah.

    Betapa Agung dan dahsyatnya Dia. Sungguh, Maha Baik. Untuk itu, peran usaha dan doa harus seimbang. Usaha tanpa doa ialah sombong, dan doa tanpa usaha ialah bohong. Namun, kedua point itu belumlah cukup to get success. Point selanjutnya ialah tawakkal. Tawakkal ini sangat dan sangat penting. Banyak orang yang sudah memaksimalkan usaha dan menggenapkannya dengan doa, namun hasil atau goal yang didapat tidak sesuai dengan harapan. Akhirnya stres dan putus asa. Padahal putus asa ialah sikap dan sifat yang dibenci oleh Allah SWT. Maka dari itu, sebagai seorang Muslim yang mempunyai iman dan sikap optimis maka kita harus mempunyai sifat tawakkal, agar ketika hasil yang didapat tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan maka hati akan ikhlas dan menerima apapun ketentuan-Nya karena kita yakin itulah yang terbaik untuk kita, setelah kita memaksimalkan usaha.  Tawakkal adalah sikap berserah diri setelah memaksimalkan usaha dan menggenapkan dengan doa. Tawakkal menjadi rem pengendali untuk kita agar selalu ingat tujuan dan niat Awal. Yakni semua karena Allah, maka dari itu apapun ketentuan-Nya, ya itulah yang terbaik untuk kita, dan apapun yang tidak terjadi karena tidak dikehendaki-Nya (Ngendikanipun Yai Katib Masyhudi, S.Th.I). Namun satu hal yang harus di ingat ialah hasil tidak akan pernah mendzolimi usaha. Begitu pula dengan Allah. Dia tidak akan pernah mendzolimi hamba-Nya. Karena dalam hidup selalu ada yang namanya hukum kausalitas, yakni sebab akibat yang lazim disebut dengan sunnatullah. Ya meski keputusan final ada pada kekuasan-Nya, namun dalam berkehendak Allah selalu mempertimbangkan Usaha dan do'a dari hamba-Nya. So, mari ciptakan sebab agar Allah memberikan akibat (Ngendikanipun Dr. H. Karwadi, M.Ag).

    Pemahaman orang Islam yang harus di re-interpretasi ialah segala sesuatu dikembalikan pada Taqdir. Nah inilah yang menyebabkan umat Islam kian hari kian mundur. Semangat Belajar dan berjuang jadi kendor. Miskin ya biarlah itu sudah takdir. Kapan nikahnya? Udah umur 38, kok belum nikah? Belum ketemu jodoh, belum ditakdirkan Allah menikah. Wah, gawat pemahaman yang seperti itu. Jadi secara garis besar, mind set harus ditata ulang dan harus diluruskan. Berbicara tentang jodoh, saya pernah bertanya kepada Dr. Karwadi, beliau adalah dosen favorite saya. Beliau mengatakan,  yang intinya ialah Jodoh yang dimaksud dengan takdir mubrom ialah laki-laki pasangannya perempuan begitu pula sebaliknya. Namun, dengan siapa kita berjodoh (nama, rumah, dan sebagainya) itu adalah taqdir muallaq. Kita diberi kebebasan Allah untuk menentukan takdir kita, jodoh kita siapa. Jadi, saya menganalogikan jodoh itu seperti melempar batu. Ketika kita melempar batu, kemanapun arah batu yang kita lempar akan tepat sesuai sasaran. Nah, terlemparnya batu tentu ada campur tangan dari Allah. Artinya kita sebagai manusia bebas menentukan apa yang kita usahakan. Allah memberikan kuasa kepada kita untuk menentukan takdir kita, jodoh kita. Jatuhnya batu bukan hanya sekedar hukum alam, tapi kita yang menentukan arahnya. Tapi tetap Allah yang menentukan apa yang kita usahakan. Hanya saja yang utama adalah usaha, baru kemudian do'a. Kalau sudah keduanya baru menunggu keputusan Allah.

    Penulis bisa sampai PAI UIN Sunan Kalijaga, juga karena dorongan dan motivasi dari Bpk. KH. Masyrohan, S.Pd. dan bu dosen Eni Munawwaroh, M.Si. Mereka yang di belakangku, yang setia membangunkan ku ketika down, memotivasiku untuk maju, mendampingiku bahkan yang mengantarkan ku pertama kali ke UIN, menunjukkan jalan yang mudah dihafal untuk sampai UIN. Mereka juga yang selalu menasihatiku agar selalu istiqomah dan memanfaatkan waktu muda sebaik mungkin termasuk menuntut ilmu. Beliau yang mengatakan langsung pada Penulis bahwa seorang wanita harus berpendidikan, harus mandiri, harus ramah pada siapa saja, tanpa terkecuali sekalipun pada orang yang tidak menyukai kita karena hal itulah yang akan menjadi perhiasan dalam diri seorang manusia. Beliau berprinsip akan lanjut sekolah terus. Penulis  terinspirasi oleh wanita hebat itu. Yapz bu dosen Eni Munawwaroh, M.S.I

    Penulis mengenal beliau sebagai sosok yang cerdas, gesit, mandiri, tangguh, baiik. Tulisan ini ku tulis, sambil meneteskan air mata. Tak kuat, bersyukur Allah mempertemukanku dengan orang-orang sebaik mereka. Bisa kah ku membalas? Insya Allah Penulis bisa membuat kalian bangga, dan berjanji tak akan mengecewakan. 3 tahun lagi Penulis akan undang ibu dan bapak untuk hadir di panggung kehormatan untuk menyaksikanku memakai toga dengan predikat mumtazah (cumlaude). Mereka selalu bilang pada Penulis "Pintu rumah selalu terbuka, silahkan kalau mau curhat atau tanya tentang pelajaran". Hanya doa yang mampu terucap untuk ibu beserta suami (bapak H. Rohan) semoga dimudahkan segalanya, diberikan umur panjang nan barokah, diluaskan rizqinya dan amal terus mengalir untuk kalian.

    Di program studi PAI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta saya bertemu dengan Prof. Dr. Sutrisno, M.Ag. Beliau tak hanya mentransfer materi kuliah saja, akan tetapi mengajarkan arti kehidupan, memotivasi dan memberikan arahan untuk menatap masa depan. Terlebih-lebih meyakinkan kami (para mahasiswa beliau) untuk berani bermimpi dan merealisasikannya. Terharu ketika beliau ngendiko : "usia saya sudah 50an lebih, PR terbesar saya adalah menghasilkan anak-anak hebat yang kelak akan meneruskan perjuangan saya dalam membangun pendidikan di Indonesia". Tiap tatap muka di kelas, beliau tak henti-hentinya untuk memotivasi kami agar terus belajar dan meningkatkan skill Bahasa Asing terutama Arab dan English.
    Begini nasihat beliau pada kami, "Masa muda adalah pencapaian jati diri. Masa muda adalah perjuangan. Masa muda adalah proses menjadi. Masa muda adalah bebas secara finansial. Masa muda dalah mengukir kesuksesan. Pendidikan adalah merubah cara hidup dan membangun citra diri. Nak! Sibukkan waktu mudamu untuk mengaji, membaca, hadir di seminar-seminar, kursus bahasa, kembangkan skill komparatif dan menejemen waktu dengan baik. Maka kalian akan menjadi orang hebat, lebih daripada saya". Begitulah nasihat beliau yang selalu terngiang-ngiang dalam ingatan.

    Terima kasih, belajar berjuang, bertaqwa, berkarya, dan berprestasi. Salam, agent of change.



    Dobalan, 2 Mei 2016
    Penulis: Mukaromah
    Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

     

    Iklan

    Iklan
    Untuk Info Lanjut Klik Gambar
    Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website