Headlines News :
Home » » Fatima Mernissi, Sang Pejuang Hak Perempuan

Fatima Mernissi, Sang Pejuang Hak Perempuan

Written By Pewarta News on Rabu, 23 Agustus 2017 | 09.27

PEWARTAnews.com – Fatima Mernissi dilahirkan di sebuah Harem pada tahun 1940 di Fez kota ke sembilan di Maroko sekitar 5000 km dari Makkah dan 1000 km dari sebelah selatan Madrid. Dia dilahirkan  ditengah situasi kacau karena kaum laki-laki dan perempuan Kristen tidak mau menerima batas suci dalam Islam (hudud). Mernisi kecil hidup di dalam Harem diantara perempuan-perempuan yang secara tidak sengaja membentuknya menjadi pribadi yang kritis dan pemberani.

Harem adalah rumah bertembok anggun yang didiami oleh sebuah keluarga besar dengan maksud mencegah perempuan memiliki kontak dengan dunia luar, sekaligus memudahkan proses pemantuan terhadap istri dan anak perempuan dari pengaruh dunia luar. Sebuah harem dijaga ketat oleh penjaga pintu agar perempuan tidak keluar. Tempat ini digunakan oleh suami untuk melindungi keluarganya, istrinya, anak-anaknya, dan saudara perempuannya. Tidak ada laki-laki yang boleh masuk tanpa seijin pemilik harem, jika mereka mau masuk, harus mematuhi aturannya. Perempuan penghuni harem telah kehilangan kebebasan bergerak.

Ayah Mernissi adalah seorang penganut nasionalis yang menolak poligami, sedangkan ibunya tidak bisa baca tulis karena waktunya dihabiskan di Harem. Neneknya, Yasmina Mernissi membentuk jiwa pemberontak dalam diri Mernissi. Neneknya tidak terlalu terpelajar, namun kecerdasan, pengalaman di lingkungan pertanian yang terbuka, dan semangatnya menjadikannya solidarity maker diantara istri-istri Sidi Tazi (suami Yasmina atau Kakek Mernissi), yang menjadi potret nyata dari sisi lain perempuan bagi Mernissi.

Mernissi belajar kepada neneknya tentang kesetaraaan sesama manusia, arti keterkungkungan dalam Harem, serta hubungan sebab akibat antara kekalahan politik yang dialami kaum muslim dengan keterpurukan yang dialami perempuan. “Ketika negara tidak mampu menyuarakan kehendak rakyat, perempuan menjadi korban dari situasi yang rawan kekerasan,” begitu kata-kata nenek kepada Mernissi.

Mernissi mengajar sosiologi di Universitas Muhammad V di Rabat, yang banyak mempengaruhinya dalam memahami agama tentang relasi laki-laki dan perempuan.

Mernissi juga aktif dalam gerakan-gerakan perjuangan hak perempuan dan dalam dunia perpolitikan ia menghasilkan karya tulis yang diberi judul Ratu-ratu Islam yang terlupakan.

Gagasan tentang Harem yang tak tampak, sebuah hukum yang terpatri di dalam benak itulah yang membuat Mernissi selalu risau. Lewat pengalaman dan cerita yang didapat dari orang dewasa di sekitarnya di Harem, akhirnya Mernissi kecil mencoba memberontak dan akhirnya mampu menghasilkan karya-karya yang dapat membuka mata dunia tentang perempuan dan Islam yang terlupakan.

Menurut Mernissi, siapa saja yang meyakini bahwa seorang wanita muslim yang berjuang untuk meraih kemuliaan hak-hak sipilnya berarti telah mengeluarkan dirinya sendiri dari lingkungan umat adalah orang yang salah paham tentang warisan agama dan identitas agamanya sendiri. Ia berpendapat bahwa jika hak-hak wanita menjadi masalah bagi sebagian kaum laki-laki muslim modern, hal itu bukan karena Al-Quran, Nabi, dan tradisi Islam, melainkan karena hak-hak tersebut bertentangan dengan kepentingan kaum elite laki-laki.

Dari hasil analisis Mernissi adalah keadaan yang dialami perempuan dimanapun, sungguh merupakan hal yang sangat memperhatinkan. Persoalannya adalah bagaimana mengatasi kesenjangan yang terlalu lebar ini. Mernissi tidak tinggal diam dalam menghadapi masalah perempuan yang masih terus diperbincangkan melalui karya-karyanya. Ia menyampaikan petunjuk dan tuntutan kepada perempuan khususnya Islam agar memiliki mutu yang tinggi sebagai manusia yang memiliki kelengkapan moral serta tidak canggung menghadapi dan memcahkan persoalan hidup yang penuh dinamika, khususnya masalah hak perempuan dalam Islam.

Dari hasil analisis Mernissi adalah keadaan yang dialami perempuan dimanapun, sungguh merupakan hal yang sangat memperhatinkan. Persoalannya adalah bagaimana mengatasi kesenjangan yang terlalu lebar ini. Mernissi tidak tinggal diam dalam menghadapi masalah perempuan yang masih terus diperbincangkan melalui karya-karyanya. Ia menyampaikan petunjuk dan tuntutan kepada perempuan khususnya Islam agar memiliki mutu yang tinggi sebagai manusia yang memiliki kelengkapan moral serta tidak canggung menghadapi dan memecahkan persoalan hidup yang penuh dinamika, khususnya masalah hak perempuan dalam Islam.


Penulis: Chichi 'aisyatud Da'watiz Zahroh, S.Pd.I. M.Pd.I.
Mahasiswi Doktor Kependidikan Islam di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website