Headlines News :
Home » » For the Rent of My Life

For the Rent of My Life

Written By Pewarta News on Sabtu, 05 Agustus 2017 | 05.39

Mukarromah. 
PEWARTAnews.com -- Mukarromah adalah panggilan akrabku. Teman-teman biasa memanggilku dengan sebutan “Muk”. 18 tahun aku hidup di Desa Santri (kata orang-orang) yakni Desa Dobalan Timbulharjo, Sewon, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.  Aku adalah anak terakhir dari 3 bersaudara. Kedua kakakku telah menikah. Bapak Sarmidi adalah nama sosok laki-laki hebat yang mengajarkanku arti Perjuangan dan Kerja keras. Sedangkan ibu Sudariyah adalah sosok wanita hebat dalam sejarah hidupku, beliaulah  yang mengajarkanku arti Keikhlasan dan indahnya Kesabaran.

Pengalaman pahit sekaligus berharga dalam hidupku ialah Masa kanak-kanak yang penuh dengan kebodohan.  Aku memang tidak menempuh pendidikan TK seperti  layaknya anak-anak biasa sebayaku. Saat itu, pendaftaran SD telah dibuka. Dan akhirnya aku didaftarkan di SDN Kepuhan oleh ibu terhebatku. Banyak orang yang mengejekku bahkan merendahkanku dengan berkata “mana mungkin anak yang tidak TK bisa dengan mudahnya diterima di SD” ! “Kalaupun diterima, pasti akan kalah dengan anak-anak yang sudah menempuh pendidikan TK”. Saat itu aku yang masih belum tau apa-apa, bahkan tidak merasakan sakit hati sedikitpun karena saat itu masih labil yakni masih masa anak-anak. Tetapi, Ibu selalu menguatkanku. Selalu mensupportku untuk tetap optimis dan niat sekolah.

SDN Kepuhan adalah jejak pertamaku. Disini kenangan itu terukir. Ketika kelas 1-3 SD, aku selalu di contekin oleh temanku yang bernama Devi Noor Arviani. Karena memang ketika SD aku memulai semuanya dari nol, mengingat tidak menempuh pendidikan TK dan pada waktu itu belum pernah diajari baca tulis. Setelah akhir kelas 3, aku dijauhi bahkan dihina, dicemooh dan diremehkan oleh  teman-temanku karena mereka tidak mau berteman dengan orang bodoh sepertiku. Awal kelas 4 aku bangkit dan berjanji pada diriku sendiri bahwa apapun yang terjadi, itulah hasil kerja kerasku. Sejelek apapun nilai jika dikerjakan dengan usaha dan kerja keras sendiri tentu akan memuaskan hati. Akhirnya kelas 6 lulus dengan nilai yang lumayan. Saat itu tidak ingin lanjut ke SMP, tetapi cukup ingin tinggal di pondok saja. Karena memang orangtua tidak mensupportku dikarnakan mind set mereka yang mana anaknya bisa mengaji itu lebih dari cukup. Tetapi suami dari kakakku bilang “Ayo terus lanjut, yang S1 saja masih tetap lanjut di S2, lalu yang S2 tetap lanjut di S3, masak kamu yang cuma  lulusan SD sudah tidak mau lanjut, apa kamu cukup puas dengan ilmu yang telah kamu dapatkan”? Kata-kata itulah yang sampai sekarang masih terngiang-ngiang dibenakku.

Perjalananku selanjutnya adalah di MTs Negeri Gondowulung Bantul. Disinilah Citra diri itu ku bangun, mengingat ketika SD dipandang sebelah mata oleh orang lain. Sebelum MOS, aku persiapkan semua untuk mendalami vocabulary (mufrodat) dalam bahasa Arab. Karena memang di MTs bahasa Arab selau diprioritaskan. Dengan Niat dan dilandasi dengan Usaha maksimal dan kesungguhan serta digenapkan dengan Doa akhirnya aku meraih Juara 2 paralel tingkat kelas 7 dan 8 di Mts Gondowulung Bantul. Selain itu juga menjuarai Pidato Bahasa Arab tingkat Kabupaten Bantul. Itu semua menunjukkan bahwa niat dan kerja keras yang dilandasi dengan semangat dan doa semuanya akan  terealisasikan. Disinilah, kutemukan jati diriku, dan ku bangun citra diri itu. Karena ku sadar, Orang bodoh itu pahit sekali dan aku tidak mau jatuh dilubang yang sama seperti dulu ketika SD. Di MTs Negeri Gondowulung ini aku bertemu dengan guru-guru yang sangat baik dan menginspirasi. Ibu Siti Juwariyah, M.Sc beliau adalah guru yang sangat mumpuni dan kalau udah mendengarkan ngendikane beliau, hati ini jadi tenang dan tentram. Ibu Sunariyah dan Ibu Sri Suharti yang mengajarkan bahasa Arab padaku. Mereka yang melatihku ketika akan lomba. Dan dari mereka berdualah kini aku sangat menyukai bahasa Arab. Ibu Rita Yuana, S.Pd beliau adalah wali kelasku ketika kelas 7E. Nasihat dan kata-kata motivasi beliau yang sampai saat ini masih ku ingat dan akan terus ku ingat sepanjang hidupku, yakni “Jadilah Bintang diantara bintang-bintang yang Lainnya”. Karena kata-kata motivasi inilah, untuk pertama kalinya saya dpt Juara 1, karena SD tidak pernah juara. Beliau guru Matematika, beliau sangat sabar dalam mengajariku matematika karena Matematika adalah pelajaran tersulit sepanjang aku menempuh pendidikan. Ibu Noor Aini, M.Pd adalah Guru tersabar dan tercantik yang pernah ku jumpai di MTs Gondowulung. Cantik Luar dalam. Beliau yang senantiasa sabar dalam menasihatiku agar tidak terlambat. Dulu ketika di MTs saya berangkat dari pondok naik sepeda, disepanjang jalan saya senam jantung. Karena saya tau bahwa saya telat dan pintu gerbang telah ditutup, bahkan karena sering telat akhirnya di sidang di BK bahkan wali kelas harus terjun langsung dan akhirnya sempat ibuku dipanggil di MTs. Malu itu pasti, kasihan bu Noor Ainni sebagai wali kelasku. Heheheh nggak papa Alhamdulillah pernah merasakan terlambat masuk kelas, pengalaman masa lalu (J). Ibu Noor Ainni juga yang selalu mendorong dan memotvasiku untuk terus melanjutkan sekolah ke yang lebih tinggi. Terimakasih banyak dan  dan teriring Doa untuk kalian, Guru-guru terhebatku.    

MAN Wonokromo Bantul adalah jejak perjalananku selanjutnya. Ketika MOS, kami disuruh untuk menulis mimpi-mimpi diatas kertas HVS. Dengan penuh keyakinan dan Percaya diri ku tulis mimpiku yang berjumlah 100. Aku masih ingat mimpi yang ku tulis pada saat itu ialah Menjadi Siswa berpretasi dan Masuk PAI UIN Sunan Kalijaga tanpa tes dan masih banyak lagi. Qadarullah, Allah memang Sebaik-baik pengabul Doa. Mimpi yang kutulis semuanya menjadi kenyataan dan kini aku berani bermimpi. Karena pada dasarnya, tidak ada suatu hal apapun yang mustahil jika Allah berkehendak. Banyak materi pelajaran dan materi kehidupan yang ku dapatkan di Madrasah ini. Bpk Ahmad Lutfian Antoni, S.Th.I, M.Pd.I yang selalu mengajar

PAI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta adalah saksi bisu perjalanan panjangku. Mimpi ketika masuk disini ialah Kuliah S1 3 tahun dan lulus dengan predikat Mumtazah (cumlaude). Mimpi-mimpi yang ku tulis sangat banyak, hanya keteguhan dan kejernihan hati serta niat yang dilandasi kerja keras dan semangat adalah kunci untuk merealisasikan itu semua.

Sebuah prinsip yang akan terus ada dalam benak dan hati sanubari ialah long life education. Yang menjadi patokan berhenti belajar ialah saat sudah dipanggil Allah SWT. Maka dari itu, Pendidikan bagiku adalah segala-galanya. Karena pada hakikatnya pendidikan adalah merubah cara hidup, merubah mind set, menemukan jati diri serta membangun citra diri. Goal dari Pendidikan sendiri ialah mencetak subjek didik yang berintegritas, berkualitas dan berkarakter. Sehingga, pembentukan akhlaq adalah visi misi utama dari pendidikan.

IPK bagi sebagian orang memang tidak penting. Tetapi, bagiku amat sangat penting. Dan saya berusaha sekuat tenaga untuk diatas itu, lebih spesifik lagi diatas 3,5. Di Umur 18 tahun saya menulis IPK 3,75 dan itu saya tulis di KRS yang di tandatangani oleh DPA (Dr. Mahmud Arif). Alhamdulillah dengan bermodalkan  keyakinan, usaha dan doa Allah mengabulkannya bahkan memberikan lebih yakni 3,80. Semoga semester ini lebih baik lagi. Nah disini terlihat bahwa peran usaha adalah elemen terpenting to get success. Berbicara akan hal ini, Allah SWT berfirman Qs. Ar-Ro’du ayat 11 : "Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum manakala kaum tersebut tidak merubahnya sendiri atau dalam kata lain kaum (manusia) itu pasif/tidak mau berusaha". Juga diperkuat dengan dalil lain dalam Qs. Al Anfal : "Yang demikian itu ialah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu ni’mat yang telah dianugrahkan-Nya kepada suatu kaum hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri". Nah di dalam ayat ini ada ibrah yang dapat kita jadikan mantra untuk lebih menguatkan hati kita yakni Allah tidak akan mencabut ni’mat yang telah dilimpahkan-Nya kepada kita,  selama kita tetap taat dan bersyukur kepada Allah.

Betapa Agung dan dahsyatnya Dia. Sungguh, Maha Baik. Untuk itu, peran usaha dan doa harus seimbang. Usaha tanpa doa ialah sombong, dan doa tanpa usaha ialah bohong. Namun, kedua point itu belumlah cukup to get success. Point selanjutnya ialah tawakkal. Tawakkal ini sangat dan sangat penting. Banyak orang yang sudah memaksimalkan usaha dan menggenapkannya dengan doa, namun hasil atau goal yang didapat tidak sesuai dengan harapan. Akhirnya stres dan putus asa. Padahal putus asa ialah sikap dan sifat yang dibenci oleh Allah SWT. Maka dari itu, sebagai seorang Muslim yang mempunyai iman dan sikap optimis maka kita harus mempunyai sifat tawakkal, agar ketika hasil yang didapat tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan maka hati akan ikhlas dan menerima apapun ketentuan-Nya karena kita yakin itulah yang terbaik untuk kita, setelah kita memaksimalkan usaha.  Tawakkal adalah sikap berserah diri setelah memaksimalkan usaha dan menggenapkan dengan doa. Tawakkal menjadi rem pengendali untuk kita agar selalu ingat tujuan dan niat Awal. Yakni semua karena Allah, maka dari itu apapun ketentuan-Nya, ya itulah yang terbaik untuk kita, dan apapun yang tidak terjadi karena tidak dikehendaki-Nya (Ngendikanipun Yai Katib Masyhudi, S.Th.I). Namun satu hal yang harus di ingat ialah hasil tidak akan pernah mendzolimi usaha. Begitu pula dengan Allah. Dia tidak akan pernah mendzolimi hamba-Nya. Karena dalam hidup selalu ada yang namanya hukum kausalitas, yakni sebab akibat yang lazim disebut dengan sunnatullah. Ya meski keputusan final ada pada kekuasan-Nya, namun dalam berkehendak Allah selalu mempertimbangkan Usaha dan do'a dari hamba-Nya. So, mari ciptakan sebab agar Allah memberikan akibat (Ngendikanipun Dr. H. Karwadi, M.Ag).

Pemahaman orang Islam yang harus di re-interpretasi ialah segala sesuatu dikembalikan pada Taqdir. Nah inilah yang menyebabkan umat Islam kian hari kian mundur. Semangat Belajar dan berjuang jadi kendor. Miskin ya biarlah itu sudah takdir. Kapan nikahnya? Udah umur 38, kok belum nikah? Belum ketemu jodoh, belum ditakdirkan Allah menikah. Wah, gawat pemahaman yang seperti itu. Jadi secara garis besar, mind set harus ditata ulang dan harus diluruskan. Berbicara tentang jodoh, saya pernah bertanya kepada Dr. Karwadi, beliau adalah dosen favorite saya. Beliau mengatakan,  yang intinya ialah Jodoh yang dimaksud dengan takdir mubrom ialah laki-laki pasangannya perempuan begitu pula sebaliknya. Namun, dengan siapa kita berjodoh (nama, rumah, dan sebagainya) itu adalah taqdir muallaq. Kita diberi kebebasan Allah untuk menentukan takdir kita, jodoh kita siapa. Jadi, saya menganalogikan jodoh itu seperti melempar batu. Ketika kita melempar batu, kemanapun arah batu yang kita lempar akan tepat sesuai sasaran. Nah, terlemparnya batu tentu ada campur tangan dari Allah. Artinya kita sebagai manusia bebas menentukan apa yang kita usahakan. Allah memberikan kuasa kepada kita untuk menentukan takdir kita, jodoh kita. Jatuhnya batu bukan hanya sekedar hukum alam, tapi kita yang menentukan arahnya. Tapi tetap Allah yang menentukan apa yang kita usahakan. Hanya saja yang utama adalah usaha, baru kemudian do'a. Kalau sudah keduanya baru menunggu keputusan Allah.

Penulis bisa sampai PAI UIN Sunan Kalijaga, juga karena dorongan dan motivasi dari Bpk. KH. Masyrohan, S.Pd. dan bu dosen Eni Munawwaroh, M.Si. Mereka yang di belakangku, yang setia membangunkan ku ketika down, memotivasiku untuk maju, mendampingiku bahkan yang mengantarkan ku pertama kali ke UIN, menunjukkan jalan yang mudah dihafal untuk sampai UIN. Mereka juga yang selalu menasihatiku agar selalu istiqomah dan memanfaatkan waktu muda sebaik mungkin termasuk menuntut ilmu. Beliau yang mengatakan langsung pada Penulis bahwa seorang wanita harus berpendidikan, harus mandiri, harus ramah pada siapa saja, tanpa terkecuali sekalipun pada orang yang tidak menyukai kita karena hal itulah yang akan menjadi perhiasan dalam diri seorang manusia. Beliau berprinsip akan lanjut sekolah terus. Penulis  terinspirasi oleh wanita hebat itu. Yapz bu dosen Eni Munawwaroh, M.S.I

Penulis mengenal beliau sebagai sosok yang cerdas, gesit, mandiri, tangguh, baiik. Tulisan ini ku tulis, sambil meneteskan air mata. Tak kuat, bersyukur Allah mempertemukanku dengan orang-orang sebaik mereka. Bisa kah ku membalas? Insya Allah Penulis bisa membuat kalian bangga, dan berjanji tak akan mengecewakan. 3 tahun lagi Penulis akan undang ibu dan bapak untuk hadir di panggung kehormatan untuk menyaksikanku memakai toga dengan predikat mumtazah (cumlaude). Mereka selalu bilang pada Penulis "Pintu rumah selalu terbuka, silahkan kalau mau curhat atau tanya tentang pelajaran". Hanya doa yang mampu terucap untuk ibu beserta suami (bapak H. Rohan) semoga dimudahkan segalanya, diberikan umur panjang nan barokah, diluaskan rizqinya dan amal terus mengalir untuk kalian.

Di program studi PAI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta saya bertemu dengan Prof. Dr. Sutrisno, M.Ag. Beliau tak hanya mentransfer materi kuliah saja, akan tetapi mengajarkan arti kehidupan, memotivasi dan memberikan arahan untuk menatap masa depan. Terlebih-lebih meyakinkan kami (para mahasiswa beliau) untuk berani bermimpi dan merealisasikannya. Terharu ketika beliau ngendiko : "usia saya sudah 50an lebih, PR terbesar saya adalah menghasilkan anak-anak hebat yang kelak akan meneruskan perjuangan saya dalam membangun pendidikan di Indonesia". Tiap tatap muka di kelas, beliau tak henti-hentinya untuk memotivasi kami agar terus belajar dan meningkatkan skill Bahasa Asing terutama Arab dan English.
Begini nasihat beliau pada kami, "Masa muda adalah pencapaian jati diri. Masa muda adalah perjuangan. Masa muda adalah proses menjadi. Masa muda adalah bebas secara finansial. Masa muda dalah mengukir kesuksesan. Pendidikan adalah merubah cara hidup dan membangun citra diri. Nak! Sibukkan waktu mudamu untuk mengaji, membaca, hadir di seminar-seminar, kursus bahasa, kembangkan skill komparatif dan menejemen waktu dengan baik. Maka kalian akan menjadi orang hebat, lebih daripada saya". Begitulah nasihat beliau yang selalu terngiang-ngiang dalam ingatan.

Terima kasih, belajar berjuang, bertaqwa, berkarya, dan berprestasi. Salam, agent of change.



Dobalan, 2 Mei 2016
Penulis: Mukaromah
Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website