Headlines News :
Home » , » Keteraturan Berfikir Tentang Pembangunan

Keteraturan Berfikir Tentang Pembangunan

Written By Pewarta News on Rabu, 30 Agustus 2017 | 00.34

Dedi Purwanto, S.H.
PEWARTAnews.com – Kenapa kita terlalu sering mendefinisikan berkembang atau maju (modern) hanya pada bentuk fisik (infrastruktur) semata. Kenapa pembangunan itu identik dengan bangunan saja, kenapa tidak mengakomodir definisi tersebut sampai pada dimensi yang lain?. Kenapa kita tidak utuh untuk melihatnya. Bukankah dalam lagu kebangsaan kita ada dua tipologi pembangunan secara filosofis ''bangunlah jiwanya, bangunlah raganya". Kita hanya fokus pada bagian kedua yaitu bangunan raga (infrastruktur), padahal sebelum raga itu dibangun kita harus terlebih dahulu untuk membangun jiwa (mental dan kepribadian). Kita tidak bisa maksimal dalam bangunan yang bersifat raga (infrastruktur) kalau bangunan jiwa (roh) kita belum terisi.

Semestinya sebelum bangunan raga itu di lakukan kita harus membangun jiwa terlebih dahalu, atau mungkin, kedua hal tersebut bisa saja kita bangun dalam waktu yang bersamaan lewat program-program kemanusia dan infrastruktur. Bangunan jiwa itu termanisfestasi dalam upaya yang serius untuk melihat dan menyelesaikan persoalan anak-anak, remaja dan pemuda karena mengalami dekradasi yang cukup memprihatinkan dalam hal moral, etika, dan pergaulan. Semestinya itu yang kita utamakan. Sebab apa gunanya rumah mewah kalau kita tidak tau bertegur sapa dengan tetangga, apa gunanya hasil panen bawang yang melimpah kalau kita sudah buat jarak dengan orang lain, apa gunanya bangunan desa kalau setiap orang dalam desa tersebut sudah tidak mengenali diri mereka sendiri dalam realitas diri dan sosialnya.

Gejala-gejala semacam itu mungkin saja bisa terjadi karena ada beberapa faktor. Pertama, kita tidak utuh mengamati sebuah realitas sosial. Maksudnya, dalam analisis pembangunan kita harus mengawinkan beberapa pendekatan supaya sesuatu tidak cacat dalam konsep maupun praxis. Melihat secara menyuruh dan utuh dari kacamata filosofis, yuridis, sosiologis, budaya dan agama sebelum sesuatu itu dilakukan. Kedua, Mental kita masih mental kolonial (penjajah). Kita meneriakkan suatu ketidakadilan ketika hak-hak kita tidak diindahkan namun apabila hak kita sudah di penuhi kita menjadi penjajah yang baru untuk orang lain. Semisal, kita tidak suka melihat orang kaya yang serakah karena kita masih miskin, tapi ketika kita kaya kita malah membenarkan cara-cara tersebut untuk kepentingan diri. Ketika : Kita tidak tau atau kurang tau identitas dan personalitas Ke-daerahan-an kita dan Ke-desa-an. Maksudnya dalam suatu daerah atau desa sesungguhnya hidup suatu falsafah, cara pandang, dan pandangan hidup, yang dimana semua itu ada untuk membentuk sistem nilai, etika, moral dan spiritual suatu daerah atau desa. Misalnya kata Ncera, dibalik nama sebuah Ncera sesungguh hidup identitas dan personalitas sekelompok orang yang hidup didesa tersebut. Berarti Ncera tidak hanya di maknai sebagai nama suatu desa secara administrasi tapi juga Ncera adalah identitas dan personalitas. Ncera tidak hanya sebagai kata benda tapi Ncera adalah kata sifat dan kata kerja. Ncera sendiri dalam bahasa Indonesia berarti ‘murah’.

Setidaknya ada dua indikator untuk mendefinisikan Ncera (murah) yaitu ekonomis dan filosofis. Secara ekonomis Ncera (murah) bisa didefinisikan untuk dua keadaan ekonomi. Pertama, Ncera (Murah), sesuatu itu murah karena harganya dibawah rata-rata. Kedua, Harga sesuatu itu tidak kurang atau tidak lebih. Sedangkan kata Ncera (murah) berdasarkan filosofis adalah baik, baik hati, murah hati. Dan orang Ncera (murah) semestinya mensifati diri mereka pada definisi dari Ncera (murah) itu sendiri. Sebab suatu nama adalah doa dan harapan, selain doa nama adalah suatu identitas dan personalitas. Contoh kalimatnya “ orang Ncera yang punya sifat ke-Ncera-an”.

Kemajuan memang tolak untuk suatu daerah atau desa supaya diakui secara normative. Namun disisi lain kemajuan akan tercipta apabila visi-misinya tidak hanya terfokus pada infraktruktur belaka. Akan tetapi, yang terpenting adalah proses untuk mengelaborasikan diri dan keteraturan setiap komponen sosial pada pembangunan yang berbasis jiwa (roh) dan juga raga (jasad). Maksudmua, dalam setiap konsep pembangunan itu mereka melihat diri mereka sendiri pada bangunan itu. Ini penting supaya setiap orang tidak merasa asing dengan desa, daerah, dan Negaranya. Kalau setiap orang sudah merasa asing maka penolakan dan kerusakan pasti terjadi.

Tanah adalah asal segala sesuatu, dari tanah kita ada, di tanah kita bersujud, dan kepada tanah kita kembali. Semestinya tata ruang tidak hanya dibangun berdasarkan terminologi positivistik tapi juga harus di bangun berdasarkan pendekatan kosmos (melihat manusia, alam dan Tuhan sebagai satu kesatuan). Upaya membuat lingkungan kita sendiri sebagai manifestasi dari diri kita adalah kaharusan sebab itu akan melahirkan keteraturan dan keharmonisan. Semua elemen wajib bahu membahu untuk merealisasikan itu. Kita tidak mau hanya melihat Tuhan di masjid saja, setiap orang pasti ingin melihat tanda kekuasaan Tuhan di mana-mana. Dari kemampuan kita untuk merasa dan melihat tuhan (nyaman, tenang, indah) di setiap rencana administrasi desa inilah yang membuat setiap orang nyaman dan tenang di desanya sendiri.

“Mari ngopi, banyak baca dan ketik. Jangan banyakin intrik dan menghujat. Kalau mau lumpahkan kekecewaan atau kritik, silahkan minta sama pemerintah desa atau daerah untuk sediakan panggung ilmiah. Supaya diskusinya agak sedikit disiplin dan tidak terkesan ngawur.


Penulis: Dedi Purwanto, S.H.
Eks Ketua Umum Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY) / Pemuda Asal Ncera, Belo, Bima, NTB. 
Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website