Headlines News :
Home » » Melirik Tanah Tepian Air sebagai Condong Pariwisata

Melirik Tanah Tepian Air sebagai Condong Pariwisata

Written By Pewarta News on Jumat, 04 Agustus 2017 | 09.37

Muhammad Akhir. 
PEWARTAnews.com – Tanah tepian air adalah sebutan dari daerah (Mbojo), kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Gimana tidak disebut sebagai dana/tanah tepian air, daerah Bima adalah tanah yang dikelilingi oleh laut yang kebiru-biruan dan penuh dengan keindahan alam, baik dari wilayah bagian barat, utara, timur, dan selatan. Air laut yang kebiru-biruan yang mengelilingi tanah Bima itu merupakan salah satu karunia Tuhan Yang Maha Esa yang patut kita sukuri dan kita jaga serta ikut melestarikanya.

Secara Geografis, wilayah Bima meliputi perbatasan wilayah tertentu, diantaranya: (1) Daerah Utara berbatasan dengan Laut Flores.  (2) Daerah Selatan  berbatasan dengan Laut Samudra Hindia. (3) Daerah Timur berbatasan dengan Laut Selat Sape. (4) Daerah Barat berbatasan dengan Laut Kabupaten Dompu.

Luas wilayah daratan Kabupaten Bima kurang lebih 438.940 Ha atau 22% dari luas wilayah Propinsi Nusa Tenggara Barat. Terbagi atas 18 kecamatan yang terdiri dari 198 desa dan 419 dusun. (BPN Kabupaten Bima)

Dilihat dari pegunungan dan pantainya pun tidak kalah jumlahnya dengan panorama wisata daerah lain. Ada banyak pantai di daerah tepian air tersebut, meliputi: Pantai, Kalaki, Pantai Lawata, Pantai Amahami, Pantai Ni’u, Pantai Kolo, Pantai Ule, Pantai Wadu baba, Pantai lariti, Pantai Rontu.

Dari beberapa pantai yang disebutkan diatas, sebenarnya masih banyak pantai lainnya yang belum disebutkan satu persatu. Penulis hanya dapat melirik dari beberapa pantai yang sering dikunjungi oleh wisatawan untuk berekreasi.
Begitupun dari wisata gunungnya, tanah tepian air memiliki ratusan pegunungan yang dapat didaki untuk berekreasi, karena tanah Bima adalah daerah yang sangat strategis untuk wilayah pendistribusian keindahan dan kesuburan alam. Beberapa pegunungan yang sering didaki oleh wisatawan antaranya: Doro, Tambora, Doro Sangiang, Doro Api, Doro Mantoi, Doro Cumpu, Doro Leme,Doro Ncanga, Doro Kabuju, serta masih banyak gunung-gunung lainya yang penuh dengan keindahan alamnya yang perlu kita lestarikan secara bersama. (infopendaki.com)

Oleh karenanya, dari banyaknya pantai dan gunung yang disebutkan diatas, merupakan bentuk yang harus dilestarikan oleh generasi-generasi dikalangan jaman sekarang dan didukung oleh pemerintah daerah sebagai perwujudan untuk melestarikan alam ditanah tepian air ke muka lokal, nasional dan bahkan internasional.

Sebab sesuatu yang dimiliki itu, kalau saja kita tidak merawatnya maka akan menjadi barang yang tak berguna, sama halnya dengan yang dimiliki oleh tanah tepian air sekarang, pegunungan sebagai bentuk parawisata daratan dan lautan sebagai pantai wisata laut harus dijaga serta dilestarikan demi untuk kenyamanan bagi daerah, masyarakat, anak muda dan bahkan binatang-binatang yang berada disekitaranya. Secara umum, jika kondisi ini mampu dikelolah oleh pemerintah dan masyarakatnya maka akan menjadikan daerah yang unggul dan mampu bersaing dalam pelestarian alam dan dapat membantu penghasilan bagi ekonomi daerah itu sendiri, sehingga akhirnya keberadaan suatu daerah (tanah tepian air) akan mampu bersaing dengan daerah-daerah lain yang memiliki parawisata.

Hal ini semua tidak akan berjalan ketika pemerintah daerah dan pemerintah desa tidak bersinergi, saling menukar pikiran, saling memberi dan merawat keindahan alamnya, karena tidak menuntut kemungkinan ketika masyarakat dan pemerintah bersatu dan saling bersinergi maka akan melahirkan ketentraman bagi masyarakat setempat. Hal-hal yang menjadi keresahan sekarang ialah timbul karena tipisnya komunikasi dari Pemda dengan masyarakat, tidak ada saling dukung mendukung, tidak ada saling memberi dan mengarahkan antara satu sama lain.

Harapan Penulis, semoga daerah tepian air kita mampu dikelolah oleh para eksekulator-eksekulator atau para petinggi dari daerah tersebut, sehingga aroma pelestarian keindahan di daerah tersebut akan dirasakan oleh semua elemen masyarakat didaerah tepian air (Dana Mbojo ma mbari). Itulah harapan besar dari saya, tidak ada yang tidak mungkin, bila kita adalah manusia yang sudah dibekali akal, maka sudah barang tentu akal itu kita gunakan untuk berpikir, bekerjasama, dan ber konsep untuk perubahan bersama. Tidak ada yang jauh lebih pandai dari orang yang bekerja untuk masyarakat, ketimbang mereka yang pintar, cerdas tapi untuk kepenting pribadi dan hanya untuk kelompok-kelompok tertentu. Sinergi dengan masyarakat itu penting untuk mewujudkan kesejahteraan yang madani, bukan sinergi karena hanya kepentingan untuk sesaat.


Penulis: Muhammad Akhir
Sekertaris Umum KEPMA BIMA Yogyakarta

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website