Headlines News :
Home » , , » Menulis untuk Keabadian

Menulis untuk Keabadian

Written By Pewarta News on Sabtu, 05 Agustus 2017 | 08.12

Mukarromah. 
PEWARTAnews.com – "Jika engkau bukan anak raja dan bukan anak ulama' besar, maka Menulislah (Imam Ghazali)". Kata-kata inspirasi itulah yang menggetarkan jiwa manusia untuk berkarya nan menjadi insan yang bermakna. Seiring dengan perkembangan zaman, hal itu tak hanya sekedar kata-kata biasa, akan tetapi dapat dimaknai sebagai amanah (pesan yang harus direalisasikan oleh setiap insan, tanpa terkecuali). Karena pada realitanya, menulis merupakan hal yang urgent dalam kehidupan manusia. Menulis merupakan bahasa komunikasi untuk mengungkapkan suatu hal kepada orang lain yang dengan hal itu akan menambah informasi,  ilmu dan wawasan orang lain. Karena setiap orang diberi otak untuk berpikir, maka otak manusia tersebut bisa memikirkan banyak hal. Sehingga Menulis merupakan manifestasi dari uraian pikiran di otak nya sekaligus sebagai luapan emosinya. Dengan tulisan, manusia bebas mengungkapkan apa yang ia rasa dan pikirkan. Selain itu, tulisan juga dapat memotivasi dan menginspirasi insan. Sebagai contoh, tentu kita mengenal Ahmad Fuadi, Habiburrahman el Shirazy, Asma Nadia bahkan dosen saya sendiri Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M.Ag., Dr. H. Karwadi, M.Ag., Dr. Mujahid., Dr. Rofiq, dan lain-lain, mereka lah penulis-penulis hebat yang melalui karya-karyanya dapat memotivasi dan menginspirasi banyak orang. Hal itu pasti menambah kebahagiaan tersendiri bagi mereka, karena hakikat dari kebahagiaan ialah ketika melihat orang lain juga bahagia dan merasa terdorong (termotivasi) untuk melakukan suatu hal ke arah yang lebih baik dari sebelumnya.

Oleh karenanya, seorang penulis (orang yang menulis) disadari ataupun tidak ia telah menjadi orang yang bermanfaat bagi sesama, sehingga menulis merupakan ladang beramal yang tiada habisnya. Hal ini senada dengan ungkapan gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan karya, salah satunya adalah tulisan. Jasad dan raga memang telah tiada, tapi kata-kata inspirasi, petuah, nasihat, pikiran, ide, gagasan penulis akan tetap abadi dan akan terkenang sepanjang masa. Karena itulah, Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M.Ag., memberikan nasihat kepada kami sebagai pamungkas (penutup) kuliah Ma'anil Qur’an, di IAT Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga, yakni tulisan dapat memberikan motivasi dan inspirasi orang, yang pada akhirnya pembaca akan menemukan secercah cahaya kesadaran meski sedetik namun menggugah jiwa raganya itu lebih berharga nan bermakna daripada pengalaman seumur hidupnya yang hanya membekas dalam memori otaknya tanpa menghasilkan perubahan dalam hidupnya.

Banyak orang yang mengetahui manfaat dan urgensi dari menulis, akan tetapi belum merefleksikan dalam diri pribadinya sehingga berimplikasi pada rendahnya rasa ingin tahu, mencoba dan berkarya. Bukankah untuk mewujudkan sesuatu hal yang besar harus diawali dengan sesuatu hal yang sederhana? Banyak orang berpendapat, ironisnya mahasiswa, pelajar, kaum intelektual dan akademisi yang mengkritik habis-habisan mengenai Negeri ini, mengapa dari dulu hingga sekarang Indonesia merupakan negera yang berkembang?

Tidakkah sadar, bahwa aktivitas membaca dan menulis merupakan modal pertama bagi suatu bangsa untuk memajukan negaranya. Seandainya masyarakat Indonesia paham akan pentingnya membaca dan menulis, tentu Indonesia lebih dulu maju daripada Malaysia, Singapura dan Jepang.  Berdasar pada penelitian UNESCO yang mengatakan bahwa minat membaca orang Indonesia sangat rendah, bisa dijadikan sebagai acuan (referensi) yang melatarbelakangi rendahnya tulis menulis. Karena kunci utama bagi seorang penulis ialah membaca, sehingga sangat relevan maqolah yang mengatakan Al kitabu khairu jalisun wa khairu anisun, Al qiro’ah asasun najah.

Berdasar pada Seminar yang diadakan oleh Prodi PAI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang bertempat di Confension Hall UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dengan narasumber Dr. Suyatno (Dosen UAD Yogyakarta) yang mengangkat tema "Menghadapi Bonus Demografi dengan meningkatkan Budaya Literasi dikalangan Akademisi". Beliau mengatakan bahwa literasi merupakan jantung kehidupan bagi rakyat Indonesia dalam menghadapai tantangan abad 21. Kemajuan dan kemunduran suatu bangsa bergantung pada budaya literasinya, sehingga menurut Penelitian Programme for International Student Assessment (PISA), budaya literasi masyarakat Indonesia (minat baca dan tulis) amat rendah.

Masyarakat Indonesia harus menyadari urgensi baca tulis kemudian melestarikannya sehingga menjadi suatu kebudayaan yang akan turun temurun dari generasi ke generasi, yang dengan itu merupakan salah satu cara diantara cara-cara lain yang harus ditempuh untuk membangun Negeri agar lebih baik lagi.

Terkhusus kepada mahasiswa sebagai kaum intelek sekaligus agent social control, mari tingkatkan diskusi dengan memperbanyak referensi dan menuliskannya sebagai permata abadi yang tak kan lekang oleh waktu.

Menulis untuk Keabadian ! Jika tidak berkarya, lantas apa makna umur kita ini?

Jadilah pelaku sejarah, bukan hanya menjadi pembaca dan penikmat sejarah!


Penulis: Mukarromah
Mahasiswi PAI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website