Headlines News :
Home » , » Kebenaran Pemaafan dan Sebuah Kejahatan

Kebenaran Pemaafan dan Sebuah Kejahatan

Written By Pewarta News on Sabtu, 23 September 2017 | 06.58

PEWARTAnews.com -- Pandangan Penulis, sekarang kita sudah mulai terjebak dengan warna dasar dan warna asli kehidupan dewasa ini. Kita tidak bisa benar-benar telanjang untuk menela’ah sesuatu. Telanjang dalam arti kita harus keluar dari sudut pandang mayoritas manusia ataupun melampaui dari itu. Kemurnian dalam berfikir memang susah untuk kita dapatkan, tetapi setidaknya sesuatu yang kita fikirkan dan katakan dapat bertanggung jawab terhadap sistem nilai dan etika yang sudah ada.

Konflik nilai merupakan akar dari setiap masalah yang nampak dipermukaan, masing-masing mengatasnamakan kebenaran. Setiap kepala membawa satu statement kebenaran dalam pikirannya. Berarti setiap makhluk hidup mempunyai jutaan bahkan miliyaran kebenaran yang siap bertempur atas nama diri atau pun kelompok. Tapi sesekali mungkinkah kita mau mengetuk pintu rumah kebenaran itu. Apakah dia sudah menikah atau belum, sudah punya anak atau belum, apakah kebenaran itu berjenis kelamin laki-laki atau perempuan. Apakah kebenaran itu seorang ulama, negarawan, pendeta, politisi, petani, ibu rumah tangga atau seorang anak kecil. Ataukah kebenaran itu sesuatu yang spektrumnya luas dari itu semua. Dan jangan-jangan ini semua adalah palsu.

Kita tidak terlalu jauh untuk mengupas kebenaran yang tak terbatas (mutlak). Kita hanya mencoba menfokuskan kebenaran yang mungkin hidup dalam setiap jeda interaksi umat manusia. Memang benar, filsafat sudah berupaya memilah dan memilih tentang kebenaran itu sendiri. Tapi semua tetap sampai pada kompleksitas akan makna dan pengertiannya. Berarti kita harus mulai terima sebagai suatu keharusan yang tak bisa ditawar lagi. Kondisi demikian, yang mutlak adalah keragaman dari arti kebenaran itu sendiri, bukan tentang kebenarannya.

Terlepas dari itu, ada peluang bagi kita supaya bisa sampai pada satu kesepakatan dalam realitas sosial. Upaya-upaya memang sering muncul untuk membentur bahkan menghapus kebenaran sebelumnya. Semuanya punya ruang yang bisa ditembus dan menjadikannya cacat untuk menyelesaikan persoalan. Tapi mungkin saja persoalannya bukan pada tahap itu, persoalannya bisa saja terletak pada sistematisasi yang kita lakukan untuk sampai pada kebenaran. Semisal, kita berbicara tentang gajah. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah setiap orang mengetahui tentang gajah, apakah setiap orang memahami tentang gajah, apakah setiap bisa menghayati tentang gajah, apakah setiap orang punya pengetahuan tentang gajah, apakah setiap orang mengetahui gajah dari A sampai Z. Kita tidak hanya berbicara pada kebenaran dan cara untuk sampai pada kebenaran yang relatif, tetapi juga berbicara pada tahap cara (metode = relatif) dan keteraturan (sistematis tahapan yang kita lakukan untuk menganilisis) untuk memahami gajah. Hidup dalam kondisi yang beragam seperti dewasa ini, kita harus serius untuk meletakkan segala sesuatu. Sebab tuntutannya tidak hanya saling berebut kesimpulan yang bersifat universal dan determinan, namun rentetan cara dan keteraturan untuk sampai pada kesimpulan adalah hal yang utama.

Meskipun kebenaran dalam ruang lingkup sosial bersifat relatif, yang paling penting adalah cara dan keteraturan berfikir tentang itu. Penulis tidak menawarkan satu langkah yang baku dalam sengketa ini, tetapi kita harus menyadari ternyata dalam sosial ada banyak wajah dari kebenaran itu yang harus kita pahami.

Pertama, Kebenaran yang membutuhkan keyakinan. Kebenaran ini identik dengan keyakinan akan Tuhan atau kepercayaan-kepercayaan lainnya. Kedua, Kebenaran yang membutuhkan kesepakatan, setiap orang dalam sosial sama-sama menyepakati atas suatu yang mereka analisis tentang kebenaran. Ketiga, Kebenaran yang tidak diketahui, orang tau itu kebenaran tapi bukan berdasarkan penggaliannya sendiri, dia tau sesuatu itu karena mendengarnya dari orang lain, membaca buku, berdiskusi dan dihasilkan dari interaksi. Keempat, Kebenaran yang dihasilkan dari kesadaran penuh akan adanya ketidakmampuan setiap orang untuk menemukan ke-mutlak-an sehingga berdampak pada wajah baru dari kebenaran itu. Pada tahap terakhir ini setiap orang tidak berkonflik pada ruang kebenaran lagi. Namun kita melampaui itu dengan alasan-alasan tertentu.

Menurut Penulis, kebenaran inilah yang tertinggi dalam kehidupan sosial di sebut oleh penulis sebagai kebenaran pema’afan. Setiap orang pada waktu tertentu mungkin sebagai subjek dan pada waktu yang lain mungkin dia sebagai objek. Ataupun seseorang bisa saja pada waktu yang bersamaan sebagai objek dan subjek. Semuanya adalah mungkin. Pada suatu saat seseorang bisa menjadi pelaku, besok atau lusa mungkin dia sebagai korban. Ataupun bisa saja pada saat yang bersamaan dia bisa menjadi pelaku dan korban.

Kembali pada tawaran diatas tadi. Supaya kehidupan ini setidaknya berjalan maju tanpa mundur ataupun ke belakang, kita harus keluar dari lingkaran konflik tersebut dengan sama-sama menyadari sepenuhnya bahwa kita adalah subjek dan juga objek. Kita bisa untuk salah dan bisa juga untuk benar.

Perdebatan kita tidak akan sampai pada pertanggungjawaban atau kesimpulan bila seandainya bendera kita sama-sama berkibar untuk menyatakan perang. Begitu juga dengan kasus-kasus kemanusiaan masa lalu. Pembunuhan massal, pembantaian, pemenjarahan, kudeta, kerusakan dan sebagainya. Setiap orang yang pro dan kontra dengan dibuka kembalinya kasus-kasus tersebut punya alasan pembenarnya masing-masing. Itu sah-sah saja. Bahkan setiap orang tersebut mengantongi data masing-masing. Kesulitan kita bukan pada fakta atau data, tapi kesulitan kita terletak pada adanya keinginan untuk mengakui dan saling memohon ma’af atas segala sesuatu yang sudah terjadi.

Penulis tidak berpihak pada apapun dan siapapun, hanya mengurai sesuatu sebagai anak dari rasa yang sama, alasan sejarah yang satu, jiwa yang utuh, nenek moyang kita yang memulai dan akar spiritual kita yang sama. Terlepas dari itu, hipotesa yang Penulis tawarkan tidak hanya untuk kejahatan atas nama apapun, mungkin juga bisa berguna bagi kehidupan beragama, kehidupan bertetangga, kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Kalau kita temukan alasan untuk berpisah semestinya kita juga punya alasan untuk bersatu.


Penulis: Dedi Purwanto, S.H. (Gagak Hitam)
Eks Ketua Umum Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY) 2014-2017.
Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website