Headlines News :
Home » » Kejanggalan dalam Diri

Kejanggalan dalam Diri

Written By Pewarta News on Minggu, 24 September 2017 | 10.33

Agus Salim.
PEWARTAnews.com – Kajian rutin jum’at malam yang selalu dilaksanakan setiap satu pekan sekali kembali diadakan. Setelah satu pertemuan sebelumnya di tunda dengan beberapa kendala kecil. Kini ruang ilmiah yang dirahmati oleh Tuhan dan diiringi para malaikat yang senantiasa memanjatkan tasbih ilmu kembali dilaksanakan. Bagi saya, kajian ruitn ini (jum’at malam yang bertempat di Gedung PKSI Lama UIN Sunan Kalijaga) selalu menghadirkan spirit keilmuan dan memenuhi hasrat pengetahuan. Minimal secara perlahan memberikan sedikit-demi sedikit ‘cahaya’ untuk pikiran saya yang masih kelam dan mengash nalar saya yang masih tumpul. Walaupun sekedar untuk membaca situasi sosial, ekonomi, maupun politik yang semakin rumit untuk “dibaca”. Mungkin karena semakin banyaknya tabir-tabir tebal dan jubah kepalsuan yang menutupinya dengan aneka warna dan nama-nama. Ada yang atas nama agama, pemberdayaan, kesejahteraan, kepedulian sosial atau apapun warna bingkisannya, yang kina menutupinya dari cahaya kebenaran.

Pertemuan hari ini menghadirkan suatu kajian tentang pemanfaatan modal sosial (social capital) dan kaitannya dengan pengelolalaan dana bergulir syari’ah yang ada di D. I. Yogyakarta. Pematerinya seorang Dosen Muda yang sudah bergelar Magister – Afdawaiza, S.Ag., M.Ag. – sebagaimana yang tertera dalam makalah yang beliau susun. Beliau menghadirkan satu kajian tentang satu lembaga pengelola keuangan – atau sejenisnya, dengan memberikan bantuan berupa pinjaman kepada masyarakat untuk mengembangkan usaha kecil dan menengah. Tentunya dengan berbagai macam persyaratan yang harus disepakati. Sejujurnya, saya bukanlah orang yang banyak bergelut pada wilayah semacam ini – kajian-kajian ekonomi. Namun, hasrat keingintahuan itu pasti akan muncul bila sudah berada pada forum ilmiah itu. Apa yang kemudian saya tulis merupakan refleksi ringan dan dialog saya dengan diri sendiri, yang bertolak dari kajian itu serta realitas sosial yang sedang berkembang. Kajian di fokuskan pada Baitul Mal Wa Tamwil – yang didalamnya terdapat fungsi sosial sekaligus fungsi komersil.

Cukup menarik apa yang dikatakan oleh Pak Afdawiaza dalam makalahnya, bahwa “program ini dipandang cukup berhasil dalam pelaksanaannya terutama dalam hal pengembalian dana yang telah dikucurkan”, yang kemudian diikuti dengan perbandingan-perbandingan dari beberapa program pemerintah yang bertujuan untuk mengatasi kemiskinan, tetapi belum memperlihatkan hasil yang signifikan – sambil menyebutkan beberapa program yang belum berhasil dalam catatan kaki makalahnya. Namun, ada sedikit “kejanggalan” bagi saya – yang sebenarnya harus saya tanyakan – yaitu terkait jumlah atau persentase “keberhasilan” yang beliau makud dari lembaga ini. Setidaknya, sekedar untuk menjawab keberhasilan, berapa dari berapa? Dengan satu contoh sederhana, jika sepuluh orang yang mendapat bantuan usaha, sampai sekarang sudah berapa orang yang bisa dibilang berhasil. Inilah “kejanggalan” pertama yang saya rasakan.

Hal menarik lainnya adalah, ketika dikaitkan dengan – pada wilayah kajian akademis – wacana modal sosial (social capital) yang hidup, tumbuh, dan berkembang dalam keseharian masyarakat – terutama grass root. Beliau mendasarkan argumennya tentang modal sosial kepada argumen Francis Fukuyama, “bahwa modal sosial memiliki kekuatan untuk mempengaruhi prinsip-prinsip yang melandasi kemajuan ekonomi dan kesejahteraan sosial suatu negara”. Bahwa negara-negara yang termasuk pada kategori kepercayaan masyarakat tingkat tinggi (high trust societies) memiliki kecenderungan untuk mencapai keberhasilan ekonomi yang mengagumkan – lanjutnya. Namun, tidak disebutkan negara-negara mana dan masyarakat belahan bumi mana yang telah mencapai tingkat kepercayaan yang di maksud. Apakah jenis masyarakat itu identik dengan masyarakat Indonesia, ataukan ia lebih cenderung dengan masyarakat Barat – Eropa dan Amerika – atau mungkin lebih cenderung dengan masyarakat Arab – Bangsa-Bangsa Arab – dan Afrika? Pada aspek inipun belum ada kejelasannya. 

Beliau membagi modal sosial dalam tiga parameter, yaitu : Kepercayaan (trust), Norma (Norm), dan jaringan-jaringan (networks). Yang pertama – kepercayaan – merupakan tumpuan yang akan melahirkan dua modal setelahnya – Norma dan jaringan-jaringan. Modal sosial hadir dalam interaksi masyarakat yang dilakukan secara terus menerus dengan sikap penuh kepercayaan, kejujuran, dan penuh tanggung jawab – kata John Field. Siapapun akan sepakat dengan ajaran semacam ini. Karena modal sosial yang terawat dengan sebaik-baiknya akan melahirkan kehidupan masyarakat yang harmonis dan mengedepankan jaringan-jaringan (networks) sosial yang berlandaskan pada nilai-nilai norma yang hidup, tumbuh, dan berkembang dalam masyarakat. Walupun sebenarnya, nilai-nilai norma itulah yang menjadi inti daripada modal sosial itu. Tetapi menjadi pertanyaannya adalah, masih adakah modal-modal sosial itu hidup dalam masyarakat? Ditengah arus modernisme yang ‘mengagungkan’ individualisme dengan gaya hidup yang cenderung oportunistik dan hedonistik. Ataukah produk modernisme ini – berupa individualisme yang semakin beranak-pinak ini – justru tidak memiliki kaitan sama sekali dengan keberlangsungan nilai-nilai norma yang menjadi ruh dari modal sosial. Atau mungkin justru mendukung keberhasilan untuk melahirkan “modal sosial baru” yang bersumber dari nilia-nilai norma dan budaya manusia moderen? Belum lagi jika dikaitkan dengan falsafah kehidupan orang Jawa – karena studi kasusnya masyarakat Yogyakarta – yang lebih mengedepankan religiusitas dan hal-hal sakral dari daripada hal-hal profan dan keduniawian. Seperti yang secara langsung beliau – Pak Afdawaiza - sebutkan dalam makalahnya. Yaitu Manunggalin Kawula Gusti, yang merupakan falsafah hidup orang Jawa. Tetapi juga memunculkan pertanyaan, apakah kesatuan manusia dengan Tuhan itu bermakna politis dan melekat pada seorang raja (sultan) sebagai wakil Tuhan di muka Bumi, ataukah dia bermakna sosial-religius yang menjadi pandangan hiudp seluruh masyarakatnya. Apakah kecenderungan hidup orang Jawa yang mengedepankan nilai-nilai religius ada kaitannya dengan spirit untuk mengembangkan kehidupan dan kesejahteraan ekonomi. Begitupun dengan pandangan-pandangan hidup (falsafah hidup) masyarakat dalam Jawa yang lainnya – Hamemayu Hayunung Bawana. Padahal, prinsip dagang – tidak mencampur-adukan urusan dagang dengan urusan kekeluargaan dan persahabatan, mungkin memaknai kekeluargaan dan persahabatan tidak pada tempatnya atau bisa saja itu memang telah mengakar kuat dalam kultur manusianya. 

Menarik apa yang disampaikan oleh Dosen Sepuh dalam pertemuan tersebut, yang berbicara tentang kultur suatu masyarakat dan suatu ajaran tentang filosofi hidup dengan menceritakan beberapa kisah. Lewat kisah-kisah itulah kemudian saya menangkap maksudnya. Bahwa, orang Minang – dengan bahasa saya - lebih tegas kalau berbicara uang (berdagang) namun tidak berarti mereka pelit, karena mereka tidak segan untuk memberikan makan sampai puas kepada keluarga atau sahabatnya. Artinya, saat berdagang tegas, dan tidak bisa dicampuradukkan dengan urusan keluarga dan persahabatan. Lebih menarik lagi, saat sang Dosen mengatakan tentang falsafah hidup orang Cina yang bersumber dari Kong Hu Chu. Lebih kurang beliau mengatakan bahwa “martabat manusia itu luhur jika uangnya banyak”. Tapi, tidak berarti menjadikan uang (harta) sebagai ukuran ketaatan dan kemudian men-Dewa-kannya. Melainkan untuk bisa mengendalikan uang (harta) itu. Mungkin juga tidak sama dengan ajaran Calvinisme – salah satu aliran dalam Protestan – yang mengukur keselamatan hidup dihari esok (akhirat) dengan kemampuan seseorang menumpuk sebanyak-banyaknya harta. Sebagaimana yang menginspirasi Max Weber, sampai melahirkan buku The Protestan Ethic and Spirit of Kapitalism – Etika Protestan dan Spirit Kapitalisme.

Kejanggalan terakhir yang saya raskan terkait dengan keberadaan BMT ini, yang masih berada pada keadaan yang cukup dilematis. Karena, pada satu sisi “mengatasnamakan” syari’ah (hukum Islam) yang sangat melarang perbuatan riba’. Namun pada prakteknya, terjadi sesuatu yang sebaliknya – pemateri mengaskan tentang pentingnya akad yang dipilih, Mudarobah atau Murabahah. Karena, lebih mengedepankan perjanjian atau akad murabahah daripada mudarobah. Yang pertama, lebih dekat pada sistim komersil dan pemerasan (riba) – setidaknya itu yang saya pahami, sedangkan yang kedua lebih dekat pada kesejahteraan dan keadilan sosial. Menurut pandangan Seorang Dosen Sepuh itu, bahwa kelahiran lembaga keuangan semacam ini, berangkat dari ketidaksiapan umat Islam pada wilayah konseptual. Sehingga saat rezim Orde Baru ‘jatuh’. Umat Islam tidak memiliki konsep apa-apa tentang sistem pemberdayaan dan kesejahteraan sosial. Berangkat dari pendapat itu – kemudian saya berasumsi – apakah mungkin sekarang kita (masyarakat Islam) masih belum benar-benar menemukan satu konsep yang betul-betul mengejawantahkan nilai-nilai ajaran Islam (al-Qur’an) itu – bukan sekedar dengan label dan jubah saja – dan masih berada pada lingkaran satu sistem pasar besar dan kuat – kapitalisme – yang sedang dan terus ber-metamorfosa untuk memanfaatkan ‘kecanduan’ manusia moderen – dengan label-label dan jubah-jubah semata tanpa menghiraukan isi – dengan cara mengelabui tren dan cara berpikir dan gaya hidup manusia kekinian yang semakin pilu.

Entahlah, tulisan ini tidak lebih dari sebuah kegelisahan yang berangkat dari kejanggalan-kejanggalan dalam diri saya dan akan terus meresahkan hati, jika tidak saya luapkan dengan cara ‘berdilaog dengan diri sendiri’. Kemudian saya tumpahkan lewat tulisan sederhana ini– lebih tepatnya ocehan¬. Selain itu, ocehan ini terlampau subyektif dan nama-nama serta kutipan-kutipan itu tidak lebih sebagai pijakan saya untuk memancing kerja nalar saya yang lemah, dan juga akumulasi pengetahuan saya yang masih sangat minim. Intinya! Tulisan ini, merupakan ocehan ‘liar’ dari seorang yang masih sangat minim pengetahuan, seorang anak manusia yang hidup di zaman moderen yang masih menyimpan banyak cerita pilu.

Wallahu’alam.


Yogyakarta, Jum’at, 22 September 2017
Penulis: Agus Salim 
Ketua Umum Keluarga Pelajar Mahasiswa (KEPMA) Bima-Yogyakarta
Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website