Headlines News :

    Follow Kami di Twitter

    Cari Berita / Artikel disini

    Arsip Web

    Like Fun Page Kami

    KEPMA Bima-Yogyakarta Gelar Sarasehan Pemuda NTB untuk Peringati Hari Sumpah Pemuda

    Ketua KEPMA Bima-Yogyakarta Agus Salim saat sambutan acara sarasehan pemuda NTB. 
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Keluarga Pelajar Mahasiswa Bima (KEPMA) Bima-Yogyakarta melaksanakan Sarasehan Pemuda NTB dengan tema "Pemuda Membangun NTB: Politik, Ekonomi, dan Media" pada hari Sabtu, Tanggal 28 Oktober 2017 jam 14:00-selesai di Aula Asrama NTB Yogyakarta.

    Kegiatan sarasehan pemuda ini merupakan kegiatan yang sangat luar biasa karena kegiatan ini megajak mahasiswa-mahasiswi agar mejadi salah satu penggerak maju mundurnya NTB, baik itu di bidang politik ekonomi dan media.

    Kegiatan sarasahan pemuda ini menghadirkan para Narasumber yang sangat berkompeten di bidangnya. Diantaranya, materi pertama di sampaikan oleh Munazar, S.Psi., yang merupakan calon megister psikologi di Universitas Ahmad Dahlan (UAD), membawakan materi tentang Pemuda dan Politik.  Munazar mengatakan bahwa politik merupakan proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat, yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya dalam suatu negara. Selain itu, beliau meyinggung tentang daerah-daerah khususnya di NTB dipimpin para orang tua, yang menjadi pertayaan disini dimana kaum muda? Beliau membeberkan, oleh karena hal itu megajak semua kaum muda untuk kembali ke asal dan memajukan NTB, khususnya di bidang Politik.

    Materi kedua, disampaikan oleh Muhammad Fuady, S.Farm.Apt., saudara Fuady merupakan Owner Mbojo Souvenir Indonesia. Beliau membawakan materi tentang Pemuda dan Ekonomi. Perekonomian merupakan salah satu aktivitas manusia yang berhubungan dengan produksi, distribusi, dan konsumsi terhadap barang dan jasa. Dalam momentu Hari Sumpah Pemuda ini, Fuady mengajak semua peserta agar berkecimpung di bidang ekonomi, salahsatunya berkaitan dengan penjualan. Banyak hal yang perlu dikorbankan dan dilakukan kalau kita mau konsisten dalam berkarir di bidang ekonomi, beberapa diantaranya pacaran di tinggalkan (dikurangi), taat ibadah, kurangi bermain, dan hal lain yang tidak mendukung hal yang kita tekuni.

    Selain kedua Pemateri diatas, materi selanjutnya disampaikan oleh M. Jamil, S.H., beliau merupakan Direktur Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (LAKPESDAM) Kota Yogyakarta dan salah satu mahasiswa Magister Kenotariatan Fakultas Hukum UGM, membawakan materi tentang Pemuda dan Media. menurut Jamil, media dapat merubah pola pikir (mind set) dan jadi ruang untuk memperkenalkan budaya lokal setempat, dengan cara mempengaruhi cara berfikir suatu kelompok atau kalangan masyarakat tertentu agar menyukai atau mengikuti suatu hal yang baru atau asing bagi mereka. Pemuda yang cerdas tentu akan memetik informasi dari media tersebut untuk membangun daerah dan bangsanya. Pengaruh dari media dapat berdampak positif maupun negatif dan dapat berwujud dalam suatu proses modernisasi ataupun westernisasi. Pesan Jamil, sebagai pemuda harapan bangsa, kita harus gunakan media dengan sewajarnya, jangan salahguanakan media sebagai wadan untuk menyebarluaskan informasi bohong (hoax).

    Lancarnya prosesi acara tidak terlepas dari kawalan seorang moderator, yakni Marga Harun (Direktur LMPD), sebelum pemateri menyampaikan materi, Marga memaparkan tentang perjuangan pemuda masa lampau karena pada saat kegiatan bertepatan langsung dengan peringatan hari sumpah pemuda.

    Kagiatan berjalan lancar tanpa hambatan, dan interaksi antara pemateri dan peserta punvberlangsung alot sampai akhir dialog. Sebelum penutupan acara ada pembagian kaos hasil kreasi Mbojo Souvenir untuk para penanya,  sesi terakhir tidak lupa juga foto bersama antara pemateri dan peserta. (Jumratun / PEWARTAnews)

    Puncak HSN di DIY, Tumpeng Daun Jati meriahkan Gerebeg Santri

    Suasana saat kirab berlangsung. 
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Rangkaian peringatan hari santri nasional (HSN) 2017 Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Daerah Istimewa Yogyakarta (PWNU DIY)  berlangsung meriah Minggu (29/10) sore tadi.

    Sebagai acara puncak, HSN di DIY diwarnai Kirab Gerebeg Santri. Kirab ini terlaksana di sepanjang Jalan Malioboro dengan titik start dari Gedung DPRD DIY dan finish di Alun-Alun Utara. Peserta kirab terdiri perwakilan pesantren yang ada di DIY.  Total ada 33 kafilah yang ikut dalam kirab Gerebeg Santri tahun ini.

    Beragam hal unik yang ditampilkan peserta sebagai koreografi dan kreatifitas, salahsatu diantaranya tumpengan ukuran jumbo yang dibuat dengan daun jati.

    Banyak elemen yang ikut ramaikan jadi peserta, mayoritasnya dari pondok pesantren serta Lembaga dan Banom NU se-DIY.

    Perwakilan pesantren antara lain Ulul Albab, Nurul Ummah Putri, Nurul Ummahat, Hidayatul Mubtadi-ien, Albaroqah, Al Munnawir dan Ali Maksum, Al Imdad, Nurul Iman, Nurul Haromain, As Salafiyah, Aswaja Nusantara, Sunan Pandanaran, dan Al Mumtaz.

    Selain pesantren, ada juga perwakilan dari elemen organisasi dibawah NU. Seperti Muslimat, GP Ansor, Banser, IPNU, IPPNU, PMII, Pagar Nusa, LP Maarif, LAKPESDAM dan lain-lain. "Jumlah Peserta kirab sekitar 3 ribu orang," ujar Ketua Panitia HSN DIY KH Muhammad Labib.

    Dijelaskan Labib para peserta kirab tidak hanya berjalan menyusuri Jalan Malioboro saja. Setiap kafilah kirab, juga mengusung tema dan dipentaskan sepanjang perjalanan. "Tema yang diusung antara lain keberagaman, kebhinnekaan, tokoh NU dan dunia serta menampilkan kesenian khas pesantren," ungkap Labib. (PEWARTAnews)

    Kirab Gerebeg Santri jadi Puncak Kegiatan HSN di DIY

    Salahsatu rangkaian acara hari santri di DIY. 
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Rangkaian peringatan hari santri nasional (HSN) 2017 Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Daerah Istimewa Yogyakarta akan dilaksanakan pada Minggu (29/10) besok.

    Sebagai acara puncak, akan digelar Kirab Gerebeg Santri. Kirab akan dilaksanakan di sepanjang Jalan Malioboro dengan mengambil start dari Gedung DPRD DIY dan finish di Alun-Alun Utara. Peserta kirab terdiri perwakilan pesantren yang ada di DIY. Antara lain Al Munnawir dan Ali Maksum (Krapyak), Al Imdad, Nurul Iman (Bantul), Nurul Haromain, Pesawat (Kulonprogo), As Salafiyah (Mlangi), Sunan Pandanaran dan Darul Yatama (Sleman), Al Mumtaz (Gunungkidul), Ulul Albab (Kota Yogyakarta), Nurul Ummah Putra/Putri (Kota Yogyakarta), Hidayatul Mubtadi-ien (Kota Yogyakarta), Albarokah (Kota Yogyakarta), dan sebagainya. Selain itu, ada juga perwakilan dari elemen organisasi dibawah NU. Seperti Muslimat, GP Ansor, Banser, IPNU, IPPNU, PMII, Pagar Nusa, LP Maarif, LAKPESDAM dan lain-lain. "Jumlah Peserta kirab sekitar 3 ribu orang," ujar Ketua Panitia HSN DIY KH Muhammad Labib kemarin (26/10/2017).

    Dijelaskan Labib para peserta kirab tidak hanya berjalan menyusuri Jalan Malioboro saja. Setiap kafilah kirab, akan mengusung tema dan dipentaskan sepanjang perjalanan. "Sekadar bocoran saja, tema yang diusung antara lain keberagaman, kebhinnekaan, tokoh NU dan dunia serta menampilkan kesenian khas pesantren," ungkap Labib.

    Labib menjelaskan setelah selesai kirab, para peserta akan berkumpul di Alun-Alun Utara untuk mengikuti sesi pengumuman pemenang. "Kirab akan dinilai dan yang terbaik akan mendapatkan uang pembinaan," serunya sambil menjelaskan ada juga doorprize yang disediakan untuk peserta.

    Koordinator acara Gus Zar'anudin menambahkan selain kirab, puncak HSN DIY juga akan diwarnai dengan pengibaran bendera di Puncak Merapi. Bendera yang dikibarkan yakni Merah Putih, Nahdlatul Ulama dan Ayo Mondok.

    Ada sekitar 30 orang santri pecinta alam yang akan ikut dalam pengibaran bendera ini. "Dijadwalkan pengibaran bendera dilakukan pagi hari pas terbitnya matahari dengan terlebih dulu dilakukan upacara bendera," teranganya.

    Rangkaian acara HSN DIY sebenarnya sudah dimulai sejak awal Oktober lalu. Beberapa kegiatan yang sudah digelar antara lain Sarasehan Pesantren di PP Al Mumtaz dan Al Munnawir serta Turnamen Futsal antar Santri yang digelar di Pyramid Futsal.

    Selain di DIY, peringatan HSN juga digelar oleh pengurus NU di Kabupaten dan Kota. Kegiatan meliputi upacara bendera, kirab, expo santri, lomba melukis untuk siswa PAUD dan TK serta lomba fashion show dan paduan suara untuk ibu-ibu muslimat. (*)

    Pemuda dan Media di Era Milenial (Sebuah Refleksi di Hari Sumpah Pemuda)


    PEWARTAnews.com -- Mengawali tulisan ini, patut kita ucapkan puji syukur atas kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan karunianya, sehingga pada momentum kali ini kita dapat berkumpul dalam satu momentum bersejarah, yakni dalam rangka peringati hari sumpah pemuda. Selain itu, patut juga kita sampaikan salawat serta salam kepada junjungan kita, sang refolusioner sejati, sang putra padang pasir, nabi agung Muhammad SAW., berkah jerih payahnya kemurnian-kemurnian berpikir masih dapat kita rasakan sampai detik ini. Penulis dan juga semua yang hadir pada saat ini juga kita harus ucapkan terimakasih dan syukur atas jerih payah semangat para funding father kita terdahulu, sehingga pada momentum kali ini, pada tiap tahunnya selalu kita rayakan atau peringati Hari Sumpah Pemuda.

    Hari ini, pemuda seantero jagat nusantara termasuk pemuda Nusa Tenggara Barat (NTB) sedang riang gembira dalam suasana peringatan hari sumpah pemuda. Sebagai pemuda NTB, dalam momentum ini kita jadikan sebagai evaluasi diri, sejauh mana pencapaian dan kontribusi pemuda untuk bangsa dan negara ini. Sebagai pemuda NTB, kita harus berkontribusi nyata dalam memberikan sesuatu untuk tanah leluhur kita, sebagai tempat kita lahir dan dibesarkan, tanah sebagai tumpah darah kita. Pemuda NTB merupakan tumpuan masa depan kemajuan NTB kedepan. Keharmonisan dan kejayaan NTB kedepan, salahsatu unsur terpenting adalah termasuk sikap dan semangat kita sebagai pemuda.

    Berkaitan dengan ini, sesuai keinginan kita bersama dalam momentum hari sumpah pemuda, Penulis coba membawakan materi tentang Pemuda dalam kaitannya dengan Media. Oleh karena itu, Penulis menyebutnya dengan tema “Pemuda dan Media di Era Milenial (Sebuah Refleksi di Hari Sumpah Pemuda)”. Pada era milenial dewasa ini, sebagai pemuda harus melek literasi dan media, karena pada era ini banyak cara-cara yang elegan yang mampu mengubah cara pandang seseorang maupun kebijakan yang dikeluarkan pemerintah.

    Point yang mencolok dari lahirnya sumpah pemuda adalah, adanya keinginan para pemuda dari masing-masing etnik bersedia untuk menomorduakan keinginan pribadi untuk menjadikan satu untuk Indonesia. Para funding father masa silam bersumpah untuk mengakui satu tanah tumpah darah, yaitu Indonesia, satu bangsa, yaitu bangsa Indonesia, dan menjunjung tinggi satu bahasa, bahasa Indonesia, mereka bersedia membatasi diri demi persatuan bangsa (Franz Magnis-Suseno, 2008: 5). Kita sebagai pemuda yang hidup di era milenial, banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menjiwai dan melanjutkan apa yang menjadi amanah yang tertuang dalam sumpah pemuda. Kita harus mampu menyampingkan keinginan pribadi kita untuk cita-cita luhur bangsa dan negara ini, agar bangsa kita menjadi bangsa besar dan disegani seantero dunia. Salahsatunya, pemuda harus berani tampil mengekspresikan keinginannya melalui media-media yang ada.

    Pemuda terkadang malu mengirimkan gagasan-gagasan briliarnya ke media massa. Banyak faktor yang melatarbelakangi ketidakberaniannya, beberapa diantaranya merasa malu takut tidak disenangi pembaca, Pemuda harus menyadari perlunya bermitra dan bersahabat dengan media. Media erat kaitannya dengan dunia tulis-menulis (literasi). Oleh karena itu, sebagai pemuda harus melek media dan dunia kepenulisan, karena mengekspresikan diri dalam menulis itu sangat penting untuk menjadi sebuah catatan sejarah bagi penulisnya, lebih-lebih bagi kemajuan peradaban NTB kedepannya.

    Banyak potensi-potensi di NTB yang perlu disuarakan oleh pemuda sebagai para intelektual organik yang masih murni dari campur tangan dan kepentingan sesaat. Seperti potensi wisata alam, wisata budaya, wisata sejarah, serta hasil kreasi-kreasi lokal lainnya.

    Terkait menulis, sebenarnya sudah dicontohkan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Yaasiin ayat 12, yang artinya, “Kamilah yang mencatat (menulis) setiap perbuatan yang telah dilakukan oleh manusia dan pengaruh baik atau buruk dari perbuatan itu sepeninggalannya. Semuanya itu Kami catat dengan teliti pada buku catatan amal yang mudah dibaca oleh pelakunya kelak di akhirat.” Surat Yaasiin ayat 12 diatas jelas menggambarkan bahwa pencipta alam semesta saja menulis, walau apa yang Allah SWT tulis itu dilakukan melalui perantara malaikatnya yakni malaikat Rokib dan Atid. Sebagai manusia, lebih-lebih kaum muda terpelajar mempunyai kewajiban moral yang sangat tinggi untuk mengembangkan serta berkontribusi untuk bangsa dan negara, salahsatu caranya adalah menulis. Konsep dan gagasan yang telah ditulis bisa dijadikan acuan solusi saat ini maupun untuk kemajuan masa akan datang.

    Sangat besar manfaatnya kalau kita menuliskan gagasan-gagasan yang telah tertanam dalam benak kita, jangan biarkan membeku, jangan hanya kita mengungkapkannya dengan lidah kepada orang lain, karena dengan cuman mengungkapkannya itu tidak akan berdampak luas penyebaran gagasan-gagasan tersebut, oleh karena itu, sangat perlu kita menuliskannya sehingga dapat menjangkau lebih luas melampaui apa yang kita bayangkan. Seperti halnya Ibn al-Muqaffa, seorang penulis Arab yang berasal dari Persia pernah mengungkapkan dalam tulisannya, “Ungkapan lidah itu terasa hanya pada sesuatu yang dekat dan hadir, sedangkan ungkapan tulisan itu berguna bagi yang menyaksikan dan yang tidak menyaksikan, bagi orang yang dulu dan yang akan datang. Ia seperti orang yang berdiri sepanjang waktu.”

    Mari kita berpikir sejenak, apa jadinya ayat suci Al-Qur’an kalau semasa nabi dan para rasulnya tidak dituliskan, mungkin saat ini kita tidak akan mengenal Al-Qur’an. “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Begitulah celoteh Pramoedya Ananta Toer melalui salahstu karya fenomenalnya.

    Banyak tokoh-tokoh besar membikin ia dikenang dan di agung-agungkan karena kisahnya dia tulis atau dituliskan. Oleh karenanya, ketika ingin dikenang, salahsatu cara yang ampuh adalah menulislah. Bung Hatta, Pramudya dan para tokoh bangsa lainnya semua dikenang karena mereka menulis. Begitu berharganya sebuah tulisan, sekelas Bung Hatta menjadikan buku sebagai maharnya ketika dia menikah. Hal ini dilakukan bukan karena alasan dia tidak memiliki uang, melainkan karena dia merasa buku adalah harga yang pantas dan tak terhingga bagi seorang pemikir. Buku bagi Bung Hatta adalah harta tertinggi dari setiap manusia. Tak tergantikan dan tak sebanding dengan tumpukan materi apapun. Setidaknya kita bisa buktikan betapa kecintaannya terhadap buku ketika dia meninggal, sekitar 10 ribu buku dia tinggalkan. Buku yang dia kumpulkan selama hidupnya. Dia benar-benar hidup sebagai pemikir dan intelektual sejati. Jumlah buku menjadi simbol kecintaanya pada alam pemikiran. Tulisannya terdokumentasi dengan baik akan menjadi penghubung masa lalu dan masa depan manusia. Itulah keyakinannya. (Iskandar, pusmajambojojogja.or.id)

    Mari membudayakan diri dalam keseharian kita untuk menulis. Terus dan teruslah semangat untuk menulis, karena kita punya keterbatasan untuk menjalankan semua gagasan, konsep yang ada dalam pikiran kita, dan menulis adalah salahsatu cara yang ampuh untuk mewujudkan itu semua. Karena dengan tertuliskannnya ide dan gagasan itu, kita tidak akan berjalan sendiri, bukan tidak mungkin orang yang akan membaca ide dan gagasan itu yang akan menjalankannya. Pencapaiannya akan masif, bahkan mampu melampaui zaman.

    Bersahabat dengan media dalam menumbuhkan jiwa menulis adalah suatu keharusan bagi pemuda sebagai intelektual organik, serta sebagai agen perubahan (agent of change) bahkan sebagai agen pengontrol (agent of control). Banyak media yang bisa dimanfaatkan untuk meneriakkan kebenaran dalam era milenial dewasa ini, seperti yang mudah diakses dan digunakan oleh semua orang yakni media sosial seperti facebook, twitter, instagram, dan media sosial lainnya. Dengan menggunakan media sosial yang ada, kita sebagai pemuda dapat berkreasi membuat meme-meme yang menarik perhatian khalayak ramai dan tentunya hal-hal yang positif bukan semata menyebarkan kebohongan (hoax) yang meresahkan masyarakat. Alternatif lain juga bisa kita manfaatkan bloger-blogger yang tidak berbayar, dan bisa dengan mudah kita manfaatkan untuk menyebarkan firus-firus kebaikan.


    Bahan Bacaan:
    Franz Magnis-Suseno, 2008, Etika Kebangsaan Etika Kemanusiaan: 79 Tahun sesudah Sumpah Pemuda, Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
    Sambutan M. Jamil dalam Tim Penulis PUSMAJA, 2017, Bima Berubah: Jejak-Jejak Gagasan Intelektual Muda, Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta, Yogyakarta.


    Penulis : M. Jamil, S.H.
    Direktur LAKPESDAM NU Kota Yogyakarta / Koordinar Kader Inti Pemuda Anti Narkoba (KIPAN) Kota Yogyakarta / Mahasiswa Magister Kenotariatan FH UGM


    Catatan:
    Tulisan ini disampaikan pada Dialog Pemoeda NTB yang diselenggarakan oleh KEPMA Bima Yogyakarta dalam rangka Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 2017, berlangsung di Asrama Mahasiswa NTB.

    Insiden Bima vs Flores Berakhir Damai

    Suasana saat prosesi perdamaian. 
    Jakarta, PEWARTAnews.com -- Insiden dan gesekan antara masyarakat Bima dan Flores, pada  hari Minggu dan Senin tanggal 8 dan 9 Oktober 2017 di Tanah Merah Koja Jakarta Utara, sudah memiliki titik terang berdamai secara adat.

    Pertemuan yang dilangsungkan di Rumah Makan Sari Indah Blok M yang diwakili oleh kedua belah pihak, yaitu yang mewakili masyarakat Bima H. Ghazali Ama La Nora, perwakilan masyarakat Flores Zakarias Kleden. Peristiwa tersebut disaksikan langsung oleh pemuda dari kedua belah pihak, dari pemuda Bima diwakli Raul Kalila, pemuda Flores diwakili oleh Yosef Mbira, Dewan Pengurus Badan Musyawarah Masyarakat Bima Jabodetabek.

    “Berkat hubungan kekerabatan antara masyarakat Flores dan Bima sebagai satu kesatuan dan sejarah, dan hubungan yang erat kedua suku sejak dari masa silam. Maka sudah dicapai kesepakan damai dan penyelesaian secara adat,” kata ketua umum dalam proses perdamaian, Kol. (Purn). H. Muhidin HT yang diterima rilisnya oleh Pusaran.id, Rabu (18/10).

    Poin-poin kesepakatan yang dikantongi dalam proses perdamaian itu. Pertama, bahwa kedua belah pihak sepakat peristiwa  yang terjadi bukanlah merupakan pertikaian antara suku Bima dan Flores, bukan juga konflik antara Pemeluk agama, akan tetapi murni peristiwa antara orang perorang. Kedua, bahwa kedua belah pihak sepakat peristiwa tersebut diserahkan sepenuhnya kepada aparat penegak hukum, masing-masing pihak akan membantu proses penegakan hukum dalam batas kapasitas masing-masing.

    Ketiga, bahwa ada kemungkinan peristiwa ini diboncengi oleh pihak lain, oleh karena masing-masing pihak akan melakukan investigasi untuk kepentingan kedua belah pihak. Dan keempat, bahwa suku Bima dan suku Flores sesungguhnya memiliki akar hubungan baik yang sudah terjalin sangat lama, bahkan sebagian memiliki hubungan darah, oleh karena itu, konflik sebagai antara suku adalah tidak memiliki akar sejarah.

    Muhidin menuturkan, kedua belah pihak telah merumuskan nota kesepakatan rencana tidak lanjut penyelesaian secara menyeluruh. Pertama, pada hari Selasa tanggal 17 Oktober 2017 menggelar pertemuan kedua untuk membacakan kesepakatan dihadapan media masa dengan menghadirkan tokoh masyarakat dari kedua daerah dengan maksud dan tujuan untuk disebarkan secara luas guna meredam meluasnya gesekan ditingkat bawah masyarakat kedua daerah.

    Kedua, membuat surat bersama yang ditunjukan kepada Kapolda Metro Jaya untuk bertemu dengan tokoh masyarakat kedua daerah yang akan ditanda tangani oleh perwakilan tokoh masyarakat kedua daerah dengan mengusulkan waktu pertemuan dimaksud pada hari kamis tanggal 19 Oktober 2017 dilanjutkan dengan konferensi pers bersama.

    Menanggapi hal tersebut, Rio Ramabaskara, S.H., M.H., C.P.L., sebagai warga Masyarakat NTB yang tinggal di Jakarta, mengapresiasi penuh upaya perdamaian yang dilakukan oleh Perwakilan Tokoh Bima dan Tokoh Flores tersebut, sebagai langkah positif untuk menghindari Konflik yang lebih luas.
    Semoga dengan Pertemuan tersebut semakin mempererat kekompakan dan persaudaraan antar etnis. (PEWARTAnews)

    Keajaiban dan Sains

    PEWARTAnews.com – Mukjizat didefinisikan sebagai fenomena yang bertentangan dengan hukum alam (sesuatu yang menyiratkan tindakan atau intervensi ilahi). Misalnya, jika melepaskan benda di tangan tetapi tidak jatuh kebawah, ia terbang ke udara atau bahkan bergerak ke atas (gerakan ke bawah yang disebut gravitasi) akan dilanggar. Gagasan tentang pelanggaran hukum alam disampaikan oleh David Hume. Hume mendefinisikan mukjizat adalah tidak mungkin. Tentu saja, alasan ini bertolak belakang oleh banyak pemikir di masa yang baru yang pada dasarnya menilainya sebagai pemikiran melingkar. Tapi tidak sesederhana fenomena yang bertentangan dengan alam.

    Bagaimana dengan kejadian, tiba-tiba penyusutan dan hilangnya tumor kanker yang berkembang dengan baik dan kadang-kadang stadium lanjut, apakah itu bertentangan dengan jalannya alam, apakah itu sebuah keajaiban? Mungkin tidak, karena seseorang bisa menjelaskannya seperti proses fisik (alami) yang belum kita pahami. Lalu bagaimana dengan Yesus menyembuhkan seseorang dari kebutaannya dengan hanya menggosok sedikit lumpur di atas matanya dan memintanya untuk mencucinya di sumber air, apakah itu bertentangan dengan hukum alam, dan itu adalah keajaiban?

    Lalu bagaimana suatu acara tentang keajaiban? Ini juga merupakan area abu-abu. Gereja Katolik memiliki berbagai komite, salah satunya untuk menyaring klaim mukjizat, misalnya, mengeluarkan sekitar 7000 pengajuan ke panitia di Lourdes (kota Prancis yang terkenal yang dikunjungi 6 juta pertahun untuk melakukan produksi mukjizat), hanya 67 yang telah dinyatakan sebagai mukjizat dalam 150 tahun terakhir (20 dalam 100 tahun pertama, dan 46 dalam 50 tahun terakhir). Saat ini pertanyaan tentang mukjizat merupakan hal yang paling jelas kontra antara sains dan agama, dan itu masih akan terjadi, sampai ilmuwan telah mengembangkan pemahaman yang lebih baik tentang banyak kejadian semacam itu (terutama di bidang kedokteran) dan para teolog telah mengembangkan bahwa mukjizat adalah masuk akal.

    Pada bulan september 2002 sudut pandang tentang konsep ini termuat pada Zygon (jurnal akademis premier tentang isu-isu agama dan sains yang mencurahkan seluruh masalah pada mukjizat). Pada bulan Desember 2004, sebuah jajak pendapat di antara 1100 dokter di AS menemukan bahwa 74 % orang percaya akan mukjizat. Pada bulan September 2006, Majalah sains populer Perancis Science et Vie (yang terkenal dengan pendekatan rasionalisnya) menerbitkan sebuah edisi khusus yang sepenuhnya ditujukan untuk pertanyaan ini. Science et Vie mengakui adanya banyak kasus yang tidak dapat dijelaskan. Majalah tersebut menyarankan beberapa petunjuk atau jalur penyelidikan untuk penyembuhan ajaib yang sering disaksikan oleh dokter yaitu sebuah kekuasaan dari sistem kekebalan tubuh, induksi kematian (apoptosis) sel tumor, dan peran pikiran.

    Prof. Edouard Zarifian menekankan dan bersikeras bahwa obat selalu mengandalkan hubungan pertama dan terdepan pada pasien dan dokter, penyembuh atau dukun, dan bahwa baru-baru ini dalam masyarakat yang lebih materialistis obat berubah menjadi latihan mekanis. Misalnya, dia menyebutkan bahwa di Prancis 4,8 obat diresepkan pasien, dibandingkan dengan 0,8 di Eropa Utara. Tetapi manifestasi terpenting dari peran pikiran dalam penyembuhan adalah efek plasebo yang terkenal, di mana pasien diberi pil hambar (tidak aktif), namun seseorang mengamati tingkat penyembuhan diri yang mengejutkan sekitar 30 % dari semua patologi tubuh. Fungsi, 20-50 % untuk migrain, sekitar 50 % pada nyeri tulang metastik dan 45-75 % sakit kepala.

    Perrine Vennetier, penulis Science et Vie mengemukakan bahwa mukjizat penyembuhan Yesus dapat dijelaskan oleh efek plasebo ini, terutama karena dalam kasus-kasus itu iman pastilah luar biasa tinggi dan dengan demikian pengaruh pikiran secara proporsional yang kuat. Perrine mengatakan bahwa kita harus memegang pengetahuan dan iman. Seperti dalam penyembuhan ajaib, kepercayaan bahwa pengobatan manusia berperan. Jadi sains tampaknya sama-sama mengakui adanya beberapa segi pikiran nonmekanis terhadap proses penyembuhan dan menyarankan jalur yang memungkinkan untuk memahami dan menjelaskan secara lebih lengkap. Tapi hal ini hampir tidak menguras spektrum mukjizat yang oleh agama tradisional (Kristen, Islam, dan sebagainya) melaporkan dan meminta umat beriman untuk menerimanya.

    Mukjizat ini juga berada dalam kisah Musa yang memisahkan Laut Merah dengan Yesus menyembuhkan penderita kusta dan orang buta, dan menghidupkan kembali kehidupan (kebangkitan) tiga hari setelah disalibkan, Muhammad yang melakukan perjalanan dari Mekah ke Yerusalem, naik dan kembali ke Mekah dalam satu malam. Beberapa mukjizat dapat diartikan sebagai alegoris, setidaknya oleh komentator agama nonliteral, misalnya, makanan yang diperbanyak oleh Yesus, sehingga seluruh orang makan yang banyak dari sekeranjang roti dan ikan (sebuah cerita yang yang sangat mirip dalam Kasus Muhammad) sering ditafsirkan secara alegoris. Begitupun mungkin, perjalanan dan kenaikan malam Muhammad, pendekatan multi-level yang Guessoum ajukan kepada Al-Quran dapat memungkinkan orang untuk mengadopsi pandangan dan pemahaman yang berbeda dari ayat-ayat yang sama.

    Mukjizat lain, memang melanggar hukum alam, seperti Yesus berjalan di atas air, mengubah air menjadi anggur dan kebangkitan-Nya. Teolog Kristen (misalnya Terrence Nichols dan Keith Ward) telah mengajukan gagasan menarik untuk menjawab pertanyaan tentang keajaiban. Pertama, Nichols menegaskan bahwa bukti mukjizat kuno dan modern, patut dihargai dan patut mendapat perhatian, dia memandang mukjizat sebagai peristiwa yang sesuai tetapi melampaui dengan proses yang alami. Teolog ini membagi dua pendekatan untuk menghadapi mukjizat yaitu fenomena ini merupakan kasus proses alami yang ekstrem dan tunggal, mirip dengan lubang hitam (dengan gravitasi) dan superkonduktivitas (dengan listrik). Kedua, ejadian ini hanya bisa dijelaskan oleh campur tangan ilahi dan bahwa dalam beberapa keadaan ekstrem, seperti adanya iman yang besar, hukum alam, sementara tidak berubah dan berperilaku berbeda dari kebiasaan yang ada.

    Keith Ward mengambil posisi yang sama. Dia menyarankan agar hukum alam paling baik dilihat bukan sebagai aturan yang tidak terbatas tetapi juga sebagai realisasi yang bergantung pada konteks dari kekuatan alam. Tetapi dia membuka kemungkinan bahwa mukjizat tidak jatuh ke dalam hukum ilmiah yang dapat diformulasikan, dia menambahkan bahwa ada banyak alasan bagi ateis untuk berpikir bahwa ada prinsip yang lebih tinggi daripada hukum alam.

    Dalam Islam, salah satu posisi yang paling umum menyatakan bahwa hanya Al-Quran dan kejadian dalam kehidupan Muhammad  merupakan mukjizat, yang dijelaskan secara spiritual, alegoris atau bahkan alami (dalam kasus pembelahan bulan). Posisi lain yang sering terjadi adalah keyakinan bahwa hanya nabi, yang diilhami, didukung, dan mungkin diberdayakan oleh Tuhan, bisa menghasilkan keajaiban. Posisi ketiga yang ditemui, terutama di kalangan orang-orang yang sufi, adalah mukjizat yang diperuntukkan bagi para nabi, auliya yang diberi karunia oleh Allah (karamah), karunia ilahi tentang kisah-kisah orang suci dengan peristiwa dan prestasi yang tak terduga yang mengejutkan dan hanya bisa didefinisikan sebagai mukjizat.

    Absar Ahmed, seorang filosuf Pakistan kontemporer, telah meninjau kembali posisi Muslim pada mukjizat dan juga mempresentasikan pandangannya sendiri. Sir Syed Ahmad Khan (pembaru Muslim India abad 19) berpendapat bahwa hukum alam adalah janji praktis Tuhan bahwa sesuatu akan terjadi demikian, dan jika kita mengatakan hal itu dapat terjadi, jika tidak, kita menuduh Tuhan menentang janjinya, dan ini tidak terbayangkan. Khan bersikeras bahwa penolakannya terhadap mukjizat bukan karena hal itu tidak masuk akal, tetapi karena Tuhan (dalam Al Qur'an) mengatakan hal sebaliknya kepada kita. Absar Ahmed menolak posisi ini, karena menurutnya Tuhan tidak boleh dibatasi. Filosof Pakistan kemudian membedakan antara alam semesta, yang digambarkan sebagai tanda atau ayat dalam Al Qur'an, dan mukjizat supernatural yang historis (oleh berbagai nabi), dan wahyu itu sendiri (proses dan kitab), yang disebut ayat bayyinat oleh Al-Quran.

    Sebenarnya, Al-Quran, seperti Alkitab, tidak pernah menggunakan keajaiban, sebaliknya, hal itu menjadi tanda yang menarik perhatian orang-orang. Mukjizat mikro, dapat dianggap sebagai tindakan di dunia, yaitu dalam urusan biasa, dia menjelaskan bahwa hal itu sama dengan tindakan normal, karena Tuhan melalui hubungan pikiran dan tubuh hadir setiap saat. Mukjizat makro, dapat dianggap sebagai tindakan Tuhan dalam firman, yaitu dalam urusan kehidupan sehari-hari. Ahmed menjelaskan bahwa hal itu sama dengan tindakan normal, karena Tuhan melalui hubungan pikiran dan tubuh hadir setiap saat. Namun, mukjizat makro, Ahmed menganggap dirinya benar-benar melampaui interpretasi naturalis yang rasionalitasnya terbatas akal.

    Akhirnya, Mehdi Golshani mengadopsi sudut pandang dari Schii ulama Murtada Mutahhari (1919-1979) dan menganggap pola ilahi natural dari alam tidak berubah. Namun, mukjizat mungkin terjadi dan seharusnya tidak dipandang sebagai pengecualian, melainkan sebagai bagian dari pola yang lebih luas, yang keseluruhannya belum terbongkar. Pertanyaan tentang mukjizat adalah bidang dialog antara sains dan teologi yang jelas. Diharapkan bahwa eksplorasi dan posisi Muslim yang serius dapat dilakukan dan dipresentasikan kepada dunia, bergabung dengan para pemikir Kristen, yang telah lama bergumul dengan topik ini. Golshani menyatakan bahwa mukjizat dan sains sebagai pengetahuan yang luar biasa yang menjaga pikiran manusia yang sempit sebagai sebuah kebenaran yang lebih dahsyat karena adanya pencipta.


    Penulis: Chichi ’Aisyatud Da'watiz Zahroh, S.Pd.I. M.Pd.I.
    Mahasiswi Doktor Kependidikan Islam di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta.

    Dinas Kebudayaan DIY Gelar Kemah Budaya 2017


    Suasana kemah budaya. 
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Akhir-akhir ini ada beragam kegiatan yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, salah satunya "Kegiatan Kemah Budaya".

    Tahun ini Dinas Kebudayaan DIY menggelar kembali "Kemah Budaya" yang berlangsung di desa wisata kaki langit Magunan, Dligon Bantul, DIY pada tanggal 9-13 Oktober 2017 dengan peserta yang dihadirkan kurang lebih 120 orang dari berbagai macam IKPMD se-Nusantara.

    Kemah Budaya kali ini mengangkat tema ”Semangat Bhineka Tungggal Ika Sebagai Modal Pembangunan Nasional" salahsatu tujuan digelarnya kemah budaya ini adalah untuk menanamkan nilai sejarah, kebangsaan dan kebudayaan kepada generasi penerus bangsa, seperti pesan Soekarno "JAS MERAH", jangan pernah melupakan sejarah.

    Ketua Dinas Kebudayaan Bpk. Drs. H. Umar Priyono, M.Pd. membuka acara secara resmi "Kemah Budaya" yang dalam sambutannya, menjelaskan bahwa kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat, meskipun berbeda tapi tetap satu jua (Bhineka Tunggal Ika)," paparnya.

    Dalam Kemah Budaya dilakukan berbagai kegiatan menarik yang sesuai dengan penguatan nilai pembangunan, ekonomi dan penanaman nilai budaya. Kegiatan tersebut antara lain penyampaian materi-materi guna mencairkan otak para peserta, materi tersebut di bawakan oleh orang-orang terbaik lulusan dari dalam dan luar negeri salah satunya KH. Abdul Muhaimin, pengasuh Pondok Pesantren Nurul Ummahat, Kotagede, Yogyakarta. Sang kyai ini membawakan materi yang sangat luar biasa, selain itu juga ada berbagai macam permainan, jelajah wisata budaya, serta malam inagurasi.

    Itulah rangkaian kegiatan yang dilakukan peserta selama berkemah. Selain disuguhi dengan berbagai kegiatan, banyak juga kesan menarik yang melingkup didalamnya, seperti banyak teman, banyak mengenal budaya dan macam-macam pengalaman lainnya.


    Penulis: Jumratun
    Mahasiswa asal Bima, NTB / Mahasiswi STIPRAM Yogyakarta 

    PCNU Kota Yogya gelar Apel Hari Santri Nasional, Kapolresta Hadir jadi Inspektur Upacara

    Kapolresta Yogyakarta memberikan amanat saat apel Hari Santri Nasional yang diselenggarakan PCNU Kota Yogyakarta.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Pengurus Cabanng Nahdlatul Ulama Kota Yogyakarta menggelar Apel Upacara dalam rangka memperingati Hari Satri Nasional yang diselenggarakan pada hari Minggu, 22 Oktober 2017 di halaman Pondok Pesantren Nurul Ummah Putri Kotagede Yogyakarta.

    Hari ini, bertepatan pada Hari Minggu, 22 Oktober 2017, merupakan tahun ketiga Keluarga Besar Nahdlatul Ulama serta seluruh rakyat Indonesia memperingati Hari Santri Nasional. Hadirnya Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2015 tentang Hari Santri tanggal 22 Oktober 2015 yang bertepatan dengan tanggal 9 Muharram 1437 Hijriyah merupakan bukti pengakuan negara atas jasa para ulama dan santri dalam perjuangan merebut, mengawal, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan. Munculnya pengakuan terhadap kiprah ulama dan santri tidak lepas dari Resolusi Jihad yang dikumandangkan Hadlaratus Syeikh KH. Hasyim Asy’ari, Rais Akbar Nahdlatul Ulama, pada 22 Oktober 1945. Masa silam, di hadapan konsul-konsul Nahdlatul Ulama seluruh Jawa-Madura, bertempat di Kantor Hoofdbestuur Nahdlatoel Oelama di Jl. Boeboetan VI/2 Soerabaja, Fatwa Resolusi Jihad NU digaungkan dengan pidato Hadlaratus Syeikh yang menggetarkan seluruh jiwa dan raga yang mendengarnya hingga orang yang membacanya saat ini:

    “..Berperang menolak dan melawan pendjadjah itoe fardloe ‘ain (jang haroes dikerdjakan oleh tiap-tiap orang Islam, laki-laki, perempoean, anak-anak, bersendjata ataoe tidak) bagi jang berada dalam djarak lingkaran 94 km dari tempat masoek dan kedoedoekan moesoeh. Bagi orang-orang jang berada diloear djarak lingkaran tadi, kewadjiban itoe djadi fardloe kifayah (jang tjoekoep kalaoe dikerdjakan sebagian sadja…).” begitu suara lantang Hadlaratus Syeikh KH. Hasyim Asy’ari kala itu.

    Untuk menghidmatkan suasana hari santri tahun ini, Pengurus Cabang NU Kota Yogyakarta menggandeng Kapolresta Yogyakarta Kombes Pol Tommy Wibisono, S.Ik. untuk menjadi Inspektur Upacara Hari Santri Nasional.

    Dalam kesempatan memberikan amanat, Kapolresta Yogyakarta mengharapkan kepada seluruh santri untuk mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya masing-masing dengan cara belajar dan menempuh pendidikan dengan sungguh-sungguh biar semakin leluasa berkontribusi nyata untuk Indonesia.

    “Saya harap para Santri menempuh pendidikan dengan sungguh-sungguh agar negara kita semakin hebat kedepanya,” katanya dengan penuh semangat dan lantang.

    Selain itu, dalam momentum tersebut Kapolresta Yogyakarta juga mengingatkan kepada santri agar menjauhi dan tidak terpengaruh oleh narkoba, karena narkoba hanya merusak masa depan pribadi dan masa depan bangsa ini. Jadi, katanya santri harus mengisi hari-harinya dengan kegiatan-kegiatan positif dan berkontribusi nyata untuk pembangunan bangsa dan negara Indoneisa.

    “Para santri jangan terpengaruh kearah negatif, apalagi memakai narkoba, dan diharap mengisi kegiatan dengan hal positif yang membuat maju Indonesia” pungkasnya.

    Selain menyampaikan amanat atasnama Kapolresta, Tommy Wibisono juga membacakan amanat dari PBNU, dalam amanat PBNU tersebut Tommy mengatakan bahwa negara kita terbingkai dalam Bhineka Tunggal Ika, jangan ada yang saling diskriminasi apalagi berdasarkan SARA. “NKRI adalah negara-bangsa, yang mengakui seluruh warga negara memiliki hak dan kewajiban yang sama, tanpa diskriminasi berdasarkan suku, ras, agama, dan golongan,” jelasnya.

    Direktur Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manisia Nahdlatul Ulama (LAKPESDAM NU) Kota Yogyakarta yang juga sebagai ketua Panitia Pelaksana Hari Santri Nasional PCNU Kota Yogyakarta M. Jamil, S.H., mengucapkan syukur dan bangganya karena acara apel Hari Santri Nasional khidmad diselenggarakan. “Alhamdulillah apel Hari Santri Nasional hari ini tidak mengecewakan, semua berjalan lancar tanpa hambatan, walau persiapannya kami rasa belum maksimal, namun sangan luarbiasa ramai dan khidmah pada saat pelaksanaannya, ini merupakan kuasa dan anugerah Tuhan Yang Maha Esa yang tak terbantahkan,” ucap M. Jamil, S.H., usai apel upacara hari santri digelar.

    Selain itu, lelaki yang juga sebagai mahasiswa Magister Kenotariatan UGM ini juga menyampaikan terimakasih kepada seluruh elemen yang turut andil mensukseskan acara apel hari santri. “Saya sebagai ketua panitia pelaksana, mengucapkan terimakasih banyak pada seluruh jajaran Panitia, pengurus PCNU Kota, Banom (Fatayat, Muslimat, Ansor Banser, IPNU-IPPNU, dan lainnya), Lembaga NU (LAKPESDAM, LP-NU, LP Ma’rif, LAZISNU, dan lainnya), pemerintah (jajaran Polsek Kotagede, Polresta Yogyakarta, Kemenag Kota, Dandim, Pejabat Kecamatan, dan lainnya), seluruh peserta baik dari unsur pesantren maupun unsur sekolah, serta seluruh elemen lainnya yang tidak dapat disebutkan satu-persatu. Tanpa ada kekompakan seluruh elemen yang dimaksud, mustahil acara ini terselenggara dan semeriah ini,” cetusnya.

    Hadir juga dalam acara tersebut, Ketua Tanfidziah PCNU Kota Yogyakarta, H. Ahmad Yubaidi, S.H., M.H., Rois Suriyah PCNU Kota Yogyakarta KH. Munir Syafa’at, beserta seluruh jajaran pengurus PCNU Kota Yogyakarta. Seluruh jajaran pengurus Lembaga dan Banom NU se-kota Yogyakarta, Jajaran Pengurus PWNU DIY, Jajaran Polsek Umbulharjo, Jajaran Polresta Yogyakarta, Jajaran Dandim Kota Yogyakarta, Jajaran Kemenag Kota Yogyakarta, PP Nurul Ummah Putri, PP Nurul Ummah Putra, PP Kotagede Hidayatul Mubtadi-ien, PP Ulul Albab Balirejo, PP Minhajul Tamyiz, PP serta SMP-SMA Ali Maksum Krapyak, PP Lukmaniyah, PP Al-Islam, PP Al-Barokah, PP M. Muslimin, PP Nurul Ummahat, MA Nurul Ummah, SMK Ma’arif Yogyakarta, SMP Ma’arif Yogyakarta, SMA Ma’arif Yogyakarta, dan seluruh elemen lainnya.

    Lebih dari seribu peserta memadati halaman PP Nurul Ummah Putri, dengan berseragam peci hitam, baju putih, sarungan bagi yang putra. Jilbab hitam, baju putih dan bawahan hitam bagi yang perempuan, serta khidmad melaksanakan seluruh rangkaian acara apel Hari Santri Nasional. (PEWARTAnews)
    Suasana Saat Apel Hari Santri PCNU Kota Yogyakarta.

    Rektor Se-DIY sepakat akan Deklarasikan Lawan Radikalisme, dan Dikawal Tim Advokat

    Tim Panitia saat berkoordinasi dengan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Rektor perguruan tinggi se-Daerah Istimewa Yogyakarta akan gelar aksi kebangsaan dan deklarasi melawan radikalisme di Stadion Mandala Krida Yogyakarta pada 28 Oktober 2017.

    "Seluruh rektor di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyatakan akan mengikuti," kata salahsatu Steering Committee (SC) Aksi Kebangsaan Perguruan Tinggi Melawan Radikalisme, Pardiman seusai bertemu dengan Sultan di Kompleks Kepatihan, Yogyakarta, Rabu (18/10/2017).

    Pardiman mengatakan deklarasi itu berlangsung serentak di seluruh provinsi. Agenda itu merupakan kelanjutan dari Pertemuan Pimpinan Perguruan Tinggi se-Indonesia dengan tema "Aksi Kabangsaan Melawan Radikalisme" yang telah berlangsung di Nusa Dua Bali pada 25-26 September 2017.

    Selain diikuti seluruh rektor perguruan tinggi se-DIY. Acara yang digelar serentak di seluruh Indonesia itu diperkirakan juga akan dihadiri 25.000 perwakilan mahasiswa di Yogyakarta.

    Ia mengatakan selain pembacaan deklarasi, dalam acara Aksi Kebangsaan tersebut juga akan berlangsung orasi ilmiah yang akan disampikan oleh Gubernur DIY Sultan HB X, perwakilan rektor di DIY, serta menteri.

    "Setiap provinsi akan dihadiri satu menteri. Kami belum tahu pasti siapa menteri yang akan hadir di Yogyakarta," ucap Pardiman yang merupakan Rektor Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta itu.

    Menurut Pardiman, deradikalisasi penting untuk terus digaungkan di Indonesia. Terkait hal itu, rektor serta masyarakat kampus lainnya, kata dia, memiliki peran efektif untuk mendorong gerakan di tingkat masyarakat. "Tindak lanjutnya antara lain kampus akan mendirikan berbagai pusat studi yang memiliki peran strategis menangkal paham-paham radikal di Indonesia," katanya.

    Selain itu,  Sugiarto, S.H., M.H. selaku Koordinator Advokasi Acara mengatakan juga sudah melakukan kordinasi dengan beberapa elemen penting yang ada di Yogyakarta. "Saat ini kami sudah berkoordinasi dengan semua pihak, baik Gubernur, DPRD, Kapolda, Korem dan akan memaksimalkan kerja advokasinya dari pra, hari H, hingga Pasca dalam menyukseskan Deklarasi Kebangsaan Perguruan Tinggi Se-DIY pada tanggal 28 Oktober 2017 di Stadion Mandala Krida, yang akan dihadiri sekitar 25 ribu mahasiswa dari perguruan tinggi Se-DIY. Kami juga sudah menyiapkan team Advokasi yang terdiri dari para advokat-advokat," beber Sugiarto. (PEWARTAnews)
    Panitia didampingi Tim Advokasi saat berkoordinasi dengan Wakil Gubernur DIY.

    Musik Orgen dan Sebuah Patologi Sosial

    Dedi Purwanto, S.H.
    PEWARTAnews.com – Sebenarnya Penulis tidak berkompeten untuk mengurai seni secara normatif atau praxis. Sebab, tanggungjawab akademiknya tidak mendukung terkait masalah tersebut. Namun terlepas dari itu, kalau kita melakukan observasi sederhana dalam interaksi sosial, pasti kita akan menemukan bahwa setiap orang dalam suatu peritiwa tertentu bisa menjadi pelaku dan pengamat atau menjadi pelaku sekaligus pengamat. Kebetulan dalam kasus ini Penulis menyandang predikat sebagai pelaku dan pernah merasa menjadi seorang pengamat.

    Mengenai orgen, sampai sekarang Penulis belum menemukan satu rumusan logis, etik dan estetik dari sebuah musik yang di lestarikan oleh orang Bima saat ini. Penulis bingung, kok bisa hanya bermodal satu alat musik yang dinamakan orgen tunggal bisa begitu eksis di Bima.  Jenis musik ini abal-abalan benar. Kenapa? Karena musik ini tidak punya level dalam seni. Kenapa tidak punya level. Sebab, alat musiknya cuman satu yaitu orgen. Mari berfikir sejenak. Sedangkan menurut Penulis, semua jendre musik yang lahir dari rahim modernitas  merupakan nada yang terbentuk dari beberapa alat musik. Dengan kata lain, musik yang punya level itu setidaknya terdiri dari  beberapa alat musik yang berkolaborasi sehingga melahirkan nada.

    Selain itu, musik orgen ini masuk kategori musik yang bagaimana? Musik dangdut atau musik pop. Semi dangdut atau bagaimana. Dangdut klasik atau apa. Musik dangdut alternatif? Kita sulit merumuskan hal tersebut dikarenakan gendre musik dari orgen tunggal ini kurang jelas. Karena, musik dangdut klasik, kontemporer ataupun alternatif, semuanya dihasilkan dari beberapa alat musik bukan satu alat musik. Ini juga yang menjadi alasan kenapa orgen tunggal tidak mempunyai level dalam berseni (sambil tersenyum manja ya).

    Kita bilang orgen tunggal di Bima itu sebagai aktualisasi dari seni? Tunggu dulu brow!

    Orgen tunggal adalah seni. Semua tidak bisa didefinisikan sebagai seni. Kenapa? Sebab seni merupakan suatu sistem. Lalu sistem yang dimaksud itu bagaimana. Begini, seni mempunyai aturan main supaya sesuatu itu dikatakan seni. Aturan main itu adalah syarat yang harus dipenuhi supaya sesuatu bisa dikatakan sesuatu itu. Setidaknya ada beberapa syarat supaya segala sesuatu dikatakan sebagai seni.

    Pertama, Logis, seni harus memuat unsur rasionalitas. Kontektualitasnya begini, orgen merupakan alat musik modern. Kondisi dalam perkembangan musik modern, tidak di temukan lagi satu alat musik yang dimainkan. Musik yang dihasilkan merupakan pepaduan antara beberapa alat musik, berbeda dengan alat musik klasik awal.

    Kedua, Etika, dalam berseni etika merupakan unsur yang harus terpenuhi sebab seni adalah pekerjaan yang praxisnya pada ketenangan dan keindahan. Berarti syarat supaya tenang dan indah semuanya harus beretika. Mari kita lihat orgen, hanya satu alat musik, piduannya dengan pakaian super ketat, minuman, mabuk, ujung-ujungnya tawuran dan berantam. Ini yang kita katakan seni dan etika? Ayolah bung jangan lelucon terus ya.

    Ketiga, estetika. Keindahan dari sebuah seni merupakan hal penting. Keindahan ini tidak hanya menyangkut diri sendiri, tetapi juga orang lain, alam dan menurut Tuhan. Kalau dari orgen tunggal itu sering terjadi caci maki, saling bunuh, saling melukai, saling membenci dan sebagainya lalu indahnya orgen itu dimana?

    Kalau beberapa unsur diatas atau salah satu unsur diatas tidak dipenuhi. Tolong jangan dikatakan orgen sebagai seni. Cari saja kosa kata yang lain yang bisa mewakili itu.

    Kita tidak bisa memang mengkritik hanya karena musik itu terdiri dari satu alat musik lalu dikatakan abal-abal musiknya. Toh, musik gambus dan biola juga hanya satu alat musik bukan dua atau tiga alat musik yang bermain. Nah kalau seperti itu penilaiannya agak keliru. Sebab, kita akan memetakkan dua alat musik tersebut berdasarkan periodesasi sejarah perkembangannya. Sederhananya begini, orgen itu adalah salah satu alat musik modern sedangkan gambus atau biola merupakan alat musik tradisional. Biasanya musik-musik modern seperti dangdur, pop dan lainnya merupakan musik yang dihasilkan dari beberapa alat musik yang dimainkan. Sedangkan musik tradisional dalam perkembangan awalnya memang dimainkan satu alat musik saja bukan beberapa alat musik. Kenapa demikian, karena musik tradisional lebih di tekankan untuk komsumsi pribadi. Semisalnya gambus, pada awal sejarah terbentuknya hanya dibuat untuk dimainkan sendirian dan tidak digabungkan dengan alat musik yang lain sebab gambus hanya untuk kebutuhan diri sendiri bukan untuk komsumsi publik. Gambus adalah media ketenangan bagi seseorang untuk melupakan dunia yang begitu hingar-bingar ini.

    Orgen, hanya karena modal musik yang disco serta dibarengi dengan model goyangan para biduan yang erotis-sexy. Barang ini bisa menggantikan posisi tawar musik gambus, biola, rebana, kasidah yang eksis beberapa abad yang lalu. Ini aneh sekaligus membingungkan bagi Penulis.

    Musik orgen selalu dibutuhkan pada momen sunatan, bahkan untuk memeriahkan acara ketika seseorang ingin naik haji (bisa dibilang sebagai bentuk sukuran). Selain itu, jangan ditanya lagi kalau untuk pernikahan, sudah jelas akan di pesan supaya memeriahkan sekaligus memecahkan gendang teliga para tetuah dan sesepuh-sesepuh di desa tersebut. Mengganggu tidur nyenyak seorang bayi, membuat lalu-lintas tidak stabil, terkadang darah mengalir dan permusuhan yang berkepanjangan. Itulah hasil dari orgen tunggal. Saya bukan tidak menyukai orgen tunggal. Tapi kalau lebih banyak bencananya daripada manfaat positifnya buat apa di pertahankan dan dilestarikan. Toh itu bukan musik asli dari negeri Bima kok. Lalu bagaimana sebaiknya. Kita daur ulang bialo dan gambus supaya menjadi musik yang fress. Kita kolaborasikan alat musik tersebut dengan alat musik yang lain. Kalau pemerintah tidak memulai maka komuitas-komunitas yang harus memulai. Masalah suka atau tidak suka adalah persoalan waktu saja. Selain suka dan tidak sukanya seseorang tergantung dari apa yang di sugukan oleh lingkungan. Semisalnya, kita biasa untuk makan nasi, ketika kita disuruh makan gandum pasti kita mengatakan tidak suka. Namun apabila gandum itu di suplai terus menerus dan dibarengin dengan perlahan meniadakan nasi maka lama-kelamakan orang akan suka dengan gamdum.

    Berhadapan dengan kondisi tersebut, lalu apakah gambus dan biola bisa menjamin tidak adanya patologi sosial?

    Penyanyi dan pemain musik gambus dan biola itu adalah orang yang berkarakter. Berkarakar maksudnya, kalau penyanyinya tidak benar-benar tau tentang pantun Bima dan kalau pemain musiknya tidak benar-benar mengusai secara metafisik alat musik tersebut maka estetik dari musik tersebut tidak ada. Sederhananya begini, musik tradisional itu masih mempunyai sisi humanis-metafisik daripada musik orgen. Apalagi orgen tunggal. Bicara mengenai menjamin, semuanya harus di uji materil. Kalau kita melirik sejarah pada waktu maraknya musik gambus dan biola dulu, maka kita akan temukan betapa sedikitnya patologi sosial yang dihasilkan dari adanya pentas musik tersebut. Kalau tidak percaya tanya pada orang tua kita masing-masing yang merasakan atau melihat langsung musik-musik tersebut saat itu. silahkan coba untuk bertanya!

    Akhirnya, tidak semua bisa kita definisikan sebagai seni. Seni mempunyai aturan main. Setidaknya dia harus memenuhi salah satu atau semua dari unsur logis, etik dan estetik. Karena itu merupakan pertimbangan timbal balik, bukan pertimbangan searah. Maksundya, seni tidak hanya menyoal diri sendiri dan kelompok tapi juga menyangkut masyarakat luas dan keterkaitan dengan alam dan Tuhan.

    Ka iyo aina ka Au, ka Ncara ma Ncara, ka Ncihi ma Ncihi.


    Penulis: Dedi Purwanto, S.H.
    Pengamat Hukum, Sosial dan Budaya / Pemuda asal Bima NTB / Wakil Direktur LPBH-NU Kota Yogyakarta

    Bahagia itu Sederhana

    Senyuman tulus yang tersimpan dari bibir
    Memaknai sesuatu hal yang berbeda
    Mengukir hasrat jiwa yang tersirat manja
    Lukisan sanubari menyeruak keluar melalui merah keping-pingannya
    Sesederhana itu kah senyuman itu
    Yang selalu teringat dalam ingatan hari ini
    Andai ku bisa ada dalam hatimu apa gerangan

    Senyum, senyum, senyum
    Sukar dimaknai tapi penuh makna
    Sukar dicerna tapi memberi arti
    Tersirat lembut dalam jiwa dan raga
    Bahagia selalu datang saat mengingat
    senyum, senyum manja
    Senyummu senyumku semua sesederhana itu

    Bahagia memang sederhana
    Tapi, sederhana belum tentu bahagia

    Maka lakukanlah dengan ikhlas dan ceria
    Senyum, senyum, senyum

    Maka kamu akan tau
    Senyum bahagia dalam kesederhanaan membuat semuanya menjadi mungkin


    Depok, 19 Oktober 2017
    Karya: R L Uray
    Perempuan Blasteran Sunda dan Bima NTB

    Santri, Pahlawan Bersarung

    PEWARTAnews.com -- Sebagai insan yang disebut sebagai kaum tradisonal, santri dibeberapa kalangan masyarakat masih dianggap sebagai kaum yang kolot dan berpikiran tidak maju. Hal ini mungkin disebabkan kondisi masa lalu yang menyertai perjalanan santri. Padahal santri dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia telah membuktikan dirinya mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Bulan Oktober ini adalah perayaan hari santri, memperingati hari santri yang ikut serta mempertahankan negara dari serangan para penjajah.

    Sebut saja KH. Hasyim Asy’arie, dengan fatwa resolusi jihadnya pada tanggal 22 Oktober menggemparkan masyarakat untuk ikut serta berperang melawan penjajah, sebab melawan penjajah bagian dari jihad kebangsaan. Bagaimana bisa, seorang yang bersarung dan dari desa muncul sebagai salah satu tokoh yang dapat menggemparkan penjajah. Identitas mbah Hasyim sebagai salah satu santri, bersarung dan mungkin dianggap kolot itu, hadir dengan pikiran yang maju yang melampaui zamannya.

    Kita tahu, salah satu Presiden Indonesia datang dari kalangan santri yaitu KH. Abdurrahman Wahid yang dikenal sebagau guru bangsa itu. Mengajarkan bangsa Indonesia untuk bersikap toleran pada kaum minoritas, agar kita terima bersama sebagai sebuah rahmat.

    Tokoh-tokoh besar di Indonesia sejak zaman presiden pertama Republik Indonesia pun dikenal dekat dengan kalangan kaum sarungan tersebut. Terbukti saat Indonesia dibangun, mengalami perdebatan soal Pancasila, maka melalui ijtihad mbah Hasyim yang dimintai pendapat oleh bung Karno tentang Pancasila, dengan tegas beliau menjawab bahwa Pancasila tidak bertentangan dengan syariat Islam dan syah menjadi dasar negara. Pendapat mbah Hasyim pun diikuti sehingga menyudahi perdebatan saat membahas dasar negara.

    Maka santri hari ini sesuai dengan perjuangan santri masa lalu tetap setia pada pancasila sebagai dasar negara. Selain itu pula, sebagai santri saat ini perlu menjadi contoh bagi masyarakat untuk lebih bersikap toleran pada siapapun, mengingat banyaknya persoalan bangsa yang menyinggung soal agama masih sangat sensitif dibangsa ini, maka dari itu santri perlu kembali dibarisan depan dalam mencerminkan sikap yang menunjukkan toleransi, solidaritas atas nama kemanusiaan dan jihad kebangsaan dengan ikut serta membangun sekaligus menjaga bangsa Indonesia.

    Hari ini, Indonesia membutuhkan orang-orang yang dapat membuktikan kecintaannya dengan bangsa melalui ikut serta membangun kemajuan bangsa, sumbangsih pemikiran yang kreatif dan inovatif sangat diperlukan, ini semua adalah jihad kebangsaan dan santri perlu mengambil peran sebagaimana yang telah dicontohkan oleh santri terdahulu.

    Beberapa bulan terakhir bangsa kita mulai diserang oleh sekelompok orang yang menginginkan negara Islam berdiri di Indonesia, bahkan Pancasila dianggap tidak memenuhi syariat Islam. Gejolak ini jelas membutuhkan santri yang dapat menjaga Pancasila sebagai dasar negara, sebab santri kharismatik seperti mbah Hasyim menyatakan dengan jelas bahwa pancasila tidak bertentangan dengan syariat Islam dan syah. Artinya Pancasila walaupun tidak berbahasa arab, akan tetapi memuat spirit dalam Islam.

    Bangsa Indonesia membutuhkan banyak santri seperti mbah Hasyim yang tak diragukan lagi ilmu agama serta nasionalismenya. Santri perlu kembali berjihad dalam membangun bangsa diberbagai lini kehidupan, jihad dibidang ekonomi, jihad dibidang politik, jihad dibidang kesehatan dan memberikan kontribusi nyata bagi Indonesia.


    Penulis: Hilful Fudhul
    Pengurus LAKPESDAM NU Kota Yogyakarta 

    Keluhku pada Malam

    Kisah perempuan yang Bimbang

    Wahai malam
    Bila dia terjaga
    Temani dan ceritakan hari-hari ku padanya
    Kisah diriku bersama senja yang damai
    Kisah ku di penghujung malam yang sunyi

    Wahai malam
    Bila ia bermimpi
    Sampaikan padanya suatu kisah
    Cerita penjaga hati ku dan hatinya
    Lewat bait-bait do'a dan rayuan manja
    Tlah ku sampaikan salamnya
    Pada malaikat penjaga hati

    Wahai malam
    Aku tak percaya pada diriku sendiri
    Ingin rasanya aku menjelma menjadi angin
    Membelai lembut tubuhnya
    Menghampiri hatinya tulus
    Bila garis hidup menuntunku
    Aku ingin menjadi mutiara di hatinya
    Mutiara yang tersimpan dalam samudra hidupnya.


    Yogyakarta, 18 Oktober 2017
    Karya : A S Matupha
    Ketua Umum KEPMA Bima-Yogyakarta

    Forsil Pasca NU UGM: Pentingnya Pangan Fungsional dalam Menunjang Kesehatan Masyarakat

    Suasana saat Forsil Pasca NU UGM selenggarakan Diskusi Rutin Bulanan.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Dalam rangka memperingati hari pangan dunia yang bertepatan pada tanggal 16 Oktober, Forum Silaturrahmi Mahasiswa Pascasarjana Nahdlatul Ulama Universitas Gadjah Mada (Forsil Pasca NU UGM) bekerjasama dengan Pusat Studi Energi UGM menyelenggarakan diskusi bulanan ke-3 pada hari Rabu, 18 Oktober 2017. Diskusi ini mengusung tema “Peran Pangan Fungsional untuk Kesejahteraan Masyarakat.” Hadir sebagai pembicara Satyaguna Rakhmatullah, S.Pt., M.Sc., alumni S2 Fakultas Peternakan UGM yang sekarang menjadi  peneliti di Pusat Studi Pangan dan Gizi UGM. Selain itu ia juga aktif sebagai pengurus Lembaga Pengembangan Pertanian PWNU DIY.

    Sebuah pepatah mengatakan “siapa dirimu adalah apa yang kamu makan.” Satyaguna menyampaikan bahwa pangan fungsional itu erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Pangan fungsional ini adalah pangan yang tidak hanya memberikan nutrient atau nilai gizi, tetapi juga memberikan value atau nilai kesehatan lebih bagi tubuh kita. Lebih lanjut, Satyaguna mengatakan bahwa pangan fungsional yang jumlahnya sangat banyak itu dapat kita temukan di lingkungan sekitar kita baik dalam bentuk umbi, sayur, maupun buah-buahan lokal. Pemerintah diharapkan dapat mendorong kampanye pangan fungsional ini dalam rangka untuk meningkatkan taraf hidup masyarkat baik dalam sisi kesehatan maupun dalam konteks ekonomi. Setiap desa diharapkan dapat mengembangkan pangan fungsional yang berasal dari hasil alam yang organik sebagi ciri khas daerah tersebut dan sekaligus untuk menguatkan ketahanan pangan masyarakat.

    Sementara Ahmad Rahma Wardhana, ST selaku perwakilan Pusat Studi Energi menyampaikan bahwa yang terpenting dalam menyelenggarakan diskusi seperti ini adalah keistiqomahan. Selain itu ia juga menyampaikan, sebagai forum yang berisi mahasiswa dari litas disiplin, forum ini memungkinkan kita untuk mengembangkan sudut pandang multi perspektif, untuk keluasan dan kedewasaan dalam mengambil keputusan.

    Diskusi ini diikuti oleh sekitar 30 mahasiswa S2 dan S3 yang berasal dari bebagai jurusan di kampus UGM, UIN Sunan Kalijaga dan UNY.  Forum ini merupakan wadah diskusi untuk mengembangkan intelektualitas mahasiswa Pascasarjana dari berbagai disiplin ilmu yang terikat oleh satu rasa emosi yang sama, yakni sebagai keluarga besar Nahdhlatul Ulama.

    Penulis: Irsyadul Ibad

    Dalam Diam

    Kata-kata tak bisa menggambarkan
    Suara hati yang terus bergumam
    Nyanyian-nyanyian rindu pada mu
    Cerita senja yang menghiburku

    Aku pasrah dalam diam
    Ku keluhkan semuanya
    Bersama kata-kata rayuan
    Pada setiap sujud dan do'a ku
    Tentang sosok mu yang terus terbayang

    Senja menawarkan kesempatan
    Waktu fajar memberi ketenangan
    Pada diri ku yang tak kuasa berucap pada mu

    Jiwa ku melayang tanpa arah
    Mencari sandaran
    Berharap datangnya keberanian dalam diri
    Untuk bersuan dan bercerita
    Menumpahkan segala kerinduan yang terpendam

    Dalam kebisuan lisan
    Hati ku terus bergumam
    Mengeluhkan segala apa pada-Nya
    Aku berucap lirih
    "Biarlah aku mencintai mu dalam diam"

    *Kisah perempuan yang Bimbang*


    Yogyakarta, 17 Oktober 2017
    Karya : A S Matupha
    Ketua Umum KEPMA Bima-Yogyakarta

    Cahaya Mimpi dalam Kehidupan Nyata

    Tatapan mimpi bagai air mengalir
    Melukis warna dalam kanvas hitam
    Putih pudar tinta hitam
    Senandung mimpi dalam buai malam
    Ternyata hanya persinggahan terang
    Merangkai asa penuh kepedihan
    Terhanyut dalam cahaya mimpi

    Tak kala dalam pagi kecerahan
    Melewati celah-celah kecil menuju kehangatan
    Surya gemilang penuh mimpi dan harapan
    Takdir hidup terus tertantang
    Saat harapan masih tersimpan dan terdiam

    Berjuang bercerita dalam tatapan
    Melangkah pasti tanpa ada keraguan
    Guratan asli hasil tinta hitam
    Sekarang hidup dalam mimpi bukan lagi angan-angan
    Tapi menjadikan mimpi jadi nyata adalah tujuan
    Antara kehidupan dan impian
    Menjadikan usaha tidak akan pernah padam
    Meski tidak ada lagi kehidupan panjang
    Cahaya mimpi dalam kehidupan mencapai puncak kenyataan


    Depok, 16 Oktober 2017
    Karya: L R Uray
    Perempuan Blasteran Sunda dan Bima NTB

    Keindahan Laut Terbelah Dua di Pantai Lariti

    Keindahan alam Pantai Lariti. 
    PEWARTAnews.com -- Pantai Lariti terletak di Desa Soro, Kecamatan Lambu, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Lokasi pantai ini tidak terlalu jauh dari pemukiman warga setempat. Lokasinya dekat dengan pelabuhan Sape. Gerbang laut penghubung pulau Sumbawa dan pulau Flores, Nusa Tenggara Barat. Pantai ini sudah mulai dikenal oleh masyarakat sekitar bahkan luar daerah, jadi tidak heran jika pantai lariti tak pernah sepi pengunjung. Apalagi jika hari libur, sudah dipastikan anda bakal melihat disepanjang pantai dipenuhi oleh banyaknya pengunjung.

    Tidak hanya keindahan akan pasirnya yang berwarna putih dan warna airnya yang biru jernih, pantai Lariti juga menyimpan berbagai pesona lain. Salah satunya adalah laut yang terbelah dua, mirip dengan kisah Nabi Musa AS yang ketika dikejar oleh bala tentara Raja Firaun. Ketika berada di pantai Lariti, anda akan merasakan sensasi seperti berjalan diatas lautan. Jalanan itu menuju ke suatu pulau kecil yang tak berpenghuni. Bila berkeinginan untuk mengunjungi pantai ini kita hanya melewati jalur darat saja. Satu jam perjalanan pun sudah sampai dengan mengendarai mobil maupun sepeda motor dari pusat kota. Memasuki wilayah timur kabupaten seluas 4.374,65 kilometer persegi ini, akan terlihat hamparan pegunungan yang dipenuhi pepohonan hijau  dan  terlihat  pula gunung-gunung yang gersang yang  bertujuan untuk membangun wilayah baru untuk pemukiman warga, disana juga kelihatan gersang karena musim hujan hanya terjadi pada awal dan akhir tahun saja (daerah tropis).

    Kegersangan berlanjut di Desa Soro sampai jalan dimana Pantai Lariti tersebut berada. Disepanjang perjalanan anda akan melihat hamparan pegunungan gersang yang tak banyak ditumbuhi oleh pepohonan. Jalanan pun naik turun dengan berbatu dan berdebu yang masih dalam tahap perbaikan, dan terdapat petak-petak kolam usaha tambak ikan para warga setempat. Dari atas bukit akan terlihat beberapa pulau kecil disekitaran pantai yang menambah indahnya pesona  pantai Lariti tersebut. Sensasi yang didapat tidak hanya itu, disana juga disediakan ayunan ditengah laut yang menambah indahnya pesona pantai Lariti.

    Sebagai penunjang pantai Lariti, di daerah dekat pantai juga terdapat villa untuk disewa sebagai tempat menginap dan beristirahat bagi pengunjung luar daerah yang datang dari jauh. Terlihatnya laut terbelah di Pantai Lariti ini tidak sembarangan muncul. Biasanya peristiwa ini terjadi di jam tertentu saja, yaitu pada pukul 16:00 Wita. Sore sekitaran matahari beranjak turun dan terbenam. Di waktu tersebut anda akan melihat indahnya hamparan laut yang berpasir putih dengan air biru jernih yang terbelah dua.


    Penulis: Hariyanti
    Mahasiswi Ilmu Perpustakaan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta / Pemudi asal Bima, NTB.


    Pasar Menjelang Pilkada

    PEWARTAnews.com -- Indonesia adalah salahsatu negara yang menganut demokrasi, dimana kekuasaan ada di tangan rakyat sebagai penentu melalui pemilihan umum (Pemilu). Setiap lima tahun sekali masyarakat akan melakukan pesta demokrasi untuk memilih pemimpin baru. Baik itu Pemilihan Presiden Wakil Presiden, dan juga Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Kebiasaan dalam proses menjelang Pilkada, para calon kandidat saling menawarkan program dan produk yang akan dikemukakan ketika mereka hadir ditengah masyarakat menjelang Pemilu.

    Kebiasaan yang terjadi dan sering diwartakan media-media, para kandidat apapun akan mereka lakukan untuk mengambil hati masyarakat. Mulai dari program yang masuk akal bisa ditaksir nalar pikiran, bahkan tidak jarang agenda yang tidak masuk akal pun mereka iming-imingi. Terkadang ada juga sampai memasang foto dengan para ulama supaya sang calon kepala daerah harapannya mendapatkan simpati dari masyarakat yang beragama, biasanya target demikian hanya berlaku untuk masyarakat kelas menengah kebawah. Sebab masyarakat menengah kebawah rata-rata tidak banyak mengetahui bagaimana profil dan rekam jejak seorang kandidat. Apalagi di era globalisasi seperti dewasa ini, dengan mudahnya setiap orang mendapatkan informasi tanpa di filter terlebih dahulu sebuah informasi tersebut, kebanyakan mereka hanya mengkonsumsi secara mentah-mentah apa yang dilihat dan dibaca. Akibatnya, kondisi seperti ini juga yang akan mempengaruhi siapa yang akan dipilih nantinya. Kemudian untuk pemilih yang notabene masyarakat menengah ke atas, rata-rata merupakan pemilihan rasional, yang dimana mereka sudah tahu sejak dari awal mengenai rekam jejak para kandidat, mana kandidat yang terbaik dan mana kandidat yang tidak waras. Kemudian selain itu, banyak lagi hal-hal yang biasa di lakukannya. Terkadang sebelum Pilkada, mereka tidak pernah muncul dalam kegiatan sosial, tetapi ketika mendekati Pilkada mereka akan menyumbangkan sejumlah dana dan sebagainya. Adanya sikap yang demikian, menunjukkan bahwa mereka punya sifat sosial yang tinggi, tiada lain dan tiada bukan lagi-lagi untuk mendapatkan simpati masyarakat. Masukan siapapun akan mereka dengarkan termasuk ibu-ibu di pasar. Kehadiran mereka seakan-akan seperti malaikat, baiknya luar biasa dan terlihat tidak mempunyai sifat jahat.

    Fenomena yang tergambar diatas sudah menjadi rahasia umum. Setiap kali dilakukan ritual Pilkada, momentum pergantian pemimpin baru, keanehan yang sering terjadi adalah tingkahlakunya hampir sama, yakni menawarkan agenda yang begitu bagus dan produk yang mengggiurkan, ending akhir dari semua itu kebanyakan tidak mampu direalisasikan untuk bisa dinikmati semua lapisan masyarakat. Ujung-ujung yang terjadi kebanyakan hanya untuk kesejahteraan keluarga dan kelompoknya.

    Peristiwa yang terjadi pada Pilkada DKI Jakarta belum lama ini, menjadi salahsatu bentuk dan cerminan bagaimana kemudian cara berdemokrasi kita tergambar semakin tidak elok lagi. Tiap kelompok saling menyebarkan isu syara, yang ending akhirnya membuat perpecahan di masyarakat. Ini lagi-lagi terjadi jual produk menjelang Pilkada, yang dimana kelompok satu memakai produk agama untuk menyerang pribadi kelompok yang lainnya. Inikan salah satu tindakan yang mencederai demokrasi kita. Oleh karenanya, masyarakat Indonesia dewasa ini harus cerdas dan hati-hati dengan janji serta program yang di tawarkan oleh calon kandidat,  yang mereka sendiri (calon kandidat) membuatnya pun dengan cara mengawang, artinya program yang di dicanangkan hanya sekedar pemanis bibir biar masyarakat terbius dengan program dan produk politik yang di tawarkan. Jadilah masyarakat yang cerdas untuk memilih pemimpin baru yang terbaik untuk kemaslahatan bersama dan bisa membangun daerah serta peduli terhadap masyarakat luas.


    Penulis: Hairul Rizal, S.H.I.
    Pengurus Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (LPBH-NU) Kota Yogyakarta / Alumni Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.

    Cerita Senja dan Waktu Fajar

    Bila senja mulai bersenggama dengan malam
    Seakan ada bisikan rahasia dalam ruang hati
    Pintu kalbu ku terbuka
    Seakan menerima pesan kebahagiaan
    Lewat utusan yang tak ku kenali
    Mungkin ia hadir dari ruang yang paling tersembunyi

    Aku meraba-raba masa lalu ku
    Sembari menatap senja yang akan bersatu dengan malam
    Membuka lembaran-lembaran amal ku yang tak seberapa
    Sambil menimbang-nimbang dalam tanya
    Cukupkah sezaroh amal ku untuk kebahagiaan itu
    Mampukah diri ku menanggunya jika itu ujian

    Aku termangu
    Melihat segaris cahaya
    Menembus dari balik awan
    Menghias dinding-dinding langit
    Menerangi ruang hati ku yang kelam

    Burung-burung terbang dari balik awan
    Bercerita tentang senja
    Senja yang tak kuasa lagi menyembunyikan dirimu
    Sampai aku tak sabar menanti kehadiran waktu fajar
    Yang akan berkisah tentang mu pada ku


    Yogyakarta, 11/10/2017
    Oleh : A. S. Matupha

    Arti Penting Kegiatan BBGRM dalam Perspektif Masyarakat Kecamatan Sanggar dan Pemerintah Kabupaten Bima

    PEWARTAnews.com – Oktober 2017 merupakan bulan yang istimewa bagi masyarakat kecamatan Sanggar, betapa tidak, pada bulan ini kecamatan sanggar melaksanakan salah satu kegiatan Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM). Pelaksanaan kegiatan BBGRM adalah salah satu rangkaian upaya untuk membangkitkan semangat gotong royong serta menjadi alat stimulus bagi masyarakat untuk ikut berperan aktif dalam pembangunan dengan semangat keswadayaan sebagai sebuah sistim nilai yang melekat pada sosial budaya yang sudah lama menyatu dalam kehidupan masyarakat Bima pada umumnya serta masyarakat kecamatan Sanggar pada khususnya.

    Landasan kegiatan BBGRM adalah mengacu pada Peraturan Menteri Dalam Negeri (PERMENDAGRI) Nomor 42 Tahun 2005 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM), yang meliputi bebrapa item, (1) Gotong royong dibidang kemasyrakatan, (2) Gotong royong dibidang ekonomi, (3) Gotong royong dibidang sosial budaya dan agama, (4) Gotong royong dibidang lingkungan. Berdasarkan beberapa item ini menjadikan kegiatan BBGRM sangat penting karena ada banyak bidang serta instansi didalamnya, tentunya ini harus menjadi kanalisasi bagi masyarakat untuk membangun dan mengembangkan potensi daera kearah yang positif serta menjadi alat integrasi integrasionis.

    Sebagaimana yang Penulis uraikan pada paragraph sebelumnya, bahwa kegiatan BBGRM untuk menumbuhkan jiwa sosial masyarakat dalam semangat gotong royong akan tetapi kegiatan BBGRM juga harus kita maknai dalam perspektif yang lain, dalam konteks elit politik (Eksekutif dan Legislatif) serta perspektif civil society kegiatan BBGRM harus menjadi ajang silaturahmi bagi masyarakat dengan pemerintah kabupaten Bima tentu saja dalam makna simbol adalah Bupati Bima Indah Damayanti Putri dan wakil beserta jajarannya, dan juga lembaga Legislatif khusunya dapil kecamatan Sanggar,  kenapa hal demikian menjadi urgen, karena dengan adanya BBGRM ini masyarakat bisa menyuarakan aspirasinya langsung kepada pemeritah kabupaten Bima, sehingga pihak eksekutif dan legislatif bisa melaksanakan salah satu kewajibannya yaitu menyerap aspirasi masyarakat secara langsung, ibarat adigium yang sering kita dengan dan kita pakai “Sambil mancing makan ikan” atau “sekali dayung dua,tiga pulau terlampaui” kurang lebih itulah adigium yang tepat apabila pemerintah kabupaten Bima bisa memanfaatkan BBGRM dengan bijak.

    Kenapa kegiatan BBGRM menjadi penting sebagai wadah penyerapan aspirasi masyarakat disamping makna semangat gotong royong, karena proses pngambilan kebijakan pembangunan dalam setiap sektor di Indonesia ini adalah menggunakan perspektif button up atau perencaan yang berasal dari masyarakat atau berdasarkan aspirasi masyarakat bukan aspirasi elit. Hal ini juga sesuai dengan ungkapan “Datanglah kepada masyarakat, tanyakan apa yang mereka mau dan mulaialah dari masyarakat maka mesyarakat akan mengatakan itu semua berasal dari kami”. Ungkapan ini mengadung makna bahwa masyarakat adalah pemegang legitimasi yang paripurna dalam setipa kebijakan yang diambil seorang kepala Negara dan daerah. Nilai ini harus mampu terinternalisasi serta terimlementasi dengan baik oleh pemerintah daerah kabupaten Bima guna terwujudnya pembangunan yang partisipatif.

    Berdasarkan beberapa hal diatas, maka kehadiran Eksekutif (Bupati dan Wakil) serta anggota legislatif (DPRD) dalam kegiatan BBGRM di kecamatan Sanggar menjadi sangat dinanti oleh masyarakat sebagai wadah silaturahmi dan penyampaian aspirasi secara langsung, serta kegiatan BBGRM ini menjadi momentum bagi pemerintah kabupaten Bima untuk melihat secara langsung kehidupan masyarakat yang ada di kecamatan Sanggar dengan segala dinamikanya selama ini. Mengingat Kecamatan Sanggar berada jauh dari pusat pemerintahan kabupaten, tentu hal ini berdampak pada pelayanan publik, bahkan momen ini bisa dimanfaatkan oleh pemerintah kabupaten Bima sebagai alat memutus mata rantai prahara politik (rekonsiliasi politik) yang masih ada pasca Pilkada beberapa tahun yang lalu, mengingat ada paradigma yang berkembang dan menjalar di warga masyarakat kecamatan Sanggar bahwa Bupati Bima anti Kecamatan Sanggar sehingga masyarakat kecamatan Sanggar merasa termarjinalkan.

    Tulisan ini Penulis dedikasikan untuk masyarakat Kecamatan Sanggar.


    Penulis: Bung Akbar Jafar (BAJ)
    Alumni PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta 2017 / Dosen Fisipol Universitas Muhammadiyah Mataram / Putra Asli Desa Taloko Kecamatan Sanggar, Bima, NTB.

    Ada Kemauan, Ada Jalan

    PEWARTAnews.com – Bila ada orang yang berambisi ingin menjadi sesuatu (apa pun itu), maka ia harus berusaha untuk mendapatkan sesuatu yang dimaksud. Contoh: seseorang yang berambisi menjadi bintang panggung, bisa tercapai manakala ia mempersiapkan dirinya dan terus belajar. Seseorang yang berkeinginan menjadi penulis, Insya Allah akan tercapai bilamana ia mau berusaha dan mau belajar menulis secara terus-menerus. Demikian juga, dengan berbagai keinginan dan ambisi lainnya.

    Sebaliknya, bilamana seseorang menginginkan sesuatu, namun tidak mau berusaha untuk mendapatkannya, yakin dan percaya orang tersebut tidak akan mendapatkan apa-apa. Misalnya, ia menginginkan menjadi orang yang pintar berbahasa Inggris tetapi tidak mau belajar, maka tidak akan bisa menjadi orang yang pintar berbahasa Inggris.

    Perlu juga diingat, bahwa yang dapat membuat Anda menjadi orang yang sukses bukan orang lain, akan tetapi diri Anda sendiri. Mungkin, orang lain hanya bisa memberikan motivasi atau semacamnya, akan tetapi jika Anda sendiri tidak mau mengikutinya akan percuma saja. Karena motivasi yang sesungguhnya ada pada diri Anda sendiri, bukan pada orang lain.


    Bukankah di dalam Islam diajarkan demikian? Tuhan sendiri mengatakan dalam firman-Nya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sebelum dia sendiri yang mengubahnya.” Intinya adalah bila ada kemauan, Insya Allah ada jalan.

    Wallahu a’lam.

    Ditulis pada hari Jum'at, 24 Februari 2017

    Dilema Pengklaiman Atas Nama TGB Pra-Kontestasi NTB

    PEWARTAnews.com – Kontestasi di Indonesia bahkan diseluruh dunia selalu menarik untuk diikuti bahkan menjadi menu wajib dalam setiap kelompok sebagai bahan diskusi baik dalam konteks diskusi ilmiah ataupun hanya sekedar diskusi kusir atau lepas, hal ini sangat bisa kita pahami karena kontestasi selalu menghadirkan visi dan misi  dari setiap calon Gubernur dan Wakil Gubernur sehingga menggiring orang untuk mendiskusikannya. Admosfir inilah yang menghegemoni masyarakat Nusa Teanggara Barat (NTB) saat ini, hampir disetiap sudut kota bahkan desa masyarakat selalu berbicara tentang pemilihan Gubernur, masyarakat sudah mulai menerka siapa yang akan dipilih dan bagaimana NTB kedepannya, tentu harapan utama masyarakat pada umumnya adalah adanya keadilan dalam semua lini, karena propinsi NTB terdiri dari dua pulau besar sehingga konsep keadilan menjadi sesuatu yang paling penting dalam setiap tema diskusi, namun apakah yang dipikirkan oleh masyarakat sama dengan apa yang dipikirkan oleh elit politik dalam hal ini bakal calon Gubernur dan bakal calon Wakil Gubernur? Wallahu a’lam.

    Kontestasi politik juga selalu menghadirkan pengklaiman, dan hampir semua bakal calon mengklaim akan melanjutkan ikhtiar Tuan Guru Bajang (TGB) gubernur yang sekarang masih menjabat sebagai Gubernur NTB dua periode. Tentu hal ini bisa dimengerti karena sosok Gubernur Tuan Guru Bajang (TGB) menjadi roll model pemimpin dimasa kini dengan sederet keberhasilannya, tercatat keberhasilan TGB selama memimpin NTB dalam 8 tahun terakhir ini, sungguh luar biasa. Sejak dilantik 17 September 2008 hingga saat ini (awal tahun 2017) tidak kurang dari 68 penghargaan tingkat nasional dan internasional sudah diraih. Karya monumental itu berpuncak pada ditetapkannya NTB sebagai daerah yang paling progresif dalam capaian program menurunkan angka kemiskinan. Tercatat, jumlah penduduk miskin di NTB pada tahun 2008 masih mencapai 1.080.610 jiwa atau 23,81 persen. Dan yang terbaru pada peringatan Hari Otonomi Daerah tahun 2017, Majalah Keuangan Negara yang konsen di bidang kajian pelaksanaan otonomi daerah melakukan wawancara terhadap 22 kepala daerah, yaitu gubernur dan bupati/walikota se-Indonesia yang dinilai memiliki kiat-kiat sukses untuk memajukan daerahnya. Salah satunya adalah Gubernur NTB Dr. TGH. M. Zainul Majdi. Gubernur yang akrab disapa TGB ini dinilai sebagai gubernur yang paling sukses mengantarkan NTB sebagai Provinsi “Top Mover” dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.

    Sederet cacatan keberhasilan TGB diatas menarik perhatian semua bakal calon dan konsultan politik untuk mengkalim akan melanjutkan ikhtiar TGB. Dari interaksi tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa TGB sudah menjadi candu bagi elit politik dan masyarajat NTB pada umumnya, ada banyak jargon-jargon politik atas nama TGB yang ditebar oleh para elit politik dan bakal calon sejak dini walaupun kontestasi masih lama, dalam politik hal ini tentu sangat lumrah bagi siapapun yang ingin mencalonkan diri sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur NTB.

    Dari interaksi dan aksi pengkaliaman yang dilakukan hampir semua bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur diatas dapat saya ambil kesimpulan bahwa, Pertama, terjadi inconfident, Penulis melihat dari semua bakal calon yang menggunakan prestasi TGB sebagai jargon utama tidak memiliki kepercayaandiri, kita sepakat bahwa segala sesuatu yang baik harus kita pertahankan, akan tetapi yang sebenarnya tidak hanya berhenti pada kalimat mempertahankan akan tetapi harus ditingkatkan dalam bentuk inovasi hal inilah yang belum pernah disentuh oleh semua bakal calon, mereka seakan kehilangan daya inovasi dan kritis dalam mendeain program-kegiatan untuk NTB kedepannya. Ketidakpercayaan diri bakal calon yang menggunakan nama TGB sebagai jargon politik juga adalah bahwa tidak satupun calon yang menyentuh sisi negatif atau ketidakberhasilan TGB sebagai jargon politik misalnya ketidakberhasilan TGB dalam program Bumi sejuta sapi yang sampai saat ini menjadi perdebatan, hal ini seakan luput dari pandangan para calon yang TGB sentries, para bakal calon seakan lupa bahwa yang terpenting dalam memimpin sebuah daerah adalah ciri khas dari kepemimpinannya, bukan menyiplak, tentu hal ini bisa kita nilai dari banyak indikator salah satunya adalah inovasi dan itu harus tercantum dalam visi-misi, program dan terjemahkan dalam bentuk program-program yang dicanangkan, sehingga itu menjadi kontrak politik dengan masyarakat umum yang ada di NTB. Kedua, terjadi pemature dalam mengambil sikap politik (jargon politik), pada paragraph sebelumnya saya menulis bahwa mengkalaim dalam konteks politik itu sangat lumrah, akan tetapi sebuah pengklaiman akan sangat berarti apabila mendapatkan restu dari objek yang dikaliam, tentu saja dalam hal ini adalah TGB sebagai gubernur yang sekarang masih menjabat. Seperti yang kita ketahui sampai saat ini TGB belum memberikan pernyataan sikap atau politik akan memberikan restu atau mendukung siapa, mungkin hal ini bisa dimengerti karena baru ada satu bakal calon atau paslon yang mendelarasikan diri yaitu Ahyar-Mori, mungkin saja TGB ingin melihat calon yang lain terlebihdahulu atau memang TGB sudah memiliki calon yang akan direstuinya hanya saja waktunya yang belum tepat untuk mengatakan itu secara terbuka.

    Kenapa restu TGB penting didalam legitimasi pengkaliaman yang dilakukan oleh para bakal calon? menurut penulis ada beberapa alasan (1) karena TGB adalah objek pengklaiman dengan sederet prestasinya (2) karena TGB sampai saat ini menjadi rull model pemimpin NTB dengan predikat personal yang melekat sebagai Tuan guru dan juga Gubernur yang hafal Alquran (3) karena TGB menjadi High quality standard untuk Gubernur selanjutnya, dan yang ke (4) adalah bahwa TGB adalah sosok Nasional bukan hanya tokoh lokal NTB. Inilah yang membuat restu TGB menjadi sangat penting untuk melegitimasi pengkaliaman yang dilakukan oleh para bakal calon. Apabila semua bakal calon yang mengkalim atas nama TGB tidak mendapatkan restu TGB maka sudah bisa dipastikan pengklaiman itu hanya akan menjadi sesuatu yang percuma dan bisa jadi blunder, karena sejatinya kekuatan pengkaliamn yang sesungguhnya adalah ada pada restu dari objek yang dikalaim dalam hal ini adalah TGB.

    Dari bebrapa cacatan diatas dapat penulis simpulkan bahwa, Pertama, semua bakal calon yang melakukan pengkalaiman atas nama TGB tidak memiliki konsep yang utuh dan nyata dalam membangun NTB kedepannya. Kedua, apabila semua bakal calaon bahkan calon gubernur dan wakil gubernur nantinya cenderung mengikuti apa yang dilakukan oleh TGB tanpa ada inovasi dalam program dan kegiatan yang akan ditawarkan kepada masyarakat NTB maka sebenarnya kontestasi NTB anti klimaks siapapun yang terpilih nantinya. Ketiga, belum ada bakal calon yang mengangkat tema keadilan pulau Lombok dan Sumbawa sebagai jargon politik. Sehingga menurut saya pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur NTB akan menarik apabila muncul para bakal atau calon-calon yang menggunakan jargon lain dalam menarik simpati masyarakat.


    Penulis: Bung Akbar Jafar (BAJ)
    Alumni PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta 2017 / Dosen Fisipol Universitas Muhammadiyah Mataram

    Si Gadis Manja

    Hai manja
    Kau bilang, dirimu nyaman saat berada di sisi ku
    Walaupun aku bercerita tentang diriku yang compang-camping
    Tentang noda-noda yang telah ku tumpahkan pada diriku sendiri
    Tentang berhala-berhala dalam dinding jiwa ku yang kelam.
    Tapi mengapa kini kau pergi menjauh
    Mencari ketenangan sendiri
    Meninggalkan ku dalam kehampaan
    Akankah kenyamanan itu telah sirna
    Atau mungkin ada ketengan lain yang telah kau temukan
    Aduhai, betapa angkuhnya diriku ini
    Merasa mampu memberi kenyamanan
    Padahal diriku sendiri seperti kapal tua di tengah samudra kehidupan yang tak pasti
    Terombang-ambing oleh badai kehidupan yang tak tentu arah
    Sambil meraba-raba kayu kemudiku yang telah lapuk termakan zaman

    Hai manja
    Masikah kau merasa rindu pada ku
    Seperti rindu yang pernah kau ceritakan saat itu
    Saat semua makanan terasa hambar
    Saat semua keramaian terasa sunyi
    Saat tak ada siapapun di hati mu selain aku
    Atau mungkin rindu itu telah padam
    Seperti api yang tiba-tiba padam tersiram air
    Tidak adakah sedikit kehangatan rindu yang tersisa untuk ku

    Hai manja
    Sejauh apapun engkau pergi dan berlari
    Mencari kenyamanan lain
    Menyalakan api rindu di hati mu
    Tapi, Naluriku tetap melirih dalam kesunyian batin ku
    Bahwa kau akan tetap menjaga ku di ujung waktu
    Bukan diujung waktu siang ataupun malam
    Tetapi di ujung waktu kehidupan ku yang penuh misteri.


    Yogyakarta, 6 Oktober 2017
    Penulis: A. S. Matupha
    Ketua Umum Keluarga Pelajar Mahasiswa (KEPMA) Bima-Yogyakarta

     

    Iklan

    Iklan
    Untuk Info Lanjut Klik Gambar
    Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website