Headlines News :
Home » , » Cinta dan Poligami

Cinta dan Poligami

Written By Pewarta News on Kamis, 05 Oktober 2017 | 23.12

Mukaromah.
PEWARTAnews.com -- “Saat rasa bosan itu hadir, laki atau perempuan harus saling melihat, memahami dengan hati, flsah back ke belakang untuk mengingat dan mengenang siapakah orang yang selalu setia menemani berjuang dan mendoakan disetiap langkahnya”. (Mukaromah, 6 Oktober 2017)

Cinta adalah sepatah kata yang mengandung makna luar biasa. Mudah diucapkan, indah dirasakan namun tidak bisa didefinisikan. Bahasa unta (read : bahasa Arab) mengatakan :
ألمحبّة هي إعطاء بشئٍ بدون رجاءٍ كاالشّمس تنوّر الأرض

Cinta itu memberi tanpa berharap kembali. Seperti Matahari yang terus menyinari bumi, pagi yang akan terus selalu hadir dan ada meski orang-orang enggan untuk bangun dari tidur lelapnya. Siang yang akan terus berputar dan mengantarkannya pada malam, dan seperti curahan kasih sayang orangtua kepada anaknya, segala apapun ia berikan untuk kebahagiaan-nya dan tidak berharap sedikitpun akan balasan budi dan jasa yang telah diberikannya. Begitu pula cinta seseorang kepada kekasihnya, “apapun” ia berikan. Karena baginya, hakikat kebahagiaan adalah ketika kekasihnya juga bahagia. Bahagia-mu adalah bahagia-ku (begitu bahasa gaulnya). Dan tentu jika ini dijadikan jargon dalam hal percintaan, tak lain cinta hanyalah membuat dirinya labil.

Dalam tulisan singkat ini, saya mengulas mengenai aspek dalam cinta yang terkadang disalah definisikan oleh manusia. Cinta mengandung 3 aspek (Rasional love, emosional love dan spiritual love).

Yang pertama adalah Rasional love, yakni suatu keadaan dimana manusia merasakan adanya getaran cinta namun masih dalam tahap rasional (pemikiran). Artinya mencintai seseorang karena berawal dari rasa kagum, entah itu orangnya pintar, cerdas, ganteng, cantik dan sebagainya. Akal mengatakan iya “aku mau dan aku ingin” hanya karena label “wangun biar gaul kekinian dengan dalil tahun gini gak punya gebetan? Capeeee deh, kuper alias kurang pergaulan.

Dalam kaitan ini pun Al Qur’an berbicara (lihat Qs. Ali Imran : 14). Allah berfirman bahwa manusia dibekali dengan potensi nafsu dengan nafsu itu manusia bisa bermartabat disisi-Nya, namun juga bisa lebih rendah daripada iblis jika nafsu negatif  (-) lebih mendominasi dari segala hal. Dalam ayat ini pula disebutkan bahwa manusia cenderung menyukai hal-hal indah dan menarik (segi fisik). Namun jika itu yang di prioritaskan maka “rasa” itu tidak akan pernah abadi, begitu pula jika dikaitkan dengan cinta. Jika rasional love yang diprioritaskan dalam memilih dan memilah pasangan, maka tentu tidak akan langgeng. Rasionalisasi-nya adalah ketika kita mencintai seseorang hanya karena label ingin dicap sebagai anak kekinian (biar gaul) dan kemudian mendapat pujian dari orang lain atau mencintai seseorang hanya karena dia ganteng, cantik (hal materi lain), tentu jika sudah tidak mendapatkan pujian dan pengakuan dari orang lain, atau bahkan sudah bosan karena dia sudah tidak ganteng/cantik (sifatnya subjektif) pasti cinta itu akan luntur bahkan bisa saling meninggalkan.

Yang kedua adalah emosional love, yakni mencintai seseorang karena perasaan suka dan cinta yang qad syaghafahaa hubba (yang amat sangat mendalam). Entah itu berawal dari witing tresno jalaran saka kulina, atau karena kekaguman sesaat. Tentu hal itu boleh-boleh saja dan wajar, karena faktanya banyak sekali pasangan yang menikah lantaran sering bertemu (entah teman organisasi, diskusi atau bahkan teman kuliah). Hanya saja, emosional yang dimaksud disini adalah mencintai seseorang yang mendominasikan soal rasa personal dan menghiraukan persetujuan orangtua, dalam arti sik penting sik nglakoni seneng. Yang penting gue cinta sama lu, orangtua mah setuju/ tidak setuju gak penting. Dalam emosional love pula, soal “rasa cinta”  amat mendominasi segala hal, bahkan karena hebatnya rasa cinta dengan seseorang, hingga akhirnya melupakan dirinya dari mencintai-Nya. Sangat berbahaya sekali jika dalam pernikahan emosional love didominasikan. Sebagai contoh, seorang suami terpaksa korupsi karena sang istri minta ini-itu dan harus segera dituruti. Kalau tidak dituruti sang istri minta cerai. Karena dahsyatnya rasa cinta suami kepada istrinya, apapun akan ia lakukan sekalipun hal itu melanggar norma dan aturan agama, termasuk korupsi demi membahagiakan istrinya. Dalam pacaran pun juga begitu, inginnya si wanita minta di bales whatsap nya, minta di telpon, everyday everytime everywhere selalu kabar-kabaran hingga akhirnya kewajiban si laki-laki sebagai seorang pelajar, mahasiswa atau bahkan guru dan atau dosen menjadi terbengkalai karena nuruti pacarnya kayak gitu. Yaa begitulah, emosional love ini bertitik pada perasaan cinta yang amat mendalam namun mengabaikan norma dan aturan yang ada sehingga menimbulkan mafsadat dan madharat bagi dirinya, pasangannya, alam (read : luar dirinya), maupun orang lain (lihat Qs. At-Taghabun : 14, Qs. Al Munafiqun : 16, Qs. Al Munafiqun : 9, Qs. Ali Imran : 14-15, Qs. Al Anfal : 28).

Yang ketiga adalah Spritual love, yakni mencintai seseorang yang membuat diri kita menjadi lebih baik, membuat diri kita semakin dekat dengan Allah dan Rasul-Nya, serta ketika kita mengingat namanya, senyumnya atau hal apapun dari dirinya menjadikan kita ingat kepada Rabb dan Kekasih-kekasih-Nya. Inilah puncak dan kedahsyatan cinta yang haqiqi. Tiada rasa yang mampu menandingi keagungan cinta selain ini, jika benar-benar manusia menghayati dan menginternalisasikan hakikat cinta yang ia rasakan kepada yang dikasihinya. Hatinya akan tersentuh dengan sentuhan kasih sayang, kelembutan dan kehangatan cinta dari-Nya. Itulah mengapa, Islam mensyaratkan prioritas utama untuk memilih lifepartner dengan menomorsatukan agama. Agama menjadi pondasi pokok untuk membangun bangunan yang kuat, membina mahligai rumah tangga yang sakinah mawaddah wa rahmah. Sebagaimana Al Qur’an (lihat Qs. Ar-Rum : 21) yang mencakup 3 aspek sekaligus, : Sakinah, mawaddah, Rahmah.

Sakinah (kenyamanan seperti asumsi orang yang lelah dan penat ketika seharian beraktivitas lalu tibalah waktu malam untuk istirahat, memulihkan energi, tenaga, fikiran untuk beraktivitas esok hari. Saat malam inilah manusia nyaman untuk beristirahat. Sakinah berasal dari kata sakana yakni tempat tinggal. Sejauh apapun melangkah, orang menginginkan pulang kembali ke tempat asalnya, jika urusannya telah selesai. Begitu pula dengan cinta, cinta yang sakinah adalah cinta yang membuat kita nyaman dan tentram ketika berada didekat kekasih kita dan ingin terus bersamanya.

Mawadah adalah suatu keadaan yang ingin selalu bersama, hidup bersama, menatap dunia pun juga bersama. Sesuatu indah jika dilakukan bersama orang yang dicintainya. Semula yang berat terasa ringan jika dilakukan bersama-sama atas dasar cinta. Mungkin ini yang menjadi jargon orang jawa, makan nggak makan yang penting kumpul.

Dari aspek psikologis, memang perasaan suami dan istri erat kaitannya. Sebagai contoh, sehebat dan secerdas apapun laki-laki pasti ia membutuhkan peran dari seorang wanita. Rasionalisasinya begini, ketika seorang suami bekerja di perantauan, pasti ia menginginkan istrinya untuk ikut bersamanya dan mendampinginya. Hal itu karena ada sesuatu hal yang membutuhkan support dan dukungan dari seorang wanita, termasuk aspek psikis. Begitu pula dengan istri, ia selalu ingin bersama dengan suaminya kapan dan dimanapun suami berada. Dan berawal dari mawaddah ini lah, sebenarnya fitrah naluri seorang wanita tidak mau membagi suaminya dengan orang lain (dalam kaitan ini poligami). Ketahuilah hai laki-laki, fitrah dari seorang wanita adalah memiliki-mu seutuhnya. Bayangkan betapa teririsnya hati seorang wanita bila suaminya mem-poligami dirinya, kecuali karena beberapa sebab : Salah satunya karena si wanita tidak bisa hamil, sehingga untuk meneruskan generasi ia harus mempunyai anak dan mungkin salah satu jalannya adalah menikah lagi. Padahal masih banyak alternatif lain seperti meng-adopsi anak dan sebagainya. Dari sinilah, laki-laki harus belajar bersyukur. Pilih-lah pasangan hidup yang pandai bersyukur dan mau diajak untuk berjuang.

Dalam pernikahan, rasa bosan akan selalu hadir. Dan menurut pengamatan empirik, ghirah nafsu laki-laki yang telah menikah (melihat wanita lain) lebih besar daripada wanita yang telah menikah (melihat laki-laki lain). Perasaan wanita bisa di rem, tapi kalau laki-laki jika tidak bisa mengendalikan dengan baik maka hal itu akan fatal. Apalagi godaannya sudah mempunyai penghasilan dan sebagainya, sehingga mudah untuk menakhlukan hati wanita lain. Disinilah, lagi-lagi Islam memberikan petuah agar memilih laki-laki yang kuat agamanya lagi pandai bersyukur. Saya teringat kata salah satu teman (maaf tidak bisa saya sebut namanya) bahwasannya dalam hati kecil laki-laki terdapat play boy. Terlampaui batas atau tidaknya tergantung kapasitas iman yang ada dalam dirinya. Sehingga laki-laki lah yang godaannya lebih berat dan lebih besar daripada wanita. Manfaat pandai bersyukur adalah saat rasa bosan itu hadir, laki atau perempuan harus saling melihat, memahami dengan hati, flsahback ke belakang untuk mengingat dan mengenang siapakah orang yang selalu setia menemani berjuang dan mendoakan disetiap langkahnya. Laki-laki harus mengingat siapakah yang setia memasakkan-nya, mencuci dan menyetrikakan bajunya, melahirkan dan mendidik anak-anaknya. Perempuan pun juga begitu, harus mengingat siapakah yang mencarikan nafkah selama ini, mandi keringat, mencukupi kebutuhannya dan sebagainya. Tentu jika hal-hal seperti itu di internalisasikan, saya yakin cinta itu akan tumbuh lagi dan mengurungkan niatnya untuk berpaling atau bahkan ber-poligami. Tentu disatu sisi poligami juga diperbolehkan, yakni menyelamatkan wanita yang tidak bersuami. Apalagi kini perbandingan laki-laki dan perempuan ibarat 1:3. Dalam Qur’an pun juga membolehkan untuk berpoligami maksimal 4 dengan syarat harus adil.

Akan tetapi kembalikan lagi bahwa niat berpoligami itu untuk apa dan mengapa. Terkadang saya heran dengan laki-laki yang memiliki seorang istri (menurut saya perfect) yakni cantik, punya anak, bekerja pula. Bisa-bisanya laki-laki kepincut dengan wanita lain hingga pada akhirnya menikah lagi. Tak sadarkah bila itu menyakiti hati istrinya? Padahal, menurut saya rasanya sama saja.

Yang ketiga adalah Rahmah, yakni kasih sayang, kelembutan yang hadir karena sebuah ikatan. Cinta itu dibangun atas beberapa pondasi, yakni kesetiaan, kejujuran, kasih sayang dan pengertian. Cinta ibarat sistem, jika salah satu komponen-nya tidak bekerja dengan baik maka komponen-komponen yang lain pun akan terhambat sehingga kinerja sistem tersebut tidak optimal. Oleh karena itu, sakinah mawaddah dan rahmah adalah ketiga hal yang harus saling bersinergi untuk mewujudkan cinta yang haqiqi.

Marilah, kita belajar bersyukur. Menikmati jalan hidup dari-Nya, berproses di jalan Nya untuk meniti pahit manisnya kehidupan. Cari dan pilihlah pasangan hidup yang tidak pernah menjanjikan apapun kepada kita, menebar gombal yang tidak berfaedah. Tapi cari dan pilihlah pasangan hidup yang bersedia kongkrit memberikan yang terbaik untuk kita, yang tidak hanya sekedar pemanis mulut. Karena cinta itu bukan soal lisan, tapi aktualisasi dari hati, indra dan tindakan nyata (komitmen, keseriusan, kesetiaan, kejujuran). Yang sukanya gombal akan kalah dengan orang yang mau datang dan siap ke rumah untuk bertemu dengan orangtua. Right? Karena cinta tak boleh egois, betapapun kita cinta dengan kekasih kita, jika orangtua tidak setuju lantas bagaimana? Harus kita tahu, bahwa orangtua mempunyai feeling kuat untuk mengetahui apakah pasangan (laki/perempuan) pantas bersanding dengan anaknya. Yakinlah, “akan selalu ada laki-laki yang baik-baik untuk wanita yang serius berusaha memperbaiki dirinya, begitu sebaliknya”. Jangan lelah untuk berjuang dan berharap kepada-Nya (Janji Allah dalam Qs. An Nur : 26).


Penulis: Mukaromah
Mahasiswi Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website