Headlines News :
Home » , , , » Dilema Pengklaiman Atas Nama TGB Pra-Kontestasi NTB

Dilema Pengklaiman Atas Nama TGB Pra-Kontestasi NTB

Written By Pewarta News on Rabu, 11 Oktober 2017 | 05.00

PEWARTAnews.com – Kontestasi di Indonesia bahkan diseluruh dunia selalu menarik untuk diikuti bahkan menjadi menu wajib dalam setiap kelompok sebagai bahan diskusi baik dalam konteks diskusi ilmiah ataupun hanya sekedar diskusi kusir atau lepas, hal ini sangat bisa kita pahami karena kontestasi selalu menghadirkan visi dan misi  dari setiap calon Gubernur dan Wakil Gubernur sehingga menggiring orang untuk mendiskusikannya. Admosfir inilah yang menghegemoni masyarakat Nusa Teanggara Barat (NTB) saat ini, hampir disetiap sudut kota bahkan desa masyarakat selalu berbicara tentang pemilihan Gubernur, masyarakat sudah mulai menerka siapa yang akan dipilih dan bagaimana NTB kedepannya, tentu harapan utama masyarakat pada umumnya adalah adanya keadilan dalam semua lini, karena propinsi NTB terdiri dari dua pulau besar sehingga konsep keadilan menjadi sesuatu yang paling penting dalam setiap tema diskusi, namun apakah yang dipikirkan oleh masyarakat sama dengan apa yang dipikirkan oleh elit politik dalam hal ini bakal calon Gubernur dan bakal calon Wakil Gubernur? Wallahu a’lam.

Kontestasi politik juga selalu menghadirkan pengklaiman, dan hampir semua bakal calon mengklaim akan melanjutkan ikhtiar Tuan Guru Bajang (TGB) gubernur yang sekarang masih menjabat sebagai Gubernur NTB dua periode. Tentu hal ini bisa dimengerti karena sosok Gubernur Tuan Guru Bajang (TGB) menjadi roll model pemimpin dimasa kini dengan sederet keberhasilannya, tercatat keberhasilan TGB selama memimpin NTB dalam 8 tahun terakhir ini, sungguh luar biasa. Sejak dilantik 17 September 2008 hingga saat ini (awal tahun 2017) tidak kurang dari 68 penghargaan tingkat nasional dan internasional sudah diraih. Karya monumental itu berpuncak pada ditetapkannya NTB sebagai daerah yang paling progresif dalam capaian program menurunkan angka kemiskinan. Tercatat, jumlah penduduk miskin di NTB pada tahun 2008 masih mencapai 1.080.610 jiwa atau 23,81 persen. Dan yang terbaru pada peringatan Hari Otonomi Daerah tahun 2017, Majalah Keuangan Negara yang konsen di bidang kajian pelaksanaan otonomi daerah melakukan wawancara terhadap 22 kepala daerah, yaitu gubernur dan bupati/walikota se-Indonesia yang dinilai memiliki kiat-kiat sukses untuk memajukan daerahnya. Salah satunya adalah Gubernur NTB Dr. TGH. M. Zainul Majdi. Gubernur yang akrab disapa TGB ini dinilai sebagai gubernur yang paling sukses mengantarkan NTB sebagai Provinsi “Top Mover” dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.

Sederet cacatan keberhasilan TGB diatas menarik perhatian semua bakal calon dan konsultan politik untuk mengkalim akan melanjutkan ikhtiar TGB. Dari interaksi tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa TGB sudah menjadi candu bagi elit politik dan masyarajat NTB pada umumnya, ada banyak jargon-jargon politik atas nama TGB yang ditebar oleh para elit politik dan bakal calon sejak dini walaupun kontestasi masih lama, dalam politik hal ini tentu sangat lumrah bagi siapapun yang ingin mencalonkan diri sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur NTB.

Dari interaksi dan aksi pengkaliaman yang dilakukan hampir semua bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur diatas dapat saya ambil kesimpulan bahwa, Pertama, terjadi inconfident, Penulis melihat dari semua bakal calon yang menggunakan prestasi TGB sebagai jargon utama tidak memiliki kepercayaandiri, kita sepakat bahwa segala sesuatu yang baik harus kita pertahankan, akan tetapi yang sebenarnya tidak hanya berhenti pada kalimat mempertahankan akan tetapi harus ditingkatkan dalam bentuk inovasi hal inilah yang belum pernah disentuh oleh semua bakal calon, mereka seakan kehilangan daya inovasi dan kritis dalam mendeain program-kegiatan untuk NTB kedepannya. Ketidakpercayaan diri bakal calon yang menggunakan nama TGB sebagai jargon politik juga adalah bahwa tidak satupun calon yang menyentuh sisi negatif atau ketidakberhasilan TGB sebagai jargon politik misalnya ketidakberhasilan TGB dalam program Bumi sejuta sapi yang sampai saat ini menjadi perdebatan, hal ini seakan luput dari pandangan para calon yang TGB sentries, para bakal calon seakan lupa bahwa yang terpenting dalam memimpin sebuah daerah adalah ciri khas dari kepemimpinannya, bukan menyiplak, tentu hal ini bisa kita nilai dari banyak indikator salah satunya adalah inovasi dan itu harus tercantum dalam visi-misi, program dan terjemahkan dalam bentuk program-program yang dicanangkan, sehingga itu menjadi kontrak politik dengan masyarakat umum yang ada di NTB. Kedua, terjadi pemature dalam mengambil sikap politik (jargon politik), pada paragraph sebelumnya saya menulis bahwa mengkalaim dalam konteks politik itu sangat lumrah, akan tetapi sebuah pengklaiman akan sangat berarti apabila mendapatkan restu dari objek yang dikaliam, tentu saja dalam hal ini adalah TGB sebagai gubernur yang sekarang masih menjabat. Seperti yang kita ketahui sampai saat ini TGB belum memberikan pernyataan sikap atau politik akan memberikan restu atau mendukung siapa, mungkin hal ini bisa dimengerti karena baru ada satu bakal calon atau paslon yang mendelarasikan diri yaitu Ahyar-Mori, mungkin saja TGB ingin melihat calon yang lain terlebihdahulu atau memang TGB sudah memiliki calon yang akan direstuinya hanya saja waktunya yang belum tepat untuk mengatakan itu secara terbuka.

Kenapa restu TGB penting didalam legitimasi pengkaliaman yang dilakukan oleh para bakal calon? menurut penulis ada beberapa alasan (1) karena TGB adalah objek pengklaiman dengan sederet prestasinya (2) karena TGB sampai saat ini menjadi rull model pemimpin NTB dengan predikat personal yang melekat sebagai Tuan guru dan juga Gubernur yang hafal Alquran (3) karena TGB menjadi High quality standard untuk Gubernur selanjutnya, dan yang ke (4) adalah bahwa TGB adalah sosok Nasional bukan hanya tokoh lokal NTB. Inilah yang membuat restu TGB menjadi sangat penting untuk melegitimasi pengkaliaman yang dilakukan oleh para bakal calon. Apabila semua bakal calon yang mengkalim atas nama TGB tidak mendapatkan restu TGB maka sudah bisa dipastikan pengklaiman itu hanya akan menjadi sesuatu yang percuma dan bisa jadi blunder, karena sejatinya kekuatan pengkaliamn yang sesungguhnya adalah ada pada restu dari objek yang dikalaim dalam hal ini adalah TGB.

Dari bebrapa cacatan diatas dapat penulis simpulkan bahwa, Pertama, semua bakal calon yang melakukan pengkalaiman atas nama TGB tidak memiliki konsep yang utuh dan nyata dalam membangun NTB kedepannya. Kedua, apabila semua bakal calaon bahkan calon gubernur dan wakil gubernur nantinya cenderung mengikuti apa yang dilakukan oleh TGB tanpa ada inovasi dalam program dan kegiatan yang akan ditawarkan kepada masyarakat NTB maka sebenarnya kontestasi NTB anti klimaks siapapun yang terpilih nantinya. Ketiga, belum ada bakal calon yang mengangkat tema keadilan pulau Lombok dan Sumbawa sebagai jargon politik. Sehingga menurut saya pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur NTB akan menarik apabila muncul para bakal atau calon-calon yang menggunakan jargon lain dalam menarik simpati masyarakat.


Penulis: Bung Akbar Jafar (BAJ)
Alumni PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta 2017 / Dosen Fisipol Universitas Muhammadiyah Mataram

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website