Headlines News :
Home » , » Musik Orgen dan Sebuah Patologi Sosial

Musik Orgen dan Sebuah Patologi Sosial

Written By Pewarta News on Kamis, 19 Oktober 2017 | 03.10

Dedi Purwanto, S.H.
PEWARTAnews.com – Sebenarnya Penulis tidak berkompeten untuk mengurai seni secara normatif atau praxis. Sebab, tanggungjawab akademiknya tidak mendukung terkait masalah tersebut. Namun terlepas dari itu, kalau kita melakukan observasi sederhana dalam interaksi sosial, pasti kita akan menemukan bahwa setiap orang dalam suatu peritiwa tertentu bisa menjadi pelaku dan pengamat atau menjadi pelaku sekaligus pengamat. Kebetulan dalam kasus ini Penulis menyandang predikat sebagai pelaku dan pernah merasa menjadi seorang pengamat.

Mengenai orgen, sampai sekarang Penulis belum menemukan satu rumusan logis, etik dan estetik dari sebuah musik yang di lestarikan oleh orang Bima saat ini. Penulis bingung, kok bisa hanya bermodal satu alat musik yang dinamakan orgen tunggal bisa begitu eksis di Bima.  Jenis musik ini abal-abalan benar. Kenapa? Karena musik ini tidak punya level dalam seni. Kenapa tidak punya level. Sebab, alat musiknya cuman satu yaitu orgen. Mari berfikir sejenak. Sedangkan menurut Penulis, semua jendre musik yang lahir dari rahim modernitas  merupakan nada yang terbentuk dari beberapa alat musik. Dengan kata lain, musik yang punya level itu setidaknya terdiri dari  beberapa alat musik yang berkolaborasi sehingga melahirkan nada.

Selain itu, musik orgen ini masuk kategori musik yang bagaimana? Musik dangdut atau musik pop. Semi dangdut atau bagaimana. Dangdut klasik atau apa. Musik dangdut alternatif? Kita sulit merumuskan hal tersebut dikarenakan gendre musik dari orgen tunggal ini kurang jelas. Karena, musik dangdut klasik, kontemporer ataupun alternatif, semuanya dihasilkan dari beberapa alat musik bukan satu alat musik. Ini juga yang menjadi alasan kenapa orgen tunggal tidak mempunyai level dalam berseni (sambil tersenyum manja ya).

Kita bilang orgen tunggal di Bima itu sebagai aktualisasi dari seni? Tunggu dulu brow!

Orgen tunggal adalah seni. Semua tidak bisa didefinisikan sebagai seni. Kenapa? Sebab seni merupakan suatu sistem. Lalu sistem yang dimaksud itu bagaimana. Begini, seni mempunyai aturan main supaya sesuatu itu dikatakan seni. Aturan main itu adalah syarat yang harus dipenuhi supaya sesuatu bisa dikatakan sesuatu itu. Setidaknya ada beberapa syarat supaya segala sesuatu dikatakan sebagai seni.

Pertama, Logis, seni harus memuat unsur rasionalitas. Kontektualitasnya begini, orgen merupakan alat musik modern. Kondisi dalam perkembangan musik modern, tidak di temukan lagi satu alat musik yang dimainkan. Musik yang dihasilkan merupakan pepaduan antara beberapa alat musik, berbeda dengan alat musik klasik awal.

Kedua, Etika, dalam berseni etika merupakan unsur yang harus terpenuhi sebab seni adalah pekerjaan yang praxisnya pada ketenangan dan keindahan. Berarti syarat supaya tenang dan indah semuanya harus beretika. Mari kita lihat orgen, hanya satu alat musik, piduannya dengan pakaian super ketat, minuman, mabuk, ujung-ujungnya tawuran dan berantam. Ini yang kita katakan seni dan etika? Ayolah bung jangan lelucon terus ya.

Ketiga, estetika. Keindahan dari sebuah seni merupakan hal penting. Keindahan ini tidak hanya menyangkut diri sendiri, tetapi juga orang lain, alam dan menurut Tuhan. Kalau dari orgen tunggal itu sering terjadi caci maki, saling bunuh, saling melukai, saling membenci dan sebagainya lalu indahnya orgen itu dimana?

Kalau beberapa unsur diatas atau salah satu unsur diatas tidak dipenuhi. Tolong jangan dikatakan orgen sebagai seni. Cari saja kosa kata yang lain yang bisa mewakili itu.

Kita tidak bisa memang mengkritik hanya karena musik itu terdiri dari satu alat musik lalu dikatakan abal-abal musiknya. Toh, musik gambus dan biola juga hanya satu alat musik bukan dua atau tiga alat musik yang bermain. Nah kalau seperti itu penilaiannya agak keliru. Sebab, kita akan memetakkan dua alat musik tersebut berdasarkan periodesasi sejarah perkembangannya. Sederhananya begini, orgen itu adalah salah satu alat musik modern sedangkan gambus atau biola merupakan alat musik tradisional. Biasanya musik-musik modern seperti dangdur, pop dan lainnya merupakan musik yang dihasilkan dari beberapa alat musik yang dimainkan. Sedangkan musik tradisional dalam perkembangan awalnya memang dimainkan satu alat musik saja bukan beberapa alat musik. Kenapa demikian, karena musik tradisional lebih di tekankan untuk komsumsi pribadi. Semisalnya gambus, pada awal sejarah terbentuknya hanya dibuat untuk dimainkan sendirian dan tidak digabungkan dengan alat musik yang lain sebab gambus hanya untuk kebutuhan diri sendiri bukan untuk komsumsi publik. Gambus adalah media ketenangan bagi seseorang untuk melupakan dunia yang begitu hingar-bingar ini.

Orgen, hanya karena modal musik yang disco serta dibarengi dengan model goyangan para biduan yang erotis-sexy. Barang ini bisa menggantikan posisi tawar musik gambus, biola, rebana, kasidah yang eksis beberapa abad yang lalu. Ini aneh sekaligus membingungkan bagi Penulis.

Musik orgen selalu dibutuhkan pada momen sunatan, bahkan untuk memeriahkan acara ketika seseorang ingin naik haji (bisa dibilang sebagai bentuk sukuran). Selain itu, jangan ditanya lagi kalau untuk pernikahan, sudah jelas akan di pesan supaya memeriahkan sekaligus memecahkan gendang teliga para tetuah dan sesepuh-sesepuh di desa tersebut. Mengganggu tidur nyenyak seorang bayi, membuat lalu-lintas tidak stabil, terkadang darah mengalir dan permusuhan yang berkepanjangan. Itulah hasil dari orgen tunggal. Saya bukan tidak menyukai orgen tunggal. Tapi kalau lebih banyak bencananya daripada manfaat positifnya buat apa di pertahankan dan dilestarikan. Toh itu bukan musik asli dari negeri Bima kok. Lalu bagaimana sebaiknya. Kita daur ulang bialo dan gambus supaya menjadi musik yang fress. Kita kolaborasikan alat musik tersebut dengan alat musik yang lain. Kalau pemerintah tidak memulai maka komuitas-komunitas yang harus memulai. Masalah suka atau tidak suka adalah persoalan waktu saja. Selain suka dan tidak sukanya seseorang tergantung dari apa yang di sugukan oleh lingkungan. Semisalnya, kita biasa untuk makan nasi, ketika kita disuruh makan gandum pasti kita mengatakan tidak suka. Namun apabila gandum itu di suplai terus menerus dan dibarengin dengan perlahan meniadakan nasi maka lama-kelamakan orang akan suka dengan gamdum.

Berhadapan dengan kondisi tersebut, lalu apakah gambus dan biola bisa menjamin tidak adanya patologi sosial?

Penyanyi dan pemain musik gambus dan biola itu adalah orang yang berkarakter. Berkarakar maksudnya, kalau penyanyinya tidak benar-benar tau tentang pantun Bima dan kalau pemain musiknya tidak benar-benar mengusai secara metafisik alat musik tersebut maka estetik dari musik tersebut tidak ada. Sederhananya begini, musik tradisional itu masih mempunyai sisi humanis-metafisik daripada musik orgen. Apalagi orgen tunggal. Bicara mengenai menjamin, semuanya harus di uji materil. Kalau kita melirik sejarah pada waktu maraknya musik gambus dan biola dulu, maka kita akan temukan betapa sedikitnya patologi sosial yang dihasilkan dari adanya pentas musik tersebut. Kalau tidak percaya tanya pada orang tua kita masing-masing yang merasakan atau melihat langsung musik-musik tersebut saat itu. silahkan coba untuk bertanya!

Akhirnya, tidak semua bisa kita definisikan sebagai seni. Seni mempunyai aturan main. Setidaknya dia harus memenuhi salah satu atau semua dari unsur logis, etik dan estetik. Karena itu merupakan pertimbangan timbal balik, bukan pertimbangan searah. Maksundya, seni tidak hanya menyoal diri sendiri dan kelompok tapi juga menyangkut masyarakat luas dan keterkaitan dengan alam dan Tuhan.

Ka iyo aina ka Au, ka Ncara ma Ncara, ka Ncihi ma Ncihi.


Penulis: Dedi Purwanto, S.H.
Pengamat Hukum, Sosial dan Budaya / Pemuda asal Bima NTB / Wakil Direktur LPBH-NU Kota Yogyakarta
Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website