Headlines News :
Home » » Surat Klasik untuk Ayah

Surat Klasik untuk Ayah

Written By Pewarta News on Rabu, 04 Oktober 2017 | 19.04

PEWARTAnews.com -- Tetesan keringatmu bermakna seperti mutiara di laut yang memancarkan cahaya meski berada di kedalaman laut. Keringatmu adalah butiran yang berharga disetiap langkah dan perjuanganku.

Keringatmu takkan pernah kubiarkan mengalir begitu saja, keringatmu akan kujadikan sebagai penopang dan penyemangatku dalam berjuang. Karena bagiku engkau adalah sumber dari perjuanganku.

Keringatmu, bagiku sungguh berarti, seperti hadist dan Al-Qur'an, bermakna seperti sebuah syair yang tertuang dalam ayat-ayat suci Al-Qur'an. Meski malam menghadirkan rindu yang terkadang tak mampu untuk aku pahami, namun aku tetap yakin pagi pasti akan hadir dan mencoba menjelaskan padaku apa arti dari sebuah kerinduan.

Rindu ini takkan ku ungkapkan dengan air mata, namum aku akan balas dengan kesuksesan yang akan membuatmu tersenyum dan tertawa bahagia.

Ketika malam mengajarkan padaku arti kerinduan, maka pagi pun pasti akan mengajariku arti perjuangan.

Terkadang malam meningalkan sebuah sejarah yang tak mampu ku perjuangkan, akan tetapi pagi selalu ada untukku sebagai penggantimu (ayah), karena engkau seperti mentari fajar yang menyinari hari-hariku, di waktu aku bangun dari tempat tidur.

Mentari pagi selalu tersenyum, seakan akan dia adalah engkau yang tersenyum diwaktu aku bangun dan mengatakan selamat pagi, jangan pernah berhenti melangkah, berjuang, sebab perjalananmu masih panjang.

Rindu akan hadirmu ketika kaki ini melangkah untuk berjuang, entah itu pagi ataupun malam. Namun rindu kujadikan sebagai dasar semangatku dalam berjuang.

Ayah, berada jauh darimu bisa membuatku belajar dan memaknai apa itu kehidupan serta perjuangan yang sebenarnya.

Mungkin untuk saat sekarang ini aku belum bisa menjanjikan sebuah hasil yang bisa membuatmu tersenyum dan tertawa bahagia, akan tetapi aku berjanji pada diriku dan pada alam semesta bahwa suatu saat nanti aku akan menggenggam kesuksesan itu, membawanya dihadapanmu sembari mengatakan, "ayah" perjuanganku telah usai sudah sampai disini, dan kupersembahkan kesuksesan yang telah kuraih ini untukmu.

Lalu kelak engkau berkata, "selamat wahai anakku, aku turut bahagia atas kesuksesan yang engkau raih dari hasil keringat perjuanganmu".

Ayah mungkin ini adalah waktunya untuk aku membayar semua tetesan keringat yang telah keluar ditubuhmu selama engkau berjuang demiku.


Yogyakarta, 04 Oktober 2017
Karya: Istisusanti
Mahasiswi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta / Srikandi FIMNY.
Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website