Headlines News :

    Follow Kami di Twitter

    Cari Berita / Artikel disini

    Arsip Web

    Like Fun Page Kami

    Diabetes Melitus, Ancaman Kesehatan Global

    Sukesi. 
    Mengenal Diabetes melitus (DM)
    PEWARTAnews.com -- World Health Organization (WHO) memperkirakan adanya peningkatan jumlah penderita DM yang menjadi salah satu ancaman kesehatan global (WHO, 2016).  Data International Diabetes Federation (IDF) Atlas pada 2015, mencatat bahwa ada 415 juta orang dewasa dengan DM. Angka ini merupakan kenaikan 4 kali lipat dari 108 juta pada tahun 1980an. Pada tahun 2040 diperkirakan jumlahnya akan menjadi 642 juta (IDF, 2015, 1).

    Di Indonesia, WHO memprediksi kenaikan jumlah penderita DM dari 8,4 juta pada tahun 2000 menjadi sekitar 21,3 juta pada tahun 2030. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan jumlah penderita DM sebanyak 2-3 kali lipat pada tahun 2035. Sedangkan IDF memprediksi kenaikan jumlah penderita DM dari 9,1 juta pada tahun 2014 menjadi 14,1 juta pada tahun 2035. DM merupakan penyebab kematian terbesar nomor 3 di Indonesia dengan persentase sebesar 6,7%, setelah stroke sebesar 21,1% dan penyakit jantung koroner sebesar 12,9% (Kementerian kesehatan, 2014). Ironisnya, satu dari dua orang dengan diabetes tidak tahu dirinya memiliki diabetes (WHO, 2016, 1).

    DM adalah kelompok penyakit metabolik dikarakterisasikan dengan tingginya tingkat glukosa didalam darah (hiperglikemia) yang terjadi akibat defek sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya (American Diabetes Association (ADA), Expert Committee on the Diagnosis and Classification of Diabetes mellitus, 2003) dalam Tarwoto, et al., (2012, hlm. 151). Sedangkan, menurut Smeltzer dan Bare, (2013, hlm. 1220), DM adalah sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia yang disebabkan oleh kemampuan tubuh untuk bereaksi terhadap insulin menurun atau pankreas dapat menghentikan sama sekali produksi insulin. Gejala awal DM ditunjukkan dengan adanya banyak makan (polifagia), banyak minum (polidipsia), dan banyak kencing (poliuria) atau disingkat 3P (Atun, 2010, hlm. 11).

    Jenis diabetes yang paling sering terjadi adalah DM Tipe II, mencakup 85% pasien diabetes (Greenstein & Wood, 2010, hlm. 86). Pada DM Tipe II terdapat dua masalah yang berhubungan dengan insulin, yaitu resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin (Wijaya & Putri, 2013, hlm. 6). Hal tersebut dapat disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya faktor keturunan, faktor kegemukan (obesitas)  dan faktor demografi (Soegondo, et al., 2013, hlm. 8).

    Obesitas merupakan faktor utama penyebab timbulnya DM Tipe II (LeMone, et al., 2016, hlm. 654). Obesitas terjadi akibat perubahan gaya hidup dari tradisional ke gaya hidup barat, makan berlebihan, hidup santai, dan kurang gerak badan. Kategori obesitas yaitu indeks massa tubuh (IMT) 25,0-29,9 (WHO dalam Soegondo, et al., 2013). Pada obesitas, khususnya obesitas visceral (lemak abdomen) dikaitkan dengan resistensi insulin (LeMone, et al., hlm. 656). Pada keadaan kegemukan respon sel beta pankreas terhadap peningkatan kadar gula darah berkurang. Selain itu reseptor insulin pada target sel di seluruh tubuh termasuk otot berkurang jumlah dan keaktifannya (kurang sensitif) sehingga keberadaan insulin di dalam darah kurang atau tidak dapat dimanfaatkan (Ernawati, 2013, hlm. 16). 

    Peran Transformasi Leadership dalam Pencegahan dan Pengelolaan DM
    Kepemimpinan transformasi merupakan kemampuan kepemimpinan yang komprehensif dan terpadu yang diperlukan bagi individu, kelompok, maupun organisai untuk menghasilkan transformasi yang ditandai dengan perubahan pada setiap tahapan kegiatan (Hacker & Roberts, 2004). Essensi kepemimpinan transformasi tampak pada proses menginspirasi, mengembangkan, dan memberdayakan pengikutnya (Yulk, 2010).

    DM Tipe II merupakan penyakit menahun yang akan disandang seumur hidup. Oleh karena itu perlu pencegahan dan pengelolaan DM Tipe II menurut PERKENI, (2015). Pencegahan DM Tipe II meliputi pencegahan primer, sekunder, dan tersier. Pencegahan primer ditujukan untuk kelompok beresiko yang dapat dilakukan dengan penyuluhan tentang pola hidup sehat melalui program penurunan berat badan untuk mencapai berat badan ideal, latihan jasmani, dan hentikan kebiasaan merokok maupun intervensi farmakologis.

    Pencegahan sekunder adalah upaya mencegah atau menghambat timbulnya penyulit pada pasien yang telah terdiagnosis DM. Pencegahan sekunder meliputi pengendalian kadar glukosa dan faktor resiko penyulit, melakukan deteksi dini adanya penyulit dan program penyuluhan yang memegang peran penting untuk meningkatkan kepatuhan pasien dalam menjalani program pengobatan sehingga mencapai target terapi yang diharapkan.

    Pencegahan tersier ditujukan pada kelompok penderita diabetes yang telah mengalami penyulit dalam upaya mencegah terjadinya kecacatan lebih lanjut serta meningkatkan kualitas hidup. Upaya rehabilitasi pada pasien dilakukan sedini mungkin, sebelum kecacatan menetap. Pada upaya pencegahan tersier tetap dilakukan penyuluhan pada pasien dan keluarga. Materi penyuluhan termasuk upaya rehabilitasi yang dapat dilakukan untuk mencapai kualitas hidup yang optimal. Pencegahan tersier memerlukan pelayanan kesehatan komprehensif dan terintegrasi antar disiplin yang terkait, terutama di rumah sakit rujukan.

    Pengelolaan DM Tipe II bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup penderita diabetes, meliputi menghilangkan keluhan DM, memperbaiki kualitas hidup, mengurangi resiko komplikasi akut, mencegah dan menghambat progresivitas penyulit mikroangiopati dan makroangiopati, dan turunnya morbiditas dan mortalitas DM. Penyakit serebrovaskular, penyakit jantung koroner, penyakit pembuluh darah tungkai, gangguan pada mata, ginjal dan syaraf merupakan penyulit menahun akibat penyakit DM yang tidak dikelola dengan baik. Pengelolaan DM Tipe II meliputi umum dan khusus.

    Pengelolaan umum: perlu dilakukan evaluasi medis yang lengkap pada pertemuan pertama, yang meliputi: riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, riwayat komplikasi. Pengelolaan khusus meliputi: edukasi, terapi nutrisi medis (penderita DM perlu diberikan penekanan mengenai pentingnya keteraturan jadwal makan, jenis dan jumlah makanan, terutama pada mereka yang menggunakan obat penurun glukosa darah atau insulin), latihan jasmani (secara teratur 3-5 hari seminggu selama sekitar 30-45 menit, dengan total 150 menit perminggu, dengan jeda antar latihan tidak lebih dari 2 hari berturut-turut, latihan jasmani yang dianjurkan yang bersifat aerobik dengan intensitas sedang seperti jalan cepat, bersepeda santai, jogging, dan berenang), dan  intervensi farmakologis (oral dan bentuk suntikan).

    PERKENI secara terus menerus memberikan informasi baru tentang pencegahan dan pengelolaan DM di Indonesia sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi terkini. Namun, data-data yang ditunjukkan oleh WHO, IDF, maupun Riskedas memperlihatkan  bukti bahwa jumlah penderita DM di Indonesia masih sangat besar. Dan adanya perkiraan terjadi peningkatan jumlah penyandang DM di masa yang akan datang menjadi beban berat sekaligus tantangan bagi semua tenaga kesehatan yang ada. Oleh karena itu perlu peran yang optimal dari semua pihak, baik tenaga kesehatan, masyarakat maupun pemerintah, dalam usaha penanggulangan DM khususnya dalam upaya pencegahan.


    Penulis: Sukesi
    Mahasiswi Magister Keperawatan Universitas Diponegoro, Semarang.

    Transformasional Leadership dalam Meningkatkan Kepatuhan Perawat melakukan Cuci Tangan (Hand Hygiene)

    Ilustrasi Perawat. Foto: idnations.com.
    PEWARTAnews.com -- Rumah Sakit merupakan sarana prasarana layanan kesehatan yang menjadi pusat utama yang berhubungan erat dengan peningkatan derajad kesehatan. Rumah Sakit menjadi rujukan utama bilamana ada seseorang yang mengalami gangguan kesehatan baik secara fisiologis mauupun psikologis. Konsumen yang berkunjung ke rumah sakit terdiri dari konsumen internal dan konsumen eksternal. Konsumen internal meliputi semua orang yang berkerja di organisasi layanan kesehatan, pemilik, pimpinan dan seluruh karyawan rumah sakit. Konsumen eksternal meliputi pasien/klien serta keluarganya. Klien-klien yang datang ke Rumah Sakit tentunya memiliki gangguan kesehatan yang bervariasi, baik yang jenisnya menular maupun tidak menular dan kondisinya kronis ataupun akut. Bervariasinya jumlah kunjungan klien maka terjadi kontak antar klien dengan petugas layanan kesehatan, antar klien dengan klien dan antar klien dengan lingkungan Rumah Sakit. Dari hal tersebut membuat Rumah Sakit juga merupakan salah satu agen pencetus yang dapat menyebabkan penyebaran infeksi. Infeksi yang terjadi di Rumah Sakit biasanya dikenal dengan istilah “infeksi nosokomial”.

    Infeksi nosokomial merupakan infeksi yang diperoleh atau dialami pasien selama dia dirawat di Rumah Sakit. Data menunjukan bahwa sekitar 8,7% dari 55 rumah sakit dari 14 negara yang berasal dari eropa menunjukkan adanya infeksi nosokomial. Asia Tenggara sebanyak 10,0% (WHO, 2002). Kasus infeksi nosokomial di Indonesia berdasarkan data dari Rumah Sakit DKI Jakarta 9,8% perawat rawat inap mendapatkan infeksi baru, di RSUP Dr. Sadjito Surabaya 7,3% (Nugraheni, 2012).

    Dampak infeksi nosokomial antara lain meningkatkan ketidakberdayaan fungsional, tekanan emosional dan ada beberapa kasus yang mengakibatkan kecacatan sehingga menurunkan kualitas hidup, infeksi nosokomial juga menyebabkan peningkatan biaya pelayanan kesehatan karena meningkatnya lama rawat inap di rumah sakit dan terapi dengan obat-obat mahal. Infeksi juga merupakan salah satu penyebab kematian. Infeksi nosokomial saat ini diubah penyebutannya menjadi Infeksi Terkait Layanan Kesehatan “HAIs” (Healthcare-Associated Infections). Untuk mengatsi HAIs, WHO menyusun program untuk mengatasi  dengan memberlakukannya penanggulangan dan pengendalian infeksi. Di Indonesia dalam pengupayaan menurunkan angka kejadian infeksi, mencegah dan meminimalkan terjadinya infeksi pada pasien, petugas, pengunjung dan masyarakat sekitar, dibentukanya suatu badan pengendalian dan penanggulangan infeksi, yang biasa dikenal dengan istilah Pengendalian dan Penanggulagan Infeksi (PPI). Pembentukan PPI sesuai dengan pedoman pencegahan dan pengendalian infeksi di fasilitas layanan kesehatan yang diatur dalam  Permenkes Nomor 27 Tahun 2017. PPI memiliki programkerja/sasaran kerja (SNARS, 2017) kebersihan tangan, surveilans risiko infeksi, investigasi wabah (outbreak) penyakit infeksi, meningkatkan pengawasan terhadap penggunaan antimikrob secara aman, asesmen berkala terhadap risiko, menetapkan sasaran penurunan risiko serta mengukur dan me-review risiko infeksi. Teknik dasar yang paling penting dalam mencegah dan penanggulangan penularan infeksi adalah dengan mencuci tangan (Potter & Perry, 2005).

    Kepatuhan Cuci Tangan
    Cuci tangan adalah menjaga kondisi tangan tetap bersih dan mengangkat mikroorganisme yang ditangan sehingga dapat mencegah terjadinya  infeksi silang (Cross Infection). Cuci tangan dilakukan untuk membantu layanan kesehatan dalam mencegah infeksi silang dari pasien ke petugas kesehatan maupun sebaliknya dari petugas ke pasien (Nursalam, 2007). Mencuci tangan dapat dilakukan dengan menggunakan sabun dan air mengalir atau menggunakan alkohol (alcohol-based handrubs). Cuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir memiliki 12 langkah dengan waktu yang dibutuhkan 40-60 detik dan cuci tangan menggunakan alkohol memiliki 6 langkah dengan waktu 20-30 detik (WHO, 2009).

    Indikasi untuk melakukan cuci tangan ini didasarkan 5 momen yaitu, Sebelum kontak pasien, sebelum tindakan aseptik, setelah kontak darah dan cairan tubuh, setelah kontak pasien dan setelah kontak dengan lingkungan sekitar pasien (Permenkes No. 27, 2017). Proses mencuci tangan ini sudah menjadi hal paling sering dilakukan di Rumah Sakit. Namun, tidak semua langkah cuci tangan dan momen perlakukan cuci tangan dilakukan secara tepat. Disini dapat dilihat adanya unsur ketidakpatuhan perawat dalam proses cuci tangan. Hal tersebut menjadi fenomena dilapangan karena masih kurangnya perawat dalam kepatuhan mencuci tangan.

    Kepatuhan adalah suatu sikap individu yang sifatnya positif dengan menunjukkan adanya suatu perubahan yang bermakna sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai atau yang telah ditetapkan. Kepatuhan perawat adalah suatu perilaku perawat melakukan suatu tindakan, prosedur atau peraturan yang seharus dilakukan serta ditaati (Notoatmodjo, 2007). Ketidakpatuhan mencuci tangan didukung oleh penelitian (Pratama, 2015) menujukkan hasil rata-rata kepatuhan hand hygiene pada perawat sebesar 36% dengan kepatuhan tertinggi pada sebelum tindakan aseptis 50% dan terendah pada setelah menyentuh sekitar pasien 20%. Kepatuhan berkaitan erat dengan perilaku.

    Lawrence Green mengatakan bahwa  perilaku dipengruhi oleh tiga faktor yaitu, faktor predisposisi, faktor pendukung dan faktor pendorong (Noorkasiani, 2009). Pertama, Faktor predisposisi adalah mencakup pengetahuan individu, sikap, kepercayaan, tradisi, norma sosial  dan unsur-unsur lain yang terdapat dalam diri individu dan masyarakat. Kedua, Faktor pendukung ialah tersedianya sarana layanan kesehatan dan kemudahan mencapainya. Ketiga, Faktor pendorong ialah sikap dan prilaku petugas kesehatan yang perlu didukung dari pimpinan. Baik dengancara supervisi maupun pengawasan.

    Langkah pengupayaan peningkatan kepatuhan perawat dalam melakukan cuci tangan dapat dipengaruhi dengan adanya pemimpin yang dapat mengkoordinir serta memantau kinerja bawahannya. Ada beberapa gaya kepemimpinan, salah satunya kepemimpinan tranformasional.

    Transformasional Leadership
    Kepemimpinan transformasional  merupakan keadaan dimana pemimpin menjadi sosok yang mengispirasi bagi anggotanya pada situasi melakukan hal yang melebihi kepentingan pribadi malainkan kepentingan perusahaan dan mampu memberikan dampak mendalam dan luar biasa kepada para karyawan dari pola pikir yang menyelesaikan masalah dengan cara baru yang lebih baik. Pengaruh pemimpin di layanan kesehatan khususnya keperawatan juga mampu memberikan motivasi kepada staf perawat agar bekerja dengan disiplin, teliti, rasa percaya diri dan menjalin kerjasama dengan tim kerja. Memberikan kebebasan, status profesional, tuntutan tugas, memfasilitasi hubungan interpersonal yang adekuat, memfasilitasi interaksi antara perawat dengan pasien maupun tim kerja ((Luthans, 2006); (Robbins, 2008) & (Bass B.M. & & Avolio B. J., 1990)).

    Pemimpin transformasional juga  mampu membuat karyawan bergairah dalam bekerja, membangkitkan semangat dan membuat karyawan melakukan upaya ekstra untuk mencapai tujuan perusahaan. Di layanan kesehatan Rumah Sakit pemimpin perlu mengupayakan pengembangan sebuah visi yang jelas dan menarik seperti, Penyusunan Visi, Misi, filosofi, tujuan serta kebijakan di unit layanan keperawatan yang merujuk pada Visi, Misi tujuan Rumah Sakit. Hal ini juga di dukung oleh pernyataan Thyler (2003) bahwa perawat memegang peranan untuk mengubah sistem layanan kesehatan, karena pendekatan transformasional pada kepemimpinan akan cocok pada profesi layanan kesehatan yang paling baik berfungsi dalam lingkungan berbasis tim dengan menggunakan tingkat komunikasi yang tinggi. Staf perawat dalam Rumah Sakit perawat mempersiapkan kepala perawat sebagai orang yang mendemonstrasikan model kepemimpinan transformasional ( (Borkowski, 2011); (Luthans, 2006); (Robbins, 2008) & (Bass B.M. & & Avolio B. J., 1990)).

    Kepemimpnan transformasional merupakan suatu kekuatan yang mesti dimiliki pemimpin, dengan hal itu pemimpin akan mempunyai pengaruh bagi bawahan ataupun mempengaruhi bawahan. Kepemimpinan transformasional akan membuat bawahan merasa dipercaya, dihargai, loyal dan respek kepada pimpinannya. Menerapkan kepemimpinan sebagai instruktur dengan belief analytical person untuk menemukan pendekatan-pendektan baru, mengetahui proses memimpin dan dapat mengukur prosesnya serta dapat menentang prosesnya. Dari hal tersebut maka bawahan akan termotivasi untuk melakukan lebih dari yang di harapkan. Membuat target yang menantang bagi semua pengikut, meningkatkan sistem agar tercapai standart lebih tinggi dari sebelumnya, melakukan semua yang terbaik dengan membuat perencanaan secara teratur untuk pengembangan diri perawat dalam hal peningkatan kemampuan interpersonal dan intrapersonal ((Luthans, 2006); (Robbins, 2008) & (Bass B.M. & & Avolio B. J., 1990)).

    Pemimpin tranformasional menggunakan karisma, pertimbangan individual dan stimulus intelektual untuk menghasilkan upaya yang besar, efektivitas dan kepuasan bagi bawahannya ((B.L Marquis & C.J. Huston, 2010) & (Hartiti, 2013)).

    Transformational Leadership dalam Meningkatkan Kepatuhan Cuci Tangan
    Kepemimpinan tranformasional dapat kita pergunakan dalam meningkatkan kepatuhan perawat melakukan cuci tangan. Terbentuknya sosok pemimpin yang berkualitas  maka bawahan juga akan terpengaruhi. Ketika pemimpin dan bawahan sudah menjalin hubungan yang baik dalam satu lingkup kerja maka akan menghasilkan kinerja yang baik pula. Hal ini di dukung dengan penelitian (Murtiningsih, 2015), kepemimpinan transformasional berpengaruh  signifikan dan positif terhadap kinerja. Transformasional leadership juga merupakan salah satu metode kepemimpinan yang dapat diaplikasikan dalam layanan kesehatan khusunya keperawatan. Berdasarkan karakteristik kepemimpinan transformasional dapat dijadikan sebuah bagan yang menghubungkan aplikasi tranformasional leadership terhadap kepatuhan perawat dalam melakukan cuci tangan (hand hygiene).



    Berdasar bagan di atas bahwasannya kita ketahui dalam pengupayaan peningkatan kepatuhan perawat dalam melakukan cuci tangan perlu sosok pemimpin yang memiliki kemampuan tranformasional leadership. Dimana nilai-nilai yang terdapat dalam pembentukan tranformasional leadership akan membentuk seorang pemimpin yang karismatik, inspiratif, mampu memberikan stimulus intelektual dan melakukan / memperhatikan individu ataupun bawahan.

    Peran karismatik pemimpin perlu guna meningkatkan mutu layanan kesehatan yang salah satu tujuannya adalah untuk menanggulangi dan pengendalian infeksi Rumah Sakit. Untuk mencapai tujuan itu pemimpin perlu malakukan penyusunan Visi dan Misi dalam pencapai sasaran. Setelah Visi dan Misi terbentuk maka perlu adanya sounding atau pemaparan. Sehingga perawat ataupun staf yang berkerjasama dalam satu kepemimpinannya bisa mengerti dan memahami serta mampu menjalakan Misi yang telah ditetapkan.

    Peran Inspiratif pemimpin menjadi sorotan bawahan dalam proses kerja. Hal ini perlu menjadikan pemimpin yang tersorot nilai positif dengan pemimpin mampu membentuk ide-ide baru dan dapat menjadi penyalur bagi bawahan sehingga terjalin hubungan interpersonal antar perawat dengan perawat  dan antar perawat dengan pasien menjadi lebih baik. Dengan begitu maka pemimpin harus teliti terhadap kinerja bawahan dan juga harus percaya diri tidak mudah terpengaruh. Terbentuknya sebuah ide-ide baru mengenai bagaimana cara meningkatkan kepatuhan perawat dalam mencuci tangan, tentunya akan mempermudah realisasi perlakuan cuci tangan yang lebih baik.

    Peran stimulus intelektual perlu adanya metode pendekatan yang baik antara pemimpin dengan perawat pelaksanan yang melanggar atau pun tidak patuh melakukan cuci tangan. Mencari sumber apa saja yang menyebabkan hal ketidakpatuhan itu dapat terjadi sehingga pemimpin membentuk suatu formulasi yang bisa dijadikan indikator penilai terhadap kinerja perawat dalam melakukan cuci tangan. Pemimpin juga perlu demokratis dalam memecahkan konflik kepatuhan melihat dari sudut pandang bawahan mengkritisasi program yang dijalankan pemimpin. Hal ini akan membuat bawahan merasa dianggap ada dan dihargai.

    Permimpin juga perlu memiliki peran yang memperhatikan individu dengan adanya peran ini, maka perawat yang bekerja sama akan merasa dianggap dan akan terstimulus antar perawat satu dengan lainnya. Sehingga perhatian ini bisa menjadikan suati kompetitif yang positif diatara perawat dalam meningkatkan nilai kepatuhan mencuci tangan. Hal ini akan lebih baik bila pemimpin menekankan aturannya dengan punishment (hukuman) terhadap ketidakpatuhan ataupun sebaliknya mebuat reward bagi yang patuh.


    Penulis: Ns. M. Martono Diel, S.Kep.
    Pembimbing: Dr. Luky Dwiantoro, S.Kp., M.Kep.

    Aplikasi Kepemimpinan Transformasional dalam Meningkatkan Profesionalisme Perawat Lulusan SPK

    Ilustrasi perawat. Foto: idntimes.com 
    PEWARTAnews.com -- Instansi pelayanan kesehatan mengemban tugas utama untuk memberikan pelayanan kesehatan berkualitas dan aman bagi seluruh lapisan masyarakat. Peran perawat sebagai pemberi asuhan mempunyai kontribusi yang sangat besar terhadap keberhasilan pelayanan kesehatan yang paripurna kepada klien. Keberhasilan perawat sebagai pemberi asuhan keperawatan perlu didukung dalam upaya peningkatan profesionalisme. Salah satunya adalah melalui pengembangan karir perawat, dimana jenjang karir adalah sebuah sistem yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja dan profesionalisme, dengan cara peningkatan kompetensi perawat yang bisa ditempuh dengan pendidikan formal berjenjang maupun pendidikan informal.

    Seorang perawat diakui sebagai seorang perawat apabila telah lulus dari pendidikan tinggi keperawatan yang diakui oleh negara, yaitu diperoleh minimal dengan menyelesaikan program diploma tiga keperawatan. Namun, pada kenyataannya masih banyak tenaga perawat yang hanya berkualifikasi lulusan Sekolah Perawat Kesehatan (SPK). Badan Pengembangan dan Pemberdayaan SDM Kesehatan tahun 2017 melaporkan masih banyak tenaga perawat dengan kualifikasi lulusan SPK  yang didayagunakan di fasilitas-fasilitas kesehatan di seluruh Indonesia, yaitu sebanyak 19.201 perawat. Masih banyaknya perawat yang hanya lulusan SPK ini, tidak terlepas dari motivasi perawat itu sendiri untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi dan juga dukungan pemimpin sebagai pemberi ijin atau pemberi motivasi, sehingga dapat dikatakan pemimpin dengan gaya kepemimpinan yang tepat dibutuhkan untuk menyesaikan fenomena ini.

    Gaya kepemimpinan transformasional merupakan gaya kepemimpinan yang menjadi pilihan yang ideal, dimana seorang pemimpin tranformasional adalah seorang pemimpin sekaligus agen perubahan yang menginspirasi dan memotivasi bawahan untuk berubah dan menyampingkan kepentingan pribadi demi mencapai meningkatkan kemampuan yang dimiliki agar tercapai tujuan dari visi organisasi.Pemimpin transformasional dalam bidang keperawatan dapat berupa seorang Kepala Ruang maupun Kepala Bidang Keperawatan.

    Seorang pemimpin transformasional yang baik akan menjelaskan, mengarahkan dan membimbing perawat, bagaimana strategi agar visi dan misi keperawatan dapat tercapai bersamaan dengan menumbuhkan keyakinan dalam diri perawat bahwa mereka dapat melakukannya.  Pemimpin memberikan motivasi yang menginspirasi perawat berkomitmen tinggi mengedepankan mutu dan kualitas sesuai standar dalam memberikan asuhan keperawatan.

    Khususnya bagi perawat SPK, motivasi ini dapat berupa sebuah motivasi untuk melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi dengan harapan dapat meningkatkan profesionalisme, mengupgrade ilmu keperawatan dan meningkatkan jenjang karir. Bukan hanya itu, pemimpin transformasional juga merupakan seorang mentor yang menstimulus bawahannya tidak terkecuali perawat SPK dalam peningkatan kemampuan dan mengupdate bidang keilmuan di bidang keperawatan melalui bimbingan atau diikutkan pelatihan-pelatihan sesuai dengan kebutuhan pelayanan di rumah sakit. Bukan hanya itu, pemimpin tranformasional juga akan memberikan pemahaman terkait kualifikasi pendidikan minimal yang harus ditempuh perawat sebagai pemberi asuhan keperawatan adalah Diploma keperawatan, sehingga bagi bawahannya yang masih berkualifikasi perawat lulusan SPK akan diarahkan, dimotivasi dan di beri dukungan untuk mengelanjutkkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Motivasi dan dukungan dapat berupa pemberian ijin tugas belajar, dukungan moral dan pemberian beasiswa.

    Peran pemimpin transformasional dalam memotivasi dan memberi dukungan untuk melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi ini, sejalan dengan pengadaan Perkuliahan Jarak Jauh (PJJ) yang diatur dalam Permendikhub no. 108 tahun 2013 tentang penyenggaraan pendidikan jarak jauh. Pemimpin dapat lebih mudah memotivasi dan meyakinkan perawat SPK untuk melanjutkan pendidikan melalui PJJ ini, dikarenakan PJJ merupakan sebuah solusi yang sengaja disediakan Kemenkes dalam upaya pemerataan dan peningkatan kualifikasi tenaga kesehatan termasuk perawat.

    PJJ memungkinkan mahasiswa mengikuti pendidikan tanpa harus meninggalkan pekerjaan layanan kesehatan, dikarenakan PJJ menerapakan sistem pembelajaran elektronik yang merupakan sitem pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi yang dapat diakses di manapun dan kapanpun.

    Aplikasi kepemimpinan transformasional di bidang keperawatan yang melihat pentingnya kualifikasi perawat SPK perlu diupgrade dengan cara memotivasi dan memberi dukungan serta diberi kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi, diharapkan pada tahun 2020 semua perawat sudah berkualifikasi minimal pendidikan diploma tiga sesuai dengan Undang-Undang RI Nomor 38 Tahun 2014 tentang Keperawatan, sehingga menjawab permintaan akan kebutuhan tenaga perawat yang profesional.


    Penulis :
    Ns. Fhandy Aldy Mandaty, S.Kep
    Ns. Henni Kusuma, S.kep.,M.Kep.Sp.KMB

    KEPMA Bima-Yogyakarta akan Hadirkan Jena Teke untuk Isi Kuliah Tamu di Jogja

    Ketua Umum KEPMA Bima-Yogyakarta Agus Salim. 
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Muhammad Putra Ferryandi, Jena Teke (Putra Mahkota) Bima direncanakan akan mengisi Kuliah Tamu di Kethek Ogleng, Komplek Polri Gowok, Sleman, D.I. Yogyakarta Rabu (29/11/2017) pukul 15.00-17.00 WIB. Kegiatan yang tergolong insidental ini dilaksanakan oleh Keluarga Pelajar Mahasiswa (KEPMA) Bima-Yogyakarta.

    Ketua panitia pelaksana Ruslin, yang biasa di sapa Arlan ini mengungkapkan bahwa agenda kuliah tamu dibuat untuk mengetahui secara umum sejarah Kesultanan Bima, "Kami akan menggelar Kuliah Tamu dengan judul materi, Garis Besar Sejarah Kesultanan Bima dari Perspektif Jena Teke," papar Arlan di Yogyakarta, 27/11/2017.

    Lebih lanjut dia memaparkan, konsep acara adalah semi formal dan lebih cair. "Itulah kenapa kami mengadakannya di salah satu caffe di Jogja," tambahnya.

    Ketua Umum KEPMA Bima-Yogyakarta, Agus Salim mengutarakan hal senada. Menurutnya, kedatangan Putra Mahkota ke Jogja haruslah disambut dengan cara yang mencitrakan Jogja sebagai kota pendidikan. "Jogja adalah kota pendidikan. Kota budaya. Kenapa tidak kita menyambutnya dengan diskusi budaya yang langsung disampaikan putra mahkota. Saya rasa, warga Bima di Jogja cukup haus akan point-point sejarah dan budaya Bima," jelasnya.

    Untuk diketahui, kedatangan pria yang kesehariannya disapa Yandi tersebut dalam rangka mendaftarkan diri di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta untuk melanjutkan studi S2 di Kosentrasi Ketatanegaraan. Selain di Jogja, incarannya juga adalah Kampus UNPAD di Bandung. (Rizalul Fiqry / PEWARTAnews)

    LKBH Pandawa gelar Seminar Kebudayaan

    Suasana saat berlangsungnya Seminar. 
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum (LKBH) Pandawa menyelenggarakan Seminar Kebudayaan pada hari Senin, 27/11/2017, berlangsung di Teatrikal Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

    Acara ini di gelar dalam rangka memperingati hari ulang tahun LKBH Pandawa yang ke-2, dengan mengangkat tema "Merawat Kebudayaan dalam Kebhinekaan untuk Mewujudkan Keadilan Sosial".

    Acara seminar menghadirkan pemateri yang sangat kompeten di bidangnya, yakni Wadir Bimas Polda DIY Gunawan Trijambodo, S.IK., penyuluh Hukum Madya Kanwil Kemenkum dan HAM DIY Sarjiwo, S.H., M.H., Ketua Komisi A DPRD DIY Eko Suwanto, S.T., M.Si., dan Kabis Sejarah Bahasa dan Sastra Dinas Kebudayaan DIY erlina Hidayah Sumardi, S.IP., M.M., serta untuk memperlancar berjalannya acara dimoderatori oleh Agus Bintoro, S.IP.

    Direktur LKBH Pandawa Sugiarto, S.H., M.H. mengatakan bahwasannya agenda ini dilaksanakan berangkat dari situasi dan fakta sosial mengenai toleransi atas keberagaman yang sebetulnya merupakan kekayaan budaya Indonesia. Namun hal ini nampaknya tidak disambut baik oleh seluruh masyarakat Indonesia. Keberagaman budaya di Indonesia merupakan sesuatu yang tidak dapat dipungkiri keberadaannya. "Dalam konteks pemahaman masyarakat majemuk, kebudayaan bisa dilihat dari keberagaman suku, bahasa, dan agama yang ada di bumi Indonesia," beber Sugiarto.

    Lebih jauh Sugiarto memandang bahwa hadirnya keberagaman tersebut tidak terlepas dari peran manusia sebagai makhluk sosial yang memiliki sebuah ideologi. Sebuah pemikiran yang melandasi segala aktivitas, tingkah laku dan pola fikir yang akhirnya tercipta keharmonisan didalamnya.

    "Indonesia adalah Negara yang ideologinya berasaskan Pancasila, dan sebagai warga negara kita diharuskan untuk mengerti, menghayati, mengamalkan dan mengamankannya. Karena Pancasila merupakan landasan terkuat yang tersusun dari berbagai aspek dasar kehidupan," ucapnya.

    Lanjutnya, begitu pun dengan keberagaman budaya yang kita miliki merupakan keniscayaan yang ada di bumi Indonesia dengan masyarakat yang tersebar diberbagai pulau dengan berbagai budaya yang berbeda disetiap pulau tersebut, "Sehingga memberikan wujud keharusan kita untuk terus mempertahankan keberagaman budaya tersebut," harap Sugiarto.

    Beragam peserta yang hadir dalam kesempatan ini, ada mahasiswa, Organisasi Bantuan Hukum, Paguyuban Angklung Yogyakarta, Komunitas Masyarakat Arus Bawah, serta masyarakat umum.

    Acara berjalan lancar, dan terjadi interaksi yang alot antara peserta dan para pemateri. Kemeriahan dan kelancaran acara ini tidak terlepas dari kerjasama antara LKBH Pandawa, Yayasan Garda Pandawa, Paguyuban Angklung Yogyakarta, dan Lembaga Pers Mahasiswa ADVOKASIA Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. (PEWARTAnews)

    Rindu Ibu

    Ibu…
    Merana hatiku ketika menjauh darimu
    Pilu hatiku ketika senyumanmu pudar
    Sedih hatiku ketika bayanganmu muncul
    Mengingatmu mengucurkan air mataku

    Ibu…
    Dirimulah pelita hidupku
    Dirimulah surga disaat aku susah
    Dirimulah penghapus sedih dan rinduku
    Dirimulah pemotivasi hidupku

    Ibu…
    Hari-hariku penuh dengan bayanganmu
    Masihkah ibu di sana terus memikirkanku
    Masihkah ibu di sana terus mendoakanku
    Masihkah ibu di sana terus merindukanku

    Ibu…
    Doaku selalu menyertaimu
    Mengharap kita masih bisa bercanda
    Mengharap kita masih bisa makan bersama
    Mengharap ada waktu untuk memelukmu

    Ibu…
    Nasehatmu terusku ingat jadi pegangan hidupku
    Berharaplah terus untuk kesuksesanku ibu
    Ibulah pelurus doa dan harapan
    Mimpiku terus berkobar untuk membahagiakanmu


    Karya: Saharudin, S.Pd., M.Pd.I.
    Dosen STIE Muhammadiyah Berau / STIT Muhammadiyah Berau / Dosen STIPER BERAU / Pemuda Asal Bima NTB /saharudin.yuas178@gmail.com

    PSIM Gelar Aksi Damai

    Sejumlah massa supported PSIM saat aksi damai. 
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Berawal dari ketidakpastian manajemen PSIM terhadap tuntutan suporter yang disampaikan sebelumnya, suporter PSIM kembali melakukan aksi damai menuntut kepastian, Minggu (26/11/2017)
    Suporter kembali menanyakan tentang kejelasab badan hukum PSIM sendiri yang masih belum menemui kejelasannya sampai saat ini. Tidak hanya tentang badan hukum yang tidak jelas, yang mengakibatkan tersendatnya pendanaan diinternal, menurut koordinator aksi.

    Salah satu massa aksi juga menyebut sangat banyak masalah yang dihadapi oleh PSIM seperti kepemilikan saham yang menurutnya suporter juga berhak dilibatkan dalam hal kepemilikan saham. Sebagai salah satu elemen penting sepakbola di Indonesia maupun di dunia, suporter adalah elemen yang setia kepada timnya dalam kondisi apapun yang dihadapi tim. Maka tidak salah bahwa salah satu ketertarikan dalam dunia sepakbola adalah solidaritas yang dimiliki oleh suporternya dan bahkan loyalitas.

    Bentuk aksi yang dilakukan oleh suporter ini adalah bagian dari rasa cinta yang teramat sangat kepada timnya yaitu PSIM. Tuntutan yang disuarakan merupakan harapan untuk dipenuhi agar PSIM menjadi kuat dan lebih baik lagi.

    Ada hal lain yang juga disorot oleh massa aksi yaitu persoalan munculnya calo tiket pada setiap pertandingan yang jumlahnya lebih tinggi dari pada tiket diloket-loket resmi, ini sudah menjadi rahasia umum yang juga bukan dirasakan oleh suporter akan tetapi masyarakat secara luas yang memcintai sepakbola dalam negeri.

    "Maka dari itu, harapan kami bahwa pengelolaan PSIM ditata lebih baik lagi. Diperlukan transparansi menyoal anggaran yang didapati oleh tim," ujar koordinator aksi.

    Dan tuntutan terakhir adalah kejelasan penyelesaian status pre order jersey salvo yang hingga saat ini belum diselesaikan pihak manajemen.

    Seluruh persoalan yang dihadapi harus segera diselesaikan, pengelolaan serta transparasi dana merupakan hal yang segera dilaksanakan dan diperbaiki oleh pihak manajemen. Aksi yang berakhir di lokasi PSIM Store dan tanpa ditemui oleh pihak manajemen tim. (Hilful Fudhul)

    Para Hijaber Jogja Deklarasikan Cak Imin Jadi Cawapres 2019

    Paras Jogja Hijab Comunity saat deklarasikan Cak Imin jadi Cawapres 2019.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Dukungan Cawapres 2019 terhadap tokoh muda, kreatif, inspiratif peraih Doktor Honoris Causa di Universitas Airlangga Surabaya, Dr. (HC) H. A. Muhaimin Iskandar, M.Si. makin lama kian kencang dilakukan. Kali ini, Deklarasi Dukungan Cak Imin sebagai Cawapres pada pagelaran Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 hadir dari Paras Jogja Hijab Comunity.

    Paras Jogja merupakan kumpulan berbagai Komunitas Hijab yang ada di Yogyakarta. Mereka mendeklarasikan Cak Imin sang Panglima Santri Nusantara ini dalam bursa Pilpres 2019 karena dinilai sebagai sosok yang tepat dan paling dibutuhkan masyarakat di era millenial dengan berbagai kreatif dan inisiasinya.

    "Kita memberikan dukungan pasti menilai dulu dari sekian sosok nasional yang muncul dalam bursa Pencapresan 2019. Hemat kita, Cak Imin merupakan sosok yang relevan dengan berbagai tantangan dan kebutuhan millenial seperti sekarang ini," ujar Aslikh Rina selaku Koordinator Paras Jogja Hijab Comunity. (26/11/2017).

    Aslikh Rina juga menambahkan bahwa di era millenial, penting menumbuhkan skill ekonomi kreatif. "Ekonomi kreatif sangat dibutuhkan hari ini sebagai modal Indonesia menang dalam persaingan dunia. Perlu skill dan regulasi. Nah, kita yakini Cak Imin sebagai tokoh muda yang kaya inisiasi akan mampu membawa Indonesia ke arah yang lebih baik," lanjutnya.

    Deklarasi dukungan dilakukan melalui pembacaan surat "Pesan Cinta Indonesi untuk Cak Imin" dan pelepasan balon sebagain ungkapan simbolik. Deklarasi dukungan terhadap Cak Imin sebagai Cawapres 2019 oleh Paras Jogja ini digelar di Hotel Yellow Star, Jl. Laksda Adisucipto No. 23, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. *

    PC LAKPESDAM NU Kota Yogyakarta Gelar Rapat Kerja

    Foto bersama usai rapat kerja.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Pengurus Cabang Lembaga Kajian dan pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (LAKPESDAM NU) Kota Yogyakarta selenggarakan rapat kerja (Raker) Pengurus pada sore tadi, Sabtu, 25/11/2017 di Aula Pondok Pesantren Ulul Albab Balirejo, Kota Yogyakarta.

    Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Yogyakarta memberikan arahannya pada pembukaan Rapat Kerja pengurus PC LAKPESDAM NU Kota Yogyakarta, beliau berharap dengan adanya pergantian pengurus baru ini mampu bekerjasama dengan PCNU Kota Yogyakarta dalam membangun dan memberi kontribusi yang jelas bagi pembangunan umat, terkhusus bagi warga Nahdliyin di lingkungan kota Yoguakarta.

    Beliau menambahkan, sebagai Ketua PCNU Kota Yogyakarta, Ahmad Yubaidi memberikan beberapa paparan terkait keadaan dan kondisi internal pengurus, terkait kerja-kerja ke depan serta kondisi warga nahdliyin di tingkat Kota Yogyakarta.

    Turut hadir dalam pembukaan Rapat Kerja (Raker), Ainul Yaqin sebagai perwakilan pengurus wilayah LAKPESDAM NU Daerah Istimewa Yogyakarta. Beliau berharap untuk adanya perubahan besar terkait kerja-kerja pengurus, tantangan pengurus NU di tingkat Kota Yogyakarta sangat berbeda dengan daerah-daerah yang lain, yaitu terkait kultur masyarakat yang terbangun di kota Yogyakarta yang agak berbeda dengan daerah seperti di Sleman, Bantul, Gunung Kidul dan Kulonprogo, NU di daerah yang disebut itu lumayan kuat dibanding di tingkat Kota Yogyakarta.

    Harapan lainnya, ialah pengurus LAPKESDAM Yogyakarta yang sudah di SK dan dilantik untuk bekerja ekstra membangun, mengembangkan NU terkait LAKPESDAM, seperti kajian-kajian Islam Nusantara juga perlu dikaji lebih dalam dan meluas ke seluruh masyarakat. Islam sedang mengalami tantangan besar, terkait pemahaman Islam Radikal dan beberapa negara mengalami teror seperti Bom di tempat-tempat peribadatan.

    "Sebagi pengurus NU, kita perlu membentengi masyarakat terhadap pemahaman yang menyeleweng dari ajaran Islam sesungguhnya atau di NU yang mengusung Ahlu Sunnah Wal Jam'ah (Aswaja)," tambah Ainul Yaqin.

    M. Jamil juga menambahkan sebagai Ketua PC LAKPESDAM NU Kota Yogyakarta, harapannya program-program yang dibuat oleh jajaran pengurus akan mampu menjawab kebutuhan umat ataupun kebutuhan internal. Seperti contoh bidang media dapat menjadi komando untuk menangkal paham Islam Radikal melalui media sosial, melakukan pelatihan jurnalistik. Begitupun dengan bidang-bidang yang lain untuk berpikir jauh dalam membuat program kerja dengan basis-basis kajian.

    Terakhir, Ainul Yaqin menutup dengan kata-kata motivasi yaitu dengan mengurus NU tanpa embel-embel, insya Allah menjadi murid KH. Hasyim Asy'arie sebagai tokoh pendiri dan ulama Nusantara. Rangksian  acara pun ditutup dengan doa bersama yang langsung dipimpin oleh Ketua PCNU Kota Yogyakarta Kyai Ahmad Yubaidi yang bertempat di Ponpes Ulul Albab Balirejo, Muja Muju Kota Yogyakarta. (Hilful Fudhul / PEWARTAnews)

    Akibat Ulah Manusia

    PEWARTAnews.com -- Cerah-ceria bergelinang cahaya dunia. Mengikis kesegaran yang ada di alam semesta. Terkucur bintik-bintik neraka di dada. Siang malam terus tidak memunculkan keakraban, itulah keresahan yang terus menggerogoti tubuh. Terasa tidak ada surga di bulatan neraka sekejap.

    Daun-daun lelah bagai terbakar orang yang berladang. Hembusan nafas neraka melelehkan pepohonan dan dedaunan, rumput-rumput bagai tikar pandan yang siap dibakar. Air dunia meresap tanpa sadar, akan penghuni dataran bumi. Hewan-hewan bertebaran mencari jejak surga di setiap sudut-sudut alam untuk menenangkan jiwa dan raganya dalam mencari secuil keringat alam untuk menunjang kehidupan.

    Manusia kebingungan bagaikan gempa bumi yang menggetarkan lantai pengistrahatan. Memikirkan ketenangan yang menyerang jasad. Harapan tetesan surga terus menggebu, menunggu kasih sayang dari-Nya. Dugaan terus menghantui, salah apa dan siapa, atas tertimpanya ketidakdamaian di wadah pengistirahatan. Hiruk-pikuk bagai kiamat memuntahkan isi bumi.

    Rukuk dan sujud mengharap tercurahkan bintik-bintik surga, salah dan dosa disadari, tapi tidak diketahui. Merumpun doa-doa yang akan disetor kepemilik langit-bumi, menunggu anugerah tercurah, bagai kucuran langit yang menimpa lantai bumi.

    Ketidakrukukan memancing amarah pemilik jagad raya. Pertumpahan darah menghilangkan rasa persaudaraan. Rasa sombong, menganggap diri lebih, dan merendahkan orang lain adalah sifat yang hina-dina. Kesatuan untuk arak-arakan menopang kekuatan syaitan. Durhakamu untukmu, angkuhmu untukmu, semua amalmu untukmu. Naar menunggu yang berkumuran dosa sedang jannah menanti yang melimpah ruah amal kebajikan.

    Dunia sudah tidak bersahabat ataukah manusia yang sudah tidak bersahabat dengan alam yang terbentang luas ini? Nikmat-Nya tidak terhitung tetapi kita mengingkari. Kemarahan anak surga bukan kemauannya sendiri, sedang meresapnya keringat surga bukan kehendak-Nya. Apakah kamu tau salah itu apa?


    Karya: Saharudin, S.Pd., M.Pd.I.
    Dosen STIE Muhammadiyah Berau / STIT Muhammadiyah Berau / Dosen STIPER BERAU / Pemuda Asal Bima NTB /saharudin.yuas178@gmail.com

    Sebentar Lagi Wisata Air Terjun Bombo Ncera Akan Diresmikan

    Informasi peresmian Bombo Ncera.
    Bima, PEWARTAnews.com -- Tempat wisata atau objek wisata merupakan sebuah tempat rekreasi atau tempat berwisata. Objek wisata dapat berupa objek wisata bangunan seperti museum, candi-candi/situs peninggalan sejarah, dan lain-lain.  Ada juga objek wisata alam seperti danau, sungai, pantai, gunung, laut bahkan air terjun. Diseluruh penjuru dunia, dari berbagai negara hingga dari kota ke kabupaten sudah banyak bangat yang namanya tempat-tempat wisata, baik objek wisata bagunan maupun objek wisata alam. Berbicara wisata, salah satu desa yaitu desa Ncera yang ada di Kecamatan Belo, Kabupaten Bima, provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) sebentar lagi akan launcing atau dibuka secara resmi tempat wisata baru yaitu Wisata Air Terjun Bombo Ncera. Wisata Air Terjun Bombo Ncera sebentar lagi akan diresmikan pada 26 November 2017 mulai jam 08:00 WITA di Bombo Ncera dengan mengangkat tema “Takasama Weki, Kasabua Nuntu demi Perkembangan Wisata Bombo Ncera”. Suasana dalam memeriahkan peresmian wisata Bombo Ncera nantinya akan dimeriahkan dengan berbagaimacam rangkaian kegiatan, seperti Tari, Patu Cambe (Pantun Muda-Mudi) menggunakan bahasa Daerah Bima.

    “Besok (26/11/2017) dalam acara peresmian wisata alam Bombo Ncera panitia berencana akan menghadirkan Bupati Bima ibu Dinda (baca: Dinda Damayanti Putri), terus mengundang seluruh kepala Desa, Karang Tarunan se-Kecamatan Belo, Bagian (Dinas, red) Pariwisata yang ada di Kota Bima hingga pelajar sekecamatan Belo. Mungkin dengan ini kecamatan Belo akan merasa damai dan solid, dalam acara nanti akan kita tampilkan Hadora, Tari Tradisional Lopi Penge dan patu cambe (Pantun Muda-Mudi). Semoga wisata Bombo Ncera menjadi wisata yang di kenal oleh seluruh dunia,” tutur Aswad, S.Pd. selaku ketua Umum Komunitas Pemuda Pemerhati Bombo Ncera (KPPBN).

    Ini juga merupakan perwujudan dari kerja bersama dan kerja nyata dalam mengembangkan Wisata Air Terjun Bombo Ncera. Wisata Air Terjun bombo Ncera siap dikatakan tempat wisata baru yang ada di desa Ncera pada (26/11/2017) mendatang.

    “Untuk pemuda/i Kecamatan Belo khususnya di desa Ncera jangan membuat kerusuhan demi kenyamanan pengunjung wisata dan semoga bisa sama-sama menjaga wisata air terjun Bombo Ncera seperti kita menjaga rumah kita sendiri, saling menghargai karya yang dibuat oleh pemuda/i desa khususnya Komunitas Pemuda Pemerhati Bombo Ncera (KPPBN), karena kita membangun bombo Ncera dengan niat yang tulus, hati yang ikhlas menggunakan modal pribadi dan kemauan yang besar tanpa mengharapkan imbalan sedikitpun, karena kami mempunyai tujuan ingin membangun rasa ro dana Ncera yang lebih baik,  dan yang paling penting dengan adanya tempat wisata ini pemerintah desa juga harus mendukung sepenuhnya,” tutur Aswad.

    Mari kita sama-sama dukung dan membangun tempat wisata Air Terjun Bombo Ncera, salahsatu caranya dengan ikut meriahkan dan menonton serta menyaksikan acara-acara peresmian Wisata Air Terjun Bombo Ncera.


    Pewarta: Siti Hawa
    Mahasiswi Ilmu Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    PSKH Sukses Gelar Kompetisi Debat Politik Se-Jawa dan Seminar Nasional

    Sri Sultan Hamengkubuwono X saat mengisi materi Seminar Nasional.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Pusat Studi dan Konsultasi Hukum (PSKH) Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sukses menggelar acara Kompetisi Debat Politik-Hukum Se-Jawa dan seminar nasional yang diselenggapakan di Gedung Prof. Soenarjo (Convention Hall) lantai 1 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (20/11/2017). Suasana ruang kegiatan disesaki oleh para peserta kompetisi debat dan peserta seminar nasional yang datang dari berbagai instansi.

    Acara tersebut diawali dengan final Kompetisi Debat Politik-Hukum Se-Jawa. Tim Jendral Soedirman bertemu dengan Tim Bung Tomo. Keduanya saling beradu argumen di hadapan dewan juri dan para penonton. Setelah berdebat cukup alot, akhirnya debat tersebut dimenangkan oleh Tim Bung Tomo. Mereka berhasil mendapat predikat juara 1 setelah dimenangkan oleh 6 juri dari 7 juri yang ada.

    Gedung Prof. Soenarjo (Convention Hall) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta semakin dipadati oleh orang-orang ketika Prof. Yusril Ihza Mahendra, M.Sc. masuk ke dalam ruangan. Salah satu pakar hukum tata negara Indonesia itu menjadi pembicara dalam seminar nasional yang bertemakan: “Ke-Bhinneka-an dan Masa Depan Indonesia, Peran Pemuda dalam Rangka Menjaga Keutuhan NKRI”. Yusril dalam pemaparannya mengatakan bahwasannya hukum di Indonesia harus meliputi integrasi dari Hukum Adat, Hukum Islam dan hukum nasional (warisan Belanda). Hal ini dikarenakan Indonesia adalah negara yang plural, yang juga mengedepankan nilai-nilai ke-Islaman.

    Selain menghadirkan Prof. Yusril, PSKH juga menghadirkan Sri Sultan Hamengkubuwono X (Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta). Sultan berbicara di hadapan para peserta seminar agar senantiasa menjaga dan memelihara kearifan lokal (local widom) yang ada. Sebab, keanekaragaman yang ada di Indonesia merupakan sebuah kekuatan. “Menurut pendapat saya, maka itu bukanlah kelemahan, tetapi mestinya menjadi kekuatan,” tutur Sultan. Seminar nasional tersebut juga dihadiri oleh Puguh Dwi Kuncoro dari Yayasan Indonesia Youth Dream yang memandang dari perspektif pemuda.

    Kedua acara tersebut merupakan rangkaian acara Pekan Hukum 2017. Sebuah agenda tahunan dari Pusat Studi dan Konsultasi Hukum (PSKH) Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sebelumnya telah dilaksanakan Sekolah Hukum. Pekan Hukum tahun ini sendiri mengusung tema: “Merajut Ke-bhinneka-an, Mewujudkan Supremasi Hukum, Mengejawantahkan Persatuan Bangsa”. Tema ini diusung dengan maksud dan tujuan agar senantiasa menjaga dan memelihara keutuhan NKRI di tengah problematika yang ada saat ini.
    Suasana Final Kompetisi Debat Politik-Hukum Se-Jawa.

    Pusat Studi dan Konsultasi Hukum (PSKH) adalah salah satu UKM fakultas yang ada di lingkungan Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogykarta. Pada tahun ini, PSKH merayakan ulang tahun (dies natalies) yang ke-26. Pekan Hukum 2017 sendiri adalah agenda yang dilaksanakan dalam rangka merayakan lahirnya PSKH.


    Penulis: Aji Baskoro
    Panitia Bidang PDD Pekan Hukum PSKH 2017.

    Puisi: "Pemimpinku"

    Engkau adalah harapan bangsaku
    Di tanganmulah kejayaan negeri ini kan tergapai
    Kesabaranmu akan diuji oleh kakimu
    Kaki dan jari jemarimu yang engkau pilih sendiri

    Tak sedikit tindakan bijakmu yang mendapat sorakan dari rakyatmu
    Tak sedikit insan yang tidak setuju akan roda kepemimpinanmu
    Namun, tak sedikit pula malaikat yang mengaminkan tindakan muliamu

    Pemimpinku,
    Masa lalu negerimu tak perlu kau cemaskan
    Langkah baru yang mengharumkan negeri ini dinanti rakyatmu
    Keharuman itu memunculkan kembali ruh negerimu

    Pemimpinku,
    Bangsa ini butuh orang yang terus kerja
    Tak butuh orang yang terus berteori
    Butuh kejujuran dan komitmen dalam berusaha
    Tak butuh perintah, tapi butuh contoh

    Pemimpinku,
    Teruslah mengembangkan fisik negerimu
    Tapi, janganlah lupakan jiwa bangsamu
    Mental negerimu janganlah kau buat goyah
    Teruslah benahi hingga ujung kursimu
    Cabutlah pohon-pohon negeri ini yang tak berbuah
    Tak bermanfaat untuk dijadikan tempat bernaung
    Adanya hanya memikirkan akar sendiri
    Dia tak juga mengeluarkan bunga yang menyenangkan untuk dipandang

    Rupiahmu terus dikoyak oleh kerakusannya
    Kekayaan alammu terus diperjual belikannya
    Dia tak berfikir negerinya sendiri ia hancurkan
    Dia tak ingat, yang ia ambil adalah neraka baginya

    Pemimpinku, ditanganmulah derajat negeri ini
    Di tanganmulah nasib rakyatmu
    Rakyatmu yang setia menunggu perjuanganmu
    Perjuanganmu melawan keterpurukan mental negeri ini
    Ketika mental negerimu mampu kau merombaknya
    Disitulah, perjuanganmu menjadikan Indonesia hebat, di mata bangsa lain

    Tema: Revolusi Mental Ala Jokowi
    Judul: Pemimpinku


    Karya: Saharudin, S.Pd., M.Pd.I.
    Dosen STIE Muhammadiyah Berau / STIT Muhammadiyah Berau / Dosen STIPER BERAU / Pemuda Asal Bima NTB /saharudin.yuas178@gmail.com

    Peningkatan Mutu Pelayanan Keperawatan Melalui Peningkatan Pendidikan Perawat SPK (Bagian 2)

    Ilustrasi Perawat. (Foto: jobdesc.net)
    PEWARTAnews.com – Sejak 2008 PPNI, AIPNI dan dukungan serta bekerjasama dengan Kemendiknas melalui project Health Profession Educational Quality (HPEQ), melakukan pembaharuan dan penyusunan kembali Standar Kompetensi Perawat Indonesia, Naskah Akademik Pendidikan Keperawatan Indonesia, Standar Pendidikan Ners, standar borang akreditasi pendidikan ners Indonesia (PPNI, 2017). Semua standar tersebut mengacu pada Peraturan Presiden No. 8 tahun 2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) dan saat ini sudah diselesaikan menjadi dokumen negara yang berkaitan dengan arah dan kebijakan tentang pendidikan keperawatan Indonesia. Berdasarkan level KKNI, DIII Keperawatan masuk pada level 5, Ners (sarjana+ners) level 7, magister keperawatan dan/atau ners spesialis level 8, serta doktor keperawatan level 9 (Presiden RI, 2012a). Pengukuran kompetensi terhadap lulusan pendidikan vokasi dan profesi dilakukan melalui uji kompetensi untuk menilai pengetahuan, keterampilan dan perilakunya. Jika telah lolos uji kompetensi akan mendapatkan sertifikat kompetensi sebagai pengakuan atas kompetensi yang dimilikinya untuk melakukan praktik keperawatan. Sertifikat kompetensi yang telah didapat digunakan untuk mendapatkan STR dan SIPP sebagai aspek legal izin melakukan praktik keperawatan profesional (DPR RI, 2014b). Perawat dengan pendidikan SPK tidak dapat mengikuti uji kompetensi sebagai perawat vokasi maupun profesi, sehingga tidak dapat memiliki STR dan SIPP untuk melakukan praktik keperawatan profesional. 

    Lahirnya Pendidikan Universitas Terbuka bagi Lulusan SPK
    Rencana peningkatan mutu tenaga kesehatan tahun 2020 yang harus memenuhi kualifikasi minimal Diploma III, menjadi dasar beberapa pihak untuk melakukan percepatan atau penyetaraan tenaga kesehatan yang belum DIII. Universitas Terbuka (UT) bekerjasama dengan 9 asosiasi bidang kesehatan di Indonesia untuk penyelenggaraan Pendidikan Tinggi Jarak Jauh (PTJJ) di lingkungan Dinas Kesehatan seluruh Indonesia. Sebagai upaya bersama meningkatkan SDM kesehatan di Indonesia, kerjasama ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman pada 3 Desember 2015 di Auditorium Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Kesehatan, Jakarta (Universitas Terbuka, 2015). Pada saat penandatanganan nota kesepahaman tersebut, ternyata UT belum memiliki Program Studi DIII Perawat, dan baru akan mengajukan usulan untuk program studi baru. Padahal pada saat itu masih dalam posisi monotarium berdasar SE Kemenristek Dikti No. 1104/C/KL/2015 tentang pengumuman pembukaan program studi pada PTN tahun 2016 dan No. 1105/C/KL/2015 untuk PTS (Kemenristekdikti, 2015).

    Selain itu, UT menerapkan sistem belajar jarak jauh dan terbuka. Istilah jarak jauh berarti pembelajaran tidak dilakukan secara tatap muka, melainkan menggunakan media, baik media cetak (modul) maupun non-cetak (audio/video, komputer/internet, siaran radio, dan televisi). Makna terbuka adalah tidak ada pembatasan usia, tahun ijazah, masa belajar, waktu registrasi, dan frekuensi mengikuti ujian. Batasan yang ada hanyalah bahwa setiap mahasiswa UT harus sudah menamatkan jenjang pendidikan menengah atas (SMA atau yang sederajat) (Universitas Terbuka, n.d.).

    Berdasarkan Pasal 14 Permendikbud No 109 Tahun 2013 disebutkan, bahwa Pendidikan Tinggi Jarak Jauh (PTJJ) dapat diselenggarakan setelah mendapat izin Menteri dan diberikan kepada Perguruan Tinggi penyelenggara PTJJ yang mempunyai izin Program Studi secara tatap muka dalam Program Studi yang sama. Pasal 15 juga mensyaratkan bahwa Prodi tatap muka sejenis dilakukan PT yang sudah terakreditasi A yang  dapat menyelenggarakan PTJJ, baik di dalam maupun di luar wilayah Indonesia (Kemendikbud, 2013). Berdasarkan peraturan tersebut, UT tidak memiliki kewenangan untuk menyelenggarakan program PTJJ karena belum memiliki izin operasional dan memiliki prodi keperawatan terakreditasi A. Selain itu juga berpotensi menimbulkan pertanyaan apakah dengan PTJJ mampu menjamin kualitas dari kompetensi lulusan peserta didik sebagai perawat profesional.

    Rekognisi Pembelajaran Lampau
    Menteri kesehatan mengeluarkan peraturan nomor 41 tahun 2016 tentang program percepatan peningkatan kualifikasi pendidikan bagi tenaga kesehatan di bawah DIII sebagai upaya peningkatan kompetensi dan kualitas pelayanan kesehatan (Kemenkes, 2016). Program tersebut dilakukan melaui Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) yang kemudian pedoman pelaksanaannya diatur di dalam SK Dirjen Kemenristekdikti No 123/B/SK/2017 (Kemenristekdikti, 2017).

    Pengakuan terhadap rekognisi pembelajaran lampau (Recognition of Prior Learning) telah diidentifikasi sebagai strategi yang tepat untuk meyakinkan bahwa seseorang tidak harus memulai dari awal untuk mendapatkan pengakuan keterampilan berharga yang sudah dimilikinya (ANTA, 2000). RPL merupakan pengakuan atas capaian pembelajaran seseorang yang diperoleh dari pendidikan formal, non formal, informal, dan/atau pengalaman kerja ke dalam pendidikan formal (Kemenkes, 2016). Sehingga seseorang tidak harus memulai dari awal untuk mendapatkan pengakuan keterampilan berharga yang sudah dimilikinya (Kemenristekdikti, 2017). Apabila setelah dilakukan RPL masih terdapat kekurangan satuan kredit semester, maka kekurangan tersebut ditempuh melalui pendidikan formal yang diadakan oleh program studi terakreditasi minimal B. Pada akhir Pendidikan formal yang telah dijalani, peserta RPL tetap harus menjalani uji kompetensi sesuai peraturan yang berlaku (Kemenkes, 2016).

    Penutup
    Peningkatan mutu pelayanan keperawatan melalui peningkatan pendidikan dan kompetensi perawat SPK sampai saat ini masih dinilai dari sisi administrasi saja. Dengan pengalaman yang dimiliki oleh perawat SPK, bisa jadi kualitas pelayanannya lebih baik dari perawat yang DIII maupun Ners. Akan tetapi yang perlu digaris bawahi di sini adalah legalitas dari perawat SPK yang mana tidak memiliki STR. Untuk mendapatkannya harus melalui uji kompetensi dengan syarat minimal pendidikan DIII.

    Pengawasan STR di rumah sakit begitu ketat, berdasar surat edaran No. 864/SE/KARS/VIII/2017 seluruh staf medis yang memberikan asuhan kepada pasien di rumah sakit memiliki STR dan SIP yang valid (KARS, 2017) Lalu yang menjadi pertanyaan bagaimana dengan pengawasan dan evaluasi bagi perawat yang memberikan pelayanan keperawatan di komunitas, baik itu yang membuka praktik mandiri maupun di fasilitas pelayanan kesehatan.

    Kebijakan pemerintah terkait RPL perlu menjadi perhatian dan pertimbangan terkait peningkatan pendidikan dan kompetensi bagi perawat SPK sebagai upaya dalam meningkatkan pelayanan kesehatan.


    Penulis: Ns. Fida’ Husain, S.Kep.
    Mahasiswa Magister Keperawatan Universitas Diponegoro 2017, Konsentrasi Keperawatan Dewasa

    Peningkatan Mutu Pelayanan Keperawatan Melalui Peningkatan Pendidikan Perawat SPK (Bagian 1)

    Ilustrasi Perawat. (Foto: tvm.com.mt)
    PEWARTAnews.com – Kualitas pelayanan kesehatan sangat berkaitan erat dengan kualitas tenaga pemberi layanan kesehatan. Perawat memiliki peran penting dalam pemberian layanan kesehatan, karena sebagian besar tenaga kesehatan indonesia adalah perawat. Perawat di Indonesia jumlahnya paling banyak bila dibandingkan dengan tenaga kesehatan lainnya, yaitu 309.017 orang yang terdata di Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan (BPPSDMK) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2016. Akan tetapi dari jumlah yang terdata tersebut, perawat dengan pendidikan Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) masih sebanyak 6,2% atau 19.201 orang (BPPSDM, 2017). Pendidikan SPK setingkat dengan SLTA dan merupakan jenjang pendidikan terendah bagi seorang perawat (Asmadi, 2008).

    Berdasarkan Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2014 dan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2014 mengatakan bahwa lulusan SPK masih diberikan kewenangan praktik keperawatan hingga tahun 2020, karena untuk melanjutkan praktiknya perawat harus memiliki ijazah minimal Diploma III (DPR RI, 2014a, 2014b). Jika sampai batas waktu yang ditentukan belum memenuhi persyaratan, perawat dengan latar belakang pendidikan SPK, maka akan diberhentikan hak praktiknya baik praktik mandiri maupun di RS. Ketua DPD PPNI Jawa Timur Prof. Dr. Nursalam, M.Nurs. (Hons) menjelaskan seperti yang dikutip dalam SURYA Online bahwa tenggang waktu yang diberikan tersebut merupakan kesempatan bagi perawat untuk bisa melanjutkan pendidikan formalnya. Perawat minimal harus ijazah memiliki minimal D3 Keperawatan, karena itulah syarat untuk mengikuti uji kompetensi dan mendapatkan surat tanda registrasi (STR) (Sofiana, 2016).

    Sejarah Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) di Indonesia
    Sejarah mencatat, keperawatan memiliki pendidikan yang begitu kompleks. Berawal dari didirikannya Sekolah Pengatur Rawat (SPR) di Rumah Sakit Tantja Badak (sekarang Rumah Sakit Hasan Sadikin) pada tahun 1952 yang kemudian berubah nama menjadi Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) (Asmadi, 2008). Lama pendidikan SPK dirancang tiga tahun dengan latar belakang pendidikan lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP). SPK telah menyumbang tenaga keperawatan dalam jumlah yang besar pada waktu itu, karena mayoritas pendidikan di Indonesia pada saat didirikan adalah SPK (Priharjo, 2008). Pada tahun 1962 mulai didirikannya pendidikan akademi keperawatan (AKPER) di Jakarta. Hingga pada tahun 1985 dibukalah program pendidikan sarjana keperawatan pertama di Universitas Indonesia untuk mencetak tenaga perawat yang profesional melalui pengembangan pendidikan keperawatan (Asmadi, 2008).

    Seiring berjalannya waktu, pendidikan tinggi keperawatan semakin berkembang. Sistem Kesehatan Nasional (SKN) menyatakan bahwa penyelenggaraan pendidikan vokasi, sarjana, dan profesi tingkat pertama adalah institusi pendidikan tenaga kesehatan yang telah diakreditasi oleh asosiasi institusi pendidikan kesehatan yang bersangkutan. Sedangkan dalam Sistem Pendidikan Nasional (SPN) berdasar UU No 20 Tahun 2003 dijelaskan bahwa apa yang dimaksud dengan pendidikan akademik, profesi dan vokasi yang semuanya diselenggarakan melalui pendidikan tinggi.

    Bila dilihat dari pernyataan dalam SKN dan SPN dapat disimpulkan bahwa penyelenggaraan SPK sudah tidak sesuai lagi. Hal ini ditanggapi antara lain dengan mengonversikan SPK menjadi jenjang pendidikan diploma tiga dan menunjuk AKPER yang melaksanakan program ini dan dengan memberi kesempatan kepada perawat lulusan SPK untuk melanjutkan pendidikannya (Asmadi, 2008).

    Peran Kepemimpinan Transformasional
    Beberapa penelitian menyebutkan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap motivasi perawat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi antara lain faktor pengembangan karir (Sandi, 2016), gaji, jabatan (Supriyanti, 2015), penghargaan (Setyaningsih, Wuryanto, & Sayono, 2013) dan dukungan pimpian (Rahmawati, Komarudin, & Angraeni, 2014; Setyaningsih et al., 2013).

    Gaya kepemimpinan transformasional memiliki peran penting dalam penentuan kebijakan percepatan pendidikan tenaga kesehatan, khususnya perawat SPK sebelum tahun 2020. Kepemimpinan transformasional merupakan tipe kepimimpinan yang mempengaruhi bawahan sehingga bawahan merasakan kepercayaan, kebanggaan, loyalitas dan rasa hormat terhadap atasan serta termotivasi untuk melakukan lebih dari apa yang diharapkan (Yukl, 2010).

    Pemerintah, organisasi profesi, asosiasi pendidikan dan pimpinan institusi memiliki peran penting dalam peningkatan pendidikan dan kompetensi perawat SPK. Sejauh ini pemerintah telah mengeluarkan regulasi terkait peningkatan mutu pelayanan kesehatan dan peningkatan SDM. Organisasi profesi dan asosiasi pendidikan telah membuat standar kompetensi perawat serta bekerja sama dengan pemerintah sebagai upaya meningkatkan pendidikan dan kompetensi perawat.

    Standar Kompetensi Perawat di Indonesia
    Kompetensi tenaga kesehatan harus setara dengan kompetensi tenaga kesehatan di dunia internasional, sehingga registrasi tenaga kesehatan lulusan dalam negeri dapat diakui di dunia internasional (Presiden RI, 2012b). Saat ini, pendidikan tinggi keperawatan yang diakui di Indonesia berdasarkan UU No 38 tahun 2014 dan Kepmen Riset Dikti No 257/M/KPT/2017 adalah pendidikan vokasi (DIII Keperawatan), pendidikan akademik (sarjana, magister, doktoral) dan pendidikan profesi (ners, spesialis) (DPR RI, 2014b; Kementerian Riset dan Dikti, 2017). Pendidikan vokasi merupakan pendidikan yang diarahkan terutama pada kesiapan penerapan dan penguasaan keahlian keperawatan tertentu sebagai perawat. Pendidikan akademik merupakan pendidikan yang diarahkan terutama pada penguasaan dan pengembangan disiplin ilmu keperawatan yang mengcakup program sarjana, magister, doktor. Sedangkan pendidikan profesi merupakan pendidikan yang diarahkan untuk mencapai kompetensi profesi perawat (PPNI, 2017).


    Penulis: Ns. Fida’ Husain, S.Kep.
    Mahasiswa Magister Keperawatan Universitas Diponegoro 2017, Konsentrasi Keperawatan Dewasa

    Pengalaman Menarik sebagai Anggota Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK)

    PEWARTAnews.com -- Menjadi anggota Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) merupakan wujud konkrit Penulis dalam melancarkan penyelenggaraan kepemiluan di tanah air tercinta, khususnya di daerah tempat Penulis berdomisili (Bangun, Kec. Sambaliung, Kab. Berau) untuk Pilgub Kalimantan Timur 2018. Sebagai Negara yang komit terhadap kedemokrasiannya, maka sudah selayaknya kita sebagai warga negara ikut andil dalam menyelenggarakan pesta demokrasi, baik secara nasional maupun secara regional. Seperti halnya menjadi anggota PPK yang Penulis lakoni sekarang.

    Sebenarnya tidak semesti harus masuk dalam struktural KPU (dari pusat hingga ke daerah) atau penyelenggara pemilu untuk menyatakan diri sebagai insan yang ikut andil melancarkan urusan demokrasi. Hal yang paling kecil menurut Penulis terhadap urusan ikut andil tersebut, dapat juga disalurkan melalui animo kita untuk mengikutsertakan diri dalam suasana mencoblos (Pilpres, Pilgub, Pilbup/Pilwakot, Pilkakam, maupun Pileg di tingkat pusat maupun daerah), baik sebagai status Daftar Pemilih Sementara (DPS), Daftar Pemilih Tetap (DPT), maupun sebagai Daftar Pemilih Tambahan (DPTb).

    Penulis dilantik menjadi PPK, tepat pada hari Jumat, 10 November 2017 sampai dengan hari ini, 17 November 2017 berarti tepat satu minggu dengan pemublikasian tulisan ini. Pelantikan tersebut, berlangsung di hotel Bumi Segah (Tanjung Redeb, Berau, Katim). Langsung dilantik oleh ketua KPUD Berau, Roby Maula, S.Hut.

    Tugas ini merupakan amanah baru bagi Penulis yang harus dilakoni dengan penuh integritas, jujur, adil, dan bebas rahasia. Menjalani tugas sebagai PPK, bagi Penulis, ini merupakan kali pertama. Awalnya hanya berniat mencari pengalaman supaya tidak buta sama sekali dengan urusan kepemiluan. Betapa awamnya Penulis dengan urusan ini, sampai umur sekarang (30 tahun), Penulis hanya tau kepanjangan dari TPS dengan seputar singkatan dari pemilihan presiden sampai pemilihan kepala daerah juga pemilihan legislatif. Berkat keseriusan dalam mencari pengalaman, Penulis pun mulai mem-browsing tentang urusan kepemiluan, baik yang berkaitan dengan singkatan yang sudah lazim, UU Kepemiluan, PP samapai pada PKPU Nomor 3 tahun 2015. Akhirnya, Penulis mulai terpahamkan dengan singkatan-singkatan maupun peraturan yang berkaitan dengan urusan kepemiluan.

    Sebagai peserta yang ingin melewati berbagai seleksi, baik seleksi administrasi, tes tertulis, maupun tes wawancara, maka sudah sewajarnya Penulis menyiapkan diri dengan sungguh-sungguh. Untuk membuktikan animo tersebut, Penulis berusaha memenuhi berbagai persyaratan untuk mendaftar dan mem-browsing materinya satu minggu sebelum dihadapkan dengan tes tertulis dan tes wawancara.

    Dalam Pasal 16 Undang-undang Nomor 10 Tahun 2016 mengatakan bahwa anggota PPK berjumlah sebanyak 5 orang, dengan rincia 30% keterwakilan perempuan dan 70% laki-laki. Tetapi, pada UU terbaru Nomor 7 Tahun 2017 menyaratkan PPK itu hanya 3 orang, tetap ada porsi khusus bagi perempuan. Namun karena instruksi KPU Berdasarkan Surat Edaran KPU nomor 324/KPU/VI/2016  dijelaskan bahwa pedoman pembentukan PPK, PPS dan KPPS masih menggunakan PKPU Nomor 3 tahun 2015, maka anggota PPK masih stagnasi dengan aturan lama, sewalaupun ketukan palu terhadap UU baru Nomor 7 tahun 2017 sudah dijatuhkan. Baru akan diberlakukan 3 orang anggota PPK, apabila Pilpres dan Pileg 2019 mendatang.

    Akhirnya kami berlima, terpilih menjadi anggota PPK Kecamatan Sambaliung, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur untuk Pilgup 2018 nanti. Keanggotaan yang perpilih dari 10 orang yang mendaftar khusus di Kecamatan tempat domisili Penulis, empat orang dari kecamatan (internal instansi Kecamatan) dengan Penulis sendiri sebagai akademisi.

    Setelah terpilih, kami pun secara internal melakukan rapat untuk menentukan devisi dan daerah koordinasi (pembagian wilayah tupoksi), yakni pada hari Minggu, 12 November 2017. Pak Mulyadi yang sudah ditunjuk secara aklamasi oleh kami berempat sebagai ketua, menangani devisi logistik, Pak Edwin (nama pendek) sebagai devisi kelembagaan, Pak Putra (nama pendek) sebagai devisi data, dan Bu Aiva/Eva (nama pendek) sebagai devisi keuangan.

    Masuk pada tahap pembagian daerah koordinasi. Berdasarkan keputusan rapat,  Penulis mendapatkan daerah koordinasi yang mudah dan dekat dijangkau, yakni sebanyak tiga kampung/desa (Gurimbang, Tanjung Perangat, dan Sukan) sedangkan anggota yang lain  membagi habis dari semua kampung/kelurahan selain dari yang sudah ditetapkan oleh ketua untuk Penulis. Adapun total kampung/desa/kelurahan se-Kecamatan Sambaliung sebanyak 14 kampung/kelurahan, dengan jumlah TPS sebanyak 64 TPS. Sedangkan daftar pemilih laki-laki sebanyak 12.712 suara, perempuan sebanyak 10.163 suara. Jadi, total pemilih sebanyak 22.875 suara (Sumber: Panwascam 'Edi Setiawan' yang sekarang menjabat lagi).

    Mulai pelantikan (10-11-2017) sampai dengan hari ini (17-11-2017) Penulis mulai bersilaturrahmi dengan PPS tempat daerah koordinasi Penulis. Kampung yang sudah diadakan silaturrahmi hari ini atau yang pertama adalah di Kampung Tanjung Perangat. Sisa dua kampung lagi, yakni Gurimbang dan Sukan.

    Kisah menarik yang diselingi humoris, ada pada langkah pertama dalam bersilaturrahmi di Kampung Tanjung Perangat ini. Awal mula, Penulis mengontak by WA dengan salah seorang anggota PPS, yakni Bu Heni (nama pendek). Kontakan pertama terjadi di pagi hari tadi, kata Bu Heni, pagi ini Kepala Kampungnya belum ada Pak, nanti saya kabari Bapak kalau sudah kami dapatkan waktu luang beliau, begitu pinta Bu Heni. Singkat kata, terjadilah kesepakatan sore hari bakda asar acara silaturrahimnya. Penulis pun sampai di Kampung Tanjung Perangat, namun yang terlihat adalah anggota PPS sebanyak tiga orang (sesuai pasal 19 UU No 10 tahun 2016), salah satunya Bu Heni sedangkan Kepala Kampung dalam hal ini Pak Saepudin (Baru menjabat dua tahun) belum ada di tempat. Karena ketua PPS, yakni Pak Bahrul (sapaan atau nama pendek) merasa saya sebagai tamu yang sudah beberapa menit menunggu, Pak Bahrul pun akhirnya menyimpulkan untuk menghubungi Kepala Kampung agar mengetahui di mana posisi beliau.

    Tibalah saatnya Kepala Kampung hadir di hadapan kami. Kami pun diarahkan menuju ruang pertemuan di kantornya.
    Kami berbincang ringan sebelum membuka secara resmi maksud kedatangan Penulis ke sana, barulah sebentar dari itu Penulis pun membuka acara silaturrahmi tersebut secara resmi, dengan maksud, ingin mengetahui secara detail usaha PPS dalam menyiapkan segala sesuatunya untuk menunjang urusan kepemiluannya. Begitupun kepada pihak yang memiliki wewenang tertinggi di kampung tersebut, hal yang sama kami menanyakannya. Umumnya masalah sekretariat dan sekretaris bahkan masalah pendataan daftar pemilih sementara dan tambahan akan diperdayai oleh Kepala Kampung staf-staf atau anggotanya untuk memutakhirkan data sewalaupun ada tim khusus untuk itu, yakni anggota PPDP yang akan dibentuk menjelang Pilgub. Setelah semua kami bicarakan mulai A sampai Z,  tibalah saatnya kami tutup.

    Hal yang bersifat lucu pun mulai mencuat dari lisan Kepala Kampung. Beliau mengungkapkan dan menceritakan isi telpon ketua PPS tadi, bahwa isinya adalah "... Ada orang kecamatan yang datang Pak, namanya Saharudin (Penulis)", Kepala Kampung menjawab, ia kami akan ke sana. Lanjut Kepala Kampung mengabarkan kepada temannya yang membonceng (staf keuangannya), kita ditunggu Pak Camat (Maksud dari Kepala Kampung merespon begitu, bahwa Pak Camat Kecamatan Sambaliung namanya sama dengan Penulis, yang membedakan dobel  D dan gelar saja). Akhirnya dengan segala daya dan upaya, staf yang membonceng pun melaju dengan kecepatan di atas 80 (imbuh Kepala Kampung), setelah sampai di tempat sekitaran Kantor Kepala Kampung, bertanya-tanya, mana Pak Camat, kok ndak terlihat mobilnya? Imbuhnya. Eeehh, ternyata PPK juga namanya Saharudin, kami kira tadi Pak Camat.

    Sebenarnya bukan beliau tidak tahu dengan kehadiran Penulis sebagai anggota PPK, tetapi mungkin tidak dikabari nama PPK (Penulis) pada paginya saat pertama kali dikabari oleh Ketua PPS. Barulah sore hari ketika ditelpon oleh ketua PPS untuk menanyakan kembali kepastian Kepala Kampung mengenai jadi bertemu dan posisi Kepala Kampung, disertakannya dengan nama PPK-nya oleh Ketua PPS. Hal inilah menjadi kronologi sehingga memungkinkan terjadinya salah duga oleh Pak Saepudin.

    Itulah kisah awal Penulis menjalani tugas sebagai PPK di Berau, Kalimantan Timur.
    Semoga ada manfaat dan pelajaran dari tulisan ini.


    Berau, 17 November 2017
    Penulis: Saharudin, S.Pd., M.Pd.I.
    Guru SMAN 12 Berau, Kalimantan Timur / Dosen STIE Muhammadiyah Berau / STIT Muhammadiyah Berau / Dosen STIPER BERAU / Pemuda Asal Bima NTB


    Transformational Leadership Meningkatkan Kinerja Perawat Rumah Sakit

    Ilustrasi Perawat. Foto: manajemenrumahsakit.net.
    PEWARTAnews.com – Rumah sakit sebagai institusi pemberi pelayanan kesehatan mempunyai peranan yang sangat penting dalam upaya peningkatan status kesehatan bagi masyarakat. Di dalam Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit, pada Pasal 4 disebutkan bahwa Rumah Sakit mempunyai tugas memberikan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna. Upaya untuk bisa melaksanakan tugasnya tersebut, tentu saja membutuhkan peran serta yang aktif dari berbagai tenaga yang ada di Rumah Sakit, salah satunya adalah tenaga keperawatan. Tenaga keperawatan merupakan tenaga kesehatan terbanyak di Rumah Sakit yaitu sekitar 60% dari seluruh tenaga kesehatan yang ada.

    Perawat merupakan tenaga kesehatan yang selalu ada di setiap rumah sakit dan merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan. Perawat memberikan pelayanan keperawatan di Rumah Sakit selama 24 jam sehari serta mempunyai kontak yang konstan dengan pasien. Pelayanan keperawatan yang baik dan berkualitas tidak terlepas dari adanya komitmen dari perawat untuk memberikan pelayanan yang baik kepada pasien. Upaya untuk bisa menghasilkan pelayanan keperawatan yang optimal tersebut, dibutuhkan tenaga keperawatan yang berkualitas dan berkompetensi tinggi. Selain itu, dibutuhkan pemimpin keperawatan yang baik dan mampu memotivasi staf perawat untuk meningkatkan kapasitasnya dan menggunakan manajemen asuhan keperawatan yang baik dalam memberikan layanan keperawatan.

    Transformational Leadership
    Kepemimpinan merupakan hal yang sangat penting dalam mengelola sebuah organisasi, dalam hal ini Rumah Sakit. Kepemimpinan yang efektif membutuhkan pemimpin yang berkualitas dan mempunyai gaya kepemimpinan yang baik. Kepemimpinan transformasional adalah suatu kepemimpinan di mana pemimpin memotivasi bawahannya untuk mengerjakan lebih dari yang diharapkan dengan meningkatkan rasa pentingnya bawahan dan nilai pentingnya pekerjaan. Kepemimpinan transformasional adalah gaya terbaik untuk memimpin, bukan hanya karena mengarahkan, tapi juga memberikan kesempatan untuk pengembangan dan pembelajaran, selain itu juga memotivasi staf perawat untuk merasa bertanggung jawab dalam menjalankan tugasnya. Kepemimpinan transformasional melibatkan empat konsep utama yang meliputi pertimbangan individual (individualized consideration), stimulasi intelektual (intellectual stimulation), motivasi inspirasional (inspirational motivation), dan pengaruh ideal (idealized influence). Kondisi pada kepemimpinan transformasional, pemimpin mendorong dan mendukung para bawahan untuk mencapai tingkat kompetensi dan kinerja yang lebih tinggi. Pemimpin memiliki tanggung jawab memberikan arahan dan dukungan untuk bawahannya. Selain itu, pemimpin juga memotivasi bawahan untuk mencapai visi bersama. Kondisi yang demikian, kepemimpinan transformasional dipandang sebagai model kepemimpinan yang paling efektif. Selain kepemimpinan, salah satu hal yang mendasari sifat profesionalisme kerja perawat adalah motivasi kerja. Motivasi sangat penting untuk dipahami karena melalui motivasi seseorang terdorong untuk melakukan suatu pekerjaan.

    Motivasi 
    Menurut teori Maslow, pada dasarnya seseorang berperilaku tertentu itu didorong oleh berbagai macam kebutuhan yang harus dipenuhinya. Perasaan atau pikiran yang mendorong seseorang untuk berperilaku atau melakukan suatu pekerjaan inilah yang disebut dengan motivasi. Seseorang dikatakan mempunyai motivasi kerja yang tinggi apabila ia mulai merasakan adanya bentuk perhatian, dorongan dan penghargaan yang diberikan dari suatu instansi terkait untuk dirinya dalam rangka menghargai hasil pekerjaan yang telah dilakukannya sehingga ia akan merasa puas terhadap hasil pekerjaan yang telah ia kerjakan.

    Motivasi merupakan salah satu unsur yang bisa mendorong seorang perawat untuk berperilaku menuju tujuan yang ingin dicapainya.  Perawat yang mempunyai motivasi kerja yang tinggi adalah yang mampu memahami segala bentuk keluhan pasien tentang penyakitnya, dan mampu menjaga hubungan baik dengan pasien, antar rekan sejawat, maupun profesi lainnya. Selain itu juga memiliki rasa tanggungjawab yang tinggi terhadap tugas-tugas yang dikerjakannya, dan mampu menunjukkan prestasi kerja yang baik kepada instansi terkait. Motivasi juga bisa membuat seorang perawat untuk memprediksi perilaku apa yang akan dilakukan. Dalam hal ini perilaku dari perawat akan baik jika berasal dari motivasi perawat yang memang baik. Jadi apabila seorang perawat memiliki motivasi yang baik untuk mencapai tujuannya, maka kinerja perawat tersebut akan meningkat.

    Kinerja
    Kinerja (performance) menjadi isu penting saat ini. Hal ini terjadi sebagai konsekuensi dari tuntutan masyarakat terhadap kebutuhan akan pelayanan prima atau pelayanan yang bermutu tinggi yang tidak terpisahkan dari standar, karena kinerja diukur berdasarkan standar. Kinerja tenaga keperawatan yang baik akan berpengaruh terhadap mutu pelayanan keperawatan kepada pasien. Perawat diharapkan dapat menunjukkan kontribusi profesionalnya secara nyata dalam meningkatkan mutu keperawatan, yang berdampak terhadap pelayanan kesehatan secara umum pada organisasi tempatnya bekerja, dan dampak akhir akan bermuara pada kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat.

    Kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seseorang dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawabnya. Kinerja perawat sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan merupakan masalah yang sangat penting untuk dikaji dalam rangka mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan. Kinerja perawat yang baik merupakan jembatan dalam menjawab jaminan kualitas pelayanan kesehatan yang di berikan terhadap pasien baik yang sakit maupun sehat.

    Kunci utama dalam peningkatan kualitas pelayanan kesehatan adalah perawat yang mempunyai kinerja tinggi. Namun tak jarang ditemukan keluhan berkaitan dengan kualitas pelayanan kesehatan yang muaranya berasal dari kinerja petugas kesehatan termasuk perawat. Misalnya keluhan tentang perawat yang kurang cepat dan kurang sigap saat menanggapi keluhan pasien, mengganti infus dan sebagainya. Selain itu sering kita dengar keluhan tentang perawat yang jarang tersenyum dan terkesan galak. Untuk itu perlu kiranya rumah sakit memfokuskan masalah kualitas pelayanan terhadap kinerja perawat. 

    Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa kinerja perawat dipengaruhi oleh banyak hal, diantaranya adalah kepemimpinan dan motivasi. Ketika motivasi perawat tinggi maka perawat tersebut akan menghasilkan kinerja yang baik, demikian juga sebaliknya. Eratnya pengaruh motivasi kerja terhadap kinerja perawat harus memperoleh perhatian khusus dari pihak manajemen Rumah Sakit, karena kinerja perawat yang baik juga dapat menjadi salah satu faktor meningkatnya kinerja rumah sakit. Motivasi kerja yang tinggi menjadikan para perawat mempunyai semangat yang tinggi untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi pasien sehingga pasien merasa puas dengan pelayanan yang diberikan. Perlu diperhatikan juga upaya untuk mempertahankan motivasi kerja para perawat agar tetap berada pada level yang tinggi sehingga akan berdampak positif bagi perkembangan Rumah Sakit ke depan. Perawat  akan semakin termotivasi apabila keinginan serta kebutuhan mereka terpenuhi. Terdapat hubungan yang kuat antara motivasi dengan kinerja, semakin tinggi motivasi kerja maka akan semakin baik kinerja yang dihasilkan. Motivasi kerja perawat yang tinggi sangat mendukung dalam meningkatkan kinerja perawat yang lebih baik dalam menangani pasien, sehingga dapat mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan Rumah Sakit dan untuk meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit terhadap masyarakat.

    Sebagai pemimpin, kita diharapkan untuk selalu bisa memotivasi perawat dalam meningkatkan kinerjanya, salah satunya dengan cara menerapkan gaya kepemimpinan transformasional. Tidak hanya memotivasi, tetapi juga memberikan contoh/teladan tentang bagaimana menjadi seorang perawat yang baik dan professional. Dengan adanya teladan dan motivasi yang baik dari pimpinan, diharapkan perawat dapat meningkatkan motivasinya sehingga kinerja yang dihasilkan juga baik dan berkualitas.


    Daftar Bacaan:
    Nursalam, Manajemen Keperawatan, Aplikasi Dalam Praktik Keperawatan Profesional, Edisi 1, Jakarta, Salemba Medika, 2002.
    Sipatu L, Pengaruh Motivasi, Lingkungan Kerja dan Stres Kerja terhadap Kinerja Perawat di Ruang Rawat Inap RSUD Undata Palu, 2013: 146–57.
    Qarani WM, Articles Transformational Leadership : A Strategy, 2017: 7(1):9–16.
    Mohammad S, Chagani I, Articles Transformational Leadership In Emergency Department For Nursing Staff Retention, 2015;5(2):4–10.
    Kim S, Yoon G, An Innovation-Driven Culture in Local Government : Do Senior Manager’s Transformational Leadership and the Climate for Creativity Matter?, 2015;
    Tawale EN, Hubungan antara Motivasi Kerja Perawat dengan Kecenderungan mengalami Burnout pada Perawat di RSUD Serui – Papua, Fak Psikol Univ Hang-Tuah Surabaya, 2011;13(2):74–84.
    Mandagi FM, Umboh JML, Rattu JAM, Analisis Faktor-Faktor yang Berhunungan dengan Kinerja Perawat dalam Menerapkan Asuhan Keperawatan di RSU Bathesda GMIM Tomohon, JE-Biomedik, 2015;3(3).
    Mangkunegara A, Perilaku Organisasi, Bandung: Refika Aditama; 2005.
    Mulyono MH, Hamzah A, Zulkifli AA, Faktor yang Berpengaruh terhadap Kinerja Perawat di Rumah Sakit Tingkat III 16.06.01 Ambon, J AKK, 2013;2(1):18–26.
    Mudayana AA, Pengaruh Motivasi dan Beban Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Di Rumah Sakit Nur Hidayah Bantul, Kesmas Uad, 2010;4(2):76–143.
    Badi’ah Atik MNKRW dkk, Rawat Inap Rumah Sakit Daerah Panembahan Senopati Bantul Tahun 2008 the Relation Between Motivation and Performance in Hospital Ward, Manaj Pelayanan Kesehat [Internet]. 2009;12(2):74–82. Available from: http://jurnal.ugm.ac.id/jmpk/article/download/2555/2289


    Penulis: Yuli Mustika
    Mahasiswa Magister Keperawatan Universitas Diponegoro, Semarang

    Bermesra dengan Anak

    Saharudin (Penulis) sedang bermesraan dengan anaknya.
    PEWARTAnews.com – Bermesra, itu adalah hal yang wajar bagi seorang anak dengan orangtuanya (Bapaknya). Kemesraan itu harus dijaga dan dibina agar selalu langgeng. Kelanggengan itu harus dibina mulai dari kecil hingga anak berusia dewasa. Kelanggengan merupakan pondasi bagi hubungan seorang anak dengan Bapaknya, karena dengan pondasi inilah antara Bapak dengan anak bisa saling bertukar pikiran, baik untuk masalah keluarga secara umum maupun secara khusus. Masalah secara umum, bisa saja dalam bentuk urusan kelanjutan ekonomi keluarga dan masa depan anak, sedangkan masalah khusus bisa berupa didikan dan pelatihan agar anak berakhlak yang baik dan berbakti pada orangtua dan bisa juga anak tersebut menjadi bekal untuk dipraktekkan juga anaknya kelak. Namun akhir- akhir ini, sebagian dari orang tua sudah jarang memedulikan urusan kelanggengan ini. Bahkan tidak jarang terjadi, permasalahan orang tua dengan anak sering terjadi, baik saling tidak memedulikan, perkelahian, maupun pembunuhan.

    Peran orang tua dalam urusan kelanggengan ini sungguh sangat penting dan itu harus dilakukan sejak dini. Hal itu bisa dilakukan dengan beberapa cara, antara lain: Pertama, masa balita. Pada masa ini, orang tua harus bisa mengajak anaknya bisa mengajaknya bermain, bercanda, dan menanamkan nilai agama dengan cara menyesuaikan dengan dunia mereka. Kedua, masa remaja. Pada masa ini, orang tua harus berusaha memeras pikiran agar sang anak bisa nurut dan mulai patuh. Banyak yang bisa dilakukan pada masa ini, beberapa di antaranya adalah, mulai memberikan contoh dan mengajak dia (sang anak) untuk melakukan hal itu (hal baik yang kita inginkan), salahsatunya adalah solat. Pada masa ini pula, diharapkan orang tua, apabila ingin anaknya nurut, perbanyaklah mencontohkan, bukan mengajak atau menyuruh. Ketiga, masa dewasa (sebelum ia menikah). Pada masa ini, kita tidak perlu lagi banyak-banyak menyuruh, yang mereka butuh adalah dukunngan moril maupun materil (kalau ada), serta jangan lupa kita ingatkan dan arahkan sekali waktu.

    Orang tua harus mampu memahami fase pendidikan anak, dengan memahami fase pendidikan anak tadi (masa balita, remaja, dan dewasa) maka insya Allah, anak tidak lagi menjadi beban dikala ia sudah besar (dewasa), melainkan orang tua menikmati apa yang ia besarkan dan didik selama ini. Memang dalam mendidik anak, tidak segampang membalikkan telapak tangan, tetapi, setidaknya tawaran dan gambaran mengurus anak tadi kurang lebih sama dengan cara memelihara tanaman yang kita tanam, di kebun atau di sawah. Tanaman itu perawatannya hanya pada saat awal-awal tanaman (masa balita), masa perawatan (masa remaja), dan masa memetik (masa dewasa).

    Demikianlah gambaran singkat tentang kemesraan seorang ayah dan anak. Tentu masih banyak kekurangannya, tetapi setidaknya ada yang bisa di manfaatkan buat orang tua yang sayang akan anaknya. Salam buat ortu yang sayang anak.

     
    Berau, 20 Maret 2017
    Penulis: Saharudin, S.Pd., M.Pd.I.
    Guru SMAN 12 Berau, Kalimantan Timur / Dosen STIE Muhammadiyah Berau / STIT Muhammadiyah Berau / Dosen STIPER BERAU / Pemuda Asal Bima NTB

     

    Iklan

    Iklan
    Untuk Info Lanjut Klik Gambar
    Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website