Headlines News :
Home » » Kegalauan Perawat tanpa STR

Kegalauan Perawat tanpa STR

Written By Pewarta News on Senin, 13 November 2017 | 03.56

Miftahul Jannah, S.Kep., Ners.
PEWARTAnews.com – Perawat merupakan seorang yang telah lulus pendidikan tinggi Keperawatan. Baik di dalam maupun di luar Negeri yang dikui oleh Pemerintah sesuai dengan Peraturan Perundang Undangan yakni dalam Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2014 tentang Keperawatan (UUK). Pemberian asuhan keperawatan merupakan tugas praktik keperawatan yang merupakan rangkaian interaksi perawat dengan klien dan lingkungannya untuk mencapai tujuan pemenuhan kebutuhan dan kemandirian klien dalam merawat dirinya. Tapi apa daya, dalam menjalankan praktek keperawatan perawat dituntut untuk memiliki Surat Tanda Registrasi (STR). Hal ini sesuai dengan Peraturan perundang-undangan, Permenkes, dan juga peratuan organisasi yang diakui oleh perundang-undangan yakni Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). Mengapa STR wajib dimiliki oleh Perawat?

STR merupakan bukti tertulis yang diberikan oleh Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia (MTKI) kepada perawat yang telah lulus uji kompetensi (telah memiliki sertifikat kompetensi). Uji Kompetensi (UKOM) diselenggarakn oleh Dirjen Pendidikan Tinggi (DIKTI Kemenristekdikti). Perawat, dengan memiliki STR menandakan perawat tersebut kompeten dan bisa bekerja dipelayanan keperawatan baik difasilitas kesehatan ataupun mandiri.

Uji kompetensi Ners adalah salah satu perjalanan mahasiswa keperawatan sejak pertama kali dilaksanakan pada tahun 2013 hingga pelaksanan yang ke 6 (enam). Masih ada sekitar 10% perawat yang tidak lulus UKOM meski telah mengikuti UKOM sebanyak 6 kali. Pelaksanaan UKOM 2 kali dalam setahun, 6 kali ujian berarti menghabiskan 3 tahun. Uji kompetensi ini seakan menjadi momok bagi mahasiswa keperawatan, bagaimana tidak? Sudah dinyatakan lulus dari kampus tetapi belum diakui kompetensi kalau belum lulus UKOM. Barulah jika lulus UKOM, perawat memiliki hak menerima STR.

Dinyatakan lulus/kompeten (dibuktikan dengan sertifikat kompetensi) menjadi langkah awal tenaga kesehatan untuk bisa melakukan pengurusan STR dan SIP (Surat Izin Prakik) yang merupakan bukti tertulis yang diberikan oleh pemerintah daerah kabupaten/kota kepada tenaga kesehatan sebagai pemberian kewenangan untuk menjalankan praktik.

Fenomena saat ini yang terjadi di Indonesia (khususnya tenaga kesehatan) adalah pentingnya sebuah kertas yang bertuliskan Surat Tanda Registrasi (STR) yang dikeluarkan oleh pemerintah melalui Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia (MTKI) yang dibawah naungan Kementerian Kesehatan (terkecuali profesi dokter, dikeluarkan oleh konsil kedokteran, dan apoteker dikeluarkan oleh komite farmasi nasional). Bahkan bisa dibilang STR lebih penting daripada Ijazah yang didapatkan dari hasil jerih payah selama 4-5 tahun oleh tenaga kesehatan Indonesia. Bagaimana tidak setiap tenaga kesehatan wajib memiliki STR untuk bekerja pada pelayanan kesehatan (fasilitas kesehatan, klinik, atau praktik mandiri), jadi anda yang telah lulus dari perguruan tinggi atau telah memiliki Ijazah dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang tinggi melamar disebuah RS (kecuali ditempatkan dibagian administrasi) atau akan membuka praktik mandiri pasti tidak akan diproses jika tidak memiliki STR.

Baru-baru ini sedang hangat diperbincangkan dikalangan perawat adalah Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) kepada seorang perawat (HR) yang dilakukan oleh salah satu rumah sakit swasta di Pekanbaru dengan alasan perawat tersebut tidak memiliki STR. Kasus ini menjadi contoh betapa STR dinilai lebih tinggi daripada sebuah Ijazah. STR menjadi syarat mutlak bagi tenaga kesehatan untuk dapat bekerja pada pelayanan kesehatan yang ada sehingga menjadi salah satu penghambat tenaga kesehatan untuk bisa bekerja.

Gambaran fenomena tersebut dapat disimpulkan bahwa UU Keperawatan yang telah disahkan merupakan bentuk dari pertanggung jawaban secara hukum dari profesi keperawatan terhadap pelayanan kesehatan yang diberikan kepada masyarakat. Oleh karena itu, hendaknya menjadi kesepakatan bersama agar UU Keperawatan ini segera untuk di implementasikan dalam bentuk paket regulasi pemerintah.

Kalangan perawat yang bekerja tetapi tidak memiliki STR sering dihantui ketakutan karena hukum terkait dengan praktik profesi yang dilakukan. Perawat harus melakukan berbagai macam pekerjaan pelayanan kesehatan bahkan tanpa kompensasi dan perlindungan yang memadai. Oleh sebab itu, masih banyak ditemukannya dilema pada tenaga perawat, dalam pelayanan kesehatan. Jika melihat realita yang ada sekarang, dunia keperawatan di Indonesia masih tergolong minim perhatian dari pemerintah sebagai pemegang kebijakan. Kondisi dalam hal ini, perawat yang tugasnya berada di samping klien selama 24 jam sering mengalami dilema etik untuk melakukan tindakan medis yang bukan merupakan wewenang mereka demi keselamatan klien.

Kenyataan di atas tentunya akan merugikan semua pihak. Fenomena alih fungsi yang menyebabkan pelayanan kesehatan kurang maksimal, mengakibatkan maraknya tuntutan hukum terhadap keperawatan kedepannya. Karena adanya peraturan tentang praktik keperawatan sejauh mana hak dan tanggung jawab perawat dalam memberikan pelayanan, hal tersebut membuat dilema. Padahal perawat hanya melakukan upaya praktik sesuai disiplin ilmu keperawatan.

Terakhir, jangan harapkan perubahan di profesi ini, bilamana para perawat sendiri tidak mau berubah dan berbenah serta mau belajar untuk mengambil peran dalam perubahan untuk meningkatkan kualitas profesi. Nah, jika telah melakukan usaha untuk saling mengingatkan dan menyadarkan sehingga terbentuk suatu pola pikir (mindset) visi perubahan kedepanya, Insha Allah perjuangan yang panjang ini kian terasa hasilnya, dan perubahan akan datang dengan menghampiri para pengemban profesi ini.

Tulisan ini sebagi reminder sharing antar sesama, sebab Profesi Keperawatan sejak 20 tahun terakhir menuju perubahan yang lebih baik. Pendidikan keperawatan harus dikembangkan membentuk suatu body of knowledge. Menurut De Laune dan Ladner (2002) “Keperawatan adalah seni dari ilmu pengetahuan dengan yang orang dibantu dalam belajar merawat dirawat oleh orang lain”, inilah jalan perjuangan untuk melahirkan calon-calon perawat yang akan lahir lebih berkompeten menuju profesionalitas dimasa yang akan datang, sehingga perawat dapat mengambil peran besar dalam pelayanan kesehatan untuk indonesia sehat dan mandiri.


Daftar Referensi:
Adhiwijaya, Ardian, 2016, “Lika Liku Hidup Mahasiswa Keperawatan”, Ardianadw.com, Makassar
Asmadi, 2008, Konsep Dasar Keperawatan, Jakarta, Buku Kedokteran EGC.
Gusti, 2016, “Pentingnya NIRA, STR & SIP Bagi Seorang Perawat”, Gustinez.com, Gorontalo
Sue C. Deaune, Patricia K. Ladner, 2002, Skills Checklist to Accompany Fundamentals of Nursing Standards & Practices, USA, Thomson Learning.
Undang Undang Nomor 38 Tahun 2014 Tentang Keperawatan
http://www.inna-ppni.or.id
http://www.academia.ed
https://medianers.blogspot.co.id/
http://inursecare.com/
http://www.theglobejournal.com/


Semarang, 28 September 2017


Penulis: Miftahul Jannah, S.Kep., Ners.
Mahasiswa Magister Keperawatan Universitas Diponegoro, Semarang.

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website