Headlines News :
Home » , » Pengalaman Menarik sebagai Anggota Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK)

Pengalaman Menarik sebagai Anggota Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK)

Written By Pewarta News on Sabtu, 18 November 2017 | 00.17

PEWARTAnews.com -- Menjadi anggota Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) merupakan wujud konkrit Penulis dalam melancarkan penyelenggaraan kepemiluan di tanah air tercinta, khususnya di daerah tempat Penulis berdomisili (Bangun, Kec. Sambaliung, Kab. Berau) untuk Pilgub Kalimantan Timur 2018. Sebagai Negara yang komit terhadap kedemokrasiannya, maka sudah selayaknya kita sebagai warga negara ikut andil dalam menyelenggarakan pesta demokrasi, baik secara nasional maupun secara regional. Seperti halnya menjadi anggota PPK yang Penulis lakoni sekarang.

Sebenarnya tidak semesti harus masuk dalam struktural KPU (dari pusat hingga ke daerah) atau penyelenggara pemilu untuk menyatakan diri sebagai insan yang ikut andil melancarkan urusan demokrasi. Hal yang paling kecil menurut Penulis terhadap urusan ikut andil tersebut, dapat juga disalurkan melalui animo kita untuk mengikutsertakan diri dalam suasana mencoblos (Pilpres, Pilgub, Pilbup/Pilwakot, Pilkakam, maupun Pileg di tingkat pusat maupun daerah), baik sebagai status Daftar Pemilih Sementara (DPS), Daftar Pemilih Tetap (DPT), maupun sebagai Daftar Pemilih Tambahan (DPTb).

Penulis dilantik menjadi PPK, tepat pada hari Jumat, 10 November 2017 sampai dengan hari ini, 17 November 2017 berarti tepat satu minggu dengan pemublikasian tulisan ini. Pelantikan tersebut, berlangsung di hotel Bumi Segah (Tanjung Redeb, Berau, Katim). Langsung dilantik oleh ketua KPUD Berau, Roby Maula, S.Hut.

Tugas ini merupakan amanah baru bagi Penulis yang harus dilakoni dengan penuh integritas, jujur, adil, dan bebas rahasia. Menjalani tugas sebagai PPK, bagi Penulis, ini merupakan kali pertama. Awalnya hanya berniat mencari pengalaman supaya tidak buta sama sekali dengan urusan kepemiluan. Betapa awamnya Penulis dengan urusan ini, sampai umur sekarang (30 tahun), Penulis hanya tau kepanjangan dari TPS dengan seputar singkatan dari pemilihan presiden sampai pemilihan kepala daerah juga pemilihan legislatif. Berkat keseriusan dalam mencari pengalaman, Penulis pun mulai mem-browsing tentang urusan kepemiluan, baik yang berkaitan dengan singkatan yang sudah lazim, UU Kepemiluan, PP samapai pada PKPU Nomor 3 tahun 2015. Akhirnya, Penulis mulai terpahamkan dengan singkatan-singkatan maupun peraturan yang berkaitan dengan urusan kepemiluan.

Sebagai peserta yang ingin melewati berbagai seleksi, baik seleksi administrasi, tes tertulis, maupun tes wawancara, maka sudah sewajarnya Penulis menyiapkan diri dengan sungguh-sungguh. Untuk membuktikan animo tersebut, Penulis berusaha memenuhi berbagai persyaratan untuk mendaftar dan mem-browsing materinya satu minggu sebelum dihadapkan dengan tes tertulis dan tes wawancara.

Dalam Pasal 16 Undang-undang Nomor 10 Tahun 2016 mengatakan bahwa anggota PPK berjumlah sebanyak 5 orang, dengan rincia 30% keterwakilan perempuan dan 70% laki-laki. Tetapi, pada UU terbaru Nomor 7 Tahun 2017 menyaratkan PPK itu hanya 3 orang, tetap ada porsi khusus bagi perempuan. Namun karena instruksi KPU Berdasarkan Surat Edaran KPU nomor 324/KPU/VI/2016  dijelaskan bahwa pedoman pembentukan PPK, PPS dan KPPS masih menggunakan PKPU Nomor 3 tahun 2015, maka anggota PPK masih stagnasi dengan aturan lama, sewalaupun ketukan palu terhadap UU baru Nomor 7 tahun 2017 sudah dijatuhkan. Baru akan diberlakukan 3 orang anggota PPK, apabila Pilpres dan Pileg 2019 mendatang.

Akhirnya kami berlima, terpilih menjadi anggota PPK Kecamatan Sambaliung, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur untuk Pilgup 2018 nanti. Keanggotaan yang perpilih dari 10 orang yang mendaftar khusus di Kecamatan tempat domisili Penulis, empat orang dari kecamatan (internal instansi Kecamatan) dengan Penulis sendiri sebagai akademisi.

Setelah terpilih, kami pun secara internal melakukan rapat untuk menentukan devisi dan daerah koordinasi (pembagian wilayah tupoksi), yakni pada hari Minggu, 12 November 2017. Pak Mulyadi yang sudah ditunjuk secara aklamasi oleh kami berempat sebagai ketua, menangani devisi logistik, Pak Edwin (nama pendek) sebagai devisi kelembagaan, Pak Putra (nama pendek) sebagai devisi data, dan Bu Aiva/Eva (nama pendek) sebagai devisi keuangan.

Masuk pada tahap pembagian daerah koordinasi. Berdasarkan keputusan rapat,  Penulis mendapatkan daerah koordinasi yang mudah dan dekat dijangkau, yakni sebanyak tiga kampung/desa (Gurimbang, Tanjung Perangat, dan Sukan) sedangkan anggota yang lain  membagi habis dari semua kampung/kelurahan selain dari yang sudah ditetapkan oleh ketua untuk Penulis. Adapun total kampung/desa/kelurahan se-Kecamatan Sambaliung sebanyak 14 kampung/kelurahan, dengan jumlah TPS sebanyak 64 TPS. Sedangkan daftar pemilih laki-laki sebanyak 12.712 suara, perempuan sebanyak 10.163 suara. Jadi, total pemilih sebanyak 22.875 suara (Sumber: Panwascam 'Edi Setiawan' yang sekarang menjabat lagi).

Mulai pelantikan (10-11-2017) sampai dengan hari ini (17-11-2017) Penulis mulai bersilaturrahmi dengan PPS tempat daerah koordinasi Penulis. Kampung yang sudah diadakan silaturrahmi hari ini atau yang pertama adalah di Kampung Tanjung Perangat. Sisa dua kampung lagi, yakni Gurimbang dan Sukan.

Kisah menarik yang diselingi humoris, ada pada langkah pertama dalam bersilaturrahmi di Kampung Tanjung Perangat ini. Awal mula, Penulis mengontak by WA dengan salah seorang anggota PPS, yakni Bu Heni (nama pendek). Kontakan pertama terjadi di pagi hari tadi, kata Bu Heni, pagi ini Kepala Kampungnya belum ada Pak, nanti saya kabari Bapak kalau sudah kami dapatkan waktu luang beliau, begitu pinta Bu Heni. Singkat kata, terjadilah kesepakatan sore hari bakda asar acara silaturrahimnya. Penulis pun sampai di Kampung Tanjung Perangat, namun yang terlihat adalah anggota PPS sebanyak tiga orang (sesuai pasal 19 UU No 10 tahun 2016), salah satunya Bu Heni sedangkan Kepala Kampung dalam hal ini Pak Saepudin (Baru menjabat dua tahun) belum ada di tempat. Karena ketua PPS, yakni Pak Bahrul (sapaan atau nama pendek) merasa saya sebagai tamu yang sudah beberapa menit menunggu, Pak Bahrul pun akhirnya menyimpulkan untuk menghubungi Kepala Kampung agar mengetahui di mana posisi beliau.

Tibalah saatnya Kepala Kampung hadir di hadapan kami. Kami pun diarahkan menuju ruang pertemuan di kantornya.
Kami berbincang ringan sebelum membuka secara resmi maksud kedatangan Penulis ke sana, barulah sebentar dari itu Penulis pun membuka acara silaturrahmi tersebut secara resmi, dengan maksud, ingin mengetahui secara detail usaha PPS dalam menyiapkan segala sesuatunya untuk menunjang urusan kepemiluannya. Begitupun kepada pihak yang memiliki wewenang tertinggi di kampung tersebut, hal yang sama kami menanyakannya. Umumnya masalah sekretariat dan sekretaris bahkan masalah pendataan daftar pemilih sementara dan tambahan akan diperdayai oleh Kepala Kampung staf-staf atau anggotanya untuk memutakhirkan data sewalaupun ada tim khusus untuk itu, yakni anggota PPDP yang akan dibentuk menjelang Pilgub. Setelah semua kami bicarakan mulai A sampai Z,  tibalah saatnya kami tutup.

Hal yang bersifat lucu pun mulai mencuat dari lisan Kepala Kampung. Beliau mengungkapkan dan menceritakan isi telpon ketua PPS tadi, bahwa isinya adalah "... Ada orang kecamatan yang datang Pak, namanya Saharudin (Penulis)", Kepala Kampung menjawab, ia kami akan ke sana. Lanjut Kepala Kampung mengabarkan kepada temannya yang membonceng (staf keuangannya), kita ditunggu Pak Camat (Maksud dari Kepala Kampung merespon begitu, bahwa Pak Camat Kecamatan Sambaliung namanya sama dengan Penulis, yang membedakan dobel  D dan gelar saja). Akhirnya dengan segala daya dan upaya, staf yang membonceng pun melaju dengan kecepatan di atas 80 (imbuh Kepala Kampung), setelah sampai di tempat sekitaran Kantor Kepala Kampung, bertanya-tanya, mana Pak Camat, kok ndak terlihat mobilnya? Imbuhnya. Eeehh, ternyata PPK juga namanya Saharudin, kami kira tadi Pak Camat.

Sebenarnya bukan beliau tidak tahu dengan kehadiran Penulis sebagai anggota PPK, tetapi mungkin tidak dikabari nama PPK (Penulis) pada paginya saat pertama kali dikabari oleh Ketua PPS. Barulah sore hari ketika ditelpon oleh ketua PPS untuk menanyakan kembali kepastian Kepala Kampung mengenai jadi bertemu dan posisi Kepala Kampung, disertakannya dengan nama PPK-nya oleh Ketua PPS. Hal inilah menjadi kronologi sehingga memungkinkan terjadinya salah duga oleh Pak Saepudin.

Itulah kisah awal Penulis menjalani tugas sebagai PPK di Berau, Kalimantan Timur.
Semoga ada manfaat dan pelajaran dari tulisan ini.


Berau, 17 November 2017
Penulis: Saharudin, S.Pd., M.Pd.I.
Guru SMAN 12 Berau, Kalimantan Timur / Dosen STIE Muhammadiyah Berau / STIT Muhammadiyah Berau / Dosen STIPER BERAU / Pemuda Asal Bima NTB


Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website