Headlines News :
Home » , » Peningkatan Mutu Pelayanan Keperawatan Melalui Peningkatan Pendidikan Perawat SPK (Bagian 1)

Peningkatan Mutu Pelayanan Keperawatan Melalui Peningkatan Pendidikan Perawat SPK (Bagian 1)

Written By Pewarta News on Minggu, 19 November 2017 | 21.41

Ilustrasi Perawat. (Foto: tvm.com.mt)
PEWARTAnews.com – Kualitas pelayanan kesehatan sangat berkaitan erat dengan kualitas tenaga pemberi layanan kesehatan. Perawat memiliki peran penting dalam pemberian layanan kesehatan, karena sebagian besar tenaga kesehatan indonesia adalah perawat. Perawat di Indonesia jumlahnya paling banyak bila dibandingkan dengan tenaga kesehatan lainnya, yaitu 309.017 orang yang terdata di Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan (BPPSDMK) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2016. Akan tetapi dari jumlah yang terdata tersebut, perawat dengan pendidikan Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) masih sebanyak 6,2% atau 19.201 orang (BPPSDM, 2017). Pendidikan SPK setingkat dengan SLTA dan merupakan jenjang pendidikan terendah bagi seorang perawat (Asmadi, 2008).

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2014 dan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2014 mengatakan bahwa lulusan SPK masih diberikan kewenangan praktik keperawatan hingga tahun 2020, karena untuk melanjutkan praktiknya perawat harus memiliki ijazah minimal Diploma III (DPR RI, 2014a, 2014b). Jika sampai batas waktu yang ditentukan belum memenuhi persyaratan, perawat dengan latar belakang pendidikan SPK, maka akan diberhentikan hak praktiknya baik praktik mandiri maupun di RS. Ketua DPD PPNI Jawa Timur Prof. Dr. Nursalam, M.Nurs. (Hons) menjelaskan seperti yang dikutip dalam SURYA Online bahwa tenggang waktu yang diberikan tersebut merupakan kesempatan bagi perawat untuk bisa melanjutkan pendidikan formalnya. Perawat minimal harus ijazah memiliki minimal D3 Keperawatan, karena itulah syarat untuk mengikuti uji kompetensi dan mendapatkan surat tanda registrasi (STR) (Sofiana, 2016).

Sejarah Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) di Indonesia
Sejarah mencatat, keperawatan memiliki pendidikan yang begitu kompleks. Berawal dari didirikannya Sekolah Pengatur Rawat (SPR) di Rumah Sakit Tantja Badak (sekarang Rumah Sakit Hasan Sadikin) pada tahun 1952 yang kemudian berubah nama menjadi Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) (Asmadi, 2008). Lama pendidikan SPK dirancang tiga tahun dengan latar belakang pendidikan lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP). SPK telah menyumbang tenaga keperawatan dalam jumlah yang besar pada waktu itu, karena mayoritas pendidikan di Indonesia pada saat didirikan adalah SPK (Priharjo, 2008). Pada tahun 1962 mulai didirikannya pendidikan akademi keperawatan (AKPER) di Jakarta. Hingga pada tahun 1985 dibukalah program pendidikan sarjana keperawatan pertama di Universitas Indonesia untuk mencetak tenaga perawat yang profesional melalui pengembangan pendidikan keperawatan (Asmadi, 2008).

Seiring berjalannya waktu, pendidikan tinggi keperawatan semakin berkembang. Sistem Kesehatan Nasional (SKN) menyatakan bahwa penyelenggaraan pendidikan vokasi, sarjana, dan profesi tingkat pertama adalah institusi pendidikan tenaga kesehatan yang telah diakreditasi oleh asosiasi institusi pendidikan kesehatan yang bersangkutan. Sedangkan dalam Sistem Pendidikan Nasional (SPN) berdasar UU No 20 Tahun 2003 dijelaskan bahwa apa yang dimaksud dengan pendidikan akademik, profesi dan vokasi yang semuanya diselenggarakan melalui pendidikan tinggi.

Bila dilihat dari pernyataan dalam SKN dan SPN dapat disimpulkan bahwa penyelenggaraan SPK sudah tidak sesuai lagi. Hal ini ditanggapi antara lain dengan mengonversikan SPK menjadi jenjang pendidikan diploma tiga dan menunjuk AKPER yang melaksanakan program ini dan dengan memberi kesempatan kepada perawat lulusan SPK untuk melanjutkan pendidikannya (Asmadi, 2008).

Peran Kepemimpinan Transformasional
Beberapa penelitian menyebutkan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap motivasi perawat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi antara lain faktor pengembangan karir (Sandi, 2016), gaji, jabatan (Supriyanti, 2015), penghargaan (Setyaningsih, Wuryanto, & Sayono, 2013) dan dukungan pimpian (Rahmawati, Komarudin, & Angraeni, 2014; Setyaningsih et al., 2013).

Gaya kepemimpinan transformasional memiliki peran penting dalam penentuan kebijakan percepatan pendidikan tenaga kesehatan, khususnya perawat SPK sebelum tahun 2020. Kepemimpinan transformasional merupakan tipe kepimimpinan yang mempengaruhi bawahan sehingga bawahan merasakan kepercayaan, kebanggaan, loyalitas dan rasa hormat terhadap atasan serta termotivasi untuk melakukan lebih dari apa yang diharapkan (Yukl, 2010).

Pemerintah, organisasi profesi, asosiasi pendidikan dan pimpinan institusi memiliki peran penting dalam peningkatan pendidikan dan kompetensi perawat SPK. Sejauh ini pemerintah telah mengeluarkan regulasi terkait peningkatan mutu pelayanan kesehatan dan peningkatan SDM. Organisasi profesi dan asosiasi pendidikan telah membuat standar kompetensi perawat serta bekerja sama dengan pemerintah sebagai upaya meningkatkan pendidikan dan kompetensi perawat.

Standar Kompetensi Perawat di Indonesia
Kompetensi tenaga kesehatan harus setara dengan kompetensi tenaga kesehatan di dunia internasional, sehingga registrasi tenaga kesehatan lulusan dalam negeri dapat diakui di dunia internasional (Presiden RI, 2012b). Saat ini, pendidikan tinggi keperawatan yang diakui di Indonesia berdasarkan UU No 38 tahun 2014 dan Kepmen Riset Dikti No 257/M/KPT/2017 adalah pendidikan vokasi (DIII Keperawatan), pendidikan akademik (sarjana, magister, doktoral) dan pendidikan profesi (ners, spesialis) (DPR RI, 2014b; Kementerian Riset dan Dikti, 2017). Pendidikan vokasi merupakan pendidikan yang diarahkan terutama pada kesiapan penerapan dan penguasaan keahlian keperawatan tertentu sebagai perawat. Pendidikan akademik merupakan pendidikan yang diarahkan terutama pada penguasaan dan pengembangan disiplin ilmu keperawatan yang mengcakup program sarjana, magister, doktor. Sedangkan pendidikan profesi merupakan pendidikan yang diarahkan untuk mencapai kompetensi profesi perawat (PPNI, 2017).


Penulis: Ns. Fida’ Husain, S.Kep.
Mahasiswa Magister Keperawatan Universitas Diponegoro 2017, Konsentrasi Keperawatan Dewasa

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website