Headlines News :
Home » , » Transformasional Leadership dalam Meningkatkan Kepatuhan Perawat melakukan Cuci Tangan (Hand Hygiene)

Transformasional Leadership dalam Meningkatkan Kepatuhan Perawat melakukan Cuci Tangan (Hand Hygiene)

Written By Pewarta News on Rabu, 29 November 2017 | 06.05

Ilustrasi Perawat. Foto: idnations.com.
PEWARTAnews.com -- Rumah Sakit merupakan sarana prasarana layanan kesehatan yang menjadi pusat utama yang berhubungan erat dengan peningkatan derajad kesehatan. Rumah Sakit menjadi rujukan utama bilamana ada seseorang yang mengalami gangguan kesehatan baik secara fisiologis mauupun psikologis. Konsumen yang berkunjung ke rumah sakit terdiri dari konsumen internal dan konsumen eksternal. Konsumen internal meliputi semua orang yang berkerja di organisasi layanan kesehatan, pemilik, pimpinan dan seluruh karyawan rumah sakit. Konsumen eksternal meliputi pasien/klien serta keluarganya. Klien-klien yang datang ke Rumah Sakit tentunya memiliki gangguan kesehatan yang bervariasi, baik yang jenisnya menular maupun tidak menular dan kondisinya kronis ataupun akut. Bervariasinya jumlah kunjungan klien maka terjadi kontak antar klien dengan petugas layanan kesehatan, antar klien dengan klien dan antar klien dengan lingkungan Rumah Sakit. Dari hal tersebut membuat Rumah Sakit juga merupakan salah satu agen pencetus yang dapat menyebabkan penyebaran infeksi. Infeksi yang terjadi di Rumah Sakit biasanya dikenal dengan istilah “infeksi nosokomial”.

Infeksi nosokomial merupakan infeksi yang diperoleh atau dialami pasien selama dia dirawat di Rumah Sakit. Data menunjukan bahwa sekitar 8,7% dari 55 rumah sakit dari 14 negara yang berasal dari eropa menunjukkan adanya infeksi nosokomial. Asia Tenggara sebanyak 10,0% (WHO, 2002). Kasus infeksi nosokomial di Indonesia berdasarkan data dari Rumah Sakit DKI Jakarta 9,8% perawat rawat inap mendapatkan infeksi baru, di RSUP Dr. Sadjito Surabaya 7,3% (Nugraheni, 2012).

Dampak infeksi nosokomial antara lain meningkatkan ketidakberdayaan fungsional, tekanan emosional dan ada beberapa kasus yang mengakibatkan kecacatan sehingga menurunkan kualitas hidup, infeksi nosokomial juga menyebabkan peningkatan biaya pelayanan kesehatan karena meningkatnya lama rawat inap di rumah sakit dan terapi dengan obat-obat mahal. Infeksi juga merupakan salah satu penyebab kematian. Infeksi nosokomial saat ini diubah penyebutannya menjadi Infeksi Terkait Layanan Kesehatan “HAIs” (Healthcare-Associated Infections). Untuk mengatsi HAIs, WHO menyusun program untuk mengatasi  dengan memberlakukannya penanggulangan dan pengendalian infeksi. Di Indonesia dalam pengupayaan menurunkan angka kejadian infeksi, mencegah dan meminimalkan terjadinya infeksi pada pasien, petugas, pengunjung dan masyarakat sekitar, dibentukanya suatu badan pengendalian dan penanggulangan infeksi, yang biasa dikenal dengan istilah Pengendalian dan Penanggulagan Infeksi (PPI). Pembentukan PPI sesuai dengan pedoman pencegahan dan pengendalian infeksi di fasilitas layanan kesehatan yang diatur dalam  Permenkes Nomor 27 Tahun 2017. PPI memiliki programkerja/sasaran kerja (SNARS, 2017) kebersihan tangan, surveilans risiko infeksi, investigasi wabah (outbreak) penyakit infeksi, meningkatkan pengawasan terhadap penggunaan antimikrob secara aman, asesmen berkala terhadap risiko, menetapkan sasaran penurunan risiko serta mengukur dan me-review risiko infeksi. Teknik dasar yang paling penting dalam mencegah dan penanggulangan penularan infeksi adalah dengan mencuci tangan (Potter & Perry, 2005).

Kepatuhan Cuci Tangan
Cuci tangan adalah menjaga kondisi tangan tetap bersih dan mengangkat mikroorganisme yang ditangan sehingga dapat mencegah terjadinya  infeksi silang (Cross Infection). Cuci tangan dilakukan untuk membantu layanan kesehatan dalam mencegah infeksi silang dari pasien ke petugas kesehatan maupun sebaliknya dari petugas ke pasien (Nursalam, 2007). Mencuci tangan dapat dilakukan dengan menggunakan sabun dan air mengalir atau menggunakan alkohol (alcohol-based handrubs). Cuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir memiliki 12 langkah dengan waktu yang dibutuhkan 40-60 detik dan cuci tangan menggunakan alkohol memiliki 6 langkah dengan waktu 20-30 detik (WHO, 2009).

Indikasi untuk melakukan cuci tangan ini didasarkan 5 momen yaitu, Sebelum kontak pasien, sebelum tindakan aseptik, setelah kontak darah dan cairan tubuh, setelah kontak pasien dan setelah kontak dengan lingkungan sekitar pasien (Permenkes No. 27, 2017). Proses mencuci tangan ini sudah menjadi hal paling sering dilakukan di Rumah Sakit. Namun, tidak semua langkah cuci tangan dan momen perlakukan cuci tangan dilakukan secara tepat. Disini dapat dilihat adanya unsur ketidakpatuhan perawat dalam proses cuci tangan. Hal tersebut menjadi fenomena dilapangan karena masih kurangnya perawat dalam kepatuhan mencuci tangan.

Kepatuhan adalah suatu sikap individu yang sifatnya positif dengan menunjukkan adanya suatu perubahan yang bermakna sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai atau yang telah ditetapkan. Kepatuhan perawat adalah suatu perilaku perawat melakukan suatu tindakan, prosedur atau peraturan yang seharus dilakukan serta ditaati (Notoatmodjo, 2007). Ketidakpatuhan mencuci tangan didukung oleh penelitian (Pratama, 2015) menujukkan hasil rata-rata kepatuhan hand hygiene pada perawat sebesar 36% dengan kepatuhan tertinggi pada sebelum tindakan aseptis 50% dan terendah pada setelah menyentuh sekitar pasien 20%. Kepatuhan berkaitan erat dengan perilaku.

Lawrence Green mengatakan bahwa  perilaku dipengruhi oleh tiga faktor yaitu, faktor predisposisi, faktor pendukung dan faktor pendorong (Noorkasiani, 2009). Pertama, Faktor predisposisi adalah mencakup pengetahuan individu, sikap, kepercayaan, tradisi, norma sosial  dan unsur-unsur lain yang terdapat dalam diri individu dan masyarakat. Kedua, Faktor pendukung ialah tersedianya sarana layanan kesehatan dan kemudahan mencapainya. Ketiga, Faktor pendorong ialah sikap dan prilaku petugas kesehatan yang perlu didukung dari pimpinan. Baik dengancara supervisi maupun pengawasan.

Langkah pengupayaan peningkatan kepatuhan perawat dalam melakukan cuci tangan dapat dipengaruhi dengan adanya pemimpin yang dapat mengkoordinir serta memantau kinerja bawahannya. Ada beberapa gaya kepemimpinan, salah satunya kepemimpinan tranformasional.

Transformasional Leadership
Kepemimpinan transformasional  merupakan keadaan dimana pemimpin menjadi sosok yang mengispirasi bagi anggotanya pada situasi melakukan hal yang melebihi kepentingan pribadi malainkan kepentingan perusahaan dan mampu memberikan dampak mendalam dan luar biasa kepada para karyawan dari pola pikir yang menyelesaikan masalah dengan cara baru yang lebih baik. Pengaruh pemimpin di layanan kesehatan khususnya keperawatan juga mampu memberikan motivasi kepada staf perawat agar bekerja dengan disiplin, teliti, rasa percaya diri dan menjalin kerjasama dengan tim kerja. Memberikan kebebasan, status profesional, tuntutan tugas, memfasilitasi hubungan interpersonal yang adekuat, memfasilitasi interaksi antara perawat dengan pasien maupun tim kerja ((Luthans, 2006); (Robbins, 2008) & (Bass B.M. & & Avolio B. J., 1990)).

Pemimpin transformasional juga  mampu membuat karyawan bergairah dalam bekerja, membangkitkan semangat dan membuat karyawan melakukan upaya ekstra untuk mencapai tujuan perusahaan. Di layanan kesehatan Rumah Sakit pemimpin perlu mengupayakan pengembangan sebuah visi yang jelas dan menarik seperti, Penyusunan Visi, Misi, filosofi, tujuan serta kebijakan di unit layanan keperawatan yang merujuk pada Visi, Misi tujuan Rumah Sakit. Hal ini juga di dukung oleh pernyataan Thyler (2003) bahwa perawat memegang peranan untuk mengubah sistem layanan kesehatan, karena pendekatan transformasional pada kepemimpinan akan cocok pada profesi layanan kesehatan yang paling baik berfungsi dalam lingkungan berbasis tim dengan menggunakan tingkat komunikasi yang tinggi. Staf perawat dalam Rumah Sakit perawat mempersiapkan kepala perawat sebagai orang yang mendemonstrasikan model kepemimpinan transformasional ( (Borkowski, 2011); (Luthans, 2006); (Robbins, 2008) & (Bass B.M. & & Avolio B. J., 1990)).

Kepemimpnan transformasional merupakan suatu kekuatan yang mesti dimiliki pemimpin, dengan hal itu pemimpin akan mempunyai pengaruh bagi bawahan ataupun mempengaruhi bawahan. Kepemimpinan transformasional akan membuat bawahan merasa dipercaya, dihargai, loyal dan respek kepada pimpinannya. Menerapkan kepemimpinan sebagai instruktur dengan belief analytical person untuk menemukan pendekatan-pendektan baru, mengetahui proses memimpin dan dapat mengukur prosesnya serta dapat menentang prosesnya. Dari hal tersebut maka bawahan akan termotivasi untuk melakukan lebih dari yang di harapkan. Membuat target yang menantang bagi semua pengikut, meningkatkan sistem agar tercapai standart lebih tinggi dari sebelumnya, melakukan semua yang terbaik dengan membuat perencanaan secara teratur untuk pengembangan diri perawat dalam hal peningkatan kemampuan interpersonal dan intrapersonal ((Luthans, 2006); (Robbins, 2008) & (Bass B.M. & & Avolio B. J., 1990)).

Pemimpin tranformasional menggunakan karisma, pertimbangan individual dan stimulus intelektual untuk menghasilkan upaya yang besar, efektivitas dan kepuasan bagi bawahannya ((B.L Marquis & C.J. Huston, 2010) & (Hartiti, 2013)).

Transformational Leadership dalam Meningkatkan Kepatuhan Cuci Tangan
Kepemimpinan tranformasional dapat kita pergunakan dalam meningkatkan kepatuhan perawat melakukan cuci tangan. Terbentuknya sosok pemimpin yang berkualitas  maka bawahan juga akan terpengaruhi. Ketika pemimpin dan bawahan sudah menjalin hubungan yang baik dalam satu lingkup kerja maka akan menghasilkan kinerja yang baik pula. Hal ini di dukung dengan penelitian (Murtiningsih, 2015), kepemimpinan transformasional berpengaruh  signifikan dan positif terhadap kinerja. Transformasional leadership juga merupakan salah satu metode kepemimpinan yang dapat diaplikasikan dalam layanan kesehatan khusunya keperawatan. Berdasarkan karakteristik kepemimpinan transformasional dapat dijadikan sebuah bagan yang menghubungkan aplikasi tranformasional leadership terhadap kepatuhan perawat dalam melakukan cuci tangan (hand hygiene).



Berdasar bagan di atas bahwasannya kita ketahui dalam pengupayaan peningkatan kepatuhan perawat dalam melakukan cuci tangan perlu sosok pemimpin yang memiliki kemampuan tranformasional leadership. Dimana nilai-nilai yang terdapat dalam pembentukan tranformasional leadership akan membentuk seorang pemimpin yang karismatik, inspiratif, mampu memberikan stimulus intelektual dan melakukan / memperhatikan individu ataupun bawahan.

Peran karismatik pemimpin perlu guna meningkatkan mutu layanan kesehatan yang salah satu tujuannya adalah untuk menanggulangi dan pengendalian infeksi Rumah Sakit. Untuk mencapai tujuan itu pemimpin perlu malakukan penyusunan Visi dan Misi dalam pencapai sasaran. Setelah Visi dan Misi terbentuk maka perlu adanya sounding atau pemaparan. Sehingga perawat ataupun staf yang berkerjasama dalam satu kepemimpinannya bisa mengerti dan memahami serta mampu menjalakan Misi yang telah ditetapkan.

Peran Inspiratif pemimpin menjadi sorotan bawahan dalam proses kerja. Hal ini perlu menjadikan pemimpin yang tersorot nilai positif dengan pemimpin mampu membentuk ide-ide baru dan dapat menjadi penyalur bagi bawahan sehingga terjalin hubungan interpersonal antar perawat dengan perawat  dan antar perawat dengan pasien menjadi lebih baik. Dengan begitu maka pemimpin harus teliti terhadap kinerja bawahan dan juga harus percaya diri tidak mudah terpengaruh. Terbentuknya sebuah ide-ide baru mengenai bagaimana cara meningkatkan kepatuhan perawat dalam mencuci tangan, tentunya akan mempermudah realisasi perlakuan cuci tangan yang lebih baik.

Peran stimulus intelektual perlu adanya metode pendekatan yang baik antara pemimpin dengan perawat pelaksanan yang melanggar atau pun tidak patuh melakukan cuci tangan. Mencari sumber apa saja yang menyebabkan hal ketidakpatuhan itu dapat terjadi sehingga pemimpin membentuk suatu formulasi yang bisa dijadikan indikator penilai terhadap kinerja perawat dalam melakukan cuci tangan. Pemimpin juga perlu demokratis dalam memecahkan konflik kepatuhan melihat dari sudut pandang bawahan mengkritisasi program yang dijalankan pemimpin. Hal ini akan membuat bawahan merasa dianggap ada dan dihargai.

Permimpin juga perlu memiliki peran yang memperhatikan individu dengan adanya peran ini, maka perawat yang bekerja sama akan merasa dianggap dan akan terstimulus antar perawat satu dengan lainnya. Sehingga perhatian ini bisa menjadikan suati kompetitif yang positif diatara perawat dalam meningkatkan nilai kepatuhan mencuci tangan. Hal ini akan lebih baik bila pemimpin menekankan aturannya dengan punishment (hukuman) terhadap ketidakpatuhan ataupun sebaliknya mebuat reward bagi yang patuh.


Penulis: Ns. M. Martono Diel, S.Kep.
Pembimbing: Dr. Luky Dwiantoro, S.Kp., M.Kep.

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website