Headlines News :

    Follow Kami di Twitter

    Cari Berita / Artikel disini

    Arsip Web

    Like Fun Page Kami

    Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

    Nadirsyah Hosen. 

    PEWARTAnews.com -- Dalam hukum Islam ada kaidah al-‘adah muhakkamah. Tradisi yang tak bertentangan langsung dengan pokok-pokok akidah bisa diakui dan diakomodir dalam praktik maupun ekspresi keislaman kita. Kaidah ini membuat Islam bisa menerima berbagai budaya tanpa harus kehilangan identitas keislaman kita.

    Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang mengharamkan hampir semua aspek kehidupan kita saat ini. Bagaimana cara kita memahami hadits ini dalam tinjauan ilmu hadits, sejarah, politik dan budaya?

    Berbeda dengan imajinasi pihak tertentu, dari mulai Prof Samuel Huntington sampai Emak-emak yang hobi main medsos, yang membayangkan terjadinya benturan budaya, sesungguhnya peradaban manusia dibangun lewat perjumpaan dan percampuran berbagai budaya di dunia ini. Dari mulai bahasa, pakaian, makanan, karya seni, teknologi sampai olahraga terdapat titik-titik kesamaan yang kemudian bila dilacak ke belakang kita akan kesukaran menentukan identitas asli tradisi tersebut.

    Ambil contoh, memakan dengan sumpit. Kawan bule saya keheranan saya tidak bisa menggunakan sumpit padahal sudah 20 tahun lebih tinggal di Australia. Ganti saya yang keheranan ketika sumpit dihubungkan dengan tradisi Australia. Bukannya ini berasal dari Cina? Kawan bule saya dengan santai bilang: “Aslinya sih begitu, tetapi semua anak Ausie tahu cara pakai sumpit.”

    Saya beri satu contoh umum lagi, sebelum kita masuki contoh yang kontroversial. Sepak bola modern berasal dari Inggris. Paling tidak itu kata kawan saya yang penggemar berat Arsenal. Tapi ternyata olahraga ini punya sejarah panjang dari mulai permainan cuju di Cina, sampai permainan epyskiros di Yunani.

    Dan kini setiap menyebut sepak bola, dunia tidak lagi mengingat pemain Inggris, Cina atau Yunani, tetapi Messi dari Argentina dan Ronaldo dari Portugal (keduanya bermain di Liga Spanyol). Dan saya menduga baik Messi maupun Ronaldo juga tidak keberatan makan dengan sumpit.

    Nah, bisakah hanya gara-gara makan dengan sumpit atau menjadi penggemar bola, Anda kemudian dianggap bagian dari mereka? “Mereka” itu siapa? Itu saja tidak jelas karena untuk sampai kepada “mereka”, perjalanan sumpit dan sepak bola itu panjang melintasi benua dan samudera. Tapi bukankah sebagai orang Jawa, Sunda, Bugis atau Ambon Anda tetap tidak merasa kehilangan kejawaan, kesundaan, kebugisan atau keambonan Anda hanya karena makan mie pangsit dengan sumpit atau mengoleksi berbagai atribut Real Madrid atau  Barca?

    Lantas apa maksud hadits di atas? Saya dulu pernah menjelaskan soal politik identitas. Saya kutip sebagian:

    Pada masa Nabi Muhammad hidup lima belas abad yang lampau, identitas keislaman menjadi sesuatu yang sangat penting. Tapi bagaimana membedakan antara Muslim dengan non-Muslim saat itu? Bukankah mereka sama-sama orang Arab yang punya tradisi yang sama, bahasa yang sama bahkan juga berpakaian yang sama? Untuk komunitas yang baru berkembang, loyalitas ditentukan oleh identitas pembeda.

    Pernah pada suatu waktu, orang kafir menyatakan masuk Islam di pagi hari, dan kemudian duduk berkumpul bersama-sama komunitas membicarakan strategi dakwah, tapi di sore hari orang itu menyatakan dia kembali kafir lagi. Maka, murkalah Nabi. Tindakan itu dianggap sebuah pengkhianatan terhadap loyalitas komunal. Di sini muncullah hukuman mati terhadap orang murtad, yang di abad modern ini mirip dengan hukuman terhadap pengkhianat dan pembocor rahasia negara.

    Mulailah Nabi Muhammad melakukan konsolidasi internal: loyalitas dibentengi dengan identitas khusus. Nabi melakukan politik identitas: umat Islam dilarang menyerupai kaum Yahudi, Nasrani, Musyrik bahkan Majusi. Maka, keluarlah aturan pembeda identitas dari soal kumis-jenggot, sepatu-sendal, dan warna pakaian. Pesannya simpel: berbedalah dengan mereka. Jangan menyerupai mereka, karena barang siapa yang menyerupai mereka, maka kalian sudah sama dengan mereka.

    Inilah konteks hadits di atas: politik identitas dari Nabi untuk komunitas Islam saat itu. Nah, para ustaz jaman now yang gemar mengutip hadits tasyabuh ini sebenarnya juga hendak mengukuhkan identitas keislaman kita bahwa kita berbeda dengan “mereka”. Namun para ustaz lupa bahwa kita tidak lagi hidup di komunitas terbatas seperti perkampungan Madinah 15 abad lalu.

    Kita sekarang sudah menjadi citizen of the world (warga dunia). Kondisi sudah berubah, identitas keislaman tidak akan tergerus oleh pembeda yang berupa asesoris semata. Identitas keislaman saat ini adalah akhlak yang mulia.

    Secara sanad, hadits di atas juga tidak diriwayatkan oleh dua kitab utama, Sahih Bukhari dan Sahih Muslim. Para ulama hadits juga berbeda menentukan derajat hadits itu. Ada yang mensahihkan, ada yang memandang hadits itu hasan, bahkan ada pula yang mendhaifkannya. Bagi yang mengkritik perawi hadits di atas, mereka misalnya menemukan persoalan pada Abdurrahman bin Tsabit bin Tsauban.

    Ahmad bin Hanbal mengatakan hadits yg diriwayatkan perawi ini munkar. Abu Dawud mengatakan tidak mengapa dengannya. An-Nasa’i mengatakan dha’if. Ibnu Hajar menyimpulkan bahwa yang bersangkutan itu jujur, tapi sering keliru, dianggap bermazhab Qadariyyah, dan berubah hapalannya di akhir usianya.

    Mengapa para ustaz tidak menjelaskan perbedaan status sanad hadits ini dan juga konteks kemunculannya? Saya berbaik sangka para ustaz tidak punya kesempatan yang cukup untuk menjelaskannya di video youtube mereka yang viral itu.  Wa Allahu a’lam.

    Saya ingin sekali lagi menunjukkan betapa pentingnya memahami hadits sesuai konteksnya. Misalnya ada riwayat:

    “Berbedalah kalian dengan Yahudi, karena mereka salat tidak pakai sandal dan sepatu” (HR Abu Daud).

    Guru saya, Prof Dr KH Ali Mustafa Ya’qub, pernah menjelaskan bahwa kondisi masjid di zaman Nabi itu tidak pakai lantai. Hanya beralaskan tanah atau pasir. Maka, kita paham konteksnya. Bayangkan kalau hadits ini sekarang kita pakai apa adanya dan kita masuk masjid dengan sandal dan sepatu. Kita akan diteriakin bahkan mungkin dianggap penista Islam. Itulah gunanya memahami konteks hadits.

    Yang dulunya diwajibkan, malah bisa dilarang, ketika konteksnya berubah. Abu Yusuf, murid utama Imam Abu Hanifah, dengan cerdas mengeluarkan kaidah: “Jika suatu nash muncul dilatarbelakangi sebuah tradisi, dan kemudian tradisi itu berubah, maka pemahaman kita terhadap nash itu juga berubah.”

    Di samping itu, tidak benar kalau Rasulullah selalu hendak berbeda dengan kaum non-Muslim. Misalnya HR Bukhari-Muslim ini:

    “Nabi SAW tiba di Madinah, kemudian beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Beliau bertanya, “Apa ini?” Mereka menjawab : ”Sebuah hari yang baik, ini adalah hari di mana Allah menyelamatkan bani Israil dari musuh mereka, maka Musa berpuasa pada hari itu sebagai wujud syukur. Maka, beliau Rasulullah menjawab : ”Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian (Yahudi), maka kami akan berpuasa pada hari itu sebagai bentuk pengagungan kami terhadap hari itu.”

    Saya sudah jelaskan bahwa cara berpakaian orang Arab baik Muslim maupun non-Muslim saat itu serupa, maka penanda yang tampak seperti tampak di wajah itu menjadi penting bagi identitas keislaman pada saat itu seperti riwayat ini:

    “Selisilah orang-orang musyrik. Potong pendeklah kumis dan biarkanlah jenggot.” (HR Muslim).

    Tapi bagaimana dengan model sisiran? Ternyata Nabi tidak menyelisihi non-Muslim. Kenapa? Karena rambut tertutup sorban sehingga apa pun model sisiran rambut tidak akan menjadi penanda identitas. Perhatikan riwayat ini:

    “Dari Ibnu ‘Abbas bahwa Rasulullah dahulunya menyisir rambut beliau ke arah depan hingga kening, sedangkan orang-orang musyrik menyisir rambutnya ke bagian kiri-kanan kepala mereka, sementara itu Ahlul Kitab menyisir rambut mereka ke kening. Rupanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lebih suka bila bersesuaian dengan apa yang dilakukan oleh Ahlul Kitab dalam perkara yang tidak ada perintahnya. Namun kemudian hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyisiri rambutnya ke arah kanan-kiri kepala beliau”. (HR Bukhari)

    Nah, kalau kita memahami teks riwayat di atas secara apa adanya, apa kita berani mengatakan bahwa Rasulullah serupa dengan non-Muslim dan telah menjadi bagian dari mereka hanya karena model sisirannya sama? Yang heboh nanti sobat saya, Kang Maman Suherman, yang plontos itu. Dia akan bingung mau nyisir model apa biar gak dianggap kafir!

    Begitu juga soal jenggot dan kumis, kini tidak lagi menjadi satu-satunya pembeda antara identitas Muslim dengan non-Muslim. Banyak selebriti yang sekarang memelihara jenggot dan tidak berkumis, begitu juga para tokoh non-Muslim yang juga seperti itu. Apa mereka menjadi Muslim atau kita yang menjadi kafir gegara punya jenggot?

    Sekarang bagaimana dengan perayaan tahun baru? Bagaimana dengan perayaan Valentine? Bagaimana dengan ucapan selamat hari ibu, selamat ulang tahun, selamat atas wisuda, selamat atas promosi jabatan? Bagaimana kalau kita pakai celana jeans, atau dasi dan jas?

    Untuk perempuan, tahukah Anda sejarah bra? Zaman Rasul gak ada muslimah yang pakai bra, itu tradisi Eropa abad ke-18. Bolehkah Anda sekarang pakai bra? Untuk yang lelaki, bagaimana kalau kita pakai topi cowboy atau topi ulang tahun, atau topi santa?

    Saya sudah jelaskan konteks hadits tasyabuh dan dikaitkan dengan hadits lain serta pemahaman kita akan interaksi berbagai budaya di dunia. Kembali ke contoh awal di tulisan saya ini, apa Anda lantas merasa jadi kafir hanya karena makan dengan sumpit dan menonton atau ikut bermain sepak bola?

    Dalam tradisi hukum Islam dikenal kaidah al-‘adah muhakkamah. Tradisi yang tidak bertentangan langsung dengan pokok-pokok akidah itu bisa diakui dan diakomodir dalam praktik maupun ekspresi keislaman kita. Kaidah ini membuat Islam bisa menerima berbagai budaya tanpa harus kehilangan identitas keislaman kita. Itu pula yang dilakukan Walisongo saat mengakomodir budaya dan tradisi Nusantara.

    Saya tidak ingin memberi fatwa boleh atau tidaknya merayakan ini dan itu, boleh tidaknya memakai ini dan itu. Anda putuskan sendiri saja. Semoga penjelasan saya ini cukup menjadi bahan pertimbangan Anda. Hidup ini pilihan. Selamat memilih, dan Selamat Tahun Baru 2018!

    Penulis : Prof. Dr. H. Nadirsyah Hosen, LLM, MA, Ph.D.
    Ra'is Syuriah Pengurus Cabang Istimewa NU Australia dan Selandia Baru.


    Sumber : geotimes

    Kim Taehyung Lelaki Tertampan di Dunia? Apa Para Wanita Indonesia Setuju?

    Kim Taehyung / V BTS. Foto: tribunnews.com
    PEWARTAnews.com -- Hello para gadis pencinta opa-opa Korea, apa kabar nih? Mudahan sehat selalu dan tetap semangat yach. Kebayang gak sih apabila para ledis ditemani seorang penyanyi Korea ternama, Kim Taehyung? Kalau ada Kim Taehyung yang tiba-tiba menghampirimu, lalu menggandeng tangan mu? deg-degkan atau teriak histeris saking kegirangan bahagia? Saya yakin para ledis pencinta opa-opa pasti kegirangan bahagia kan? Ayo ngaku ayo ngaku. Hehe.

    Kim Taehyung yang biasa dikenal dengan V BTS dinobatkan sebagai lelaki tertampan di Dunia tahun 2017 (The 100 Most Handsome Faces of 2017) yang dirilis oleh TC Candler. Rilis TC Candler ini membawa V BTS berhasil menduduki paling atas sebagai pria tertampan di dunia tahun 2017. Ini berarti V  berhasil mengalahkan sejumlah artis tampan yang berasal dari negara-negara lain.

    Gimana para wanita Indonesia? Apa kalian juga sepakat Kim Taehyung (V BTS) sebagai pria tertampan di Dunia? Jawab di kolom komentar yach!

    Motivasi dalam Mengembangkan Karir Perawat Komunitas dengan Pembentukan Komite Etik Puskesmas

    Ilustrasi Perawat. Foto: Centroone.com.
    PEWARTAnews.com -- Perkembangan ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang keperawatan semakin meningkat dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) tiap rumah sakit juga semakin meningkat. Hal tersebut dapat dilihat dari tuntutan masyarakat maupun tuntutan akreditasi untuk pelayanan profesional dan pendidikan perawat yang harus berkembang, bukan hanya dari peralatan medis yang digunakan tapi sumberdaya manusia juga perlu ditingkatkan, karena meningkatnya persaingan antara rumah sakit yang lebih mengutamakan pelayanan. Dilihat dari segi pendidikan, perawat dengan pendidikan SPK maupun Akademi keperawatan dituntut untuk bisa mengembangkan diri dan meningkatkan profesionalitas kerja dikarenakan perawat harus terus meningkatkan pengetahuan dari penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Penelitian akan membuat ilmu keperawatan akan semakin berkembang.

    Pendidikan keperawatan di Indonesia masih bersifat vokasional yang merupakan pendidikan berketrampilan sedangkan idealnya pendidikan harus bersifat profesional yang menyeimbangkan antara teori dan praktik. Sejauh ini perkembangan keperawatan tingkat professional akan sulit tercapai apabila pendidikan vokational lebih banyak dari pada pendidikan profesional. Oleh sebab itu diperlukan standarisasi kebijakan tentang pendidikan keperawatan khususnya di Indonesia. Pendidikan keperawatan di Indonesia mengacu kepada Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional yang mencakup pendidikan vokasional, pendidikan akademi dan pendidikan profesi, sedangkan jenjang pendidikan tinggi diantaranya diploma, sarjana, megister, spesialis keperawatan dan doktor keperawatan (Kemendiknas).

    Menurut Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan, disebutkan bahwa perawat adalah mereka yang mempunyai kemampuan dan kewenangan melakukan tindakan keperawatan berdasarkan ilmu yang diperoleh melalui pendidikan keperawatan. Terkait itu Direktorat pendidikan tinggi mengeluarkan SK No.427/Dikti/Kep/1999 tentang landasan dibentuknya pendidikan keperawatan di Indonesia berbasis SI Keperawatan, SK ini didasarkan karena keperawatan yang dimiliki “Body of knowladge” yang jelas dan profesi keperawatan memiliki dasar pendidikan yang kuat, sehingga dapat dikembangkan setinggi-tingginya.

    Untuk mencapai tujuan global tersebut seorang perawat profesional dan berpendidikan harus mempunyai motivasi dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki. Motivasi merupakan suatu tindakan yang dilakukan oleh manusia yang dimulai dengan niat atau sejumlah proses yang bersifat internal atau ekstenal bagi seorang individu yang menyebabkan timbulnya sikap, antusias, persintesi dalam hal melaksanakan kegiatan tertentu (Winardi, 2002). Sistem pendukung dan penghargaan terhadap perawat akan memberikan pengaruh yang cukup baik bagi kinerja perawat, disamping itu lingkungan kerja yang memprioritaskan budaya penghargaan (reward) akan lebih baik untuk mengembangkan intelektual dan kepribadian yang dapat dilaksanakan melalui pendidikan dan pelatihan yang berkesinambungan (Subeki, 2008).

    Permasalahan yang biasa terjadi pada puskemas adalah karir perawat tidak jelas karena tidak tertatanya aturan mengenai tugas pokoknya perawat, kemudian pelimpahan wewenang yang tidak sesuai contohnya program lansia diberikan kepada profesi lain, selanjutnya adalah birokrasi pengiriman surat untuk puskesmas dari dinas kesehatan terkadang tersendat karena tidak ada petugas khusus yang mengambil surat ke dinas kesehatan.

    Banyak perawat komunitas yang beralih profesi yaitu sebagai Kesehatan Masyarakat, hal tersebut di karenakan Jaminan karir di puskesmas tidak ada. Tidak ada jaminan karir pada perawat komunitas dikarenakan tidak kuatnya manajemen perkesmas di puskesmas tersebut. Program perkesmas ini kurang dimanati oleh perawat komunitas, biasanya dikarenakan terlalu sibuknya dengan kegiatan-kegiatan di puskesmas tersebut. Sehingga kegiatan kepada masyarakat tidak banyak laksanakan, orang-orang desa lebih mengenal bidan untuk pelayanan-pelayanan yang ada di masyarakat.

    Pelayanan kepada masyarakat haruslah seimbang, untuk semua tenaga kesehatan. Jenjang karir pada kesehatan masyarakat adalah menjadi manager dan tenaga ahli (Renaldo, 2012). Menjadi tenaga ahli merupakan sangat digemari oleh semua orang, dikarenakan sifat manusia inginnya menjadi pemimpin. Hal tersebut berbeda terbalik dengan perawat puskesmas, dimana hanya pegang program dan poliklinik. Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 Pasal 24 ayat (2) menyatakan : Ketentuan mengenai kode etik dan standar profesi diatur oleh organisasi profesi. Sementara itu, Peraturan Menteri Kesehatan RI No. HK.02.02/MENKES/148/1/2010 Tentang Izin  dan  Penyelanggaraan  Praktik  Perawat, Pasal 12 ayat 2 yang  menyatakan: Perawat  dalam  menjalankan praktik senantiasa meningkatkan mutu pelayanan profesinya dengan mengikuti perkembangan ilmu pangetahuan dan teknologi melalui pendidikan dan pelatihan sesuai dengan tugasnya, yang diselenggarakan oleh Pemerintah atau orgarnisasi profesi.

    Solusi yang tepat untuk perawat yang berada di puskesmas yaitu, di adakan komite keperawatan seperti halnya perawat-perawat yang dirumah sakit. Tugas dan fungsi komite perawat yaitu melakukan kredensial bagi seluruh tenaga keperawatan yang akan melakukan pelayanan, memelihara mutu profesi tenaga keperawatan, menjaga disiplin, etika, dan perilaku profesi. Pembentukan tim komite perawat pada puskesmas ini harus mempunyai personil yang  berkompetensi unggul di bidang keperawatan, hal tersebut berguna untuk meningkatkan karir pada perawat puskesmas.

    Komite Keperawatan dibentuk oleh kepala puskesmas dan bertanggung jawab untuk meningkatkan profesi keperawatan. Susunan organisasi komite Keperawatan rumah sakit terdiri dari ketua komite keperawatan, sekretaris komite keperawatan dan subkomite. Untuk subkomite terdiri dari subkomite (1) kredensial, (2) mutu profesi dan (3) etika dan disiplin profesi. Keanggotaan komite keperawatan ditetapkan oleh kepala puskesmas dengan mempertimbangkan sikap profesional, kompetensi, pengalaman kerja, reputasi dan perilaku. Sedangkan untuk jumlah personil keanggotaan komite keperawatan disesuaikan dengan jumlah tenaga keperawatan di puskemas.

    Wewenang Komite Keperawatan sesuai pasal 12 meliputi (1) memberikan rekomendasi rincian kewenangan klinis, (2) memberikan rekomendasi perubahan rincian kewenangan klinis, (3) memberikan rekomendasi penolakan kewenangan klinis tertentu, (4) memberikan rekomendasi surat penugasan klinis, (5) memberikan rekomendasi tindak lanjut audit keperawatan (6) memberikan rekomendasi pendidikan keperawatan berkelanjutan, dan (7) memberikan rekomendasi pendampingan dan memberikan rekomendasi pemberian tindakan disipllin.

    Pendanaan Pelaksanaan kegiatan komite keperawatan didanai dengan anggaran puskesmas dan kepengurusan komite keperawatan berhak memperoleh insentif sesuai dengan aturan dan kebijakan puskesmas.

    Pembinaan dan Pengawasan pelu dilaksanakan sebagai bentuk peningkatan kinerja Komite Keperawatan dalam menjamin mutu pelayanan keperawatan serta keselamatan pasien di rumah sakit, dilakukan pembinaan dan pengawasan terhadap komite keperawatan. Bentuk pembinaan dan pengawasan berupa (1) advokasi, sosialisasi dan bimbingan teknis; (2) pelatihan dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia, (3) monitoring dan evaluasi.


    Penulis: Ramadhan Putra Satria dan Henni Kusuma
    Mahasiswa Program Studi Magister Keperawatan, Universitas Diponegoro Semarang


    Akhir Tahun 2017, IKPM Silampari Yogyakarta Sukses Gelar Makrab

    Suasana Makrab IKPM Silampari Yogyakarta. 
    Bantul, PEWARTAnews.com -- Menjelang akhir tahun 2017 IKPM Silampari Yogyakarta, tepatnya pada tanggal 23-24 Desember 2017 menggelar Malam Keakraban (Makrab), agenda ini biasa dilaksaakan setiap tahunnya untuk memupuk rasa persaudaraan.


    Makbar tahun ini dilaksanakan di Kebun Buah Mangunan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta yang menjadi tempat favorit dengan suasananya yang asri dan sejuk.

    Andi selaku Ketua IKPM Silampari Yogyakarta Periode 2017-2019 mengatakan bahwasannya masuknya ajaran baru tahun ini banyak teman-teman baru yang berasal dari Musi Rawas dan Musi Rawas Utara yang merantau melanjutkan pendidikan tinggi di Kota pelajar Yogyakarta, hal itu menjadi salah satu alasan kenapa diadakan malam keakraban ini , “Banyaknya teman-teman baru yang melanjutkan kuliah di Yogyakarta, sudah menjadi suatu kewajiban kita sebagai pengurus IKPM Silampari Yogyakarta untuk menyambutnya,“ ucapnya.

    Lebih lanjut Andi membeberkan, “Acara Makrab ini menjadi awal kita untuk menjalin silahturahmi dan saling mengakrabkan diri agar kita tetap solid di tanah rantau", tambahnya.

    Hal itu sangat juga sinkron dengan tema makrab tahun ini yang diangkat oleh panitia yaitu “Bersatu di Tanah Rantau untuk Bumi Silampari yang Lebih Baik".

    Dalam kesempatan yang sama, sesepuh IKPM Silampari Yogyakarta Faizar mengatakan bahwa bukan tanpa alasan mengapa memakai tema Makrab diatas, katanya persatuan adalah hal yang sangat diperlukan dan diutamanakan, apalagi kita di tanah rantauan. "Kita kembalikan lagi bahwa niat awal merantau adalah untuk mencari ilmu, maka ketika sudah selesai masa kuliah baiknya pulang ke kampung halaman untuk membangun daerah masing-masing agar lebih maju dan lebih baik lagi", bebernya.

    Lebih jauh Faizal mengucapkan bahwasannya mahasiswa yang berkesempatan studi di Yogyakarta harus memanfaatkan sebaik mungkin mengasah dan mengembangkan potensi diri, dan tujuan akhirnya kembali untuk membangun daerah. “Acaranya sangat meriah dan rame sekali, kita sangat berharap, antusias ini tetap terjaga dan silaturahmi tetap solid walaupun kita ditanah rantau. Saya sangat berharap teman-teman baru dapat memanfaatkan kesempatan kuliah di sini, karena sangat jarang yang nasibnya seperti kalian. Berproseslah dimanapun, carilah ilmu sebanyak mungkin, setelah itu pulang ke daerahnya masing masing bangun daerahnya lebih baik lagi," ucapnya. (Rohman / PEWARTAnews)

    Puisi-Puisi Saharudin (Kita Boleh dan Kesatuan Jiwa)

    Puisi "Kita Boleh"

    Kita boleh mengatakan diri kita sehat, tetapi ingat, suatu saat kita akan mengalami sakit.
    Kita boleh mengatakan diri kita muda, tetapi ingat, kita suatu saat pasti akan tua.
    Kita boleh menunda waktu untuk beramal, tetapi ingat, waktu itu akan terus meninggalkan kita dan akan menjadi saksi di yaumil akhir.

    Kita boleh tidak salat, tetapi ingat, amal ibadah yang pertama kali dihisab adalah salat.
    Kita boleh tidak mempelajari Al-Qur'an dan Alhadits, tetapi ingat, semua amal kita yang diterima harus berlandaskan pada kedua itu.
    Kita boleh tidak memenuhi panggilan-Nya ke masjid, tetapi ingat, kita pasti akan dipanggil untuk mempertanggungjawabkan yang kita lakukan di dunia ini.

    Kita boleh berbangga dengan rumah mewah dan megah kita, tetapi ingat, setelah meninggal kita hanya ditempatkan pada rumah seluas badan kita.
    Kita boleh berbangga dengan pakaian kita yang mahal dan bagus, tetapi ingat, itu semua tidak bisa kita gunakan di rumah terakhir kita.
    Kita boleh berbangga dengan karir yang kita peroleh, tetapi ingat, karir itu suatu saat akan hilang dalam diri kita.
    Kita boleh berbangga dengan jabatan kita, tetapi ingat, jabatan itu hanyalah sementara dan itu akan kita pertanggungjawabkan.

    Kita boleh berbahagia terhadap istri dan anak kita, tetapi ingat, suatu saat, itu semua akan meninggalkan kita atau kita yang duluan meninggalkan mereka.
    Kita boleh cinta terhadap harta kita, tetapi ingat, suatu saat apa yang kita cintai itu pasti akan melalaikan kita mengingat-Nya.
    Kita boleh membenci orang lain, tetapi ingat, kebencian kita akan menyedikitkan kawan kita.
    Kita boleh tidak membantu saudara kita, tetapi ingat, pada saat kita sakit dan meninggal pasti orang lain yang membantu kita.


    Puisi "Kesatuan Jiwa"

    Terukir badai di angkasa raya
    Melayang seperti debu  mencari tempat bersemayam
    Merambah hutan rimba menempel di dedaunan
    Menunggu sinar dunia, menggiring perasaan
    Terhembus kembali melalui nafas bumi.
    Menanti air mata langit, mengantar ke satu jiwa
    Bersatu untuk selamanya.
    Terjaga meski kayu dan batu tumbuh  di atasnya
    Tetap hidup dan satu dikedamaian satu ruh.


    Karya: Saharudin, S.Pd., M.Pd.I.
    Dosen STIE Muhammadiyah Berau / Dosen STIT Muhammadiyah Berau / Dosen STIPER BERAU / Pemuda Asal Bima NTB / saharudin.yuas178@gmail.com

    Parlemen Senayan: Angka Elektrifikasi Harus Sesuai Dengan Realitas!

    Anggota DPR RI Rofi Munawar. Foto: tribunnews.com.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) meminta jajaran PT. Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan Dirjen Kelistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serius dalam mendorong angka elektrifikasi nasional, seperti rilisnya yang diterima PEWARTAnews.com 14/12/2017. Dalam kunjungan kerja (kunker) ke DIY berdasarkan data Kementrian ESDM per juni rasio elektrifikasi Provinsi tersebut mencapai 89,63 persen, namun dalam kenyataannya masih banyak daerah yang belum terjangkau aliran listrik.


    “Peningkatan angka elektrifikasi nasional menjadi salah satu target penting yang harus dicapai oleh PT. PLN (persero), apa yang terjadi di Provinsi DIY menjadi gambaran penting bagi segenap pemangku kepentingan bahwa keterjangkauan dan akses menjadi prioritas penting dalam pemenuhan kebutuhan listrik bagi masyarakat,”  beber Anggota DPR RI Komisi VII Rofi Munawar saat dialog bersama jajaran Pemerintah Provinsi DIY, Kementerian ESDM dan PT PLN (Persero) pada 14/12/2017.

    Rofi memberikan penjelasan, berdasarkan peta potensi energi yang dimiliki oleh DIY, sesungguhnya kekuatan terbesar ada di Energi Baru Terbarukan (EBT). Bagaimana masyarakat yang berlokasi didaerah terpencil dan merupakan masyarakat yang tidak mampu, mendapatkan akses energi listrik dengan memanfaatkan EBT untuk tujuan pembangunan ekonomi dan sosial secara keseluruhan. Terlebih, selama ini DIY berada dalam sistem Interkoneksi Jawa Madura Bali (JAMALI) dan belum memiliki sistem pembangkit berskala besar.

    "Pemda perlu berencana menambah atau mengeksplorasi kawasan baru di Jogja yang bisa dimanfaatkan untuk membangun fasilitas pembangkit listrik tenaga hybrid, angin dan sejenisnya," ungkap Rofi.

    Sang Legislator ini menambahkan, secara umum masih terdapatnya disparitas akses energi yang ada di Yogyakarta. Hal ini bisa terlihat dari lebih majunya wilayah yang mendapat akses ke energi dibanding yang kurang memiliki akses. Juga, lebih majunya kabupaten/Kecamatan/Desa yang mendapat akses ke energi dibanding yang kurang memiliki akses. (PEWARTAnews)

    Kemenpora Massifkan Gerakan Anti Radikalisme dan Ekstrimisme melalui Pemuda Pelopor

    Suasana usai kegiatan. 
    Bantul, PEWARTAnews.com -- Lima puluh pemuda mengikuti pelatihan Pemuda Pelopor se Jawa yang diselenggarakan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia dan DKN Gerbang Santri di Kasihan, Bantul (10/12/2017).

    Acara yang melibatkan para pemuda ini dilaksanakan demi mengantisipasi dan mencegah paham-paham radikal dan intoleran di Indonesia.

    Peserta kader Pemuda Pelopor menggunakan seragam putih dan peci layaknya santri.
    Jumakir, sebagai salah satu pembicara dalam pelatihan tersebut mengungkapkan pentingnya pelatihan ini untuk mencegah lahir dan tumbuh kembangnya paham radikal dan intoleran, khususnya bagi kalangan pemuda-pemudi Indonesia.

    “Sejak dini kita harus membentengi masjid dengan mengajak para pemuda untuk menjadi pelopor gerakan-gerakan radikal dan ekstrimisme agama,” katanya.

    Meski Indonesia adalah Negara yang penuh dengan toleransi antar warganya, kata Jumakir, tetapi khsususnya pemuda harus selalu waspada terhadap virus radikalisme yang hendak merongrong masyarakat, agama, dan negara. “Semua agama mengajarkan kedamaian bukan kekerasan,” bebernya.

    Sementara Luthfi Az, selaku Ketua Panitia acara menambahkan bahwa materi pelatihan ini di godok khusus untuk pemuda agar cinta agama dan negeri, "Materi dalam pelatihan Pemuda Pelopor ini sengaja dibuat sedemikian rupa untuk memprovokasi pemuda agak semakin mencintai Agama, Bangsa dan Negara," ucapnya. (PEWARTAnews)

    Pelatihan Pemuda Pelopor, Radikalisme dan Ustadz Instan

    Suasana saat Pelatihan Pemuda Pelopor. 
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Fenomena keagamaan yang terjadi di bangsa kita akhir-akhir ini sangat memprihatinkan. Sebab di era milenial dewasa ini, semua orang dengan kemudahan akses tekhnologi yang begitu canggih. Siapapun mudah mengakses informasi dari internet. Baik itu informasi tentang berita, belajar agama, kumpulan ceramah agama pun dengan mudah kita dapatkan.

    Dalam momentum acara Pelatihan Pemuda Pelopor yang diselenggarakan secara nasional oleh Dewan Koordinasi Nasional Gerakan Kebangkitan Santri (Gerbang Santri) dengan menggandeng Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (KEMENPORA RI) mengangkat tema "Membangun Kepemimpinan dan Patriotisme Pemuda dalam Menangkal Radikalisme".

    Acara ini di gelar secara nasional hampir  seluruh kabupaten/kota di Indonesia. Acara yang sama juga diselenggarakan di Masjid Rodhatul Huda, Celeban, Umbulharjo, Kota Yogyakarta pada tanggal 11 Desember 2017, jam 19.30 - selesai.

    Panitia lokal dalam acara ini adalah Persatuan Remaja Masjid Jogjakarta (PRMJ), menggandeng Takmir Masjid Roudhatul Huda Celeban dan Remaja Masjidnya.

    Dari Pelatihan Pemuda Pelopor ini ada hal yang menarik yang Penulis tangkap dari pemarapan pemateri tentang radikalisme. Radikalisme ini selalu menyasar rata-rata di kalangan anak muda untuk di rekrutnya. Karena pemuda dipandang strategis untuk memasifkan paham tersebut, dan biasanya hal semacam ini hanya terjadi di kota-kota.

    Koordinator Nasional Densus 26 Nahdlatul Ulama Umaruddin Masdar yang tampil sebagai salahsatu pemateri dalam acara ini menyampaikan banyak hal yang berkaitan dengan radikalisme dan hal-hal penting lainnya. Dibawah ini akan coba Penulis uraikan ulang yang disampaikan kang Umar (sapaan akrab Umaruddin Masdar), sebagai berikut.

     Pertama, mereka (orang-orang) yang langsung belajar Al-Quran dan hadits dengan terjemahannya tanpa mempelajari tentang ilmu yang lainnya seperti ilmu hadits dan harus ada bimbingan dari guru yang jelas untuk menjelaskan tentang Qur'an dan hadits tersebut, supaya pemahaman kita terhadap teks tidak dangkal dalam menangkap makna-makna yang terkandung di dalamnya.

    Kedua, belajar agama secara instan akan membuat sesorang atau kelompok itu mudah menghalal dan mengharamkan sesuatu, mudah mengkafirkan, mencaci dan membenci yang lainnya. Ini di ibaratkan seperti sebuah pernikahan kalau hanya sekedar bertemu di medsos atau baru (belum lama kenalnya), kebanyakan akan cepat berpisah pula. Sebab segala sesuatu yang instan itu efeknya lebih berbahaya. Seperti halnya mie instan ketika kita makan terlalu banyak aka membuat kita sakit.

    Ketiga, dalam memahami agama tidak cukup dengan terjemahankannya tanpa kita mempelajari bahasa arab dan tata makna bahasa arab lainnya. Kita akan mempunyai pemahaman yang dangkal dan tidak bisa menunjukkan bahwa islam itu adalah agama yang damai, agama yang suci dan mampu merangkul semua manusia. Bukan kah di mata Tuhan yang membedakan manusia adalah takwa dan tidaknya. Ini ketika kita melihat yang terjadi dewasa ini, seperti halnya jauh panggang dari api.

    Ulama-ulama besar dulu, kalau belajar agama bertahun-tahun, dan langsung di bimbing oleh kyai-nya. Nah, berbeda kondisinya dengan sekarang, dewasa ini orang dengan mudahnya mendapatkan gelar ustadz dan bisa memberikan ceramah kepada jamaah, padahal dia belajar dimana? Berguru sama siapa? Kok tiba-tiba jadi ustadz dadakan bermodalkan peci dan sorban cukup untuk menjadi ustadz.

    Apa yang digambarkan diatas, tidak jarang terjadi pada dewasa ini, adanya caci maki dan ujaran kebencian. Sebagai muslim, seharusnya tidak demikian, seharusnya kita terus menyuarakan kedamaian dan keteduhan dalam bertutur kata. Sikap demikian, mungkin akibat kedangkalan berpikirnya. Sehingga tidak paham apa agama Islam yang seutuhnya. Seharusnya dalam berdakwah kita harus mampu memberikan kesejukan dan kedamaian kepada siapa pun, termasuk yang bukan agama Islam. Padahal kalau kita melihat kembali bagaimana cara berdakwah Rasulullah SAW yang begitu luar biasa, jangan kan sesama muslim, non muslim pun akan dia do'a kan yang baik. Seperti yang di uraikan oleh ustadz Usman, dalam sebuah kisahnya Rasulullah SAW ketika berdakwah sering di jahili oleh Abu Lahab dan suruhannya, terkadang di ludahi dan dicerca berbagaimacam penghinaan lainnya, tapi tindakan Rasulullah malah mendoakan yang baik-baik untuk Abu Lahab.  Rasulullah menganggap, biar pun Abu Lahab tidak mau masuk Islam, setidaknya ada anak cucunya nanti yang masuk Islam. Pada akhirnya, ketika Abu Lahab meninggal dunia, ada anaknya yang ahli perawi hadits. Begitu mulianya cara berdakwah Rasulullah.

    Sebagai seorang muslim yang baik, kita harus mensyukuri nikmat Tuhan yang telah menganugerahkan Negeri Indonesia tercinta ini dengan semua kekayaan alam dan juga manusianya. Mari kita cintai sepenuh hati bangsa dan Negara ini, kita tebarkan kedamaian yang hakiki.

    Adanya kegiatan Pelatihan Pemuda Pelopor ini juga disambut baik oleh Ketua Umum Persatuan Remaja Masjid Jogjakarta (PRMJ) M. Jamil, S.H., ia mengatakan adanya kegiatan ini bisa menjadi salahsatu benteng pemuda biar tidak gampang terpengaruh oleh paham-paham radikalisme.

    "Acara ini sangat baik kita sambut untuk remaja masjid dan pemuda, karena di usia muda sangan rawan dimasuki beragam pemahaman, sebelum terjangkiti paham radikal, perlu pemurnian pemaknaan dalam memahami Islam, agar pemuda tidak memaknai islam secara sempit. Karena sejatinya Islam adalah rahmatan lil alamin (rahmat bagi semesta alam). Sebagai pemuda, mari kita jaga bersama kemurnian kita dalam memaknai Islam, dan juga kita jaga bersama bangsa dan negara ini dari penyebaran paham radikalisme," ucap M. Jamil yang juga sebagai Direktur Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (LAKPESDAM NU) Kota Yogyakarta.

    Kegiatan tersebut, selain dihadiri 50 peserta, turut dihadiri juga oleh Ketua Karang Taruna Kota Yogyakarta Solikhul Hadi, Ketua Pengurus Cabang LESBUMI NU Kota Yogyakarta Ricco Survival Yubaidi, Ketua Remaja Masjid Celeban M. Tholib, Wartawan Senior Rochmad, dan Pengurus Cabang Fatayat NU Kota Yogyakarta  Saniyatun.


    Penulis: Hairul Rizal, S.H.
    Pengurus LKBH Nahdlatul Ulama Kota Yogyakarta / Salahsatu Peserta Pelatihan Pemuda Pelopor

    Gerbang Santri dan Kemenpora Gelar Pelatihan Pemuda Pelopor di Bantul

    Suasana kegiatan pelatihan pemuda pelopor di Bantul. 
    Bantul, PEWARTAnews.com -- Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia Gandeng DKN Gerbang Santri Gelar Pelatihan Pemuda Pelopor yang diikuti oleh Pemuda-pemudi di Masjid Nurul Huda Ngoto, Sewon, Bantul (10/12/2017).

    Kiai Umaruddin Masdar Koornas Densus 26 NU, yang juga menjadi salah satu narasumber menyampaikan pentingnya kesadaran pemuda dalam mengantisipasi gerakan-gerakan radikal dan intoleran, khususnya para pemuda Indonesia karena perkembangan global yang terjadi di Indonesia menjadi tantangan sekaligus peluang bagi pembangunan bangsa dan negara.

    “Radikalisme dan intoleransi mengancam agama, masyarakat dan merongrong Negara,” ujarnya.

    Sementara Ketua Panitia, Arif Rahman mengapresiasi acara Pelatihan Pemuda Pelopor yang diselenggarakan DKN Gerbang Santri dan Kemenpora.

    "Peserta yang mengikuti pembentukan kader Pemuda Pelopor berasal dari berbagai daerah di Bantul, dan berasal dari berbagai latar belakang, ada mahasiswa, siswa dan berbagai organisasi kepemudaan. Peserta kader Pemuda Pelopor menggunakan seragam putih dan peci layaknya santri," ujarnya.

     Lebih lanjut Arif mengatakan bahwa pembentukan Kader Pemuda Pelopor diharapkan mampu menangkal radikalisme yang semakin berkembang.

    “Belajar agama pada ahlinya atau ulama, jangan ke mbah google. Biar utuh memahami dan tidak menyesatkan,” tuturnya. (PEWARTAnews)

    Resensi Buku Cerita Depta, Me(maksa)lepas

    Cover Buku "Cerita Depta, me(maksa)lepas".
    PEWARTAnews.com -- Satu lagi karya anak bangsa yang patut kita apresiasi. Seorang remaja berasal dari Desa Tawali, Kec. Wera, Kab. Bima yang bernama Khairul Farid atau biasa dipanggil Bang Farid yang merupakan anak pertama dari 4 bersaudara. Ia menyelesaikan studinya sebagai perawat disalah satu kampus swasta di Kota Yogyakarta. Lewat karya sastra yang ia tuangkan dalam bentuk buku membuka reaksi dan ekspresi kita sebagai anak bangsa untuk melihat sebuah realitas dalam mewujudkan semangat muda dengan berkarya. Ingat, racun segala perubahan ketika diri kita merasa nyaman dalam mewujudkan eksistensi sikap keberanian membuat kita bertahan dalam situasi apapun.

    Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa anak-anak maupun remaja hidup dalam masa perkembangan yang pesat, terutama perkembangan fisik dan perkembangan mental. Adanya sastra dapat menjadi sarana kontribusi penunjang untuk perkembangan fisik dan mental anak-anak maupun remaja tersebut. Karya sastra juga dapat memberikan nilai-nilai tinggi bagi perkembangan bahasa, kognitif, personalitas dan sosial, lebih-lebih dapat mengembangkan kemampuan imajinasi.

    Bang Farid menulis novel “Cerita Depta me(maksa)lepas”yang diangkat dari kisah nyata seorang lelaki bernama Depta Saskara Prakasra atau akrab dipanggil Depta yang memperjuangkan kebahagiaanya pada seorang perempuan bernama Mita Desti salviani atau yang biasa dipanggil Mita. Bang Farid begitu pandai meramu alur cerita dalam novel ini, dimulai dari kelucuan perkenalan, keromantisan ke dua tokoh utama selama berpacaran, hingga ending cerita begitu terharu sampai menitikan airmata. Pembaca pun merasa tidak bosan dengan isinya.

    Sinopsis: Mita menyandarkan kepalanya di bahu Depta. Depta kembali terdiam. Terbayang lagi pikiran tadi. Tapi kini ia cukup tenang. Setidaknya keberadaan Mita di sisinya, membangunkan keyakinannya yang kokoh. Bahwa mencintai hanya persoalan yakin. Seseorang yang mencintai seperti petani, menanam benih dan terus memupuk kesetiaan pada bumi. Depta menarik napas dalam-dalam setiap kali pikiran itu menghadang. Digenggamnya tangan kekasihnya, dilihatnya selintas wajah yang bening kemuning sesekali disinari lampu senja. Dingin berembus didalam kereta. Peluit masinis kembali melengking. Depta bergumam, "Mungkin aku menuntut semua kejelasan dengan begitu cepat. Kenyamanan, keterbukaan, kecemasan bahkan ketakutan sekalipun. Aku tidak pernah menyalahkan semuanya, karena semua itu soal rasa. Aku sudah berada pada titik ini. Titik yang membuatku tidak ingin berpaling pada keadaan yang lain. Semoga kamu juga merasakan hal yang sama, yaitu cinta."

    Buku ini merekam lebih jauh dari yang kita kira. Siapa sangka, lima menit paling berharga untuk masa depan hubungan mereka terenggut oleh keegoisan salah seorang di antara keduanya. Lalu bagaimana mereka bertahan, ketika perpisahan menguntit di belakang mereka? Me(maksa)lepas adalah jalan yang paling mungkin untuk menemukan jawabannya.

    Awal dari kisah novel ini yaitu Bima Adira Prakarsa atau yang biasa disebut Bima yang diangkat oleh Bang Farid sebagai tokoh yang menceritakan tentang kedua tokoh utama Depta dan Mita. Depta merupakan seorang mahasiswa disalah satu universitas swasta di jogja. Ia bertemu dengan seorang mahasiswi yang bernama Mita, Depta Dan Mita ternyata satu naungan di universitas yang sama, hanya saja berbeda jurusan. Depta awalnya dikenalkan dengan Mita oleh Cindy. Cindy adalah teman kos-kosan dan teman satu jurusan dengan Mita. Kebetulan Cindy adalah pacarnya Rifan yang teman dekatnya Depta. Karena Rifan sering mengajak Cindy ke kontrakan Depta akhirnya muncul keakraban antara Cindy dengan Depta. Berawal dari itu mereka berkenalan, menjalin hubungan, saling mengucap satu janji kebahagiaan dan berikrar untuk saling tak ingkar. Saat itu juga Depta merasa ada yang harus diperjuangkan dalam hidupnya.

    Seseorang yang tidak hanya menemaninya susah ataupun senang, tapi menjadi bagian dari mimpi-mimpi dan masa depannya. Buku ini tidak hanya mengisahkan tentang gentingnya hubungan mereka, tapi terdapat kisah menarik mengenai arti sebuat persahabatan dan kekeluargaan. Terasa beberapa Tahun lamanya kekompakan serta keserasian mereka menjalin hubungan membuat percaya untuk mengikat dalam sebuah keseriusan. Depta dikenal sebagai sosok yang cerewet, alim, kreatif, humoris, narsis, dinamis dan proaktif. Sedangkan Mita dikenal sebagai sosok perempuan penyabar, kalem, alim dan baik hati.

    Setelah Depta selesai penempuh pendidikan, selang satu tahun dengan Depta Mita pun telah selesai pendidikan di universitas yang sama. Depta saat itu bekerja disalah satu Instansi swasta di Jogja sedangkan Mita bekerja disalah satu bank swasta juga di Jogja. Karena masing-masing sudah begitu dekat Depta dengan orangtua dan keluarga Mita dan sebaliknya Mita dengan orangtua dan keluarga Depta, mereka menyepakati keseriusan hubungannya. Saat itu juga Depta memperjuangkan tidak hanya meyakinkan Mita dan kedua orangtuanya tetapi Depta juga berjuang meyakinkan kedua orangtua dan menyatukan semua pemikiran keluarganya. Adanya kata keseriusan, hubungan mereka semakin romantis. Beberapa tempat di Kota Jogja menyimpan kenangan tersendiri bagi mereka. Kota yang tiap sudutnya mengisahkan keromantisan hubungan mereka. Tidak hanya di Jogja, Kota Bandung pun pernah menjadi tempat liburan ke dua tokoh utama tersebut. Hampir selama 5 tahun lamanya juga mereka pacaran berbagai masalah selalu menghadang. Tidak hanya mereka, saya ataupun kita yang menjalin hubungan selalu dihadapkan berbagai masalah. Salah satu kutipan yang menarik pada buku ini ialah "perlu diketahui, semua pasangan mempunyai masalah tersendiri. Hanya saja mereka berani menghadapi, bijak menyikapi tanpa mengakhiri". (Hal.175).

    Sosok seorang ibunda depta menjadi sorotan penting dalam novel ini sebagai maha guru kehidupan sebenarnya. Selama Depta tumbuh dewasa, belum pernah mendapati nasihat yang berisi untuk melepas anaknya memilih sosok perempuan yang akan mendampingi hidupnya. Akhirnya hubungan mereka disetujui oleh kedua orangtua dan keluarga masing-masing.  Hingga tahun ke 5, Mita dengan tiba-tiba mengakhiri hubungan tanpa alasan yang jelas. Masalah yang sebenarnya dianggap biasa dan tidak dipermasalahkan sama sekali tidak bisa terselesaikan dengan baik dan bijak. Depta terus mencoba mempertahankan hubungan yang selama ini ia bangun bertahun-tahun. Mita tetap saja kokoh pada pendiriannya untuk tidak bisa melanjutkan hubungannya dengan Depta.

    Alasan yang paling genting dan masih diterka oleh seorang Depta ialah Mita yang kembali meragukan depta mengenai jarak. Pada waktu yang bersamaan Mita saat itu dengan sadar menyatakan bahwa dari awal ayahnya tidak menyetui kedekatan Depta denganya karena depta orang jauh berasal dari Jakarta sedangkan mita berasal dari Jawa Tengan tepatnya Klaten. Ayahnya tidak ingin jika menikah nanti Depta membawa Mita ke Jakarta dikarenakan mita merupakan anak tunggal. Padahal dari awal sebelum persetujuan kedua belah pihak, Depta, orangtua dan keluarganya telah mengalah jika Depta akan tinggal dan mengikuti Mita.

    Muncul berbagai penyataan dari beberapa orang terdekat Mita yang salah satu teman-temanya bahwa Mita kembali menjalin hubungan dengan seseorang yang pernah mendiaminya dimasa lalunya. Depta pun mendapati hal serupa bahwa Mita memang menjalin kembali hubungan dengan seseorang dimasa lalunya. Depta kembali mempertanyakan hal tersebut dan mita selalu mengelak bahwa ia tidak menjalin kembali hubungan seseorang yang mendiaminya dimasa lalunya. Hingga pada akhirnya Depta tengah pasrah dengan kisahnya. Depta mulai menyadari bahwa semakin ia mengejar dan memaksa sosok perempuan yang pernah menenangkannya walau sesaat maka semakin jauh dan dibenci oleh perempuanya itu.

    Kelebihan buku ini ialah Penyajian bahasa tidak bertele-tele, sangat hidup dan mengalir serta mudah dipahami. Quotes pada setiap bab sangat menarik. Beberapa foto yang dilampirkan membuat pembaca penasaran dengan bab selanjutnya. Ajaran dan ajakam tentang bijaknya dalam menghadapi sebuah masalah juga sangat terasa dalam novel ini.

    Kekurangan buku ini ialah beberapa penulisan masih ada yang salah. Kutipannya juga masih ada yang sama pada beberapa bab.

    Saran diusahakan untuk menyajikan konflik yang lebih bervariasi serta konflik yang sebenarnya terjadi. Novel ini ialah kisah yang mengajarkan kita tentang arti dari juang yang sebenarnya, wajib membaca buku ini karena sangat bijak dalam menghadapi masalah.

    Satu hal yang saya tekankan bahwa sastra merupakan pengalaman, pikiran, perasaan ide-ide, semangat dan keyakinan dalam bentuk gambaran kongkret yang membangkitkan pesona dengan alat bahasa sebagai medianya. Pentingnya kesadaran untuk berkarya dengan semangat kemandirian yang berkontribusi bagi lingkungan dan masyrakatnya. Semua pencapaian yang dilakukan adalah proses panjang perkuliahan yang matang, yang dijalani dengan sungguh-sungguh dengan niat baik dan semangat membangun yang kuat. Hal tersebutlah yang ingin dibagi dan ditularkan bagi anak-anak maupun remaja saat ini. Seorang penulis yang memiliki latar belakang unik sepanjang prosesnya menuntaskan masa kuliahnya.

    Jangan istirahatkan kata-katamu, sebab,ia harus tetap bersuara. Jangan kau padam didasar kepala, sebab ia berhak menjalankan peranya dengan kemauan yang keras dan senantiasa menggelora dalam dirinya. Mampu menular kedalam jiwa daerah, menjadi harapan keluarga, harapan daerah, harapan bangsa dan harapan negara.

    Identitas Buku
    Judul Novel : Cerita Depta, me(maksa)lepas
    Penulis : Khairul Farid
    Penerbit                 : Kaki Kata
    Jumlah Bab : 16 Bab
    Tebal Buku : 216 hlm.
    Ukuran : 13x19 cm
    Sampul : Soft Cover Embos
    Cetakan Pertama : April 2017
    Harga Buku          : Rp. 55.000,-
    ISBN                     : 978-602-9922-96-5


    Peresensi: Aksan Pramoedya
    Mahasiswa Administrasi Negara UWMY, Pecinta Kesustraan

    Ujaran Kebencian Syaifuddin Ibrahim Viral di Medsos, Ini Reaksi LBH Hanura

    Syaifuddin Ibrahim. Foto: detikku.com.
    Jakarta, PEWARTAnews.com -- Sekretaris Lembaga Bantuan Hukum DPP Partai Hanura Rio Ramabaskara memuji kerja cepat Penyidik Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri dalam menangkap Syaifuddin Ibrahim alias Abraham Ben Moses (52), terkait kasus ujaran kebencian berbau Suku Agama Ras dan Antar golongan (SARA) melalui media sosial.

    Dalam videonya yang viral di Facebook, twitter dan YouTube tersebut, Syaifuddin Ibrahim tampak berbincang dengan seorang sopir taksi online. Rio menggambarkan, dalam pembicaraan tersebut, Syaifuddin sempat menanyakan agama sopir tersebut.

    Lalu, ia mengutip salah satu ayat dalam keyakinan agama sang sopir terkait pernikahan. Tak sampai di situ, ia kemudian melecehkan Nabi Muhammad yang dianggapnya tidak konsisten dengan ucapannya, dan melanggar perintah agamanya. Syaifuddin Ibrahim juga menghasut sang sopir agar mau pindah agama. Dengan kata lain ada hinaan yang ia lakukan kepada agama Islam dan mengajak sopir tersebut untuk berpindah agama.

    "Bagi saya, menjadi murtad itu hak Syaifuddin Ibrahim, tapi mengajak orang lain untuk ikut dia dan menghina agama lain, maka di situ letak masalahnya," ujar Rio dalam siaran persnya, Kamis, 7 Desember 2017.

    Rio yang telah menyaksikan video tersebut berkali-kali menjelaskan, bahwa sebelumnya Syaifuddin Ibrahim dikenal di media sosial dengan mendaulat dirinya sebagai seorang yang paham Islam dan dengan sembarangan mengutip ayat suci Alquran sebagai dasar memperdaya masyarakat untuk berpindah keyakinan.

    Dalam video tersebut, lanjut Rio, Syaifuddin kemudian juga menunjuk seorang wanita di belakangnya. Ia menyebutkan bahwa wanita itu seorang artis keturunan Arab yang sudah dia murtadkan.

    Selain melakukan penghinaan terhadap Islam, Syaifuddin Ibrahim selalu membawa bawa nama-nama Bima (salah satu kabupaten di NTB), di mana diketahui bahwa NTB sebagai provinsi dengan mayoritas masyarakatnya memeluk agama Islam. Hal ini dilakukan oleh Syaifuddin Ibrahim dengan patut diduga sebagai upaya untuk semakin meyakinkan calon targetnya dan masyarakat umum bahwa ia benar-benar selain mempunyai pemahaman yang mendalam soal Islam, juga karena lahir dan besar di lingkungan mayoritas Islam.

    Sebagai masyarakat NTB di Jakarta, Rio berharap kepada Penyidik Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim untuk benar-benar memperoses kasus tersebut dan menjadi pelajaran bagi masyarakat agar tidak melakukan hal-hal serupa.

    "Untuk itu, kami mengharapkan penyidik Polri dalam hal ini Penyidik Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim benar-benar memproses kasus ini. Selain agar Syaifuddin Ibrahim mempertanggungjawabkan perbuatannya, juga menjadi pelajaran berharga bagi masyarakat Indonesia agar tidak melakukan hal-hal serupa. Di mana hal tersebut selain bertentangan dengan hukum juga akan menjadi upaya memperkeruh hubungan baik antar umat beragama di Indonesia," ujar dia.

    Syaifuddin Ibrahim ditangkap oleh Penyidik Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, Selasa, 5 Desember 2017, sekitar pukul 22.00 WIB di kediamannya Jalan KH. Hasyim Ashari No. 27 RT 01 RW 04 Buaran Indah, Kota Tangerang, Banten. Atas perbuatannya tersebut, Syaifudin Ibrahim alias Abraham Ben Moses disangkakan telah melanggar Pasal 28 ayat 2 Undang-undang Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang ITE. (PEWARTAnews)

    LKBH Pandawa gelar Panggung Budaya

    Informasi kegiatan. 
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum (LKBH) Pandawa menyelenggarakan Gebyar Panggung Budaya pada hari Kamis, 07/17/2017 di halaman kantol LKBH Pandawa di Jln. Sultan Agung Nomor 69 Yogyakarta.

    Undang-Undang Dasar (UUD) Tahun 1945 dalam Pasal 32 Ayat (1) dijelaskan bahwasannya “Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya”.

    Direktur LKBH Pandawa, Sugiarto, S.H., M.H. membeberkan bahwa budaya merupakan salah satu aspek penting dari kehidupan yang kerap kali dianggap sebelah mata. "Kebudayaan mempunyai fungsi yang sangat besar bagi manusia dan masyarakat. Kebudayaan mengatur agar manusia dapat mengerti bagaimana seharusnya bertindak, berbuat, menentukan sikapnya kalau mereka berhubungan dengan orang lain," bebernya

    Lebih jauh, Sugiarto mengatakan apabila manusia hidup sendiri, maka tak akan ada manusia lain yang merasa terganggu oleh tindak-tindakannya.

    Sugiarto pun membeberkan pentingnya kebudayaan bagi manusia dan masyarakat. Pertama, "Menentukan identitas suatu bangsa tersebut, misalnya ada tarian Klonorojo yang identik dengan tarian jawa klasik gaya yogyakarta," sebutnya.

    Kedua, "Budaya merupakan sumber inspirasi, kebanggan dan sumber daya menghasilkan komoditi ekonomi, misalnya: wisata budaya, produk budaya," bebernya.

    Ketiga, "Sebagai warisan, budaya disosialisasikan dan diajarkan ke generasi berikutnya," harapnya.

    Keempat, "Sebgai pola perilaku, budaya berisi norma tingkah laku dan menggariskan batas-batas toleransi sosial," cuitnya.

    Kelima, "Sebagai mekanisme adaptasi terhadap perubahan, proses budaya dalam pembangunan sebagai perubahan social yang berencana," inginnya.

    Berdasar pada pentingnya kebudayaan bagi masyarakat, begitulah Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum (LKBH) Pandawa dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-2 menyelenggarakan kegiatan ini dengan mengusung tema “Gebyar Panggung Budaya” sebagai pemicu kesadaran masyarakat akan pentingnya pengetahuan budaya itu sendiri yang dikemas dalam bentuk kegiatan-kegiatan menampilkan lagu-lagu daerah yang ada diseluruh Indonesia, Tarian Klonorojo, Orasi Budaya, pembacaan Puisi, dan Orasi Budaya. (PEWARTAnews)

    Roeang Bermaulid: Menguatkan dan Mempersatukan Bangsa

    Suasana saat kegiatan roeang bermaulid
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Sejumlah warga dari berbagai elemen masyarakat, LSM, dan Organisasi Kemahasiswaan dan Pemuda memadati dan mengikuti acara Maulid Nabi Muhammad SAW, yang diselenggarakan oleh ROEANG inisiatif pada Rabu (06/12/2017) malam setelah isya'.

    Direktur ROEANG inisiatif Arif Rahman dalam sambutannya mengatakan bahwa kegiatan Maulid Nabi ini bertemakan ROEANG bermaulid yang bertujuan untuk memperingati hari lahir dan meneladani suri tauladan Baginda Muhammad SAW. "Acara ini sebagai ajang silaturrahim dan mempersatukan bangsa yang hari ini sedang digerogoti paham radikalisme," ujarnya.

    Lebih jauh, Arif membeberkan bahwasannya kegiatan ini melibatkan warga setempat dan juga lembaga-lembaga kepemudaan lainnya. "Kita Mengundang Aparat Desa, RT dan RW, masyarakat dan elemen Organisasi Kepemudaan," imbuhnya.

    Adanya acara ini, ketua RT dan RW setempat mengapresiasi dan berharap menjadi contoh masyarakat sekitar. "Harapannya kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW ini menjadi contoh untuk masyarakat khususnya pemuda, pemuda yang sekarang krisis moral bisa menjadikan Kanjeng Nabi Muhammad SAW sebagai Panutannya," ujar pak RW dalam sambutannya.

    Adapun kegiatan ini berisi pembacaan shalawat yang di meriahkan oleh hadrah Nurul Qollbi dan ditutup dengan doa bersama. Kegiatan ini  bertempat di Sekretariatan ROEANG inisiatif Jl. Bima Sokowaten, Banguntapan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. (PEWARTAnews)

    LKBH PANDAWA Gelar Penyuluhan Hukum

    Suasana saat penyuluhan hukum LKBH pandawa. 
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Suasana dalam menapak usia yang ke-2 tahun ini, LKBH PANDAWA melakukan penyuluhan hukum pada Hari Selasa, 5 Desember 2017 di Desa Sukoharjo, Kecamatan Ngaglik Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta dengan mengangkat 2 tema sekaligus yaitu: "Upaya Pencegahan dalam Rumah Tangga dan Pentingnya Sertifikasi Tanah Bagi Masyarakat".

    Terkait pertanahan dan sertifikasi hingga saat ini masih menjadi duri dalam daging bagi kehidupan di masyarakat. Kurangnya pengetahuan masyarakat akan pentingnya sertifikasi dan segala hal terkait pertanahan menjadi salah satu sumber konflik di masyarakat itu sendiri.

    Cara-cara tradisional yang masih dianut oleh masyarakat terkait kepemilikan atas tanah berbanding terbalik dengan kebutuhan masyarakat akan tanah menjadi salah satu “pekerjaan rumah” pemerintah dan lembaga hukum dalam mensosialisasikan sertifikasi tanah.

    Penyuluhan hukum merupakan salah satu mata rantai bagi LKBH PANDAWA dalam melakukan pengabdian hukum. Dalam memperingati 2 tahun LKBH PANDAWA ini melaksanakan seminar nasional, penyuluhan hukum dan gelar panggung budaya.

    Pendekatan secara kultur kepada masyarakat menjadi cara LKBH PANDAWA dalam membumikan hukum dan keadilan. Pelayanan hukum merupakan hak bagi masyarakat dan pendekatan secara kultur kepada masyarakat merupakan langkah LKBH PANDAWA dalam merangkul masyarakat yang membutuhkan hukum dan keadilan.

    “Berbudaya keadilan untuk rakyat (cultured justice for the people) merupakan nafas LKBH PANDAWA dalam menunaikan amanatnya dalam pengabdian hukum di masyarakat,” kata pembina LKBH Pandawa Mohamad Novweni, S.H. (Sugiarto)   

    Dukamu RohingyaI

    Ilustrrasi Duka Rohingya. Foto: radarbangka.co.id.
    Percikan darah tak terbendung
    Bau anyir nanah merebah kemana-mana
    Nyanyian para pendosa diatas tanah
    Negerimu tak lagi ramah

    Disana!
    Disana ribuan muslim di bantai berlumuran darah
    Disana ribuan muslim diperkosa dan dihujat bagaikan binatang liar
    Dengarkanlah jeritanya….!!!
    Saudaraku Rohingya…!!

    Lantunan ayat sucimu tak lagi kami dengar
    Alunan suaramu menyebut asma-Nya, kini berubah menjadi buah tangisan
    Apa sebenarnya yang terjadi saudaraku ?

    Dukamu telah kami dengar
    Kebahagiaanmu telah di rampas oleh manusia biadab bersenjata
    Langkah kakimu lenyap diterpan yanyian dewa kematian
    Candamu yang menguap, berubah menjadi bisingnya kesedihan

    Saudaraku Rohingya…!!!
    Kekejaman Myanmar telah tertampak dimatamu
    Mengapa tak kau lawan??
    Mengapa ??

    Engkau takut, karena kau tak bersenjata sedang mereka penuh dengan peluru nan pedang
    Untukmu saudaraku Myanmar
    Dimana letak hati nuranimu
    Tidakkah kau lihat tangisan penuh dara yang terpancar di wajahnya

    Tidakkah kau merasa iba dengan lantunan jeritanya
    Saudaraku..!!!
    Belum cukupkah kebiadabmu terhadapnya
    Sampai kapan suara pelurumu melukai mereka yang tak berdaya

    Mereka bukanlah makhluk atau binatang yang terus selalu kau tendang tersungkur jatuh di hujani pedang menunggu ajal hanya di pandang
    Ya tuhan…..!!!
    Sampai kapan duka mereka berakhir ??
    Kapan ya Tuhan


    Karya : Fatahullah
    Pemuda Asal Bima NTB

    Kebijakan Trump Akui Yerusalem Sebagai Ibu Kota Israel Kontraproduktif

    Presiden AS Donald Trump. Foto: wikipedia. 
    Jakarta, PEWARTAnews.com -- Wakil Ketua Badan Kerjasama Antarparlemen (BKSAP) Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Rofi Munawar menilai rencana Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mendukung pemindahan ibukota Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem sangat kontrproduktif dalam penyelesaian konflik Palestina. Selain bertentangan dengan resolusi internasional, disisi lain akan membuat ketegangan memuncak di timur tengah.

    "Memindahkan ibukota Israel ke Yerusalem sesungguhnya akan semakin meningkatkan konflik dan ketegangan yang berkepanjangan di Timur Tengah. Hal ini disebabkan karena Yerusalem merupakan salah satu epicentrum perjuangan utama bagi bangsa Palestina, karena adanya Al Quds" disampaikan Rofi Munawar dalam keterangan pers yang disampaikan kepada media pada hari senin (4/11) di Jakarta.

    Legislator asal Jawa Timur ini menambahkan, relokasi kedutaan besar AS bersamaan dengan rencana menetapkan Yerusalem sebagai ibukota Israel merupakan salah satu janji kampanye Trump saat pemilihan Presiden. Tapi ironisnya kebijakan luar negeri AS ini secara faktual sangat merugikan dan tidak mempertimbangkan kepentingan Palestina.

    "Trump selama ini telah secara jelas menjadikan Yerusalem dan Palestina sebagai komoditas kampanye dalam pemilihan presiden, hal ini dilakukan sebagai cara mencari dukungan dari kalangan Yahudi" sesal Anggota DPR RI ini.

    Rofi juga menjelaskan sejumlah alasan mengapa Yerusalem tidak bisa dijadikan ibukota oleh israel, diantaranya resolusi yang telah dikeluarkan oleh Komite Warisan Budaya Organisasi Pendidikan, Sains, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) yang memutuskan hilangnya kedaulatan Israel atas Kota Al-Quds (Yerusalem) yang diduduki. Selain itu juga, bagi umat Islam keberadaan Yerusalem memiliki sejarah panjang dalam proses perjuangan melawan israel.

    "Komunitas internasional dan PBB harus bersikap tegas terhadap rencana Donald Trump ini. Adapun OKI harus mengambil inisiatif yang lebih proaktif dalam menanggapi isu ini" pungkas Rofi.

    Sebagaimana diketahui, Menteri Luar Negeri Palestina Riad al-Maliki pada Ahad (3/12) mendesak Liga Arab dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) segera menggelar rapat untuk membahas situasi politik terkini di Yerusalem. Seruan tersebut ia sampaikan menyusul laporan yang menyebutkan bahwa Presiden AS Donald Trump kini sedang bersiap untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. (Heryadi Silvianto)


    Israel Pasang Metal Detector, Picu Situasi Makin Memburuk di Al Aqsha

    Masjid Al-Aqsha. Foto: weheartit.com.
    Jakarta, PEWARTAnews.com -- Wakil Ketua Badan Kerjasama Antarparlemen (BKSAP) Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Rofi Munawar menyesalkan tindakan Israel yang semakin menjadi-jadi di Komplek Mesjid Suci Al Aqsha Palestina. Mesjid Al Aqsha meski sudah dibuka kembali secara bertahap untuk umum (16/7), namun pengamanan yang dilakukan terlampau berlebihan dan kelewat batas untuk warga palestina yang hendak beribadah. Kebijakan terbaru dengan memasang cctv dan metal detector.

    "Pihak Israel pasca kejadian penembakan polisi seakan punya beribu alasan untuk membatasi dan bahkan melakukan tindakan kekerasan kepada warga Palestina yang hendak beribadah di Mesjid Al Aqsha" kecam Rofi Munawar dalam keterangan pers yang disampaikan kepada pihak media pada hari selasa (25/7) di jakarta.

    Legislator asal Jawa Timur ini memberikan pesan tambahan, Israel alih-alih meminta maaf dan bertanggung jawab atas penembakan mufti besar Imam Mesjid Al Aqsha, saat ini justru melakukan tindakan-tindakan yang kontraproduktif dalam upaya mencari usaha damai.

    "Kebijakan pembatasan yang berlebihan sejatinya akan semakin menumbuhkan konflik yang berkepanjangan dan membawa kondisi krisis di Al Aqsha semakin memburuk" tegas Rofi.

    Sikap Israel pada dasarnya telah melanggar kedaulatan masyarakat Palestina untuk beribadah, karena telah membatasi dengan semena-mena akses terhadap situs suci Mesjid Al Aqsha.

    Rofi juga menyesalkan atas lambatnya sikap tegas Perserikatan Bangsa - Bangsa (PBB) terhadap rangkaian kekerasan yang dilakukan oleh pihak Israel dalam kurun waktu satu bulan ini.

    "Sikap PBB ini sangat disayangkan dan secara pasti kondisi tersebut semakin meneguhkan posisi Israel yang sewenang-wenang." jelas Rofi.

    Terakhir, dirinya mendorong komunitas internasional untuk berperan aktif dalam mewujudkan kondisi kondusif di Mesjid Al aqsha.

    Sebagaimana diketahui sikap Indonesia terhadap kedaulatan Palestina jelas dan tegas, hal ini sesuai dengan nilai-nilai politik luar negeri Indonesia yang menentang segala bentuk penjajahan di muka bumi. Sejalan dengan sikap itu sudah banyak ratifikasi yang ditorehkan oleh Indonesia, seperti menginisiasi Piagam Dukungan Palestina di Konferensi Asia Afrika (KAA) dan mendukung resolusi terbaru UNESCO terkait Mesjid Al Aqsha. *

    Pemimpin Ideal

    PEWARTAnews.com -- Secara etimologi, pemimpin dapat diartikan sebagai khilafah, imamah, atau imarah, yang berarti memiliki daya/kemampuan memimpin. Sedangkan secara terminologi, berarti kemampuan untuk mengajak orang lain agar mencapai tujuan-tujuan tertentu yang telah ditetapkan. Pemimpin, menurut Emha Ainun Najib, ia harus mempunyai daya angon atau daya mengembalakan, kesanggupan untukngemong (mengasuh) semua pihak, karakter untuk merangkul dan memesrai siapa saja sesama saudara, sesama bangsa (tanpa membedakan suku, ras, dan agama).

    Di dalam sebuah organisasi, misalnya perlu ada namanya seorang pemimpin. Pemimpin dalam sebuah organisasi ibarat kepala. Umumnya, baik buruknya sebuah organisasi tergantung siapa pemimpinnya. Sebagai contoh, sebuah negara akan disegani oleh negara lain, bilamana pemimpinnya (Presidennya) berintegritas, cerdas, disukai oleh rakyat, amanah, dan lihai dalam mengambil keputusan atau kebijakan. Karena memang dalam sebuah organisasi keputusan tertinggi ada di tangan pemimpinnya.

    Menjadi pemimpin yang selalu diidolakan oleh rekan-rekan atau siapa saja yang dipimpinnya memang tidaklah mudah. Ia harus belajar, belajar, dan belajar. Oleh karena itu, agar seorang pemimpin dapat menjalankan kepemimpinannya dengan baik, ia harus mempunyai kelebihan atau keunggulan tertentu. Paling tidak ada tiga sifat, menurut Dr. Ruslan Abdul Gani, yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, yakni: pertama,intellectual power, yaitu keunggulan pikiran dan rasio, tahu tujuan organisasi, tahu asas organisasi, tahu cara mencapai tujuan organisasi; kedua, mental power, yakni keunggulan rohaniah (kuat kemauan, tabah, berbudi luhur, berdedikasi, tidak mudah patah semangat); dan ketiga, physical power, yakni keunggulan fisik (tahan untuk bekerja keras, tidak sakit-sakitan).

    Di samping sifat-sifat di atas, menurut saya pemimpin ideal itu harus selalu mau mendengar atas orang yang dipimpinnya. Mendengar merupakan kunci kepemimpinan. Namun kenyataannya, banyak orang cenderung lebih senang membicarakan dirinya sendiri dibandingkan mendengarkan orang lain. Padahal “menjadi pendengar yang baik” itu memiliki nilai yang luar biasa. Ya, mendengar merupakan sesuatu yang sebenarnya memiliki nilai dahsyat bagi seseorang. Baik ia merupakan seorang pemimpin maupun bukan pemimpin. Kemampuan mendengarkan secara cerdas merupakan kunci untuk dapat mempengaruhi orang lain. Sebab, mendengarkan dapat memberikan manfaat dalam membangun sebuah hubungan, meningkatkan pengetahuan, membangkitkan ide-ide, membangun sebuah loyalitas, dan menunjukkan rasa hormat kepada orang lain.

    Sejatinya, seorang pemimpin merupakan seorang pelayan. Maka seorang pemimpin tugasnya memberi pelayanan terhadap masyarakat dengan sebaik-baiknya. Jadi, seorang pemimpin harus memiliki kepekaan terhadap keperluan yang dibutuhkan oleh orang yang dipimpinnya. Agar seorang pemimpin berhasil dan sukses dalam kepemimpinannya, menurut Octavia Pramono, ia harus belajar melalui keteladanan atau contoh pemimpin yang telah meraih sukses dan mampu menyejahterakan rakyat atau bawahannya. Keteladanan merupakan sesuatu hal yang patut ditiru atau baik untuk dicontoh.

    Harus diingat, bahwa seorang pemimpin harus menjauhkan pikirannya bahwa ia pasti lebih baik dari orang (tim) yang dipimpinnya. Dengan merasa bahwa ia (baca: pemimpin) belum tentu lebih baik daripada orang yang dipimpinnya, maka ia tentu akan sampai pada kemauan untuk belajar dari orang-orang yang dipimpinnya. Bahkan, pikiran dan perasaan demikian akan menjauhkan dirinya dari kepongahan dan sifat “arogan” yang sangat tidak disukai oleh orang-orang yang dipimpinnya.

    Perlu diingat juga, bahwa semua orang adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban, baik di dalam organisasi itu sendiri maupun di hadapan Sang Khalik. Oleh karenanya, jadilah pemimpin yang amanah, pemimpin yang memiliki “jiwa kepemimpinan”, pemimpin yang bisa menjadi model (panutan), dan pemimpin yang mau dan terus belajar dari siapa pun orangnya.

    Wallahu a’lam.

    Penulis: Gunawan

    "Rindu", By Muhammad Ali

    Muhammad Ali. 
    Musim telah pergi
    Musim berkata "aku akan pergi bersama impianmu"
    Musim berkata "aku akan pergi bersama semua harapanmu"
    Dia pergi disana, di ujung penantian
    Bersama dengan kegundahan dalam hatiku

    Rindu yang salama ini ku pendam mencair sudah
    Di kala air mata menjadikannya lebih berarti
    Rindu ini seperti air mata kesedihan tanpa pelangi ataupun tanpa angin
    Ku telusuri dinginnya malam ini yang berselimutkan bayang-bayang eloknya wajahmu
    Rindu ini kadang tak menentu, semakin malam akhirnya semakin membuatku tau arti dari kesunyian itu

    Lewat sunyi, kau jadi sering datang dalam imajinasiku lalu menimbun rinduku yang sepi
    Kini, hanya rindu yang mampu mengutarakan rasa ini padanmu
    Biarkan nestapa yang mengajarkan kita tentang cara untuk sling merindui

    Jika air mata adala sebuah pembenaran, maka rindu hanyalah sebuah bayangan semu
    Karena kesedihan bukanlah sebuah kutukan dalam perihal merindu
    Karenanya, dia mengajarkanku tentang cara untuk menahan rasa rindu yg kehilangan arah dan tujuannya.

    Wahai sang angin, sampaikan salam rinduku padanya
    Hembuskanlah nafas kehidupan padanya
    Agar dia selalu bisa bernapas tanpa aku
    Di kala jarak menjadi dinding pemisah
    Yang pada akhirnya, waktu akan mempertemukan kita di hari yang baik


    Karya: Muhammad Ali
    Pemuda asal Bima NTB

    Puisi: "Rindu"

    Nursuciyati. 
    Aku ingin bercerita tentang rindu yang sudah lama aku timbun dalam semestaku
    Tentang ketidakmampuanku membiarkan rinduku liar dalam sepiku

    Aku harus bagaimana?
    Duniamu tidak dapat aku jangkau dengan duniaku
    Semestamu menolak jinakku yang sebelumnya liar akan itu
    Kamu terlalu jauh
    Bagiku, kita adalah dua ufuk yang saling menolak tentang pertemuan

    Merinduimu adalah isak yang sedang aku nikmati
    Saat aku menunggu dengan yakin lalu kau berlalu begitu saja dan meninggalkanku dalam gelap seorang diri
    Saat kamu berkata "aku ingin pulang"


    Karya: Nursuciyati
    Mahasiswi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta 

    Alam Bercurhat

    Kini diriku semakin kurus dan kempes
    Mau minta tolong, tetapi pada siapa
    Bulu-buluku selalu dipangkas
    aku merintih kesakitan, tetapi tidak didengar

    Dagingku tiap hari dipahat
    Mau marah, tetapi takut berdosa
    Perutku tiap hari selalu dikeruk
    Ingin menangkis, tetapi aku tidak punya daya

    Aku mengeluarkan cairan tidak bermanfaat
    Mereka anggap aku tidak sakit
    Tiap tebing aku terkupas
    Terkupas karena tidak ada yang memikatku

    Kini hidupku terancam
    Terancam karena sang surya selalu menerka
    Aku mau bertanya, apakah ada cara supaya selalu awet
    Pertanyaanku tidak didengarkan

    Aku ingin melindungi diriku
    Kekuatan yang aku miliki tidak punya
    Aku ingin jauh darinya
    Kendaraan yang aku miliki tidak ada

    Aku memang ditakdirkan untuknya
    Bukan berarti mereka lepas tangan
    Aku mungkin makhluk yang paling sabar
    Kesabaranku dianggap bukan dosanya

    Kini hidupku hanyalah berpasrah
     Berpasrah menunggu habisnya usiaku
    Biarlah mereka terus menyiksa
    Aku hanya bisa berpasrah pada-Nya


    Karya: Saharudin, S.Pd., M.Pd.I.
    Dosen STIE Muhammadiyah Berau / Dosen STIT Muhammadiyah Berau / Dosen STIPER BERAU / Pemuda Asal Bima NTB / saharudin.yuas178@gmail.com

    KEPMA Bima-Yogyakarta Gelar Kuliah Tamu, Jena Teke Dihadirkan

    Foto bersama usai acara berlangsung. 
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Keluarga Pelajar Mahasiswa Pelajar (KEPMA) Bima-Yogyakarta telah menyelenggarakan kuliah tamu dengan tema “Membaca Sejarah Kesultanan Bima Perspektif Jena Teke”, pada hari Rabu, 29/11/2017 pukul 15:00 WIB yang berlangsung di caffee Kethek Ogleng, Gowok, Yogyakarta.

    Yogyakarta merupakan kota yang dikenal sebagai kota budaya yang sebagian besar komposisi penduduknya adalah mahasiswa/i. Masyarakat Jogja sampai saat ini masih sangat menjaga kearifan kebudayaan lokal, bisa dilihat dari acara-acara yang terselenggara misalnya: wayang Jawa, upacara sekaten, dll.

    Acara ini digelar dalam rangka kuliah tamu yang kali ini KEPMA Bima-Yogyakarta berhasil menghadirkan putra kesultanan Bima yaitu Muhammad Putra Ferryandi (Dae Yandi), putra dari H. Ferry Zulkarnain (alm) (Mantan Bupati Bima). Saat ini Dae Yandi sedang menduduki jabatan sebagai putra mahkota atau dalam istilah Bima dikenal sebagai “Jena Teke”, untuk mengatur jalannya acara di pandu oleh moderator Rifaid, S.IP. (Mahasiswa Pascasarjana UMY).

    Adanya kegiatan seperti ini, Jena Teke merasa senang dan bangga karena bisa sekaligus dijadikan forum berbagi dan bersilaturrahim. “Alhamdulillah tentu saja saya sangat senang dengan adanya kuliah tamu ini, dalam artian kita tidak hanya menyerap ilmu yang sesuai dengan tema kita hari ini, akan tetapi kita juga dapat berkumpul kembali untuk mempererat tali silahturahim kita. Mungkin sudah lama tidak pernah ketemu akhirnya kita dapat bertemu dengan diadakannya acara ini, saya juga baru pertama kali menjadi narasumber disini (Yogyakarta) untuk saling membagi ilmu agar ilmu tidak berhenti di saya saja supaya bisa bermanfaat untuk orang lain juga," tutur Jena Teke.

    Lanjutannya, "Pesan saya untuk mahasiswa di Jogja tidak begitu banyak tapi tidak sedikit juga. Jadi, kita semua hidup didunia ini tidak bisa melupakan sejarah karena kita semua berawal dari budaya-budaya, kebiasaan-kebiasaan yang dari dulu sudah diajarkan, jangan sampai kita melupakanya karena memang ada beberapa yang harus kita terapkan sehingga bisa kita lihat kembali sisi positif dan negatifnya bagaimana perkembangan dunia pada saat sekarang ini,” harap Jena Teke

    Ketua Umum KEPMA Bima-Yogyakarta Agus Salim menggambarkan bahwasannya sejarah dan kebudayaat sudah mendarah dan mendaging menjadi sebuah identitas Bima. “Harapannya acara diskusi terkait sejarah dan kebudayaan akan tetap terus ada dan bermunculan. Karena bagaimanapun juga, sejarah dan kebudayaan merupakan bagian dari identitas kita sebagai makhluk sosial karena kita semua adalah anak sejarah,” tutur Agus Salim yang juga sebagai mahasiswa Sosiologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini.

    Dalam momentum yang sama, ketua panitia kuliah tamu, Ruslin yang biasa dikenal dengan nama Arlan ini mengatakan bahwasannya dia berterimakasih kepada Jena Teke karena telah sempatkan waktu berbagi dan berdiskusi dengan mahasiswa Yogyakarta. “Saya selaku ketua panitia mengucapkan terimakasih banyak kepada Muhammad Putra Ferriyandi yang telah meluangkan waktunya menjadi juru bicara dalam diskusi kita kali ini, saya juga ingin memberitahukan bahwa acara kuliah tamu yang kami adakan sudah memenuhi target dan sudah sesuai standar yang kami targetkan sebelumnya,” tutur Arlan

    Acara ini berjalan dengan lancar, terlihat menarik karena terjadi interaksi dialogis yang aktif antara pemateri dan para peserta. Kesuksesan dan kelancaran acara ini tidak terlepas dari kerjasama dari pengurus/panitia KEPMA Bima-Yogyakarta dan seluruh warga masyarakat Bima yang ada di Yogyakarta.


    Yogyakarta, 29 November 2017
    Penulis: Nursuciyati
    Mahasiswi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta 

    Pernikahan Dini “Antara Kenikmatan dan Kemudaratan” (Sebuah Refleksi Praktek Pernikahan Dini di NTB)

    PEWARTAnews.com -- Pernikahan dini adalah sebuah kalimat yang syarat makna kenikmatan dan kemudaratan, betapa tidak, dengan menikah maka sesuatu yang haram seketika menjadi halal termaksud berhubungan intim dengan pasangan dan sungguh ini adalah kenikmatan yang luar biasa akan tetapai akan enjadi sebuah kemudaratan apabila kenikmatan itu diraih pada usia yang belum matang (menikah dini), kenapa ini menjadi kemudaratan karena sekara fisik dan psikis seseorang yang melakukan pernikahan dini akan berada pada posisi yang dilematis antara dunia anak-dan dunia kedewasaan, ditambah lagi dengan hadirnya seorang anak dari tali kasih yang masih belia tentu akan membawa dampak tersendiri bagi buah hati yang dilahirkan serta bagi masyarakat.

    Nusa Tenggara Barat (NTB) adalah provinsi dengan peringkat kedua setelah Sulawesi barat yang menyumbang anka pernkahan dini atau dibawah usia matang dan tentu ini menjadi sebuah warning bagi pemerintah dan segenap lapisan masyarakat didalamnya mengingat dampak dari pernikahan dini yang begitu kompleks. Pernikahan dini bisa dimaknai sebagai praktek pernihan dibawah usia matang yang dilakukan oleh muda mudi yang masih polos dan lugu dengan wajahnya yang masih imut. Berdasarkan Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 BAB 2 Pasal 7 ayat 1 bahwa seorang anak laki-laki diperbolehkan menikah apabila sudah menginjak usia 19 tahun dan usia 16 tahun bagi perempuan, pemerintah provinsi NTB sendiri pada tahun 2015 mengeluarkan surat edaran dimana surat edaran gubernur ini adalah salah satu upaya untuk pendewasaan usia pernikahan dengan membatasi usia minimum bagi peremouan untuk menikah adalah usia 21 tahun dan bagi laki-laki adalah 23 tahun,  akan tetapi undang-undang dan surat edaran  ini seakan kehilangan taring melihat realitas pernikahn dini yang marak terjadi di NTB secara khusus dan di Indonesia secara umum.

    Secara global praktek pernikaha dini menjadi trend tersendiri, di Afrika dan asia jumlah anak perempuan yang menikah dibawah usia 18 tahun lebih dari 700 juta dengan skema 250 juta menikah dibawah usia 15 tahun (new York. UNFPA 2002). Sedangkan di Indonesia berdasarkan data SUNSENAS 2012 bahwa ada sekitar 11,13% anak perempuan menikah pada usia 10-15 tahun dan sekitar 32,10% menikah pada usia 16-18 tahun. Di NTB, Berdasarkan data BPS NTB 2015 bahwa ada 34,90% perempuan yang melakukan pernikahan pertama pada usia 10-19 tahun, dengan skema, Kota Mataram 26,32%, Lobar 36,37%, Loteng 40,80%, Lotim 41,66%, KLU 35,57%, Sumbawa 23,60%, KSB 28,23 %, Dompu 30,67%, Bima 22,86% dan Kota Bima 23,49 %, tentu ini bukanlah angka yang menggembirakan bagi kita semua. Seperti yang ditulis oleh penulis sebelumnya bahwa pernikahan dini syarat akan dampak negative yang kompleks tidak hanya bagi subjek akan tetapi juga bagi masyarakat dan pemerintah. Menurut Gunilla kepala perwakilan Unicef di Indonesia, bahwa subjek pernikahan dini beresiko tinggi putus sekolah, untuk anak perempuan resikonya adalah mengandung pada usia muda dan sangat berbahaya bagi kesehatan, lebih jauh dari itu pernikahan dini menyeret pada kemiskinan yang struktural dan ini akan menjadi beban tersendiri bagi keluarga, masyarakat dan pemerintah.

    Lalu apa sebenarnya penyebab massifnya praktek pernikahan dini di NTB dan di Indonesia, tentu sangat bervariatif. Ada beberapa akar permasalahan menurut Penulis, seperti yang gambarkan pada point-point dibawah ini.

    Pertama, Masalah ekonomi, dimana ada banak praktek pernikahan dini yang bermotif ekonomi, tidak sedikit orang tua yang mau menikahkan anak belianya dengan seseorang yang memiliki ekonomi yang kuat dengan harapan kelak anaknya dan keluargnya mampu memperbaiki kehidupannya secara ekonomi, ada banyak kasus menurut Penulis salah satunya adalah yang terjai di Lombok Timur  dimana seorang laki-laki berusia 60-an tahun menikahi perempuan yang berusia 12 tahun dan tentu masih banyak contoh lainnya di NTB dan Indonesia secara luas.

    Kedua, Masalah struktur sosial, suka tidak suka bahwa struktur sosial kita khusunya di NTB saat ini menjadi kanalisasi pernikahan dini, maksudnya adalah bawah masyarakat kita seakan kehilangan fungsi sosial didalam mengawasi pergaulan anak-anak remaja khusunya, begitu banyak anak-anak dibawah umur yang bergaul secara bebas, minum alkohol ditempat terbuka bahka bersama orang-orang tua, orang dewasa yang seharusnya memainkan fungsi sosialnya untuk menjadi contoh bagi regenerasi, kemudian anak-anak bebas berpacaran sampai pada waktu dan tempat yang tidak seharusnya dan kembali struktur masyarakat seakan menutup mata melihat realitas ini sehingga ada banyak kasus pernikahan dini yang terpaksa dilakukan karena kecelaan (hamil diluar nikah), kita semua mungkin masih ingat cerita orang tua kita dulu, dimana mereka sangat sulit untuk bertemu dan bergaul dengan teman sejenis dan lawan jenis sesuka hati mereka karena pengawasan orang tua dan masyarakat sangat kuat dengan kata lain bahwa struktur sosial orang terdahulu terbentuk dan fungsinya berjalan dengan baik sehingga ada ketakutan bagi seorang anak jaman dulu untuk melakukan tindakan abnormal, dan itu sangat berbeda dengan struktur sosial jaman sekarang yang begitu terbuka dengan segala sikap masa bodohnya.

    Ketiga, Masalah pendidikan,  secara formal pendidikan di NTB rasio guru dan murid masih sangat tinggi berdasarkan data BPS 2016 bahwa untuk pendidikan dasar rasio guru dan siswa adalah 23.00, SMP adalah 19,44 dan SMA adalah 19,33, kenapa rasio ini perlu dibahas karena menurut Penulis bahwa pendidikan formal kita di NTB tidak maksimal memainkan perannya dimana berdasarkan rasio bahwa satu orang guru mengajar lebih dari 10 siswa mulai dari SD, SMP dan SMA dengan jam mengajar yang terbatas ini artinya bahwa di NTB perlu mendesain pendidikan formal yang lebih ideal lagi baik dalam konteks pengajaran dalam ruangan maupun ekstrakurikuler agar para siswa tidak memiliki waktu luang yang banyak untuk berhura-hura dengan teman-temannya tetapi berkonsentrasi penuh untuk bekajar mengembangkan potensi diri. Kemudian disisi lain juga bahwa di Indonesia khusunya di NTB pendidikan belum sepenuhnya menjangkau semua masyarakat dan ini harus menjadi perhatian khusus, harus ada inovasi dalam dunia pendidikan seperti salah satu contoh di Halmahera Selatan dengan program gerakan desa cerdas yang diinisiasi oleh pemuda penggerak desa, kegitannya adalah mengirim tenaga pengajar ke semua pelosok desa yang memiliki sekolah dasar sehingga hasilnya adalah semua desa dan sekolah dasar mendapatkan guru pengajar yang professional, hal ini menurut Penulis sangat bisa kita adopsi dan dikembangankan di NTB.  Terciptanya generasi yang berkualitas tentu tidak cukup dengan memperbaiki pendidikan secara formal akan tetapi pendidikan nonformal (lingkungan) dan pendidikan informal (dalam keluarga) juga perlu diperbaiki agar ada singkronisasi pendidikan dalam membentuk karakter dan kualitas generasi kedepannya.

    Beberapa hal diatas tentu harus menjadi musuh bersama bagi kita semua dan oleh karena itu keterlibatan semua lapisan masyarakat, stakeholders dan semua instansi pemerintah memiliki probabilitas dan menjadi factor determinative dalam menekan angka pernikahan usia dini menuju pendewasaan usia pernikahan di NTB khususnya karena walau bagaimanapun pernikahan dini lebih banyak mendatangkan kemudaratan bagi pelaku dan masyarakat. Apalagi mengingat bahwa sekaran pada era millennia kita menghadapi globalisasi (westernisasi, modernisasi) yang tentu ini akan menjadi tantangan bersama kedepanya, ini menjadi penting karena globalisasi juga secara umum menjadi faktror perubahan prilaku masyarakat (tua dan muda) tidak terkecuali di NTB, betapa tidak dengan pengaruh globalisasi struktur sosial masyarakat menjadi lebih terbuka, hampir semua anak-anak di Indonesia bahkan di dunia terpengaruh dengan budaya orang barat, mulai dari cara berpakaian, perilaku sampai dengan gaya berpacaran yang begitu fulgar (seks bebas), para orang tua semakin sibuk dengan urusan pekerjaan sehingga melalaikan tugas sebagai orang tua, tidak ada lagi pengawasan terhadap kehidupan anak-anak mereka, ini harus menjadi perhatian bersama kedepannya agar terciptanya generasi emas di NTB sesuai program yang dicanangkan oleh pemrintah NTB.


    Penulis: Bung Akbar Jafar
    Dosen Universitas Muhammadiyah Mataram / Alumni PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta

     

    Iklan

    Iklan
    Untuk Info Lanjut Klik Gambar
    Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website