Headlines News :
Home » » Pernikahan Dini “Antara Kenikmatan dan Kemudaratan” (Sebuah Refleksi Praktek Pernikahan Dini di NTB)

Pernikahan Dini “Antara Kenikmatan dan Kemudaratan” (Sebuah Refleksi Praktek Pernikahan Dini di NTB)

Written By Pewarta News on Jumat, 01 Desember 2017 | 22.57

PEWARTAnews.com -- Pernikahan dini adalah sebuah kalimat yang syarat makna kenikmatan dan kemudaratan, betapa tidak, dengan menikah maka sesuatu yang haram seketika menjadi halal termaksud berhubungan intim dengan pasangan dan sungguh ini adalah kenikmatan yang luar biasa akan tetapai akan enjadi sebuah kemudaratan apabila kenikmatan itu diraih pada usia yang belum matang (menikah dini), kenapa ini menjadi kemudaratan karena sekara fisik dan psikis seseorang yang melakukan pernikahan dini akan berada pada posisi yang dilematis antara dunia anak-dan dunia kedewasaan, ditambah lagi dengan hadirnya seorang anak dari tali kasih yang masih belia tentu akan membawa dampak tersendiri bagi buah hati yang dilahirkan serta bagi masyarakat.

Nusa Tenggara Barat (NTB) adalah provinsi dengan peringkat kedua setelah Sulawesi barat yang menyumbang anka pernkahan dini atau dibawah usia matang dan tentu ini menjadi sebuah warning bagi pemerintah dan segenap lapisan masyarakat didalamnya mengingat dampak dari pernikahan dini yang begitu kompleks. Pernikahan dini bisa dimaknai sebagai praktek pernihan dibawah usia matang yang dilakukan oleh muda mudi yang masih polos dan lugu dengan wajahnya yang masih imut. Berdasarkan Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 BAB 2 Pasal 7 ayat 1 bahwa seorang anak laki-laki diperbolehkan menikah apabila sudah menginjak usia 19 tahun dan usia 16 tahun bagi perempuan, pemerintah provinsi NTB sendiri pada tahun 2015 mengeluarkan surat edaran dimana surat edaran gubernur ini adalah salah satu upaya untuk pendewasaan usia pernikahan dengan membatasi usia minimum bagi peremouan untuk menikah adalah usia 21 tahun dan bagi laki-laki adalah 23 tahun,  akan tetapi undang-undang dan surat edaran  ini seakan kehilangan taring melihat realitas pernikahn dini yang marak terjadi di NTB secara khusus dan di Indonesia secara umum.

Secara global praktek pernikaha dini menjadi trend tersendiri, di Afrika dan asia jumlah anak perempuan yang menikah dibawah usia 18 tahun lebih dari 700 juta dengan skema 250 juta menikah dibawah usia 15 tahun (new York. UNFPA 2002). Sedangkan di Indonesia berdasarkan data SUNSENAS 2012 bahwa ada sekitar 11,13% anak perempuan menikah pada usia 10-15 tahun dan sekitar 32,10% menikah pada usia 16-18 tahun. Di NTB, Berdasarkan data BPS NTB 2015 bahwa ada 34,90% perempuan yang melakukan pernikahan pertama pada usia 10-19 tahun, dengan skema, Kota Mataram 26,32%, Lobar 36,37%, Loteng 40,80%, Lotim 41,66%, KLU 35,57%, Sumbawa 23,60%, KSB 28,23 %, Dompu 30,67%, Bima 22,86% dan Kota Bima 23,49 %, tentu ini bukanlah angka yang menggembirakan bagi kita semua. Seperti yang ditulis oleh penulis sebelumnya bahwa pernikahan dini syarat akan dampak negative yang kompleks tidak hanya bagi subjek akan tetapi juga bagi masyarakat dan pemerintah. Menurut Gunilla kepala perwakilan Unicef di Indonesia, bahwa subjek pernikahan dini beresiko tinggi putus sekolah, untuk anak perempuan resikonya adalah mengandung pada usia muda dan sangat berbahaya bagi kesehatan, lebih jauh dari itu pernikahan dini menyeret pada kemiskinan yang struktural dan ini akan menjadi beban tersendiri bagi keluarga, masyarakat dan pemerintah.

Lalu apa sebenarnya penyebab massifnya praktek pernikahan dini di NTB dan di Indonesia, tentu sangat bervariatif. Ada beberapa akar permasalahan menurut Penulis, seperti yang gambarkan pada point-point dibawah ini.

Pertama, Masalah ekonomi, dimana ada banak praktek pernikahan dini yang bermotif ekonomi, tidak sedikit orang tua yang mau menikahkan anak belianya dengan seseorang yang memiliki ekonomi yang kuat dengan harapan kelak anaknya dan keluargnya mampu memperbaiki kehidupannya secara ekonomi, ada banyak kasus menurut Penulis salah satunya adalah yang terjai di Lombok Timur  dimana seorang laki-laki berusia 60-an tahun menikahi perempuan yang berusia 12 tahun dan tentu masih banyak contoh lainnya di NTB dan Indonesia secara luas.

Kedua, Masalah struktur sosial, suka tidak suka bahwa struktur sosial kita khusunya di NTB saat ini menjadi kanalisasi pernikahan dini, maksudnya adalah bawah masyarakat kita seakan kehilangan fungsi sosial didalam mengawasi pergaulan anak-anak remaja khusunya, begitu banyak anak-anak dibawah umur yang bergaul secara bebas, minum alkohol ditempat terbuka bahka bersama orang-orang tua, orang dewasa yang seharusnya memainkan fungsi sosialnya untuk menjadi contoh bagi regenerasi, kemudian anak-anak bebas berpacaran sampai pada waktu dan tempat yang tidak seharusnya dan kembali struktur masyarakat seakan menutup mata melihat realitas ini sehingga ada banyak kasus pernikahan dini yang terpaksa dilakukan karena kecelaan (hamil diluar nikah), kita semua mungkin masih ingat cerita orang tua kita dulu, dimana mereka sangat sulit untuk bertemu dan bergaul dengan teman sejenis dan lawan jenis sesuka hati mereka karena pengawasan orang tua dan masyarakat sangat kuat dengan kata lain bahwa struktur sosial orang terdahulu terbentuk dan fungsinya berjalan dengan baik sehingga ada ketakutan bagi seorang anak jaman dulu untuk melakukan tindakan abnormal, dan itu sangat berbeda dengan struktur sosial jaman sekarang yang begitu terbuka dengan segala sikap masa bodohnya.

Ketiga, Masalah pendidikan,  secara formal pendidikan di NTB rasio guru dan murid masih sangat tinggi berdasarkan data BPS 2016 bahwa untuk pendidikan dasar rasio guru dan siswa adalah 23.00, SMP adalah 19,44 dan SMA adalah 19,33, kenapa rasio ini perlu dibahas karena menurut Penulis bahwa pendidikan formal kita di NTB tidak maksimal memainkan perannya dimana berdasarkan rasio bahwa satu orang guru mengajar lebih dari 10 siswa mulai dari SD, SMP dan SMA dengan jam mengajar yang terbatas ini artinya bahwa di NTB perlu mendesain pendidikan formal yang lebih ideal lagi baik dalam konteks pengajaran dalam ruangan maupun ekstrakurikuler agar para siswa tidak memiliki waktu luang yang banyak untuk berhura-hura dengan teman-temannya tetapi berkonsentrasi penuh untuk bekajar mengembangkan potensi diri. Kemudian disisi lain juga bahwa di Indonesia khusunya di NTB pendidikan belum sepenuhnya menjangkau semua masyarakat dan ini harus menjadi perhatian khusus, harus ada inovasi dalam dunia pendidikan seperti salah satu contoh di Halmahera Selatan dengan program gerakan desa cerdas yang diinisiasi oleh pemuda penggerak desa, kegitannya adalah mengirim tenaga pengajar ke semua pelosok desa yang memiliki sekolah dasar sehingga hasilnya adalah semua desa dan sekolah dasar mendapatkan guru pengajar yang professional, hal ini menurut Penulis sangat bisa kita adopsi dan dikembangankan di NTB.  Terciptanya generasi yang berkualitas tentu tidak cukup dengan memperbaiki pendidikan secara formal akan tetapi pendidikan nonformal (lingkungan) dan pendidikan informal (dalam keluarga) juga perlu diperbaiki agar ada singkronisasi pendidikan dalam membentuk karakter dan kualitas generasi kedepannya.

Beberapa hal diatas tentu harus menjadi musuh bersama bagi kita semua dan oleh karena itu keterlibatan semua lapisan masyarakat, stakeholders dan semua instansi pemerintah memiliki probabilitas dan menjadi factor determinative dalam menekan angka pernikahan usia dini menuju pendewasaan usia pernikahan di NTB khususnya karena walau bagaimanapun pernikahan dini lebih banyak mendatangkan kemudaratan bagi pelaku dan masyarakat. Apalagi mengingat bahwa sekaran pada era millennia kita menghadapi globalisasi (westernisasi, modernisasi) yang tentu ini akan menjadi tantangan bersama kedepanya, ini menjadi penting karena globalisasi juga secara umum menjadi faktror perubahan prilaku masyarakat (tua dan muda) tidak terkecuali di NTB, betapa tidak dengan pengaruh globalisasi struktur sosial masyarakat menjadi lebih terbuka, hampir semua anak-anak di Indonesia bahkan di dunia terpengaruh dengan budaya orang barat, mulai dari cara berpakaian, perilaku sampai dengan gaya berpacaran yang begitu fulgar (seks bebas), para orang tua semakin sibuk dengan urusan pekerjaan sehingga melalaikan tugas sebagai orang tua, tidak ada lagi pengawasan terhadap kehidupan anak-anak mereka, ini harus menjadi perhatian bersama kedepannya agar terciptanya generasi emas di NTB sesuai program yang dicanangkan oleh pemrintah NTB.


Penulis: Bung Akbar Jafar
Dosen Universitas Muhammadiyah Mataram / Alumni PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website