Headlines News :
Home » » Puisi-Puisi Saharudin (Kita Boleh dan Kesatuan Jiwa)

Puisi-Puisi Saharudin (Kita Boleh dan Kesatuan Jiwa)

Written By Pewarta News on Jumat, 15 Desember 2017 | 13.27

Puisi "Kita Boleh"

Kita boleh mengatakan diri kita sehat, tetapi ingat, suatu saat kita akan mengalami sakit.
Kita boleh mengatakan diri kita muda, tetapi ingat, kita suatu saat pasti akan tua.
Kita boleh menunda waktu untuk beramal, tetapi ingat, waktu itu akan terus meninggalkan kita dan akan menjadi saksi di yaumil akhir.

Kita boleh tidak salat, tetapi ingat, amal ibadah yang pertama kali dihisab adalah salat.
Kita boleh tidak mempelajari Al-Qur'an dan Alhadits, tetapi ingat, semua amal kita yang diterima harus berlandaskan pada kedua itu.
Kita boleh tidak memenuhi panggilan-Nya ke masjid, tetapi ingat, kita pasti akan dipanggil untuk mempertanggungjawabkan yang kita lakukan di dunia ini.

Kita boleh berbangga dengan rumah mewah dan megah kita, tetapi ingat, setelah meninggal kita hanya ditempatkan pada rumah seluas badan kita.
Kita boleh berbangga dengan pakaian kita yang mahal dan bagus, tetapi ingat, itu semua tidak bisa kita gunakan di rumah terakhir kita.
Kita boleh berbangga dengan karir yang kita peroleh, tetapi ingat, karir itu suatu saat akan hilang dalam diri kita.
Kita boleh berbangga dengan jabatan kita, tetapi ingat, jabatan itu hanyalah sementara dan itu akan kita pertanggungjawabkan.

Kita boleh berbahagia terhadap istri dan anak kita, tetapi ingat, suatu saat, itu semua akan meninggalkan kita atau kita yang duluan meninggalkan mereka.
Kita boleh cinta terhadap harta kita, tetapi ingat, suatu saat apa yang kita cintai itu pasti akan melalaikan kita mengingat-Nya.
Kita boleh membenci orang lain, tetapi ingat, kebencian kita akan menyedikitkan kawan kita.
Kita boleh tidak membantu saudara kita, tetapi ingat, pada saat kita sakit dan meninggal pasti orang lain yang membantu kita.


Puisi "Kesatuan Jiwa"

Terukir badai di angkasa raya
Melayang seperti debu  mencari tempat bersemayam
Merambah hutan rimba menempel di dedaunan
Menunggu sinar dunia, menggiring perasaan
Terhembus kembali melalui nafas bumi.
Menanti air mata langit, mengantar ke satu jiwa
Bersatu untuk selamanya.
Terjaga meski kayu dan batu tumbuh  di atasnya
Tetap hidup dan satu dikedamaian satu ruh.


Karya: Saharudin, S.Pd., M.Pd.I.
Dosen STIE Muhammadiyah Berau / Dosen STIT Muhammadiyah Berau / Dosen STIPER BERAU / Pemuda Asal Bima NTB / saharudin.yuas178@gmail.com

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website