Headlines News :

    Follow Kami di Twitter

    Cari Berita / Artikel disini

    Arsip Web

    Like Fun Page Kami

    Tentang Letto

    Letto. Foto: tribunnews.com.
    PEWARTAnews.com -- Dahulu sepulang dari sekolah (SD) yang pertama kali saya tonton di TV adalah lagu-lagu POP. Masih teringat sampai saat ini, channel TV yang sering saya tonton adalah Global TV dan RBTV karena kedua channel tersebut selalu menyajikan lagu-lagu POP dengan beberapa nominasi. Tibalah saat itu, saya jatuh cinta dengan lagu-nya Letto yang berjudul “Sebelum Cahaya, Permintaan hati dan Sandaran hati”. Enak didengar dan dirasa. Bahkan sampai sekarang, saya masih hafal lirik lagu tersebut.

    Lambat laun, saya melupakan artis-artis Indonesia karena jarang nonton mereka. Tapi ketika ada lagu bagus, saya tertarik untuk mendengarkan dan bergegas untuk nyari di internet (saat itu nyebutnya begitu, belum kenal dengan nama Youtube). Haha #ndeso. Tentu lagu yang menarik dan bagus itu “relatif” ya. Bisa jadi, bagi saya bagus namun bagi orang lain biasa-biasa aja. Maklum, selera orang beda-beda. Hehehe. Tergantung konteks dan situasi hati juga.

    Setelah beberapa tahun lamanya saya jarang nonton TV, bahkan tak tau kabar letto bagaimana, udah rilis lagu baru apa saja pun saya tak tahu. Saat saya kelas 3 Aliyah, ibu saya bilang kalau ternyata Putra-nya Cak Nun itu Mas Sabrang (Voc. Letto Band). Dengan santai saya respon oh iya to.
    Karena pada saat itu saya belum tertarik dengan Cak Nun dan mengenal dekat Cak Nun, jadi ya biasa-biasa saja. Mungkin ini bisa dianalogikan dengan ketika kita jatuh cinta. Perasaan kita biasa-biasa saja karena memang kita belum mengenal dekat dengan-nya. Namun ketika sudah mengenal dekat, bahkan sangat dekat, ikatan emosional itu akan terjalin dan pada akhirnya cinta dan saling mencintai. Begitu pula yang saya alami terhadap Cak Nun.

    Waktu terus berputar. Kebutuhan emosional, intelektual dan spiritual saya juga menuntut untuk terus diberi amunisi, hingga akhirnya saya mengikuti salah satu pengajian yang kebetulan menghadirkan Cak Nun dan Kiyai Kanjeng. Seseorang yang jatuh cinta pasti ada sebab, alias semua hal ada asbab-nya. Kalian dinikahi dengan seseorang, itu juga karena sebab. Sama halnya yang saya alami ketika mengikuti pengajian Cak Nun. Pengen ikut terus, kemanapun beliau pergi. Ya, saya “mendeklarasikan diri sebagai santri beliau”. Lalu seusai pengajian tersebut, saya stalking di medsos dan tanya-tanya pada kawan. Ternyata oh ternyata, Cak Nun punya jama’ah Maiyah setiap tanggal 17 setiap bulannya di Kadipiro. Sejak saat itulah, selalu saya sempatkan untuk datang ke majlis beliau (tepat ketika saya semester 5) sekitar bulan Oktober 2017. Bulan itulah pertama kali saya mengenal Cak Nun langsung sampai ke hati. Hehehehe.

    Setiap Maiyah pada tanggal 17 tersebut, Mas Sabrang (Letto) selalu ada dipanggung. Entah menjadi moderator, narasumber maupun pengisi lagu/tim hore. Betapa luar biasanya Gusti Allah, mempertemukan saya dengan beliau. Setidaknya bisa face to face karena sudah sangat lama tidak nonton beliau di TV.

    Sebelum saya nge-share tulisan ini, saya sempatkan untuk nonton video klip dan merasakan setiap lagu Letto Band (17/09/2018). Baru sadar, kalau ternyata dibalik lagu-lagu Letto mengandung makna filosofis yang amat sangat dalam. Saya berkata pada diri saya sendiri “seandainya tema skripsi-ku belum di ACC Kajur, mungkin akan ku ajukan tema terkait dengan lagu-lagu letto dan relevansinya dengan Pendidikan Agama Islam dengan menggunakan pendekatan hermeunetika sebagai alat analisinya. Meski video klip nya tidak islami (secara kasat mata) tapi ada makna esotoris yang sangat luar biasa. Saya suka, saya suka.

    Jangan dilihat dari covernya yak, tapi pahami substansi dan makna dibalik kata-kata lagunya. Monggo bagi yang berminat mengangkat lagu-lagu letto menjadi skripsi. Hehehe khususnya anak PAI.

    Sampai detik ini saya juga suka lagunya Krispatih “Demi Cinta”. Video klipnya bikin nangis.


    Puisi "Negeriku"

    Jumratun.
    Malapetaka meraja dimana-mana,
    Duka bertaburan disetiap halaman rumah,
    Luka-luka bersembunyi dibalik sujud,
    Setiap hari bergelimang air mata,
    Setiap hari adalah Transaksi,
    Pelecahan menjadi barang eceren yang diobral oleh semua orang,
    Kebenaran dibungkam kebohongan diseminarkan.

    Kapan itu berakhir?

    Lombok menangis karena janji presiden tak kunjung terealisasi,
    Bima kebingunan karena harga bawang yang makin hari makin tidak stabil,
    Kalimantan sesak karena oksingen dunia kebakaran,
    Sedangkan peci dan jubah ambil pagung dimana-dimana.

    Negeriku ngeri yah,
    Suara Adzan ingin di batasi,
    Salah ucap dikenakan sangsi,
    Hak asasi manusia tidak lagi berarti,
    Ibu-ibu menyampaikan anspirasi malah di pukul mundur.

    Negeriku
    Dimana engkau yang dulu,
    Dimana kesejukan itu,
    Dimana kedamainan itu,
    Dimana?
    Sepertinya saya rindu ingin berjumpa kembali dengan mu,
    Negeri ku makin hari makin membuatku kehilangan kemanusiaan.


    Yogyakarta, 20 September 2019
    Karya: Jumratun

    Epistemologi Baru dalam Kajian Keislaman

    PEWARTAnews.com – Gagasan pokok buku ini adalah perluasan radius jangkauan fiqh Maqasid Syariah (tujuan-tujaun utama Syariat Islam). Jika Maqashid Syariah pada masa awal menekankan pada penjagaan (protection) dan pelestarian (preservation) atau yang lebih dikenal dengan al-hifzf, Maqashid Syariah kontemporer lebih bernuansa pembagunan (development) dan pemuliaanterhadap Hak-hak Asasi (human rights).

    Buku dengan judul asli Maqasid Syariah as Philosophy Law: A Systems Approachini adalah hasil dari creative imajination (istilah Ian G Barbour) Jasser Auda setelah meraih gelar Ph.D di dua bidang ilmu yang berbeda, yaitu filsafat hukum Islam dan analisis Sistem. Jasser Auda mempresentasikan penelitian multi-disipliner dengan tujuan mengembangkan teori Usul Fikih melalalui pendekatan sistem (hlm 28). Selain itu Jasser Auda mereformasi filsafat hukum Islam (ushul al-fiqh) dengan menjadikan Maqasid Syariah sebagai basis pangkal tolak berpikir filosofi  dengan menggunakan pendekatan sistem sebagai metode berpikir dan pisau analisis. Sebuah pendekatan baru yang belum pernah terpikirkan untuk di gunakan dalam diskusi hukum Islam dan ushul al fiqh sebelumnya. Pendekatan ini melahirkan freash ijtihad atau ijtihad-ijtihad yang lebih ‘segar’ yang lebih konteks dan konten dengan problematika masyarakat muslim kontemporer.

    Fitur-Fitur Sistem
    Ada enam fitur teori sistem yang di tawarkan Jasser Auda. Pertama, kognitif sistem (cognitive nature of system), Kedua, kemenyeluruhan (wholeness), Ketiga, keterbukaan (openness), Keempat, hierarki yang saling mempengaruhi (interrelated hierarchy). Kelima, multi-dimensionalitas (multi-dimensionality). Keenam, kebermaksudan (purposefulness) (hlm86). Pengoprasian enam fitur teori sistem ini pada hukum Islam memberikan kontrubusi signifikan  dalam rangka mereformasi filsafat hukum Islam. Hal ini dapat dilihat dari pergeseran dan perluasan radius jangkauan Maqasid Syari’ah setelah di tambah di sana-sini oleh Jaseer Auda. Misalnya dari menjaga agama (hifz al-din) bergeser menjadi menjaga, melindungi dan menghormati kebebasan beragama dan berkepercayaan. Menjaga jiwa (hifz al-Irdh), bergeser menjadi menjaga dan melindungi martabat kemanusiaan, hak-hak asasi manusia Universal. Menjaga akal (hifz al- Aql) bergeser menjadi, melipatgandakan pola pikir dan research ilmiah, mengutamakan perjalanan untuk mencari ilmu pengetahuan dan menghindari upaya-upaya yang meremehkan kerja otak. Menjaga keturunan (hifz al-nasl) bergeser dengan beroreantasi pada perlindungan yang lebih terhadap instasi keluarga. Menjaga harta (hifz al-mal) bergeser menjadi mengutamakan kepedulian sosial, menaruh perhatian pada pembangunan ekonomi, mendorong kesejahteraan manusia, menghilangkan jurang yang lebar antara miskin dan kaya.

    Maqashid baru Jasser Auda menjadikan Human Devolopment atau pembangunan sumber daya manusia sebagai target utama dari maslahah (public interest), sehingga Maqashid dapat dilihat dan di cek perkembanganya dari waktu ke waktu, diuji, dikontrol dan divalidasi melalui human devolopment index dan human defolopment target yang dicanangkan dan dirancang  oleh badan dunia, seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) maupun yang lain. Dengan begitu kemajuan dan kesejahteraan umat Islam dari waktu ke waktu dapat di upayakan, diperjuangkan, diukur dan dipertanggung jawabkan secara publik.

    Identitas Buku
    Judul : Membumikan Hukum Islam Melalui Maqasid Syariah Pendekatan Sistem
    Penulis : Jasser Auda
    Penerjemah : Rosidin dan ‘Ali’Abd el-Mun’im
    Penerbit : PT Mizan Pustaka
    Cetakan : 1, Agustus 2015
    Tebal : 356 halaman
    ISBN : 978-979-433-902-2
    Penulis : Abdul Gafur (Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

    Puisi Tidak Sekedar Berkata Kata

    Eka Ilham, M.Si.
    PEWARTAnews.com – Puisi tak sekedar teks dan kumpulan pilihan kata. Bila padanya diberi konteks, puisi dapat bertransformasi menjadi "senjata" tak lagi sekedar kata. Jika saja teks dan konteks diberi imaji dan spritualitas, puisi dapat di ubah menjadi spirit perubahan, perlawanan, pergerakan, romantisme, meditasi, dan instropeksi diri. Puisi juga mengajak kita untuk mentertawakan diri kita sendiri terhadap apa yang terjadi di lingkungan sekitar kita tampa ada saling menyakiti sebab kita dapat tertawa bersama-sama dengan kata-kata. Takkala kondisi bangsa hari ini nurani tertutup oleh buih keserakahan dan dahaga kekuasaan maka yang dipikirkan hanyalah bagaimana merebut kekuasaan baik politik maupun ekonomi, dengan menghalalkan segala cara. Kira-kira situasi inilah yang terjadi di republik ini. Tindakan koruptif telah menjelma menjadi bagian dari proses politik untuk menyangga kekuasaan. Para sastrawan mencoba mencari ruang melalui kata-kata untuk memberikan sebuah ekspresi terhadap kondisi republik ini. Sebut saja puisi Gus Mus “negeri haahihi” dengan imajinya dia menggambarkan kondisi republik ini.

    Negeri Haha Hihi

    Bukan karena banyaknya grup lawak,
    maka negeriku selalu kocak
    Justru grup-grup lawak hanya mengganggu dan banyak yang bikin muak
    Negeriku lucu, dan para pemimpinnya suka mengocok perut

    Banyak yang terus pamer kebodohan
    dengan keangkuhan yang menggelikan
    Banyak yang terus pamer keberanian
    dengan kebodohan yang mengharukan
    Banyak yang terus pamer kekerdilan
    dengan teriakan yang memilukan
    Banyak yang terus pamer kepengecutan
    dengan lagak yang memuakkan. Ha ha ...

    Penegak keadilan jalannya miring
    Penuntut keadilan kepalanya pusing
    Hakim main mata dengan maling
    Wakil rakyat baunya pesing. Hi hi ...

    Kalian jual janji-janji
    untuk menebus kepentingan sendiri
    Kalian hafal pepatah-petitih
    untuk mengelabui mereka yang tertindih
    Pepatah petitih, ha ha ...

    Anjing menggonggong kafilah berlalu,
    Sambil menggonggong kalian terus berlalu

    Ha ha, hi hi ...
    Ada udang dibalik batu,
    Otaknya udang kepalanya batu
    Ha ha, hi hi
    Sekali dayung dua pulau terlampaui
    Sekali untung dua pulau terbeli
    Ha ha, hi hi
    Gajah mati meninggalkan gading
    Harimau mati meninggalkan belang
    kalian mati meninggalkan hutang
    Ha ha, hi hi
    Hujan emas di negeri orang, hujan batu dinegri sendiri,
    Lebih baik yuk hujan – hujanan caci maki.
    Ha ha, hi hi

    Puisi di atas dengan imajinya memberikan sebuah pembelajaran bagi kita. Kehidupan berbangsa-bernegara kita hari ini terlampau pengap oleh mentalitas kaum perampok. Mentalitas yang meninggalkan nurani dan akal sehat, demi beroleh pundi-pundi kekayaan. Tata aturan berbangsa-bernegara yang bersumber dari konstitusi dan seperangkat undang-undang lainnya, dikangkangi demi mengejar kemapanan serta kenyamanan hidup. Meski harus menyisakan barisan panjang penderitaan, penindasan dan ketidakadilan. Pun, agama tak lagi di toleh, ketika mata hanya tertuju pada kemewahan hidup yang sering kali mewariskan kemelaratan pada generasi kedepan. Kepengepan situasi semacam itulah yang coba di dobrak oleh para penyair dan penulis melalui puisi-puisi mereka. Ruang-ruang itu mereka sajikan dalam bentuk pentas budaya/seni, seminar, workshop, diskusi, perlombaan, komunitas-komunitas seni, dan sebagainya. Mereka mencoba bertahan di ruang-ruang itu atas nama seni dan idealisme.

    Betul bahwa puisi atau karya sastra lainnya tidak secara otomatis, berjangka waktu pendek, ataupun spontan, akan mampu mewujudkan sebuah perubahan. Namun, sebagai anak kandung kebudayaan, puisi atau karya sastra lainnnya mempunyai tempat dan tugas tersendiri dalam mendesakkan perubahan. Dengannya, realitas yang korup, penuh ketimpangan serta ketidakadilan, dipertajam melalui kreativitas kata-kata yang menggoyang kesadaran rakyat sekaligus juga menampar kebebalan penguasa. Sejarah telah mencatat, penguasa yang korup dan otoriter teramat takut dengan puisi para penyair dan sastrawan yang kritis. Para sastrawan dan penyair pada khususnya di Kabupaten Bima dan Kota Bima Nusa Tenggara Barat tetaplah selalu melahirkan karya-karyanya sebagai bentuk tanggung jawab, baik secara moral maupun intelektual menghasilkan karya-karyanya untuk republik ini. Sesungguhnya bukanlah jerih payah yang terakhir dan paripurna dalam usaha menghadirkan kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik. Bagaimanapun, republik ini, membutuhkan nafas panjang kontribusi kita semua.


    Penulis: Eka Ilham, M.Si.
    Ketua Umum Serikat Guru Indonesia (SGI) Kabupaten Bima

    Kelas Mengabdi

    Informasi Kelas Mengabdi.
    Bima, PEWARTAnews.com – Manusia perlu terus belajar untuk mengenali dirinya, lingkungan, alam dan semesta. Terciptanya keharmonisan dalam setiap lini kehidupan bersama adalah cita-cita luhur yang harus diperjuangkan. Tiada cara lain yang bisa kita tempuh, selain memulainya pada membangun manusia yang berorientasi untuk mewujudkan kesadaran Kritis dan organik. Energi penggerak itu harus bermekaran didalam pikiran dan sistem gerak semua orang. Terutama bagi mereka yang berlabel pemuda dan remaja.

    Setiap keadaan ideal pasti dimulai dari kesadaran yang ideal. Upaya untuk membangun kesadaran tersebut, tentu harus dilakukan secara bertahap dan sistematis. Maka sebagai manisfestasi dari cita dan cinta pada kemanusiaan kelas mengabdi tercipta. Mengajari apapun dan berbagi dengan siapapun. Merekayasa lingkungan serta merawat keutuhan diri mereka sebagai manusia.

    Kelas mengabdi sasarannya adalah remaja dan pemuda/i (SMA dan SMP), dan pengajarnya adalah setiap mereka yang peduli pada membangun manusia. Terselenggara untuk umum dan siapapun.

    Kelas pertama mengajar akan segera tiba! Kelas mengabdi KPPBN dengan tema “Peran Generasi Milenial dalam Mewujudkan Keharmonisan Desa”. Akan dibuka setiap hari Sabtu dan Minggu, 21-22, September 2018 Jam 15.00 WIB. Bertempat di SMP N 3 Belo. Bagi teman-teman yang rindu akan keilmuan ditunggu kedatangan dan pastisipasinya.

    Saatnya mengajar dan mengabdi bukan mengejek dan membenci. (Dedi Purwanto)

    HMI Cabang Purwokerto Gelar LK 2 dan SC, Ketua Umum: Mari Kembali ke Desa

    Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Purwokerto. Foto: Akhir.
    Purwokerto, PEWARTAnews.com – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Purwokerto menggelar kegiatan Intermediate Training (Latihan Kader II) dan Senior Course (SC) Tingkat Nasional, di Balai Diklat Banyumas, (19-30 September 2018).

    Lazimnya kegiatan Training di HMI adalah untuk menambah keilmuan dan kesadaran kader-kader mengenai pentingnya regenerasi dalam hal mengawal pembangunan bangsa dan negara demi terwujudkan masyarakat adil, makmur yang diridhoi Allah SWT.

    Pasang surutnya eksistensi HMI di tengah dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara juga merupakan salah satu bagian dari tujuan HMI. Oleh karenanya, HMI Purwokerto menggelar training LK 2 dan SC tersebut, guna sebagai kader dapat memehami masalah yang telah diperjuangan dan dilalui oleh organisasi yang bersimbol Hijau Hitam tersebut dengan banyak haru dalam berhimpun.

    Refleksi panjang HMI telah sampai pada sebuah kesimpulan bahwa HMI tidak mungkin lagi berjudi tentang masa depan dengan romantika kejayaan masa lalu. Sebab dinamika organisasi yang terjadi selama ini cukup memberikan gambaran sebagai pembelajaran berharga bagi kader HMI.

    Menurut Ketua Panitia Pelaksana Isma Nikmatul Aula, terselenggaranya kegiatan ini merupakan upaya untuk menguatkan hader untuk menanamkan rasa memiliki pada HMI. “Tujuan LK 2 dan SC HMI Cabang Purwokerto adalah agar adanya regenerasi kader di HMI, terkhusus kader HMI Cabang Purwokerto, kemudian kader memiliki rasa kecintaan terhadap HMI dan semangat yang tinggi dalam ber-HMI serta mampu membawa HMI Cabang Purwokerto menjadi lebih baik lagi,” bebernya.

    Lebih lanjut, Isma mengatakan bahwasannya sejauh ini panitia pelaksana berupaya dengan semaksimal mungkin untuk mensukseskan kegiatan berskala nasional ini. “Jumlah peserta yang mengirim makalah untuk LK 2 sekitar 98 orang peserta yang menjadi utusan dari masing-masing Cabang HMI se-Indonesia, namun yang lolos sesuai dengan presentasi pembuatan makalah di HMI sekitar 47 peserta,” ujarnya.

    “Sedangkan untuk Senior Course (SC) sebanyak 26 orang yang kirim Sindikat, namun yang lolos hanya 22 orang saja. Kemudian semua peserta akan mengikuti Screening pada tanggal 19-23 September 2018 dan Kegiatan training LK 2 dan SC akan berlangsung mulai pada tanggal 23-30 September 2018 di Balai Diklat Banyumas,” tuturnya.

    Kemudian dalam momentum yang sama, Ketua Umum HMI Cabang Purwokerto Romi Fredyanto, menuturkan bahwa tujuan pengadaan training ini adalah agar kader HMI kembali kedesa, dengan upaya untuk menguatkan nasionalisasi dan pemberdayaan masyarakat yang sering kali banyak dilupa dan kader HMI mampu merasionalisasikan kebutuhan masyarakat secara realistis dan profesional.

    “Kader HMI harus benar-benar terlibat aktif dalam mengawal bangsa dan negara, kemudian untuk mengawal itu semua perlu kita kembali ke desa-desa, karena kemakmuran dan kesejahteraan yang ada di Indonesia ini ialah melalui desa,” celoteh Romi.

    Lebih jauh, Romi Fredyanto mengatakan, “Kami menyampaikan ucapan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu pelaksanaan LK II tingkat nasional ini. Terutama bagi HMI Cabang se-Indonesia yang telah mengirim kader-kader terbaiknya sebagai utusan atau perwakilan dalam megikuti training. Mudah-mudahan kami bisa menjadi tuan rumah yang baik,” lanjutnya. (Muhammad Akhir)

    Karang Taruna DIY Gelar Ekspedisi Kemanusiaan untuk Lombok NTB

    Karang Taruna DIY saat gelar Ekspedisi Kemanusiaan di Lombok NTB. Foto: Istimewa.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Peristiwa gempa yang memilukan belum lama ini terjadi pada keluarga kita di Nusa Tenggara Barat (NTB). Peristiwa yang memakan lima ratusan lebih korban jiwa meninggal dunia dan juga lebih dari tiga ratus ribu mengungsi itu tepatnya terjadi di Lombok dan sekitarnya.

    Mendengar peristiwa tersebut, belum lama ini Karang Taruna Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tergerak hatinya untuk peduli pada peristiwa gempa yang terjadi di Lombok, dan berhasil mengumpulkan bantuan dari karang taruna se-DIY. Uang yang terkumpul dibelanjakan logistik berupa terpal, keperluan bayi, keperluan wanita, kebutuhan untuk sekolah darurat dan sembako, ada juga pakaian layak pakai. Bantuan yang telah dikumpulkan, Tim Karang Taruna DIY sudah mengirim langsung ke Lombok Utara dan Lombok Barat.

    Gusti Kanjeng Ratu Condrokirono selaku Ketua Karang Taruna DIY mengutus Solihul Hadi, S.H. (Ketua Karang Taruna Kota Yogyakarta) dan Luthfi Eka Septerina (Koordinator seksi Kebencanaan Karang Taruna DIY), untuk mengawal dan memastikan distribusi bantuan dari Karang Taruna DIY tepat sasaran dan diterima langsung oleh masyarakat yang terdampak gempa.

    Solihul Hadi, S.H. dan tim sebagai utusan ekspedisi kemanusiaan untuk Lombok, saat tiba di Lombok langsung berkoordinasi dengan pemerintah setempat dan Ketua Karang Taruna NTB Ma'ruf Syamsuddin, Kepala Dinas  Sosial NTB H. Ahsanul Khalik, S.Sos., M.H., Bapak Bupati Lombok Utara, Ketua Karang Taruna Lombok Utara, serta teman-teman Karang Taruna Lombok Barat.

    Menurut Solihul Hadi, S.H., koordinasi dilakukan untuk bisa memetakkan lokasi-lokasi korban gempa yang terjadi dan juga agar bisa dengan mudah menyalurkan bantuan tepat sasaran.  "Koordinasi ini dilakukan agar penyaluran bantuan tersebut bisa tepat sasaran, efektif dan efisien, karena karang taruna itu sendiri berdasar pada Permensos 23 Tahun 2013 adalah organisasi yang dinaungi oleh Kementerian Sosial dan pemerintah setempat. Maka kegiatan kemanusiaan seperti ini merupakan salahsatu agenda penting yang harus dilakukan oleh Karang Taruna," beber Solihul Hadi pada 17/09/2018 setelah sampai kembali di Yogyakarta usai melakukan ekspedisi kemanusiaan di Lombok NTB. 

    Setelah sukses menyalurkan bantuan untuk korban gempa di Lombok, Gusti Kanjeng Ratu Condrokirono dalam hal ini mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi baik secara materil maupun imateril dalam menyalurkan bantuan ke Lombok pada misi kemanusiaan. Selain itu, GKR Condrokirono juga mengucapkan terimakasih yang tak terhingga pada Dinsos NTB, Pemerintah dan Karang Taruna setempat karena telah membantu menyalurkan bantuan pada korban gempa. (PEWARTAnews)

    Manusia dan Sebiji Nasi

    PEWARTAnews.com – Kondisi dalam keheningan, setiap mereka merasa pantas untuk mendefinisikan sesuatu. Mendefinisikan apapun yang mereka anggap perlu untuk didefinisikan. Mungkin karena alasan inilah setiap orang menjadikan keheningan sebagai kekasih yang harus dimanjakan setiap hari. Dikunjungi dan dicintai disetiap detik nafas yang berhembus. Keheningan membutuhkan kesunyian, dan kesunyian membutuhkan kesepian. Karena dengan jiwa yang kesepian pintu-pintu misteri dibalik keheningan bisa terbuka. Rumah dari hati dan pikiran yang menyimpan cakrawala. Hidup harus ditemukan dan dipelajari. Melewati lembah-lembah, melalui lorong-lorong, menaiki bukit, sakit dipunggungmu mesti engkau bawah serta, tak peduli apapun pencarianmu harus tetap berlanjut. mengunci diri dari keserakahan dan berdamai dengan nurani sendiri.

    Merelakan yang pergi, memikul segudang keluh dipundakmu, tapi hidup harus terus dijalankan. Karena tugas adalah tugas. Kewajiban adalah kewajiban. Menjaga manusia, alam dan semesta. Menghargai diri bermakna menghargai orang lain, menghargai manusia bermakna menghargai alam, dan menghargai Tuhan bermakna menghargai semesta. Cara itulah yang masih melakat pada mereka. Sibuk berdiskusi dengan semesta, hidup dan menghidupi beralas kedamaian dan ketenangan.

    Dibalik sebuah gunung hiduplah orang-orang yang sholeh. Sholeh terhadap manusia, alam dan semesta. Mereka hidup bersama dalam sebuah desa. Desa itu bernama Sambori. Salah satu desa yang ada di Kabupaten Bima, terletak dikecamatan Lambitu. Desa yang dikutuk oleh kemajuan. Dibenci oleh perkembangan, dan dihardik oleh setiap generasi yang ada. Kebencian itu tentu beralasan. Sistem hidup mereka yang ketinggalan zaman. Kebudayaan mereka kolot, mereka masih peduli terhadap semesta. Kebiasaan mereka yang menganggap segala sesuatu bagian dari diri mereka. Alam dan semesta harus dihargai karena mereka sama seperti manusia. Cara hidup seperti itu yang dibenci oleh perkembangan dan kemajuan.

    Kondisi dalam kebiasaan mereka sehari-hari, ternyata mereka telah mampu memberika solusi ditengah keadaan Negara dan Bima hari ini. Cara pandang mereka terhadap nasi mampu menjadi standar hidup untuk menghargai sesuatu melebihi diri mereka sendiri, dan semestinya itu menjadi cara pandang kita bersama dalam melihat sesuatu. Walaupun sama bukan berarti seragam. Namun ada sistem khusus yang kita bangun untuk mewadahi ini. Menurut mereka, nasi tidak hanya suatu materi yang didalamnya termuat unsur biologis dan kimiawi. Nasi tidak hanya sebagai kata benda, nasi bukan saja fungsinya untuk mengenyangkan. Tetapi mereka melihat nasi sebagai sesuatu yang hidup, sebagai bagian dari manusia. Saudara dari manusia itu sendiri. Seseorang akan dianggap bernilai terletak pada cara mereka memperlakukan sebiji nasi. Seseorang akan bermartabat apabila dia menghormati sebiji nasi sama seperti menghormati dirinya sendiri. Semua yang masuk dan keluar dari dirimu adalah saudaramu sendiri, yang masuk akan sampai ke syurga dan yang keluar akan sampai ke neraka. Kalau semua saudaramu itu merasa tidak pernah engkau hargai, maka engkau akan bertemu kembali dan mempertanggungjawabkannya pada waktunya. Memperselisihkan hal-hal yang kamu anggap sederhana tapi dimata mereka itu adalah tanda kekafiran yang nyata.

    Kebiasaan orang-orang disana, setiap kali mereka makan harus sampai tak tersisa, sebab kalau disisakan, mereka menyakini bahwa nasi itu akan menuntut keadilan kepadamu kelak. Mereka akan menjadi saksi atas perbuatan yang telah kita lakukan. Kondisi dalam kebiasaannya yang lain, pada saat musim panen orang-orang disana sangat teliti dan sangat hati-hati untuk memilah dan memilih biji-biji padi. Jangan sampai ada yang berhamburan meskipun hanya sebiji. Karena membuang sebiji sama nilainya dengan membuang sekarung. Dan menelantarkan biji-biji itu sama dengan menyiksa diri sendiri. Keyakinan ini tentu bukan tanpa sebab, nasi adalah makanan pokok. Hidup kita sangat bergantung pada nasi. Nasi memberi kita segalanya, dan segala pekerjaanmu pasti berujung pada sebiji nasi. Gajimu untuk membeli nasi, ceramahmu untuk membeli nasi, pidatonya untuk membeli nasi, segala aktivitasmu berawal dari nasi dan berujung pada nasi. Nasi sangat penting mengingat fungsi dan sifatnya. Siapun pasti tau itu. Tetapi disisi lain ada soal yang muncul kemudian, seberapa jauh kita menghargai sesuatu yang memberikan kehidupan itu.?

    Selain yang penulis paparkan diatas ada juga kebiasaan orang Sambori untuk menghormati nasi. Pada saat memulai makan mereka menyediakan beberapa tikar. Tikar disiapkan tergantung banyak orang yang akan makan. Tikar tersebut tidak hanya sebagai alas duduk. Tetapi tikar disitu juga menjadi wadah untuk menahan nasi supaya tidak jatuh ke tanah. Bukan karena nasi itu kotor kalau menyentuh tanah, tapi karena rumahnya terbuat dari kayu dan dibawah rumah itu ada kolom, tentu membutuhkan waktu yang lama untuk turun mengambil biji nasi yang jatuh tersebut. Sedangkan disisi lain meninggalkan nasi saat kita makan sama saja dengan menolak rezeki yang datang menghampiri kita. Keyakinan mereka sedalam itu.

    Kemudian dalam prosesi melayani tamu. Setelah para tamu makan tentu ada yang menyisahkan nasi ada juga yang memakannya sampai habis. Namun yang humanis disini terletak dari cara mereka menghargai sisa nasi dari orang yang berkunjung ke rumah mereka itu.

    Tanpa sepengetahuan tamu tersebut didapur mereka, nasi-nasi itu dicuci lalu dikeringkan. Setelah kering kemudian mereka makan kembali. Beberapa orang di Bima mungkin masih menjalankan kebiasaan tersebut. Namun kebiasaan mengeringkan nasi dilakukan dari sisa makanan sendiri atau keluarga, dan jarang yang mengeringkan nasi sisa makanan orang lain.

    Unik dan romantis memang kita lihat. Kalau para tamunya menyisahkan nasi dipiringnya, dengan rendah hati orang yang punya rumah itu merapikan piring-piring dan membawanya ke dapur. Didapur yang meracik kaharmonisan itu mereka bilang kepada nasi yang disisakan oleh para tamu, "Ma'afkan kami karena telah membuangmu, sambil menangis dan mencuci nasi tersebut supaya dikeringkan. Mudah-mudahan engkau tidak mempersoalkan kelalaikan ini dialam yang lain nanti”. Terkejut sekaligus saraf motorik penulis berhenti sejenak. Narasi macam apa yang hidup di negeri ini. Semua perjalanan saya terhenti dan pengembaraan selama ini percuma. Itu semua terbantah hanya pada proses memaknai manusia dengan sebiji nasi. Nasi saja dihargai apalagi manusia. Nasi saja dihormati apalagi manusia. Nasi juga makhluk, mereka butuh dicintai dan disayangi. Cintamu kepadanya akan menjadi nilaimu sebagai manusia dimata Tuhan, kesetiaamu padanya akan menjadi nilaimu sebagai manusia dimata manusia.

    Kalau di kota, jangankan nasi yang dibuang, manusia saja dibuang. Maka itulah alasan penulis masih mencintai desa.

    Tetapi kebiasaan itu mulai terkikis. Entah oleh zaman atau indvidunya. Apakah karena salah penulis? Salah pembaca? Salah pemudanya? Salah birokrasinya? Ulamanya? Tokoh masyarakatnya? Ayah dan ibunya? Kakek dan neneknya?.

    Manusia dan sebiji nasi.
    "Jagalanya segalanya supaya segalanya menjagamu" Ibu semesta.


    Penulis: Dedi Purwanto, S.H.
    Pencari Jalan Sufi / Eks Ketua Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY)

    Sebuah Sajak Tentang Perjuangan

    Morgan Guevara.
    PEWARTAnews.com -- Wahai kawan-kawanku yang satu perjuangan, bukankah revolusi itu suatu jalan untuk membebaskan rakyat dari jeratan kemiskinan.

    Jika engkau mengatakan iya, maka libatkan dirimu dalam perjuangan rakyat.
    Tidak ada jalan lain yang mampu membebaskan buruh, petani, perempuan dan kaum miskin kota selain revolusi.

    Bukankah engkau percaya bahwa perjuangan revolusioner adalah suatu perjuangan yang panjang, dan sanggat sulit. Sulit, bukan berarti mustahil bahwa suatu kemenangan revolusi disuatu negara hanya akan terjadi di negara itu saja.

    Wahai kawanku untuk apa engkau berpendidikan tinggi, untuk apa? Bukankah tujuan pendidikan yang semestinya untuk membebaskan rakyat dari jeratan kapitalisme.

    Apakah engkau hanya ingin menitipkan nasibmu dalam dunia pendidikan, menyandarkan derajat yang tinggi dimata sosial.

    Apakah engkau hanya inggin menyombongkan dirimu didepan kawan-kawanmu yang tak mampu mengenyam pendidikan tinggi.

    Apakah engkau hanya ingin mengakukan dirimu di junior-juniormu.
    Apakah enggkau hanya inggin menyombongkan dirimu di depan buruh-buruh, didepan petani-petani, dan didepan perempuan-perempuan.

    Apakah engkau tidak sadar bahwa dirimu akan menjadi buruh, apakah engkau tidak sadar bahwa enggkau akan menjadi pengangguran.

    Jika pendidikan hari ini dibawah sistem kapitalisme hanya mampu menciptakan penganguran, generasi yang memiliki sifat apatis, oportunis, dan hedonisme maka selayaknya pendidikan bukan dikatakan mencerdaskan dan membebaskan rakyat, akan tetapi  pendidikan layaknya seperti barang yang diperdagangkan untuk menghisap kaum muda.

    Aku enggan melihat anak muda yang menyandarkan titel, keperkasaan, dan kelincahan berdebat tapi aku ragu apakah mereka mampu serta sanggup melawan arus. Arus itulah yang mengelamkan nyali kita semua.

    Aku inggin duduk bersama kalian, menonton orang-orang pandai berdebat di televisi, atau melihat  aktivis yang dulu lantang melawan kini mendukung elit politik borjuasi busuk untuk menjadi penguasa yang akan menindas rakyat miskin, murah sekali harga seorang aktivis yang tidak memiliki harga diri telah  melacurkan keyakinan,  sangat ngeri,  aku menyaksikan orang-orang pandai berbohong dengan ilmu pengetahuan mereka.

    Keberanian seperti sikap keberimanan, jika engkau memperoleh keberanian maka kau memiliki harga diri, sikap bermartabat yang membuat kita tidak mudah untuk dibujuk.

    Perjuangan mengajarkanku untuk tidak mudah percaya pada mulut-mulut manis, kemiskinan mendidikku untuk tidak mudah yakin dengan janji-janji para elit politik busuk.

    Akan aku habiskan waktuku untuk terlibat langsung dan berjuang bersama buruh, petani, perempuan dan kaum miskin kota melawan.

    Akan aku libatkan diri dalam berjuang untuk mengangkat martabat Papua menuntut haknya sebagai anak bangsa, karna aku tidak mau menjadi kolonial bagimu.

    Akan aku libatkan diri dalam perjuangan buruh yang di PHK, mahasiswa yang di droup out, petani yang di gusur dan perempuan yang  memperjuangkan hak hidupnya.

    Akan aku sapa setian anak lapar yang menjinjing bekas botol minuman untuk mendapat uang receh.

    Bukankah enggkau percaya bahwa perjuangan revolusioner adalah suatu perjuangan yang panjang, sanggat sulit, sulit, tetapi jelas tidak berarti mustahil bahwa suatu memenagan revolusi disuatu negara hanya akan terjadi dinegara itu saja.

    Jika engkau inggin mengetahui bagaimana jalannya revolusi maka libatkan dirimu dalam perjuangan revolusi.

    Wahai kawanku, kita bukan melawan siput, tetapi buaya dan serigala yang akan menerkam jika kita lenggah.


    Yogyakarta, 16 Mei 2018
    Karya: Morgan Guevara
    Salahsatu Mahasiswa Yogyakarta

    Kapatu LDK FIMNY (Pantun Bahasa Bima)

    Suasana saat LDK FIMNY.
    Wara haba ma heba ro ma heboh
    Haba LDK FIMNY ndi ringa sanai-naimu bune oi manoa 
    Aka pantai ndi samadamu sampesa ntoi-ntoi 
    Pantai rindu alam, haba ndi ringa ulumu
    Pantai pelangi ndi cua meci kai lenga ro aina mori langa

    Ringa ulupu ngahi bune taroa ilo 
    Ngahi senior mai kaiba sanaa, sanaa ide ro ade ma gaga ndi eda 
    Ngahi senior ma rombo ntiri bune taroa ntara
    Ndi osumu nasihat ma ngini isi ro ma ncewi ese

    Aina bake, kamboto pu baca buku
    Aina mbou, kalampa pu sambea paida ra mori mbaimu
    Ringa pu ngahi ra ngoa, aina ncewi ngau
    Samena ngahi ra pehe, ndi kapahu mu

    Ngahi ro eli senior ndi nonto, maita ka jaya FIMNY ndi nenti


    Keterangan:
    FIMNY (Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta)
    LDK (Latihan Dasar Kepemimpinan)


    Penulis: Bung Ismail
    Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Pesan Bu Nyai kepada Santri Huffadz

    Suasana saat acara Kotagede Bersholawat.
    PEWARTAnews.com -- Salam ta’dzim saya kagem Al Mukarramah Ibu Ny. Hj. Siti Syamsiyyah DZ (Almarhumah – Pengasuh PP. An-Ni’mah Kanggotan) dan Al Mukarramah Ibu Ny. Hj. Barokah Asyhari Nawawi (Pengasuh PP. Nurul Ummah Putri Kotagede).

    Melalui foto ini, saya teringat wejangan/nasihat yang selalu diberikan Bu Nyai Syamsiyyah (Pengasuh PP. An-Ni’mah, Kanggotan) kepada santri putri, khususnya yang sedang menghafal al qur’an dan atau telah menyelesaikan hafalannya. Dalam wejangannya tersebut, beliau selalu berpesan: “Agar senantiasa menikmati proses. Proses itu harus dilalui dan harus dijalani dengan baik dan sabar. Nikmati-lah setapak demi setapak, langkah demi langkah untuk sebuah jalan. Tak usah buru-buru dalam hal apapun, termasuk dalam hal menikah.

    Karena pada saat itu mayoritas santri masih single/belum menikah, bu Nyai selalu memberikan nasihat dan pesan agar senantiasa memanfaatkan waktu dengan baik ketika di pondok. Artinya, mumpung masih muda, matangkan dulu Qur’an-nya. Karena ketika sudah menikah, pasti akan banyak tanggungan dan itu jelas menyita waktu untuk nderes (baca Al-Qur’an). Bagi seorang wanita, ketika sudah mempunyai anak dan suami tentu orientasinya (cara pandang dan aktivitas) jauh berbeda ketika masih single. Belum lagi ketika melayani mertua (kalau tinggal serumah). Pasti hal itu sangat menyita waktu. Maka sebelum bertemu dengan jodoh kalian (para santri), lancarkan dan lanyahkan dulu hafalan kalian. Seorang yang menghafal Qur’an dimanapun dan kapapun berada, akan dibutuhkan oleh masyarakat. Entah sebagai guru ngaji ataupun yang lainnya. Kelak ketika kalian hidup dimasyarakat, masing-masing kalian akan “membawa nama baik” suami kalian. Kalau kalian disimak, dan ternyata lancar pasti yang pertama kali ditanya itu istri siapa ya?. Dengan demikian, saat-saat menjadi santri di Pondok-lah, seharusnya kalian jadikan ajang belajar dengan mempersiapkan segala hal guna bekal untuk terjun ke masyarakat serta perbaikan kualitas diri dimasa depan.

    Lika-liku rumah tangga tidak semudah yang dipikirkan dan dibayangkan oleh kebanyakan orang. Kalian tak tau, bagaimana suami kalian besok. Apakah peka dan pengertian, atau harus dikode terlebih dahulu. Suatu kenikmatan dan kesyukuran yang luar biasa apabila kalian mendapatkan pendamping hidup yang bersedia meluangkan waktunya (meski hanya 20-30 menit/harinya) untuk nyimak kalian. Yang seperti itulah, sik bisa ngrekso (menjaga) hafalan kalian. Jika tidak, lantas bagaimana? Kalian harus mencuri-curi waktu untuk nderes. Ya kalau suami kalian dulu pernah mondok, pasti paham dan mau mengerti. Tapi jika belum pernah, kalian yang harus memberikan pengertian kepadanya. Itupun kalau Qur’an kalian sudah lancar, jika belum? Maka sekali lagi, manfaatkan waktu muda dengan baik. Jangan buru-buru menikah. Semua itu harus ada ilmu, hikmah dan kebijaksanaan-nya”.

    Oleh dasar itulah, saya sering melihat bu Nyai Syamsiyyah DZ sedih ketika melihat santrinya yang dirasa belum tuntas tapi sudah mau melangkah ke jenjang yang penuh amanah dan tanggungjawab (read : pernikahan). Nikah itu berat oey, saya aja belum kuat. Hehehe. Tapi kadang terbesit rasa ingin (pengen), ah itu hanya labil saja. Wkwkwk.

    Untuk para mbak-mbak penghafal Qur’an, sebenarnya saya punya tips sederhana untuk mengetes “calon pasangan” anda apakah benar-benar bisa meluangkan waktu-nya atau tidak. Cobalah, sebelum menerima lamarannya, suruhlah dia nyimak jenengan 1 jus/hari nya. Kalau dalam waktu 20 menit kok si doi sudah ngantuk, eliminasi-lah. Cari yang lain !. Simple kan. Hehehe

    Foto ini penulis ambil tepat pada tanggal 17 Agustus 2018 saat menghadiri prosesi wisuda bil ghaib 30 Juz teman saya di Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang sedang nyantri di Nurul Ummah Putri, Kotagede.

    Allahummarhamnaa bil Qur’an. Wahsyurnaa ma’a ahlil qur’an. Wahdinaa bi hidayatil Qur’an. mugi kecipratan barokahipun Al-Qur'an. Aamiin.


    Penulis: Siti Mukaromah
    Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Pemuda Madura dan Orang-Orang yang Mati Mulia

    PEWARTAnews.com -- Socrates, Suhrawardi, Al-hallaj, Syekh Sti Jennar dan Pemuda dari Madura pada suatu waktu ngopi bareng membincang tentang nasib mereka yang sama-sama mati karena dihukum mati.

    “Tes” kata pilosop dari Madura memulai perbincangan. “kamu cerita selaku pilosop paling tua”

    “sebenarnya aku gak mau banyak bicara, kalian tahu kan ceritaku telah diketahui banyak orang meskipun aku tak pernah menulis apapun. Nanti kalau aku tetap cerita, dikiranya aku sombong”. Ia berhenti sejenak, menghemat nafas panjang dan melanjutkan : “tapi sudahlah, jika kalian memaksa..”

    “Tuduhan yang ditujukan kepadaku di pengadilan ada tiga hal. Pertama karena ‘meracuni’ kaum muda, kedua karena tidak mempercayai dewa-dewa dan terakhir membuat paradigma baru.” Sambil bersedih, Socrates melanjutkan ceritanya. “Bagaimana mungkin aku dituduh tidak percaya pada dewa-dewa, sementara apa yang kulakukan selama ini berasal dari bisikan yang kuyakini itu berasal dari Tuhan. Apa yang kulakukan adalah perintah Tuhan, dan aku yakin, tak ada pengabdian yang lebih baik untuk Athena kecuali pengabdianku pada Tuhan.”

    “Orang mungkin bertanya-tanya kenapa aku diam-diam sibuk mengurusi orang lain. Ada tanda-tanda Ilahiah yang datang dalam bentuk suara-suara. Dan Miletus, salah satu jaksa penuntut di sidang peradilanku mencemooh hal itu. Tapi sudahlah. Akhirnya diantara 500 jaksa yang hadir di persidanganku, 280 diantaranya menyetujui kematianku, sementara 220 sisanya menentangnya. Itulah lemahnya demokrasi kawan, tidak selamanya yang mayoritas merepresentasikan kebenaran. Lalu aku memilih untuk menjalani hukuman itu, dengan sadar, karena aku adalah bagian dari polis Athena. Warga negara yg baik harus taat kepada aturan negaranya. Meskipun saat itu aku bisa saja lari, tapi tetap saja aku membiarkan racun merenggut nyawaku, dan membiarkan kebenaran mengambil jalannya sendiri.”

    Mendengar cerita Socrates semua terharu. “Sekarang giliranmu Suh” kata Socrates pada Suhrawardi. Dengan agak kikuk tapi tampak sangat bijak pilosop muslim yang mati muda itu memulai bicaranya.

    “Waktu itu, dunia muslim begini dan begitu. Aku hadir dengan pandanganku yang oleh penguasa dan ulama pendukungnya dianggap mengancam posisi mereka. Padahal aku hanya menganjurkan sebagaimana yang diajarkan Socrates. Kritis, berpikir terbuka, dan berani berkata benar. Tapi ya begitulah penguasa waktu itu. Akhirnya karena menolak tunduk, aku harus menerima resikonya. Memilih mati”
    Selanjutnya tibalah saatnya AL-Hallaj bercerita dan Syehk Siti Jennar. Tapi tiba-tiba Socrates angkat bicara “Laj, kamu nanti saja, Kanjeng Sunan pun belakangan nggih. Biar pilosop muda dari Madura dulu yang bercerita”. “Ayo Sug, giliranmu” kata Socrates

    Sugi, yang nama lengkapnya Emile Sugibroto pun berkata dengan dialek Maduranya “O, gilirran sayya ya, baiklah” Sugi memulai ceritanya.

    “Taappi, sebenarnya sayya malu mau bercerit-ta, karena kisah sayya berbedda”

    “Bed-da gimanna” tanya Al Hallaj Penasaran.

    “Anu, sayya dibunuh karna” kata Sugi membuat yang dengar penasaran

    “Karena apa, cepat ceritakan. Aku penasaran” kata Suhrawardi.

    “Sabar, biarkan Sugi bicara” kata Syekh Siti Jennar dengan bijak.

    “Sayyya, di bunuh karena menolak…” Sugi pun diam tak melanjutkan

    “Menolak apa Su” bentak Socrates tampak tak sabar.

    “Menolak dijodohkan” jawab Sugi.

    “Wkwkw” Socrates ketawa.

    “Hahahahaha” Suhrawardi tertawa lepas.

    “Huhuhuu” sambung AL-Hallaj

    “Subhanallah. Nasibmu lucu Su” seru Syekh Siti Jennar.

    Al-Hallaj dan Syekh Siti Jenar pun tak Jadi dapat giliran cerita, karena warung kopi tempat mereka nongkrong sudah mau tutup.


    Penulis: Rusdiie
    Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
      

    Manah Nyegoro

    PEWARTAnews.com -- Tanpa mengurangi rasa hormat kepada siapapun. Ini hanyalah untaian kata penulis saat masih Mahasiswi Semester 3 dengan segala kelemahan dan kekurangannya, untuk itu undzur maa qoola wa laa tandzur man qoolaa dengan berlandaskan pada QS. An-Nisaa’: 1, Al-A’raf : 189, Faathir:11 bahwa semua manusia adalah sama hanya ilmu, iman dan taqwa yang membedakannya dan UUD '45 Pasal 28 tentang kebebasan berpendapat.

    Hari ini, ada pelajaran berharga yang penulis dapatkan dari pengalaman hidup salah seorang sahabat seperjuangan yang semangatnya luar biasa. Lelah, letih dan penat tak pernah dirasakannya, yang ada dalam hidupnya ialah belajar, bekerja dan berdoa. Setiap hari dari pukul 15.00 - 23.00 ia bekerja di salah satu tempat makan untuk menyambung hidup dan untuk membiayai kuliah. Bahkan tak jarang, tidur hanya 2-3 jam. Berangkat kuliah pukul 7 smpe dg 14.15 setelah itu lanjut kerja. Kerja dan kerja.

    Topik yang menjadi akar pembahasan tulisan ini adalah “nitip TA (titip absen -- hanya satu kali) itupun karena menggantikan partner kerjanya yang berhalangan datang karena ada urusan yang sangat penting yang harus diselesaikan. Tapi sayangnya ketahuan oleh seorang pendidik, dan akhirnya namanya di coret dari daftar absen. Menyedihkan bukan?

    Karena ia merasa bersalah, kemudian minta maaf dan menghadap langsung pada pendidik tersebut. Lalu pendidik tersebut tanya “kenapa”? Kemudian dijelaskanlah semua itu, tapi sayangnya pendidik tersebut menyahut “saya tidak menerima alasan apapun”. Kita bisa membayangkan, bagaimana rasanya. Sakit kan? Kalau hanya ingin bilang “tidak menerima alasan apapun” mengapa tanya “Sebab yang menyebabkan ia TA?”

    Hidup itu tak selalu mulus, bagaikan roda yang berputar. Kadang dibawah kadang pula diatas. Hidup itu penuh kejutan, penuh misteri, penuh lika-liku, perlu adanya perjuangan, semangat dan kerja keras. Perlu adanya rintikan air mata, keluh, kesat, penat, lelah. Hidup itu sekali, maka hiduplah yang berarti.

    Apakah selamanya akan susah? Ingat, Allah bersama dengan orang-orang yang senantiasa berbuat baik lagi bersabar. Hidup pasti berputar, sahabat. Bersabarlah. Masih ingat kisah perjalanan hidup motivator Islam terkenal Dr. Ibrahim El Fikkiy? Beliau adalah warga negara Kanada yang berimigrasi dari Mesir. Elfiky muda adalah seorang atlet tenis meja dan pernah tampil dalam pertandingan internasional di Jerman Barat pada tahun 1969. Setelah lulus dari sekolah perhotelan, beliau migrasi ke Kanada dan bekerja di sebuah restoran sebagai pencuci piring. Berbagai pekerjaan pun dilakukannya untuk bisa bertahan hidup di Kanada termasuk juga menjadi penjaga malam. Sampai akhirnya dia berhasil menapaki karir sebagai Genaral Manager di hotel berbintang 5. Beliau menekankan pentingnya seseorang untuk memiliki cita-cita, dengan memilikinya, pasti seseorang itu akan punya terget, dengan adanya target, ia akan bekerja keras untuk meraihnya. “Orang yang sukses mengetahui bahwa cita-cita adalah fondasi kemajuan. Tanpa adanya cita-cita, segala sesuatu akan terhenti. Tanpa tindakan dan kegigihan, maka kemajuan tidak akan pernah terjadi. Karena itu, orang yang sukses selalu berusaha keras dalam meraih cita-cita dan menghadapi tantangan hidup.

    Ketika berbicara tentang takdir manusia, tepatnya saat menafsirkan ayat dalam Al-Quran yang berbunyi, “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”,(Qs. Ar-Ro'du: 11) Dr. Ibrahim Elfiky mengatakan,“Tuhan sudah sangat jelas memberikan rambu-rambu betapa nasib seseorang tergantung dari usahanya. Untuk mengubah nasib harus dimulai dengan mengubah kebiasaan. Untuk bisa mengubah kebiasaan dimulai dengan mengubah pola pikir. Mind Set (sudut pandang, paradigma ataupun pola pikir) dapat mempengaruhi segalanya. Penulis teringat ngendikanipun bunda Hibana Yusuf, orang yang berpikiran positif ketika memandang sesuatu itu sulit, ia mengatakan pasti dapat diselesaikan. Tetapi orang yang berpikiran negatif memandang segala sesuatu itu mudah namun sulit untuk diselesaikan. Kuncinya adalah optimis. Allah SWT tidak akan pernah mendzolimi hamba-Nya, dalam menentukan suatu kehendak/ketetapan yang entah baik maupun buruk, Allah selalu memperhatikan dan mempertimbangkan usaha manusia itu sendiri.

    Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwasannya Intelligence Quotient (IQ), Emotional Quotient (EQ) dan Spiritual Quotient (SQ)  adalah 3 aspek yang saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya, ibarat sebuah sistem. Sistem tersebut tak bisa berjalan dengan baik manakala tak bersinergi dengan sistem-sistem yang lain. Jika berkaca pada IQ, maximal hanya berperan 20%. Lalu selebihnya apa? Yakni EQ dan SQ.

    Oleh karena itu, cerdas saja tak cukup, tapi juga harus diimbangi dengan hati (kalbu) yang baik pula, yang biasa disebut santri dengan “Qolbun Salim”.  EQ adalah kemampuan seseorang untuk mengerti, memahami dan memposisikan dirinya sebagai orang lain (yang mengalami sesuatu hal). Satu contoh, penulis ambilkan dari kasus tadi adalah “sikap pendidik yang tak mau menerima alasan apapun padahal sebelumnya tanya sebab yang menyebabkan akibat kenapa ia TA?”

    Menurut penulis, akan lebih bijaknya jika seorang pendidik, tidak ngendiko “tidak menerima alasan”. Ya meski tak bisa dipungkiri, bahwa teman penulis memang salah. Tapi akan lebih baik jika pendidik tersebut memahami, memberikan arahan dan nasihat yang baik serta memberikan motivasi kepada teman penulis tadi. Jarang loh yaa ada anak didik yang mau bekerja keras, dan mandiri. Seharusnya “bangga” punya anak didik yang seperti itu, siapa tau kelak ia jadi orang besar dan berhasil. Kan nasib orang tidak ada yang tau.

    Jika berkaca pada Psikologi pendidikan mengenai teori belajar behavioristik yang menekankan adanya reward dan punishment, memang hal itu perlu dipraktikkan agar mahasiswa taat pada aturan. Sehingga, sikap disiplin dapat berjalan dengan baik. Tapi akan lebih bijaknya manakala pendidik menghadapi sesuatu hal tersebut (kasus tadi) dengan memposisikan diri dengan berbagai kacamata dari berbagai sudut pandang yang berbeda.

    Bukankah in ahsantum ahsantum li anfusikum wa in asa'tum falahaa. Orang berbuat baik tidak akan rugi. Masih ingat dengan kisah 2 mahasiswa dengan Paderewski? Kisah Paderewski merupakan kisah nyata yang terjadi pada tahun 1892 di Stanford University. Pesan moral yang tersirat dalam kisah tersebut masih relevan saat ini. Dua mahasiswa tersebut mengumpulkan uang untuk membiayai biaya pendidikan mereka dengan menggelar konser piano Paderewski, tapi tiket tak terjual dengan habis dan akhirnya 2 mahasiswa tersebut menemui Paderewski dan menceritakan semuanya. Dengan lantang Paderewski mengatakan “siap datang di konser yang mereka adakan” tanpa mereka bayar sepeserpun (gratis), singkat cerita 5 tahun berlalu 2 orang mahasiswa tadi menjadi orang sukses (Presiden) di AS sedangkan Paderewski saat itu menjabat sebagai Perdana Menteri Polandia. Karena saat itu Polandia sedang mengalami masa paceklik / masa sulit, akhirnya Paderewski meminta bantuan pada Presiden AS yang mana beliau tidak tau bahwa Presiden tersebut adalah “mahasiswa” yang ia bantu dulu. Ya mungkin Paderewski telah lupa, tapi mahasiswa tadi tak akan pernah lupa atas kebaikan dan jasa Paderewski.

    Kebaikan sekecil apapun yang orang lain beri, penulis yakin tak akan pernah dilupakan oleh orang tersebut meskipun yang memberi pertolongan telah melupakannya. Seseorang dikatakan sukses dan berhasil, manakala ia mampu memahami keadaan orang lain dan dapat bermanfaat bagi makhluk-Nya. Fastabiqul Khoirot!

    “Khoirunnaas anfa’uhum linnaas”. Semoga selalu dalam naungan dan ridho-Nya, Tujuan hidup ialah ridho Ilahi Robbi.


    Yogyakarta, 14 Desember 2016
    Penulis: Siti Mukaromah
    Mahasiswi di salahsatu kampus Negeri di Yogyakarta.

    Eks Ketua PWNU DIY: Biasakan Respect Each Other dan Mudah Memaafkan

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Mantan Ketua Tanfidliyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Daerah Istimewa Yogyakarta (PWNU DIY) masa bakti 2011-2016 Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A. mengatakan bahwasannya manusia pada hakekatnya tidak sempurna, karena setiap insan bisa lupa bisa salah, innal insaana mahalul khatha’ wan nis-yan. “Tapi mengapa kita sering menyoal titik lemah orang lain. Padahal belum tentu kita lebih baik dari mereka, yang kita olok-olok, kita sindir, kita underestimate? Inilah jebakan yang berat. Kita seharusnya selalu ingat, jangan-jangan yang kita caci maki dan remehkan itu lebih baik dari kita sendiri,” beber Prof. Rochmat Wahab, 10/09/2018 melalui akun facebooknya Rochmat Wahab.

    Rochmat membeberkan bahwasannya Allah SWT sang pencipta alam semesta ini menciptakan manusia adalah makhlum yang sempurna, dibandingkan makhluk-makhluk lain diluar manusia yang juga diciptakan Allah SWT. “Kita juga perlu selalu ingat, bahwa sesungguhnya Allah SWT telah menjadikan manusia sebagai makhluk yang terbaik. ‘Laqad khalaqnal insaana fii ahsani taqwiim’. Artinya bahwa setiap insan memiliki potensi kebaikan. Karena itu sudah seharusnya kita lebih utamakan melatih diri dan terus belajar berprasangka positif, husnudz dhan, atau positive thinking kepada orang lain,” cetusnya.

    Prof. Rochmat Wahab lebih lanjut mengatakan, kita sebagai insan yang bertuhan, sangat perlu membiasakan diri meminta maaf ketika melakukan suatu kekhilafan, serta dalam sosial dan bermasyarakat perlu saling menghormati antara satu sama lainnya. “Biasakan respect each other dan mudah memaafkan dan minta maaf atas kehilafan,” ucap sang profesor yang juga saat ini menjabat sebagai Ketua Dewan Kehormatan Forum Rektor Indonesia (FRI) .

    Lebih jauh Ketua III Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) masa bakti 2014-2019 ini berucap, jika setiap insan bisa memulai dengan hati bersih, sikap positif dan perilaku yang ramah dan santun, insya Allah kedamaian hidup dalam keluarga dan di tengah kehidupan bermasyarakat dapat kita rasakan bersama-sama, termasuk dalam berbangsa dan bernegara.

    “Untuk meraih kehidupan yang damai, kita sangat butuh perbaikan, untuk perbaikan butuh perubahan, untuk perubahan harus ada perbedaan. Karena itu adanya perbedaan jangan kita jadikan masalah, melainkan harus kita manaj dengan hati bersih dan pikiran positif, semoga mendatangkan rahmat,” harap Rochmat. (PEWARTAnews)

    Prof. Rochmat Wahab: Ulama Bertanggung Jawab Mengawal Implementasi Pancasila dan UUD 1945

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A. ( berdiri dan berpeci hitam) saat bersilaturrahim dengan alim ulama di Sumatera Utara, 07/09/2018.
    Medan, PEWARTAnews.com – Ketua Dewan Kehormatan Forum Rektor Indonesia (FRI) Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A. menghadiri acara Silaturrahmi dan Tablig Akbar Alim Ulama Sumatera Utara Jaringan Umat Bersatu dengan mengangkat tema “Ulama Siap Berperan dalam Menjaga Keutuhan dan Kedaulatan NKRI serta Melanjutkan Pembangunan Nasional”, pada hari Jum’at, 7 September 2018 di Santika Dyandra Hotel, Medan Sumatera Utara.

    Prof. Rochmat mengatakan bahwasannya masyarakat dan bangsa Indonesia  patut mengucapkan syukur pada para fanding father sebagai pendiri bangsa (didalamnya termasuk ulama) yang telah gigih dan menyerahkan jiwa dan raganya untuk merebut kemerdekaan Indonesia. “Kita patut bersyukur bahwa Ulama dan para Nasionalis bekerja sama secara sinergis untuk menyiapkan dan memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia dengan perjuangan dan pengorbanan yang total jiwa dan raga melawan penjajah,” bebernya.

    Negara Indonesia, kata Rochmat, kemerdekaannya sudah dalam genggaman kita, dengan itu ulama juga memiliki tanggungjawab yang besar menjaga keutuhan bangsa dan negara ini. “Selanjutnya Ulama bertanggung jawab mengawal implementasi Pancasila dan UUD 1945, menjaga dan melundungi Keutuhan NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika,” ucapnya.

    Lebih lanjut, Rochmat mengatakan, demikian juga untuk mengisi kemerdekaan, para ulama, sesuai dengan bidang keahliannya baik secara langsung maupun tidak langsung perlu bermitra dan sharing dengan umara (pemimpin), sehingga pembangunan nasional dapat berhasil yang mampu meningkatkan martabat dan harkat bangsa Indonesia.

    “Bangsa Indonesia yang memiliki cita-cita membangun manusia seutuhnya, sangat mengharapkan peran ulama yang optimal. Hanya saja belakangan ini belum semua ulama mampu tunjukkan kehadirannya yang bisa memenuhi hajat ummat,” keluhnya.

    “Ditambah lagi dengan kondisi belakangan ini, jika tidak dikelola dengan baik ulama akan memasuki pusaran masalah yang kehadirannya tidak menjadi solusi masalah tapi menjadi sumber masalah. Untuk menjaga martabat dan marwah, ulama harus tetap menjadi moral force, rujukan semua golongan dan ummat. Hal ini tidak mudah, sehingga sangat diperlukan koordinasi dan konsolidasi secara periodik,” cetus Rochmat Wahab yang sempat menjabat sebagai Ketua Tanfidliyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Daerah Istimewa Yogyakarta (PWNU DIY) masa bakti 2011-2016 ini. (PEWARTAnews)

    Magang FITK UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    PEWARTAnews.com – Bagi mahasiswa FITK, magang merupakan suatu hal yang wajib ‘ain karena masuk dalam SKS wajib yang harus ditempuh oleh setiap mahasiswa. Di jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI), Pendidikan Bahasa Arab (PBA), Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyyah (PGMI) dan Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) terdiri dari 3 magang yakni magang 1 melakukan observasi dan pengamatan di sekolah yang sudah ditentukan oleh pihak pengelola magang dilantai 4. Terkait dengan pemilihan sekolah hal tersebut berkaitan erat dengan sejarah masa lalu karena dari dulu UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta bekerjasama dengan sekolah yang bersangkutan (yang bersedia mengadakan kerjasama). Terkait dengan acuan, ketentuan, alasan dan tolak ukur mengenai pemilihan sekolah bagi setiap mahasiswa tidak begitu jelas karena memakai sistem random. Artinya, meskipun santri tidak boleh memilih sekolah MTs atau bahkan MAN. Namun harus sami’na wa atha’na terhadap ketentuan panitia magang alias “No Comment”. Hehehe.

    Di magang 1 ini mahasiswa cukup menjadi pendengar yang baik, melakukan pengamatan, penilaian dan evaluasi (kelebihan dan kekurangan), pengecekkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) serta metode dan strategi yang digunakan oleh guru selama proses pembelajaran (dari tahap awal – akhir) dan ditulis dilembar penilaian megang 1 dengan melampirkan laporan yang berbentuk narasi dan dokumentasi dalam bentuk foto serta mempresentasikan hasil tersebut kepada Dosen Pembimbing Lapangan (DPL).

    Selain itu, ada pula Magang 2 yang fokus pada pengembangan diri mahasiswa dalam mempersiapkan dan mengasah kompetensi sebagai calon pendidik. Mengacu pada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen dalam Pasal 10 ayat 1, bahwa setiap guru harus memiliki 4 macam kompetensi diantaranya yakni kompetensi pedagogik, professional, kepribadian, sosial dan untuk PAI ditambah dengan kompetensi leadership/kepemimpinan. Sistematika magang 2 berbeda dengan magang 1. Karena di magang 2 pengelompokkan berdasar pada urutan NIM mahasiswa dengan DPL yang berbeda pula. Selain itu, di magang 2 ini mahasiswa fokus pada microteaching (latihan ngajar) dengan audien teman seklompok-nya serta penilaian dilakukan oleh DPL dan peer assesment (teman sejawat). Microteaching ini harus mengaplikasikan strategi dan metode Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAIKEM) yang pernah diajarkan oleh dosen disemester lalu dalam mata kuliah strategi pendidikan. Biasanya, mahasiswa memakai referensi buku Active Learning karya Mel Silberman atau boleh mendesain pembelajaran yang kreatif dan inovatif sesuai dengan konteks (kondisi dan situasi siswa serta materi pelajaran). Dari sinilah, mahasiswa dapat diketahui seberapa menguasai materi dan strategi pembelajaran (kompetensi professional dan pedagogik).

    Selain penilaian terhadap kompetensi professional dan pedagogik, DPL juga menilai aspek-aspek lain seperti kompetensi kepribadian (cara berpakaian, jilbab, rok, aura wajah), kompetensi sosial (cara bekerjasama dalam tim), dan yang tidak kalah penting adalah kompetensi leadership (kepemimpinan seperti ketangguhan, keuletan, kedisiplinan, keteladanan seperti terlambat atau tidak). Hal tersebut dimaksudkan karena guru merupakan figure keteladanan bagi murid dan masyarakat sekitar. Oleh karena itu, semua harus dipersiapkan sejak dibangku perkuliahan.

    Terakhir ialah magang 3. Magang ini bisa dapat disebut sebagai fase pengabdian yang haqiqi. Mahasiswa mengajar dan berkecimpung langsung dalam dunia pendidikan (sekolah) bak guru yang sesungguhnya. Seperti halnya KKN, bedanya Magang 3/PPL ini dilaksanakan di Sekolah saja. Ketentuan dan acuan pemilihan sekolah bagi setiap mahasiswa disesuaikan dengan magang 1. Artinya, kelompok magang 3 kembali seperti di magang 1. Baik teman sekelompok, DPL serta sekolah tempat magang pun juga sama. Hal ini menuai pro dan kontra dikalangan mahasiswa. Berdasar pada penuturan sahabat saya “Dewi Ratna Sari” yang dahulu mengikuti evaluasi penilaian ketua kelompok magang 2, dia mengatakan bahwa “seharusnya pengelompokan magang 3 disesuaikan dengan penilaian DPL dan akumulasi nilai dari magang 1 dan 2 agar kualitas dan mutu sekolah sesuai dengan kompetensi yang dimiliki oleh setiap mahasiswa”.

    Dari sini, saya menambahi bahwa “nilai” dalam dunia akademik merupakan salah satu bukti valid yang dapat menunjukkan serta mendeskripsikan kemampuan dan kompetensi mahasiswa. Hal yang perlu diingat adalah, “nilai” tersebut dalam tanda kutip. Yakni berdasar pada akumulasi proses yang telah dilalui oleh mahasiswa dengan action (tindakan kongkrit) yang diamati serta dievaluasi oleh DPL sejak magang 1 sampai magang 2.

    Sudah biasa setiap kebijakan fakultas menuai pro dan kontra dikalangan mahasiswa. Ada pula yang memberikan masukan konstruktif serta melakukan usaha dan upaya untuk mendapatkan kompensasi (keringanan) dari pengelola magang agar dapat tukaran sekolah sesuai dengan jarak tempuh mahasiswa. Namun semua itu tidak semudah membalikkan telapak tangan, namun harus dengan membuat surat pernyataan kedua belah pihak (yang bersedia diajak tukaran), serta harus sama jenjang dan juga jenis kelamin-nya. Jadi, yang dapat SMP kalau mau tukaran harus dengan yang SMP, SMA dengan SMA, laki-laki dengan laki-laki, PAI dengan PAI, begitupula PIAUD ya harus dengan PIAUD, PBA dengan PBA. Rasionalisasinya bagaimana dan seperti apa kok harus begitu? Ah rumit ya. Mungkin sekilas kata-kata tersebut terlontar dari mulut mahasiswa yang katanya “jago berargumen, jago berdebat” apalagi anak aktivis gak mau sami’na wa atha’na namun sami’na wa analisis. Begitu sepengamatan saya. Berdasar pada penuturan ketua magang 3 (obralan ringan dengan beliau pada 8-9-2018) beliau mengatakan bahwa “Syarat tukaran harus sama jenjangnya. Karena ketika magang 2 kemarin, mahasiswa praktik mengajar dan membuat RPP sesuai dengan magang 1, yang dapat SMP ya RPP-nya SMP, begitu dengan yang SMA maupun MAN. Jadi, harapannya agar ada sinergisitas dan kesinambungan antara magang 1, 2 dan 3”.

    Namun hal itu tidak begitu saja diterima oleh sebagian mahasiswa. Ada yang mengatakan belum tentu yang dapat sekolah SMP tidak mampu mengajar di MAN, begitu sebaliknya.

    Setiap mahasiswa mempunyai pengalaman sendiri-sendiri. Tidak menutup kemungkinan yang mendapatkan SMP pengalaman mengajarnya sudah kemana-mana bahkan sudah tembus SMA ataupun MAN. Dan belum tentu pula yang mendapatkan sekolah MAN sudah mempunyai pengalaman mengajar yang baik. Jika argumennya seperti itu, maka yang ada hidup tidak pernah puas dan merasa dunia tidak adil. 3 hal kuncinya yakni Nrimo, legowo dan ikhlas. Sebagai seorang calon pendidik, 3 hal ini harus dibiasakan. Dalam kondisi apapun apabila didasari oleh ketiga hal ini, maka hidup akan terasa bermakna. Sejauh apapun lokasi, kalau hati senang dan riang maka akan menjadi dekat. Sesulit apapun, akan menjadi mudah. Begitu sebaliknya.

    Bagi yang masih ingin berjuang mendapatkan lokasi yang sesuai dan pas dengan kata hati, berjuanglah mumpung masih ada waktu sampai dengan hari Kamis. Carilah yang bersedia dan ikhlas lahir batin untuk tukeran dengan kalian sesuai dengan persyaratan dari pengelola magang 3. Adapun rasionalisasi terakhir harus sama dengan sesama jenis (laki-laki tukeran dengan laki-laki, wanita dengan wanita) menurut analisis saya bahwa jangan sampai ada pihak yang dirugikan. Karena dimanapun tempat berada, kuantitas wanita lebih mendominasi daripada kuantitas lelaki. Sehingga, peran, kedudukan dan fungsi laki-laki dibutuhkan disemua kelompok. Sebagai seorang wanita, saya sendiripun juga “ayem/merasa aman” saat ada laki-laki. Mungkin, sudah saatnya. Hehehehe. Sekian, selamat malam. O ya tambahan, bagi jurusan MPI magang-nya di Kemenag, Pondok pesantren satunya saya lupa.


    Penulis: Siti Mukaromah
    Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    MJS dan Ngaji Filsafat

    Dr. Fahruddin Faiz saat mengisi Ngaji Filsafat di Masjid Jenderal Sudirman (MJS). Foto: Siti Mukaromah.
    “Berambisi lah untuk menjadi orang yang tidak berambisi” (Dr. Fahruddin Faiz saat menyampaikan filsafat Manusia Alternatif dalam perspektif filosof Diogenes).

    Masjid merupakan bangunan pertama kali yang dibangun oleh Rasulullah SAW dalam membangun tatanan masyarakat madani. Hal ini dapat dilihat dari tindakan Nabi sebelum membangun masyarakat Madinah, yang pertama kali dilakukan adalah membangun fondasi masyarakat melalui masjid. Berawal dari masjid peradaban dunia islam ini berkembang. Selain dijadikan sebagai sarana ritual peribadahan vertikal (sholat), namun juga dijadikan sebagai ritual horizontal yang bergerak dalam bidang pendidikan dan dakwah. Di Indonesia sendiri, banyak sekali bangunan masjid. Hampir dipinggir jalan ada masjid. Akan tetapi, fungsi masjid belum secara optimal mewujudkan tatanan masyarakat yang lebih baik, karena mayoritas hanya membangun fisiknya (megah dan mewah) namun kurang dalam merevitalisasi sehingga pemberdayaan masjid dari segi pendidikan, dakwah dan sosial perlu dikembangkan dan ditingkatkan agar tidak sepi dari jama’ah.

    Di daerah Jogja, ada salah satu masjid yang tidak pernah absen mengadakan kegiatan-kegiatan edukatif yang menarik massa (read jama’ah) dari berbagai kalangan, terutama kalangan mahasiswa. Sebut saja MJS (Masjid Jendral Sudirman) yang beralamatkan di Jl. Rajawali No.10, Komplek Kolombo, Demangan Baru Yogyakarta. Di masjid ini ada beberapa kajian setiap minggunya dengan menghadirkan narasumber yang expert dalam bidangnya. Tak hanya itu, ada pula kesenian hadroh, gerakan literasi dan pengembangan spirit kewirausahaan dan digital yang diinisiasi oleh pengelola masjid yang terdiri dari mahasiswa.

    Bagi saya pribadi, yang paling menarik adalah Ngaji Filsafat yang diselenggarakan setiap hari Rabu (Malam Kamis) pukul 20.00 - 22.00 WIB dengan narasumber Dr. Fahruddin Faiz yang merupakan dosen Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Asal mula berdirinya “Ngaji Filsafat” ini dipelopori oleh Muhammad Yaser Arafat. Sampai saat ini Ngaji Filsafat diikuti oleh ratusan jam’ah yang terdiri dari berbagai macam elemen, baik mahasiswa, dosen, pelajar maupun masyarakat sekitar. Ngaji Filsafat telah berjalan selama 4 tahun sejak awal tahun 2013 hingga kini 2018. Awalnya, ngaji filsafat ini diselenggarakan sehari full sejak pagi sampai sore dengan menghadirkan 3 tokoh filsafat terkemuka dari kampus negeri di Yogyakarta. Mereka adalah Ust. Sofyan, Dr. Fahruddin Faiz, dan satu dosen UGM yang diikuti oleh 30 jama’ah baik laki-laki maupun perempuan.

    Selang Seminggu kemudian, diadakan lagi ngaji filsafat dengan narasumber Dr. Fahruddin Faiz dengan metode ceramah, dialog, sesi tanya jawab. Hingga akhirnya sampai sekarang ngaji filsafat bersama Dr. Fahruddin Faiz karena cara beliau menyampaikan mudah dipahami dan tlaten (read: sabar). Dengan berbagai macam pertimbangan dan musyawarah dari berbagai pihak, ngaji filsafat rutin diadakan setiap seminggu sekali pada hari Rabu malam Kamis dengan mengangkat tema yang sama namun dengan tokoh yang berbeda. Untuk bulan September ini ada 4 tokoh yang dikaji. Diantaranya Diogenes, Nasruddin Hoja, H.P. Blavatsky dan Sosrokartono dengan tema “Manusia Alternatif”.

    Hal yang menarik pula, setiap ngaji filsafat ada suguhan kopi dan teh untuk para jama’ah. Simple dan sederhana tapi sangat berkesan. Karena bagi MJS (Masjid Jendral Sudirman) menghormati dan memuliakan jamaah merupakan suatu amanah besar yang harus senantiasa dijaga dan terus dipupuk agar kedepannya dapat saling bersinergi untuk menggapai Ridha-Nya.

    Jama’ah ngaji filsafat tidak seperti layaknya orang pergi ke masjid. Namun dengan pakaian yang serba macam. Ada yang memakai sarung, ada pula yang memakai celana, bahkan ada yang memakai pakaian biasa saja/kaos, ada pula yang sambil merokok. Mungkin bagi sebagian orang diluar sana hal seperti itu dijadikan persoalan dan melihat mereka dengan sebelah mata dengan dalih alasan ngaji iku harus sopan lan tata krama. Tapi tidak di MJS. Justru menurut saya pribadi, MJS merupakan salah satu contoh masjid yang lunak, melihat segala sesuatu lebih dalam dan tidak menjudge orang berdasar pada pakaiannya. Hal ini merupakan manifestasi keimanan seseorang yang sesungguhnya, yakni saling menghargai, menghormati, tenggang rasa hingga akhirnya saling memiliki. Tingkatan memiliki merupakan level tertinggi bagi seseorang. Sehingga pada akhirnya tidak ada istilah aku atau kamu, tapi kita/kami.

    Selain pemberdayaan masjid melalui kegiatan-kegiatan yang edukatif, pihak pengelola MJS yang terdiri dari para mahasiswa mempunyai spirit entrepeunership yang bergerak dalam bidang percetakan buku dan pembuatan kaos “Ngaji Filsafat”. Laba dari usaha tersebut dijadikan sebagai tambahan modal untuk mensukseskan berbagai kegiatan masjid, seperti kajian rutin yang dilaksanakan 3x dalam seminggu, hadroh, gerakan literasi dan hal-hal lain guna kemajuan masjid. Tujuan-nya untuk nguri-uri (menjaga eksistensi) dan menghidupkan masjid agar tidak sepi jama’ah, karena mayoritas masjid zaman sekarang hanya terlihat mewah dan megah fisiknya namun tidak sebanding dengan esensinya. Artinya, banyak bangunan masjid yang mewah dan indah, akan tetapi sepi jama’ah karena tidak direvitalisasi dengan kegiatan-kegiatan yang mendukung eksistensi masjid serta tidak memberdayakan pemuda dan masyarakat sekitar.

    Entrepreunership menjadi titik awal bagi berkembangnya suatu cabang kegiatan yang ada di MJS. Usaha Percetakan buku (MJS press) yang dipelopori oleh MJS Project telah berjalan selama kurang lebih 4 tahun dan sudah menerbitkan berbagai macam buku, diantaranya buku karya Dr. Fahruddin Faiz serta buku karya mahasiswa-mahasiswa pengelola MJS. Kisaran harga buku sekitar Rp.40.000/ekslempar. Dalam sebulan biasanya laku terjual sebanyak 2-6 buku. Selain usaha percetakan buku, di MJS juga mengkonveksi kaos “Ngaji Filsafat” . Hal ini karena MJS Project memanfaatkan peluang dan membaca keadaan mengingat Ngaji Filsafat banyak peminatnya yang terdiri dari berbagai elemen pemuda dan masyarakat.

    Untuk konveksi kaos, yang mendesain gambar dan pola-nya berasal dari orang MJS sendiri alias bukan berasal dari orang luar, sehingga murni hasil produksi MJS Project. Tempat sablon dari konveksi kaos berada di daerah Sleman Yogyakarta. Modal pembuatan kaos dari laba penjualan buku. Kaos tersebut akan di satu paketkan dengan buku. Sehingga nantinya, ketika orang membeli buku maka akan mendapatkan kaos, dan tentu dengan harga yang berbeda (lebih hemat). Pendistribusian kaos dan buku lewat teman ke teman dan kerjasama MJS project dengan pihak luar, karena mayoritas adalah mahasiswa, sehingga relasi lebih luas (berdasar pada wawancara kepada Mas Wahidian, M.Pd). Biasanya, pembeli memesan terlebih dahulu (pre-order) dan kemudian mentransfer uang lewat rekening atau bisa membayar langsung di Sekretariat MJS Project Komplek Kolombo, Jl. Rajawali No.10, Caturtunggal, Sleman Yogyakarta. Rata-rata sebulan kaos terjual sebanyak 120 kaos.

    Keuntungan dari penjualan sablon dan kaos digunakan untuk menghidupkan serta memakmurkan masjid dengan berbagai kegiatan serta untuk memproduksi buku dan kaos lagi. Sehingga sumber dana Masjid Jendral Sudirman tidak hanya berasal dari infaq masjid dan shadaqah warga sekitar, akan tetapi juga dari enterpreunership yang dikelola oleh mahasiswa inspiratif, kreatif, produktif dan visioner.

    Usaha yang halal akan mendatangkan keberkahan dan kemaslahatan ummat. Hal ini dapat dilihat dari hasil keuntungan penjualan kaos dan buku dapat memberdayakan Masjid dengan mengalokasikan dana ke berbagai kegiatan edukatif untuk kalangan umum, seperti misalnya menyajikan kopi dan snack kecil kepada jama’ah setiap kajian 3x dalam seminggu. Pemasaran buku dan kaos lewat perantara teman ke teman, online baik FB, instagram, blog, website milih MJS Colombo atau biasanya jama’ah sendiri yang menghubungi pihak MJS Project untuk memasan kaos dan atau buku. Selengkapnya bisa dilihat dihalaman FB Masjid Sudirman Kolombo. Monggo.


    Penulis: Siti Mukaromah
    Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Tahun Baru Hijriah, Muharram dan Sejarahnya

    Fathurrahman.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Alumni Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya Fathurrahman membeberkan pandangannya bahwa bulan Muharram tidak terlepas dari peristiwa penting yang terjadi masa silam. “Dalam sebagian tradisi masyarakat nusantara, Muharram merupakan bulan prihatin, karena ada beberapa peristiwa besar dan penting yang  terjadi pada masa lalu,” bebernya pada 10/09/2018.

    Lebih lanjut alumni Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini mengatakan bahwa bulan Muharram adalah bulan yang digunakan untuk memaksimalkan amal-amal sholeh dan ketawaduan serta tidak mengandung kemeriahan.  “Maka sangat jarang sekali ditemukan adanaya pesta-pesta yang meriah seperti pada bulan-bulan biasanya, sebut saja pernikahan, bahkan peperangan dan pertumpahan darahpun di haramkan pada bulan ini,” ucap pemuda yang biasa dipanggil Gus Coy ini.

    Hal diatas menimbulkan pertanyaannya, kenapa demikian? Gus Coy pun menjelaskan karena ada peristiwa yang memilukan yang pernah dialami oleh nabi Muhammad SAW dalam bulan tersebut. “Karena untuk menghormati hijrahnya nabi Muhammad SAW yang penuh penderitaan, berjalan tanpa alas kaki dari Mekkah ke Madinah dalam pengejaran orang-orang Quraisy,” katanya.

    “Dibulan ini juga terjadi peristiwa Karbala yang menyedihkan, yang dimana cucu nabi tercinta, putra dari Sayyidina Ali ra dan Sayyidah Fatimah Azzahra  yaitu Sayyidina Husein terbunuh dan dipenggal kepalanya. Wallahu a’lam bish-showab,” lanjutnya. (Lepas / PEWARTAnews)

    Memaknai Muharram, Tradisi, Sejarah, dan Sunnahnya

    Mambora.
    PEWARTAnews.com – Kondisi dalam sebagian tradisi masyarakat nusantara, Muharram merupakan bulan prihatin, karena ada beberapa peristiwa besar dan penting yang  terjadi pada masa lalu.

    Akibat Peristiwa tersebut, maka sangat jarang sekali ditemukan adanaya pesta-pesta yang meriah seperti halnya pada bulan-bulan biasanya, sebut saja pernikahan, sunnatan, dan lain-lain, bahkan peperangan dan pertumpahan darahpun di haramkan pada bulan ini.

    Pertanyaannya Kenapa?
    Karena untuk menghormati hijrahnya nabi Muhammad SAW yang penuh penderitaan, berjalan tanpa alas kaki dari Mekkah ke Madinah dalam pengejaran orang orang Quraisy.

    Dibulan ini juga terjadi peristiwa Karbala yang menyedihkan, yang dimana cucu nabi tercinta, putra dari Sayyidina Ali ra dan Sayyidah Fatimah Azzahra  yaitu Sayyidina Husein terbunuh dan dipenggal kepalanya.

    Adapun beberapa amalan yang disunnahkan dalam bulan ini, seperti membaca do’a akhir tahun dan awal tahun hijriah, melakukan puasa asyura.

    Doa Akhir Tahun
    Hal yang kita lakukan sebelum menjalani amalan-amalan pada bulan Muharram, ada baiknya untuk membaca doa akhir dan awal tahun.

    Adapun Doanya sebagaimana diuraikan dibawah ini.

    Doa akhir tahun:

    بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
    وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ اَللَّهُمَّ مَا عَمِلْتُ فِى هَذِهِ السَّنَةِ مِمَّا نَهَيْتَنِى عَنْهُ فَلَمْ اَتُبْ مِنْهُ وَلَمْ تَنْسَهُ وَحَلِمْتَ عَلَىَّ بَعْدَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوْبَتِى وَدَعَوْتَنِى اِلَى التَّوْبَةِ بَعْدَ جَرَا ئَتِى عَلَى مَعْصِيَتِكَ فَإِنِّى اَسْتَغْفِرُكَ فَغْفِرْلِى وَمَا عَمِلْتُ فِيْهَا مِمَّا تَرْضَاهُ وَوَعَدْتَنِى عَلَيْهِ الثَّوَابَ فَاَسْأَلُكَ اَللَّهُمَّ يَاكَرِيْمُ يَاذَ الْجَلاَلِ وَاْلاِكْرَامِ اَنْ تَتَقَبَّلَهُ مِنِّى وَلاَ تَقْطَعَ رَجَائِى مِنْكَ يَاكَرِيْمُ وَصَلَى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

    Bismillaahir-rahmaanir-rahiim, Wa shallallaahu ‘ala sayyidinaa Muhammadin wa ‘alaa aalihi wa shahbihii wa sallam. Allaahumma maa ‘amiltu fi haadzihis-sanati mimmaa 
    nahaitani ‘anhu falam atub minhu wa lam tardhahu wa lam tansahu wa halamta ‘alayya ba’da qudratika ‘alaa uquubati wa da’autani ilattaubati minhu ba’da jur’ati alaa 
    ma’siyatika fa inni astaghfiruka fagfirlii wa maa ‘amiltu fiihaa mimma tardhaahu wa wa’adtani ‘alaihits-tsawaaba fas’alukallahumma yaa kariimu yaa dzal-jalaali wal 
    ikram an tataqabbalahuu minni wa laa taqtha’ rajaai minka yaa karim, wa sallallaahu ‘alaa sayyidinaa Muhammadin Nabiyyil ummiyyi wa ‘alaa ‘aalihii wa sahbihii wa sallam

    Artinya: Dengan menyebut asma Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Semoga Alloh tetap melimpahkan rahmat dan salam kepada junjungan dan penghulu kita Muhammad beserta keluarga dan sahabat beliau. Ya Alloh! Apa yang saya lakukan pada tahun ini tentang sesuatu yang Engkau larang aku melakukannya, kemudian belum bertaubat, padahal Engkau tidak meridloi (merelakannya), tidak melupakannya dan Engkau bersikap lembut kepadaku setelah Engkau berkuasa menyiksaku dan Engkau seru aku untuk bertaubat setelah aku melakukan kedurhakaan kepada MU, maka sungguh aku mohon ampun kepada MU, ampunilah aku! Dan apapun yang telah aku lakukan dari sesuatu yang Engkau ridloi dan Engkau janjikan pahala kepadaku, maka aku mohon kepada MU ya Alloh, Dzat Yang Maha Pemurah, Dzat Yang Maha Luhur lagi Mulia, terimalah persembahanku dan janganlah Engkau putus harapanku dari MU, wahai Dzat Yang Maha Pemurah! Semoga Alloh tetap melimpahkan rahmat dan salam kepada junjungan kita Muhammad beserta keluarga dan sahabat beliau.

    Doa Awal Tahun
    Sementara itu doa awal tahun dibaca pada detik-detik memasuki hari pertama awal tahun. Doa ini biasanya dibaca sebanyak tiga kali setelah Maghrib.

    Berikut doanya:

    بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
    وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ اَللَّهُمَّ اَنْتَ اْلاَ بَدِيُّ الْقَدِيْمُ اْلاَوَّلُ وَعَلَى فَضْلِكَ الْعَظِيْمِ وَكَرَمِ جُوْدِكَ الْمُعَوَّلُ وَهَذَا عَامٌ جَدِيْدٌ قَدْ اَقْبَلَ اَسْأَلُكَ الْعِصْمَةَ فِيْهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَ
    اَوْلِيَائِهِ وَالْعَوْنَ عَلَى هَذِهِ النَّفْسِ اْلاَمَّارَةِ بِالسُّوْءِ وَاْلاِشْتِغَالِ بِمَا يُقَرِّبُنِى اِلَيْكَ زُلْفَى يَاذَالْجَلاَلِ وَاْلاِكْرَامِ وَصَلَى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

    Bismillaahir-rahmaanir-rahiim. Wa shallallaahu ‘alaa sayyidinaa Muhammadin wa ‘alaa ‘aalihi wa shahbihii wa sallam. Allaahumma antal-abadiyyul-qadiimul-awwalu, wa 
    ‘alaa fadhlikal-’azhimi wujuudikal-mu’awwali, wa haadza ‘aamun jadidun qad aqbala ilaina nas’alukal ‘ishmata fiihi minasy-syaithaani wa auliyaa’ihi wa junuudihi 
    wal’auna ‘alaa haadzihin-nafsil-ammaarati bis-suu’i wal-isytighaala bimaa yuqarribuni ilaika zulfa yaa dzal-jalaali wal-ikram yaa arhamar-raahimin, wa sallallaahu 
    ‘alaa sayyidina Muhammadin nabiyyil ummiyyi wa ‘alaa aalihi wa shahbihii wa sallam

    Artinya: Dengan menyebut asma Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Semoga Alloh tetap melimpahkan rahmat dan salam (belas kasihan dan kesejahteraan) kepada junjungan dan penghulu kita Muhammad beserta keluarga dan sahabat Beliau. Ya Alloh! Engkau Dzat Yang Kekal, yang tanpa Permulaan, Yang Awal (Pertama) dan atas kemurahan MU yang agung dan kedermawanan MU yang selalu berlebih, ini adalah tahun baru telah tiba: kami mohon kepada MU pada tahun ini agar terhindar (terjaga) dari godaan syetan dan semua temannya serta bala tentara (pasukannya), dan (kami mohon) pertolongan dari godaan nafsu yang selalu memerintahkan (mendorong) berbuat kejahatan, serta (kami mohon) agar kami disibukkan dengan segala yang mendekatkan diriku kepada MU dengan sedekat-dekatnya. Wahai Dzat Yang Maha Luhur lagi Mulia, wahai Dzat Yang Maha Belas Kasih!

    Tiga amalan yang dapat dilakukan di bulan Muharram, diantanya Puasa Sunnah Asyura, Berpuasa Sunah Tasu'a dan Menyantuni Anak Yatim.

    Wallahu a’lam bish-showab.


    Penulis: Mambora
    Alumni Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya / Pegiat pada Pusat Studi Pemuda Nusantara (PUSPARA)


    Silatnas Thibbun Nabawi, Prof. Rochmat Wahab: Thibbun Nabawi Bisa Menjadi Pilihan yang Baik dan Sunnatullah

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A. (ppeci hitam), saat menjadi narasumber Silatnas Thibbun Nabawi, 26/08/2018 di Mojokerto.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Ketua Dewan Kehormatan Forum Rektor Indonesia (FRI) Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A. hadir sebagai narasumber dalam Agenda silaturahim para ahli dan praktisi Thibbun Nabawi se Indonesia di Ponpes Riyadhul Jannah Pacet Mojokerto hari Ahad, 26 Agustus 2018. Tema presentasi yang disampaikan adalah “Thibbun Nabawi: Perspektif Psikologi”.

    Prof. Rocmat Wahab hadir dalam kapasitasnya sebagai ketua Dewan Kehormatan FRI dan juga sebagai lulusan doktor bidang Counseling. “Kehadiran saya dalam acara ini kepasitasnya sebagai Ketua Dewan Kehormatan FRI, karena diharapkan bisa beri advokasi dalam memecahkan masalah mereka berkenaan dengan legalitas dalam layanan medis, di samping saya dapat memberikan pencerahan tentang Thibbun Nabawi dalam Perspektif Psikologi, karena background saya sebagai lulusan doktor bidang Counseling,” bebernya.

    Rochmat Wahab memandang bahwasannya dengan hadirnya PP RI Nomor 103 tahun 2014, para ahli dan praktisi Thibbun Nabawi tidak lagi berani membuka praktek dikarenakan takut adanya ancaman yang termuat dalam peraturan tersebut. “Dengan keluarnya PP RI No 103 tahun 2014 tentang Pelayanan Kesehatan Tradisional, mereka belakangan sudah tidak berani praktek karena takut ancaman, padahal tidak sedikit di antara yang sangat membutuhkan pertolongannya untuk sehat yang tidak bisa diberikan melalui layanan kesehatan secara konvensional, bahkan dalam batas tertentu ada sejumlah dokter, akademisi, kiai, pejabat, elit TNI dan sebagainya ada yang merasa cocok dan dapat recovery penyakitnya dari praktek Thibbun Nabawi,” ucapnya.

    PP RI Nomor 103 tahun 2014, kata Rochmat, memuat keharusan lulusan D3 yang melayani pengobatan Bekam, Herbal dan layanan kesehatan Tradisional, padahan saat ini jurusan D3 yang berkaitan dengan hal tersebut belum ada di Indonesia. “PP tersebut di antara salah satu pasalnya menyatakan bahwa yang dapat melayani thibbun nabawi (bekam, herbal, layanan medis tradisionsl lainnya) adalah yang lulusan D3 di bidang Bekam, Herbal dan layanan kesehatan Tradisional lainnya,” bebernya.

    Dengan kondisi yang demikian, mantan Ketua Tanfidliyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Daerah Istimewa Yogyakarta (PWNU DIY) masa bakti 2011-2016 ini menyarankan solusi atas persoalan tersebut. “Karena (adanya aturan) itu solusinya, pertama bikin pilot proyek untuk mendirikan Program D3 bidang Kesehatan Tradisional dengan konsentrasi Bekam, Herbal, Habbatus Sauda, dan lain-lain yang bidang ini mengikuti Sunnah Rasul. Kedua, sambil menunggu D3 para praktisi melakukan loby dengan Kantor Dinas Kesehatan untuk bisa melayani pasien dengan mengikuti SOP secara bertanggung jawab. Ketiga, para praktisi tetap sementara melayani secara hati-hati dengan tanpa memasang papan praktek dengan ekstra hati-hati dan siap dikenai sanksi jika malpraktek. Tentu yang kedua pun tanpa pasang papan dan tidak ada malpraktek juga hanya sepengetahuan Kantor Dinkes. Upaya manajerial sebagai wujud transparansi dan akuntabilitas publik,” ucap mantan Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) ini.

    Berkenaan dengan materi, kata Rochmat, “kita sadar bahwa menurut nas Allah SWT dan hadits Rasulullah saw, bahwa Allah SWT setiap hadirkan penyakit, hadirkan pula obatnya. Demikian juga Rasulullah bersabda bahwa setiap penyakit ada obatnya, kullu daain dawaaun. Yang tidak ada obatnya adalah ketuaan atau kematian, katanya.

    Menurut Ketua III Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) masa bakti 2014-2019 ini, pada hakekatnya penyakit yang mengenai manusia itu, yang berkaitan dengan fisik 10%, emosi 20%, mental 20%, dan spiritual 50%. “Dengan kata lain bahwa persoalan penyakit yang mengena manusia dan pengobatannya lebih banyak berkaitan dengan aspek non fisik. Artinya bahwa spiritualitas (iman dan taqwa), smart-nya pikiran, dan stabilitas emosi (akhlaq) dalam diri kita jauh lebih penting dan bermakna daripada fisik kita yang fana. Atas dasar itulah maka thibbun nabawi bisa menjadi pilihan yang baik, apalagi ikuti sunnatullah,” cetus Rochmat.

    “Memperhatikan kondisi Indonesia yang kaya herbal, madu, dan lain-lain sangat terbuka untuk dilakukan riset sehingga dapat ditemukan obat yang bisa cocok untuk orang Indonesia. Semoga dengan tuntutan PP tentang persyaratan minimal D3 bagi praktisi dapat mendorong untuk meningkatkan profesionalisme dalam layanan,” lanjutnya. (PEWARTAnews)

     

    Iklan

    Iklan
    Untuk Info Lanjut Klik Gambar
    Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website