Headlines News :

    Follow Kami di Twitter

    Cari Berita / Artikel disini

    Arsip Web

    Like Fun Page Kami

    Mahasiswa Bima-Dompu di Jogja Canangkan Dua Agenda Besar

    Arif Rahman.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Agenda Malam Keakraban (MAKRAB) Raya dan Pawai Rimpu rencananya akan digelar pada tanggal 25-26 Agustus dan 2 September 2018 oleh Komunitas Kasama Weki Ndai Mbojo-Dompu. Event yang bersegmentasi pada mahasiwa asal Bima dan Dompu sepulau Jawa tersebut menargetkan diikuti oleh 1200 peserta. Beragam kegiatan menarik akan dihelat pada masing-masing agenda yang bertema, "Merajut Kebersamaan di Kota Budaya".

    Mantan Ketua KEPMA Bima-Yogyakarta Arif Rahman, yang juga sebagai koordinator acara event menjelaskan, kekompakan dan kesepahaman serta kedekatan secara emosional menjadi tujuan utama dari event yang akan dihelat. "Tujuan dari agenda ini yaitu mengangkat nilai-nilai kebudayan dan khasanah daerah, hal ini juga merupakan tanggungjawab generasi sebagai pengakuan terhadap semboyan Bhineka Tunggal Ika," beber Arif.

    Kata Arif, adanya budaya rimpu menjadi sesuatu hal yang perlu di lestarikan keberadaannya agar semakin luas dikenal secara nasional bahkan dunia. "Rimpu adalah satu-satunya bentuk adat yang berkembang di daerah Bima dan Dompu. Inilah yang menjadikan Rimpu sebagai sesuatu yang unik dan khas," ucap Arif.

    Untuk memeriahkan acara, kata Arif, dalam dua agenda besar ini akan diisi dengan berbagai macam kegiatan yang menarik. "Rencananya saat Makrab akan ada training motivasi, pelatihan team work dan malam unggun berbudaya. Sedangkam saat Pawai Rimpu akan ada juga seni gerak kolosal rimpu dan saremba tembe," kata Arif.

    Lokasi Makrab, akan diselenggarakan di Bumi Perkemahan Kepurun, sedangkan untuk Pawai Budaya akan dimulai di mandalakrida - kridasono - gramedia - tugu - malioboro - alun alun utara. (Siti Hawa / PEWARTAnews)

    Selamat Ulang Tahun Dek

    PEWARTAnews.com -- Wuiih, dek ulang tahun yach hari ini. Selamat yach dek. Maafkan kak, karena telat ngucapinnya. Selamat ulan tahun. Kini usiamu semakin bertambah. Semoga dengan bertambahnya umur, semakin meningkatkan kualitas keimanan dan keilmuannya. Sayang yach dek, kak gak bisa ucapin langsung padamu sambil melihat senyum bahagiamu. Walaupun kini belum bisa bertatap muka, paling tidak harapan kak,  dek bisa sambil tersenyum baca pesan ini, dikit lebay, hehe.

    Walau pun kini kak gak bisa mengucapkannya secara langsung, namun doanya kak pasti langsung terucap untuk mu dek. Dek, jaga selalu kesehatannya di sana, di kota Bandung lautan api (versi sejarah). Semoga kini bandung tersulap menjadi kota lautan Ilmu dan limpahan pengetahahuan, sehingga kelak jika waktunya dek menjalin mahligai rumah tanggga bisa dan mampu menopang dan bisa menjadi penyempurna dari kekurangan Iman-nya dek, dan juga mampu sama-sama membina keluarga (siapa pun kelak yang beruntuk memiliki dek) menjadi keluarga yang mampu membawa kebahagiaan dunia, lebih-lebih kebahagiaan akhirat. Semoga terlimpah juga rahmat dan kasih sayang Tuhan Yang Maha Esa.

    Dek, selamat ulang tahun, dimana pun dek berada, berusahalah selalu menjadi seseorang yang menjadi tumpuan harapan, agar orang-orang disekelilingmu merasakan begitu nikmatnya mensyukuri kehidupan di dunia yang fana ini. Ketika menjadi seorang guru, jadikan pribadi dek menjadi pribadi seorang guru yang penyayang dan welas kasih dalam mengajar, sehingga apa yang dek ajarkan mampu dengan mudah diserap murid-murid dek. Ketika dek menjadi seorang teman dan sahabat, jadillah seorang teman/sahabat yang trus menjadi penyemangat dalam pembenahan, agar sahabat dek lebih baik lagi dari hari keharinya. Ketika dek menjadi seorang murid (mahasiswa), jadilah sebagai murid yang penuh semangat menyerap apa-apa yang telah disampaikan seorang guru (dosen).

    Dek, jaga selalu kesehatan dek, teruslah tersenyum bahagia dalam keadaan apapun, dimanapun dan sampai kapanpun. Dek, ada dan tiadanya seseorang yang menemani hari-harimu kini, tetaplah semangat, karna kelak pasti akan ada waktunya yang tepat dek dihampiri seorang pangeran yang akan menyayangimu dengan penuh kasih dan tentunya atas ridho Ilahi Robbi. Kelak siapapun jodoh dek, semoga semoga selalu dilimpahkan kebahagiaan. Dek, ulang tahun mu sekarang bertepatan dengan bulan Ramadhan, semoga keberkahan bulan ramadhan juga tercurahlimpah juga untuk dek. Aamiin ya robbal aalamiin. (*)


    Yogyakarta, 17 Mei 2018.


    Sekilas tentang Cak Nun

    Cak Nun.
    PEWARTAnews.com -- Pemikiran Islam Emha Ainun Nadjib atau yang akrab disapa Cak Nun memang memilik titik kesamaan dengan pemikiran Nurcholish Madjid (Cak Nur) dan Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Titik kesamaan tersebut ialah inklusif, toleran dan moderat serta menyentuh esensi Islam terdalam yang tidak hanya sekedar halal, haram, makruh (aspek fiqih af’alul khamsah) yang menekankan kesalehan individu dihadapan Tuhan, namun yang jauh lebih dari itu ialah mencerahkan dan membawa Islam untuk kebaikan sosial (humanis) serta non-doktriner.

    Dalam setiap maiyah Cak Nun tidak pernah menekankan janji-janji agama (surga dan neraka), namun lebih menekankan pada kesadaran dalam ber-agama. Hal ini penting, karena kesadaran merupakan titik awal seseorang dalam melakukan suatu tindakan. Jika kesadaran beragamanya baik, maka tingkah lakunya pun akan baik, begitu sebaliknya.

    Kesadaran inilah yang akan menjadi pangkal dari terciptanya kasih sayang, cinta kasih, saling menghormati, menghargai dan saling memiliki diantara makhluk-makhluk-Nya yang dapat berimplikasi pada tatanan kehidupan yang aman, tentram dan damai. Dalam tataran individu, kesadaran ini nilainya jauh lebih tinggi daripada punishment maupun reward. Sebagai contoh, anak kecil akan tumbuh menjadi orang bijak manakala ia diberikan pendidikan yang “demokratis”. Dari, oleh dan untuk serta akan kembali kepada anak. Biarkan anak meng-ekspresikan diri dengan banyak hal, bebaskan dia bermain apa saja, meskipun diluar keinginan orangtua. Setelah anak mengalami sendiri dan ternyata terjadi hal-hal yang kurang mengenakkan, baru-lah orang tua memberikan edukasi dengan sebuah nasihat “oh ini loh akibatnya kalau kamu melakukan seperti itu”. Jadi lebih kepada kesadaran inividu, berbuat ke arah yang lebih baik karena dituntun kesadaran dan mengambil ibrah dari perbuatan yang telah dilakukan, tak terkecuali bagi orang dewasa.

    Karena punishment dan reward sifatnya hanya sementara yang mana “orang melakukan sesuatu karena dapat hadiah atau karena takut (dihukum/didenda). Implikasinya apa? Setelah orang dapat hadiah mungkin semangat melakukan sesuatu akan turun, apabila tidak dibarengi dengan pemberian reward yang lebih besar. Begitu pula dengan punishment, orang akan melakukan sesuatu karena terpaksa.

    Oleh dasar itulah, dalam setiap maiyah cak Nun selalu menekankan “jangan anggap aku ini kiyaimu, ustadzmu dan jangan berbuat baik karena-ku, tapi lakukan suatu perbuatan karena kesadaranmu, karena cintamu kepada Sang Pemilik Cinta”. Cak Nun tidak mau dianggap sebagai seorang kiyai atau ustadz yang setiap tutur katanya, perbuatannya ditiru oleh jama’ahnya. Namun yang diharapkan oleh Cak Nun kepada jamaahnya ialah melakukan suatu hal karena kesadaran, sekali lagi karena kesadaran. Kata Cak Nun “Ayo SINAU BARENG”, bareng-bareng sowan Gusti Allah.

    Oleh karena itu, tak ayal Maiyah Cak Nun diikuti oleh orang dari berbagai macam kelompok dan golongan, bahkan berbagai macam agama. Cak Nun pun juga sering mendatangkan tokok-tokoh pemuka agama lain dan memberi kesempatan kepada mereka untuk berbagi ilmu dan pengalaman atau sepatah dua patah kata.

    Terakhir, dalam menyampaikan pesan ajaran Gusti Allah, Cak Nun tidak pernah mendoktrin jama’ahnya dengan menyampaikan janji-janji surga dan kabar menakutkan dan bengisnya siksa neraka. Cak Nun ingin mengenalkan islam rahmat lil ‘alamin.


    Penulis : Mukaromah
    Mahasiswi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    KPU Kota Jogja Pastikan PKB Kota Jogja Bisa Ikuti Kontestasi Legislatif 2019

    Suasana saat DPC PKB Kota Yogyakarta audiensi di KPU Kota Yogyakarta (21/05/2018).
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Dewan Pengurus Cabang Partai Kebangkitan Bangsa (DPC PKB) Kota Yogyakarta sambangi Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Yogyakarta di jalan Magelang Kota Yogyakarta pada hari Senin, 21/05/2018.

    Ketua DPC PKB Kota Yogyakarta Solihul Hadi, S.H. datang didampingi Rochmad Mujari (Ketua Lembaga Pemenangan Pemilu PKB Kota Yogyakarta), Muhammad Rikazi (Wakil Ketua PKB Kota Yogyakarta), Ricco Yubaidi, S.H. (Sekretaris PKB Kota Yogyakarta), dan Saniyatun (Bendahara PKB Kota Yogyakarta).

    Point penting yang menjadi pertanyaan dalam pertemuan tersebut, salahsatu diantaranya adalah terkait polemik bisa atau tidaknya PKB Kota Yogyakarta mengajukan Calon Anggota Legislatif di Kota Yogyakarta pada 2019 mendatang. Pertemuan tersebut diterima langsung oleh 3 anggota KPU Kota Yogyakarta, Sri Surani, S.P., R. Moeh N. Aris Munandar, S.E., dan Hidayat Widodo, S.P.

    Anggota KPU Kota Yogyakarta, Sri Surani, S.P. saat menerima audiensi PKB Kota Yogyakarta mengatakan bahwasannya walau saat pendataan Parpol belum lama ini PKB Kota Yogyakarta tidak melakukan pendaftaran/verikasi, namun secara nasional Partai PKB sudah dinyatakan lolos seleksi. Oleh karenanya PKB Kota Yogyakarta juga berhak ikut serta dalam bursa calon legislatif 2019 mendatang. "Yang pasti (PKB secara nasional) sudah ditetapkan sebagai peserta pemilu dan sudah dapat nomor, artinya (PKB Kota Yogyakarta) punya hak yang sama untuk menjadi peserta pemilu seperti partai-partai yang lain, terkait dengan tekhnisnya ada di PKPU (Peraturan Komisi Pemilihan Umum), dan PKB Kota Yogyakarta dinyatakan lolos karena ketentuan dalam satu wilayah provinsi itu yang lolos verifikasi minimal 75% dan empat kabupaten di DIY sudah lolos semua, maka otomatis sisanya satu yaitu PKB Kota Yogyakarta juga dinyatakan lolos verifikasi karena sudah memenuhi syarat minimum tadi," ucap anggota KPU Sri Surani, S.P..

    Selanjutnya akan diatur lebih tehnis setelah nanti ada PKPU yang baru, kata Sri Sunani, pihaknya akan menginformasikan langsung secepatnya kepada seluruh partai politik peserta pemilu dan juga masyarakat pada umumnya sebagai bentuk keterbukaan sistem kerja KPU.

    Menanggapi penjelasan dari KPU Kota Yogyakarta, Ketua DPC PKB Kota Yogyakarta Solihul Hadi, S.H. merasa bersyukur atas info baik yang diterimanya. "Kalau demikian adanya, kami merasa senang atas info dari KPU Kota Yogyakarta, dengan ini kami bisa leluasa meyakinkan masyarakat untuk memantapkan pilihannya dalam memilih caleg DPRD Kota Yogyakarta dari PKB, terlebih lagi saat ini caleg yang sudah mendaftar ada sekitar 30 orang lebih yang terbagi dalam lima dapil se Kota Yogyakarta," ucap Solihul Hadi.

    Disela pertemuan tersebut, Ricco Yubaidi, S.H. selaku Sekretaris PKB Kota Yogyakarta turut mengapresiasi pelaksanaan Pencocokan dan Penelitian terhadap Daftar Pemilih Tetap (DPT) oleh KPU Kota Yogyakarta beserta segenap jajarannya. Ia berharap kegiatan tersebut menghasilkan data valid calon pemilih pada pemilu serentak 2019 mendatang. (rls / PEWARTAnews)

    PERKASA Yogyakarta Gelar Pelantikan dan Dialog Publik

    Para pemateri dan moderator saat acara dialog berlangsung.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Persatuan Kasama Weki Sanggar (PERKASA) Yogyakarta menggelar Pelantikan Pengurus Baru Periode 2018-2019 dan juga dirangkaikan Dialog Publik dengan mengangkat tema "Membentuk Mental dan Karakter Kader PERKASA yang Berkemajuan" pada hari Minggu, 20 Mei 2018 jam 14.00-selesai di gedung PAUD dan Dikmas Daerah Istimewa Yogyakarta.

    Momentum kegiatan tersebut menghadirkan pemateri-pemateri yang kompeten dengan tema yang diangkat. Pemateri pertama, M. Saleh Ahalik, S.Pd., M.Pd. (Mantan Ketua PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta Periode 2017-2018) dengan sub tema materi penyampaian "Pembentukan Karakter dengan Berorganisasi". Pemateri Kedua, Mir'atun Syarifah, S.Farm. (mantan Sekretaris Umum PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta Periode 2017-2018) dengan sub tema penyampaian "Peran Wanita dalam Organisasi". Guna untuk memperlancar acara dialog, hadir sebagai sebagai moderator Cita Suci Resnanda, S.Pd. (mantan Pengurus PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta Periode 2017-2018).

    Mir'atun Syarifah, S.Farm. (sapaan akrab Mira), mengatakan bahwasannya dalam berperan di masyarakat seorang wanita dan laki-laki itu punya peran yang sama, sama-sama besar sesuai dengan porsinya. "Karena wanita itu tugasnya bukan hanya berfungsi sebagai ratu rumah tangga yang mengurus dapur, anak, keluarga, dan sebagainya. Tapi perempuan itu bisa aktif di beberapa pekerjaan atau kesibukan, contohnya organisasi," ucap Mira.

    Mira beralasan bahwa perempuan itu cenderung multitasking jika dibandingkan laki-laki, perempuan bisa melakukan banyak pekerjaan dalam sehari kecuali waktu tidurnya. "Artinya dalam organisasi pun wanita tentunya mengambil peran yang sangat besar, dengan tingkat kecerdasan seorang wanita itu lebih besar dibandingkan laki-laki, kemudian tingkat ketelitian, kreativitas, keuletan dan kemampuan managerial dari perempuan itu sangat bagus," beber perempuan yang sedang menempuh studi Pascasarjana di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta ini.

    Lebih lanjut Mira membeberkan bahwasannya banyak hal yang bisa dilakukan oleh perempuan dalam berorganisasi. "Beberapa hal yang menjadi inti dari peran wanita dalam organisasi diantaranya adalah, Pertama, Berbakat dari segi negosiasi. Kedua, Dapat memperluas jaringan/menjalin networking. Ketiga, Penentu suksesnya organisasi. Keempat, Berperan penting dalam pembangunan organisasi," kata Mira.

    Bayangkan jika organisasi tidak adanya seorang wanita, kata Mira, mungkin organisasi itu ada tapi yakinlah organisasi itu akan menjadi tidak berwarna, kurang seru dan tidak maksimal dalam menjalankan tugas sesuai visi misi organisasi dengan sebaik-baiknya.

    Karena begitu besarnya peran yang bisa dilakukan perempuan, Mira pun mengajak perempuan Indonesia dan juga lebih khusus perempuan Bima untuk berani mengambil peran dalam bermasyarakat atau dalam berorganisasi. "Maka dari sekarang Mira mengajak semua teman-teman, khususnya para wanita Indonesia, khususnya wanita-wanita yang berkiprah di organisasi asal Bima di Yogyakarta untuk terus berperan aktif dalam area organisasi sesuai passionnya, melanjutkan semangat RA Kartini untuk terus memajukan wanita-wanita Indonesia agar menjadi wanita yang cerdas dan bisa memecahkan setiap persoalan yang ada," ketus perempuan berjiwa bisnis ini.

    Acara pelantikan dan dialog berlangsung lancar. Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Ketua Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta periode 2015-2017, M. Jamil, S.H., Direktur PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta Ilmidin, S.K.M., Senior Sanggar Seni Rimpu Yogyakarta Rizalul Fiqry, Mantan Ketua Umum Keluarga Pelajar Mahasiswa (KEPMA) Bima-Yogyakarta Arif Rahman, Ketua Asrama Bima Yogyakarta M. Lubis Arham, S.Pd., Advokat Muda Khairul Rizal, S.H.I., Sekretaris KEPMA Bima-Yogyakarta Muhammad Akhir, perwakilan organisasi-organisasi dibawah naungan KEPMA Bima-Yogyakarta, dan juga mahasiswa-mahasiswi Bima lainnya. (PEWARTAnews)

    Rochmad: Ramadhan Kuatkan Silaturrahim

    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Alhamdulillah, tidak terasa kita telah berjumpa kembali dengan bulan suci Ramadhan. Sesuai dengan ketetapan yang dirilis oleh Kementerian Agama Republik Indonesia (KEMENAG RI), Ramadhan tahun ini jatuh pada hari Kamis, 17 Mei 2018. Jadi, malam ini Masyarakat Islam Indonesia sudah mulai melangsungkan tarawih pertamanya.

    Sungguh warna-warni suasana yang terjadi dalam momentum menyambut bulan ramadhan tahun ini, seperti maraknya terjadi teror di berbagai daerah di Indonesia. Menanggapi kondisi yang tidak stabil akhir-akhir ini, Ketua Forum Pengusaha Mula Kota Yogyakarta Rochmad menyayangkan apa yang terjadi tersebut. Selain itu, Rochmad juga menyarankan bahwasannya dalam menyambut bulan suci Ramadhan kita harus sering-sering kuatkan silaturrahim antar sesama, biar terjalin kebersamaan dan tali kasih. Bila kebersamaan sudah terjalin, kata Rochmad, kita semua akan bisa saling mengingatkan jikalau ada khilaf yang tidak sengaja diperbuat.  "Dengan datangnya bulan suci Ramadhan, mari kita eratkan hubungan silaturahim antar sesama manusia. Karena dengan jalan silaturahmi hubungan kekeluargaan dalam lingkungan masyarakat akan terus terjaga," ucap Rochmad melalui rilisnya yang diterima PEWARTAnews.com pada hari Rabu, 16/05/2018 sore tadi.

    Lebih lanjut Rochmad yang juga Ketua Lembaga Pemenangan Pemilu Partai Kebangkitan Bangsa (LPP PKB) Kota Yogyakarta ini mengatakan bahwasannya dengan keberadaan lingkungan kita yang terjaga maka akan mampu menghalau ajaran-ajaran radikal yang kini kian menggurita di Negara kita tercinta. "Dengan lingkungan sekitar kita yang terjaga maka ajaran-ajaran yang mengarah radikal akan mudah terbendung," beber Rochmad. (PEWARTAnews)

    Meneropong Mahasiswa PAI Angkatan 2015

    PEWARTAnews.com – Tepatnya kini (26 April 2018) berada disemester 6. Semester akhir yang katanya sangat menjemukan bagi sebagian mahasiswa. Ada pula yang menyebut semester ini “seharusnya” sudah mempunyai calon agar ketika wisuda nanti ada yang menemani sambil membawakan bunga untuk-nya sambil berkata “dek, selamat ya”, begitu kata salah seorang mahasiswi semester 6.

    Ada yang unik dengan angkatan ini, pasalnya sudah banyak yang mengajukan tema skripsi bahkan sudah ada yang seminar proposal. Padahal dulu ketika saya masih semester 4, yang biasa mengajukan tema dan semprop adalah mahasiswa yang menginjak semester 7/ bahkan 8, tapi tak bisa dipungkiri tetap ada yang mengajukan meski masih disemester 6 namun hanya seglintir orang saja.

    Berbeda hal nya dengan angkatan ini. Baik mahasiswa aktivis maupun akademis, sama saja. Berebut waktu untuk menemui DPA dan kajur guna konsultasi dan acc tema skripsi. Tentu hal ini menimbulkan tanda tanya besar, Ada apakah ini? Karena sesuatu yang terjadi pasti ada sebab. Tak biasanya semester 6 sudah mulai fokus skripsi padahal KKN saja baru akan dimulai bulan Juli-Agustus ini.

    Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penulis melakukan obrolan ringan dengan (banyak) mahasiswa PAI 2015. Mayoritas jawaban mereka hampir sama dengan argumen yang hampir sama pula. Nah berdasar obrolan ringan tersebut dapat disimpulkan bahwa mereka ingin segera lulus, karena beberapa sebab, yakni (1) Ingin melanjutkan hafalan kitab dan Qur’an-nya. (2) Ada pula yang ingin menjadi wisudawan/wati tercepat di Fakultas Tarbiyah. (3) Ingin segera menikah karena sudah tunangan, mayoritas yang menjawab ini adalah kaum hawa. Karena bagi mereka “jangan sampai telat nikah”. Hal ini dipengaruhi oleh lingkungan/kondisi geografis daerah mereka. Wanita yang lulus S1 sudah dipandang tua oleh masyarakat, sehingga suatu ketidakwajaran apabila tidak segera menikah, ungkap salah seorang mahasiswi.

    Meski ada yang ingin segera lulus, namun juga ada mahasiswa/i yang tidak terobsesi untuk segera mengajukan tema dan fokus skripsi. Hal itu dikarenakan masih ingin menikmati masa-masa kuliah, masa muda dan masa mengembangkan kreativitas. Bagi orang-orang dalam kelompok ini, mereka masih ingin menjajaki berbagai macam pengalaman dan pelatihan guna bekal masa depan. Ada juga yang masih ingin fokus untuk melengkapi SKPI (Surat Keterangan Pendamping Ijazah), sehingga lulus tidak hanya sekedar lulus, namun memiliki skill komparatif atau setidaknya mempunyai sesuatu yang membedakan dengan sarjana-sarjana lain.

    Dengan demikian, mengumpulkan sertifikat seminar, perlombaaan baik akademik maupun non akademik menjadi prioritas kelompok ini sebelum fokus skripsi dengan pertimbangan yang penting lulus dengan predikat “berkualitas” meski tidak menjadi wisudawan/wati tercepat. “Mungkin nanti pas kumpul di gedung Multi Purpose (MP) ekspresinya sama, baik yang tercepat maupun yang biasa-biasa saja tapi punya skill komparatif lain. Yang membedakan hanyalah “senyum lebar/tidaknya”, yang dinobatkan menjadi wisudawan/wati tercepat senyumnya akan lebih lebar dibanding yang lain”, ungkap salah seorang mahasiswa PAI. Jujur saja, penulis ngampet ngguyu.

    Hidup itu anugrah dari Tuhan Yang Maha dengan segala ke-Mahaannya. Dalam hidup ada berbagai macam pilihan, dan manusia diberi kebebasan Tuhan untuk menentukan pilihan hidupnya namun tetap harus bertanggungjawab atas pilihan-nya. Biarlah mahasiswa sendiri yang menentukan kemana dan seperti apa dirinya. Yang penting “BERJUANG”. Karena Tuhan menyuruh dan memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk terus dan senantiasa berjuang, bukan kalah/menang - nasihat guru spiritual saya, Emha Ainun Nadjib.


    Penulis: Mukaromah
    Mahasiswi Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

    Dari Islam Muram dan Seram, Menuju Islam Cinta nan Ramah

    Peristiwa Bom yang terjadi di Sirabaya. Foto: viva.co.id.
    PEWARTAnews.com -- Dita Oepriarto adalah Kakak kelas saya di SMA 5 Surabaya Lulusan ‘91.

    Dia bersama-sama istri dan 4 orang anaknya berbagi tugas meledakkan diri di 3 gereja di surabaya. Keluarga yang nampak baik-baik dan normal seperti keluarga muslim yang lain, seperti juga keluarga saya dan anda ini ternyata dibenaknya telah tertanam paham radikal ekstrim.

    Dan akhirnya kekhawatiran saya sejak 25 tahun lalu benar-benar terjadi saat ini.

    Saat saya SMA dulu, saya suka belajar dari satu pengajian ke pengajian, mencoba menyelami pemikiran dan suasana batin dari satu kelompok aktivis islam ke kelompok aktivis Islam yang lain. Beberapa menentramkan saya, seperti pengajian “Cinta dan Tauhid” Alhikam, beberapa menggerakkan rasa kepedulian sosial seperti pengajian Padhang Mbulan Cak Nun.  Pengajian yang lain menambah wawasan saya tentang warna warni pola pemahaman Islam dan pergerakannya.

    Diantaranya ada juga pengajian yang isinya menyemai benih-benih ekstrimisme radikalisme. Acara rihlah (rekreasinya) saja ada simulasi game perang-perangan. Acara renungan malamnya diisi indoktrinasi Islam garis keras.

    Pernah di satu pengajian saat saya kuliah di UNAIR, saya harus ditutup matanya untuk menuju lokasi. Sesampai disana ternyata peserta pengajian di-brainwash tentang pentingnya menegakkan Negara Islam Indonesia. Dan untuk menegakkan ini kita perlu dana besar. Dan untuk itu kalau perlu kita ambil uang (mencuri) dari orang tua kita untuk disetor ke mereka.

    Bahkan ketua Rohis saya di buku Agendanya menyebut profesi dirinya bukan pelajar SMA, tapi Mujahid. Karena memang saat itu majalah Sabili sangat laris di sekolah kami. Isinya banyak menampilkan secara Vulgar pembantaian etnis muslim Bosnia oleh Serbia. Dan ini dijadikan pembakar semangat anak-anak muda jaman saya waktu itu untuk menjadi “mujahid-mujahid pembela Islam”, beberapa akhirnya berangkat beneran ke medan perang.

    Dari pengalaman menjelajah berbagai versi pemikiran dan aktivis Islam dari yang paling radikal sampai liberal itu, dari sunni, sufi, wahabi, syiah, NII, dll itu, saya menyadari walaupun Islam ini mestinya satu, tapi ada banyak versi cara orang memahaminya, sehingga melahirkan banyak versi ekspresi keislaman dan pola tindakan.

    Dan dari semua versi tadi, yang paling saya khawatirkan adalah versi kakak kelas saya mendiang Dita Supriyanto yang jadi ketua Anshorut Daulah Cabang Surabaya ini. Saya sedih sekali akhirnya ini benar-benar terjadi, tapi saya sebenarnya tidak terlalu kaget ketika akhirnya dia meledakkan diri bersama keluarganya sebagai puncak “jihad” dia, karena benih-benih ekstrimisme itu telah ditanam sejak 30 tahun lalu.

    Dia mengingatkan saya pada kakak kelas lain, ketua rohis SMA 5 Surabaya waktu itu, yang menolak ikut upacara bendera karena menganggap hormat bendera adalah syirik, ikut bernyanyi lagu kebangsaan adalah bid’ah dan pemerintah Indonesia ini adalah thoghut.

    Waktu itu sepertinya pihak sekolah tidak menganggap terlalu serius. Karena memang belum ada bom-bom teroris seperti sekarang. Semua sekedar “gerakan pemikiran”. Memang dia dipanggil guru Bimbingan Konseling (BK) untuk diajak diskusi, tapi kalau sebuah ideologi sudah tertancap kuat, seribu nasehat ndak akan masuk ke hati. Dan Akhirnya pihak sekolah menyerah, toh dia tidak bertindak anarkis, bahkan terkenal cerdas, lemah lembut dan baik hati.

    Akhirnya Ketua rohis saya ini tiap upacara bendera i’tikaf di mushola sekolah. Ngomong-ngomong, kadang saya kalau lagi males upacara, ikut menemani dia di mushola dan ikut mendegarkan siraman rohaninya. Dan yang seperti ketua rohis saya ini tidak hanya di SMA 5, tapi yang saya tahu ada di hampir semua SMA dan kampus di Surabaya atau bahkan di seluruh Indonesia.

    Yang ingin saya katakan, Terorisme dan budaya kekerasan yang kita alami saat ini adalah panen raya dari benih-benih ekstrimisme-radikalisme yang telah ditanam sejak 30-an tahun yang lalu di sekolah-sekolah dan kampus-kampus. Saya tidak tahu kondisi sekolah dan kampus saat ini, tapi itulah yang saya rasakan jaman saya SMA dan kuliah dulu.

    Mohon jangan salah paham, main stream-nya pergerakan Islam di sekolah dan kampus ini tidak se-ekstrim kakak kelas saya tersebut. Tapi ada cukup banyak yang sifatnya sembunyi-sembunyi dimana saya waktu itu ikut merasakan ngaji bersama mereka.

    Serangkaian bom di tanah kelahiran saya dengan tempat-tempat yang sangat akrab di telinga dengan segala kenangan masa kecil, plus pelaku utama yang terasa begitu dekat dengan memori masa-masa SMA-Kuliah dulu ini membuat saya tersentak bahwa Ekstrimisme, Radikalisme, bahkan Terorisme ini sudah menjadi “Clear and Present Danger”. Ini tidak lagi sebuah film di bioskop atau berita koran yang terjadi nun jauh di negeri seberang. Ini sudah terjadi disini dan saat ini disekitar kita.

    Maka kita harus menetralisir kegilaan ini sampai ke akar-akarnya. Tidak ada gunanya kita melakukan penyangkalan (denial) bahwa ini cuman rekayasa, pelakunya ndak paham Islam, ini bukan bagian dari ajaran Islam, ini pasti cuman adu domba, dll.

    Nyatanya pelakunya masih sholat subuh berjamaah di mushola, lalu satu keluarga berpelukan sebelum mereka menyebar ke 3 gereja untuk meledakkan diri.

    Nyatanya memang ada saudara-saudara kita yang memahami Islam versi garis keras yang hobinya mengutip mentah-mentah ayat-ayat perang dan melupakan substansi “cinta dan kasih sayang” sebagai inti ajaran Islam.

    Nyatanya memang benih-benih radikalisme, ekstrimisme ini telah ditabur 30 tahun terakhir di pikiran anak-anak muda kita, di sekolah-sekolah terbaik dan di kampus-kampus top di Indonesia. Dan  kalau akhirnya mewujud menjadi tindakan nyata terorisme, mestinya tidak mengagetkan kita.

    Kalau kita masih saja melakukan penyangkalan, maka kita tidak akan pernah berbenah diri. Tapi kalau kita insyaf bersama, kalau kita dengan gentle mengakui -- bahwa IYA memang kita sedang sakit, bahwa memang ada banyak diantara kita, dan saudara-saudara kita yang memahami Islam versi garis keras, yang merasa bahwa Islam harus diperjuangkan dengan kekerasan -- maka kita bisa mulai mengambil langkah-langkah solutif.

    Dan langkah-langkah solutif nyata yang bisa kita lakukan diantaranya adalah:

    1. Mulai menetralisir alias melunakkan paham islam garis keras dan mulai menyebar luaskan paham islam moderat (washothiyah).

    2. SMA-SMA dan Kampus-Kampus harus disterilkan dari gerakn-gerakan bawah tanah Islam garis keras, diganti dengan kemeriahan dan kegembiraan aktivitas Islam yang menebarkan “cinta dan welas asih” pada sesama manusia.

    3. Sosial media harus dipenuhi kampanye “Islam yang ramah dan penuh kasih sayang”. Bukan Islam yang keras, penuh umpatan, dan kata-kata kasar, apalagi hoax dan berdarah-darah.

    4. Pertarungan politik mohon jangan lagi menggunakan isu SARA sebagai komoditas rebutan kekuasaan. Apalagi disertai kampanye hitam saling menghujat yang membuat bahkan setelah selesai Pilkada/Pilpres-nya masyarakat jadi terbelah saling bermusuhan.

    5. Mawas diri dan sama-sama menahan diri dalam menyikapi perbedaan-perbedaan dalam penafsiran Islam. Islamnya satu dan sumbernya sama, tapi nyatanya cara kita memahaminya bisa macem-macam. Dan ini fenomena psikologi yang wajar. Ayo tebarkan sikap saling memahami dan berempati, bukannnya saling curiga dan menyalahkan. Islam harus dipulihkan reputasinya dari wajah muram penuh kekerasan menjadi wajah ramah penuh Cinta pada sesama manusia.

    Benar kata Muhammad Abduh, cendekiawan muslim abad 20, “Al-islamu Mahjubun bil muslimin”, Keindahan Islam ini terhijab/tertutupi oleh akhlak buruk sebagian umat Islam sendiri”. Jadi mari kita yang akan bersama-sama memulihkan wajah Indah Islam.

    Terakhir, mari kita dengar seruan  seorang remaja Islam peraih Nobel Perdamaian, Malala Yousafzai:

    “Peluru hanya bisa menewaskan teroris, tapi hanya PENDIDIKAN-lah yang bisa melenyapkan paham terorisme (sampai akar-akarnya: radikalisme, ekstrimisme)”

    Stay Save.. Keep Optimism.. Spread Love and Compassion..

    And for my beloved Christian brothers and sisters.. My deep condolence for all of you.. From the bottom of my heart, I am really sorry..

    Love & Peace for all of us..

    Saya yang sedang berduka,

    Penulis: Ahmad Faiz Zainuddin
    Alumni SMA 5 Surabaya Lulusan 1995

    Terkait Maraknya Aksi Teroris di Berbagai Daerah, Ini Sikap LAKPESDAM PBNU

    Ketua LAKPESDAM PBNU Rumadi Ahmad. Foto: nuonline.
    Jakarta, PEWARTAnews.com -- Runutan peristiwa yang dilakukan teroris sungguh menghebohkan jagad nusantara akhir-akhir ini. Belum lama hilang dalam ingatan kita terkait peristiwa yang terjadi di Mako Brimob Depok, lalu peristiwa yang terjadi di beberapa Gereja di Surabaya, serta peristiwa yang terjadi di Rusunawa Sidoarjo.

    Berkaitan dengan peristiwa-peristiwa teror diatas, juga juga mengusik Pengurus Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LAKPESDAM PBNU) memberikan sikap yang tegas terkait itu.

    Dalam press rilisnya yang dibuat di Jakarta tertanggal 14 Mei 2018, Ketua LAKPESDAM PBNU Rumadi Ahmad mengutuk keras tindakan terorisme tersebut, sebagaimana uraian dibawah ini.

    Pertama, Orang-orang yang pernah bergabung dengan ISIS di Syiria dan kini pulang ke Indonesia nyata-nyata sudah menjadi ancaman serius. Keberadaan mereka, cepat atau lambat, akan menjadi duri dan terus menjadi persoalan bagi bangsa Indonesia. Sementara itu, negara --terutama POLRI-- tidak bisa melakukan tindakan apapun karena tidak ada payung hukum yang secara efektif bisa menjerat mereka.

    Kedua, Pengesahan revisi UU Terorisme yg memberi kewenangan kepada POLRI utk mengambil tindakan terhadap orang-orang yang nyata-nyata bergabung dengan organisasi terorisme menjadi sangat penting. Para politisi di DPR yg membahas revisi UU Terorisme harus lebih serius untuk menutup semua celah tumbuhnya terorisme, termasuk ujaran kebencian  di ruang publik yang bisa menjadi benih radikalisme dan terorisme.

    Ketiga, Politisi DPR jangan menjadikan isu terorisme hanya sebagai dagangan politik elektoral, apalagi dikaitkan dengan kontestasi perebutan kekuasaan 2019. Mestinya semua elemen bangsa bersatu pada saat-saat seperti ini, bahu membahu untuk melawan terorisme. DPR harus lebih serius menyelesaikan revisi UU Terorisme.

    Keempat, Kalau revisi UU terorisme di DPR tidak bisa diselesaikan dalam waktu dekat karena berbagai kepentingan yang ada di dalamnya, kami mendorong presiden agar mengeluarkan PERPPU agar persoalan-persoalan yang sangat mendesak dalam penanggulangan terorisme ada payung hukum. PERPPU menjadi jalan terakhir jika memang DPR tidak bisa diharapkan kinerja cepatnya dalam menyelesaikan revisi UU Terorisme.

    Kelima, Mari kita tunjukkan kepada dunia internasional bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yg kuat dan beradab. Kita tidak akan pernah tunduk pada kekuatan jahat terorisme. Islam adalah agama rahmatan lil alamin, bukan penebar teror dan kebencian.

    (rls / PEWARTAnews)

    Ricco Bekali Mahasiswa Hukum Jogja dengan Pengetahuan Dasar Notaris

    Ricco Survival Yubaidi (berbaju batik) saat menerima kenang-kenangan dari DPC PERMAHI DIY.
    Bantul, PEWARTAnews.com -- 50 peserta yang terdiri dari mahasiswa Hukum se-Daerah Istimewa Yogyakarta mengikuti Masa Perkenalan Calon Anggota (MAPERCA) ke XXI DPC PERMAHI DIY. Kegiatan yang berlangsung selama 2 hari (12-13 Mei 2018) di Balai Pemuda dan Olahraga (BPO) Ambarbinangun Disdikpora DIY tersebut mengangkat tema “Terbinanya Kader PERMAHI yang Harmonis, Berintegritas dan Menjunjung Azas Kekeluargaan dalam Bingkai Kebhinekaan.”

    Perhimpunan Mahasiswa Hukum (PERMAHI) DIY merupakan organisasi kader profesi hukum yang bukan organisasi masa, independen dan tidak berdiri maupun memihak pada salah satu golongan tertentu ataupun kelompok agama/daerah. Kegiatan MAPERCA diselenggarakan dalam rangka membuka perekrutan Calon Anggota Baru dan bertujuan untuk menambah khazanah wawasan tentang ke-PERMAHIAN, Sejarah PERMAHI, dan Ilmu seputar Profesi Hukum dan Keorganisasian.

    Dalam rangka menyiapkan bekal kepada para peserta sebagai kader profesi hukum yang berintegritas dan menjunjung tinggi asas kekeluargaan, PERMAHI yang dinahkodai oleh Ketua Umum DPC PERMAHI DIY Rouf Fajrin Widiantoro, S.H., dan Ketua Panitia MAPERCA XXI Wenten Arianto menghadirkan beberapa pembicara yang aktif di bidang profesi masing-masing seperti Jaksa, Hakim, Pengacara dan Notaris.

    Salah satu pembicara yang turut hadir, Ricco Survival Yubaidi, S.H., M.Kn. menjelaskan materi dasar profesi kenotariatan. Dalam sesi tersebut dijelaskan pengertian, fungsi, kewajiban maupun larangan dari seorang pejabat Notaris dan PPAT. "Profesi Notaris diatur sebagaimana melekat segala peraturan dalam menjalankan jabatan pada Undang-Undang Nomor 30 tahun 2004 jo. Undang-Undang Nomor 2 tahun 2014 dan Kode Etik Notaris," ucap Ricco pada 12/05/2018 disela-sela acara berlangsung.

     Lebih jauh Ricco menyampaikan, "Apabila nantinya para kader PERMAHI ingin mengabadikan diri menjadi Notaris dan PPAT, maka harus mampu memiliki integritas, berani dan tegas dalam mengakomodir setiap pembuatan akta," bebernya.


    Kegiatan MAPERCA berlangsung dengan cukup antusias diikuti sesi tanya jawab antar pemateri dan peserta. Pada akhir pelaksanaan acara, para peserta mengikuti pengukuhan sebagai Kader PERMAHI. (rls / PEWARTAnews).

    Pelaku Terorisme bukan Orang Gila

    Solihul Hadi, S.H. (baju hijau) bersama para personil Banser.
    PEWARTAnews.com -- Berawal dari kasus yang terjadi di Mako Brimob sampai dengan bom yang meledak di tiga gereja Surabaya dan satu di Rusunawa Sidoarjo. Jujur, dari hati kecil penulis merasa sangat perihatin dan mengucapkan turut berbela sungkawa yang sedalam-dalamnya pada semua keluarga korban, namun ada satu hal lagi yang membuat hati saya tersayat-sayat, disaat suasana sedang berkabung seperti ini ternyata masih banyak juga orang yang menganggap bahwa aksi radikalisme dan terorisme ini hanya untuk mengalihkan isu, kepentingan politik 2019 dan rekayasa pemerintah, seharusnya kita bisa berfikir bahwa orang-orang yang meninggal itu adalah saudara kita sebangsa dan setanah air, kalaupun ada diantara mereka yang bukan saudara seiman dengan kita, mereka itu ya saudaramu dalam kemanusiaan.

    Lebih parah lagi banyak orang yang mengatakan bahwa aksi terorisme tersebut dilakukan oleh orang gila, maaf dalam kondisi ini penulis tidak setuju, karena terorisme ini adalah murni dilakukan oleh mereka yang mengenyam pendidikan sampai perguruan tinggi dan berakal sehat, hanya saja pemahamanya terhadap ilmu agama sangat kurang dan cenderung menyimpang, sehingga dalam pikirannya hanya berisi propaganda dan faham yang mengajak pada kebencian dan kekerasan dengan janji-janji surga fatamorgana.

    Para calon teroris ini sebenarnya dapat dilihat dari beberapa indikator non fisik, pertama mereka memiliki kecendrungan membentuk kelompok yang sangat ekslusif, kedua selalu memaksakan kehendak sendiri atau merasa paling benar, ketiga tidak bisa mentolerir sesuatu yang berseberangan dengan paham mereka, keempat cenderung menggunakan
    cara-cara yang radikal untuk mencapai tujuanya dan kelima mereka sering mengatakan “kafir” pada orang yang tidak sependapat dengan kelompoknya.

    Penulis mengajak pada sahabat-sahabat generasi muda NU, khususnya GP Ansor dan Banser agar selalu rapatkan barisan, jalin komunikasi dan koordinasi disemua tingkatan dan satu komando dengan Gus Yaqut, serta kita jangan mudah terprovokasi oleh opini-opini yang bertaburan di media mainstream maupun medsos, serta selalu bersiap dalam situasi apapun apabila sewaktu-waktu Negara memanggil atau Para Kiai mengeluarkan perintah kepada kita.

    Semoga pemerintah dapat segera mengusut sampai ke akar-akarnya terkait dalang dibalik semua kegaduhan ini, dan bisa menindak tegas para teroris, bila perlu hukum mati pada para pelaku yang telah terbukti melakukan aksi terorisme.



    Penulis: Solihul Hadi, S.H.
    Ketua Karang Taruna Kota Yogyakarta / Wakil Ketua Gerakan Pemuda Ansor Kota Yogyakarta.

    PBNU Mengutuk Keras Peledakan Tiga Bom Gereja di Surabaya

    Ketua Umum PBNU Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA.
    Jakarta, PEWARTAnews.com -- Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan 1439 H, kita dikejutkan dengan aksi narapidana Terorisme di Mako Brimob serta yang terbaru, ledakan bom di tiga Gererja di Surabaya, Ahad (13/5/2018). Rangkaian kejadian itu menunjukkan bahwa radikalisme, apalagi yang mengatasnamakan agama, sungguh sangat memprihatinkan dan mengiris hati kita semua.

    Oleh sebab itu, menyaksikan dan mencermati dengan seksama rangkaian peristiwa yang terjadi di Surabaya, khususnya peristiwa bom di tiga Gereja di Surabaya, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menegaskan beberapa point penting, seperti yang disebutkan dibawah ini.

    Pertama, Mengecam dan mengutuk keras segala tindakan terorisme, apapun motif dan latar belakangnya. Segala macan tindakan menggunakan kekerasan, apalagi yang mengatasnamakan agama dengan cara menebarkan teror, kebencian, dan kekerasan bukanlah ciri ajaran Islam yang rahmatan lil alamin. Islam mengutuk segala bentuk kekerasan. Bahkan tidak ada satu pun agama di dunia ini yang membenarkan cara-cara kekerasan dalam kehidupan.

    Kedua, Menyampaikam rasa bela sungkawa yang sangat mendalam kepada keluarga korban atas musibah yang sedang dialami. Segala yang terjadi merupakan suratan takdir dan kita harus menerimanya dengan penuh sikap kedewasaan, lapang dada, ketabahan dan kesabaran.

    Ketiga, Mendukung penuh upaya dan langkah-langkah aparat keamanan untuk mengusut secara cepat dan tuntas motif, pola, serta gerakan yang memicu terjadinya peristiwa tersebut. Gerakan terorisme sudah semakin sedemikian merajalela, maka diperlukan penanganan khusus yang lebih intensif dari pelbagai pihak, utamanya negara melalui keamanan.

    Keempat, Mengajak seluruh warga Indonesia untuk bersatu padu menahan diri, tidak terprovokasi serta terus menggalang solidaritas kemanusiaan sekaligus menolak segala bentuk kekerasan. Jika mendapati peristiwa sekecil apapun yang menjurus pada radikalisme dan terorisme segera laporkan ke aparat keamanan. Segala hal yang mengandung kekerasan sesungguhnya bertentangan dengan ajaran Islam dan bahkan bertentangan dengan ajaran agama apapun. Islam mengajarkan nilai-nilai kesantunan dalam berdakwah. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an:

    ‎أدع إلى سبيل ربك بالحكمة والموعظة الحسنة وجادلهم بالتي هي أحسن

    Artinya, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan Al Hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (Q.S. An-Nahl: 125)

    Kelima, Mengimbau warga NU untuk senantiasa meningkatkan dzikrullah dan berdoa kepada Allah Swt. untuk keselamatan, keamanan, kemaslahatan, dan ketenteraman hidup dalam berbangsa dan bernegara. Nahdlatul Ulama (NU) juga meminta kepada semua pihak untuk menghentikan segala spekulasi yang bisa memperkeruh peristiwa ini. Kita percayakan penanganan sepenuhnya di tangan aparat keamanan. Kita mendukung aparat keamanan, salah satunya dengan cara tidak ikut-ikutan menyebarkan isu, gambar korban, dan juga berita yang belum terverifikasi kebenarannya terkait peristiwa ini.

    Keenam, Nahdlatul Ulama (NU) mendesak pemerintah untuk mengambil langkah tegas serta cepat terkait penanganan dan isu terorisme dan radikalisme. Langkah ini harus ditempuh sebagai bagian penting dari upaya implementasi dan kewajiban Negara untuk menjamin keamanan hidup warganya. Dan apapun motifnya, kekerasan, radikalisme, dan terorisme tidak bisa ditolerir apalagi dibenarkan, sebab ia mencederai kemanusiaan.

    Pernyataan ini dikeluarkan di Jakarta, pada 13 Mei 2018. Sikap tersebut diatasnamakan langsung oleh Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA., dan Sekretaris Jenderal DR. Ir. H. A. Helmy Faishal Zaini. (rls / PEWARTAnews)

    Mocopat Syafa'at Emha Ainun Nadjib

    PEWARTAnews.com -- Tulisan ini saya tulis dengan kata-kata sendiri namun “substansi”-nya sama dengan apa yang dimaksud dan dipaparkan oleh Cak Nun pada edisi bulan April 2018.

    Seperti biasa mocopat syafa’at dibuka dengan lagu-lagu khas Kiyahi Kanjeng dan lantunan bacaan Al-Qur’an oleh salah seorang utusan, santri ataupun orang yang mendermakan dirinya untuk mengisi pra acara dalam tradisi setiap tanggal 17 di kediaman Cak Nun. Mocopat bulan ini diawali dengan pantomim oleh salah seorang sahabat karib EAN sejak kecil yang bernama mas Eko. Sesekali membaca puisi dengan penuh ekspresi dan diselingi drama yang menghibur, terbukti banyak jama’ah ma’iyah yang tertawa geli menyaksikan gerak gerik tubuhnya. Diakhir penampilannya, mas Eko bercerita bahwa beliau merupakan salah seorang teman yang setia dengan Ebiet G. Ade (Seorang penyanyi terkenal yang saat ini namanya masih sangat populer di tanah air). Hal itu karena mas Eko lah yang sering menyiapkan air mandi (ngangsu sumur) untuk Ebiet. Kala itu mas Eko bilang ke Ebiet, “Ebiet, kamu besok harus jadi orang yang berhasil, kalau tidak awas kamu ya!, Eh ternyata benar kini Ebiet yang paling melangit diantara sahabat-sahabtnya," ujar mas Eko. Tak hanya itu ternyata Ebiet juga orang yang diistimewakan oleh Cak Nun kala itu, meski saat itu Ebiet masih biasa-biasa saja (belum menjadi yang sekarang ini). Pada tahun 1976 Emha Ainun Nadjib dan Ebiet duet bernyanyi dalam acara Ramadhan in Campus di UGM, pada waktu itu.

    Tak lama kemudian, Kiyahi Kanjeng melantunkan shalawat untuk menyambut kedatangan Cak Nun ke atas panggung. Bahkan jika saya boleh mengatakan, Sang Baginda Nabiyullah Muhammad pun juga ikut menyambut kedatangan orang terkasih yang amat mencintai Nya, mencintai Utusan Nya dan penebar kasih sayang kepada segenap makhluk Nya dialam ini.

    Cak Nun mengawali dialognya dengan mengatakan, “Selebar dan seluas apapun benda di alam raya ini, termasuk manusia dan pepohonon jika diperkecil maka ukurannya akan sama”, dan jika dikreasi maka akan membentuk sesuatu yang baru. Artinya, seperti apapun manusia, sehebat, sekaya dan banyak pengikutnya pun kalau sudah tiba waktunya dipanggil kehadirat-Nya maka akan kembali seperti sediakala yang tidak membawa apa-apa. Masih pantaskah manusia sombong?

    Di era sekarang banyak orang yang bangga manakala mempunyai banyak pengikut, mempunyai banyak santri dan hal-hal lain yang melekat dalam dirinya entah itu yang berbentuk jabatan, kekayaan, maupun popularitas. Dengan nada lirih, Cak Nun mengatakan bahwa “dirinya tidak pernah menginginkan mempunyai santri, bahkan beliau juga sedikitpun tidak pernah berdo'a dan meminta kepada Allah agar jama’ah maiyah-nya membludak seperti saat ini”. Namun sesuatu yang tidak pernah dipintakan Cak Nun kepada Gusti Allah itu-lah yang justru dianugrahkan Allah kepadanya. Cak Nun hanya ingin orang yang mendengar petuah dan dialognya dalam setiap kesempatan/diskusi dapat berubah ke arah yang lebih baik. Karena pada dasarnya, setiap manusia mempunyai kesempatan dan peluang yang sama untuk berubah ke arah yang lebih baik, meski harus melampaui setiap proses dalam kehidupan. Atas dasar itulah, Cak Nun mengatakan bahwa untuk sampai kepada Allah (sikap pasrah, taat, tunduk dan patuh) dibutuhkan sikap kesetiaan, andap asor dan tidak “gumede/merasa dirinya paling benar dan paling oke sehingga berimplikasi pada sikap eksklusif yang tidak mau menerima segala bentuk perbedaan, kritik konstruktif dan mudah menyalahkan orang lain.

    Diskusi ini berlanjut pada dialog antara Cak Nun, bintang tamu dan para jama’ah maiyah. Banyak pertanyaan yang terlontar, diantaranya terkait dengan (1) ungkapan Nistische yang mengatakan “Tuhan Telah Mati”. (2) Bagaimana cara mengontol nafsu agar tidak marah dan tetap istiqamah untuk menebar kebaikan kepada sesama makhluk Tuhan, meski selalu dikhianati, dicaci dan dihina oleh manusia? (3) Apakah seorang da’i boleh memasang tarif?. (4) Bagaimana konsep Tuhan yang sesungguhnya? (5) Bagaimana penafsiran tentang Fir’aun dan seperti apakah gambaran fir’aun dimasa kini?

    Orang Muslim tidak pantas “menjudge” orang atheis dengan sebutan “kafir dan neraka”. Bisa jadi, orang atheis tersebut hanya menutup-nutupi keimananya dan ia tidak ingin orang lain mengetahui apa agamanya karena itu merupakan hak antara dirinya dengan Tuhan-nya, bisa juga ia tidak ingin mendengar perspektif Tuhan dari mulut orang lain, karena ia ingin menemukan Tuhan yang lebih benar berdasar pada pencarian melalui berbagai pengalaman yang dilalui-nya. Dalam sebuah penelitian mengatakan lebih dari 3.400 nama tuhan yang digunakan oleh manusia untuk menyebut Tuhannya. Sehingga bisa jadi antara satu orang dengan yang lain memiliki perspektif yang berbeda tentang Tuhan-nya. Hal ini berkaitan dengan Tuhan yang selama ini dikenal oleh manusia merupakan bentuk imajinasi-nya yang dimanifestasikan dengan bentuk yang berbeda-beda sebagai wujud rasa cinta dan pengabdian total kepada-Nya, kalau umat Islam ya shalat. Manusia tidak akan bisa mencapai kepada Tuhan yang sesungguhnya, karena manusia itu nisbi. Sehingga untuk mengenal Allah, maka Allah mengutus Rasul-Nya dengan membawa ajaran/kitab sesuai dengan zaman Rasul tersebut, namun tetap esensinya membawa ajaran monotheistik (Tuhan Yang Maha Esa).

    Terkait dengan ungkapan yang mengatakan “Tuhan Telah Mati”, maksudnya mati dalam bayangan si nistiche itu tadi. "Apa yang terlintas dalam benak manusia tentang Tuhan, itu bukan Tuhan yang sesungguhnya karena Tuhan diluar jangkauan manusia," ungkap Cak Nun. Namun, yakinlah bahwa Tuhan akan selalu bersemayam dalam diri manusia yang juga mencintai-Nya dengan menebar rahmat dan kasih sayang kepada makhluk-makhluk ciptaan-Nya. Implikasinya adalah, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Tak peduli orang lain akan baik/menghianati kita, yang penting tugas kita adalah “beramal”. Pada dasarnya, Fitrah manusia ialah hanif/condong kepada kebaikan. Hal itu terbukti bahwa potensi manusia 99% adalah (+/ positif). Sisanya yang 1% adalah nafsu lawwamah. Nafsu inilah yang terkadang membuat manusia terlena dan jika tidak bisa diminimalisir maka akan mendorong manusia untuk melakukan kejahatan. Atas diasar inilah, apabila manusia berbuat kesalahan dan kekhilafan, maka hatinya tidak akan nyaman. Cara mengontrol nafsu ialah ya dengan cara dikontrol. Analoginya seorang pecandu narkoba jika ingin bebas dari narkoba, maka harus berhenti mengkonsumsinya. Begitupula usaha manusia untuk mengontrol nafsunya, yakni harus ada dorongan dan niat untuk meminimalisir (man jadda wajada) sopo sik tenanan bakal iso.

    Selanjutnya, terkait dengan da’i boleh nggak pasang tarif? Jangan minta, tapi kalau dikasih ya diterima. Wong itu rejeki. Itu merupakan hak dari orang yang mengeluarkan keringat atau tenaga-nya. Ada sebuah kisah dari sahabat Nabi yang sedang melakukan rihlah, ditengah-tengah perjalanan mereka berhenti disebuah rumah milik kepala suku yang sedang sakit gigi. Lalu salah seorang sahabt itu mengobati kepala suku tersebut dengan ayat-ayat Al Qur’an. Tak lama kemudian, sembuh. Sebagai ucapan terimakasih dari kepala suku, ia memberikan kambing kepada sahabt yang mengobati tadi. Namun sahabat tersebut enggan untuk menerima-nya dikarenakan takut memperjual belikan ayat-ayat Al-Qur’an. Kemudian sahabt tersebut datang kepada Nabi dan menceritakan itu semua, lalu jawab Nabi “terima saja, itu hak-mu, sebaik-baik obat adalah Al Qur’an".

    Adapun karakter Fir’aun sebagaiamana dalam Qs. Al-Qashash ayat 4 disebutkan bahwa Fir’aun merupakan orang yang merasa dirinya “paling tinggi paling benar dan paling hebat” (‘ala fil ardhi..), Selain itu Fir’aun juga merupakan orang yang suka memperpecah belah kelompok dalam suatu masyarakat (wa ja’ala ahlahaa syiya’a), dan mematikan sifat kejantanan (yu dzabbihuna abna'ahum....). Implikasi dalam dunia modern saat ini ialah, apabila manusia memiliki sifat sombong, eksklusif, tirani, anti kritik (otoriter) maka dapat disebut sebagai fir’aun modern.

    Terakhir, penulis akan menutup dengan kata-kata yang sering diucapkan Cak Nun, “Hidup ini puncaknya adalah keindahan, maka belajarlah seni. Kalau mencari kebenaran jalannya bukan dengan cinta, apalagi kebencian. Namun jalan menuju kebenaran adalah dengan Ilmu, meski setelah lengkap akan bertemu dengan Cinta. Dan jalan menuju kebaikan ialah dengan akhlaq yang dilandasi dengan semangat Al-Qur’an untuk dijadikan inspirasi menebar kedamaian dimuka bumi sebagai Rahmatan Lil ‘alamin.


    Penulis: Mukaromah
    Mahasiswi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

    Perpaduan Dua Insan

    PEWARTAnews.com -- Tulisan ini ku persembahkan untukmu yang jauh disana, yang tak terlihat tapi hati selalu mengingat. Bicara cinta adalah bicara tentang hati! Ya, hati yang saling memiliki perasaan, hati yang saling merindu, dan hati yang selalu bersama berdo'a kepada-Nya untuk dipersatukan dalam ikatan yang halal. Hati ibaratkan raja yang memberi perintah kepada rakyatnya, dipatuhi perintahnya, diikuti kemauan dan keinginannya. Begitu pula dengan posisi hati dalam tubuh kita. Hati adalah king (raja) atas semua anggota badan yang harus dituruti keinginan dan kemauannya. Hati memiliki perasaan, entah itu perasaan baik maupun perasaan buruk. Hati juga memilki perasaan cinta maupun benci, dalam hati manusia memiliki perasaan bermacam-macam tetapi paling tidak manusia memiliki perasaan cinta kepada sesamanya.

    Begitupun dengan saya. Saya memiliki perasaan cinta kepada seorang wanita dambaan yang jauh disana, yang tak terlihat oleh panca indra tetapi dapat difikirkan oleh logika sehatku. Tulisan ini ku deskripsikan untuk dia! Ya, dialah yang tidak bisa dilihat oleh indra ku, tetapi dapat ku ilustrasikan dengan logika sehatku. Ya, dia “Lolo Lika” namanya, seorang putri yang mampu melumpuhkan hatiku, seorang putri yang mampu membangunkan semangatku, seorang putri yang mampu mengembalikan senyumku yang manis. Ku ingin puisikan namanya di atas panggung cinta, tetapi apalah daya logika ku telah dilumpuhkan oleh cintanya, sehingga aku tidak mampu lagi berpikir inovatif. Bagiku dia adalah wanita yang sulit ku kenal karena dengan wajahnya yang paras cantik sama persis dengan kakak kembarannya, sehingga jika mereka berdiri bersamaan maka sangat sulit ku membedakan mana dia dan mana kakaknya.

    Dulu (2016) aku mengenalnya lewat organisasi perkumpulan mahasiswa S1, S2, dan S3 se-NTB-Jogja, pada saat itu ada agenda kumpul bersama sehingga dalam pertemuan itu kitapun memperkenalkan diri satu-persatu di forum tersebut. Nah disitulah rasa ini mulai timbul seolah bunga yang mekar di pagi hari yang menerima energi dari sinarnya matahari. Rasa inipun terus terpendam karena waktu itu kita juga jarang ketemu fase to fase melainkan sesekali kalau ada agenda kumpul-kumpul saja, belum ada ruang dan waktu untuk mengungkapkan rasa yang terpendam dalam hati, sehingga lambat laun kitapun jarang ngumpul-ngumpul lagi, ditambah dengan kesibukan kuliah kita masing-masing.

    Kebetulan kami satu almamater (universitas) di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, waktu itu dia sedang menjalani semester 2 jurusan Perbankan Fakultas Ekonomika dan Bisnis Islam (S1), sedangkan saya semester 2 (S2) di kampus yang sama. Seperti pada umumnya anak kuliahan, dengan dipisahkan oleh kesibukan masing-masing kamipun tidak lagi saling menanyakan kabar satu sama lain. Waktu terus berjalan menuju kedepan, tetapi rasa ini seolah masih ingin terus menanyakan keadaan dia yang sudah lama hilang dari fikiran, tetapi hati tidak lagi kuat untuk melontarkan sepatah kalimat walau itu dengan menanyakan kabarnya. Cinta memang tidak kita tahu kapan datangnya dan kapan munculnya, tetapi dia datang tiba-tiba dengan mendobrak hati ini sekuat mungkin. Cinta tidak seperti jelangkung yang datang tak di undang pulangpun tak di antar, tetapi cinta ibarat spidol permanen ketika kita menulis di papan putih maka sulit bagi kita untuk menghapusnya kembali. Begitu pula dengan cinta, dia datang dan muncul dalam hati lalu dia tinggal selamanya seolah hati itu menjadi rumah permanen yang tidak bisa di gusur oleh Pol PP.

    Waktu terus bergulir, hingga akhirnya terpisah jauh dan tanpa kabar sedikitpun. Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan dan tahun demi tahun pun kulewati tanpanya. Kini sudah tahun 2018, tepat 2 tahun lebih tanpa kabar. Beberapa waktu lalu ku beranikan diri menanyakan kabarnya, dan mulai hari itu komunikasipun kembali terjalin erat dengannya. Hatiku hanya ingin melihatnya senyum walau kita berjauhan, hatiku hanya ingin mendengarnya tertawa walau hanya lewat kabar angin yang membawa masuk ke dalam hatiku. Dia adalah yang ku panjatkan do’a kepada Sang Pencipta semoga nanti hatiku dengan hatinya menyatu atas takdir-Nya.

    Kisah Besambung…!
    Tunggu episode selanjutnya.


    Penulis: Andri Ardiansyah
    Mahasiswa Pascasarjana Program Doktor (S3) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

    Kunjungi PBNU, Grand Syaikh Al Azhar Prof. Ahmed: Al Azhar akan Dorong Islam Moderat Ala NU

    Ketua Umum PBNU, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj saat menyambut Grand Syaikh Al Azhar, Mesir, Prof. Dr. Ahmed Al Thayyeb ketika berkunjung ke kantor PBNU.
    Jakarta, PEWARTAnews.com -- Melalui rilis Sekretariat Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menginformasikan bahwa Grand Syaikh Al Azhar, Mesir, Prof. Dr. Ahmed Al Thayyeb berkunjung ke kantor PBNU, Rabu (2/5/2018). Kunjungan ini merupakan rangkaian agenda High Level Consultation of World Moslem Scholars on Wasatiyyah Islam di Bogor, 1-4 Mei 2018. Grand Syaikh datang tepat pukul 18.00 WIB ditemani mantan Ketua Organisasi Internasional Alumni Al Azhar Indonesia, Prof. Dr. Quraish Shihab. Setibanya di halaman gedung PBNU, Mufti Besar Mesir ini langsung disambut oleh Ketua Umum PBNU, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, Sekjen PBNU Dr. H. Helmy Faishal Zaini, dan Ketua PBNU KH. Marsudi Syuhud. Grand Syaikh beserta rombongan lantas diterima di ruang Ketua Umum PBNU di lantai 3 Gedung PBNU. Sekitar 15 menit Ketua Umum PBNU memberikan pengantar dan ucapan selamat datang.

    Acara resmi mulai berlangsung pukul 18.15 WIB di gelar di Aula PBNU di lantai 8. Di ruangan berskala 500 audience ini Grand Syaikh disambut dengan sholawat badr. Acara silaturrahim Grand Syaikh Al Azhar dengan kiai dan warga nahdliyyin kemudian diawali dengan pembacaan alfatihah, dilanjutkan dengan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Ya Lal Wathon.

    Mengawali dialog, Ketua Umum PBNU Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj sedikit memberikan pengantar dengan menceritakan kronologis sejarah berdirinya Nahdlatul Ulama. Kiai Said juga memaparkan keberadaan badan otonom dan lembaga yang bernaung dibawah Nahdlatul Ulama.

    Sementara Grand Syaikh Al Azhar menyampaikan beberapa poin, diantaranya : Pertama, Ucapan terima kasih atas undangan Nahdlatul Ulama dalam rangka memperkuat silaturahim tokoh-tokoh agama. Kedua, Grand Syaikh memaparkan pandangan moderat Al Azhar di dalam pemikiran agama dan konsep-konsep bernegara. Ketiga, Grand Syaikh menegaskan bahwa adanya perbedaan-perbedaan hendaknya menjadi perekat umat Islam. Kita umat Islam, menurut Grand Syaikh sudah diajarkan oleh rasulullah bahwa perbedaan itu akan menjadi rahmat ketika direspon dan disikapi dengan bijak dan tepat.
     Al Azhar akan mendorong penguatan Islam moderat yang dilakukan NU. Dan akan bersama-sama dalam memberikan penguatan dan mengkampanyekan Islam moderat di dunia.

    Keempat, Grand Syaikh menyambut baik rencana kegiatan bersama NU dan al Azhar serta siap memberikan beasiswa kepada santri berprestasi untuk studi di Al Azhar khususnya di jurusan umum bagi perempuan. Termasuk di dalamnya terkait rencana pelaksanaan konferensi internasional bersama.

    Selanjutnya, Grand Syaikh Al Azhar berkesempatan berdialog dengan peserta yang hadir. "Bagaimana Grand Syaikh menilai tentang politisasi agama?," tanya peserta. Hadirnya politisasi agama, kata Grand Syaikh hanya membuat agama tidak dipandang baik dan politik akan dipandang buruk. "Politisisasi agama jika tidak dipahami dengan benar akan menimbulkan dua kerugian; pertama kerugian agama yang menjadi jelek. Dan kedua, juga politik yang menjadi buruk," jawaban Grand Syaikh dengan lugas.

    Sepertinya peserta yang hadir tidak menyia-nyiakan kesempatan emas itu, lalu timbul lagi pertanyaan, "Bagaimana pandangan Grand Syaikh tentang kelompok yang ingin mendirikan khilafah di dunia?," ucap peserta. Tentang adanya isu khilafah islamiyah, Grand Syaikh membeberkan bahwa dunia menolaknya. "Dunia sepakat menolak khilafah islamiyah. Maka itu sangat sulit untuk terjadi. Hal ini karena masing-masing banyak perbedaan yang sudah tertanam. Adanya perbedaan itu justru menjadi keindahan agama Islam," ujar Grand Syaikh.

    Akhir-akhir ini di media sosial maupun dunia nyata sering kita temukan orang dengan mudahnya mengkafirkan orang lain, hal seperti ini juga ditanyakan peserta pada Grand Syaikh dalam moment tersebut. "Apakah yang terjadi saat ini ketika ada kelompok Islam yang menuduh kafir diluar kelompoknya?," ucap salahsatu peserta yang hadir. Grand Syaikh memandang bahwa mengkafirkan orang biasanya karena tidak secara utuh mampu memaknai ruh agama, dan hal itu perlu kita kolektif menolaknya. "Gerakan radikalisasi dan takfirisasi, mengkafir-kafirkan orang lain itu merupakan kebodohan terhadap memahami ruh dan substansi agama. Saya dengan tegas menolak pemahaman agama yang memonopoli kebenaran," kata Prof. Ahmed tersebut.

    Mudahnya kita mengkses media sosial seharusnya itu menjadi hal yang membangkan bagi umat manusia karena mempermudah kita berkomunikasi dan mendapatkan informasi, namun kenyataannya tidak sedikit malah menjadi momok yang menakutkan dengan dijadikan media untuk memupuk benih perpecahan. Hal ini juga tidak ketinggalan ditanyakan oleh hadirin dalam momentum tersebut. "Bagaimana menyikapi perkembangan media sosial yang dijadikan benih perpecahan?," ucap peserta yang hadir. Mengenai hal tersebut, Grand Syaikh memandang bahwa semua elemen harus bersatu padu dalam menyuarakan Islam moderat di dunia maya dan perlu di manage dengan baik agar tidak menjadi media penghancur kedamaian. "Kita harus bersama-sama memberikan penguatan moderat islam melalui media sosial. Karena jika tidak di manage dengan baik, media sosial akan menjadi penghancur bagi kedamaian," beber Grand Syaikh.

    Demikian beberapa poin silaturrahim dan poin dialog bersama Grand Syaikh Al Azhar di gedung PBNU. Banyak hal positif yang dapat dipetik dalam pertemuan tersebut. Kehadiran Grand Syaikh Al Azhar di gedung PBNU menjadi kebanggaan tersendiri bagi jajaran pengurus NU dan juga secara keseluruhan warga nahdiyin seantero negeri ini. Lebih umumnya, kehadiran Grand Syaikh Al Azhar di Indonesia semoga menjadi berkah bagi bangsa, negara dan seisinya. (rls/MJ/PEWARTAnews)

    Sekber Keistimewaan DIY Sikapi Tegas Kerusuhan Simpang 4 UIN Sunan Kalijaga

    Suasana aparat Polisi depan UIN Sunan Kalijaga saat aksi May Day, 01/05/2018.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Menanggapi demonstrasi yang berakhir ricuh di simpang empat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang berlangsung Selasa (1/5/2018) sore yang berujung pembakaran pos polisi dan sejumlah aksi vandalisme disikapi tegas oleh Sekber Keistimewaan DIY.

    Mendengan isu yang dibawa sangat mengusik masyarakat DIY, terutama terkait vandalisme, Sekber Keistimewaan DIY pun langsung mendatangi lokasi. "Kami Sekber Keistimewaan DIY petang tadi langsung mendatangi lokasi dan melakukan pembersihan," ucap Ketua Sekber Keistimewaan DIY Widihasto Wasana Putra.

    Sekber Keistimewaan DIY juga menyayangkan dalam aksi tersebut ada ancaman persekusi terhadap Sultan Yogyakarta. "Kami langsung menyobek bagian baliho yang berisi tulisan bernada ancaman persekusi terhadap Sultan dan juga menutup dengan cat sebanyak 5 titik tulisan vandalisme bernada sama di tembok pagar UIN. Sobekan baliho kami simpan sebagai bukti jika diperlukan polisi untuk penyelidikan lebih lanjut," beber Putra.

    Terkait aksi rusuh yang belakangan diakui oleh PMII DIY ditunggangi oleh oknum yang tidak bertanggungjawab tersebut, Sekber Keistimewaan DIY menyampaikan 5 point penting yang menjadi sikap tegas Sekber Keistimewaan DIY.

    Sikap pertama, Mengecam aksi demonstrasi sekelompok gerombolan liar yang membuat anarkisme di Yogyakarta. Sikap kedua, Meminta aparat kepolisian menindak para pelaku. Sikap ketika, Menyerukan kepada semua pihak untuk tidak membuat aksi-aksi provokatif yang mengoyak kerukunan dan kondusifitas kamtibmas di wilayah DIY. Kami juga menyampaikan terimakasih kepada warga sekitar kampus UIN yang tanggap merespon aksi anarkisme gerombolan liar.

    Sikap keempat, Sekber Keistimewaan DIY selalu siap menghadapi aksi-aksi sepihak yang menyerang duet kepemimpinan sah di DIY yakni Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Sri Paduka Paku Alam X. Sikap kelima, Menyerukan kepada masyarakat DIY tetap solid, golong gilig guyub rukun menjaga persatuan dan kesatuan, mengedepankan toleransi, dan tetap tunduk pada supremasi hukum. (rls/PEWARTAnews)

    PP Ulul Albab Balirejo Gelar Sarasehan Anti Narkoba

    Suasana saat usai sarasehan berlangsung.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Pesantren Ulul Albab Balirejo Kota Yogyakarta masuk kategori pesantren mahasiswa. Tingkat usia para santri di atas 18 tahun, dikategorikan pemuda. Usia pemuda ini tergolong yang tidak aman dari ancaman, bahaya dan juga tidak terlepas dari perhatian gerakan anti narkoba.

    Proxy War, perang yang tidak menggunakan senjata api, tank, jet tempur, rudal, atau bom, sekarang ini tidak dipercaya tapi nyata terjadi di dunia ini. Negara yang akan menenggelamkan masa depan lawan negara itu tidak menggunakan senjata berat sekarang cukup dengan mendistribusikan narkoba kepada generasi muda.

    Arti pentig Pesantren dalam memerangi narkoba ini disadari oleh pengasuh PP Ulul Albab Balirejo Yogyakarta, H. Ahmad Yubaidi, SH., MH. Oleh karena itu hari Rabu (malam Kamis), tanggal 2 Mei 2018 jam 20.00-22.30 WIB dilakukan diskusi dengan tema "Peran Santri dalam Mencegah Peredaran dan Bahaya Narkoba di Kalangan Muda". Pemateri dari Dinas Sosial DIY Bro Eko Prasetyo (Counselor Senior Dinas Sosial DIY) dan Ricco Survival Yubaidi, S.H., M.Kn. (Kader Inti Anti Narkoba DIY / Sekretaris Forum Bela Negara Kota Yogyakarta), serta didampingi oleh Moderator M. Jamil, S.H. (Ketua Kader Inti Pemuda Anti Narkoba Kota Yogyakarta). Acara juga dihadiri tidak hanya dari Santri Ulul Albab Balirejo tapi juga dari luar. Dalam kesempatan tersebut hadir ketua Forum Bela Negara Kota Yogyakarta Firas Nan Sabastian, S.H., Advokad Hairul Rizal, S.H., Pengurus BEM Universitas Nahdlatul Ulama Kota Yogyakarta Arif Rahman, Gus Coiyah Fathur Rahman.

    Dalam diskusi kali ini hadir memberikan tenstimoni, yakni mantan pecandu narkoba yang sudah sembuh Eddie Novizar yang juga anak mantan rektor di Perguruan Tinggi Islam di Yogyakarta. Kehadiran dan penyampaian para pemateri yang luar biasa ini menyebabkan diskusi berlangsung dengan hangat sampai larut malam.

    Pengasuh PP Ulul Albab Balirejo Yogyakarta, H. Ahmad Yubaidi terus mendorong santrinya untuk tidak hanya fokus mempelajari ilmu agama belaka, penguatkan ilmu umum pun sangat diperlukan untuk bekal yang berharga yang akan dibawa saat terjun dunia sosial. "Peran santri nyata dalam sosial, kemasyarakatan, pendidikan, akhlak, sadar hukum, dan kesejahteraan keluarga penting sekali disamping peran utama di bidang keagamaan," ucap Yubaidi.

    Lebih jauh Ahmad Yubaidi mengatakan kalau santri sudah kuat ilmu agama dan ilmu umum itulah santri yang siap ditempatkan di masyarakat. "Peran dan tanggung jawab santri perlu didorong terus agar santri matang dalam ilmu agama dan ilmu yang diperlukan untuk terjun di masyarakat dan dunia kerja," ucapnya lelaki yang juga Notaris Kota Yogyakarta ini. (rls / PEWARTAnews)
    Suasana saat acara Sarasehan berlangsung.

    PENA 98 Gelar Pameran Foto Sebagai Refleksi 20 Tahun Reformasi 1998

    Suasana pameran Foto di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 02/05/2018.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Perhimpunan Nasional Aktivis 98 (PENA 98) menggelar pameran foto dan refleksi 20 tahun Gerakan Reformasi 98 di 11 kota di Indonesia. Di Yogyakarta, acara ini diselenggarakan di beberapa kampus yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) secara estafet. Kegiatan ini bertujuan untuk memperingati dan  refleksi sekaligus menjaga semangat Gerakan Reformasi 1998.

    Pameran foto peristiwa reformasi 1998 di Yogyakarta diselenggarakan oleh Pena 98, bekerjasama dengan Lembaga Kemahasiswaan seperti BEM dan Dema di masing-masing kampus, dan akan berlangsung dari 2 - 21 Mei 2018. Pameran foto ini menampilkan 300 lebih karya foto dari para mahasiswa lintas organisasi yang terlibat perjuangan gerakan reformasi 1998 serta wartawan pada saat itu.

    Pada tanggal 2 Mei 2018 pukul 12.00 - Selesai di selenggarakan di Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dengan menggandeng Dewan Mahasiswa (DEMA) Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

    Selain pameran foto, kegiatan refleksi 20 tahun reformasi ini juga akan menghadirkan  sesi diskusi, antara lain refleksi 20 tahun reformasi (5 Mei), gerakan buruh Pasca Reformasi ( 7 Mei), gerakan mahasiswa dari masa ke masa (9 Mei), ekonomi kerakyatan dari rezim ke rezim (11 Mei), media melawan hoaks (15 Mei), politik Indonesia pascareformasi (19 Mei), membangun kedaulatan energi pascareformasi (21 Mei).

    Kordinator Panitia Agus Bintoro mengatakan bahwasannya adanya kegiatan ini mengingatkan kita pada peristiwa bersejarah 20 tahun silam. "Pameran foto ini mengingatkan sekaligus mengajarkan semua pihak atas sejarah terjadinya Reformasi 1998. Dua Puluh (20) tahun lalu hampir seluruh mahasiswa bergerak dengan tuntutan serupa, sebagai akumulasi kekecewaan terhadap pemerintahan Orde Baru yang bersikap tidak adil, sewenang-wenang terhadap seluruh lapisan rakyat Indonesia," beber Agus.

    Gerakan Reformasi 1998 sesungguhnya tidak dapat dilihat pada saat Soeharto menyatakan mengundurkan diri tanggal 21 Mei 1998 saja, melainkan akumulasi perjuangan mahasiswa dan rakyat jauh hari sebelum tanggal tersebut.

    Lebih jauh Agus membeberkan bahwasannya, "dalam pameran foto ini, mayoritas foto menampilkan aksi-aksi demonstrasi yang dilakukan mahasiswa dari berbagai kota, di Jakarta dan Yogyakarta. Ada pula beberapa foto yang menunjukkan aksi mahasiswa kala berhadapan dengan aparat kepolisian dan tentara, dan sebagainya, ucap Agus Bintoro yang juga ketua Dewan Pengurus Daerah Posko Perjuangan Rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta (DPD POSPERA DIY) ini. (rls/PEWARTAnews)


    May Day, Demonstrasi itu Biasa Karena Kita Demokrasi

    PEWARTAnews.com -- Hari buruh sedunia (1 Mei) baru saja berlangsung, demonstrasi terus berangsur, sampai media pun siaran langsung dan di beberapa daerah rusuh karena beberapa unsur. Hari buruh dijadikan kontestasi disetiap tahunnya di Indonesia untuk menyampaikan aspirasi rakyat kepada pemerintah demi melihat dan memandang kehidupan rakyat yang lebih layak, pasalnya para buruh menilai upah yang di terima oleh mereka belum bisa dikatakan sebuah upah yang layak sehingga disetiap tahunnya para buruh turun kejalan dan menyampaikan aspirasinya dan tuntutannya kepada pemerintah mengenai perihal upah buruh.

    Hari buruh jatuh pada tanggal 1 Mei dan di setiap tanggal dan bulan tersebut para buruh melakukan aksi demonstrasi di berbagai tempat, tujuannya adalah supaya pemerintah pusat sedikit melirik para buruh di negeri ini untuk kesejahteraan mereka. Bukanlah sebuah masalah ketika kita melihat para buruh berdemonstrasi di berbagai tempat, bukan pula menjadi penghalang Negara untuk berkembang karena perihalnya buruh sering rusuh ketika menyampaikan aspirasinya karena Negara kita adalah Negara demokrasi sudah pasti undang-undang dan aturan yang ada di negeri ini sudah mengatur semua tentang buruh dan demosntrasi oleh karena itu mereka (buruh) melakukan demonstrasi itu adalah perintah undang-undang. Di satu sisi undang-undang memberi kebebasan beraspirasi kepada seluruh rakyat Indonesia disisi lain pemangku kebijakan pun mendiskriminasi siapa saja yang argumennya menyinggung perasaan pemangku kebijakan itu sendiri.

    Kali ini buruh tidak sendirian dalam menyampaikan aspirasinya kepada pemerintah tapi di temani ratusan mahasiswa, di Jogja para mahasiswa menyampaikan aspirasinya berakhir ricuh bertempat di Jl. Solo di depan kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, terlihat jelas para mahasiswa gabungan tersebut melempar Pos Polisi dengan sesuatu benda yang berakibat terbakarnya Pos Polisi, demosntrasi kali ini bisa dikatakan demonstrasi besar dibanding dengan tahun lalu, perihalnya demonstrasi di Jogja ini menuntut beberapa hal salah satunya turunkan harga BBM dan stop pembangunan NYIA (New Yogyakarta International Airport) yang menurut mereka menyengsarakan rakyat. Demonstrasi dalam tubuh Buruh dan Mahasiswa itu sudah mengendap lama dalam jiwa-jiwa mereka dan sekaranglah saatnya melepaskan uneg-uneg mereka kepada pemangku kebijakan, karena Buruh dan Mahasiswa menilai pemangku kebijakan hari ini tidak pro terhadap rakyat sehingga demonstrasilah panggung sebagai instrument menyampaikan aspirasi mereka.

    Kita seharusnya bisa memilah ketika kita melihat para buruh atau mahasiswa dalam menyampaikan aspirasinya dengan cara merusak fasilitas Negara, itu semua di lakukan sebagai kekecewaan mereka terhadap kebijakan pemerintah yang tidak merakyat. Jangan kita meluangkan emosi kita kepada buruh maupun mahasiswa dengan mencaci maki mereka atau dengan mengatakan mereka bodoh karena mereka sudah merusak fasilitas yang ada, tapi itulah cara mereka mengekspresikan kekecewaan dan ketidakpuasan mereka terhadap kebijakan yang ada. Demonstrasi hari ini tidak seberapa rusaknya dibandingkan dengan demonstrasi di tahun 1998 yang mengakibatkan turunnya Soeharto dari Kerajaannya yang melibatkan jutaan mahasiswa di seluruh pelosok negeri, dan demonstrasi tersebut tidak saja menurunkan Soeharto dari kursi kekuasaanya tetapi juga menghilangkan nyawa orang lain karena benturan dengan aparat waktu itu. Lalu dimana letak kesalahan demonstrasi buruh atau mahasiswa hari ini yang belum seberapa, tidakkah kita berkaca pada tahun 1998 tersebut yang dimana aparat Negara tanpa merasa bersalah membabi buta melepaskan peluru mereka kepada mahasiswa sehingga tidak sedikit mahasiswa di zaman itu meregang nyawa. Bukankah menyampaikan aspirasi itu dilindungi undang-undang dan bukankah kebebasan berpendapat itu tercatat dalam kitab Negara, lalu kenapa harus kita menyalahkan para demonstan.

    Dalam hemat penulis bahwa jiwa kita sudah melekat dengan sejarah, dan sejarah yang mengajarkan kita dalam berbagai hal sehingga terbentuklah jiwa-jiwa yang kuat, jiwa-jiwa kritis, dan jiwa-jiwa pejuang hak rakyat. Mahasiswa adalah penyambung lidah rakyat sekaligus tameng kekuatan rakyat ketika ingin berhadapan dengan kebijakan pemerintah yang tidak merakyat, demosntrasi hari ini adalah sebuah kewajaran karena kita hidup dalam genggaman Negara demokrasi dan hanya itu cara mahasiswa untuk mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah yang membelok dengan keinginan rakyat.
     

    Penulis: Andri Ardiansyah
    Mahasiswa Pascasarjana Program Doktor (S3) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
      

    Soal Polemik Aksi May Day di Pertigaan UIN, Ini Sikap PMII DIY

    Faizi Zain.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Menanggapi polemik massa aksi dalam rangka peringati hari buruh internasional 1 Mei 2018 yang terjadi di pertigaan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, Ketua Umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Daerah Istimewa Yogyakarta Faizi Zain memberikan keterangannya secara kelembagaan. Selengkapnya seperti berikut dibawah ini:

    Menyoal polemik massa aksi hari ini, Selasa 01 Mei 2018 yang dilakukan di pertigaan  UIN Sunan Kalijaga Jl. Laksda Adisucipto dalam rangka memperingati hari buruh sedunia, kami Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Daerah Istimewa Yogyakarta perlu mengklarifikasi rentetan kabar yang beredar bahwa sebagai berikut;

    1. Aksi ini adalah aksi aliansi/gabungan lintas gerakan yang tidak hanya beranggotakan PMII secara tunggal, tetapi terdiri dari berbagai unsur gerakan/organisasi lain yang tergabung dalam GERAM (Gerakan Aksi Satu Mei).
    Diantarnya unsur gerakan tersebut ialah Fron Aksi Mahasiswa jogjakarta (FAM-J) yang dikordinatori saudara Mas’udi, PMII Komisariat Wahid Hasyim yang dikordinatori saudara Lutfhi, Aliansi Mahasiswa UJB yang dikordinatori saudara Talamun, Aliansi Mahasiswa Mercu Buana yang dikordinatori saudara Dedik, Aliansi Mahasiswa UIN yang dikordinatori saudara Habab, Aliansi Mahasiswa UCY yang dikordinatori saudara Miftah, Aliansi Mahasiswa UNY yang dikordinatori saudara Egis, Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia yang dikordinatori saudara Alci, PMII Komisariat Pondok Sahabat UIN Sunan Kalijaga yang dikordinatori saudara Odent, LPM Ekspresi UNY yang dikordinatori saudara Fahrudin , LPM Himmah UII yang dikordinatori saudara Hasan, LPM Poros UAD yang dikordinatori saudara Ayan, LPM Journal Amikom yang dikordinatori saudara Bayu, GMNI UII yang dikordinatori saudara Ibnu, DEMA Fakultas Syaria’ah Dan Hukum yang dikordinatori saudara Lutfhi, PMII Komisariat Dewantara yang dikordinatori saudara Sayyid.

    2. Sejak awal kita sepakat aksi ini adalah aksi damai (tanpa anarkisme).
    3.Karena aksi ini adalah aksi gabungan, masing-masing koordinator/ketua organisasi bertanggungjawab terhadap masa aksi dari organisasinya masing-masing.

    4. Koordinator Umum (Kordum) aksi telah melakukan intruksi kepada masing-masing koordinator/ketua masing-masing organisasi agar massa yang dibawa menjaga etika, tidak melanggar hukum, bersikap ramah dan santun ke masyarakat sekitar UIN dan para pengguna jalan raya, tidak melakukan hal anarkisme yang dapat merugikan masyarakat dan negara.

    5. Saat massa aksi diwakili Kordum hendak melakukan pernyataan sikap (bertanda akan berakhirnya aksi), tanpa sepengetahuan Kordum, masuk sekolompok orang dengan ciri-ciri berpakaian gelap (hitam), memakai jaket, penutup kepala serta penutup wajah, mereka tiba-tiba melakukan pengrusakan dan membakar pos polisi menggunakan bom molotov, melakukan vandalisme serta tindakan-tindakan anarkis lainnya yang memancing keributan dan merugikan.

    6. Tindakan tersebut memprovokasi massa aksi lainnya dan menimbulkan reaksi keras masyarakat sekitar yang awalnya melihat jalannya aksi dengan damai, sehingga gesekan dengan masyarakat pun tidak bisa dihindari.

    7. Setelah mengumpulkan serta berkoordinasi dengan kader-kader yang terlibat demontrasi, Saya sebagai Ketua PC PMII D.I.Yogyakarta menjamin bahwa pelaku tindakan anarkis dan vandalisme bukanlah dilakukan oleh kader PMII D.I.Yogyakarta

    Demikin Surat klarifikasi ini dibuat secara sadar dan jelas untuk meluruskan rentetan kabar yang kurang objektif tentang insiden demontrasi yang terjadi pada peringatan hari buruh sedunia di pertigaan UIN Sunan Kalijaga.

    Yogyakarta, 02 Mei 2018
    Tertanda
    Faizi Zain
    Ketua PC PMII D.I.Yogyakarta

    (rls/PEWARTAnews)

    Sebuah Kajian tentang Kepenulisan

    Suasana Diskusi Kepenulisan.
    PEWARTAnews.com – Menulis merupakan suatu hal yang sangat urgent dalam kehidupan manusia. Tanpa adanya tulisan, maka manusia tidak akan dapat berkomunikasi. Tutur kata dan paradigma berpikir manusia dipengaruhi oleh bacaan, apapun itu. Dapat dibayangkan, apabila di dunia ini tak ada tulisan, mungkin manusia tidak akan dapat survive seperti saat ini. Tak hanya itu, menulis merupakan ladang investasi dunia akhirat yang akan abadi, meski jasad telah tiada. Sebagaimana ungkapan orang bijak yang mengatakan bahwa gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan amal. Salah satu bentuk amal ialah tulisan.

    Dengan menulis maka manusia akan tetap ada dan terkenang. Gagasan, ide, pemikiran dalam suatu karya seseorang akan tetap hidup yang dijadikan sebagai sumber inspirasi, rujukan/referensi dalam hal keilmuan. Sebagai contoh, Nurcholish Madjid, Ahmad Wahib, Hasyim Asy’ari, Ahmad Dahlan, Socrates, Karl Marx, Muhammad Rasyid Ridha, Muhammad Abduh, Jamaluddin Al Afghani, Ir. Soekarno, dan lain-lain yang mana pemikiran (karya) mereka sampai “saat ini” masih dijadikan sebagai spirit untuk menapaki jejak ilmu dan pengetahuan baik dalam pendidikan formal dan non formal, training maupun organisasi.

    Dalam sejarah Islam, Allah SWT pertama kali menurunkan firman-Nya yang memerintahkan manusia untuk mencari ilmu pengetahuan dan menggali potensi diri dengan “membaca”, membaca apapun itu baik qauliyah maupun kauniyah. Dengan demikian, budaya literasi sudah diperkenalkan Allah sejak Al Qur’an pertama kali diturunkan. Lalu apa kaitannya membaca dengan menulis? Jelas ada. Seorang penulis tidak akan mampu menulis dengan baik dan berbobot manakala tidak didukung oleh wacana yang luas (read: bacaan yang banyak). Oleh karena itu ada korelasi positif antara membaca, menulis dan spirit untuk menjelajahi ilmu pengetahuan.

    Ibnu Sina, Al Ghazali, Ibnu Rusyd, Imam Malik, Abu Hurairah, Anas bin Malik dan sederet sahabat-sahabat nabi merupakan contoh orang-orang muslim yang haus akan ilmu, sebagai manifestasi dari pencarian–nya maka mereka berkarya dan menghabiskan sisa hidupnya untuk berkontribusi penuh bagi kemajuan islam dan negaranya. Itulah mengapa, maju mundurnya suatu bangsa dapat dilihat dari kualitas peradabannya, salah satunya melalui pendidikan. Dunia pendidikan memegang peran sentral dalam upaya membangun peradaban bangsa. Dalam sejarah pendidikan disebutkan bahwa bangsa Parsi Kuno dikenal sebagai bangsa yang memiliki kualitas peradaban tinggi tatkala berhasil menggerakkan bangsanya dalam tulis menulis. Hal tersebut bertolak belakang dengan Indonesia yang masih berada dalam tingkat literasi yang rendah.

    Data United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) mengatakan bahwa Indonesia berada di urutan nomor 2 dari bawah dalam hal literasi. Banyak persoalan di dunia akademik yang harus segera diatasi guna perbaikan kualitas bangsa agar lebih baik, salah satunya dengan meningkatkan minat dan motivasi menulis dikalangan akademisi.

    Oleh karena itu, pada hari Kamis 12/4/2018 diadakan Diskusi Kepenulisan yang diselenggarakan oleh LAPMI Edukasi HMI Komisariat Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dengan pemantik Bang Mugiharjo. Diskusi ini diikuti oleh beberapa kader HMI yang mengalami keresahan dan kegelisahan akademik dalam hal tulis menulis. Karena tak bisa dipungkiri bahwa dalam dunia pendidikan, sebagai legitimasi seseorang dapat lulus dari suatu jenjang (S1,S2,S3) harus dapat membuat karya ilmiah yang berbentuk tulisan sebagai hasil dari penelitian dan pengabdian dalam realita empirik.

    Namun yang menjadi persoalan ialah menulis jangan hanya “musiman” (Saat mau nyusun skripsi, thesis, disertasi, paper, jurnal, makalah, dll) namun bagaimana kiat menulis dijadikan sebagai “habit dan spirit” untuk membangun peradaban bangsa yang lebih baik.

    Diskusi yang bertujuan untuk mengembangkan skill dan membangun kesadaran kader-kader HMI (khususnya) terhadap urgensi menulis ini mendapatkan perhatian penuh dari beberapa peserta, terbukti dengan adanya pertanyaan dan tanya jawab serta dialog dalam forum. Lebih dari itu, dalam diskusi ini juga dipaparkan terkait dengan Etika Jurnalistik, cara jitu menyusun skripsi dan karya ilmiah serta tips dan trik mudah untuk menulis agar kontinue dan menyenangkan.

    Besar harapan, semoga perintah Allah pertama kali yang termaktub dalam (salah satunya) dalam Qs. Al-Alaq ayat 1 (iqra’) dapat dijadikan sebagai spirit untuk berliterasi dan membangun peradaban dengan membaca, berdiskusi, berdialektika, beretorika dan menuliskannya dalam tulisan agar terkenang dan abadi selamanya. Menulis untuk keabadian! “Jika kau bukan anak raja pun juga bukan anak ulama’ terkenal, maka menulislah (Imam Ghazali).



    Penulis: Mukaromah Zain Asy-Syarmidi
    Mahasiswi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta


    Globalisasi Budaya dan Pencarian Indentitas Kaum Muda

    Abdul Gafur.
    PEWARTAnews.com – Globalisasi berasal dari bahasa Inggris yakni Globalization. Global memiliki arti universal dan “ilzation” adalah proses. Menurut M. Waters (1883-1979). Globalisasi adalah sebuah proses sosial di mana halangan-halangan bersifat giografis pada tatanan sosial dan budaya semakin menyusut dan setiap orang kian sadar bahwa mereka semakin dekat satu sama lain.

    Pada era milenial seperti saat ini di mana ekspansi globalisasi yang menembus batas-batas ruang dan waktu, memberikan dampak positif dan negatif bagi kaum muda Indonesia. Menurut penulis setidaknya ada dua poros arus globalisasi budaya yang sangat mempengaruhi kaum muda Indonesia. Pertama globalisasi budaya barat dengan budaya bebasnya. Kedua globalisasi budaya timur tengah (Arab) dengan budaya religiusnya. Dalam merespon globalisasi kedua kebudayaan besar di atas, kaum muda dalam pencarian indentitasnya seringkali kehilangan jati diri sebagai anak muda bangsa Indonesia. Mereka cenderung ekstrim “kebarat-baratan” dan ekstrim “kearab-araban”. Hal ini dapat dilihat dari kaum muda yang banyak menggemari budaya barat. Serperti ketergantungan pada  narkoba, alkohol dan lain sebagainya. Selain itu, pemikiran-pemiran radikal yang di impor dari timur tengah hasil dari perang dingin pasca Arab spring (revolusi Arab) telah merasuki pikiran segelintir anak muda Indonesia. Bahkan yang paling ekstrim banyak kaum muda Indonesia berangkat ke timur tengah menjadi simpatisan ISIS (Islamic State in Irak and Syria). Ditulisan ini penulis ingin ingatkan bahwa kita bukan pemuda “Barat” atau pemuda “Arab” tapi kita adalah pemuda dan pemudi Indonesia, putra dan purti Ibu Pertiwi, kita memiliki kebudaayan sendiri yang harus di jaga dan di lestarikan.

    Pemuda Funky Cinta Ilahi
    Ekstrim “kebarat-baratan” dan ekstrim “kearab-araban” adalah sebuah khilaf tafsir dalam merespon globalisasi kedua kebudayaan besar tersebut. Hal yang bisa dilakukan adalah mengambil jalan tengah dengan memilih dan memilah mana yang baik dan mana yang buruk dari kedua kebudayaan asing tersebut. Misalnya, barat yang dikenal dengan kemajuan teknologi muktahirnya bisa menjadi peluang kaum muda milenial Indonesia dalam penggunaan teknogi secara produktif. Pada era digital dan Ilmu Teknologi (IT) seperti saat ini. Dimana sudah tidak ada jarak lagi antara orang dari daerah satu dengan daerah yang lain atau dari negara satu dengan negara lain semuanya dapat terintergrasi dan terinterkoneksi dengan jejaring internet melalui telepon pintar (Gadget). Hal ini dapat memberikan kesempatan pada kaum muda milenial dengan membangun misalnya, bisnis yang berbasis jejaring internet (online) yang terkoneksi dengan pasar domestik dan global untuk mempromosikan produk-produk dan karya-karya anak bangsa, kearifan lokal (local wisdom) dan pariwisata Indonesia ke pasar nasiolan maupun internasional.

    Begitupun dengan globalisasi budaya timur tengah juga harus dipilih dan dipilah sebagaimana memilih-memilah kebudayaan barat. Pemikiran-pemikiran radikal yang menggunakan kacamata kuda (kebenaran tunggal) dan menganut teologi “maut” istilah Buya Syafi’i Maarif, harus dibuang jauh-jauh dari pemikiran anak muda Indonesia. Tetapi harus mengambil yang positif yaitu religiusme yang menghargai dan menjujung tinggi perbedaan dan toleransi antar umat beragama, sesuai dengan konteks Indonesia yang multikultural.

    Akulturasi budaya lokal dengan budaya barat dan budaya timur tengah yang diadopsi secara selektif, menjadikan kaum muda Indonesia mampu mengaplikasikan teknologi-teknologi canggih tetapi tetap menjaga dan melestarikan budaya lokal dan nilai-nilai moral agama. Inilah yang dimaksud dengan “pemuda funky cinta ilahi” meminjam istilah Noorhaidi Hasan (Guru Besar Politik Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta). “Funky” sebagai simbol barat, karena kaum muda mampu merespon kemajuan teknologi-teknologi canggih. Disisi lain mereka juga “cinta ilahi” dengan tetap mempertahankan budaya lokal dan nilai moral agama. Misalnya masih menjaga tatakrama, sopan dan santun, menghargai orang yang lebih tua masih mengenakan peci bagi laki-laki, jilbab dan kebaya bagi perempuan serta menjunjung tinggi toleransi antara umat beragama. Dengan seperti itu kaum muda Indonesia akan tampil sebagai pemuda yang “Funky” dan “Cinta Ilahi” bukan pemuda yang ekstrim “kebarat-baratan” atau ekstrim “kearab-araban”.


    Penulis : Abdul Gafur
    Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta


     

    Iklan

    Iklan
    Untuk Info Lanjut Klik Gambar
    Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website