Headlines News :

    Follow Kami di Twitter

    Cari Berita / Artikel disini

    Arsip Web

    Like Fun Page Kami

    Muballigh Besar Drs. KH Sunardi Syahuri Tutup Usia

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A. saat berbela sungkawa di rumah duka Drs. KH Sunardi Syahuri.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Innaa lillaahi wainnaa ilaihi raaji’uun. Telah berpulang ke rahmatullah untuk selama-lamanya, Drs. KH Sunardi Syahuri, pada hari Ahad, 11/11/2018 di Yogyakarta, dan dimakam pada hari Senin, 12/11/2018.

    Menurut Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dua periode 2009-2017 Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A., sosok seorang KH Sunardi Syahuri merupakan sosok muballigh besar juga dermawan. “(KH Sunardi Syahuri) seorang muballigh besar, dermawan, dan tokoh Islam terkenal, semoga husnul khaatimah, diampuni dosa-dosanya, diterima amal sholehnya, serta keluarga yang ditinggalksn diberi ketabahan dan kemampuan untuk melanjutkan perjuangannya. Aamiin,” ucap Prof. Rochmat.

    Ummat Islam DIY dan Jateng khususnya, serta Indonesia umumnya, kata Prof. Rochmat, kehilangan seorang ulama yang dicintai ummatnya. “Almarhum adalah pengurus dan aktifis di beberapa institusi dakwah dan ulama yang gigih dalam bedakwah bil-qaul dan bil-hal, ulama mutawasith yg layani semua golongan ummat, dai untuk ummat terpelajar dan ummat yang di seluruh pelosok, dan banyak lagi sebutan untuk Almarhum,” katanya. “Karena itu yang kehilangan bukan hanya keluarga, melainkan juga semua ummat Islam. Karena beliau sudah berjihad fii sabilillah, maka Almarhum sebenarnya masih hidup karena namanya insya Allah akan dikenang dan akan diikuti jejaknya oleh ummat dan terutama tokoh-tokoh yg istiqamah untuk tegakkan Islam,” beber mantan Ketua Tanfidziah PWNU DIY ini.

    Lebih jauh, kata Rochmat, “Mautul ‘aalim mautul ‘alam, (Matinya seorang yang alim, Matinya seluruh Alam). Mengapa demikian, karena orang alim yang wafat dengan membawa ilmu, ummat ikut kehilangan ilmu, kehilangan seorang yang suka menasehati dan memberikan cahaya dan pencerahan sehingga ummat hidupnya bisa menjadi tersesat. Padalah di tengah kehidupan yg krisis multidimensional, ummat sangat membutuhkan seseorang panutan dan teladan dalam berbuat kebajikan,” imbuhnya.

    Mautu ‘aalim ahabbu ila iblis min mauti sab’iina ‘aabidaa, (HR Imam Baihaqi), yang artinya “Wafatnya seorang ‘alim lebih disukai iblis daripada wafanya 70 orang ahli ibadah”. “Ini dapat diartikan betapa tingginya kedudukan seorang ulama di mata Iblis.” cerita Rochmat membacakan bunyi hadits nabi Muhammad SAW.

    Rasulullah SAW juga bersabda, kata Rochmad, bahwa “Menunggalnya ulama adalah musibah yg tak tergantikan, dan sebuah kebocoran yg tidak bisa ditambal. Wafatnya ulana laksana bintang yang padam. Meninggalnya satu suku lebih mudah bagi saya daripada meninggalnya satu orang ulama (HR Ath Thabrani)”.

    “Dengan demikian jelaslah bahwa wafatnya seorang ulama, sungguh ummat Islam kehilangan sesuatu yang besar. Semoga anak-anak biologis dan ideologis KH Sunardi Syahuri bisa melanjutkan perjuannnya. Selamat jalan pak Kiai Sunardi, semoga disambut oleh Allah SWT dengan sangat baik dan mendapatkan tempat  terbaik di sisi-Nya. Aamiin. Lahul faatihah.” tutupnya.

    Komitmen Menulis Tiap Hari

    Gunawan.
    PEWARTAnews.com -- Senang rasanya bisa berbagi lewat karya tulis. Alhamdulillah, bahagia. Hati adem dan tenteram. Pikiran segar. Beban di kepala terasa ringan. Syukur pada Ilahi, tak henti kuucapkan.

    Inilah salah satu caraku mensyukuri nikmat Tuhan. Yakni, mencoba berbagi lewat goresan pena. Mulai dari hal yang paling sederhana, hingga sesuatu yang barangkali sebagian orang menganggapnya rumit. Ya, menulis, mensyukuri nikmat Tuhan. Demikianlah artikelku dalam buku antologi “Menulis Mengabadikan Pesan”.

    Entah mengapa jemari tangan seolah tak mau diam. Maunya menari dan bergoyang terus-menerus. Pikiran pun seolah tak karuan, apabila dalam sehari saja tidak menulis. Mungkin orang lain menganggap ini adalah hal yang aneh. Akan tetapi, beginilah yang terjadi dan yang kualami.

    Aku menulis rutin tiap hari sejak Desember 2016. Belum lama memang. Akan tetapi, setidaknya aku telah merasakan manfaat yang luar biasa. Bahagia sekali.

    Kisah dan pengalaman hidup masa kecil, tiba-tiba muncul saja di benak ini. Sehingga, memunculkan semangat untuk mengabadikannya. Aku berusaha untuk mengikat dengan tulisan atas apa yang pernah aku lalui dulu. Ya, paling tidak, untuk kenangan di masa mendatang. Juga, untuk dibaca oleh anak cucuku kemudian.

    Komitmen menulis tiap hari benar-benar hadir dari lubuk hati sendiri. Bukan terinspirasi dari siapa-siapa. Tak ada orang yang menyuruh. Juga, tak ada orang yang datang memaksa. Murni atas komitmen pribadi.

    Sebab, kala itu, aku bermimpi untuk melahirkan minimal dua buku dalam setahun. Entah itu dalam bentuk karya antologi (keroyokan) maupun buku mandiri (solo). Maka, hal yang mesti aku lakukan adalah menulis, menulis, dan menulis. Tak ada cara lain. Pun, tak ada jalan pintas.

    Ya, dengan menulis rutin tiap hari, maka aku optimis bahwa mimpi menelurkan buku (minimal dua buku setahun) akan terwujud. Dan, alhamdulillah, dengan izin Tuhan, hal demikian menjadi kenyataan.

    Begitulah. Jika segala usaha dibarengi dengan doa, maka akan mudah tercapai atas apa yang menjadi impian kita. Optimis itu penting. Dan, yang tak kalah penting adalah usaha untuk mewujudkannya. Dalam hal ini, yakni menulis, dan terus menulis.

    Selain dari yang aku paparkan sebelumnya, aku menulis tiap hari sebagai wujud rasa syukurku pada Sang Pencipta. Ya, ini adalah salah satu bentuk ungkapan terima kasihku pada Sang Pemilik ilmu. Dengan asa, apa yang kutulis semoga bisa juga dinikmati oleh orang lain, dan mendatangkan kebermanfaatan bagi siapa pun. Artinya, aku tak ingin pengetahuan dan/atau pengalaman dalam diri hanya dinikmati oleh seorang diri. Aku ingin juga berbagi kepada sesama.

    Alhamdulillah, hingga kini, aku masih diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk menulis rutin tiap hari, walau tak banyak. Aku masih bisa menikmati asyiknya “bercumbu” dengan tulisan. Aku masih bisa menggerakkan jemari dengan penuh semangat.

    Semoga kebiasaan ini bisa kulakukan hingga ajal menjemput. Dan, moga apa pun yang kutulis dan kubagi lewat karya tulis memberi manfaat bagi orang lain. Amin.

    Wallahu a’lam.


    Penulis: Gunawan
    Pemuda Produktif Menulis asal Bima NTB

    Asian Para Games dan Prestasi Gemilang Atlet Indonesia

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    PEWARTAnews.com – Asian Para Games saat pembukaan dibuka secara resmi oleh oleh Presiden RI Joko Widodo pada 6 Oktober 2018. Keberhasilan Asian Game Indonesia belum lama ini, baik sebagai penyelenggara maupun peserta (kontingen) telah membuktikan kesuksesan dan capaian prestasi yang gemilang. Harapan besar ini juga diikuti keberhasilan dan kesuksesan penyelenggaraan dan capaian prestasi panitia dan atlit (kontingen) Asian Para Games yang gemilang yang telah terselenggara juga belum lama ini (awal bulan Oktober).

    Asian Para Games diharapkan sekali dijadikan momentum yang strategis untuk kebangkitan layanan bagi kontingen berkebutuhan khusus, baik dari kontingen luar negeri maupun kontingen Indonesia. Penulis sebagai bagian dari komunitas pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus ikut memberikan apresiasi terhadap Panitia yang telah berusaha memberikan fasilitas, dukungan, dan layanan yang terbaik untuk mereka, bisa mengekselerasi layanan bermutu dan relevan, sehingga mereka bisa tampil optimal.

    Hadiah dan bonus dari Pemerintah bagi atlit dan pelatihnya, idealnya sama, syukur-syukur bisa lebih. Paling tidak harapan itu jangan jauh di bawah dari peraih medali Asian Game. Alhamdulillah di hari pertama langsung dimulai untuk bulu tangkis beregu yang bisa raih medali emas.

    Ada beberapa pelajaran dari Asian Para Games. Pertama, usaha sukseskan penyelenggaraan mengindikasikan bahwa perhatian pemerintah semakin positif terhadap individu berkebutuhan khusus. Kedua, aksesibilitas bagi individu berkebutuhan khusus meningkat secara kuantitatif dan kualitatif. Ketiga, masyarakat sudah semakin menerima kehadiran anak atau orang berkebutuhan khusus di ruang publik. Keempat, anak berkebutuhan khusus semakin selfconfident bahwa potensinya bisa tumbuh dan berkembang dengan lingkungan yang semakin kondusif. Kelima, kita seharusnya dapat melihat individu berkebutuhan khusus lebih pada potensi dan prestasinya, bukan kelemahan atau kecacatannya.

    Keenam, dalam memberikan pelayanan kepada individu berkebutuhan khusus seharusnya diorientasikan untuk menuju kemandirian. Ketujuh, semua individu sama di hadapan Tuhan, termasuk antara individu yang berkebutuhan khusus dan yang normal, karena taqwa kepada Allah lah yang bisa membedakan di antara mereka.

    Man is unique. Inilah pandangan populer Alfred Adler, seorang Ahli Psikologi Individual. Karena itu setiap individu itu punya style if life yang berbeda-beda. Kita harus respek antar sesama, rasa ini yang belakangan mulai luntur. Setiap individu memiliki kekuatan dan kelemahan. Sementara itu individu harus survive, dengan begitu seorang individu yang memiliki kelemahan yang berakibat pada rasa rendah diri (inferiority feeling) harus dikompensasi dengan pengembangan potensi atau kekuatan yang dimiliki dengan dorongan rasa keunggulan (superiority feeling). Praktek hidup ini bisa kita lihat pada Event Asian Para Games kemarin belum lama ini, bagaimana sejumlah atlet berkebutuhan khusus dengan ragam kelainannya, atas dasar kebutuhan berprestasi (need of achievement) dan kegigihan dan kesabaran pelatih dan manajer, sejumlah atlit bisa tunjukkan prestasi yang sangat gemilang.

    Contoh lain, siapa yang tidak kenal Napoleon Bonaparte (1769-1821) yang berbadan kecil dan berhasil pimpin negara Perancis dan Revolusi Perancis dan seorang Adolf Hitler (1889-1945) yang impotent, memiliki keberanian yang luar biasa pimpin Revolusi Pan-Germany. Kelemahan yang dirasakan keduanya tidak otomatis menyebabkan tak berdaya dan inferior, tetapi justru mendorong dirinya untuk mengeksplorasi kekuatan dan mengusahakan diri secara optimal untuk bisa diwujudkan sehingga tidak hanya sekedar survive tetapi terbukti mampu mewarnai kehidupan dunia.

    Atas dasar itulah kita dan orang lain yang memiliki kelemahan, seharusnya terinspirasi dan segera melakukan asesmen, baik sekali dilakukan sedini mungkin, sehingga ditemukan potensi yang terus dilakukan pembinaan dan latihan serta pendidikan yang sesuai untuk bisa tumbuh dan berkembang optimal, yang idealnya bisa lahirkan prestasi yang gemilang dan menakjubkan sekaligus sebagai wujud rasa syukur kepada-Nya. Kita ingat bahwa Allah swt tidak akan pernah menguji di luar batas kemampuan hamba-Nya.

    Bagaimana dengan pengalaman Anda, adakah catatan penting yang perlu di-share? Terima kasih.


    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dua periode 2009-2017

    BBKT Karang Taruna Kota Jogja Bertajuk “Migunani Kagem Sesami”

    Berdiri ditengah Ketua MPKT Haris Syarif Usman, SH, MKn, PLT Kadinsos Yogyakarta Bejo Suwarno, SH., dan Ketua Rarang Taruna Kota Yogyakarta Solihul Hadi, S.H. (sedang memangku anaknya)
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Pemuda di kota Gudeg Yogyakarta diharapkan mampu mengimplementasikan nilai-nilai kepahlawanan dalam kehidupan bermasyarakat. Berangkat dari hal demikian, Karang Taruna Yogyakarta menginisiasi untuk mengadakan agenda Bulan Bakti Karang Taruna (BBKT). Acara bertema "Migunani Kagem Sesami" ini diadakan pada hari Ahad, (11/11/2018).

    Ketua Karang Taruna Yogyakarta Solihul Hadi, S.H. mengatakan bahwa kegiatannya BBKT ini berupa senam ceria, upacara,  bakti sosial pemberian sembako pada penyandang masalah kesejahteraan sosial, ziarah makam pahlawan dan sarasehan.

    "Acara berlangsung di Taman Inspirasi Brontokusuman, Mergangsan, Jogja. Diselenggarakan  oleh Karang Taruna Kota Jogja bersama Dinas Sosial Kota Yogyakarta," ujar mahasiswa Kenotariatan FH UGM ini.

    Solihul Hadi mengatakan, kegiatan BBKT merupakan agenda tahunan yang rutin dilakukan, melalui kegiatan ini pemuda dapat meningkatkan semangat  kesetiakawanan sosial dan mampu mengeksplorasi ide gagasan yang penuh inspirasi.

    "Tujuannya agar Pemuda Karang Taruna sebagai generasi milenial tidak mudah terprovokasi dengan tetap menjaga semangat persatuan dan kesatuan di tahun politik, serta mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi di era revolusi industri 4.0 saat ini," ungkapnya.

    Kabid Data Informasi dan Pemberdayaan Sosial Dinas Sosial Kota Yogyakarta Esti Setyarsi menjelaskan, Bulan Bakti Karang Taruna selain untuk memperingati ulang tahun Karang Taruna, harapannya pengurus Karang Taruna se-Kota Yogyakarta mulai dari tingkat unit, kelurahan, kecamatan, dan kota dapat lebih solid.

    Wakil Ketua Legiun Veteran Republik Indonesia Kota Jogja Peltu (Purn) Suniyat berharap, bersamaan dengan Hari Pahlawan Nasional diharapkan para pemuda di Yogyakarta dapat mengimplementasi nilai-nilai kepahlawanan ddalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

    Ketua Panitia BBKT Muhammad Iqbal Hardian mengungkapkan terima kasih pada semua pihak yang terlibat, juga pada komunitas Ketjil Bergerak. "Kegiatan ini bertujuan menjadikan Karang Taruna sebagai kebanggaan, solidaritas, kebermanfaatan sosial dan membangun kekeluargaan," jelasnya. (MJ)

    2050 Diprediksi Ada 4 Kekuatan yang Membentuk Peradaban Masa Depan Dunia Utara

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A. (berpeci).
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Menurut lelaki paruh baya yang sempat menjabat rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dua periode 2009-2017, Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A., mengatakan bahwa sekitar pada tahun 2050 mendatang diprediksi akan ada 4 kekuatan yang membentuk peradaban masa depan dunia utara, yaitu : trend demograpik, tuntutan sumber daya alam, perubahan cuaca dan globalisasi.

    “Dunia utara dimaknai bukan hanya belahan dunia barat tetapi juga dunia timur. Sebagaimana yang pernah saya dapatkan komentar dalam forum diskusi dengan sejumlah ahli Jepang, bahwa dunia belahan timur bagian utara, misal Jepang, Korea, dan China tidak bisa dipisahkan dari bagian selatan, misalnya : negara-negara Asean, termasuk Negara-negara Asean, karena Jepang dan negara maju sekitarnya, khususnya dapat menjaga diri dengan baik.,” beber Prof Rochmat, belum lama ini di Yogyakarta, 05/10/2018.

    Trend geograpik, kata Prof. Rochmat, bisa menjadi potensi besar jika dikelola dengan sebaik-baiknya, namun jika tidak dikelola dengan sebaik-baiknya boleh jadi akan menjadi beban dan malapetaka.

    “Sumber daya alam adalah aset yang bisa habis, jika dikonsumsi secara berlebihan. Sementara kebutuhan dan tuntutan sumber daya alam akan terus berlangsung. Untuk menjaga sumber daya alam tetap bisa memenuhi kehidupan generasi mendatang sangat diperlukan pengelolaan sumberdaya alam secara hemat, produksi energi terbarukan, rekayasa sumber daya alam sedemikian rupa, sehingga tidak terjadi pemborosan yang berlebihan,” ucap lelaki yang juga sempat menjabat Ketua Tanfidliyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama DIY masa bakti 2011-2016 ini.

    Adanya perubahan cuaca, lanjut Rochmat, juga tidak bisa dihindari, terlebih-lebih dengan adanya pemanasan global yang membuat es yang ada di kutub utara dan selatan berangsur-angsur mencair yang berkonsekuensi logis terjadinya permukaan air laut naik dan banjir di mana-mana tidak bisa dihindari. “Banjir tidak hanya menguntungkan dalam batas-batas tertentu, namun di sisi lain banjir bisa akibatkan malapetaka,” kata Rochmat.

    Lebih lanjut, Ketua III Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) masa bakti 2014-2019 ini mengatakan bahwa globalisasi, yang semula hanya terkait dengan dunia ekonomi, kini globalisasi sudah menyangkut semua aspek kehidupan, baik aspek sosial, kesehatan, budaya, pendidikan, sain dan teknologi, maupun kehidupan agama serta aspek lainnya, walaupun belakangan ini secara tidak langsung kebutuhan dunia IT menjadi primadona dan tidak bisa diabaikan. “Yang jejas bahwa arah globalisasi adalah meng-guide kita untuk mewujudkan perintah Allah Swt, bagaimana menjadi rahmat bagi seluruh alam,” cetus Rochmat.

    Lebih jauh Prof Rochmat mengingatkan, walaupun kita yang berusia 50-an tahun, kita yang sebagian besar, boleh jadi tidak akan bisa melihat langsung realita pada 2050, namun paling tidak kita by designed sudah ingatkan generasi anak-anak dan remaja untuk benar-benar latihan memanaj waktu.

    “Ingat, alwaqtu kassaiif, fain lam taqtha’hu qatha-aka, yang artinya, bahwa waktu laksana pedang, jika kamu tidak menggunakannya secara tepat maka akan penggal (leher) mu. Karena itu kita harus optimis dan menjaga waktu dengan sebaik-baiknya untuk produktif, jika tidak mampu mengelola waktu ke depan dengan aktivitas yang baik dan berkelas, maka akan merugi, karena tidak menjadi subjek tetapi menjadi objek. Gimana menurut Anda tantantangan masa depan ini?,” tutup Prof Rochmat dengan mengakhiranya dengan pertanyaan untuk kita dan seluruh warga Indonesia.

    Bupati dan Wakil Bupati Bima Hadir Meriahkan Festival Bombo Ncera

    Bupati Bima Hj. Indah Damayanti Putri, S.E. didampingi Ketua Komunitas Pemuda Pemerhati Bombo Ncera (KPPBN) Aswad, S.Pd. saat menghadiri Festival Bombo Ncera, 11/11/2018.

    Bupati Bima Hj. Indah Damayanti Putri, S.E. didampingi Wakil Bupati Bima Drs. Dahlan  M. Noer dan juga Ketua Komunitas Pemuda Pemerhati Bombo Ncera (KPPBN) Aswad, S.Pd. saat menghadiri Festival Bombo Ncera, 11/11/2018. Foto: Vhida.

    Bupati Bima Hj. Indah Damayanti Putri, S.E. berfoto bersama warga setempat saat menghadiri Festival Bombo Ncera, 11/11/2018. Foto: Vhida.

    Warga saat mengikuti Pawai menuju Bombo Ncera saat menghadiri Festival Bombo Ncera, 11/11/2018. Foto: Vhida.

    Warga saat mengikuti Pawai menuju Bombo Ncera saat menghadiri Festival Bombo Ncera, 11/11/2018. Foto: Rahma.

    Suasana warga di pintu gerbang Bombo Ncera saat menghadiri Festival Bombo Ncera, 11/11/2018. Foto: M. Nur Dirham.

    Suasana penenunan kain khas Bima saat acara Festival Bombo Ncera, 11/11/2018. Foto: M. Nur Dirham.

    Deklarasi Karang Taruna DIY saat Perayaan Hari Pahlawan Nasional

    Ketua Karang Taruna Kota Yogyakarta Solihul Hadi, S.H. saat Upacara Hari Sumpah Pemuda DIY.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Dalam rangka upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda, 10/11/2018, Karang Taruna Daerah Istimewa Yogyakarta mengucapkan Deklarasi yang berisi 4 point penting tentang Hari Pahlawan Nasional.

    Pembacaan deklarasi diwakili oleh Ketua Karang Taruna Kota Yogyakarta Solihul Hadi, S.H. saat Upacara Hari Sumpah Pemuda DIY. "Saya Solihul Hadi, Ketua Karang Taruna Kota Yogyakarta mewakili generasi muda Karang Taruna se DIY mngucapkan terimakasih telah diberikan kesempatan untuk menyampaikan Deklarasi dalam acara Peringatan Hari Pahlawan Nasional 2018 ini," ucap Solihul saat membacakan isi point-point deklarasi.

    Point yang dibacakan dalam deklarasi tersebut diantaranya: Pertama, Kami Generasi Muda Karang Taruna mengucapkan Selamat Memperingati Hari Pahlawan Nasional 2018.

    Kedua, Kami Generasi Muda Karang Taruna mengucapkan terimakasih atas jasa para pahlawan yang telah mewariskan kemerdekaan dengan penuh pengorbanan jiwa dan raga serta pertumpahan darah dimedan pertempuran, sehingga generasi muda hari ini dapat terbentuk menjadi generasi penuh Inspirasi serta nemiliki Narasi besar dalam keikutsertaan membangun Bangsa baik dalam sektor sosial, ekonomi  budaya dan politik.
    Ketiga, Kami Generasi Muda Karang Taruna akan mengeksplorasi dan mengimplementasi nilai-nilai perjuangan para pahlawan dalam kehidupan bermasyarakat untuk mengembaliken semangat dan jiwa sosial yang bertanggungjawab.

    Keempat, Kami Generasi Muda Karang Taruna Berdo'a semoga para pahlawan yang telah gugur mendapat tempat yang layak dan diberikan nikmat kubur dialam sana, dan semoga para keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan, kekuatan dan semangat yang sama dengan para leluhurnya didalam meneruskan ruh juang dan kepahlawanan. (MJ / PEWARTAnews)

    Polisi, TNI dan Masyarakat Gelar Bersih Bersama untuk Menyambut Festival Bombo Ncera

    Polisi, TNI dan Masyarakat desa Ncera saat melakukan  kerja bakti pembersihan kawasan wilayah Bombo Ncera (09/11/2018), untuk menyambut Festival Bombo Ncera yang akan di gelar pada 11-12 November 2018. Foto: Yuke.

    Rizalul Fiqry: Untuk Dompu, Banjir adalah Bencana Langganan dan Duka yang Disengaja

    Rizalul Fiqry, S.Pd., M.Pd.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Pemuda asal Dompu, Rizalul Fiqry, S.Si., M.Pd., (biasa dikenal dengan nama Cici), merasa gelisah dengan kondisi yang terjadi di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB) saat-saat ini. Kegelisahan Cici pernah juga diutarakannya lewat akun media sosial facebook miliknya Rizalul Fiqry. "Untuk Bima dan Dompu, mari kita liat kontroversinya: 1. Hutan kering dan tandus Vs tuntutan peningkatan kuantitas pupuk subsidi; 2. Stop penggundulan hutan Vs tuntutan menaikkan harga jagung; 3. Sumber mata air berkurang Vs pembiaran illegal logging; 4. Hentikan peladangan liar Vs nyaris semua orang tua ingin anaknya PNS," tulisnya, 03/11/2018.

    Tidak lama berselang, apa yang digelisahkan Cici terhadap Dompu, akhirnya terjadi juga banjir bandang yang melanda Desa Tolokalo dan Desa Songgajah, Dompu, NTB, Jumat (9/11/2018).

    Menurut Cici (10/11/2018), saat ini Banjir yang terjadi di Dompu merupakan bencana langganan dan duka yang disengaja. "Dalilnya, branding daerah penghasil jagung, dimana wilayah sawah dijadikan perkampungan dan perkantoran sedangkan lahan jagung dipilih lahan tagalan dan perbukitan. Konsekuensi dari ikon adalah minimal mempertahankan kuantitas dan kualitas, dan sebisa mungkin meningkatkannya," ungkap pemuda yang belum lama ini sidang tesis sebagai pertanda gelar magister secara de facto telah ia raih.

    Lebih lanjut, kata Cici, isu lingkungan dijadikan ban serep oleh sebagian komunitas guna pendongkrak elektabilitas untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan. "Lagian, isu lingkungan seperti makanan pendamping saja.  Wajar jika yang dibahas kemudian hanyalah dampak, kemudian oleh sebagian komunitas oportinis dijadikan ajang mengisi kantong dan menaikkan elektabilitas dalam agenda politik. Benar-benar sikap yang naif dan picik," bebernya.

    Harusnya, kata Cici, yang dibahas adalah gagasan dengan beragam jangka waktu pencapaian. "Sikap keras kepala, ditambah penyakit psikoekonomi adalah tersangka utama dari bencana alam dan  konflik yang membudaya di tanah Nggusu Waru," sebut Cici mengutip apa yang sempat di utarakan M. Soalihin, 2018. (MJ / PEWARTAnews)

    Pusmaja Bangun Diskusi Sosial Budaya, Soalihin: Belajar Selesaikan Konflik Cara Desa Maria

    Mohammad Soalihin (baju kuning) saat menyampaikan materi di acara PUSMAJA, 08/11/2018.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Konflik yang terjadi di daerah Bima NTB mencapai 400an ditahun sampai tahun 2018. Tersangka utama dari konflik tersebut adalah penyakit psikoekonomi. Konflik yang disebabkan gesekan antarkolompok masyarakat tersebut diprediksikan akan terus mengalami peningkatan kasus jika tidak segera ditemukan solusi terbaik. Meski Wilayah timur pulau Sumbawa itu memiliki  tingkat kriminal yang tinggi, namun hal sebaliknya justru terjadi di Desa Maria Kecamatan Wawo Kabupaten Bima. Desa dan kecamatan tersebut justru memiliki nol catatan kriminal yang tercatat di kepolisian. Tertarik dengan hal tersebut, Mohammad Soalihin berusaha meneliti.

    "Konsep Maria Village Zero Coflict adalah tantangan masa depan, untuk membawa daerah keluar dari zona konflik. Dasarnya, perdamaian menjadi barang mahal," papar Mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Sejarah UNY ketika memberikan materi di kegiatan diskusi yang dihelat Pusat Studo Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta di Yogyakarta, 8 November 2018.

    Sebagain data angka kriminal yang dihimpunnya sebagai referensi adalah, Kecamatan Sape 176 titik konflik, Woha 121. Dab, diperkirakan akan terus mengalami peningkatan sampai 2020. Sedangkan di Wawo, tidak ada. "Bagaimana solusi mereka (masyarakat Wawo, red) hingga bisa  keluar dari zona konflik," tuturnya dengan nada tanya.

    Konsep masyarakat di Desa Maria yang tergolong dalam wilayah agraris,  menyibukkan diri, sehingga tak terlalu memperhatikan permasalah di luar. Riset dengan pendekatan lingkungan hidup, sudah marak dilakukan. Tapi, belum ke wilayah kepercayaan. Konsep dasar jati diri dari identitas (boleh memiliki) dan konsep identitas. Di Desa Maria, tak ada pengelompokan (strata). Konsep kearisan lokal, mpa'a tumbu. "Secara etika, paling kasar. Secara estetika, mari kita lihat. Filosofinya, menghancurkan sikap keras kepala. Kekerasan dan keangkuhan, tidak ada apa apanya bagi mereka (Maria)," katanya.

    Lebih lanjut, Soalihin menjelaskan, kosep kultur, ruang lingkup kehidupan, ikon yang sama dan gaya hidip yang sama membuat masyarakat Desa Maria mampu meminimalisir sentimental. "Inilah yang menimbulkan kedamaian dan sikap saling menghargai," pungkasnya.

    Suasana saat acara berlangsung.

    Sementara, Direktur PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta, Ilmidin yang ditanya tujuan mengadakan diskusi tersebut mengatakan, konflik yang terjadi di Bima bahkan di Dompu belum benar benar dicari tahu akar masalahnya. Bahkan, sudah dianggap sebagai konflik yang membudaya. "Makanya, kita coba runut akar masalah dan sekaligus solusi masa depab yang menantang. Maria Village Zero Conflict adalah riset yang patut untuk dirubrikkan serius. Jika Desa Maria bisa, kenapa Bima dan Dompu tidak bisa," tuturnya.

    Kedepannya, lanjut Ilmi (sapaan akrab Ilmidin), diakusi untuk melahirkan solusi untuk masalah kedaerahan akan terus dilakukan. Kegiatan kami juga tak akan berhasil tanpa kerjasama dari mahasiswa asal Bima dan Dompu di Jogja. "Bahkan, banyak mahasiswa di luar NTB yang ikut diskusi kami," pungkasnya. (RF / PEWARTAnews)

    Kehidupan Sosial dan Umpatan Lako Donggo, Pandangan Ghazaly

    Dr. Ghazaly Ama La Nora, S.IP., M.Si.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- "Kamu tau, hidup di rumah susun, apartemen, dan rumah rumah besar itu memiliki konsekuensi sosial yang besar juga. Nilai kemanusiaan, kedekatan dan kepedulian sosialnya berkurang pesat. Siapa lu siapa gue, gaya hidup di sana. Bersyukurlah, Donggo dan kita di Bima Dompu masih terjaga dari gaya hidup yang apatis," penjelasan mantap dari Dr. Ghazaly Ama La Nora, S.IP., M.Si., ketika menyampaikan materi di Jogja, 28 Oktober 2018 lalu.

    Dosen ilmu komunikasi politik di Universitas Mercu Buana Jakarta ini juga menyinggung masalah umpatan Lako Donggo, Anjing Donggo, dan  'Bote Donggo, Monyet Donggo,. Ironisnya, kata Ghazaly, umpatan itu digunakan untuk anak atau orang lain, yang tak ada hubungannya dengan Dou Donggo, Orang Donggo,.

    "Ana ndaina ma ndawi rawi, Dou Donggo ku ndi nga'una. Na lu'u ja ba aka ndi rawina ro. Anaknya yang punya masalah, orang Donggo yang dicaci. Masuk diakal nggak apa yang mereka lakukan," tuturnya.

    Mengikuti cara pandang rusak yang memarginalkan dou Donggo dengan umpatan tersebut, anak dari TGH. Abdul Majid Bakry memberikan perbandingan antara Lako Donggo dengan Lako Kota.  Menurutnya, dari segi gaya hidup dan manfaatnya, Lako Donggo itu unggul dari pada Lako Kota.

    "Ausi bedana Lako Donggo labo lako Kota. Sama sama wara ketona, sama sama mbowona, sama sama kajulu na rera na. Pala, Lako Donggo itu pola hidupnya sehat karena hidup di gunung. Makanannya binatang binatang di hutan, digunakan untuk berburu. Nah, tio japu Lako Kota re. Makanannya sisa sisa sampah dan kotoran, penyebar penyakit, gonggongannya tak jelas, rakus dan suka mencuri. Dari gaya hidupnya saja sudah beda antara Lako Donggo dan Lako Kota," papar pria yang akrab disapa Ama La Nora itu.

    Dengan tegas, dirinya meminta agar dihentikannya umpatan umpatan yang memerginalkan Dou Donggo. Kontek sosialnya, lanjut Ghazaly, manusia yang hidup di bumi ini sama derajatnya dimata pencipta dan hukum kenegaraan. "Tapi satu hal yang harus diingat. Dou Donggo melalui peristiwa 1972 sudah membuktikan diri sebagai kelompok masyarakat visioner, peka terhadap permasalahan sosial, berjiwa kritis, dan bermental ksatria," pungkasnya. (RF / PEWARTAnews)

    Prof Rochmat Wahab: Ilmu Laksana Cahaya yang Mencerahkan

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A. (berpose tinggi).
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Ilmu pada prinsipnya untuk menjadi penerang dalam ketidaktahuan, dengan ilmu dan keahlian seseorang bisa melakukan sesuatu dengan baik dan benar. Seseorang yang berilmu mampu melaksanakan sesuatu hal yang baik dan di ridhoi oleh Allah. Selain itu, tidak jarang juga orang yang mempunyai ilmu mempergunakan ilmunya dengan hal-hal buruk.

    Menurut Guru Besar dalam bidang ilmu Pendidikan Anak Berbakat pada Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A., ilmu itu ibaratkan suatu cahaya yang mampu memberi penerang buat segala sesuatu yang berada disekitarnya. “Al’ilmu Nuurun, Ilmu itu adalah laksana cahaya yang mencerahkan. Tidak sedikit orang yang berlimu tidak sehat, mudah marah, berbuat plagiat, dan berakhlak tak terpuji. Jika terjadi demikian mengindikasikan bahwa ilmu yang dimiliki tidak mempribadi dan tidak diamalkan. Ingat bahwa, al’ilmu bilaa ‘amalin kasy-syajari bilaa tsamarin, ilmu yang tidak diamalkan itu laksana pohon yang tidak berbuah. Sayang kan?,” terangnya, 04/10/2018.

    Karena itulah, kata Prof Rochmat, mari kita terus berikhtiar seraya memohon bimbingan Tuhan, semoga ilmu kita berguna untuk diri kita sendiri sebelum berguna bagi orang dan pihak lain.

    “Ilmu yang kita miliki tidak untuk dibanggakan karena banyak dan hebatnya, melainkan ilmu yang bisa memberikan barakah sebanyak-banyaknya, ilmu yang bisa mencerahkan diri kita dan orang dan pihak lain. Ilmu yang bisa menjadikan diri kita sehat jasmaniah dan ruhaniyah kita, ilmu yang bisa bimbing emosi kita, sehingga bisa menjadi sabar dan rendah hati, ilmu yang bisa membimbing pikiran kita untuk produktif ide, kreatif dan inovatif sehingga memberikan manfaat bagi orang lain, dan ilmu yang membimbing hati kita sehingga terjaga kehidupan beragama kita,” beber profesor yang juga Ketua III Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) masa bakti 2014-2019 ini.

    Lebih lanjut, mantan Ketua Tanfidliyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama DIY masa bakti 2011-2016 ini mengatakan dengan berilmu kita bisa menjadi orang yang beruntung dan tidak salah melangkah. “Dengan begitu ilmu yang kita miliki dan yang mau kita raih, benar-benar ilmu yang menerangi dan mencerahkan hidup kita, sehingga kita menjadi orang yang beruntung dan tidak tersesat,” ucap Prof Rochmat.

    Yuuk Hadiri “Festival Bombo Ncera, Bima NTB” Bulan November Ini

    Poster Festival Bombo Ncera pada 11-12 November 2018, yang dibuat Dinas Pariwisata Kabupaten Bima.
    Bima, PEWARTAnews.com – Wisata Alam Bombo Ncera letak tepatnya di Desa Ncera, merupakan salah satu obyek wisata alam yang menarik di Kabupaten Bima yang perlu dikunjungi oleh wisatawan Daerah sekitarnya, bahkan tempat wisata ini kini sudah menjadi salahsatu tempat wisata yang sudah diakui oleh pemerintah kabupaten Bima sebagai salahsatu tempat wisata prioritas Kabupaten Bima. Lokasinya berada sekitar 45 km dari Kota Bima, yang terdapat di ujung pegunungan Desa Ncera Kecamatan Belo Kabupaten Bima Propinsi NTB.

    Keindahan suguhan alam di Wisata Alam Bombo Ncera.

    Kita tahu bersama, peminat wisata kini sudah banyak beralih ke-wisata alam. Keberadaan tempat wisata Bombo Ncera menjadi kabar gembira bagi warga luar Bima dan juga wisatawan asing (mancanegara) untuk mencoba menikmati keindahan suguhan alami yang dipersembahkan wisata Alam Bombo Ncera ini. Info yang lebih menarik lagi, bulan ini akan ada Festival Bombo Ncera, semua kreasi daerah akan disajikan dalam momen festival yang akan digelar satu kali setahun ini.

    Ragam perlombaan dalam Festival Bombo Ncera yang akan digelar 11-12 November 2018.

    Dalam Feestifal Bombo Ncera, pengunjung akan disuguhi dengan berbagaimacam acara, ada Atraksi Budaya (seperti Pawai Budaya, Drama La Raji, Musikalisasi Puisi, Kareku Kandei, Gambus, Tarian Khas Bima, Hadora, Penghijauan), ada Pameran Kreatif (seperti pameran Ekonomi Kreatif, pameran hasil Tenunan Bima, racikan kopi, pameran hasil tani masyarakat, puru timbu, pameran makanan khas), dan ada juga Lomba Budaya (seperti Ngana Dipi, Ngana Kambuti, Patu Cambe). Tidak tanggung-tanggung, dalam Festival ini akan diperebutkan hadiah utama sebesar Rp.10.000.000,- (sepuluh juta rupiah), dan juga banyak hadiah-hadiah lainnya. Ingin berpartisipasi? Hubungi Ketua Umum KPPBN di 085338162624 (Yuke), atau Ketua Panitia di 082398726190 (Igel).

    Beberapa Panitia dalam Festival Bombo Ncera yang akan digelar 11-12 November 2018.

    Mengunjungi Festival Bombo Ncera kita tidak akan rugi, selain disuguhi hal-hal indah diatas, tentunya pasti disana akan kita dapatkan teman baru, makanan khas, ilmu, panorama alam yang indah, air yang jernih, dan tentunya pulang dengan hati bahagia.

    Bupati Bima Hj. Indah Damayanti Putri, S.E. beserta perangkat Pemda Bima, dihadiri juga Ketua Umum KPPBN Aswad, S.Pd., saat berembug salahsatunya terkait Festival Bombo Ncera yang akan digelar 11-12 November 2018.

    Sebagai bentuk dukungan penuh pemerintah Kabupaten Bima terhadap Festival Bombo Ncera, banyak hal yang sudah dilakukan, seperti Bupati Bima melakukan rembug bareng dengan rekan-rekan Komunitas Pemuda Pemerhati Bombo Ncera (KPPBN), dan tentunya himbauan Pemda Bima untuk memeriahkan acara Festival Bombo Ncera ini. “Selamat pagi Sobat... Ayo ke Bombo Ncera yuuuk tanggal 11-12 November 2018... ditungguuu..." tulis Pemda Bima melalui akun fanpage facebook resmi Dinas Pariwisata Kabupaten Bima, 07/11/2018, sambil melampirkan dalam seruan tersebut poster tentang acara Festival Bombo Ncera.

    Ayo bang, hadir yach, di Festival Bombo Ncera, 11-12 November 2018.

    Sebagai bentuk ajakan ala-ala generasi milenial, juga dilakukan oleh Ketua KPPBN Aswad, S.Pd. “Yang berat itu bukan rindu, tapi ketika kamu gak datang menyaksikan Festival Bombo Ncera 11-12 November 2018, Hari Minggu,” ucap Aswad, S.Pd. yang biasa dikenal masyarakat sekitar dengan nama Yuke, celoteh tersebut dilakukannya lewat akun facebook pribadinya “Tentang Kita”, 07/11/2018.
    Santabe bang, kakak-kakak cantik, jangan lupa hadir di Festival Bombo Ncera, 11-12 November 2018.

    Agar masyarakat tidak lupa akan agenda Festival Bombo Ncera, mantan Ketua Umum Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY) Dedi Purwanto, S.H., yang juga merupakan putra desa Ncera, juga mengingatkan tentang perlunya hadir dalam agenda ini. “Manusia harus terus di ingatkan, tentang masa lalunya, tradisinya, maupun peradabannya. Pelupa, iya, kata itu adalah diksi yang pas untuk mengambarkan manusia. Oleh karena itu, setiap kita perlu di ingatkan kembali, karena memang ada beberapa orang yang lupa atau sengaja untuk lupa tentang masa lalunya.” ucap Dedi Purwanto melalui akun facebook pribadinya “Dedy Purwanto” sambil mengunggah kembali poster yang sempat di unggah Dinas Pariwisata Kabupaten Bima akun fanpage facebook resminya.

    Haloo! nanti hadir ya, di Festival Bombo Ncera, 11-12 November 2018.

    Bentuk dukukan, ajakan, dan juga hadir langsung artis kondang kenamaan jebolan Dangdut Akademi 3 (DA3) Indosiar Anggun Bima. “Ramaikan FESTIVAL Bombo Ncera tanggal 11-12 November ini..... Yang pastinya seru-seruan bersama keluarga, sekaligus wisata kuliner, juga bisa mandi-mandi juga happy foto-foto bersama kawan-kawan serta keluarga, yang pasti tak kalah menarik ada berbagai seni serta budaya yang di tampilkan untuk para pngunjung. Juga yang pastinya saya juga hadir di sana memenuhi undangan ibu kepala suku yaitu Yuke alias aswati alias,” tulis Artis jebolan DA3 Indosiar Anggun Bima melalui akun facebook miliknya yang ditulis dengan nama asli “Anggun Merdekawati”. (MJ / PEWARTAnews)
    Gerbang masuk Wisata Bombo Ncera.

    Gempa Palu, Prof. Rochmat Wahab: Musibah Palu Hakikatnya adalah Musibah Indonesia dan Juga Dunia

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Peristiwa gempa yang terjadi di Palu dan sekitarnya telah menorehkan pilu untuk bangsa ini. Hal ini juga dirasakan oleh Mantan Ketua Tanfidliyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Daerah Istimewa Yogyakarta (PWNU DIY) masa bakti 2011-2016 Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.

    Dengan adanya peristiwa gempa dan tsunami Palu dan sekitarnya, Rochmat Wahab berharap semakit membuat iman kita makin besar dan semakin peduli pada sesama, karena sejatinya duka palu adalah duka Indonesia dan juga dunia. “Innaa lillaahi wainnaa ilaihi raaji’uun. Musibah Gempa dan Tsunami 28 September 2018, hakekatnya tidak hanya menimpa Palu, melainkan juga Indonesia dan Dunia. Semoga mushibah ini dapat mempertebal iman, meningkatkan taqwa, menambah kesabaran dan memperkuat persaudaraan dan kepedulian. Mari kita bantu do’a, semoga semua kurban yang wafat diterima Allah SWT sebagai mati syahid, yang luka segera diberi kesembuhan dan kesabaran, yang selamat diberi kesadaran beragama sehingga semakin taqwa. Aamiin.,” ucap Rochmat, 01/10/2018.

    “Kita ingat firman Allah Swt, bahwa sebenarnya Allah Swt tidak akan pernah menimpakan ujian sepanjang manusia mampu mengatasinya. Oleh karena itu marilah kita dengan sabar berikhtiar dan tidak ada henti-hentinya cari hikmah sebanyak-banyaknya untuk upaya revovery dan untuk menggapai masa depan yang lebih baik. Demikian pula kita yang sekarang selamat, secara istiqamah bertindak preventif sejauh kita mampu. Semoga Allah Swt memberi jalan dan kemampuan yang lebih baik ketika nanti dihadapkan ujian yang sama atau yang lebih besar. Aamiin.,” sambungnya. (MJ / PEWARTAnews)

    Alami Kanker Tulang Punggung, Warusulihin Butuh Uluran Tangan Pemerintah dan Masyarakat, Yuk Berdonasi!

    Warusulihin (Tahri), si penderita kanker tulang punggung sedang terbaring lemah.
    Bima, PEWARTAnews.com -- Maut, kondisi fisik bugar, bahkan keadaan sakit, semua telah digariskan oleh sang pencipta untuk berada dalam kondisi demikian. Disaat kondisi fisik bugar, kita patut bersyukur dan terus menjaga kesehatan agar tetap bugar. Disaat kondisi fisik kita drop (sakit), hanya bisa kita lakukan doa untuk kesembuhan dan tentu disertai dengan upaya pengobatan dengan sebaik-baiknya.

    Terkait kondisi badan dalam keadaan sakit, kini dialami oleh saudara kita di salahsatu desa di provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), namanya Warusulihin, dikampungnya dikenal juga dengan nama Tahri.

    Saudara Warusulihin kini berusia 32 tahun, yang beralamat lengkap di  RT 03, desa Taloko, Kecamatan Sanggar, Kabupaten Bima.

    Menurut M. Saleh Ahalik, S.Pd., M.Pd. seorang pemuda yang juga sebagai inisiator penggalangan Donasi untuk Warusulihin (Tahri) ini, mengatakan bahwasannya saat ini Tahri mengalami sakit kanker yang begitu parah, sehingga sangat membutuhkan uluran tangan dari semua pihak untuk membantu pembiayaan operasinya.

    "Tahri mengalami kanker tulang punggung yang begitu parah, sehingga harus dilakukan operasi secepatnya. Kondisi keluarga tidak begitu mampu membiayai pengobatannya. Oleh karenanya, bantuan dari pemerintah dan masyarakat umum sangat diharapkan untuk operasi Fahri," ucap Saleh.

    Lebih jauh, Saleh mengatakan bahwa sebenarnya Tahri sudah ingin di operasi, jadi karena masih kekurangan biaya blom bisa di lakukan operasi. "Fahri kekurangan biaya untuk operasi. Sekali lagi, maka dari itu kami mengharapkan donasi dari masyarakat, dermawan, lebih-lebih bantuan dari pemerintah," beber Saleh.

    "Jika masyarakat ingin membantu, dapat menghadiri langsung di alamat Tahri. Kalau tidak bisa secara langsung, mohon donasi bantuannya dapat di kirim lewat nomor rekening BRI: 785401003026534, 
    Atas nama: M. Saleh Ahalik," lanjut Saleh. (MJ / PEWARTAnews)

    Prof. Rochmat Wahab: Generasi Muda Kurangi Nafsu untuk Merusak, Tingkatkan Spirit Membangun Kapasitas Diri untuk Memajukan Bangsa

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Hari ini, 01 November 2018 merupakan hari sumpah pemuda yang ke-90. Berkaitan dengan hari sumpah pemuda, Mantan Ketua Tanfidliyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Daerah Istimewa Yogyakarta (PWNU DIY) masa bakti 2011-2016 Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A. menyikapi hal ini dengan mengaitkan kondisi pemuda dewasa ini.

    Prof. Rochmat Wahab yang juga mantan Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dua periode ini mengungkapkan, “Sembilanpuluh tahun lalu telah dilakukan Ikrar Sumpah Pemuda oleh pemuda-pemuda terpilih, yang tujuan utamanya untuk menyatukan seluruh pemuda Indonesia untuk wujudkan cita-cita mulia, raih kemerdekaan, sehingga warga Indonesia bisa memiliki kemerdekaan hidup, berpikir, berbicara, bertindak, mencari nafkah, beribadah, berbangsa dan bernegara,” ucapnya, 01/11/2018.

    Kini, kata Rochmat, di saat kita peringati dan syukuri Hari Sumpah Pemuda, seluruh pemuda tidak lagi berjuang meraih kemerdekaan, melainkan mereka seharusnya menjaga dan mengisi kemerdekaan dengan belajar dan berkarya, meng-update diri serta mengembangkan minat dan bakatnya sehingga berkembang optimal untuk mengakselerasi raih masyarakat adil, makmur, dan sejahtera lahir dan batin yang diridloi oleh Allah Swt. “Bukan sebaliknya, mereka menjadi pemuda yang dibelilit oleh berbagai persoalan sebagai generasi transisi yang diwarnai dengan perilaku sosial yang menyimpang, kenakalan remaja, narkoba, pergaulan bebas, bertindak kekerasan, berakhlak tercela, malas beribadah, dan sebagainya sehingga mengganggu kenyamanan, keharmonisan dan kedamaian masyarakat,” bebernya.

    Lebih lanjut, Ketua III Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) masa bakti 2014-2019 ini mengatakan, “Para orang dewasa, orangtua, pendidik, pimpinan agama, dan tokoh masyarakat, bahkan pemerintah ikut bertanggung jawab memberikan fasilitas dana, tempat, waktu, pelatihan, pendidikan dan institusi dengan tenaga ahlinya yang memadai untuk support para pemuda dalam berkiprah dalam berbagai kegiatan positif dan produktif. Para pihak terkait perlu sekali ikut sharing keahlian untuk ciptakan aktivitas yang bermanfaat untuk ummat. Persiapkan generasi penerus yang lebih baik, lebih kuat, lebih tangguh dan lebih mumpuni untuk tantangan di jamannya,” kata Rochmat.

    Prof Rochmat menuturkan lebih jauh, bahwa generasi muda harus kurangi nafsu atau kebiasaan diri dalam merusak, tingkatkan spirit membangun kapasitas diri demi tujuan yang lebih besar yakni untuk memajukan bangsa dan negara tercinta. “Wahai generasi muda, kurangi nafsu diri untuk merusak, sebaliknya tingkatkan terus spirit membangun kapasitas diri termasuk moral yang kuat dalam hadapi era yang penuh ketidakmenentuan ini. Insya Allah ke depan generasi muda bisa mainkan peran penting untuk kemajuan bangsa,” ungkapnya. (MJ / PEWARTAnews)

    Umar Wiriyadi, dari Pemalu Menjadi Super Aktif

    Umar Wiriyadi. Foto: Gunawan.
    PEWARTAnews.com -- Selalu ada sisi positif yang bisa digali dari tiap insan. Ya, itulah yang saya dapatkan dan lihat dari tiap pribadi seseorang. Ada saja hal unik dan menarik yang menjadi modal dan ciri khasnya. Dan, sisi positif yang dimaksud, bisa dijadikan teladan bagi siapa pun di antara kita. Atau, paling tidak, bisa kita ambil hikmah dari cerita kehidupannya.

    Adalah Umar Wiriyadi. Pemuda desa yang lahir dan dibesarkan dari keluarga sederhana. Dulu, dikenal pemalu dan pendiam.

    Umar kecil memang seperti ini adanya. Saya saksikan sendiri. Sebab, beliau adalah sepupu satu saya. Dulu, ketika saya bermalam di rumahnya, hampir tidak pernah mau menyapa saya (karena malu). Kakaknya Ibrahim dan Husni yang biasa menemani saya bercerita, juga teman tidur. Sementara, beliau “takut” berada di samping saya. Hal yang demikian terus berlanjut. Waktu saya libur kuliah pun, kala berkunjung ke rumahnya, beliau selalu menghindar dari saya. Kata ibunya, memang pemalu.

    Kendati demikian, saya salut dan bangga padanya. Di tengah keterbatasan ekonomi orang tuanya, beliau tetap bisa menggapai cita-citanya. Ya, atas dukungan dari orang tua dan keluarga, beliau berkesempatan mengenyam pendidikan hingga di bangku perguruan tinggi.

    Pertengahan 2011, beliau memutuskan untuk melanjutkan studi di Kota Makassar. Mendengar kabar tersebut dari keluarga, saya pribadi senang dan bahagia sekali. Artinya, bertambah lagi saudara saya yang mencoba belajar dan mengumpulkan serpihan pengetahuan di perguruan tinggi.

    Awal tiba di Kota Makassar, memang tak jauh berbeda dengan masa kecilnya dulu. Masih pemalu dan pendiam. Namun, karena terus digembleng oleh senior-seniornya yang lebih dahulu menginjakkan kaki di tanah rantau, beliau pun tak lagi seperti itu. Kini, beliau menjadi super aktif.

    Saya salut padanya. Bangga punya adik sepupu seperti beliau. Di saat mulai memasuki masa perkuliahan, pada dirinya mulai tampak sosok manusia yang benar-benar serius ingin belajar. Ya, rakus akan pengetahuan. Tak ingin menyia-nyiakan waktu dan kesempatan yang ada.

    Di saat aktif perkuliahan itulah, beliau juga mulai suka dengan bahan bacaan, utamanya buku. Ya, hampir setiap hari saya lihat di kamar kosnya, selalu menyempatkan waktu untuk membaca buku. Apalagi dulu kala satu kamar kos dengan saya, dirinya dan buku seolah tak bisa dipisahkan.

    Beliau juga suka mengoleksi buku. Bermula dari jalan-jalan dan berkunjung ke toko buku yang ada di sekitar area Makassar, hingga akhirnya ia juga tergiur untuk mengoleksi beragam buku yang dimaksud. Setiap ada rezeki, pasti ada buku baru yang dibelinya. Itu yang saya saksikan sendiri kala itu. Semangat belajar dan minat bacanya memang tinggi. Koleksi buku hingga kini, lumayan banyak.

    Tak hanya itu, beliau juga aktif dalam dunia organisasi. Sempat satu periode diamanahkan untuk menjadi nakhoda di IPMI Makassar (kini WTC Makassar). Di sinilah saya melihat beliau benar-benar berubah, tak seperti masa kecilnya dulu. Hal ini juga tak lepas dari dukungan dan motivasi dari orang tua dan keluarganya. Sehingga, membuat dirinya kian bersemangat untuk belajar, menimba ilmu, baik dari dunia kampus maupun organisasi. Beruntung sekali ia punya orang tua yang selalu mendukung dan memberinya motivasi.

    Kini, beliau telah mengabdikan dirinya untuk kampung halaman tercinta. Menjadi tenaga pengajar dan pendidik di sekolah di kampungnya. Juga, mendapat mandat sekaligus amanah dari masyarakat setempat untuk menjadi Ketua Karang Taruna desa Bumi Pajo. Benar bahwa pengalaman dan pengetahuan yang diperolehnya dulu di tanah rantau, sedikit demi sedikit mulai diamalkan di kampung halamannya.

    Saya salut dan bangga padanya. Saya bersyukur pada Tuhan memiliki sepupu yang punya semangat tinggi dalam hal belajar dan berbagi seperti beliau. Kini, meski sudah kembali ke kampung halaman, semangat belajar dan membacanya juga tak jauh berbeda dengan waktu kuliahnya dulu. Terbukti, beberapa kali berkunjung ke rumah saya untuk meminjam buku. Beberapa waktu yang lalu juga, saya sempat mengirimkan paket buku padanya.

    Satu lagi yang hampir saya lupa dari kebiasaan beliau semenjak kuliah dulu, yaitu selalu ingin tahu dan tak pernah malu untuk bertanya. Ya, apa pun yang dirasa masih menjanggal di hati dan pikirannya, tak sungkan ia bertanya. Itulah yang saya katakan, bahwa beliau memang super aktif.

    Wallahu a’lam.


    Penulis: Gunawan
    Pemuda asal Bumi Pajo, Donggo, Bima, NTB.

    Prof. Rochmat Wahab: Spirit Kemandirian Harus Menjadi Spirit Kita

    Suasana Silatnas IIBF, 30/09/2018.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Mantan Ketua Tanfidliyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Daerah Istimewa Yogyakarta (PWNU DIY) masa bakti 2011-2016 Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A. mengikuti acara Silatnas IIBF (Indonesia Islamic Business Forum) ke 9 di Yogyakarta di bawah kepemimpinan Ir. Happy Tranggono didukung oleh KH Mahfudz Syaubari, Dr. Marzuki Ali, Prof Insanul Burhanzah, dr. Hasto Wardoyo, SPOG (Bupati Kulonprogo). Acara ini mengangkat tema “Kebangkitan Ekonomi Indonesia Tanggungjawab Kita”, berlangsung mulai 28-30 September 2018.

    Disele-sela acara tersebut, Prof. Rochmat mengatakan bahwasannya kita harus mencintai produk Indonesia sebagai upaya untuk membangun kemandirian bangsa. “Beli Indonesia, bela Indonesia, hidupkan persaudaraan. Saatnya kita mencintai produk-produk Indonesia untuk Kemandirian Indonesia,” ucap Rochmat, 30/09/2018.

    Lebih lanjut, Rochmat mengatakan bahwa spirit kemandirian harus menjadi spirit kita. “Jika ada slogan Beli Indonesia, Bela Indonesia, maka mengingatkan saya ketika suatu saat masih diamanati untuk pimpin UNY, sempat hadirkan pak Heppy untuk launching Beli UNY, Bela UNY. Untuk itu UNY bikin UNYQUA, Hotel UNY, UNY Autocare, GOR UNY, Stadion Sepakbola dan Atletik UNY, Auditorium UNY, Kolam Renang UNY, Tenniscourt UNY, Foodcourt UNY, Kopma UNY, dan Lab KWU UNY, yang semuanya itu untuk meningkatkan income generating, sebagai bagian dari usaha UNY, sehingga bisa untuk menopang kebutuhan UNY dan mengurangi beban mahasiswa,” bebernya.

    “Acara dialog semalam diakhiri dengan Launching Gerakan Beli dan Bela Jogja yang diikuti oleh aktivis LSM, Pengusaha, dan banyak pengurus UKMK di Jogja. Semoga kemandirian ekonomi Jogja kedepan dapat diwujudkan bersama-sama. Beli Jogja, Bela Jogja,” sambungnya. (MJ / PEWARTAnews)

    Syukur dan Implikasinya pada Pasangan Hidup

    PEWARTAnews.com – “Salah satu sebab diantara banyak penyebab poligami adalah adanya rasa kurang dan ingin memiliki sesuatu baru yang lebih indah dan menarik. Jika syukur dipahami dengan baik maka tak akan ada istilah rumput tetangga lebih indah dan menarik daripada rumput sendiri. Itulah mengapa, peran dan kiprah perempuan yang “syukurnya gede” amat penting bagi masa depan, keshalihan, karier dan reputasi lelakinya” (Mukaromah, 2018).

    Syukur merupakan salah satu unsur yang termasuk dalam kategori/tingkatan/maqam “tertinggi” seseorang dalam beragama. Semua orang tau bahwa arti syukur adalah berterima kasih, tapi seringkali lupa untuk “memaknainya lebih dalam”. Apabila makna syukur diinternalisasikan dalam lubuk hati manusia, tentu akan berimplikasi (berdampak) positif bagi kehidupannya, yakni akan merasakan kebahagiaan, ketenangan, ketentraman, kedamaian batin serta senantiasa peduli dan membuat sesuatu benda/orang lain berarti lebih dari apapun saat berada disisinya, saat berada dalam genggamannya. Syukur berarti menjaga dan merawat dengan sebaik-baiknya pemberian dan anugrah dari Yang Maha Kuasa.

    Dengan memiliki sikap “syukur” berarti kita merasa “cukup” dengan apa yang ada didepan mata, dengan apa yang telah dimiliki dan menjaganya dengan sebaik mungkin. Merasa “cukup” bukan berarti “puas” dan berhenti untuk berproses, namun lebih pada “bagaimana mengendalikan akal pikiran dan hati”. Karena jika dituruti, sifat manusia itu tak ada puasnya, selalu merasa ingin memiliki semuanya dan memiliki segalanya. Jika tak bisa mensinergikan akal dan hati maka yang ada hanyalah merasa kurang dan menghayal (panjang angan) untuk memiliki sesuatu yang lebih baik dari apa yang telah didapatkannya serta enggan untuk mensyukuri apa yang ada didepan mata. Implikasinya, kurang peduli dengan apa dan siapa yang sedang bersamanya.

    Penulis yakin seyakin-yakinnya apabila hakikat syukur diketahui, dipahami dan dihayati lebih dalam maka hati akan bersih, pikiran akan jernih, batin akan tenang dan siapapun orang yang sedang bersama dengan kita, akan merasa dihargai dan dihormati keberadaan/eksistensinya.

    Konteks ini dapat kita kaitkan dengan pasangan misalnya. Jalinan Suami - istri akan erat, rekat dan tentu benih cinta akan semakin subur seiring dengan berjalannya waktu karena memaknai rasa syukur. Kita merasa bahwa suami/istri kita-lah yang “terbaik” meskipun sudah tidak cantik/ganteng dan menawan seperti awal kenal. Atau bahkan ketika tahu bahwa suami/istri kita banyak kekurangan dan kelemahannya. Jika diterima apa adanya dan sabar menghadapinya maka akan terasa lebih berarti dan bermakna. Katakan pada hati masing-masing bahwa “Hanya dia wanita/laki-laki yang paling berarti lebih dari siapapun, sekalipun dibandingkan dengan artis hollywood dan korea yang aduhaiii bikin mata melek dan lidah ngeces.

    Di era digital, manusia modern dengan mudahnya mengakses gambar/foto dan video yang menggairahkan baik melalui YouTube, Instagram, Twitter maupun Facebook. Jika tidak “hati-hati” dalam menggunakan jari, maka akan berabe. Karena “jari” kita adalah harimau kita. Zaman sekarang apa sih yang tidak bisa dideteksi oleh teknologi? Segala tingkah laku dengan mudahnya direkam oleh server. Di instagram misalnya, kita akan mudah melihat following orang yang kita ikuti, tak hanya itu juga bisa mengikuti jejak following kita, termasuk ketika “menyukai” foto/video. Nah ini yang berbahaya, bagi keberlangsungan hubungan laki-laki dan perempuan. Laki-laki itu diuji oleh mata. Kadang secara tidak sadar, dia nge-like dan meninggalkan komentar” foto perempuan yang cantik-cantik”. Berdasar pengamatan empirik yang saya lakukan, mata laki-laki itu lebih tajam daripada perempuan. Laki-laki bisa menahan untuk tidak berbicara, namun dia tak bisa menahan diri manakala berinteraksi, melihat dan bersinggungan dengan wanita, apalagi jika wanita itu cantik parasnya. Dalam bahasa yang kasar, mohon maaf sebelumnya terkadang laki-laki yang LDR dengan pasangannya, akan melampiaskan hasrat seks-nya melalui media. Pun tak hanya yang LDR, terkadang yang sudah beristri pun masih sempat mengkonsumsi, ngelike foto-foto yang tidak senonoh. Mengapa harus seperti itu? Ternyata dalam kajian psikologi, ada penyakit abnormal namanya voyeuris. Jika memang syukur sudah tertancap dalam hati, maka akan menjadikan pasangan hidupnya terbaik dan sempurna dari siapapun. Sehingga tak ada istilah “rumput tetangga lebih indah dan menarik daripada rumput sendiri”. Salah satu sebab diantara banyak penyebab poligami adalah adanya rasa kurang dan ingin memiliki sesuatu baru yang lebih indah dan menarik.

    Demikian pula dengan seorang perempuan. Dia tak akan mengeluh dan grusa-grusu apabila diberi nafkah yang tidak sesuai dengan espektasinya. Yang ada hanyalah nrimo dan melayani suaminya “sama” alias tak berbeda antara tanggal muda dan tanggal tua. Yang cantik, doktor, hafal qur’an, pinter kitab itu banyak dan ada dimana-dimana. Namun wanita yang tingkat “syukur-nya” tinggi, menenangkan, meyejukkan dan mendamaikan saat hati laki-laki gundah gulana, ini yang masih sulit ditemui apabila tidak dilatih sejak awal. Buktinya, banyak laki-laki yang menghalalkan segala cara termasuk merampas hak orang lain demi memenuhi kebutuhan si istri. Tak lain karena cinta yang membutakan. Seorang laki-laki tega sikut-sikutan dan saling menyakiti dalam dunia kerja, hanya karena ingin punya gaji banyak dan reputasi yang menonjol tanpa menghiraukan keadaan orang lain demi membahagiakan istrinya. Maka dari itu, peran dan kiprah istri yang “syukurnya gede” amat penting bagi masa depan, keshalihan, karier dan reputasi suami.

    Begitupula dengan laki-laki dan perempuan yang sedang menjalin asmara. Kadang, logika bermain dengan “untung dan rugi”. Sebagai contoh, ada seorang (laki dan atau perempuan) yang sedang berjalan ditengah taman. Disekelilingnya ada banyak bunga yang anggun, indah, wangi dan menawan. Namun disisi lain perjalanan masih sangat panjang, sedang seseorang tersebut telah menemukan kebahagiaan pada satu bunga. Tapi logika mengatakan, ah perjalanan masih sangat panjang, bisa jadi didepan sana ada banyak bunga yang lebih baik daripada bunga yang memikat hatimu saat ini. Sepanjang perjalanan masih disibukkan dengan keyakinan seperti itu, hingga diujung taman dia tidak menemukan dan memetik bunga satupun. Artinya, kadang manusia terlalu menuntut dan mengharuskan diri untuk mendapatkan sesuatu yang sempurna dan kurang puas dengan apa yang saat ini didepan mata, padahal yang berada didepan mata inilah yang kita butuhkan, yang setia meyakinkan dan mendoakan ditiap langkah kita. Namun imajinasi kita masih terus mencari bayang-bayang dan “sesuatu” yang lebih segalanya dari apa yang telah ada disisi kita yang belum tentu bisa kita dapatkan. Bahkan belum tentu bisa menenangkan, mengerti dan memahami serta menerima diri kita apa adanya.

    Maka, ingatlah selalu nasihat dari BJ. Habibi bahwa “jangan mencari yang sempurna, namun cari dan pilih-lah seseorang yang membuat diri kita lebih berarti dari siapapun. Siapa dia ? Menurutku, dia adalah orang yang mengetahui kekurangan dan kelemahan kita, namun masih setia dan tetap meyayangi dan menghormati diri kita. Seseorang yang lebih baik akan selalu ada, namun orang yang “klik” dengan kita-lah yang sulit didapatkan. Maka, jangan pernah menyia-nyiakan seseorang yang sedang berada didekatmu, yang mempercayakan segalanya kepadamu, dan yang sedang berlindung pada “hatimu”.

    Sekali lagi, bahwa syukur dan peduli adalah kuncinya.


    Penulis: Siti Mukaromah
    Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Prof. Rochmat Wahab: Rezim 2019-2024 Perlu Jadikan Pembangunan Pendidikan Nasional Sebagai Priortas Utama

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A. saat ngobrol santai dengan Mantan Presiden RI BJ Habibie
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Mantan Ketua Tanfidliyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Daerah Istimewa Yogyakarta (PWNU DIY) masa bakti 2011-2016 Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A. memandang bahwa Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) sudah tidak relevan dengan kondisi dewasa ini, oleh karenanya perlu adanya ada penyesuaian yang menjadi perhatian khusus untuk calon pemimpin Indonesia periode mendatang.

    Prof. Rochmat Wahab mengatakan, “Mengingat UU Sisdiknas yang sudah tidak relevan lagi dengan kebutuhan kini dan mendatang, yang mestinya disusul dengan peraturan perundang-undangan lain, tapi justru muncul Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen, Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 Tentang Pendidikan Tinggi, Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2013 Tentang Pendidikan Kedokteran, Undang-Undang Nomor 11 tahun 2014 tentang Keinsinyuran, PP Nomor 55 Tahun 2007 Tentang Pendidikan Agama dan Keagamaan menuntut UU SPN, untuk disesuaikan isi dan beberapa pasal dan ayat,” bebernya di Yogyakarta belum lama ini, 28/09/2018.

    Lebih lanjut, mantan Rektor UNY ini mengatakan bahwa kedepannya Indonesia membutuhkan pembentukan sistim pendidikan yang bervisi baru yang mampu menjawab tantangan zaman. “Kehadiran RI 4.0, era digital, Era Disrupsi, dan tuntutan kecakapan Abad ke-21 serta pembentukan insan dan masyarakat sholeh ke depan, sangat dibutuhkan sistem pendidikan nasional ber-visi baru. Dengan begitu sangat dibutuhkan pembaharuan sistem pendidikan nasional,” ucapnya.

    “Berdasarkan dua pertimbangan yang strategis ini, mengawali rezim 2019-2024 sangat dibutuhkan Sistem Pendidikan Nasional Baru (Educational Reform) yang diharapkan sekali dapat dijadikan program pokok kabinet, siapapun yang menang, segera tunjukkan komitmennya,” katanya.

    Jika rezim baru tidak menangani secara serius terkait pendidikan, kata Rochmat, sudah pasti kualitas SDM masyarakat Indonesia dibawah rata-rata negara lain. “Jika selama 5 tahun ke depan, Rezim tidak menjadikan pembangunan pendidikan nasional sebagai priortas utama, maka kualitas sumber daya atau indeks kompetitif manusia Indonesia akan menurun dibandingkan negara-negara Asia,” cetusnya.

    Sekelumit Kisahku di Pesantren


    PEWARTAnews.com -- Di sekolah dasar (SD), aku adalah salah satu siswa yang bodoh. Dijauhi teman, dibully dan keberadaanku tak dianggap teman-temanku sudah menjadi hal yang biasa. Karena mempunyai pengalaman kelam seperti itu, aku bilang kepada bapakku untuk mondok saja, tak usah melanjutkan ke sekolah menengah pertama (SMP). Hingga pada akhirnya bapak memenuhi permintaanku dengan mengajakku keliling ke berbagai pesantren di daerah Bantul. Aku masih ingat betul, pesantren yang sempat bapak tawarkan dahulu ialah PP. Al Fatta di Tembi, PP. Baiquniyyah, PP. Al Fithrah, PP. An-Nur, PP. Nurul Ummah Kotagede, PP. Nahdlatussubban, PP. Al Wahbi dan terakhir adalah pesantren An Ni’mah Kanggotan Bantul. Dari pontok-pondok tersebut, dengan kemantapan hati sembari berkata kepada bapak, “kulo milih di An Ni’mah mawon, pak”. Kebetulan saat itu, mbak ku masih ada disana jadi pengennya bareng sama mbak. Akhirnya bapak mengantarkanku kesana, tepat saat aku lulus SD. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya aku juga melanjutkan ke SMP di MTs N Gondowulung Bantul. Jarak antara pondok dengan sekolah sangatlah jauh, bahkan tak jarang karena ngaji saya terakhir (dipondok kami santri huffadz ngaji nya terakhir), antri mandi dan lain-lain sekolahnya telat. Rangkaian peristiwa tersebut yang sampai saat ini saya syukuri ialah, pihak sekolah maklum meski pada akhirnya karena sering telat “ibuku” dipanggil ke sekolah. Hehehehe.

    Setiap hari ku lalui hari-hari yang amat begitu melelahkan bolak balik antara pondok dan sekolah dengan satu keyakinan “mumpung bapak masih sehat, mumpung bapak masih kuat membiayaiku ngaji, dan mumpung bapak ku masih ada”. Tak ada kata selain “mumpung”, karena sejak kecil bapak adalah satu satu figure lelaki yang sangat berpengaruh dalam hidupku. Setiap kali sepulang sekolah, ku sempatkan untuk mampir ke rumah meski hanya sekedar mengisi perut/makan dan membawa bekal maem. Ini salah satu ujian terberat saya ketika mondok adalah sering laper.

    Ketika di rumah, bapak selalu tanya-tanya tentang keadaan di pondok, bagaimana temen-temenku, terus bagaimana perkembangan ngaji-ku. Bapak nggak pernah tanya tentang bagaimana sekolahku, nilainya bagus atau tidak. Tapi yang selalu bapak tanya “sudah dapat berapa juz, nok”?. Karena aku bukan tipe orang yang apa-apa diampet, maka aku bilang sama bapak “kenapa sih pak kok bapak nggak pernah tanya perkembangan sekolahku?”. Padahal aku sudah banyak perubahan dari ketika SD yang selalu dijauhi temenku karena aku bodoh, sekarang di MTs jadi juara 1 terus. Dengan lirih bapak menjawab “Nok, bapak wis reti nek ngajimu apik, sekolahmu bakal katut”. Saiki ngajio sik mempeng, sesuk bakal ono dalan sekolahmu yo apik, nduwe konco sik apik-apik, nduwe bojo sik gumati, lan kepenak uripmu. Mumpung bapak iso ngragati (membiayai) sampean, sampean kudu mempeng yo le ngaji, nek iso ditarget le nang pondok.

    Dalam kondisi apapun dan bagaimana pun aku selalu cerita kepada bapak, bahkan hal-hal yang sangat sepele pun ketika aku dibenci sama temenku. Hehehe, maklum saat itu masih ABG (anak baru gede) ya kan. Nasihatnya bapak begini “Nok, dadio wong sing mandiri. Mandiri bukan berarti hidup sendiri tanpa membutuhkan orang lain, tapi mandiri iku bagaimana kita tidak menggantungkan diri kita kepada orang lain. Santai aja nek ono wong ra seneng (tidak suka) sama sampean, karena kamu makan juga nggak ikut dia kok. Dimanapun kita berada, pasti ada orang yang kurang suka. Manusia selevel Nabi Muhammad pun juga begitu, ada yang tidak suka apalagi kamu. Di Pondok nek ada orang yang seperti itu, ya biarkan saja. Dia beda sama kamu, terlahir dari orangtua yang beda pula, nduwe karep (punya keinginan) juga beda sama kamu, pantes kalau pola pikirnya juga beda, makanya santai nggak usah susah (sedih). Bapak mondokke kamu, biar kamu suatu saat jadi orang yang mandiri, jembar atine, ora grusa-grusu lan santai menghadapi lika-liku urip.

    Tak lupa, bapak selalu menyematkan kata-kata “Nok, bapak tak tahu umurku sampai piro, tapi nek iso sampean sik tenanan yo lehmu ngaji”. Bapak juga gak punya harta melimpah, sik iso tak tinggali nggo sampean yo cuma ngaji iku, ben nek bapak udah nggak ada, sampean iso ndongakke aku (mendoakan bapak).

    Aku amati lingkungan pondok, keta’dziman dan ketakriman santri-santri pada bu Nyai bahkan pada putra-putranya. Sesibuk apapun santri (nderes) kalau ditimbali dan didawuhi (dipanggil dan disuruh) bu Nyai untuk melakukan sesuatu, pasti segera melakukan. Itulah yang dinamakan dengan “Sami’na wa atha’na”. Bahkan sampai sekarang tradisi itu masih ada, dengan harapan “ngalap berkah nyai dan kiyai”. Dulu Bu Nyai juga sering ngendiko kalau berkah itu menjadikan hidup ini kian berarti dan bermakna. Karena berkah, santri-santri ndalem yang huffadz (ngafalin qur’an) yang sering di dawuhi bu Nyai ini itu, sehingga tak punya waktu untuk nderes, malah mereka lancar-lancar dan khatam sampai 30 jus. Pun demikian, ketika sudah bersuami, suaminya tanggungjawab dan gumati (perhatian). Ini lo lur, namanya berkah. Percayalah, ada berkah disetiap sesuatu.

    Setiap kali aku dan kawan-kawan akan UTS atau bahkan UN, selalu minta doa pada bu Nyai sambil antri satu per satu. Ini yang masih terus akan ku ingat selamanya, bu Nyai selalu berpesan “Mbak, jangan lupa baca ya Fattah ya ‘Alim” terus ojo lali ngajine, ibuk tidak melarang kamu untuk sekolah bahkan nek pengen kuliah yo kuliaho tekan duwur tapi tolong ngaji tetep nomor satu yo”.

    Karena barokahnya beliau, akhirnya sekolah juga katut (mengikuti), bahkan ketika masuk kuliah lewat jalur non tes (rapot – SPANPTKIN) juga karena doa beliau. Aku itu biasa-biasa saja, otakku juga biasa-biasa saja tapi alhamdulillah selalu dimudahkan Allah dalam segala hal, salah satunya karena barokah orang yang sangat dekat pada Gusti Allah.

    Dari pengalaman seperti itulah, hingga sampai detik ini aku berani menarik kesimpulan bahwa hidup ini yang dicari sebenarnya adalah barokah. Barokah itu ziyadatul khair (kebaikan yang terus bertambah) yang hanya dapat ditempuh dengan akal dan pikiran yang jernih, hati yang tulus dan ikhlas, serta jiwa raga yang siap 100 % untuk menjadi “kuli-nya” Gusti Allah. Bisa jadi orangnya biasa-biasa saja, tapi karena ta’dzim dan takrim sama orang-orang shalih, hidupnya akan menjadi tenang dan bahagia serta dimudahkan Allah dalam segala hal. Ini yang masih terus melekat dalam dunia pesantren.

    Ciri khas pesantren ialah “ngalap barokahnya kiyai-nyai” serta ketakdziman seorang santri kepada Kiyai maupun nyai-nya yang meski mereka sudah boyong (alumnus) tapi masih menyempatkan diri untuk sowan kepada nyai maupun kiyai di pondoknya. Hal ini yang sulit ditemui dalam pendidikan formal (Sekolah maupun kampus). Penghormatan yang mahasiswa maupun siswa berikan kepada guru maupun dosennya ada “sedikit” perbedaan ketika mereka berhadapan kepada kiyai maupun nyai. Kharisma dan wibawa kiyai dan nyai masih menjadi daya tarik tersendiri bagi siapapun yang melihatnya. Pun demikian, ketika murid atau mahasiswa telah lulus, ia akan mudah melupakan guru maupun dosennya, namun berbeda halnya dengan santri dan kiyai nya. Tabiat, senyum, kebiasaan, ciri khas kiyai masih melekat dalam benak santri-santrinya, sehingga ketika santri kembali ke daerahnya untuk bersyiar dan mengajarkan agama/mulang ngaji pasti banyak dipengaruhi oleh kebiasaan maupun cara dan ciri khas kiyainya ketika di pesantren dahulu.

    Jadi, ada makna “esensi” yang tidak pernah dilupakan santri ialah “bersanad”. Mengajarkan ilmu ya berdasar pada apa yang diajarkan guru nya dulu, atau paling tidak ada guru yang menjadi dasar acuannya dalam melakukan sesuatu. Hal ini bukan berarti santri itu kolot, tidak punya pendirian dan lain-lain. Namun karena santri mempunyai jargon “al muhafadzatu ‘ala qadimis-shalih wal akhdzu bil-jadidil ashlah wal ashlah ilaa maa huwal ashlah”.

    Seandainya dahulu bapak tidak memperkenalkanku dengan dunia pesantren, mungkin aku akan menjalani hidup yang “sedikit” berbeda dengan apa yang ku jalani saat ini. Ternyata rencana Nya jauh luar biasa, selang 1 tahun (10 Oktober 2015) setelah aku memenuhi permintaan-nya untuk menyelesaikan quranku, bapak dipanggil Allah untuk menghadap kehadirat-Nya tepat pada 23 Desember 2016. Terimakasih pak, bapak meninggalkanku saat kewajiban bapak menjadi seorang “Ayah” telah selesai dan tuntas. Terimakasih pula telah membimbingku untuk menemukan rencana Tuhan bagi diriku.

    Kini, santri tidak hanya dimaknai sebatas orang yang belajar agama namun ia yang tidak lelah untuk menjadi pembelajar kapanpun, dimanapun dan dengan siapapun, serta mempunyai kepribadian yang berani berkata benar, mandiri, bertanggungjawab serta optimis dan yakin dapat melalui lika-liku perjalanan hidup yang menyedihkan maupun membahagiakan. Santri iku kudu tatag, trengginas, cak cek, ojo wegahan lan malesan.

    Guru ngaji saya bu Ny. Mutammimmah dobalan selalu berpesan bahwa jadilah santri selamanya. Kelak ketika kamu bersuami, jadilah santri-nya suamimu, ngalap o berkah suamimu, nderes o sama suamimu lan ngangsu kawruh yo karo suamimu. Kalau suamimu nggak ada waktu, silahkan datang ke rumah aku siap untuk menjadi gurumu (saya menyebutnya nyai) selamanya.

    Diambil positifnya saja, jika ada kata-kata “melangit” maklumi saja, karena memang begitu adanya, Hehehe.

    Selamat Hari Santri Nasional 2018. Dari Santri Untuk Negeri ! NKRI Harga Mati!


    Penulis: Siti Mukaromah
    Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta


     

    Iklan

    Iklan
    Untuk Info Lanjut Klik Gambar
    Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website