Headlines News :

    Follow Kami di Twitter

    Cari Berita / Artikel disini

    Arsip Web

    Like Fun Page Kami

    Agar Tulisan Tak Raib

    PEWARTAnews.com -- Satu-satunya langkah yang wajib ditempuh oleh seseorang agar bisa menghasilkan sebuah tulisan adalah dengan menulis. Hanya itu saja. Tak ada yang lain. Ya, sederhananya, ingin punya tulisan, ya silakan mulai menulis. Ingin punya karya buku, silakan wujudkan dengan cara menulis dan menulis.

    Dalam melakukan aktivitas yang satu ini, tentu ada banyak hal yang dirasakan oleh setiap penulis. Misalnya, senang dan bahagia. Seorang penulis akan senang, juga bahagia, apabila tulisannya telah rampung. Saat tangan dan jemari mencoba mengukir kata-kata di akhir sebagai penutup sebuah tulisan, maka di sinilah kebahagiaan pertama yang dinikmati seorang penulis.

    Kebahagiaan itu kian bertambah, jikalau karya tulisnya tersebut dihargai dan dibaca oleh orang lain. Terlebih bisa menjadi buku. Namun, sepertinya puncak kebahagiaan yang dirasakan oleh seorang penulis itu adalah kala tulisannya tersebut mampu mengubah hidup orang lain, dan menjadikan orang yang membacanya juga ikut termotivasi untuk mau menulis dan menelurkan buku. Inilah mungkin kebahagiaan level teratas.

    Namun, dalam aktivitas merajut aksara, tak terlepas juga dari yang namanya “duka”. Baik itu yang berasal dari luar, maupun yang bersumber dalam diri kita sendiri. Dari luar, misalnya tak dihargai, dimaki, dan dikritik oleh orang lain. Bagi saya pribadi, hal yang seperti ini tak menjadi masalah. Andai karya tulis saya tak dihargai oleh seseorang, saya tetap mengucapkan syukur dan terima kasih. Tak menjadikan saya untuk berhenti menulis. Dimaki pun tak mengapa. Dikritik, malah bagus. Ini bisa menjadi masukkan buat karya selanjutnya. Juga, sebagai motivasi dan cambuk penyemangat agar terus berkarya.

    Sementara, “duka” yang datang dari dalam diri, adalah ketika seorang penulis tak hati-hati dengan tulisan yang sudah dirajutnya. Maksudnya, adalah tidak mewaspadai akan hilang atau raibnya tulisan yang sudah jadi. Kita tak tahu ke depannya. Bisa saja goresan pena kita hilang atau hal serupa lainnya. Sakit sekali efek yang diakibatkan oleh yang satu ini.

    Saya pernah mengalami hal demikian. Tentu, di luar dugaan saya. Ya, suatu waktu, tulisan yang saya hasilkan dalam kurun waktu satu tahun lebih, tiba-tiba hilang di tempat penyimpanan saya. Saya menyimpannya di Flasdisk (FD). Setelah saya periksa, ternyata semua data yang ada di dalamnya kena virus dan raib. File dan data yang dimaksud sama sekali tak bisa dikembalikan.

    Tangan saya gemetar seketika. Badan saya dingin seketika. Sebab, beberapa naskah buku yang telah saya selesaikan hilang ditelan virus ganas dalam sekejap. Jumlahnya ratusan halaman. Hal ini terjadi, karena FD yang saya gunakan untuk menyimpan file tulisan tersebut, sering dipakai untuk memindahkan data dari laptop ke laptop. Sehingga, pas dimasukkan di salah satu laptop teman saya yang penuh virus, isi FD tersebut menjadi salah satu korbannya.

    Hanya saja, waktu itu, kegelisahan saya tak begitu lama. Sebab, sebagian besar naskah yang saya tulis tersebut sudah saya simpan di surat elektronik (surel), dan yang utuh ada di laptop adik sepupu saya. Namun, yang tersisa hanya file cadangan yang saya simpan di surel. Sedangkan, yang di laptop adik sepupu saya juga tak bisa diselamatkan, oleh karena laptopnya rusak total dan tak bisa diperbaiki.

    Ya, begitulah yang terjadi. Kenyataan demikian harus saya terima. Setidaknya, sebagian besar naskah tulisan tersebut ada di tempat lain (surel). Dan, mau tidak mau, untuk menggenapinya, beberapa tulisan yang hilang harus saya ketik ulang, kendati tak bisa sama sepenuhnya seperti semula. Tentu, hal yang seperti ini menjadi pelajaran saya ke depannya, agar tak ceroboh, dan tetap mewaspadai agar tetap mengabadi.

    Maka, bagi Anda yang telah menghasilkan tulisan dan naskah buku, saya sarankan agar tak menyimpan file dalam satu tempat. Jika Anda membuat tulisan atau mengetik di dalam komputer atau laptop, maka jangan hanya simpan di tempat itu. Usahakan beli Flasdisk atau Hardisk khusus untuk menyimpan file tulisan yang dimaksud. Bisa juga Anda menyimpannya di surel atau email. Atau, buat blog khusus untuk menampung tulisan Anda sendiri. Boleh juga di-share sepenuhnya di linimasa Facebook. Ini juga cara cerdas, di samping menyimpan tulisan, juga agar tulisan yang dimaksud bisa langsung dinikmati dan dibaca oleh orang lain. Lebih bagus lagi, setiap selesai menulis, lalu Anda mencetaknya (print), dan disimpan di tempat yang aman.

    Lantas, bagaimana jika menulislah di buku tulis? Ya, tinggal Anda kondisikan saja. Simpan baik-baik buku yang dipakai untuk menulis tersebut agar tak hilang. Bila perlu fotocopy perbanyak, sebagai cadangannya. Saya rasa Anda yang lebih tahu.

    Sekali lagi, Anda yang telah menghasilkan banyak tulisan dan naskah buku, jangan sampai menangis darah di kemudian hari. Waspadai dan periksa naskah Anda, jangan sampai hilang atau raib di tengah jalan. Usahakan simpan di banyak tempat, agar kejadian yang saya rasakan tidak menimpa Anda sekalian. Selamat menulis dan salam literasi!

    Wallahu a’lam.Gunawan.



    Penulis: Gunawan
    Pemuda Asal Dompu NTB

    Pak Jokowi 2 Periode? Why Not?

    PEWARTAnews.com -- Presiden RI yang ke 7 bernama Ir Joko Widodo. Seorang tokoh sederhana dari Solo. Penulis pikir beliau tidak pernah merencanakan sebelumnya, bahkan penulis pikir bermimpi untuk menjadi Presiden pun beliau tidak pernah. Diawali karirnya menjadi seorang walikota Solo. Kemudian di gadang-gadang menjadi Gubernur DKI Jakarta. Belum genap 2 tahun duduk menjadi Gubernur, kemudian bim sala bim beliau menjadi Presiden sejak tahun 2014. Politisi yang sangat beruntung, dengan waktu singkat bisa mencapai puncak.

    Sosoknya yang muncul di publik memang penuh pro kontra dan sulit ditebak. Banyak sudah cobaan-cobaan yang beliau hadapi selama menjadi pejabat publik. Setidaknya hal ini dimulai saat beliau dicalonkan menjadi gubernur DKI. Cobaan-cobaan beliau diantaranya maju berpasangan dengan non muslim, menggagas mobil esemka, berhadapan dengan Pak Prabowo, tidak membaca apa yang ditanda tangani, merangkul minoritas, Rupiah semakin menurun dan janji-janji politik lainnya kepada rakyat yang belum terpenuhi.

    Sebenarnya penulis mau menjabarkan setiap cobaan-cobaan yang beliau hadapi. Tapi akan panjang sekali tulisan ini. Kondisi yang menjadi point utama dari setiap cobaan yang beliau hadapi adalah beliau selalu menghadapinya dan berkomunikasi dengan para ahli untuk mendapatkan solusi yang tepat.

    Saat ada pertanyaan "apakah pantas Pak Jokowi 2 periode?" Saya pikir pantas-pantas saja. Kenapa tidak? Dalam undang-undang beliau masih punya hak untuk maju kembali menjadi presiden di pemilu selanjutnya. Setidaknya untuk 1 periode lagi. Seperti halnya Pak SBY, yang menjabat menjadi presiden 2 periode. Secara konstitusi sah-sah saja. Selama rakyat menghendakinya di Pemilu 2019.

    Apa yang menjadi pertimbangan beliau masih layak menjadi presiden. Setidaknya ada 4 hal yang saya catat, lantas menjadikan beliau layak menjadi presiden 2 periode.

    Pertama, Jokowi Dekat dengan Ulama dan Kaum Santri
    Isu kalau Pak Jokowi anti Ulama itu tidak benar. Selama beliau menjabat menjadi Presiden, beliau menyambangi pondok-pondok pesantren. Bersilaturahim dan berkomunikasi dengan para ulama dan santri. Jokowi lakukan dengan gaya khasnya, yakni bercanda dengan para santri lalu menggelar kuis berhadiah sepeda. Terlebih yang terus di kenang oleh para santri adalah, Jokowi menetapkan hari santri Nasional. Kondisi yang terjadi demikian adalah menjadi sebuah bukti bahwa Pak Jokowi dekat dengan ulama dan kaum santri. Pemerintahan yang dekat dengan ulama, semoga selalu dilindungi oleh Allah SWT dan dilimpahkan rahmat-Nya.

    Kedua, Memunculkan hal-hal yang Baru
    Banyak hal-hal baru yang terjadi saat Pak Jokowi menjadi presiden. Seperti halnya mengangkat seorang menteri yang hanya lulusan SMP yaitu Bu Susi Pudjiastuti. Menetapkan hari santri Nasional, tidak melibatkan anak-anaknya di dunia politik. Sosoknya bukanlah petinggi partai. Berurusan dengan PT. Freeport. Kira-kira hal baru apa yang akan beliau munculkan jika lanjut 2 periode?

    Ketiga, Perhatian terhadap Indonesia Bagian Timur
    Saat kita mendengar wilayah bagian timur, sekilas kita tergambarkan daerah yang jauh dari peradaban. Tapi kini, gambaran itu sudah mulai pudar. Sekarang mulai tergambarkan bagaimana asiknya pariwisata daerah timur. Seperti kepulauan raja ampat. Selain itu infrastruktur pun digalakkan seperti pembangunan jalan transpapua. Tentu belum semuanya, karena masih ada yang banyak di benahi seperti pendidikan dan sosial di Papua. Lalu bagaimana jika beliau 2 periode?

    Keempat, Sosok Presiden Kekinian
    Saat Pak Jokowi menjabat menjadi Presiden, saat itu juga hilanglah kesan kalau pejabat haruslah formal dan kaku. Jokowi tampil dengan selera musik mentalis, lalu tampilan sederhana dan kekinian. Terlebih beliau suka buat vlog pada agenda-agenda kepresidenan. Terlihat bahwa Pak Jokowi adalah sosok Presiden yang memiliki jiwa muda dan dekat dengan anak-anak muda.

    Dilihat dari empat hal diatas, maka jika ada pertanyaan, "Bagaimana jika Pak Jokowi 2 periode? jawabnya why not? Kita lihat nanti di pemilu 2019.


    Yogyakarta, 15 Juli 2018
    Penulis: Ali Ruslan
    Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Dollar, UMR dan Beras Jelang Reformasi dan Era Jokowi

    PEWARTAnews.com -- Beberapa waktu terakhir banyak orang membandingkan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar sudah menyamai kegentingan seperti 20 tahun lalu menjelang reformasi. Mereka mengidentikan situasi ekonomi yang sama daruratnya dengan situasi di jelang kejatuhan Presiden Soeharto.

    Apakah benar demikian? Mari kita bandingkan data-datanya antara Dollar, UMR dan harga beras.

    Pertama, Nilai Dollar dan UMR

    Nilai tukar Dollar di akhir Agustus 1997 berada di kisaran 1 USD senilai Rp 2.500,-. Sementara pada saat yang sama, UMR (Upah Minumum Regional) DKI di tetapkan Rp 172.500 per bulan atau sekitar 69 USD per bulan.

    Kondisi yang terjadi dalam waktu tidak lebih dari 10 bulan dari jelang akhir Agustus 1997 hingga rentang Januari - Juli 1998 nilai tukar Dollar merayap naik lalu melonjak mendekati Rp 16,800-. Di saat Dollar menyentuh Rp 16.800 itu UMR DKI ada di angka Rp 192.000 per bulan atau satu bulan UMR setara dengan 11,4 USD.

    Dari 1997 ke 1998 kenaikan UMR hanya Rp 20.000 atau sekitar 13% sementara kenaikan nilai Dollar mencapai 600%.

    Berdasar data itu maka turunnya daya beli masyarakat saat jelang Reformasi memang sangat tajam. UMR 1997 yang setara dengan 69 USD di tahun 1998 terjun bebas menjadi setara dengan 11,4 USD. Situasi ini di sisi lain juga membuat banyak perusahaan yang gulung tikar diikuti PHK massal.

    Sekarang kita bandingkan dengan situasi hari ini di era pemerintahan Jokowi. Pada saat Jokowi dilantik menjadi Presiden, Oktober 2014 nilai tukar Dollar berada di kisaran Rp 12.200,- pada saat yang sama UMR DKI berada di angka Rp 2.441.000 per bulan. Artinya di bulan Oktober 2014 UMR DKI setara dengan 200 USD.

    Hari ini Juli 2018 nilai tukar Dollar ada di kisaran Rp 14.400,- sementara UMR DKI Rp 3.648.000 per bulan atau setara dengan 253 USD.

    Dari Oktober 2014 hingga Juli 2018 Dollar merayap naik Rp 2.200 atau sekitar 18% sementara kenaikan UMR DKI dari Rp 2.441.000 menjadi Rp 3.648.000 atau naik sekitar Rp 1.200.000,- yaitu sekitar 49% dari Oktober 2014.

    Perbandingan kurs Dollar dengan UMR saat ini menunjukan bahwa naiknya kurs Dollar sebesar 18% tidak berdampak pada daya beli seperti pada situasi Mei - Juli 1998 dikarenakan pada kurun waktu yang sama saat ini UMR justru mengalami kenaikan 49%. Jika di konversi dengan Dollar maka dari tahun 2014 hingga 2018 UMR naik 26% dari 200 USD menjadi 253 USD.

    Jika di bandingkan dengan nilai tukar Dollar dan UMR pada Mei - Juli 1998 maka situasinya tentu jauh berbeda karena UMR Mei - Juli 1998 setara dengan 11,4 USD sementara dengan nilai tukar Dollar hari ini UMR setara dengan 253 Dollar artinya daya beli Rakyat jika menggunakan UMR sebagai alat ukur justeru lebih besar 23 kali lipat dari Mei - Juli 1998.

    Kedua, UMR dan Harga Beras

    Mari kita bandingkan daya beli masyarakat tahun 1998 dan hari ini dengan menggunakan perbandingan UMR dan harga beras. Pada Juli 1998 besaran UMR Rp 192.000 per bulan. Harga beras medium saat itu Rp 2800 per kilogram. Artinya pada saat itu Rakyat dengan UMR-nya hanya dapat membeli 69 kg beras perbulan.

    Saat ini UMR Rp 3.648.000 per bulan sementara Harga beras Medium sesuai HET (Harga Eceran Tertinggi) berada di kisaran Rp 9.500 hingga Rp 10.000 per kg. Dengan demikian saat ini setiap bulan Rakyat bisa membeli 364 kg beras hingga 384 kg beras per bulan.

    Jika dibandingkan kemampuan Rakyat membeli beras tahun 1998 dan saat ini maka kemampuan membeli beras naik dari 69 kg menjadi 384 kg per bulan atau naik sekitar 315 kg lebih banyak per bulan. Peningkatan ini hampir 6 kali lipat dari tahun 1998.

    Dari perbandingan-perbandingan tersebut di atas maka tentu tidak tepat jika nilai tukar Dollar hari ini yang berada di kisaran Rp 14.400 di samakan dengan kegentingan ekonomi yang sama dengan tahun 1998.

    Hanya ada dua kemungkinan kenapa ada orang-orang yang menyamakan nilai tukar Dollar hari ini sudah segenting 20 tahun lalu. Pertama mereka itu hanya melihat angka Dollar tapi tidak mengetahui angka angka lainnya termasuk UMR artinya data yang di miliki orang-orang itu sangat minim sementara nafsu bicara mereka sangat besar.

    Kedua, mereka paham data-data tersebut di atas tapi mereka mencoba mendramatisir situasi seolah menakutkan dan berbahaya. Opini ini bisa jadi di desain untuk tujuan politik.

    Desainer opini bermotif politik itu tentu berharap Rakyat percaya bahwa nilai tukar Rupiah terhadap Dollar di pemerintahan Jokowi seolah-olah sedang berada dalam situasi yang persis sama dengan situasi 20 tahun lalu.


    Jakarta, 19 Juli 2018
    Penulis: Adian Napitupulu
    Anggota DPR RI FPDI Perjuangan.
    Dapil Jabar V - Kab Bogor.

    Biasa-Biasa Saja

    PEWARTAnews.com -- Tentang anak muda, kadang mereka sakit hati/patah hati disebabkan karena terlalu berharap kepada orang lain. Harapan tersebut mudah saja timbul apabila menaruh rasa “kagum yang berlebihan” kepada orang lain. Pernah tidak berpikir mengapa Gusti Allah selalu mempertemukan kita dengan berbagai macam orang yang berbeda karakter, kepribadian, latar belakang (keluarga, karier, pendidikan)? Semua tak lain agar kita tidak “gumunan”. Gumunan inilah yang menyebabkan mudah sakit hati. Ketika seseorang menaruh rasa kagum yang berlebihan, maka orang tersebut akan mudah menaruh harapan kepada orang yang bersangkutan. Entah berharap soal asmara, reputasi, karier ataupun hal-hal lain. Padahal agama mengajarkan bahwa sebaik-baik harapan hanyalah yang disandarkan kepada Allah SWT.

    Boleh kagum kepada manusia, tapi sewajarnya saja. Pun begitupula dengan menjatuhkan perasaan kepada lawan jenis, sangat boleh. Namun yang perlu diingat, semua itu “biasa-biasa” saja, tidak usah memakai kata “banget”/ berlebihan. Bukankah perasaan cinta (kepada lawan jenis) merupakan anugrah yang diberikan Tuhan? Namun tetap mencintai itu sewajarnya saja, sehingga pada saatnya nanti melepaskan pun juga tidak akan berat. Atas dasar inilah, seharusnya manusia dapat memanage perasaannya dengan baik, jangan terlalu berharap / baper dan jangan pula berlebihan dalam memanifestasikan perasaan karena nanti akan berujung kepada sakit hati yang amat dalam.

    Sikap seperti ini bukan berarti saya tidak pernah merasakan “gejolak asmara” atau hanya omong kosong belaka, akan tetapi berdasar pada pengalaman pribadi yang empirik. Pastilah semua manusia pernah merasakan gejolak asmara, entah sekilas atau bahkan dipendam sangat lama. Mungkin pembaca dapat berimajinasi komunikasi dengan tambatan hati-nya  (face to face, melalui WA atau telpon) dan si dia ngrespon. Ada stimulus yang pada akhirnya menimbulkan respon. Apa yang terjadi? Senang dan bahagia bukan? Begitu analogi yang tepat bagi kedua insan yang saling merespon “sesuatu”. Sesuatu ini bisa dimaknai apa saja, bisa perasaan, pembahasan, diskusi, atau hal-hal lain. Akan tetapi ingat, biasa-biasa saja. Tak usah “baper”. Karena yang biasa-biasa saja itulah yang akan selamat dari kejamnya sakit hati dan pedihnya harapan semu.

    Kadang, ketika kita nyaman dengan seseorang inginnya WhatsApp-an terus, ketemu terus dan lain-lain. Itu jika kita menuruti perasaan yang ada dalam hati. Padahal semua itu harus ada “ritme, jeda dan spasi-nya”.

    Aku pun juga demikian kalau dalam posisi “punya perasaan dengan seseorang”. Jika hanya menuruti ego dan kata hati sudah pasti ingin selalu chattingan dengan-nya. Tapi, takutku lebih besar daripada ingin-ku dan harapan-ku kepada-Nya jauh lebih besar daripada semuanya. Dan suatu saat nanti, yang biasa-biasa saja akan bertemu dengan yang biasa-biasa pula. Tidak over dan tidak pula baper.

    Hasbunallah wa ni’mal wakil ni’mal maula wa ni’man nashir.


    Penulis: S. Mukaromah
    Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Mengomentari hastag #2019gantipresiden

    PEWARTAnews.com -- Saya sebenarnya tidak ada masalah dengan hastag #2019gantipresiden. Walaupun saya bukan orang yang mendukungnya, bagi saya sah-sah saja adanya masyarakat yang menginginkan perubahan. Atau sebagai kritik terhadap pemerintah. Adapun belum adanya capres yang diusung, tetap tidak masalah. Hastag #2019gantipresiden adalah ekspresi sebagian rakyat Indonesia yang tidak puas terhadap pemerintah. Hal ini sah-sah saja dalam negara demokrasi.

    Lambat laun, setelah saya mengikuti perkembangan hastag ini di facebook, whatsaapp dan instagram, saya mulai terusik. Mulai tidak nyaman. Karena setiap postingan-postingan akun-akun #2019gantipresiden tidak sehat. Adanya pencemaran nama baik, mengklaim mewakili Islam, menghujat ulama yang bersebrangan, dan lain-lain.

    Pencemaran Nama Baik
    Sepanjang pemerintahan kabinet "Kerja", kelompok pendukung #2019gantipresiden selalu menyerang sosok pribadi Pak Jokowi. Apakah salah? Tentu salah. Ini merupakan pencemaran nama baik. Kritik yang disertai hujatan harus kita tinggalkan. Terlebih kepribadian seorang pemimpin harus di jaga. Hal yang boleh dikritisi adalah kebijakannya. Boleh-boleh saja jika memprotes kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Itulah tugas oposisi. Mengawal pemerintahan.

    Mengklaim mewakili Islam
    Kalau kita ikuti, ada kata-kata yang biasa mereka ucapkan "Bela Ulama" "untuk Ummah". Yang perlu penulis tanyakan, emangnya tokoh-tokoh Islam yang dekat dengan pemerintah itu bukan ulama? Juga masyarakat yang mendukung pemerintah itu juga bukan ummah? diksi-diksi inilah yang melahirkan tuduhan kafir dan munafik kepada mereka yang bersebrangan. Sehingga memunculkan permusuhan sesama anak bangsa. Seakan-akan mereka yang bersebrangan bukanlah Islam.


    Hal ini dimulai dari KH Ma'ruf amin yang waktu itu disinggung oleh Pak Ahok. Setelah itu, sontak hastag #belaulama muncul. Mereka dengan semangat membela KH. Ma'ruf Amin. Saya pun termasuk yang membela beliau, walaupun ada tokoh NU juga yang bersebrangan dengan KH. Ma'ruf, tapi tetap saya bela KH Ma'ruf. Saya kagum juga melihat mereka membela KH Ma'ruf. Tapi kemudian saya kecewa, karena mereka juga yang menyerang KH Ma'ruf saat beliau mengambil sikap. Astagfirullah. Bela Ulama atau memanfaatkan ulama? Hal ini pun terulang kembali kepada TGB yang berbalik mendukung Jokowi. Seorang Ulama yang Hafidz Qur'an itu pun di hujat habis-habisan.

    Beberapa hal ini yang saya ikut menentang. Bahkan di salah satu grup Whatsapp yang mereka mayoritas pun saya gak peduli. Hal yang disayangkan jika mereka bersikap seperti ini, terlebih mereka dikenal lebih Islami.

    Saran
    Pertama, Berhentilah untuk bersikap seperti itu, karena itu mencoreng nama Islam sendiri. Juga menimbulkan perselisihan atas nama agama. Apalagi jika sampai tingkat mengkafirkan atau mencap munafik orang yang berbeda pilihan politiknya.

    Kedua, Terus Kritik pemerintahan berdasarkan data. Hal ini bisa mencerdaskan rakyat untuk memahami permasalahan negara.

    Ketiga, Hentikan hujatan terhadap pribadi pemimpin. Hal ini untuk menjaga wibawa pemimpin juga simbol negara kita.

    Keempat, Jalin silaturahim dan dialog kepada tokoh-tokoh agama dan bangsa terhadap masalah-masalah negara seperti Pak Mahfud MD di segi hukum, Dahlan Iskan di segi BUMN, Choirul Tanjung di segi ekonomi. Semoga bisa memunculkan solusi atas permasalahan.

    Setiap warga negara adalah saudara, Bhineka Tunggal Ika. Berbeda-beda tetap satu jua. Termasuk perbedaan dalam hal politik. Walaupun berbeda politik, kita tetaplah saudara. Mereka tetaplah Islam. Jangan sebut kafir atau munafik. Jadikan Fastabiqul khoirot sebagai dasar bersaing politik. Berlomba-lomba dalam kebaikan. Semoga manfaat.


    Penulis: Ali Ruslan
    Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Sekelumit Rahasia Wanita

    PEWARTAnews.com -- Berdasar pada wawancara temen-temen saya di kampus, pondok maupun organisasi kemasyarakatan. Mereka (para wanita) lebih nyaman dengan laki-laki yang memberikan peluang dan kesempatan untuk berbicara. Artinya, sebelum wanita selesai berbicara jangan sampai dipotong terlebih dahulu. Hal itu pasti langsung menurunkan mood nya. Bagi wanita (single) yang mudah memahami lelaki, mungkin hal itu tidak menjadi persoalan rumit hanya saja ia telah sedikit “mengkantongi”  alasan untuk tidak menerima ajakannya menikah. 

    Kadang, ego lelaki tidak mau mengalah. Dia ingin segala apa yang dikatakan dapat diterima, padahal sangat perlu dan harus ada masukan-masukan terutama dari wanita. Ada pertanyaan menarik dari temen “bagaimana cara memilih pasangan yang baik”? Saya hanya mengatakan, Pertama kali pilihlah pasangan yang Agamanya baik, dzahir dan bathin. Keshalehan laki-laki terletak pada Agamanya, namun kegantengan-nya terletak pada “bersedia-nya Tahlil dan Shalawat-an”. Rasionalisasinya, leluhur yang sudah tiada saja diperhatikan dan dimuliakan, apalagi pasangannya. Kedua, lihat bagaimana dia berbicara dengan ibumu. Ketiga, rasakan setiap kali mengobrol dengan-nya, bagaimana cara dia merespon dan memberikan feedback/umpan balik. Yang ke-empat temukan kenyamanan, keamanan dan kebahagiaan saat bersama-nya. Rasa nyaman dan aman inilah yang terkadang mudah dirasakan apabila “hati sudah satu frekuensi”.Karena itulah, jangan heran apabila ada pasangan yang sangat ganteng menikah dengan wanita yang biasa-biasa saja, atau bahkan sebaliknya. Karena bukan fisik yang utama, melainkan rasa nyaman dan aman itu lah yang menjadi pondasi dan patokan utama lelaki dan perempuan mantap mengarungi bahtera kehidupan bersama.

    Terakhir, seperti apapun wanita. Dia tetap-lah wanita yang membutuhkan lelaki. Sebagaimana “Arrijaalu qawwamuna ‘ala an-nisaa’. Redaksi ayat tersebut menggunakan ‘ala bukan fauqa padahal memiliki arti yang sama, tak lain lafal ‘ala bermakna “menempel” sedangkan fauqa “tidak”. Artinya, sejauh apapun wanita melangkah, secerdas apapun dia, sebaik dan seburuk apapun ia, laki-laki adalah tempat pulang yang paling nyaman.

    Sama halnya dengan rasa cinta dan sayang dari seorang anak perempuan kepada Bapak-nya. Ya Allah, Titip rindu untuk Bapak yang ada disana, Lahu Al Fatihah.


    Penulis: Siti Mukaromah
    Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Sekolahan Binatang

    Sastro Jendro.
    PEWARTAnews.com -- Al kisah, di sebuah hutan belantara berdirilah sebuah sekolah para  binatang. Layaknya sekolah manusia. Kurikulum sekolah tersebut mewajibkan setiap siswa lulus semua pelajaran untuk mendapatkan ijazah.

    Terdapat 5 mata pelajaran dalam sekolah tersebut:

    a. Terbang
    b. Berenang
    c. Memanjat
    d. Berlari
    e. Menyelam

    Banyak siswa yang bersekolah di "animals school", ada elang, tupai, bebek, kelinci dan kura2. Terlihat di awal masuk sekolah, masing masing siswa memiliki keunggulan pada mata pelajaran tertentu.

    Elang, sangat unggul dalam terbang. Dia memiliki kemampuan yang berada di atas kemampuan binatang lain.

    Demikian juga kura2, sangat mahir pada pelajaran menyelam.

    Namun, beberapa waktu kemudian karena "animals school" mewajibkan semua harus lulus 5 Mapel.

    Maka mulailah si Elang belajar memanjat dan berlari.

    Tupai pun berkali-kali jatuh dari dahan yg tinggi karena belajar terbang.

    Bebek seringkali ditertawakan meski sudah bisa berlari dan sedikit terbang. Namun sudah mulai tampak putus asa ketika mengikuti pelajaran memanjat.

    Semua siswa berusaha dengan susah payah namun belum juga menunjukkan hasil yang lebih baik.

    Tidak ada siswa yang menguasai 5 mapel tersebut dengan sempurna.

    Kini, lama kelamaan. Tupai sudah mulai lupa cara memanjat, bebek sudah tidak dapat berenang dengan baik karena sebelah kakinya patah dan sirip kakinya robek, karena terlalu sering belajar memanjat.

    Sahabat...
    Kondisi inilah yang saat ini terjadi mirip dengan kondisi pendidikan kita.

    Senin, 16 Juli 2018 anak-anak kita sudah mulai masuk sekolah lagi. Ada baiknya kita sedikit  merenung dalam menghadapi Tahun ajaran baru nanti.

    Hampir semua orangtua berharap anaknya serba bisa. Dan menjadi sangat stress ketika matematikanya dapat nilai 5.

    Maka si anakpun dipacu dengan: Les A, Kursus B, Privat C, Les khusus D, dan sebagainya serta berjibun kegiatan lainnya  tanpa memperhatikan dan fokus pada potensi dan bakat anaknya masing masing.

    Mari kita syukuri karunia  luar biasa yang sudah Tuhan berikan pada kita  para orang tua yang diamanahi anak-anak yang sehat,  lucu dan lincah.

    Setiap anak memiliki belahan otak dominannya masing masing. Ada yang dominan di limbik kiri, neokortek kiri, limbik kanan, neokortek kanan, juga batang otak. Sehingga masing masing memiliki kelebihan dan talentanya sendiri sendiri.

    Fokuslah dengan kelebihan itu, kawal, stimulasi dan senantiasa fasilitasi agar mereka terus berkembang optimal. Janganlah kita disibukkan dengan kekurangan anak kita, tapi fokuslah pada kelebihan dan bakatnya.

    Karena sesungguhnya setiap anak yang terlahir di dunia ini adalah cerdas dengan kelebihannya masing-masing, istimewa dengan bakatnya dan mereka adalah laksana bintang gemintang yang bersinar di antara kegelapan malam.

    Inilah saatnya kita sebagai orang tua bergandeng tangan menggali potensi diri anak dan anak didik kita seoptimal mungkin.

    Selamat berjuang Bapak Ibu Guru, Ayah dan Bunda. Semoga Tuhan mudahkan segala usaha kita untuk mengawal dan mengiringi kesuksesan peserta didik serta putra putri kelak di dunia dan di akhirat.


    Penulis: Sastro Jendro
    Pemuda Pencinta Islam Ramah, Islam Nusantara

    Ada Apa Dibalik Nama?

    “Memanggil orang dengan menyebut namanya, merupakan salah satu cara menyentuh hati dan jiwa-nya” (Mukaromah, 2018)

    PEWARTAnews.com – Sepele, tapi sesungguhnya sangat berarti dan bermakna. Saya merupakan salah satu orang yang sulit sekali menghafal nama orang, kecuali kalau orang tersebut mempunyai ciri khas dan karakteristik tertentu. Sudah hampir 6 bulan saya mengajar disebuah sekolah, tapi belum hafal juga nama-nama siswa dikelas tersebut, kecuali kalau siswa tersebut sering bertanya, kritis, aktif dan murah senyum. Sikap yang seperti itu mudah sekali untuk dihafal. Mungkin hal seperti ini dapat terjadi juga dikalangan dosen dan mahasiswa. Biasanya kalau dosen, cepat hafal nama mahasiswa yang “sering” duduk di depan dan yang sering bertanya.

    Memanggil seseorang dengan menyebutkan “nama-nya” merupakan sentuhan psikologi yang amat dalam. Hal ini mudah saja diamati dan dirasakan oleh setiap manusia. Seperti di Media sosial misalnya. Lebaran Idul Fitri kemarin banyak orang yang mengucapkan permintaan maaf dan selamat Idul Fitri dengan mengetik panjang lebar dan di share ke orang yang bersangkutan, namun tanpa menyebutkan nama orang yang dituju. Rasanya (orang yang dituju) ah nanti dulu-lah balasnya, mungkin ini hanya di broadcast (BC) ke semua orang.

    Jadi yang merasa melakukan hal semacam itu, jangan sakit hati ya apabila nggak dibalas-balas. Soalnya nggak jelas sih minta maaf sama siapa. Biasanya benar, hanya BC-an dan dishare ke semua kontak, untuk lebih mengefektifkan waktu dan kata. Memang pada dasarnya, semua amal perbuatan tergantung pada niatnya. Niat-nya sudah bagus ingi minta maaf dan lain-lain, tapi cara-nya saja yang kurang pas. Akan lebih baik apabila diedit dengan menyebutkan nama masing-masing orang yang akan dituju. Misal, “dek Mukaromah, kulo banyak salahnya mohon dimaafkan ya lahir batin dan kita saling mendoakan”. Redaksi seperti itu jauh lebih menyentuh hati dan membuat orang yang bersangkutan bergegas untuk membalas. Beda dengan Selamat hari Raya Idul Fitri mohon maaf lahir dan batin, Salam Mukaromah sekeluarga. Coba deh rasakan pakai hati. Beda kan?

    Begitu halnya dengan pemanggilan langsung/face to face. Mudah ditebak, bagi orang yang lupa-lupa ingat nama orang yang disapa, ia hanya akan memanggil/menjawab panggilan orang dengan sebutan “mbak, mas, om, bang, bung”. Kalau orang nggak peka, rasanya biasa aja alias tidak terlalu mempersoalkan pemanggilan yang penting tatapan mata dan wajahnya menghadap ke yang bersangkutan. Akan tetapi, ingatlah bahwa ketika kita menyapa orang lain dengan melampirkan namanya, maka orang tersebut akan sangat senang, merasa dihargai dan merasa namanya terkenang.

    Selain itu, saya sendiri suka membedakan pemanggilan nama. Kata “Bang + nama yang bersangkutan (ybs)” biasa saya lontarkan kepada temen-temen aktivis di kampus. Kata “mbak + nama ybs” saya ucapkan kepada teman-teman perempuan pada umumnya, sedangkan saya hanya memanggil nama “jeng + nama ybs” kepada orang yang benar-benar udah nempel dihati. Lain halnya dengan kata “Master, suhu, pak, kiyai, bu + nama ybs” saya berikan kepada senior saya. Adapun kata “Kang + nama ybs” biasanya saya pakai kata ini untuk temen organisasi kemasyarakatan. Sedangkan yang terakhir kata “Mas/Ms + nama ybs” hanya untuk orang-orang tertentu saja.

    Biasanya bagi wanita ada satu kata yang sangat terkesan dibenak-nya, ketika ada yang memanggil dengan sebutan “dek + nama”. Apalagi yang manggil tersebut orang yang disukai/dicintainya. Ah sepertinya ceprik-ceprik dihati, jangan baper yang masih jomblo.

    Marilah, kita belajar menghargai dan menghormati orang lain melalui hal-hal yang sangat sepele/kecil namun efeknya sangat luar biasa, yakni membiasakan memanggil nama orang dengan menyertakan namanya.


    Penulis: Mukaromah
    Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta


    FBN RI Se-DIY Gelar Syawalan dan Keakraban

    Pengurus FBN RI Kota Yogyaakarta usai acara Syawalan FBN RI se-DIY.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Minggu 1 Juli 2018 berlangsung rangkaian kegiatan syawalan dan keakraban Forum Bela Negara Republik Indonesia se-Daerah Istimewa Yogyakarta dengan mengusung tema “Semangat Kebersamaan Untuk Mewujudkan Bela Negara.” Kegiatan yang berlangsung di D’Barracs Coffee Shop ini diikuti sekitar 50 orang peserta yang pernah mengikuti Pendidikan Kader Bela Negara di Daerah Istimewa Yogyakarta.


    Diungkapkan oleh Ricco Survival Yubaidi, S.H., M.Kn. selaku Sekretaris Forum Bela Negara Kota Yogyakarta, menurutnya kegiatan Syawalan/Halal bi Halal ini digunakan sebagai ajang silaturrahim seluruh anggota FBN. "Halal bi Halal ini memberikan kedamaian dan sebagai ajang silaturahim antar pengurus maupun anggota. Manusia diciptakan oleh Allah SWT untuk saling berbaik hati, berkata lembut, tolong menolong. Namun kadang kala, ada beberapa yang melakukan perbuatan tercela seperti menyakiti hati, mencuri dan lain sebagainya," ucapnya.

    Selain itu, Ricco berpesan untuk senantiasa kita meminta maaf dan memohonkan maaf kepada sesama jika pernah ada kesalahan tanpa harus menunggu momen lebaran.

    Kegiatan Halal Bihalal yang merupakan tradisi di Indonesia ini telah dikenal sejak lama. Menurut Ricco, istilah tersebut digagas oleh KH Abdul Wahab Chasbullah, salah seorang pendiri NU. "Kisah tersebut bermula ketika Presiden Soekarno memanggil KH Wahab Chasbullah ke Istana Negara pada pertengahan bulan Ramadhan, untuk dapat dimintai pendapat dan sarannya untuk mengatasi situasi politik Indonesia yang tidak sehat," beber Ricco.

    Dalam momentum yang sama, Wakil Sekretaris FBN RI Kota Yogyakarta M. Jamil, S.H., juga mengatakan bahwasannya momentum Syawalan FBN se-DIY ini merupakan ajang konsolidasi pengurus dan anggota agar terus membangun kesadaran masyarakat di lingkungan dan profesinya masing-masing, itu semua sebagai bentuk begitu pentingnya keterlibatan kita dalam upaya bela negara. "Kita sebagai masyarakat dan juga pengurus FBN harus terus semangat dalam upaya bela negara sebagai bentuk rasa syukur dan cinta kita terhadap NKRI," katanya.

    Dalam kegiatan Syawalan/halal bi halal tersebut, selain hadir pengurus FBN RI DIY, hadir pula para pengurus harian FBN RI Kabupaten Sleman, FBN RI Kota Yogyakarta, FBN RI Kabupaten Gunungkidul, FBN RI Kabupaten Bantul dan FBN RI Kabupaten Kulonprogo. Beberapa pejabat lokal turut hadir dalam acara yang dibalut dengan kemeriahkan musik dan ditutup dengan Ikrar Syawalan dan Foto Bersama. (PEWARTAnews)

    FKPP Kota Yogyakarta Gelar Silaturrahim dengan Kapolresta

    FKPP foto bersama Kapolresta Kota Yogyakarta usai pertemuan, (03/07/2018).
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Yogyakarta periode 2015 -2017, H. Ahmad Yubaidi, SH MH,  yang sekarang  menduki jabatan Wakil Ketua Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP) Kota Yogyakarta, bersama Ketua FKPP Hj Fatimah Asmuni, beserta bapak Kasi Pontren Drs H.  Bambang Inanta, pada hari Selasa, 3 Juli 2018 pukul 13.00 diterima oleh Kapolresta  Yogyakarta, Kombes Pol. Armaini, SIK di Mapolresta Yogyakarta.

    Kunjungan silaturahim masih dalam suasana bulan syawal yang dipergunakan halal bi halal karena selama ini sudah terjalin komunikasi antara FKPP Yogyakarta dengan Kapolresta. Masih dalam suasana tugas awal di Yogyakarta dalam waktu 2 bulan kapolresta sudah sibuk dengan tugas. Menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat adalah tugas yang sudah ditekuni sejak lulus Akpol Semarang angkatan 96.

    Wakil Ketua FKPP Kota Yogyakarta Ahmad Yubaidi, SH MH mengatakan bahwasannya Kapolresta Yogyakarta dalam silaturahim ini menerima baik undangan dari FKPP yang akan mengadakan Halal bi Halal di Kantor Kementerian Agama Kota Yogyakarta pada hari Jumat, tanggal 6 Juli 2018. "Halal bi halal akan dihadiri Kapolresta Yogyakarta dan juga dihadiri Kakankemenag Yogyakarta,  Drs Sigit Warsita. Selain itu, di diundang pula Walikota Yogyakarta dan Ketua DPRD Kota Yogyakarta," ujarnya.

    Lebih lanjut, Ahmad Yubaidi menghapkan seluruh Pondok Pesantren datang lebih awal dan memanfaatkan sebaik mungkin pertemuan ini untuk ajang silaturrahim antar ponpes se-Kota Yogyakarta. "Diharapkan pengasuh Pondok Pesantren Yogyakarta dapat hadir lebih awal dan memanfaatkan silaturahim yang sudah difasilitasi oleh FKPP Kota Yogyakarta. Setiap pesantren yang diundang diwakili oleh 1 orang pengasuh dan 1 orang ketua/lurah pondok," bebernya. 

    Lebih jauh, dalam kesempatan halal bi halal yang akan di helat beberapa hari lagi, wakil ketua FKPP menghimbau Ponpes dan semua elemen masyarakat agar bahu membahu menyuarakan gerakan ayo mondok. Selain itu, kata Ahmad Yubaidi, untuk lebih luas dan masif lagi penyebaran hal-hal positif dalam islam, seorang harus mempunyai akhlak yang baik. "Untuk mendakwahkan Islam dan memperbaiki akhlak masyarakat perlu digerakkan teladan dari para pemimpin (eksekutif legislatif yudikatif dan tokoh masyarakat serta orang tua)," katanya. (rls / PEWARTAnews)

    Hal Penting untuk Anak yang Luput dari Perhatian sebagian Orangtua

    PEWARTAnews.com -- Menafkahi, mendidik, mengayomi, dan memberi teladan kepada anak, sudah menjadi kewajiban bagi Orang tua sebagai bentuk pertanggungjawaban di dunia dan di akhirat kelak. Pertanggungjawaban itu tidak bisa luput dari kita mulai dari dalam perut ibunya sampai dia sudah menemukan jodohnya dan kita mengesahkannya, bahkan sebagian dari kewajiban di atas, masihlah melekat pada kita sebagai orang tua, artinya walaupun pada kenyataan secara agama (Islam) bahwa anak kita setelah ijab dan kabul, maka sama halnya dengan menyerahkan sang anak untuk dinafkahi, dididik, dipelihara, diayomi, dan diteladankan oleh orang yang menjadi pilihan pasangan hidupnya tentang segala sesuatu yang bersifat duniawi dan ukhrawi.

    Selain tugas-tugas di atas, ada hal lain, yang oleh sebagian orangtua mengabaikannya, padahal itu merupakan salah satu yang mendukung tentang kebutuhan perasaan dan rasa bahagianya di masa umur sekitar 1,5 tahun sampai sekitar usia 6 tahun. Penyataan demikian, terpancar dari ekspresi dari raut dan tindakan mereka setelah berada pada objek yang kita pilihkan. Meskipun itu, bukan menjadi kewajiban bagi kita, tetapi demi kebahagiaan di masa usianya seperti yang sudah digariskan di atas, sifatnya cukuplah menunjang bagi dirinya sehingga tidaklah terkesan seperti yang biasa dilontarkan oleh sebagian orang menyatakan "kurang bahagia di masa kecil", walaupun demikian hanyalah pernyataan lelucon terhadap usia remaja atau dewasa yang mungkin menunggangi patung-patung hewan atau bermain kuda-kudaan yang kebetulan terlihat oleh teman-teman sejawatnya.

    Tindakan itu adalah mengajak dia untuk bermain atau menemaninya di tempat-tempat bermain yang layak dan sesuai dengan usianya. Seperti usia yang dikisarkan di atas, berdasarkan pengamatan dan atau pengalaman penulis, maka tempat yang dianggap cocok adalah, taman-taman mainan anak yang di dalamnya terdapat patung-patung buatan dari berbagai jenis hewan atau satwa yang bisa ditunggangi atau hanya sekadar ia berdiri di sampingnya sambil dia memegang atau merabanya, terlebih lagi ditunjang dengan pandangan yang asri dari berbagai pepohonan, dan bunga-bunga yang ditata rapi serta tempat yang agak luas beralaskan rerumputan yang terus-menerus dipelihara demi kenyaman pengunjung taman, yakni taman-taman seperti yang disiaplan oleh pemerintah kabupaten/kota, provinsi, maupun pusat. Selain daripada itu, bisa juga diarahkan pada taman-taman buatan yang dikelola swasta yang apabila memasukinya menggunakan tiket dengan nominal yang bervariasi bergantung sungguh dari kapasitas dan kekayaan akan isi taman tersebut.

    Kemudian, dapat juga di ajak pada tempat yang memang terdapat wahana permainan, hewan-hewan atau satwa yang asli, tetapi jangan sampai terlalu mendekati tempat satwa tersebut, terutama terhadap binatang-binatang buas, apalagi berbadan besar dan bersuara besar meskipun pada tempat yang sudah dipagari atau dikurung karena bisa saja anak-anak kita merasa ketakutan dikarenakan mungkin berbagai kondisi tubuh dan psikis yang bervariatif bahkan bisa mengakibatkan rasa trauma walaupun tidak juga bisa dipungkiri ada kalanya anak usia 1,5 sampai 6 tahun itu sebagai pemberani dan bahkan berkeinginan menunggangi hewan-hewan atau satwa tersebut.

    Mengapa perlu ada perhatian kita mengajak ke taman bermain atau tempat satwa yang ditunjang dengan taman-taman yang penuh dengan bunga dan pepohonan yang penuh kehijauan dan beralaskan rerumputan yang terus-menerus dipelihara?

    Menurut Penulis, ada beberapa hal akan dialami dan dirasakan langsung oleh anak kita, baik laki-laki maupun perempuan.

    Pertama, rasa nyaman yang terlihat pada rautnya karena dia melihat pemandangan lain dari yang pernah dilihat di rumah dan sekitarnya. Tentu saja, anak kita kegirangan karena tempat yang dianggap beda luas dan bervariasi isinya. Efeknya adalah suasana yang nyaman dan anak kita akan lebih leluasa berlari dan berkeliling mengitari luasnya taman. Di samping itu, mereka akan lebih leluasa merenggangkan otot-ototnya dengan berlari-lari menuju tumbuh-tumbuhan, pepohonan, dan patung hewan serta wahana permainan. Dari itu, tumpukan atau sisa-sisa makanan dalam bentuk cairan yang tidak dimanfaatkan lagi oleh tubuh, dapat dengan sendirinya keluar melalui saluran-saluran atau pori-pori dalam bentuk keringat. Pada akhirnya, secara perasaan dan kondisi badannya akan dirasakan nyaman, sepeti halnya kita yang dewasa selesai berolah raga dan mandi usai olah raga tersebut.

    Kedua, rasa bahagia dikarenakan melihat wahana permainan, patung-patung satwa atau dalam bentuk aslinya, serta melihat banyaknya teman-teman sebayanya yang ada pada saat itu. Dari rasa itu, tentu akan lebih memotivasi lagi dirinya dengan memacu keingintahuannya terhadap apa yang dilihat dan diraba olehnya, apalagi sambil kita memberitahu dan menjelaskannya. Belum lagi, rasa ingin bermain bersama teman sebaya dengan mendatangi seakan sudah pernah mengenal sebelumnya kemudian mengajaknya bermain secara langsung melalui tindakan nyata. Pada akhirnya, dia dengan sendirinya menanamkan sifat sosial seakan kembali mengingatkan kita untuk terus bersilaturrahim dan memperbanyak kawan serta tidak memandang siapa dan orang mana.

    Ketiga, memacu kepekatan matanya terhadap warna, baik dari bunga, pepohonan, dan rerumputan yang ada di sekitar tempat ia bermain. Efek yang akan didapatkannya, seperti pandangan dari Psikologi warna bahwa dengan melihatnya akan menyehatkan mata. "Maka, mulailah dengan mengucap bismillah dan lihatlah keindahan pemandangan tumbuhan-tumbuhan hijau disekitar Anda yang mana tanpa sengaja, hal itu selain bisa membuat Anda senang, itu juga dapat membuat mata Anda sehat, menghilagkan stres, dan juga membuat fikiran menjadi santai (Mishba7 blog).

    Keempat, merangsang otaknya untuk terus bekerja. Dengan banyaknya hal yang berbeda dari yang ia lihat, tentu matanya akan terus memanah objek-objek yang ada, apalagi bentuk pepohonan yang bervariasi, baik dari ukuran tinggi, besar, dan warna pepohonan tersebut. Kemudian dari patung satwa atau bentuk yang asli, dilihatnya berbagai bentuk, jenis, warna, dan ukurannya. Ini semua sudah pasti membuat otaknya harus memroses semua dari berbagai yang dilihat. Ditambah lagi otak mereka masih banyak yang kosong, maka akan tambah memacunya. Di sinilah, si anak akan terus berpikir dari berbagai apa yang dilihatnya yang kemudian secara otomatis, otaknya akan terus bekerja, menghadirkan referensi baginya yang akan ia interpretasikan ketika ia besar nanti, atau setidak-tidaknya yang ia akan dapatkan di masanya adalah nama atau identitas dari yang dilihatnya atas informasi yang diberitahukan pada saat kita mendampinginya. Hukum kausalitasnya adalah banyak yang dilihat, dibaca, dan didengar, tentu banyak yang menjadi referensi untuk diproduksi melalui verbal maupun tangan kita.

    Dengan demikian, perbanyaklah mengajak anak kita pada usia 1,5 sampai 6 tahun bahkan sampai ia sebelum usia 13 tahun, ke tempat-tempat yang baginya adalah baru dan penuh fasilitas, baik dari mainan, satwa (patung atau asli, bunga-bunga, rerumputan, dan pepohonan yang banyak dan rindang. Maka, Insya Allah anak kita akan tumbuh dengan penuh semangat, sehat matanya dari berbagai warna yang ia lihat dan sehat tubuhnya dari udara segar yang ia hirup serta banyak pengalaman dan atau pengetahuannya dari yang ia peroleh di sekitar tempat yang dia datangi.

    Demokrasi: Kedaulatan Ada di Tangan Allah SWT

    PEWARTAnews.com -- Demokrasi dalam pandangan masyarakat Indonesia sebagian besar ada di tangan rakyat. Adigium suara rakyat di tangan tuhan dan dari rakyat untuk rakyat adalah cerminan demokrasi yang menjadi kalimat sakti bagi para politisi yang terlibat langsung dalam proses pilkada gubernur, bupati, walikota. Begitupun dalam tingkat demokrasi pemilihan legistatif dan pemilihan presiden. Suara rakyat adalah suara tuhan yang menjadikan dalam setiap keputusan, nasib dan takdir sesorang dalam proses di atas ada di tangan rakyat. Uji strategi dan kemampuan figur dan tim sukses dalam mengambil hati rakyat untuk meyakinkan pilihannya merupakan yang terbaik adalah modal utama bagi para figur untuk memenangkan pertarungannya.

    Visi dan misi calon menjadi alat instrumen untuk meyakinkan rakyat bahwa inilah yang akan dilaksanakan ketika sudah terpilih nanti. Namun dalam proses demokrasi acap kali calon, timses, bahkan oknum rakyat itu sendiri melakukan hal-hal yang menodai proses demokrasi itu sendiri. Peran opini atau isu yang bersliweran di berbagai dunia maya dan real masyarakatnya menjadi catatan dalam proses demokrasi di Indonesia baik di tingkat pusat sampai ke daerah. Gerakan-gerakan 'black campain' atau menghancurkan pihak lawan menjadi salah satu warna yang nampak dalam pemilihan gubernur, bupati, walikota, dan presiden. Berita hoaks yang sengaja diciptakan dan dibenturkan oleh kepentingan partai, kelompok tertentu dan pribadi telah merusak tatanan dalam proses demokrasi di indonesia.

    Tahun ini pemilihan pilkada serentak di berbagai daerah Indonesia telah selesai di laksanakan pada hari Rabu, 27 Juni 2018. Hasil pemenangnya melalui versi Quick Qouent lembaga survei telah di ketahui pemenangnya. Salim klaim kemenangan menjadi warna tersendiri namun kita tunggu hasil penghitungan KPU di setiap daerah dan ketetapan dari Allah SWT yang memberikan kewenangan sebesarnya untuk menjadi pemimpin bagi rakyatnya. Semuanya sudah menjadi ketentuanNya dan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya kelak.

    Dalam geliat proses demokrasi tersebut sesungguhnya yang harus tertanam pada setiap pribadi manusia sebagai ulil amri dan khalifah di dunia ini ketetapan dari Allah SWT menjadi suara tertinggi di setiap proses manusia. Manusia hanya bisa berusaha atas ikhtiar yang di inginkan, namun kesemuanya itu kembali ketetapan Allah SWT termasuk dalam pandangan Islam tentang demokrasi. Ketentuan dan ketetapan dari Allah SWT menjadi pondasi dasar dan mindset kita dalam menentukan langkah dan sikap kita dalam meyakinkan rakyat untuk memilih setiap pemimpin dan wakil rakyat merupakan ketetapan Allah SWT. Segala upaya dan usaha sudah di gariskan oleh Allah SWT akan menjadi apa kita ini. Pada prinsipnya setiap manusia adalah pemimpin. Pemimpin bagi diri sendiri, keluarga, kelompok, masyarakat, bangsa dan negaranya. Ketika kita meyakini 100 % ketetapan demokrasi itu dari Allah SWT maka kita siap menerima sebuah kekalahan dan kemenangan dalam proses demokrasi ini. Sesungguhnya apa yang kita alami saat ini. Problem kebangsaan dan demokrasi ini kalaupun kita kembali meyakini bahwa segala sesuatu itu kembali ke Allah SWT maka dari itu kita harus taat kepada ketentuan Allah SWT. Kun Fayakun, jadi maka jadilah. Makna dari itu semua manusia hanya bisa berusaha namun ketetapan-Nya menjadi ketentuan akhir dari segala upaya.


    Penulis: Eka Ilham, M.Si.
    Ketua Umum Serikat Guru Indonesia (SGI) Kabupaten Bima.

    Kuliah Kerja Nyata dalam Paradigma Mahasiswa

    PEWARTAnews.com -- Tridharma Perguruan Tinggi (Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian, Pengabdian).

    Bagi mahasiswa yang kuliah sambil bekerja --KKN merupakan perjuangan dan pengorbanan. Bagi mahasiswa Jomblo --KKN adalah moment yang tepat untuk mencari pasangan hidup, serta yang tak kalah menariknya bagi mahasiswa yang progressif dan visioner --KKN sebagai ajang untuk melatih kemandirian dan mempersiapkan diri untuk terjun ke masyarakat agar kelak tidak kaget saat sudah tiba waktunya untuk menikah” (Mukaromah, 2018).

    KKN merupakan serangkaian proses yang harus dilalui dan dijalani oleh mahasiswa sebagai wujud dari tanggungjawab akademik. Suka tidak suka, mau tidak mau, tetap harus dilalui. Selain hal tersebut merupakan tanggungjawab yang harus dilakukan oleh mahasiswa, KKN juga merupakan salah satu bentuk kontribusi nyata dari lembaga pendidikan (kampus) kepada masyarakat. Tujuan dari KKN ialah Action (Mengaplikasikan, mempraktikkan, mengimplementasikan, mengamalkan) ilmu yang telah didapat baik di bangku perkuliahan maupun organisasi melalui keterlibatan didalam masyarakat.

    Implikasinya, agar mahasiswa dapat menjadi generasi penerus pembangunan bangsa yang peka terhadap realitas sosial dengan memulainya dari sekup terkecil yakni masyarakat. Karena masyarakat merupakan titik awal dan pondasi terkuat bagi pembangunan nasional. Oleh dasar itulah, civitas akademika (kampus) menyelenggarakan KKN untuk mencerdaskan, mensejahterakan dan memberdayakan masyarakat melalui kegiatan-kegiatan yang edukatif dan inspiratif.

    Di kalangan mahasiswa, KKN mempunyai berbagai macam varians rasa. Bagi mahasiswa yang kuliah sambil bekerja mereka berpendapat bahwa KKN membutuhkan perjuangan dan pengorbanan. Bagi mahasiswa Jomblo mereka mengatakan bahwa KKN merupakan moment yang tepat untuk mencari pasangan hidup, serta yang tak kalah menariknya bagi mahasiswa yang progressif dan visioner mereka memaknai KKN sebagai ajang untuk melatih kemandirian dan mempersiapkan diri untuk terjun ke masyarakat agar kelak tidak kaget saat sudah tiba waktunya untuk menikah.

    Hal tersebut tidak serta merta tanpa dasar, melainkan mempunyai esensi yang sangat dalam. Dapat dibayangkan, bagi mahasiswa yang tidak diberi kiriman uang oleh orangtuanya lalu mereka sehari-harinya bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup, tentu akan mengalami defisit keuangan. Selama 2 bulan tidak ada “income”/ pemasukan. Kemarin sempat mengobrol dengan teman yang sudah ngajar di suatu sekolah (SD di daerah Magelang), ternyata tidak boleh cuti, sedangkan penempatan KKN dia ada di Gunung Kidul. Ah, saya tidak bisa membayangkan seperti apa. Inilah yang disebut bahwa KKN membutuhkan perjuangan dan pengorbanan. Perjuangan merupakan suatu proses yang membutuhkan energi dan kesungguhan untuk mengalahkan segala hal demi menyelesaikan suatu tanggungjawab yang harus segera diselesaikan (dalam konteks ini KKN).

    Begitupula dengan pengorbanan yang merupakan manifestasi dan pancaran dari kecintaan dan kebaktian terhadap suatu hal. Mahasiswa bisa saja mengatakan aku ingin KKN dan siap untuk ditempatkan dimana saja, Namun tanpa ada kesediaan berkorban (termasuk mengorbankan tiada income, cuti mengajar, dan lain-lain) hal itu tidak-lah berarti sedikitpun. Karena dalam pengorbanan hanya ada ketulusan. Ya, tulus sepenuh hati tanpa ada pikiran “menguntungkan atau merugikan” ! Begitu pula dalam memaknai KKN. Inilah bentuk jihad dan pengabdian yang sesungguhnya.

    Selain itu, ada pula yang memaknai KKN sebagai ajang untuk menemukan jodohnya. Mungkin ini bisa saja terjadi, bayangkan ya 2 bulan bersama. Insya Allah cukuplah yak untuk ta’arufan dan mengetahui kebiasaan, karakter dan sifatnya. Buktinya dengan berdasar realita empirik ada banyak kakak tingkat saya yang pada akhirnya menikah dengan teman se-posko. Mungkin mereka yakin dengan adanya unen-unen jawa yang mengatakan “witing tresno jalaran seko kulino – Cinta karena tiap hari ketemu”. Dengan adanya keyakinan itulah, Gusti Allah menumbuhkan benih-benih cinta diantara keduanya. Barangkali, ada yang mau mencoba ini. Monggo, terutama bagi yang masih jomblo, dan bagi yang sudah mempunyai pasangan, jangan lupa ya Profile WhatsApp nya diganti bersama pasangan-nya masing-masing agar tidak di baper-baperi sama temen se-posko. Hahaha, hanya saran.

    Terakhir, KKN merupakan ajang untuk melatih kemandirian dan sebagai bekal guna mengarungi kehidupan selanjutnya. Entah seperti apapun mahasiswa, secerdas dan sehebat apapun ia, se-aktivis di organisasi apapun. Kelak akan kembali membangun Indonesia. Dan salah satu step-nya melalui masyarakat baik desa maupun kota. Masyarakat (khususnya pedesaan) tidak akan memandang seseorang dari latar belakang pendidikan-nya, jabatan-nya dll. Namun yang dipandang ialah dapat berkontribusi nggak untuk masyarakat? Dalam bahasa Jawa-nya, Srawung e karo tonggo apik nggak – Bersosial dengan tetangga baik nggak? Itu yang diperlukan.

    Oleh dasar itulah, salah satu dari banyak tujuan Perguruan Tinggi ialah mencetak output dan outcome yang tanggap akan realitas sosial kemasyarakatan. Dan bagi seorang wanita, seperti apapun dia (entah berpendidikan tinggi, aktivis, ataupun wanita karier)  juga harus bisa memasak. Kata mayoritas orang, mahir memasak merupakan salah satu indikator keharmonisan rumah tangga. Dengan demikian, sangat cocok apabila KKN dijadikan sebagai ajang untuk berlatih dalam segala hal, prihatin tidak ada income, dan membaur dengan masyarakat. Karena kelak, seperti apapun mahasiswa akan tetap kembali kepada fitrahnya dengan menjadi bagian dari masyarakat.

    Selamat KKN, semua orang pasti pernah mengalaminya. Bedanya, hanya penyebutan nama! Jadi, santai saja. Nggak usah sepaneng. Hehe.


    Penulis: Siti Mukaromah
    Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Politik untuk Pembelajaran dan Mendidik Diri Sendiri

    "PKS mungkin sering menyerang tadisi dan ulama NU (Nahdlatul Ulama), jika kader NU menyerang balik itu wajar dan sah secara syar'i. Tapi jika para saudaraku kaum santri membalas dan menanggapinya dengan akhlaq yang luhur, maka akan menjadi teladan yang berharga bagi pembangunan karakter bangsa dan sekaligus menjadi pendewasaan dan pematangan bagi kehidupan keberagamaan dan politik kebangsaan kita ke depan"

    Umaruddin Masdar. 
    Kekalahan Drs. Syaifullah Yusuf (Gus Ipul) di pemilihan Gubernur Jawa Timur (Pilgub Jatim) dan Mbak Ida Fauziah di pemilihan Gubernur Jawa Tengah (Pilgub Jateng) menjadi justifikasi sebagian saudara kader NU untuk menyerang dan menyimpulkan: Gus Ipul dan Mbak Ida kalah karena didukung partai keadilan sejahtera (PKS). Karena akhir-akhir ini sedang nge-trend hesteg #GuremkanPKS, Gus Ipul dan Mbak Ida kena imbasnya. Begitu kesimpulan sebagian saudaraku kader NU.

    Simplifikasi seperti ini sah-sah saja, tapi kontraproduktif dan kurang mendukung cita-cita besar NU sendiri yang merupakan garda depan dan benteng kehidupan keagamaan dan politik yang damai dan toleran.

    Ada tiga hal kondisi faktual yang perlu diperhatikan secara komprehensif dan arif di sini. Pertama, di berbagai daerah lain, NU dan PKS juga "berkoalisi" dan menang, seperti di Sumatera Utara. PKB mendukung Edy Rahmayadi, menang. Di Pamekasan, kader NU juga menang Pilkada, dan berkoalisi dengan PKS.

    Politik bagi mereka yang tercerahkan justeru menjadi wahana efektif untuk mematangkan dan mendewasakan masyarakat sehingga sekat-sekat primordial dan perbedaan ideologi bisa diatasi dan dilampaui secara alami. Kalau pada tataran amaliah, NU dan PKS sering berbeda, tapi politik bisa mendamaikan keduanya. Ini artinya, politik bisa mendewasan kehidupan keberagamaan kita. Jangan dibiarkan sebaliknya: politik mendegradasikan keberagamaan kita yang pada ujungnya akan merusak kehidupan agama itu sendiri, dan kehidupan bangsa secara luas.

    Kedua, ciri khas politik dan dakwah NU adalah merangkul dan menebar rahmat untuk semua. Hal ini karena dakwah dengan hikmah jauh lebih efektif dan menentu, daripada dakwah dengan menyerang. Di sisi lain, dalam pandangan sebagian besar ulama panutan NU: akhlaq berada di atas ilmu.

    Cara berpolitik dan dakwah seperti ini sangat efektif untuk mencapai sasaran, seperti dicontohkan para ulama dan aulia.

    Gus Dur misalnya mengesahkan Khonghucu sebagai agama resmi negara. Orang yang kurang memahami tradisi pemikiran NU, langkah Gus Dur dianggap keliru fatal. Tapi bagi yang bisa melihat dengan jernih dan seksama, langkah Gus Dur itu merupakan dakwah yang sangat dahsyat.

    Di satu sisi Gus Dur menunjukkan kebesaran dan universalisme peradaban Islam sekaligus mengembalikan syariat kepada tujuan asasinya, yaitu melindungi keyakinan dan kepercayaan setiap manusia. Di sisi lain, dengan disahkannya agama Khonghucu, ratusan juta umat Islam di negeri China merasakan kebebasan menjalankan syariat agamanya.

    Bagi kiai NU, hubungan baik Gus Dur dengan para tokoh di Israel (yang kemudian dilanjutkan oleh KH Yahya Staquf) dilihat dalam perspektif yang komprehensif, sebagai bagian dari perjuangan politik global dan dakwah universal. Perspektif ini sering tidak dimiliki oleh mereka yang berada di luar NU.

    NU dengan tradisi berpikir mazhab yang sangat kokoh dan membumi, kata Gus Dur, bisa keluar dari cara pandang monokultural dan tunggal terhadap fakta politik dan realitas. Dan begitulah seharusnya kita melihat fakta koalisi pra pilkada, juga hasil pemilu pasca pilkada.

    Ke-NU-an kita lebih sempurna jika kesadaran kita dalam beragama dan berbangsa sudah bisa menempatkan mereka yang di luar NU sebagai saudara. Mungkin mereka lawan kita dalam politik atau ideologi, tapi keluwesan NU tetap bisa merangkul dan menghormati mereka sebagai saudara sebangsa atau sesama manusia. Bukankah di sini letak keagungan konsep ukhuwwah Islamiyah, ukhuwwah wathaniyah dan ukhuwwah basyariah yang diusung para guru kita terdahulu?

    Ketiga, mensyukuri kekalahan Gus Ipul dan Mbak Ida dan menyalahkan mereka karena didukung oleh PKS dari sudut akhlaq santri menjadi sesuatu yang kurang elok.

    Bukankah di belakang Gus Ipul ada kiai-kiai besar NU seperti Gus Din Ploso, Mbah Nawawi Sidogiri, Ra Kholil Situbondo dan ratusan kiai dan para masyayikh yang lain? Demikian juga Mbak Ida didukung oleh kiai-kiai besar NU seperti Mbah Dim Kaliwungu, Mbah Subhan Brebes, Mbah Munif Mranggen, dan ratusan kiai NU di Jateng?

    Menyerang dan menyalahkan Gus Ipul dan Mbak Ida, tanpa kita sadari sama artinya dengan menyerang, menyalahkan dan melukai hati para kiai yang mendukungnya.

    Bagi para santri tradisi sami'na wa atho'na secara mutlak diyakini merupakan syarat untuk mendapatkan ilmu dan hidup yang manfaat-barokah. Menyerang atau menyakiti hati guru, adalah perbuatan yang masuk kategori "dosa besar".

    Ketika seorang santri menghadapi suasana dilematis, misalnya para guru atau kiainya berbeda pendapat, maka sikap yang akan dipilih biasanya adalah "diam".

    Seperti tercantum dalam kitab Zubadnya Ibnu Ruslan:
    وما جرى بين الصحا ب نسكت

    "Apa yang terjadi di kalangan para kiai, kita memilih sikap diam"

    Sikap diam merupakan cara santri untuk menjaga akhlaq kepada guru dan para kiai, agar jangan sampai kita berprasangka buruk dan menyalahkan atau membuat para guru kita tidak ridho. Meski misalnya di mata seorang santri, pilihan politik kiainya adalah tidak tepat, si santri tetap tidak akan mengurangi sedikitpun penghormatan dan ketawadhuannya kepada kiai.

    Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu: Syarh al Muhadzdzab, menulis kisah dan pesan yang sangat agung untuk kita semua warga NU yang ingin menjadi santri sejati:

    وقد كان بعض المتقدمين إذا ذهب إلى معلمه تصدق بشيء وقال : اللهم استر عيب معلمي عني ، ولا تذهب بركة علمه مني

    Ulama terdahulu ketika berjalan menuju tempat mengaji di hadapan gurunya, mereka bersedekah kepada orang yang ditemuinya.
    Selama di dalam perjalanan itu, mereka berdoa:
    “Ya Allah tutuplah aib guruku dari mataku (sehingga aku tidak melihat kekurangan pada diri guruku. Dan jangan sampai ada seorang pun yang memberitahukan aib guruku); dan jangan sampai hilang keberkahan ilmunya dariku."
    Mereka khawatir jika mengetahui kekurangan gurunya akan mengurangi rasa hormat mereka pada gurunya.

    Semoga kita bisa selalu menjaga akhlaq sebagai santri dan menjadikan setiap peristiwa politik sebagai pangkalan pendaratan untuk suatu proses transformasi diri dan masyatakat menuju tatanan yang lebih kokoh, dewasa dan damai, meski kita tetap berbeda-beda, baik berbeda sementara maupun selamanya. Semoga.

    Malam Jumat Kliwon, bakda Yasinan-Tahlilan, Bantul, 28 Juni 2018


    Penulis: Umaruddin Masdar
    Pengasuh Majlis Zikir & Ta'lim "Hayatan Thoyyibah" & Sekretaris DPW PKB DIY

    FIMNY Sumbang 4 Kardus Buku untuk Pustaka Semesta Bombo Ncera

    Pengurus FIMNY saat menyerahkan sumbangan buku untuk Pustaka Semesta. 
    Bima, PEWARTAnews.com -- Bombo Ncera adalah salah satu tempat wisata alam (air terjun) yang ada di ujung utara Desa Ncera, dulu Bombo Ncera belum ada yang mengurusi secara intens sehingga belum tertata dengan baik dan fasilitas pendukung lainnya pun belum tersedia.

    Kondisi Bombo Ncera sekarang sudah sangat beda, jauh lebih bagus dari beberapa tahun sebelumnya. Saat ini Bombo Ncera sudah mempunyai fasilitas pendukung wisata yang lengkap seperti Toilet, Masjid, Tempat Ganti, dan fasilitas lainnya. Tiap hari, entah hari biasa lebih-lebih akhir pekan banyak sekali pengunjung yang datang. Selain dikenal sebagai wisata alam dengan kemurnian airnya, Bombo Ncera juga sekarang sudah dikenal dengan Wisata Edukasi, karena saat ini sudah memiliki perpustakan yang diberi nama “Pustaka Semesta” berkat keuletan dan kreatifitas Komunitas Pemuda Pemerhati Bombo Ncera (KPPBN).

    Kebutuhan perpustakaan Semesta masih sangat terbatas, untuk menunjang kebutuhan pustaka tersebut, tanggal 17 Juni 2018 Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) telah memberikan sumbangsih berupa buku sebanyak  4 (empat) kardus buku, dengan jumlah kurang lebih 100 buah buku. Buku yang disumbang FIMNY sangat bervariasi, mulai dari buku SD, SMP, SMA sampai dengan buku yang layak dibaca oleh mahasiswa/mahasiswi maupun ibu-ibu rumah tangga yang akan melakukan kunjungan wisata di Bombo Ncera.

    Kondisi Pustaka Semesta masih begitu terbatas, salahsatunya masih kekurangan rak buku dan lainnya, sehingga masih sangat membutuhkan dukungan dari seluruh elemen masyarakat. Melihat kondisi tersebut, FIMNY juga memiliki inisiatif untuk membuatkan rak buku yang akan diletakkan di Pustaka Semesta Bombo Ncera agar buku-buku yang ada tersimpan dengan aman serta mudah ditata dengan rapi.

    Ketua KPPBN Aswad, S.Pd. yang biasa dikenal luas dengan nama Yuke, mengatakan bahwasannya dia merasa senang dan bangga atas sumbangat yang diberikan FIMNY. “Sebagai ketua KPPBN, saya merasa senang dan salut, ini merupakan suatu kebanggan kami sebagai komunitas atas partisipasinya rekan-rekan FIMNY yang sudah ikut berkontribusi ataupun memberikan beberapa sumbangan buku empat kardus, nantinya semoga dapat bermanfaat baik untuk pengunjung dari lokal, nasional maupun dari wisatawan Internasional, terutama untuk menambah wawasan adek-adek yang khususnya di kecamatan Belo,” ujar Yuke.

    Lebih lanjut, Yuke menyampaikan pesan dan kesannya untuk FIMNY serta mengajak kembali untuk tidak bosannya menyumbangkan buku-buku yang dimiliki buat menambah lebih banyak lagi koleksi Pustaka Semesta, “Semoga ketika ada lagi buku-buku yang lebih, mungkin bisa dibawa kesini, yang harapannya karena untuk menambah kelengkapan buku di Pustaka Semesta ini, mungkin ada buku-buku yang kurang disini nantinya bisa ditambah atau dikondisikan untuk dibawa kesini lagi,” ajak Yuke.

    Atasnama keluarga besar FIMNY, Gajali sebagai Ketua Umum, berharap dengan adanya sumbangan buku dari FIMNY, masyarakat juga bisa sambil santai dan membaca buku-buku yang ada di Pustaka Semesta. “Semoga dengan adanya penambahan buku itu wisatawan tidak hanya terfokus dengan penyuguhan keindahan alam di Bombo Ncera atau dengan adanya tambahan spot-spot baru saja, tapi juga wisatawan bisa memanfaatkan buku-buku yang ada sebagai penambahan ilmu yang sudah tersedia di Pustaka Semesta Bombo Ncera,” beber Gajali.

    Sejak berdirinya KPPBN, wisata Bombo Ncera jadi banyak spot foto dan makin menarik dan nyaman untuk dikunjungi. Setiap hari tiada hentinya wisatawan yang datang mengunjungi Bombo Ncera, baik pengunjung dari Desa Ncera terlebih lagi pengunjung dari luar Desa Ncera. Untuk itu, dengan adanya berbagai macam buku-buku yang ada di Pustaka Semesta dapat menarik pengunjung terlebih lagi dapat meningkatkan minat baca ke pengunjung Bombo Ncera khususnya untuk pelajar-pelajar yang ada di kecamatan Belo. Bagi yang punya koleksi-koleksi buku bacaan, Pustaka Semesta juga tetap menerima sumbangan sebagai penambah koleksi perpustakaan. (Nursuciyati/PEWARTAnews)

    BAANAR Nasional GP Ansor Sambut HANI dengan Seruan Anti Narkoba

    Jakarta, PEWARTAnews.com -- Pada tahun 2020-2030, Indonesia akan mendapatkan bonus demografi.Tahun 2020-2030 akan menjadi tahun emas bagi Indonesia mengingat jumlah usia angkatan kerja (15-64 tahun) diperkirakan akan mencapai 70 persen, sementara sisanya, yakni 30 persen berisi angkatan tidak produktif (65 tahun ke atas dan 14 tahun ke bawah).

    Kepala BAANAR Nasional PP GP ANSOR Saleh Ramli melalui rilisnya, mengatakan bahwa bonus demografi akan memberikan keuntungan bagi Indonesia karena Sumber Daya Manusia (SDM) yang melimpah. "Tetapi bisa juga menjadi malapetaka manakala jumlah SDM yang secara kuantitas tersebut melimpah, tetapi tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas SDM. Apalagi di waktu bersamaan, Indonesia dihantui dengan derasnya peredaran Narkoba yang kian masif," ucapnya.

    Merujuk pada temuan Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Puslitkes UI yang dirilis pada tahun 2017, disebutkan bahwa sekitar 1,77 persen penduduk Indonesia—setara dengan 3,3 juta jumlah penduduk Indonesia—terjerumus pada penyalahgunaan narkoba dan mengakibatkan kerugian Rp 84,7 triliun.

    Melihat fenomena di atas, kata Saleh Ramli, Badan Ansor Anti Narkoba (BAANAR) di bawah naungan Pimpinan Pusat GP ANSOR menilai hal tersebut patut direspon, terlebih berkenaan dengan momentum peringatan Hari Anti Narkotika Internasional pada 26 Juni 2018. "Sebagai alasan, respon atas fenomena maraknya penggunaan obat terlarang agar bonus demografi tidak mengalami hambatan. Pasalnya, usia produktif harus mempunyai performa yang baik sebab jika tidak,akan merugikan masa depan Indonesia," bebernya.

    Langkah BAANAR ANSOR
    Untuk mengatasi persoalan tersebut di atas, beber Saleh Ramli, BAANAR telah melakukan sosialisasi dan aksi melalui sistem kaderisasi di internal GP ANSOR sebagai sebuah ikhtiar memberantas penyalahgunaan Narkoba. Sosialisasi dilakukan secara masif karena alarm bahaya narkoba sudah berbunyi darurat.

    Selain itu, langkah-langkah yang diambil BAANAR sebagai upaya pemberantasan penyalahgunaan Narkoba tentu tidak bisa dilepaskan dari semangat zaman. "Kerap kita mendengar kata hijrah dan jihad dalam kehidupan sehari-hari. Kata ini coba kita kontekskan dengan semangat pemberantasan Penyalahgunaan Narkoba, yang tentunya akan membawa dampak positif; Jihad melawan Narkoba dan Hijrah untuk hidup yang lebih sehat tanpa narkoba," imbuhnya.

    Lebih jauh Saleh Ramli mengatakan bahwasannya langkah diatas akan terus dikampanyekan, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun di dunia sosial media. "Kader Ansor yang berjumlah tidak kurang 5 juta orang di Indonesia menjadi modal sosial yang besar untuk terus mengkampanyekan pemberantasan penyalahgunaan Narkoba. Dengan SDM Ansor yang melimpah, akan kita kerahkan untuk kampanyekan pemberantasan Penyalahgunaan Narkoba melaui kegiatan yang sesuai kebutuhan masyarakat, menyenangkan, dan memberikan harapan tentang masa depan bagi kaum muda Indonesia," katanya.

    "Di sisi yang lain kampanye di media sosial akan terus dilakukan. Sebab beberapa literasi meyebutkan bahwa modus pengedaran obat-obatan terlarang kian canggih, salah satunya memanfaatkan kemajuan tekhnologi dan informasi. Langkah ini dinilai sangat efektif karena banyaknya pengguna sosial media, terlebih anak muda. Selamat memperingati Hari Anti Narkotika Internasional 2018," bebernya. (rls / PEWARTAnews)

    Sambutan dr. Sitti Aisya Sahidu saat Pelantikan PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta Periode 2017-2018

    Sambutan dr. Sitti Aisya Sahidu saat Pelantikan Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta Periode 2017-2018. Minggu, 19 Maret 2017, di Aula Golkar Yogyakarta

    Pelantikan PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta Periode 2017-2018

    Prosesi pengambilan sumpah Pelantikan Pengurus Baru Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta Periode 2017-2018, oleh Bukhari, S.T., CFP. (Ketua Forum Silaturrahim Weki Ndai Mbojo-Yogyakarta)

    Mentan Amran Sulaiman saat Kunjungi Gempita DIY dan Mahasiswa di Yogyakarta

    Menteri Pertanian Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, MP. saat Kunjungi gerakan Pemuda Tani Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (Gempita DIY) dan Mahasiswa di Grand Aston Hotel, Yogyakarta, 8 Maret 2017.

    Sentilan Allah yang Menyentil Segalanya

     “Shadaqah itu tajaddud yang harus senantiasa diperbaharui setiap saat, bukan Ismtimrar yang hanya perlu satu kali cukup untuk seterusnya” (K. Ahmad Lutfian Antoni, S.Th.I, M.Pd saat menjelaskan Syarah Hadist Arba'in Nawawi, 3 years ago).

    Sudah beberapa kali saya mengalami kejadian hal yang tidak mengenakkan ketika dijalan. Siang tadi, ada motor yang melaju begitu cepat. Tiba-tiba ada barangnya yang jatuh, sontak saat itu pula ia mengerem mendadak. Saya yang berada dibelakangnya pun kaget dan karena motor tidak bisa dikendalikan akhirnya duerrrrrr, nabrak. Saat itupula saya terjatuh dan seperti mimpi. Sadar dan tidak sadar. Sangat irasional. Bagaimana tidak? Jika dinalar dengan akal manusia yang sifatnya nisbi, hal seperti itu tentu sudah bonyok-bonyok. Motor juga peot dan entah saya seperti apa. Akan tetapi, atas kuasa dan pertolongan Allah kami baik-baik saja bahkan kedua motor pun juga tak ada yang rusak.

    Sejenak aku termenung karena masih kaget. Tiba-tiba saja teringat nasihat almarhum bapak saya dahulu, “Sik... Ojo kesusu muring-muring meski sebenarnya kamu tidak salah”. Melihat ibu yang ketakutan (mungkin dikira saya akan menunutut) dia terus memandangi-ku. Dalam batinku, kenapa ibu ini tidak minta maaf? Padahal jelas salah loh, batinku. Karena harapanku kepada Tuhan jauh lebih besar dibanding emosi marah dan rasa tak terima-ku, akhirnya aku putuskan “Ya buk, saya salah jennegan juga salah, kita saling memaafkan ya. Beres. Silahkan lanjutkan perjalanan kembali,”. Suami dari ibu itu pamitan pergi. Tinggal saya yang masih minum air putih karena dikasih ibu paruh baya penjaga toko di sebrang Lapangan Kremalan.

    Setiap hal, setiap peristiwa dan setiap tempat pasti ada ilmu, uswah dan ibrah-nya. Termasuk kejadian yang saya alami siang ini tadi. Yang pertama, Jangan pernah meremehkan do'a. Saya teringat kata ibuku beberapa bulan yang lalu “Nok, doaku itu supaya kamu dijalan selalu dilindungi Gusti Allah”. Benar adanya, meski terjadi hal-hal yang kurang mengenakkan saat dijalan, tapi selalu dilindungi Gusti Allah dalam artian tidak berat luka dan juga rugi-nya. Yang ada hanyalah pembelajaran dan hikmah untuk tetap waspada dan berhati-hati. Tidak menutup kemungkinan, ini juga karena doa dari kalian (teman-teman / netizen), guru dan juga dosen-dosenku serta doa dari orang-orang yang dipermudah jalannya melalui perantara al-Qur’an.

    Yang kedua, memaafkan dengan menata hati, mengingat Allah dan mengingat jasa kebaikan yang pernah diberikan oleh orang lain. Dahulu saya pernah mengerem mendadak, tapi ternyata orang yang berada dibelakangku tidak marah dan memaafkan kesalahanku. Begitupula dengan hal ini. Karena dulu saya ditolong dan dimaafkan orang, baiklah. Ini balasan terimakasihku kepada orang yang menolongku dengan cara memaafkan kesalahan orang lain (read orang yang mengerem mendadak tersebut).

    Yang ketiga, menghemat energi. Memaafkan jauh lebih indah dan mulia daripada marah-marah. Sama-sama dirasakan oleh hati, namun efeknya berbeda. Memang sih, lega banget kalau udah melampiaskan kemarahan. Tapi? Efeknya nanti dibelakang pasti menyesal. Berbeda halnya ketika memaafkan kesalahan orang, maka hati akan lebih mudah menyambung pada Tuhan dan akhirnya cahaya dan rahmah Allah akan mudah dirasakan oleh hati. Hal tersebut nantinya akan berimplikasi kepada ketenangan batin, mudah memahami orang lain dan memiliki kepekaan sosial yang tinggi.

    Yang keempat, ingat kesalahan kita dimasa lalu. Dalam Qs. Al-Isra’ disebutkan bahwa, "in ahsantum ahsantum li anfusikum......." "perbuatan baik dan buruk tak lain akan kembali pada diri kita". Untuk lebih njembarke ati, maka harus flash back. Dahulu pernah tidak mengerem mendadak? Jika pernah, ya mungkin ini kausalitasnya. Hehe, Ya biar ngerasain sakitnya orang melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hati kita. Agar bisa sama-sama merasakan meski dengan objek dan konteks yang berbeda.

    Yang kelima, Ingat harapan yang disematkan kepada Tuhan. Barangkali kemudahan dan keberkahan hidup yang Allah berikan kepada kita bukan karena kita kaya, karena cerdas, karena punya jabatan, dan lain-lain. Tapi karena mudah memaafkan orang dan pandai mengambil ibrah dan uswah dari setiap alur peristiwa sejarah yang Tuhan berikan. Niatkan saja, semoga dengan peristiwa ini Allah berkenan memberikan kekuatan dan membukakan pintu kemudahan untuk meraih segala hal yang dicita-citakan.

    Yang keenam, jangan pernah berharap dan menginginkan seseorang menjadi seperti yang kita inginkan, karena itu hanya akan menggelapkan hati (ndogkolke ati). Hal tersebut tercermin dengan batin saya tadi, kenapa sih ibu ini tidak minta maaf padahal salah loh. Kalau saya masih memegang erat kata-kata tersebut, yang ada hanyalah sakit hati. Karena ketidaksesuaian keinginanku dengan realita yang ada.

    Yang ketujuh, Karena peristiwa ini, saya dipertemukan dengan kawan SD yang 10 tahun tidak bertemu. Dahulu temen-temen sering nyomblangin dia sama aku. Hahaha, konyol. Ternyata dia masih ingat sama aku. "Eh Mukaromah," sapanya.

    Yang kedelapan, istiqamahkan shadaqah. Saya masih teringat nasihat Guru Tafsir Aliyah, Kyai Ahmad Lutfian Antoni saat menjelaskan Syarah Hadist Arabain Nawawi, beliau ngendiko bahwa shadaqah itu tajaddud yang harus senantiasa diperbaharui setiap saat, bukan Ismtimrar yang hanya perlu satu kali cukup untuk seterusnya. Yang harus diingat shadaqah itu tidak hanya berbentuk materi (uang), namun bisa hal-hal lain sesuai dengan kadar dan kemampuan masing-masing. Bisa ucapan yang baik, perbuatan yang adil, perlindungan dan rasa aman terhadap makhluk-makhluk Tuhan serta hal-hal yang bermanfaat untuk kemaslahatan ummat.

    Dan terkadang, doa lebih maqbul apabila diucapkan oleh orang yang berada dibawah kita (entah dalam hal ekonomi maupun fisiknya). Oleh karena itu, jangan sampai lupa memohon doa kepada orang-orang yang kita permudah jalannya, serta yang kita bantu. Bisa jadi, hal tersebut dapat menjadi lantaran rahmat, kasih sayang dan perlindungan yang Allah berikan kepada kita, sehingga dalam hal apapun kita tidak terlepas dari belas kasihan-Nya.


    Yogyakarta, 23 Juni 2018
    Penulis: Siti Mukaromah
    Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Literasi Cinta

    PEWARTAnews.com -- Sudah lama aku mengenalmu. Kira-kira sepuluh tahun silam. Di situlah aku mulai jatuh hati padamu. Mencoba mendekatimu. Mencari cara bagaimana supaya aku bisa dekat denganmu. Selalu berusaha agar aku bisa terus berada di sampingmu.

    Meski sudah lama kuusahakan hal demikian, bahkan sampai tertatih, namun entah mengapa hatiku masih saja belum begitu fokus. Aku belum bisa serius. Aku masih belum percaya diri sepenuh hati. Aku masih terus dihantui oleh rasa takut, dan seabrek rasa lainnya.

    Sering kali orang-orang mencibirku. Menganggapku aneh, bahkan gila. Sebab, tak ingin jauh darimu. Barangkali, itu yang membuatku masih setengah-setengah terhadapmu. Belum terlalu serius memerhatikanmu. Belum terlalu paham terhadap kehadiranmu yang semestinya sangat berarti dalam hidupku. Entahlah, mungkin aku memang belum begitu paham ihwal itu.

    Bertahun-tahun, aku memang tak begitu peduli terhadap keberadaanmu. Aku hanya menganggapmu seolah angin lalu. Itulah kesalahan terbesar dalam hidupku. Menganggapmu tak begitu penting. Padahal, dulu, aku begitu jatuh hati padamu, dan tak ingin jauh darimu. Itu bermula, kala aku melihat dan berkunjung ke beragam tempat, yang di dalamnya terdapat banyak orang yang mencoba menyapa dan ingin juga memilikimu.

    Namun demikian, aku terus berusaha untuk lebih dekat denganmu. Seluruh tenaga kukerahkan untuk memahamimu sepenuh hati. Mencoba menggali, seberapa besar peranmu terhadap semesta ini. Mencoba berkontemplasi, memikirkan sejauh mana kontribusimu di alam nyata maupun maya. Itu terus kulakukan. Meski, terkadang aku harus melawan rasa malas dan egoku. Mencoba mengusirnya, agar tak terus hinggap dalam diriku.

    Berkat kerja keras itu, aku jadi sadar. Hadirmu memang begitu berarti dalam hidupku. Darimulah aku belajar banyak hal. Engkau mengajarkanku arti dan makna suatu kehidupan. Engkaulah yang mencoba mengajarkanku agar tak lupa kepada Sang Pencipta. Keberadaanmu di hatiku memang begitu indah. Andaikan aku tak memahamimu sepenuh hati dan sungguh-sungguh, mungkin aku takkan bisa seperti sekarang ini.

    Itulah mengapa pada akhir 2016 silam, aku memantapkan jiwaku untuk merawatmu. Mencoba membuat komitmen agar terus bisa dan selalu bersamamu tiap hari. Aku ingin terus menemanimu. Sebab, engkau telah membuatku bahagia. Engkau membuatku “hidup.” Keberadaanmu membuatku nyaman. Engkau mampu mengusir rasa sombong dari hatiku. Engkau mengajarkanku agar terus rendah hati. Hadirmu membuatku menjadi manusia yang pandai bersyukur dan menerima apa adanya. Pada intinya, engkau hadir demi memberiku sesuatu yang positif. Aku begitu berterima kasih.

    Kini, meski belum genap dua tahun, aku begitu menikmati keberadaanmu. Ya, sangat dahsyat. Aku benar-benar jatuh cinta padamu. Setiap hari, aku selalu mencintaimu. Ingin tetap bertahan denganmu, hingga napasku tak lagi bisa menghembus.

    Sungguh indah dan nikmat memang. Mungkin itulah alasan orang-orang yang ingin juga memiliki dan berada di dekatmu. Karena mereka sudah mengetahui begitu besar dan pentingnya kehadiranmu.

    Aku terus berharap pada Tuhan, semoga saja cintaku padamu tetap terjaga. Insyaallah, api cinta ini akan terus dan tetap kupertahankan. Jangan sampai padam. Aku akan selalu menjaga dan merawatmu agar tetap menyala. Semoga terus menyala dan mengabadi.

    Wallahu a’lam.


    Penulis: Gunawan
    Pemuda Asal Dompu NTB

    Alumni Angkatan SMA Sape 08 Gelar Baksos dan Silaturrahim Tahunan

    Para anggota ANGSA 08 saat berangkat Baksos. 
    Bima, PEWARTAnews.com -- Alumni Angkatan Sape 2008 (ANGSA 08) memanfaatkan momen silaturrahim tahunan untuk melaksanakan Bakti Sosial (Baksos). ANGSA 08 merupakan perkumpulan alumni angkatan 2008 dari SMA 1 Sape, SMA 2 Sape, SMA PGRI Sape dan SMA Muhammadiyah Sape. Momentum agenda silaturrahim rutin dilaksanakan tiap tahun, pada tahun ini silaturrahim dirangkaikan juga dengan bakti sosial yakni pembagian sembako kepada dhuafa dan yatim piatu.

    Jika tahun sebelumnya (2017) ANGSA 08 melaksakan Baksos dengan pembagian Iqra, Al-Qur’an dan paket untuk sejumlah Guru di Sape dan Lambu. Tahun ini kembali melaksanakan Baksos dengan membagikan paket sembako kepada dhuafa dan Yatim Piatu di Sape dan Lambu.  ANGSA 08 membagikan sejumlah 83 paket sembako  yang berisi beras, gula, minyak, susu dan mie instan kepada dhuafa dan yatim piatu disejumlah Desa di Kecamatan Sape, seperti Desa Rasabou, Naru Barat, Naru Timur, Sangia, Bugis, Jia, Kowo, Buncu dan Kecamatan Lambu seperti Desa Nggelu, Sumi, dan Soro.

    Kegiatan Baksos dilakukan teman-teman ANGSA 08 sebagai wujud kepedulian kepada sesama, terutama pada yang membutuhkan. Seperti yang disampaikan Koodinator Tim Baksos ANGSA, Nanang Kurniawan mengatakan tujuan pembagian sembako ini adalah memunculkan rasa kepedulian untuk membantu sesama, khusus dhuafa dan yatim piatu yang membutuhkan. "Kita berharap momen silaturahim ANGSA tidak hanya waktu bernostalgia masa sekolah dan melepas kangen saja, tapi kita coba dengan melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk sesama seperti pembagian sembako ini", ujarnya.

    Nanang juga menambahkan bahwa Baksos ini terlaksana atas inisiatif bersama teman-teman ANGSA 08 dan sumber dana 100% dari anggota ANGSA 08 sendiri, baik yang di kampung halaman dan ikut silaturrahim maupun yang masih diperantauan dengan cara mengirimkan donasinya. "Ini sumbangan dari anggota ANGSA 08 sendiri, baik yang dikampung yang ikut kumpul kemarin maupun yang masih ditempat perantauannya masing-masing dengan mengirim donasinya pada kita," ucapnya.

    Pembagian sembako dilaksanakan mulai hari Selasa (19/6/2018) sampai hari Jum’at (22/6/2018) di sejumlah desa sasarannya.  Pembagian sembako ini disambut gembira oleh sejumlah penerimanya dan tidak sedikit yang mendo’akan pemberi donasi dan pelaksana kegiatan ini. Seperti Wa’i Beda di Desa Nggelu. “Alhamudillah anae kawara ra bantu mu nami, salama taho ran tai lampa ra laomu ana dohoee (Alhamdulillah sudah mengingat dan bantu kami nak, semoga keselamatan/kemudahan urusanmu nak),” ujarnya dengan suara lirih.

    Anggota ANGSA 08 berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilakukan setiap tahunnya, baik silaturrahimnya maupun kegiatan Baksosnya. Seperti yang diutarakan salah satu anggota ANGSA 08 Hermansyah, “Kita berharap ANGSA selalu kompak untuk terus bersilaturrahim, apalagi ketika momen liburan seperti ini banyak teman-teman yang merantau dan pulang kampung hanya sekali setahun. Kita juga berharap tahun-tahun selanjutnya dapat merencakan kegiatan-kegiatan lain yang bermanfaat untuk sesama," bebernya. (rls / PEWARTAnews)

    Momentum 21 Juni 2018 (Mengenang Bung Karno, HUT Hamdan Zoelva dan Presiden Jokowi, Pernikahan Kerabat dan Sahabat, serta Hari Krida Pertanian)

    Dr. Hamdan Zoelva, S.H., M.H. dan M. Jamil, S.H.
    PEWARTAnews.com -- Suasana haru biru mencekam, itulah yang dirasakan oleh warga Indonesia saat meninggalnya Presiden Soekarno di Jakarta, 21 Juni 1970 pada umur 69 tahun. Hari ini, tanggal 21 Juni yang juga hari meninggalnya sang putra fajar bung Karno. Jasa-jasanya untuk bangsa ini tidak akan bisa terlupakan sepanjang masa. Lahumul fatihah. Semoga arwahnya ditempatkan pada tempat yang istimewa, dan juga semoga jerih payah perjuangan bung Karno mampu diteruskan oleh pemuda dan kita semua sebagai penerus bangsa. Aamiin.

    Topik berbeda. Kita tahu bersama bahwasannya Indonesia merupakan salah satu negara demokrasi yang menerapkan teori trias politika. Teori ini untuk pertama kali dikemukakan oleh John Locke (1632-1704) dan Montesquieu (1689-1755). Trias Politika yang kini banyak diterapkan, salahsatunya di Indonesia, adalah pemisahan kekuasaan kepada 3 lembaga berbeda: Legislatif, Eksekutif, dan Yudikatif.

    Berbicara Yudikatif, di Indonesia kita kenal salahsatunya Mahkamah Konstitusi (MK). Obrolin seputar MK, pasti kita sebagai bangsa Indonesia tidak bisa menafikkan kontribusi besar yang pernah dilakukan oleh Ketua MK RI keempat 2013-2015 asal Bima NTB yakni Dr. Hamdan Zoelva, S.H., M.H., hari ini, 21 Juni adalah hari bahagianya, karena pada hari ini adalah Hari Ulang tahunnya. Selamat Ulang Tahun buat pak Dr. Hamdan Zoelva, S.H., M.H., semoga sehat selalu dan terus semangat berkontribusi untuk bangsa ini. Aamiin.

    Usai obrolin Yudikatif. Kita kembali ke Eksekutif. Ranah Eksekutif, sederhananya kita pahami yakni tupoksinya Presiden, Wakil Presiden dan para Menterinya. Obrolin seputar tanggal 21 Juni, ternyata hari ini juga merupakan hari ulang tahun Presiden Joko Widodo. Terlepas dari pro dan kontra dari kontribusi yang telah dilakukan presiden Jokowi, seorang Presiden merupakan salahsatu roh utama dari sebuah negara. Jokowi di pilih secara konstitusi. Jadi sebagai warga Indonesia, sepatutnya bahu membahu, sama-sama berkontribusi dan juga mendukung kontribusi positif yang dipersembahkan pemerintah. Apabila ada kekeliruan dalam menjalankan pemerintahan ini, juga perlu kita ingatkan bersama.

    Terkait taat dan perlunya mendukung pemerintah, Allah Ta’ala berfirman yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri (baca: pemimpin) di antara kamu. ....”. (QS. An-Nisa’ ayat 59). Selain itu, juga telah di anjurkan dalam hadist, sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda yang artinya: “Mendengar (mematuhi) dan menaati (pemerintah) adalah suatu kewajiban, selama tidak diperintahkan dengan kemaksiatan. .....” (HR. Bukhari: 2738, Muslim: 3423)

    Hal yang lain, entah layak atau tidaknya Presiden Jokowi melanjutkan estafet kepemimpinannya, biarlah seluruh rakyat Indonesia menentukannya sendiri pada tahun 2019 nanti. Selamat Ulang Tahun buat Presiden Joko Widodo, mudahan sehat terus dan tetap selalu tegar dalam memimpin bangsa ini sampai amanah rakyat bersandar secara konstitusi di punggungmu. Aamiin. Semoga jajaran Legislatif, Eksekutif, dan Yudikatif juga terus harmonis dalam menjaga keutuhan bangsa ini. Aamiin.

    Oh iya yach, tahun ini, karena sesuatu dan lain hal yang perlu dituntaskan, jadi saya tidak pulang kampung menikmati liburan ramadhan bersama sanak saudara. Oh iya yach, mengingat-ingat lagi tanggal 21 Juni, saya punya sepupu, Syamsil, S.Pd. namanya. Syamsil baru saja usai melangsungkan akad nikahnya kemarin pada tanggal 20 Juni 2018, hari ini tanggal 21 Juni 2018 sedang merayakan resepsi pernikahannya di lapangan Desa Diha, Kecamatan Belo, Bima, NTB. Saya sangat bahagia mendengar pernikahanmu bro, walau sedikit agak tidak enak juga dalam hati karena tidak bisa menghadiri momen bahagiamu. Selamat berbahagia saudaraku, semoga keberkahan selalu menyertai pernikahanmu. Aamiin.

    Berbicara momentum bahagia dengan hari pernikahan, pada tanggal 21 Juni tahun 2018 ini juga saya melewati hari bahagia serepsi pernikahan teman-teman saya, yakni saudara Samrin yang melangsungkan pernikahannya di Kota Bima, NTB. Di tempat yang berbeda juga ada pernikahan teman saya Munazar yang berlangsung di Sila Kabupaten Bima. Maafkan saya karna tidak bisa melihat langsung momentum terindah kalian. Walau demikian, do'a terindah teruntuk pernikahan kalian, semoga selalu bahagia dengan dambaan hati kalian. Aamiin.

    Kembali lagi kita melirik secara nasional. Kisaran bulan Juni-Juni, secara nasional memasuki masa panen raya, kita patut berbangga dan acungin jempol pada para petani-petani yang masih setia di garis perjuangan merawat dan memelihara tanaman serta budidayanya. Sebagai salahsatu penghormatan nasional, maka hari ini, 21 Juni diperingati dengan Hari Krida Pertanian. Selamat Hari Krida Pertanian untuk petani Indonesia. Semoga para petani di seluruh Indonesia tahun ini mengalami panen raya yang berlimpah ruah dan hasil panennya mendapatkan keberkahan. Aamiin.


    Yogyakarta, 21 Juni 2018
    Penulis: M. Jamil, S.H.
    Keluarga, Sahabat, dan Rakyat Indonesia.

     

    Iklan

    Iklan
    Untuk Info Lanjut Klik Gambar
    Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website