Headlines News :
Home » » Optimalisasi Peran Pelajar dan Santri untuk Membangun Indonesia Jaya dengan Ber-IPNU IPPNU

Optimalisasi Peran Pelajar dan Santri untuk Membangun Indonesia Jaya dengan Ber-IPNU IPPNU

Written By Pewarta News on Rabu, 10 Januari 2018 | 08.04

Mukaromah. 
PEWARTAnews.com -- Pelajar mempunyai peran sentral dalam membangun dan mengembangkan laju perekonomian, pendidikan, industri, dakwah serta pembangunan negara. Hal itu karena pelajar mempunyai kekuatan (power), kehendak (will), semangat (ghirah) dan ‘azam bak lapisan baja yang lebih kuat dari sekedar besi yang tak terawat.

Kekuatan (power) pelajar terdiri dari kekuatan fisik/jasmani, raga/rohani serta kekuatan intelektual yang luar biasa. Sebagaimana ungkapan mengatakan bahwa : Belajar diwaktu muda bagaikan mengukir diatas batu, sedangkan belajar diwaktu tua bagaikan menulis diatas pasir. Hal itu karena daya serap otak remaja/anak muda lebih baik daripada orangtua. Bahkan banyak kita jumpai anak kecil yang berumur 9 tahun bahkan 7 tahun, mereka sudah mampu menghafal al-Qur’an 30 jus. Hal itu karena orangtua mereka memberikan pendidikan kepada mereka sejak masih belia. Menurut psikolog, bahwa kekuatan menghafal/kognitif pada masa anak-anak lebih baik daripada masa tua. Oleh karenanya, tiada sesuatu hal yang sia-sia. Termasuk dalam hal belajar, apapun itu. Selagi masih muda dan masih ada kesempatan dan peluang sudah menjadi kewajiban anak muda untuk mengoptimalkan anugrah yang Allah berikan dengan cara belajar kehidupan dan mengesksplore diri lebih jauh lagi.

Dalam QS. At Tin : 6 bahwa Allah menciptakan manusia dalam keadaan ahsanu taqwim wa ahsanul khaliqin. Dan manusia diciptakan dalam bentuk fisik dan psikis yang sebaik-baiknya. Sehingga dengan bekal yang Allah berikan itulah, anak muda harus memanfaatkannya dengan baik sebagai instrumen untuk mencari ilmu pengetahuan seluas-luasnya. Tak hanya kekuatan fisik yang menjadi penggerak utama anak muda (pelajar) untuk membangun negeri, tetapi kekuatan intelligence quotient (IQ), emotional quotient (EQ) dan spiritual quotient (SQ) pun juga harus bersinergi. IQ ialah kemampuan untuk mengolah pikiran, memandang sesuatu hal dan skill of problem solving. Akan tetapi pada realitanya, IQ hanya berperan maksimal sebanyak 20% untuk meraih keberhasilan. Tak ayal, di negeri ini tidak kekurangan orang yang cerdas secara IQ, tetapi negeri ini kekurangan orang yang berkarakter. Itulah sebabnya, problem utama negeri ini ialah korupsi yang merajalela. Oleh karenanya untuk mensinergikan agar kehidupan manusia (pelajar) lebih terarah dan progressif, yang tidak hanya cerdas secara intelektual namun juga harus peka terhadap realitas sosial maka dibutuhkan unsur-unsur kecerdasan yang lain, yakni diantara nya ialah EQ dan SQ.

EQ dan SQ merupakan bekal yang harus diberikan kepada pelajar sejak dini. Ada 2 hal penting dalam EQ yaitu bagaimana pelajar dapat mengelola emosi dirinya dengan baik [interpersonal] dan mengelola hubungan sosial dengan baik [intrapersonal]. Maka dari itu EQ adalah sikap mengikhlaskan, menghargai, menghormati dan memanusiakan manusia secara manusiawi. Indikator pelajar yang memiliki EQ tinggi adalah banyak disukai oleh orang lain, karena sikapnya baik dalam pergaulan (Dr. Zainal Arifin, dosen MPI UIN Jogja). Selain daripada itu, EQ ialah kemampuan pelajar untuk peka terhadap realitas sosial kemasyarakatan. Bagaimana ia dalam bersosialisasi kepada masyarakat, unggah-ungguhnya kepada orangtua dsb. Dan EQ ini harus dilatih, dibiasakan dan di implementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, SQ lebih menekankan pada kemampuan pelajar dalam memaknai hidup, mengambil hikmah pada setiap peristiwa, dan aktor bagi lingkungannya.

Namun sebagai orang yang beriman terlebih-lebih bagi seorang pelajar haruslah selalu mengasah intelektual dengan membaca dan menulis, mengasah emosional dengan bersosialisasi dan berorganisasi, salah satunya dengan Ber-IPNU IPPNU. Serta mengasah spiritual dengan memahami dan peka terhadap realitas sosial. Kondisi ketika seorang peka terhadap realitas sosial, maka akan menambah rasa cinta pada Rabb yang telah menganugrahkan nafas hidup untuk nya (aspek spiritual). Kondisi inilah puncak tertinggi dari belajar, dimana seseorang mampu mengenal Tuhannya setelah ia mengenal dirinya sendiri dan orang lain. Sehingga ia mampu menemukan cahaya suci nan indah yang dapat menuntun nya ke jalan yang haqqul abadi, (min adzulumaati ilannuur) dari yang tidak tau apa-apa menjadi dikit demi sedikit tau, paham dan mengerti eksistensi dirinya sebagai 'ibad yang menghambakan diri kepada-Nya sekaligus sebagai khalifatullah fil ardi yang mempunyai peran dan tanggungjawab hidup untuk memaknai kehidupan dan merealisasikan visi misi kehidupan sebagai rahmatan lil ‘alamin.

IPNU IPPNU mampu mengintegrasikan pola kecerdasan manusia IQ, EQ dan SQ sehingga wajar alumni IPNU IPPNU banyak yang menjadi pemimpin baik di tingkat daerah, nasional maupun regional bahkan internasional. Selain itu juga banyak yang menjadi alim ulama’ sebagai rujukan, pencerah dan panutan bagi masyarakat di sekitar nya. Karena salah satu visi misi IPNU IPPNU ialah mencetak kader NU yang agamis, nasionalis, cerdas hati,cerdas  iman, pikiran dan cerdas tindakan. Dengan menjunjung tinggi bhineka tunggal ika dan Pancasila sebagai dasar negara Indonesia serta dengan semangat belajar, berjuang, bertaqwa, berkarya dan berprestasi IPNU IPPNU siap membangun Indonesia yang lebih baik. Dengan semboyan aktif, kreatif, inovatif dan produktif IPNU IPPNU siap menyongsong bonus demografi 2030. Dimana pada tahun 2030 usia produktif lebih banyak dibanding dengan usia tidak produktif, sehingga dari hal itu pelajar harus mempersiapkan segala nya guna bekal menghadapi bonus demografi.

Pelajar juga harus mempunyai will/kemauan, yang dengan kemauan itulah anak muda bisa mengubah dunia, meluruskan mindset sekaligus menjadi pelopor perubahan bagi masyarakat sekitar. Niat, kemauan dan semangat merupakan modal yang tidak kasat mata (intangible capital) yang amat sangat berguna sebagai penguat dan bekal untuk meraih keberhasilan hidup baik di dunia maupun di akhirat. Semangat itulah yang membedakan antara individu satu dengan inividu yang lain.

Sebagai kader IPNU IPPNU kita harus memperjuangkan dan tetap menjaga semangat sebagaimana yang dicontohkan oleh Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari dalam memperjuangkan kemerdekaan indonesia.
Adapun cara yang dapat dilakukan untuk mengisi kemerdekaan dan mencontoh semangat juang hadratus syaikh ialah dengan belajar, berjuang, bertaqwa, berkarya dan berprestasi.

IPNU IPPNU merupakan organisasi pelajar yang mayoritas dari kalangan akademisi dan santri. Hal itu merupakan ciri khas tersendiri yang melekat dalam tubuh NU. Dan kini, di era kepemimpinan Jokowi – JK, Kalangan santri amat sangat di istimewakan. Salah satu contohnya ialah adanya penetapan Hari Santri Nasional (HSN) yang diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Sebegitu istimewanya santri sehingga pemerintah memberikan apresiasi dan kedudukan tersendiri bagi santri. Tentu term santri tidak hanya diperuntukkan bagi orang yang mondok dalam sebuah pesantren saja, namun term santri juga melekat dalam diri seorang manusia yang selalu mengasah intelektual dengan belajar dan berdiskusi, berosialisasi dengan orang-orang dengan menprioritaskan akhlaq serta menjadi orang yang dapat bermanfaat bagi orang disekeliling nya. Itulah santri dan orang yang seperti itulah yang disebut dengan santri.

Hidup kian kompetetif ditengah tantangan arus globalisasi. Karena manusia hidup di dunia, maka seharusnya dunia pun juga tak boleh disepelekan. Karena kehidupan yang baik ialah saling bersinergi antara dunia dan akhirat. Dan itu pula yang diajarkan oleh Abu Hasan Asy-Syadzili (Pendiri Thariqat Syadziliyah), beliau menekankan kepada santri-santri nya bahwa jangan pernah meninggalkan dunia. Kita boleh mencari harta keduniawian, akan tetapi jangan sampai hati kita kumantil-manthil dengan harta tersebut.

Ummat Islam harus kaya, harus menjadi orang yang kuat (qawiy). Jika tidak begitu, maka akan semakin mudah di jajah bahkan di rendahkan oleh umat lain. Berdasar pada realita empirik, bahwa salah satu faktor yang menyebabkan seseorang kufur ialah faktor ekonomi. Banyak kita menjumpai ummat Islam di mana-mana, akan tetapi karena terhimpit oleh ekonomi mereka mudah dibujuk dan dirayu bangsa lain untuk meninggalkan agama islam dengan di iming-imingi oleh materi. Betapa miris nya menyaksikan hal seperti itu, dan seharusnya hal itu menjadi renungan kita bersama bahwa sebagai generasi mudawajib ‘ain bercita-cita menjadi orang kaya. Tentu tidak hanya kaya materi, akan tetapi juga kaya hati yang cerdas iman, pikiran dan tindakan.

Dan terakhir, menukilkan pesan hikmah dari K.H. Musthafa Bisri (Gus Mus Rembang):

 Wahai santri-santriku kamu boleh berhenti sekolah, tapi jangan sampai kamu berhenti dalam belajar, belajar, dan belajar. Tugas kita hanyalah sebagai pembelajar kepada sang maha guru yang menjadi pewaris ilmu Rasul-Nya. Belajar tidak mengenal usia dan tidak pula mengenal waktu berakhirnya. Belajarlah dari mulai kita turun ayunan hingga ke liang lahat. Belajarlah setinggi mungkin sampai cita-cita belajarmu dapat terealisasikan.

Allah tidak melarang kita untuk berhenti sekolah, akan tetapi Allah melarang untuk berhenti belajar. Karena sesungguhnya belajar bisa dilakukan dimanapun, kapanpun dan dengan siapa pun tanpa mengenal ruang dan waktu berakhirnya. Dan hakikat dari belajar ialah perubahan tingkah laku yang menyebabkan seseorang sadar akan sesuatu yang dilakukannya. Melakukan sesuatu dengan penuh kesadaran, keoptimisan serta penuh tanggungjawab dengan disertai niat dan kemauan untuk lebih baik dari sebelumnya. Dan orang yang mengasah intelektual dengan belajar seharusnya juga menumbuhkan sifat emosional dalam dirinya yang berarti paham dan mampu memahami realita sosial dan masyarakat yang kemudian dimanifestasikan dengan akhlaq yang baik dan benar, yakni dengan memanusiakan manusia secara manusiawi. Karena pada hakikatnya, haruslah sinergi antara IQ, EQ, dan SQ. Dan ketika seorang peka terhadap realita sosial, maka akan menambah rasa cinta pada Rabb yang telah menganugrahkan nafas hidup untuk nya (aspek spiritual). Dan inilah Puncak tertinggi dari belajar, dimana seseorang mampu mengenal Tuhan nya setelah ia mengenal diri nya sendiri dan orang lain. Sehingga ia mampu menemukan cahaya suci nan Indah yang dapat menuntun nya ke jalan yang Haqqul abadi. (min adzulumaati ilannuur) dari yang tidak tau apa-apa menjadi dikit demi sedikit tau, paham dan mengerti eksistensi dirinya sebagai 'ibad yang menghambakan diri kepada Nya sekaligus sebagai khalifatullah fil ardi yang mempunyai peran dan tanggungjawab hidup untuk memaknai kehidupan serta merealisasikan visi misi hidupnya.

Khairukum man ta'allamal Qur'an, ta'allamal 'ulum, wa 'allamahumaa.

Dan dengan ber-IPNU IPPNU kita akan semakin tahu, paham dan peka terhadap realitas sosial semacam itu. Oleh karenanya, mari bersama-sama  menjadi santri yang terpelajar, dan menjadi pelajar yang santri. Ingat, Santri bukan hanya yang mondok saja, tetapi siapapun yang berakhlaqul karimah dialah SANTRI.


Penulis : Mukaromah
Mahasiswi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta / Ketua PAC IPPNU SEWON

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website