Headlines News :

    Like Fun Page Kami

    KEPMA Bima Wadahi Forum Diskusi, Ini Pendapat Mahasiswa Bima tentang Bima RAMAH

    Suasana Diskusi Bima RAMAH.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Suasana forum terlihat hidup dengan dialektika argumen dan perspektif yang dilakukan oleh peserta diskusi pada hari Senin, 17 Februari 2018 pukul 19.30-selesai WIB. Ruang ilmiah itu diselenggarakan oleh Bidang Kajian Ilmiah Keluarga Pelajar Mahasiswa (KEPMA) Bima-Yogyakarta Periode 2017-2018. CafĂ© G’Bol Kebun Laras menjadi tempat berlansungnya ruang ilmiah dan berbagi gagasan kaum intelektual muda Bima-Yogyakarta. “Bima RAMAH : Sebuah Tinjauan Historis” merupakan tema yang diangkat dalam moment tersebut. Menelanjangi topik kajian dengan ketajaman analisa dan sikap kritis ikut mewarnainya. Berangkat dari realitas sosial yang terjadi menjadi salah satu landasan argumen dan dipadukan dengan teori-teori yang telah mereka lahap dari tembok universitas masing-masing.

    Uraian pertama dilakukan oleh Ajwar Anas, selaku pematik diskusi. Perspektif historis yang beliau uraiankan menarik perhatian peserta. Pelacakan literature sejarah yang disuguhkan dalam bahasa yang sederhana dan lugas. Uraian panjang yang dilakukan oleh pemantik, membawanya sampai pada muara kesimpulan, bahwa Bima memang sejak awal adalah masyarakat yang ramah semenjak dari dulu. Wajah keramahan tersebut sebenarnya secara substansial telah termuat dalam nilai-nilai ajaran hidup Nggusu Waru. Selain sebagai kriteria ideal seorang pemimimpin, Nggusu Waru merupakan ajaran moral hidup masyarakat Bima yang saat ini kita sering dengar dengan istilah pendidikan karakter.
    Ada banyak warna perspektif yang dipakai, mulai dari perspektif agama, ekonomi, politik, bahkan pariwisata dan pertanian. Selain itu, aliran ideology juga ikut mewarnai cara pandang dalam kajian, seperti perpspektif marxis yang disampaikan oleh salah satu peserta.

    Salah satu peserta yang hadir, Syahrul Imam namanya, mengatakan bahwasannya tidak ada di Bima Ramah tersebut mengatakan atau menggambarkan suatu inisiatif untuk membangun ekonomi politik yang tepat untuk masyakarat petani, karena di masa lahirnya inisiasi konsep Bima Ramah itu salahsatunya, bagaimana melihat atau membaca kondisi pertanian kita di Bima. Masyarakat Bima merupakan mayoritas petani. Pertanyaan yang muncul adalah, apakah tanah pertanian yang ada saat ini mampu menyulap rakyat jadi sejahtera? Atau bagaimana dengan upaya membangun ekonomi politiknya di Bima? Nilai-nilai sosialnya bagaimana? Ramah dalam artian sosial masyarakat petani dengan sosial masyarakat guru atau pelajar itu berbeda-beda dalam memaknai sebuah kata Ramah.

    Dalam momentum yang sama, Ketua Umum KEPMA Bima-Yogyakarta Agus Salim mengatakan bahwa “Bima RAMAH sebagai jargon politik harus dilihat dengan perspektif yang berbeda dengan Bima ramah dalam arti yang sebenarnya. Konteks pembicaraan kita saat ini adalah secara akademis dengan pelacakan-pelacakan historis, bahwa Bima memang sebenarnya ramah dalam arti yang sebenarnya seperti yang di katakan dalam kamus atau yang kita pahami dalam kehidupan sehari-hari. Membicarakan terkait jargon politik yang dipakai di Bima, mempunyai istilah masing-masing sebenarnya pada setiap periodenya. Karena setiap periode pemeritahan mempunyai jargon masing-masing. Sebelum Bima Ramah ini ada, kita kenal Bima Akbar, dan juga sebelum Bima Akbar ada yang namanya Bima Ikhlas,” lanjutnya.

    Sementara itu, Wakil Sekretaris Forum Silaturrahim Weki Ndai Mbojo Yogyakarta M. Jamil, S.H. mengatakan bahwasannya untuk mewujudkan Bima RAMAH semua unsur harus bahu membahu mengambil bagian, karena mewujudkan suatu konsep seperti demikian tidak ucup-ucup dapat di wujudkan seketika. Semua elemen pemerintah daerah, mulai dari Bupati sampai level terkecil Ketua RT harus koordinasi dan kolaborasi mewujudkan Bima RAMAH. Lebih-lebih pemuda dan mahasiswa juga harus mengambil bagian untuk mewujudkannya, salahsatunya menjadi agen pengontrol (agent of control) ketika ada hal-hal keliru yang dilaksanakan oleh pemerintah Bima sehingga ada yang tidak terlaksana secara utuh sebuah konsep Bima RAMAH tersebut, dan tentunya pemuda dan mahasiswa harus mampu memberikan solusi yang solutif untuk mewujudkan Bima RAMAH yang dimalsud. Selain menjadi agen pengontrol (agent of control), pemuda atau mahasiswa juga harus menjadi agen perubahan (agent of change) dalam mewujudkan Bima Ramah, seperti ikut andil dalam Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS), membangun gerakan-gerakan atau budaya literasi, menghidupkan organisasi-organisasi tingkat desa (Karang Taruna) agar menjadi organisasi yang benar-benar layak dijadikan sebuah organisasi, yakni dengan merancang suatu agenda yang jelas dan terukur untuk dilaksanakan dengan profesional agar menjadi bagian untuk mewujudkan Bima yang RAMAH.

    Hadir dalam acara itu, mantan Ketua Umum KEPMA Bima-Yogyakarta Arif Rahman, dan juga perwakilan-perwakilan organisasi dibawah naungan KEPMA Bima-Yogyakarta juga tampak hadir membanjiri ruang diskusi. Terakhir, harapan bersama kita adalah, semoga Bima kedepannya lebih ramah sesuai dengan slogan yang dibuat oleh Pemda Bima, yakni Bima Ramah yang benar-benar ramah sesuai ekspektasi akal sehat kita.


    Penulis: Siti Hawa
    Sekretaris Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) / Mahasiswa Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

    Balada Sang Penari

    Sella Manggala.
    Kang, pergi kemana kau semalaman
    Aku ke balai desa melihat pertunjukan
    Disana ada penari berparas menawan
    Menul, si cantik yang menjadi pujaan
    Tubuhnya molek tinggi semampai wajahnya lugu manis berseri-seri

    Senyumnya mengembang di pipi jemarinya gemulai melambai-lambai
    Seakan bisa berkata “Mari sini!”
    Tak lama si Menul berlenggak-lenggok dikerubutilah ia oleh laki-laki yang merokok
    Terkepung tawa mesum dan asap menohok lembaran-lembaran duit sawer jatuh teronggok
    Dipungutnya bila ayam jantan telah berkokok

    Pertunjukan telah usai dan menyisakan lelah
    Menul melepas sanggul dengan susah payah
    Melipat selendang dan kain berwarna merah
    Sedikit tersenyum ia masih terlihat gelisah
    Rupanya banyak hutang yang tak sudah-sudah
    Belum lagi mertua darah tinggi marah-marah dan suaminya yang selalu minta jatah rupiah
    Si Menul menyeka sisa gincu di bibirnya
    Memutar otak untuk hidup berikutnya
    Kemana lagi selanjutnya?

    Yogyakarta, 25 Desember 2017


    Sajak Untuk Yang Tersakti

    “Teruntuk mereka yang selalu tersakiti oleh hukum yang basi. Kepada mereka yang banyak kecewa oleh kebijakan-kebijakan tai. Bagi mereka yang telah mau menelan sabar agar tak mati. Dan untuk mereka yang lehernya tercekat tatkala gagal menyuarakan aspirasi. Mari dengar dan baca puisi ini”

    Anda terjebak dalam lingkaran setan
    gagasan brilian yang Anda agung-agungkan itu.
    Dampaknya Anda ulangi lagi kalimat demi kalimat yang tersemat dalam buku yang berisi teori itu.
    Sayang, kelihaian Anda dalam bercakap dan menyatakan kata tak disisipi perasaan dan pengertian.

    Akibatnya jadilah penyelesaian yang tak dapat diaplikasikan.
    Timbullah ajakan perintah dan larangan tekstual yang bilamana diterima kaum-kaum rendahan seperti aku dia dan segelintir manusia lainnya akan dianggap sebagai penjerat dan kesewenang-wenangan.

    Jangan bersembunyi di balik demokrasi.
    Sebab nyatanya kebenaran telah dimutlakkan dan keadilan telah ditelanjangi.
    Jangan pula sebut aristokrasi oligarki atau monarki.

    Sebab senyatanya ini tirani.
    Bagi aku dia dan mereka.
    Manusia-manusia yang hanya bisa meronta
    memohon-mohon haknya.
    Berharap mata dan telinga Anda tidak tuli dan buta.
    Atau setidaknya hati Anda bisa bersuara.


    Yogyakarta, 28 Febuari 2018


    Karya: Sella Manggala
    Mahasiswi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)



    Antusias Mahasiswa Bima : Ini Kata Pemantik dalam Kupasan Bima Ramah

    Suasana Kajian.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Acara diskusi yang dilaksanakan oleh Keluarga Pelajar Mahasiswa (KEPMA) Bima-Yogyakarta pada hari Senin, 17 Febuarai 2018 pukul 19:30 WIB-selesai yang bertempat di G'Bol Cafe Kebun Laras. Diskusi ini mengangkat tema “Bima RAMAH : Sebuah Tinjauan Historis”. Pertemuan ini mencoba mengupas secara gamblang bagaimana cara pandang mahasiswa tentang Bima RAMAH pada umumnya dan tinjauan dari segi historis khususnya. Ajwar Anas, salahsatu senior Bima-Yogyakarta yang juga seorang alumni mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta hadir sebagai pemantik diskusi malam itu.

    Selaku pemantik diskusi, Ajwar Anas sangat mengapresiasi antusiasme dan partisipasi mahasiswa Bima dalam diskusi tersebut. "Jadi memang terkait hal-hal yang penting seperti ini (kegiatan diskusi) harus terus kita lakukan dan budayakan serta di kembangkan lagi, tentunya memang yang paling penting adalah partisipasi kita. Menkonstrusi seluruh apa yang di narasikan dari kita dalam berdiskusi tadi itu menjadi hal yang bisa di terapkan oleh kita kepada masyarakat dalam lingkungan kita khususnya masyarakat Bima," beber Ajwar Anas.

    Asrizal selaku moderator, mengatakan bahwasannya pada suatu sesi diskusi “suatu kebanggaan bagi kita (mahasiswa Bima), dimana forum-forum dialektika seperti ini kembali hidup, mengingat forum seperti ini sudah lama tidak hadir di tengah-tengah kita. Hal demikian dibuktikan dengan hasrat teman-teman yang mengikuti diskusi malam ini begitu tinggi demi rasa cintanya kepada tanah kelahiran, sampai menggugah optimisme saya yang sebelumnya pesimis,  dan pada saat ini setelah melihat semangat anggota yang berdiskusi saya kembali optimis,” ungkapnya. (Siti Hawa / PEWARTAnews )

    PP Ulul Albab Balirejo Gelar Pengajian Rutin

    Suasana Pengajian Rutin PP Ulul Albab.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Salah satu kegiatan rutin yang diadakan oleh santri PP Ulul Albab adalah pembacaan Rotib Al-Aydrus dan pembacaan sholawat simtudhuror setiap Selasa malam (27/02/2018) pukul 19.00 WIB. Agenda rutin ini dipimpin langsung oleh Habib Abdullah bin Husain Assegaf dari. Selain dihadiri keluarga besar pesantren Ulul albab mulai pengasuh KH. Ahmad Yubaidi, S.H., M.H., Dewan Asatidz, Ust. Ahmad Fathur Rosyadi, S.Pd., Ust. Ahmad Rifa’i, S.E., Ust. Imam Royani, S.E., Ust. Wahyudi, Ust. Ali Shodiqun dan santri, masyarakat sekitar juga turut serta di dalamnya.

    Dalam sambutannya Pengasuh PP Ulul Albab Balirejo mengharapkan agar pengajian rutin ini dapat dijalankan secara Istiqomah dan penuh  semangat untuk menumbuhkan kecintaan kita kepada Rosulllah SAW. Beliau juga menyampaikan beberapa agenda pesantren yang akan diadakan dalam waktu dekat ini, diantaranya wisata religi (Ziarah Walisongo) dan Diskusi Publik bersama Gusti Prabu Bendoro Pangeran Haryo dengan tema “Menjadi Pemimpin yang Mempunyai Niat dan Berhati Mulia” yang akan diselenggarakan pada tanggal 13 Maret 2018 mendatang. Dua kegiatan tersebut dilaksanakan dalam rangka menyongsong Harlah ke-5 PP Ulul Albab.

    Selain sambutan dari pengasuh, diisi pula tausiyah oleh Ust. Ali Shodiqun (Murid dari Habib Aydrus bin Abdullah al-Aydrus, Yaman). Dalam tausiyahnya, beliau menyampaikan tentang keutamaan pembacaan maulid simtudduror. Menurutnya,  tidak ada perkumpulan yang lebih hebat kecuali perkumpulan yang di dalamnya terdapat pembacaan maulid. Sebab, membaca biografi Rosul merupakan amalan orang-orang saleh. Oleh karena itu, beliau berpesan agar kita khusyu’ dan serius dalam membaca sholawat simtudduror. Lebih lanjut, beliau menyampaikan, “Allah akan menurunkan rahmat-Nya, mengkayakan hati yang fakir, mengabullkan seluruh hajat kita melalui washilah Rosulullah SAW, karena Rosul adalah sebaik-baiknya Rosul maka kita adalah sebaik-baiknya ummat,” ungkap Ust. Aly.

    Acara pada malam ini diakhiri dengan pembacaan Do’a oleh Habib Abdullah bin Hussain Asseghaf dan tahlil oleh Ust. Wahyudi. Sekitar pukul 21.00 WIB acara sudah selesai dan Alhamdulillah berjalan dengan lancar, aman, dan kondusif. (*)

    KEPMA Bima-Yogyakarta Gelar Diskusi "Bima Ramah, di Tinjau dari Segi Historis"

    Suasana saat kajian KEPMA Bima-Yogyakarta.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Keluarga Pelajar Mahasiswa (KEPMA) Bima-Yogyakarta mengadakan sebuah diskusi pada hari Senin, 17 Febuarai 2018, jam 19:30 WIB-selesai, bertempat di G'Bol Cafe Kebun Laras. Diskusi ini mencoba mengupas secara gamblang bagaimana cara pandang mahasiswa tentang Bima Ramah, ditinjau dari segi historis.

    Acara tersebut di buka langsung oleh Ketua Umum Keluarga Pelajar Mahasiswa (KEPMA) Bima-Yogyakarta Agus Salim. Bertindak sebagai moderator yakni saudara Asrizal (KAbid Kajian Ilmiah), dan menghadirkan pembicara yaitu Ajwar Anas (beliau adalah salahsatu senior Bima Yogyakarta dan juga seorang mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta).

    Diskusi ini sangat menarik, dihadiri oleh sebagian besar mahasiswa Bima yang ada di Yogyakarta. Ada juga yang hadir mengatasnamakan Lembaga dibawah naungan KEPMA Bima-Yogyakarta. Hampir semua mahasiswa yang hadir di forum itu saling bertukar pendapat terkait Bima Ramah yang merupakan sebuah konsep yang di gadang-gadang oleh Pemerintah Kabupaten Bima, dan juga tidak lupa mereka pun merelevansikan dengan kondisi yang terjadi saat ini di Bima.
    Salahsatu peserta yang hadir, Syahrul Imam namanya, mengatakan bahwasannya tidak ada di Bima Ramah tersebut mengatakan atau menggambarkan suatu inisiatif untuk membangun ekonomi politik yang tepat untuk masyakarat petani, karena di masa lahirnya inisiasi konsep Bima Ramah itu salahsatunya bagaimana melihat atau membaca kondisi pertanian kita di Bima. Masyarakat Bima merupakan mayoritas petani. Pertanyaan yang muncul adalah, apakah tanah pertanian yang ada saat ini mampu menyulap rakyat jadi sejahtera? Atau bagaimana dengan upaya membangun ekonomi politiknya di Bima? Nilai-nilai sosialnya bagaimna? Ramah dalam artian sosial masyarakat petani dengan sosial masyarakat guru atau pelajar itu berbeda-beda dalam memaknai sebuah kata Ramah.

    Lebih jauh Syahrul membeberkan gambaran bahwasannya nilai Islam yang bekerjasama dengan Sultan Abdul Kahir pada zaman itu adalah Islam campuran atau disebut dengan feodalisme yang berpihak kepada ekonomi politik dan sosial. Menurutnya, Bima Ramah itu tidak ada di Bima, bahkan Indonesia pun tidak ada karena dia tidak menyentuh masalah masyarakat. Pernahkah pada masa Bima Ramah lahir atau terbangun suatu pendidikan yang hebat, seperti yang di bangun Kolonial Belanda atau Jepang.

    Selaku pemantik diskusi, Ajwar Anas sangat mengapresiasi atas antusias dan partisipasi mahasiswa Bima dalam diskusi tersebut. "Jadi memang terkait hal-hal yang penting seperti ini (kegiatan diskusi) harus terus di budayakan dan di kembangkan lagi, tentunya memang yang paling penting adalah kita ingat dan partisipasi kita. Menkonstrusi seluruh apa yang di narasikan dari kita dalam berdiskusi tadi itu menjadi hal yang bisa di terapkan oleh kita kepada masyarakat-masyarakat khususnya masyarakat Bima," beber Ajwar Anas.

    Selaku moderator, Asrizal mengatakan bahwasannya suatu sesi kegiatan seperti ini menjadi suatu kebanggaan bagi kita (mahasiswa Bima), dimana forum-forum dialektika seperti ini kembali hidup, karena selama ini forum seperti ini sudah lama tidak hadir di tengah-tengah kita. Hal demikian terlihat mengingat hasrat teman-teman yang mengikuti diskusi malam ini begitu tinggi demi rasa cintanya kepada tanah kelahiran, sampai menggugah optimisme saya yang tadinya pesimis, setelah melihat semangat anggota diskusi saya kembali optimis.

    Dalam kesempatan itu, hadir juga diantaranya Wakil Sekretaris Forum Silaturrahim Weki Ndai Mbojo-Yogyakarta M. Jamil, S.H., Mantan Ketua Umum KEPMA Bima-Yogyakarta Arif Rahman, dan juga perwakilan-perwakilan organisasi dibawah naungan KEPMA Bima-Yogyakarta. Terakhir, harapan bersama kita adalah, semoga Bima kedepannya lebih ramah sesuai dengan slogan yang dibuat oleh Pemda Bima, yakni Bima Ramah yang benar-benar ramah sesuai ekspektasi akal sehat kita.

    Penulis: Siti Hawa
    Sekretaris Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) / Mahasiswa Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

    Kebahagian yang Sesungguhnya

    Gunawan.
    PEWARTAnews.com -- Banyak sekali teori yang menjelaskan tentang kebahagiaan. Begitu pula dengan teori untuk menggapai kebahagian tersebut. Namun, di sini saya tidak akan terpaku dengan teori tentang kebahagian dan cara untuk menggapai kebahagian tersebut.

    Menurut saya, kebahagiaan sejati justru bisa dicapai, bilamana seseorang mau melepaskan dan tidak terperangkap dengan pandangan tentang teori mengenai kebahagiaan tersebut. Dengan kata lain, orang justru harus mengurangi dan bahkan melepaskan sama sekali pandangannya soal kebahagiaan, jika ia sungguh ingin bahagia.

    Setelah segala teori, konsep dan pandangan tentang kebahagiaan dilepas, orang lalu bisa menjadi alamiah. Ia bisa menjadi dirinya sendiri. Ia tidak lagi disibukkan dengan ambisi pribadi untuk mewujudkan cita-cita tertentu. Ia juga tidak lagi hidup dalam tekanan untuk bertindak sesuai dengan keinginan orang lain. Saya menyebutnya kebahagiaan tanpa teori/konsep tentang kebahagiaan.  Seseorang tidak lagi hidup dalam tekanan (pressure). Inilah bentuk sesungguhnya dari kebahagiaan, yakni kebahagiaan hati yang sejati.

    Pada dasarnya, makhluk yang bernama manusia adalah makhluk yang berbahagia. Coba kita lihat anak kecil. Mereka bisa merasa bahagia, seringkali tanpa alasan apa pun. Lain halnya dengan orang dewasa. Ia justru merasa tegang karena ia dipenuhi dengan berbagai pandangan tentang kebahagiaan, seolah ia harus cantik, ganteng dan kaya, punya kendaraan dan rumah mewah, jabatan tinggi, supaya bisa bahagia. Inilah salah satu ilusi terbesar dalam hidup kita.

    Orang yang alamiah akan bertindak sesuai dengan kenyataan yang nyata, tanpa ada rekayasa. Ia bertindak bukan untuk memenuhi ambisi pribadi. Ia juga tidak bertindak untuk memenuhi tuntutan sosial tertentu. Ia bertindak karena keadaan memanggilnya untuk bertindak.

    Ketika ada orang yang kelaparan, ia memberinya makan. Ketika ada orang yang memerlukan bantuan, ia lantas segera menolongnya. Ketika ada ketidakadilan sosial di tengah kehidupan sosial, ia berusaha mengubah keadaan tersebut, sesuai dengan kemampuannya. Ketika ada orang kehujanan, ia mencoba mencari payung untuknya. Ia tidak lagi dibebani oleh macam-macam pertimbangan pribadi dan penilaian sosial, yang justru malah membuat orang menderita, dan tidak bisa berbuat apa pun.

    Orang yang telah melampaui ambisi pribadi dan tuntutan sosial adalah orang yang telah mengalami pencerahan batin. Inilah kebahagiaan yang sesungguhnya. Saya pernah membaca sebuah buku, namun, saya lupa judulnnya. Isinya kurang lebih bercerita tentang seorang biksu Zen sedang diwawancarai oleh seorang peneliti sosial terkait dengan tema kebahagiaan. Si peneliti tersebut bertanya, “apa itu kebahagiaan?” Si biksu tersebut kemudian menjawab, “bahagia itu berarti, kalau Anda lelah maka Anda tidur. Kalau Anda lapar maka Anda makan. Kalau Anda haus maka Anda minum. Kalau Anda tidak punya uang maka Anda bekerjalah untuk mendapatkan uang.” Sungguh jawaban yang sempurna, menurut saya.

    Singkatnya, untuk menggapai kebahagiaan yang sesungguhnya, maka jangan terpaku dan terperangkap dengan konsep atau teori tentang kebahagiaan itu sendiri. Karena kebahagian sejati tidak dapat dijelaskan dengan kata atau pun konsep apa pun.

    Wallahu a’lam.


    Penulis: Gunawan
    Pemuda asal Dompu NTB.

    Mata Air Cintaku

    Ismail Aljihadi.
    Ku kirim surat cinta teruntuk Tuhanku Yang Maha Esa
    Melalui surga dzikir ku dalam lautan malam yang penuh kesunyian

    Hingga tak ada satu manusiapun yang dapat mengetahuinya

    Kedamaian
    Kesunyian
    Kemesraan
    Keabadianmu

    Hingga dalam keheningan dzikir malam
    Ku merasakan selalu hadirnya siraman cintamu yang menyejukkan jiwa ragaku

    Dalam diri
    Dalam diam
    Dalam do'o
    Dalam-dalam penuh damai

    Ooh Tuhanku

    Pancarkanlah dalam lautan jiwaku mata air rahmat cinta kasih-Mu
    Agar menjadi sumber inspirasi dalam-dalam hidupku

    Penuh kasih
    Cinta kasih
    Rahmat kasih
    Abadilah sumber air kasih-Mu

    Allahu Yaa Rab

    PP Ulul Albab Balirejo Yogyakarta Peringati HARLAH Ke-5

    Suasana saat Peringati HARLAH PP Ulul Albab Balirejo yang ke-5.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Dalam rangka Harlah ke-5 Pondok Pesantren Ulul Albab Balirejo Yogyakarta mengadakan Majelis Shalawat Simtudduror dan Pengajian bersama Habib Muhammad bin Yahya Baraqbah, Habib Abdullah bin Husein Assegaf, Habib Huawin bin Ali Assegaff, Ustadz Abdurrahim, Ustadz Faizin, KH Khudlori, dan Pengasuh Pondok Pesantren Ulul Albab Balirejo yakni beliau KH Ahmad Yubaidi, S.H. M.H.. Majelis ini dihadiri oleh seluruh santri dan alumni PP Ulul Albab Balirejo, warga sekitar Balirejo, mahasiswa/i universitas sekitar Yogyakarta, dan para tamu undangan dari pondok pesentren sekitar Yogyakarta. Majelis dilaksanakan tadi pagi, Minggu, 25 Februari 2018, dimulai pada pukul 08.00 WIB dengan Maulid Simtudduror yang dipimpin oleh Habib Abdullah bin Husein Assegaf dan diiringi oleh Hadrah PP Ulul Albab Balirejo.

    Setelah selesai Maulid Simtudduror Ustadz Faizin menyampaikan mauidzoh hasanah mengenai keutamaan shodaqoh diantaranya, "Keutamaan shodaqoh yang pertama diberikan kepada ulama, kemudian kepada kedua orang tua, kemudian memperbanyak shodaqoh kepada kerabat yang memiliki hubungan darah dan memang sangat membutuhkan, kemudian kepada orang lain yg membutuhkan dan orang lain yang tidak membutuhkan." ucap Faizin.

    Kemudian dilanjutkan dengan mauidzoh hasanah oleh Habib Muhammad bin Yahya Baraqbah, beliau menyampaikan mengenai doa. Beliau mengatakan bahwa Doa apapun yang kita minta akan dikabulkan oleh Allah asal kita melaksanakan apa yang Allah perintahkan. Allah suka dan cinta kepada setiap hambanya yang selalu meminta kepada-Nya dengan istiqomah, karena itu Allah tidak langsung mengabulkan doa-doa orang muslim agar terus berdoa dengan istiqomah. Beliau juga menyampaikan bahwa "Tidak apa-apa menginginkan sesuatu yang berbau duniawi sebesar apapun, asal jangan lupa iman dan taqwa, kemudian mendekatlah dengan orang-orang sholih karena semakin kita dekat dengan orang sholih maka kalau bukan kita yg menjadi orang sholih insyaAllah anak cucu kita yang akan menjadi sholih." beber Habib Muhammad bin Yahya.

    Acara Harlah dilanjutkan Sambutan Pengasuh Pondok Pesantren Ulul Albab Balirejo yakni KH Ahmad Yubaidi, S.H., M.H., mengenai rangkaian acara Harlah yakni SUNATAN MASAL GRATIS yang akan diadakan pada tanggal 18 April 2018.

    Acara Harlah selesai pukul 11.00 dan ditutup dengan senandung shalawat Hadrah Ulul Albab serta para hadirin menikmati jamuan makan siang mayoran yang telah disediakan oleh santriwati PP Ulul Albab. (Azima / PEWARTAnews)

    Kapolda DIY Gelar Silaturahmi dengan Tokoh Islam se-Kota Yogyakarta

    Brigjen Pol. Drs. Ahmad Dofiri, M.Si. saat silaturahmi dengan para tokoh Islam di Yogyakarta.

    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Kepala Kepolisian Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta (Kapolda DIY) Brigjen Pol. Drs. Ahmad Dofiri, M.Si. berkunjung ke Pondok Pesantren Kotagede Hidayatul Mubatadiin pimpinan KH. Munir Syafa’at di Prenggan Kotagede Yogyakarta, Rabu 21/02/2018. Kunjungan ini selain menyambung tali silaturahmi, juga menyampaikan hal-hal penting terkait intoleransi yang akhir-akhir ini terjadi di Yogyakarta.
    .
    Pimpinan PP Kotagede Hidayatul Mubatadiin KH. Munir Syafa’at mengatakan bahwa silaturahmi ini memanjangkan umur dan memudahkan rizki. Serta mendapat usia yang berkah dan rizki yang berkualitas. Selain itu, silaturahmi ini sangat bagus sekali antara Pemerintah dalam hal ini Polri dan para Ulama.

    “Kami berharap silaturahmi ini dapat diteruskan dan dikembangkan lagi. Karena Yogyakarta ini merupakan barometer Indonesia. Jangan sampai daerah kita ini diterpa isu-isu yang berkembang sehingga dapat memperkeruh situasi yang sudah sejuk dan damai di jogja ini,” ujar KH. Munir.

    Sementara itu, Kapolda DIY menegaskan bahwa silaturahmi untuk menjalin komunikasi dan silaturahmi bagi jajaran Kepolisian baik di tingkat pusat, maupun di kewilayahan. Sebagaimana yang dilakukan Kapolri Jend Pol Prof. HM. Tito Karnavian, M.A., Ph.D.. Kapolri sendiri pernah berpesan, agar Kepolisian harus dekat dan tetap menjaga silaturahmi dengan para Ulama. Sehingga dalam menghadapi tahun politik di 2018 dan 2019 ini Polri dan Ulama dapat bersinergi menciptakan situasi yang sejuk dan damai.

    “Yogyakarta pada waktu lalu dikejutkan dengan peristiwa kejadian di Gereja St. Lidwina Bedog Gamping. Hal yang sangat mengagetkan untuk situasi kenyamanan di Yogyakarta. Dan itu menjadi berita nasional sekaligus viral di media Sosial. Ini mengagetkan kita semua ditengah kita membangun Yogyakarta sebagai miniatur Indonesia, serta sebagai City Of Tolerance,” kata Kapolda DIY.

    “Tapi Alhamdulillah, peristiwa itu tidak dikaitkan sampai dengan perselisihan antar umat beragama, saat ini perkembangan (kasus tersebut) sudah ditangani Densus 88. Tetapi Kondisi ini tidak menguntungkan jika berita tersebut liar di Media Sosial,” sambungnya.

    Kapolda berharap, dengan adanya kejadian tersebut warga masyarakat secara luas agar dapat menyikapi berita yang viral di Medsos sehingga bisa dicerna dengan pikiran yang jernih dan tidak boleh terhanyut dengan informasi yang belum tentu ada kebenarannya.

    “Ini yang harus kita komunikasikan bersama. Kalau ada hal hal yang mencurigakan dan perlu penanganan, (terkait kejadian apapun), mari kita komunikasikan bersama. Semoga dengan forum ini kita dapat memecahkan permasalah jika ada peristiwa semacam itu,” ujarnya.

    Dalam kunjungan ini, Kapolda DIY didampingi Dirintelkam Kombes Pol Nanang Djuni Mawanto, S.I.K., Dirreskrimum Kombes Pol. Dr. Hadi Utomo, S.H., M.Hum., Kapolresta Yogyakarta Kombes Pol. Tommy Wibisono, S.I.K., dan Wadir Binmas AKBP Gunawan Prijambodo, S.I.K. (@poldajogja / PEWARTAnews)


    Tujuan

    Ilustrasi. Foto: Sastro Jendro.
    PEWARTAnews.com -- Pada suatu siang yang sangat terik, sekelompok pekerja sedang sibuk membangun sebuah rumah rumah besar nan megah. Kemudian melintaslah seorang pria paro baya.

    "Apa yang sedang kau kerjakan?" tanya pria itu kepada tukang bangunan pertama yang ditemuinya.

    Tukang itu, tanpa menoleh sedikit pun, menjawab dengan nada ketus.

    "Hei pria tua, kamu tidak lihat ya? Yang aku kerjakan di bawah terik matahari ini ya menggali lubang pondasi dan bekerja sebagai kuli bangunan!!"

    Pria itu pun tersenyum, lalu beralih kepada pekerja kedua yang dilihatnya. "Hai anak muda, apa yang sebenarnya yang engkau kerjakan ini..?"

    Pekerja kedua itu pun menoleh. Wajahnya yang ramah tampak sedikit ragu. "Saya tidak tahu pasti, tapi kata Pak Mandor di sini, kami sedang membuat sebuah rumah besar, Pak."

    Tidak puas dengan jawaban pekerja kedua, pria itu pun menghampiri pekerja ketiga, lalu menanyakan hal yang sama kepadanya. Pekerja ketiga itu pun tersenyum lebar. Ia menghentikan pekerjaannya sejenak, lalu dengan wajah berseri-seri berkata berkata kepada pria itu.

    "Bapak, kami sedang membuat sebuah bangunan yang luar biasa megahnya. Mungkin saat ini bentuknya belum begitu jelas. Tetapi saya sangat yakin, jika selesai, rumah ini akan tampak paling indah, megah dan menawan di daerah perumahan ini, serta semua orang yang melihatnya pasti akan berdecak kagum. Itulah yang saya kerjakan Pak," jelas pemuda itu dengan penuh semangat.

    Mendengar jawaban pekerja ketiga, pria itu yang ternyata adalah pemilik bangunan yang sedang dikerjakan itu pun merasa puas dan segera menaikkan jabatannya menjadi kepala tukang bangunan dari rumah yang sedang di bangun itu.

    Sahabat....
    Demikian pula juga yang berlaku dalam hidup ini. Banyak orang tidak tahu mengapa mereka terlahir ke dunia ini.

    Mereka hanya disibukkan oleh segala bentuk “perjuangan” untuk hidup, sehingga tidak peduli pada tujuan hidupnya. Banyak dari mereka melihat segala sesuatu dari pandangan yang sempit dan negatif, seperti contohnya adalah pekerja pertama.

    Sebagian lagi, adalah tipe pengikut, follower yaitu orang-orang yang punya pandangan samar-samar tentang hidup mereka. Mereka hanya pengikut mereka yang dianggap sukses. Sepertinya begini… kayaknya sih begitu… Tapi pastinya? Mereka tak tahu menahu, serta tak punya ide dan inisiatif!

    Sisanya yang hanya segelintir, karena memang tak banyak jumlahnya adalah golongan terakhir, orang yang mengerti tujuan hidupnya, menemukan visi serta jati diri mereka di dunia ini. Mereka yang tidak sekadar hidup, namun adalah orang-orang yang hidup dalam arti yang sebenar-benarnya, urip yang urup!...

    Jika Anda berpikir, “Aduh sebentar lagi February akan habis, kerjaan bulan ini masih banyak dan tidak ada waktu berlibur, capek banget rasanya dan banyak orang kerjanya cuma mengeriti, menyesali dan membuat emosi." Barangkali Anda harus melakukan kontemplasi untuk melihat kembali atau menemukan arah dan tujuan hidup Anda.

    Orang bijak berkata, ”Tujuan tanpa perbuatan adalah mimpi siang bolong,Perbuatan tanpa Tujuan adalah kesia siaan,Tujuan disertai perbuatan adalah merubah dunia.”


    Penulis: Sastro Jendro
    GP ANSOR Kota Yogyakarta

    IKASUKA DIY Audensi dengan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X

    Gubernur DIY saat menerima audiensi bersama IKA SUKA DIY.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Pengurus Ikatan Keluarga Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (IKASUKA D.I. Yogyakarta) melakukan audensi dengan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X  di ruang Ndalem Ageng Kepatihan, (Senin 19 Februari 2018, Jam 09.30 s,d 11.00). Audensi tersebut dalam rangka silaturahim sekaligus perkenalan kepengurusan baru yang dilantik di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) belum lama ini.

    Ketua IKASUKA D.I. Yogyakarta Soni Amir Sholihuddin, S.Ag. mengatakan bahwa audensi ini, disamping dalam rangka silaturahim dengan Sri Sultan Hamengkubuwono X, juga dalam rangka menyampaikan hasil rapat kerja daerah yang dilaksanakan di Pendopo Bupati Kebupaten Sleman pada hari Ahad tanggal 19 November 2017. "Hasil RAKERDA tersebut ada beberapa rekomendasi eksternal yang perlu disampaikan kepada Pemerintah DIY diantaranya terkait dengan maraknya organisasi dan kelompok-kelompok baru yang menumbuh dengan pesat di DIY, dan organisasi/kelompok tersebut ada yang terkait dengan organisasi-organisasi terlarang yang bersifat radikal, dan intoleran, maka Pemerintah DIY dan UIN Sunan Kalijaga sebagai lembaga pendidikan untuk bekerja sama dalam menyikapi dan terlibat dalam proses penanggulangan, hal itu serta merumuskan tindakan dan sikap yang tepat ke depan." beber Soni.

    Sementara Imam Ghozali, S.Ag., M.A. selaku Ketua I IKASUKA D.I. Yogyakarta mengatakan bahwa, untuk menangkal paham radikal dan intoleran di DIY yaitu dengan meningkatkan peran penyuluh agama dengan memberikan ceramah-ceramah yang sifatnya menumbuhkan semangat nasionalisme. Mengingat penyuluh agama yang ada di DIY kebanyakan alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dengan demikian, diharapkan kedepannya Alumni UIN Sunan Kalijaga yang ada di DIY bisa memberikan warna baru dan pelopor di masyarakat serta mampu menangkal paham-paham tersebut, sehingga kedepannya Jogja tetap berhati nyaman.

    'Peran serta alumni UIN Sunan Kalijaga sangat penting dan mengingat DIY merupakan City of Tolerance, sehingga dengan demikian, diharapkan dengan keterlibatan alumni UIN Suka yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta mampu menjadi jembatan penghubung dengan masyarakat serta bisa menjadi mitra strategis pemerintah daerah dalam menangkal paham radikal dan intoleran yang ada di DIY." ucapnya.

    Disamping itu juga Soni Amir Sholehuddin, S.Ag. menambahkan bahwa untuk menunjang keberlangsungan IKASUKA D.I. Yogyakarta diperlukan adanya sekretariat bersama dan pusat Kuliner. Sekretariat bersama diharapkan menjadi pusat setiap kegiatan IKASUKA D.I. Yogyakarta. Sementara Pusat Kuliner diharapkan menjadi pusat Kuliner terlengkap yang ada di DIY yang menyediakan seluruh produk dari alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dengan demikian, diharapkan dengan arahan dan restu dari Sri Sultan Hamengko Buwono X bisa merealisasikan sekretariat dan pusat kuliner tersebut.

    Sementara Sri Sultan Hamengkubuwono X dalam pemaparannya mengucapkan selamat serta berterima kasih atas kehadiran para pengurus IKASUKA D.I. Yogyakarta dalam audensi ini. Serta kepedulian yang dimiliki oleh para alumni UIN Sunan Kalijaga dalam menjadi pelopor dalam menangkal paham radikal dan intoleran yang akhir-akhir ini terjadi di DIY.

    Sementara terkait dengan sekretariat bersama dan Pusat Kuliner menurut Sri Sultan Hamengkubuwono X untuk di DIY alternatifnya yaitu dengan menggunakan tanah kas desa. Tanah kas desa ada dua pilihan yaitu disewa atau dibeli. Tetapi kebanyakan pada umumnya tanah kas desa itu disewa paling lama dalam jangka waktu 20 tahun, dan bisa diperpanjang tergantung dari kesepakatan dengan perangkat desa.

    Sri Sultan Hamengkubuwono X menambahkan bahwa dengan adanya pusat kuliner tersebut diharapkan mampu menaikkan perekonomian warga sekitar. Serta diharapkan tidak hanya menampung produk-produk dari para alumni UIN Sunan Kalijaga, tetapi juga menampung produk-produk dari warga DIY. (PEWARTAnews)

    PUSMAJA Ma Maju

    Ismail Aljihadi.
    Maita sama sama maju, ndaita weki PUSMAJA
    Maju kai ilmu Islam, ma gaga taho lao
    Ilmu Islam ndi nenti, cahaya mori ndi nonto.

    Maita sama-sama maju weki ndai PUSMAJA
    Kataroa ide ro fiki, kai ngahi mufaka
    Mufaka mbolo ro dampa, ndaita sama sama doho sama dampi.
    Doho sama rasa, kacampo ade ma raso niki risu.
    Mufaka kai ilmu ro iman, ma gaga aman
    Bandi kaipu ntara,  mufaka ndai ma gaga ntiri
    Mufaka batu nggahi rasul, kai ade ma gaga poda  taho raso.

    Weki ndai PUSMAJA romo, maita sama sama nenti rima
    Rima ma sama nenti, ade sama  nonto kai wua nuntu.
    Na samase ade, na gaga ndi eda ba weki ndai sa udu.

    Selamat Ulang Tahun PUSMAJA yang ke-10 (10 Januari 2008 - 10 Januari 2018)

    Coretan pagi.


    Yogyakarta, 6 Februari 2018
    Karya: Ismail Aljihadi
    Pemuda asal Bima NTB / Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. 

    Adian Napitupulu Jembatani Driver Online - Menteri Perhubungan Bahas Permen 108 dan Outsourcing

    Adian Napitupulu.
    Jakarta, PEWARTAnews.com -- Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Adian Napitupulu, S.H. pada hari Selasa 13 Febuari 2018 menjembatani Pihak Driver Online dengan Menteri Perhubungan guna untuk membahas beberapa point penting dalam Permen 108 dan juga perihal Outsourcing. "Setelah beberapa hari sebelumnya beberapa organisasi terkait Driver Online meminta saya untuk memediasi dengan Menteri Perhubungan, akhirnya pada hari Selasa 13 Febuari 2018 saya mempertemukan perwakilan organisasi yang terkait dengan Driver Online dengan Menteri Perhubungan," ucap pemilik nama lengkap Adian Yunus Yusak Napitupulu dalam siaran persnya yang diterima PEWARTAnews.com pada 14 Februari 2018.

    Adian Napitupulu membeberkan bahwasannya saat pertemuan tersebut perwakilan organisasi yang terkait Driver Online menyampaikan penolakan terhadap Permen 108 tahun 2017. Penolakan tersebut antara lain terhadap kewajiban untuk mengurus izin angkutan sewa khusus.

    Lebih jauh, dalam rilis tersebut, Adian membeberkan bahwa izin angkutan sewa khusus melahirkan setumpuk kewajiban baru bagi para Driver online. "Dengan Permen 108 mereka tidak bisa lagi mendaftar langsung secara perorangan ke Aplikator (Go Car, Grab, dan Uber). Karena menurut Permen 108 yang bisa bermitra bukanlah perorangan tapi badan hukum yg berbentuk koperasi ataupun badan usaha bentuk lainnya," beber Adian.

    Mantan aktifis 98 tersebut lebih lanjut mengatakan bahwa berdasarkan Permen 108 tersebut maka Pilihan para Driver Online adalah membuat badan hukum secara bersama sama agar syarat minimal 5 mobil terpenuhi atau bergabung dengan badan hukum yang sudah memiliki izin angkutan sewa khusus atau berhenti menjadi Driver Online.

    "Hak para individu Driver online untuk bermitra langsung dengan Aplikator menjadi hilang, hak tersebut kemudian di ambil alih oleh badan hukum." keluh Adian menyayangkan.

    Masih dalam rilis yang sama, Adian beberkan kalau di ilustrasikan maka Permen 108 ini bisa menjadi embrio lahirnya badan hukum yang berikut hari berpotensi menjadi serupa perusahaan Outsourcing yang mengambil selisih keuntungan dengan melakukan rekrutmen dan menyalurkan tenaga kerja. "Kalau menggunakan ilustrasi Petani maka badan hukum ini bisa berkecenderungan menyerupai Badan yang mengatur tata niaga cengkeh dan jeruk ala Orde Baru," akunya.

    Dengan pola yang berpotensi mengarah pada bentuk "Outsourcing" atau "Tata Niaga" Driver, kata Adian, maka bisa dipastikan bahwa pendapatan para Driver Online ini akan berkurang drastis di potong sana sini untuk beragam alasan administrasi, operasional dan teknis dari badan hukum pemegang izin angkutan.

    Setelah para Driver Online bergabung dengan badan hukum, ucap Adian, maka berikutnya beruntun lahir sekian banyak kewajiban baru seperti pembatasan kuota kendaraan perwilayah, batasan wilayah kerja, KIR, penggantian SIM menjadi SIM A umum dan sebagainya yang memberatkan serta merugikan para Driver Online.

    Masih dalam pertemuan tersebut perwakilan juga menyampaikan bahwa sesungguhnya objek dari izin angkutan sewa tersebut seharusnya bukan para Driver Online melainkan Perusahaan Jasa Aplikasi yang pada faktanya telah melakukan kegiatan kegiatan yang sesungguhnya juga dilakukan oleh perusahaan jasa angkutan seperti melakukan rekrutmen kendaraan beserta supir nya, menyeleksi kelayakan supir, memberlakukan standar pelayanan dan keselamatan, menentukan tarif rupiah per kilometer, memutuskan hubungan kerja (untuk angkutan online bentuknya suspend), menentukan besaran bonus dan sanksi, menetapkan batas standar kendaraan (cc dan tahun) dan hal hal lainnya yang umum nya juga di lakukan oleh perusahaan angkutan konvensional.

    Beber Adian, Indonesia hingga hari ini menjadi satu satunya negara yang menerapkan aturan mewajibkan para Driver Online untuk membuat atau bergabung dengan badan hukum agar bisa menjadi mitra dari penyedia jasa aplikasi tanpa mewajibkan perusahaan aplikasi menjadi perusahaan jasa transportasi.

    Melalui Permen 108 ini, beber Adian, Indonesia juga menjadi negara yang prosedurnya paling rumit bagi Driver online salah satunya dengan prosedur KIR yang disamakan dengan angkutan kota yang nyata nyata telah merubah bentuk kendaraan secara signifikan dari pabrikan asal.

    Pembatasan wilayah operasi dan kuota Driver Online juga menunjukan bahwa kementrian terkait terlihat malas untuk berfikir sehingga aturan aturan lama untuk angkutan umum di copy paste sedemikian rupa dengan modifikasi tambal sulam sekenanya tanpa perduli bahwa ada banyak perbedaan mendasar antara jenis angkutan dengan model aplikasi dan angkutan penumpang konvesional.

    Dalam pembicaraan tersebut akhirnya disepakati beberapa hal diantaranya adalah kesepakatan Menteri Perhubungan untuk menunda diberlakukannya Permen 108 tersebut dalam beberapa bulan untuk melakukan evaluasi dan merevisi pasal pasal yang merugikan para Driver Online setelah melakukan pertemuan dengan beberapa kementrian terkait seperti Kemeninfo, Kementrian Tenaga Kerja termasuk Kapolri.

    "Sesuai pembicaraan, penundaan tersebut akan disampaikan oleh Menteri Perhubungan hari selasa kemarin setelah ada surat dari organisasi yang terkait dengan Driver Online ke Kementrian Perhubungan," kata Adian Napitupulu.

    Lanjut Adian, namun sampai siang ini apa yang dijanjikan oleh menteri perhubungan ternyata tidak dilakukan walaupun sudah ada organisasi yang terkait dengan Driver online yang sudah bersurat sesuai apa yang di minta oleh menteri perhubungan.

    "Baiknya Menteri Perhubungan jangan menjilat kembali ludahnya. Berlakulah sebagai seorang menteri yang kata katanya memang bisa di percaya oleh Rakyat." keluh Adian menyayangkan sikap sang menteri. (PEWARTAnews)

    Rasa Ncera Mantoi

    Ismail Aljihadi.
    Ringa ncorepu tabea dou Ncera
    Nggahi ncuhi dou Ncera ma ngupa ncihi
    Ncihi nggahi ro eli bune taroa ilo, bandi kaipu ntara ma rombo ntiri.
    Nggahi bila ro lebe, mori dou Ncera ti tiona rugi ro laba.
    Samena na  hasil alam sa'udu, ndi ru'u sara'a na adan
    Semena na ma wara tu doro ro tolo, berkah mangge'e tala-tala, dou mbei ti tula ro tola

    Dana Ncera mantoi, bune wupa ntua
    Niki doro ro dore, nggini maju daro
    Nggini maju ro sahe, ntau ndaina Sehe
    Sehe La Raji ma moda' ndi raho ro rojo.

    Dou Ncera mantoi ede, na raso ade na gaga ndi eda.
    Nggahi Trulli la Nggampo,  ti wara berkah nana ma nggempe.
    Berkah dana ro rasa, na mpoi raso bagi dou nikiki risu.
    Nggahi Sanggaji Mbojo, na caha karawi ro mbaju.
    Mbaju menta fare kala, ma machi kilu bune wua kalo.

    Ringa menapu ndai siwe mone, wara eli matora bune ilo.
    Rasa Ncera zaman ntoi, maita kambali ntau Ringa ulupu nggahi bila ma alim, nggahi bila ro Sanggaji maita sama sambea  ro ngeja.
    Sambea de romo batu' ngahi ndaina ruma
    Batu' ngahi Ruma Raha Tala, berkah Ncera wati ndi tola


    Yogyakarta, 12 Januari 2018
    Karya: Ismail Aljihadi
    Pemuda asal Bima NTB. 

    Namamu Dalam Do'a Ku

    Bakdiah.
    Aku terus mempertahankan namamu setiap sujud panjang dan do'a-do'aku
    Meski ku tahu sakit itu terus kau datangkan padaku
    Meski ku thau sabarku tak mampu mematahkan egomu

    Cintaku tak mampu membendung hasratmu
    Wanita lemah tak berguna
    Gimana tidak ketika sayap-sayap semangat ku mulai patah dan tak mampu menggapai langit-langit impian

    Inginku telah di curi oleh awan kesepian yang tak bertepi
    Lembaran baru saja ku buka dan ditintahkan tirai kesucian
    Namun telah terisi oleh noda kepalsuan
    Niat suci ingin ku bentangkan kini sudah terenyahkan

    Kau berjalan tanpa merasa bersalah
    Aku berdo'a tanpa merasa lelah
    Sebab inginku engkau sedari semua
    Niat suci telah ku gantung bersama do'a di langit-langit pengharapan


    Yogyakarta, 30 Januari 2018
    Karya: Bakdiah
    Mahasiswi Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta / Pengurus Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY)

     

    Iklan

    Iklan
    Untuk Info Lanjut Klik Gambar
    Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website