Headlines News :
Home » , » Balada Sang Penari

Balada Sang Penari

Written By Pewarta News on Rabu, 28 Februari 2018 | 03.08

Sella Manggala.
Kang, pergi kemana kau semalaman
Aku ke balai desa melihat pertunjukan
Disana ada penari berparas menawan
Menul, si cantik yang menjadi pujaan
Tubuhnya molek tinggi semampai wajahnya lugu manis berseri-seri

Senyumnya mengembang di pipi jemarinya gemulai melambai-lambai
Seakan bisa berkata “Mari sini!”
Tak lama si Menul berlenggak-lenggok dikerubutilah ia oleh laki-laki yang merokok
Terkepung tawa mesum dan asap menohok lembaran-lembaran duit sawer jatuh teronggok
Dipungutnya bila ayam jantan telah berkokok

Pertunjukan telah usai dan menyisakan lelah
Menul melepas sanggul dengan susah payah
Melipat selendang dan kain berwarna merah
Sedikit tersenyum ia masih terlihat gelisah
Rupanya banyak hutang yang tak sudah-sudah
Belum lagi mertua darah tinggi marah-marah dan suaminya yang selalu minta jatah rupiah
Si Menul menyeka sisa gincu di bibirnya
Memutar otak untuk hidup berikutnya
Kemana lagi selanjutnya?

Yogyakarta, 25 Desember 2017


Sajak Untuk Yang Tersakti

“Teruntuk mereka yang selalu tersakiti oleh hukum yang basi. Kepada mereka yang banyak kecewa oleh kebijakan-kebijakan tai. Bagi mereka yang telah mau menelan sabar agar tak mati. Dan untuk mereka yang lehernya tercekat tatkala gagal menyuarakan aspirasi. Mari dengar dan baca puisi ini”

Anda terjebak dalam lingkaran setan
gagasan brilian yang Anda agung-agungkan itu.
Dampaknya Anda ulangi lagi kalimat demi kalimat yang tersemat dalam buku yang berisi teori itu.
Sayang, kelihaian Anda dalam bercakap dan menyatakan kata tak disisipi perasaan dan pengertian.

Akibatnya jadilah penyelesaian yang tak dapat diaplikasikan.
Timbullah ajakan perintah dan larangan tekstual yang bilamana diterima kaum-kaum rendahan seperti aku dia dan segelintir manusia lainnya akan dianggap sebagai penjerat dan kesewenang-wenangan.

Jangan bersembunyi di balik demokrasi.
Sebab nyatanya kebenaran telah dimutlakkan dan keadilan telah ditelanjangi.
Jangan pula sebut aristokrasi oligarki atau monarki.

Sebab senyatanya ini tirani.
Bagi aku dia dan mereka.
Manusia-manusia yang hanya bisa meronta
memohon-mohon haknya.
Berharap mata dan telinga Anda tidak tuli dan buta.
Atau setidaknya hati Anda bisa bersuara.


Yogyakarta, 28 Febuari 2018


Karya: Sella Manggala
Mahasiswi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)



Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website