Headlines News :
Home » , » KEPMA Bima Wadahi Forum Diskusi, Ini Pendapat Mahasiswa Bima tentang Bima RAMAH

KEPMA Bima Wadahi Forum Diskusi, Ini Pendapat Mahasiswa Bima tentang Bima RAMAH

Written By Pewarta News on Rabu, 28 Februari 2018 | 04.33

Suasana Diskusi Bima RAMAH.
Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Suasana forum terlihat hidup dengan dialektika argumen dan perspektif yang dilakukan oleh peserta diskusi pada hari Senin, 17 Februari 2018 pukul 19.30-selesai WIB. Ruang ilmiah itu diselenggarakan oleh Bidang Kajian Ilmiah Keluarga Pelajar Mahasiswa (KEPMA) Bima-Yogyakarta Periode 2017-2018. CafĂ© G’Bol Kebun Laras menjadi tempat berlansungnya ruang ilmiah dan berbagi gagasan kaum intelektual muda Bima-Yogyakarta. “Bima RAMAH : Sebuah Tinjauan Historis” merupakan tema yang diangkat dalam moment tersebut. Menelanjangi topik kajian dengan ketajaman analisa dan sikap kritis ikut mewarnainya. Berangkat dari realitas sosial yang terjadi menjadi salah satu landasan argumen dan dipadukan dengan teori-teori yang telah mereka lahap dari tembok universitas masing-masing.

Uraian pertama dilakukan oleh Ajwar Anas, selaku pematik diskusi. Perspektif historis yang beliau uraiankan menarik perhatian peserta. Pelacakan literature sejarah yang disuguhkan dalam bahasa yang sederhana dan lugas. Uraian panjang yang dilakukan oleh pemantik, membawanya sampai pada muara kesimpulan, bahwa Bima memang sejak awal adalah masyarakat yang ramah semenjak dari dulu. Wajah keramahan tersebut sebenarnya secara substansial telah termuat dalam nilai-nilai ajaran hidup Nggusu Waru. Selain sebagai kriteria ideal seorang pemimimpin, Nggusu Waru merupakan ajaran moral hidup masyarakat Bima yang saat ini kita sering dengar dengan istilah pendidikan karakter.
Ada banyak warna perspektif yang dipakai, mulai dari perspektif agama, ekonomi, politik, bahkan pariwisata dan pertanian. Selain itu, aliran ideology juga ikut mewarnai cara pandang dalam kajian, seperti perpspektif marxis yang disampaikan oleh salah satu peserta.

Salah satu peserta yang hadir, Syahrul Imam namanya, mengatakan bahwasannya tidak ada di Bima Ramah tersebut mengatakan atau menggambarkan suatu inisiatif untuk membangun ekonomi politik yang tepat untuk masyakarat petani, karena di masa lahirnya inisiasi konsep Bima Ramah itu salahsatunya, bagaimana melihat atau membaca kondisi pertanian kita di Bima. Masyarakat Bima merupakan mayoritas petani. Pertanyaan yang muncul adalah, apakah tanah pertanian yang ada saat ini mampu menyulap rakyat jadi sejahtera? Atau bagaimana dengan upaya membangun ekonomi politiknya di Bima? Nilai-nilai sosialnya bagaimana? Ramah dalam artian sosial masyarakat petani dengan sosial masyarakat guru atau pelajar itu berbeda-beda dalam memaknai sebuah kata Ramah.

Dalam momentum yang sama, Ketua Umum KEPMA Bima-Yogyakarta Agus Salim mengatakan bahwa “Bima RAMAH sebagai jargon politik harus dilihat dengan perspektif yang berbeda dengan Bima ramah dalam arti yang sebenarnya. Konteks pembicaraan kita saat ini adalah secara akademis dengan pelacakan-pelacakan historis, bahwa Bima memang sebenarnya ramah dalam arti yang sebenarnya seperti yang di katakan dalam kamus atau yang kita pahami dalam kehidupan sehari-hari. Membicarakan terkait jargon politik yang dipakai di Bima, mempunyai istilah masing-masing sebenarnya pada setiap periodenya. Karena setiap periode pemeritahan mempunyai jargon masing-masing. Sebelum Bima Ramah ini ada, kita kenal Bima Akbar, dan juga sebelum Bima Akbar ada yang namanya Bima Ikhlas,” lanjutnya.

Sementara itu, Wakil Sekretaris Forum Silaturrahim Weki Ndai Mbojo Yogyakarta M. Jamil, S.H. mengatakan bahwasannya untuk mewujudkan Bima RAMAH semua unsur harus bahu membahu mengambil bagian, karena mewujudkan suatu konsep seperti demikian tidak ucup-ucup dapat di wujudkan seketika. Semua elemen pemerintah daerah, mulai dari Bupati sampai level terkecil Ketua RT harus koordinasi dan kolaborasi mewujudkan Bima RAMAH. Lebih-lebih pemuda dan mahasiswa juga harus mengambil bagian untuk mewujudkannya, salahsatunya menjadi agen pengontrol (agent of control) ketika ada hal-hal keliru yang dilaksanakan oleh pemerintah Bima sehingga ada yang tidak terlaksana secara utuh sebuah konsep Bima RAMAH tersebut, dan tentunya pemuda dan mahasiswa harus mampu memberikan solusi yang solutif untuk mewujudkan Bima RAMAH yang dimalsud. Selain menjadi agen pengontrol (agent of control), pemuda atau mahasiswa juga harus menjadi agen perubahan (agent of change) dalam mewujudkan Bima Ramah, seperti ikut andil dalam Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS), membangun gerakan-gerakan atau budaya literasi, menghidupkan organisasi-organisasi tingkat desa (Karang Taruna) agar menjadi organisasi yang benar-benar layak dijadikan sebuah organisasi, yakni dengan merancang suatu agenda yang jelas dan terukur untuk dilaksanakan dengan profesional agar menjadi bagian untuk mewujudkan Bima yang RAMAH.

Hadir dalam acara itu, mantan Ketua Umum KEPMA Bima-Yogyakarta Arif Rahman, dan juga perwakilan-perwakilan organisasi dibawah naungan KEPMA Bima-Yogyakarta juga tampak hadir membanjiri ruang diskusi. Terakhir, harapan bersama kita adalah, semoga Bima kedepannya lebih ramah sesuai dengan slogan yang dibuat oleh Pemda Bima, yakni Bima Ramah yang benar-benar ramah sesuai ekspektasi akal sehat kita.


Penulis: Siti Hawa
Sekretaris Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) / Mahasiswa Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website