Headlines News :
Home » » KEPMA Bima-Yogyakarta Gelar Diskusi "Bima Ramah, di Tinjau dari Segi Historis"

KEPMA Bima-Yogyakarta Gelar Diskusi "Bima Ramah, di Tinjau dari Segi Historis"

Written By Pewarta News on Rabu, 28 Februari 2018 | 01.48

Suasana saat kajian KEPMA Bima-Yogyakarta.
Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Keluarga Pelajar Mahasiswa (KEPMA) Bima-Yogyakarta mengadakan sebuah diskusi pada hari Senin, 17 Febuarai 2018, jam 19:30 WIB-selesai, bertempat di G'Bol Cafe Kebun Laras. Diskusi ini mencoba mengupas secara gamblang bagaimana cara pandang mahasiswa tentang Bima Ramah, ditinjau dari segi historis.

Acara tersebut di buka langsung oleh Ketua Umum Keluarga Pelajar Mahasiswa (KEPMA) Bima-Yogyakarta Agus Salim. Bertindak sebagai moderator yakni saudara Asrizal (KAbid Kajian Ilmiah), dan menghadirkan pembicara yaitu Ajwar Anas (beliau adalah salahsatu senior Bima Yogyakarta dan juga seorang mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta).

Diskusi ini sangat menarik, dihadiri oleh sebagian besar mahasiswa Bima yang ada di Yogyakarta. Ada juga yang hadir mengatasnamakan Lembaga dibawah naungan KEPMA Bima-Yogyakarta. Hampir semua mahasiswa yang hadir di forum itu saling bertukar pendapat terkait Bima Ramah yang merupakan sebuah konsep yang di gadang-gadang oleh Pemerintah Kabupaten Bima, dan juga tidak lupa mereka pun merelevansikan dengan kondisi yang terjadi saat ini di Bima.
Salahsatu peserta yang hadir, Syahrul Imam namanya, mengatakan bahwasannya tidak ada di Bima Ramah tersebut mengatakan atau menggambarkan suatu inisiatif untuk membangun ekonomi politik yang tepat untuk masyakarat petani, karena di masa lahirnya inisiasi konsep Bima Ramah itu salahsatunya bagaimana melihat atau membaca kondisi pertanian kita di Bima. Masyarakat Bima merupakan mayoritas petani. Pertanyaan yang muncul adalah, apakah tanah pertanian yang ada saat ini mampu menyulap rakyat jadi sejahtera? Atau bagaimana dengan upaya membangun ekonomi politiknya di Bima? Nilai-nilai sosialnya bagaimna? Ramah dalam artian sosial masyarakat petani dengan sosial masyarakat guru atau pelajar itu berbeda-beda dalam memaknai sebuah kata Ramah.

Lebih jauh Syahrul membeberkan gambaran bahwasannya nilai Islam yang bekerjasama dengan Sultan Abdul Kahir pada zaman itu adalah Islam campuran atau disebut dengan feodalisme yang berpihak kepada ekonomi politik dan sosial. Menurutnya, Bima Ramah itu tidak ada di Bima, bahkan Indonesia pun tidak ada karena dia tidak menyentuh masalah masyarakat. Pernahkah pada masa Bima Ramah lahir atau terbangun suatu pendidikan yang hebat, seperti yang di bangun Kolonial Belanda atau Jepang.

Selaku pemantik diskusi, Ajwar Anas sangat mengapresiasi atas antusias dan partisipasi mahasiswa Bima dalam diskusi tersebut. "Jadi memang terkait hal-hal yang penting seperti ini (kegiatan diskusi) harus terus di budayakan dan di kembangkan lagi, tentunya memang yang paling penting adalah kita ingat dan partisipasi kita. Menkonstrusi seluruh apa yang di narasikan dari kita dalam berdiskusi tadi itu menjadi hal yang bisa di terapkan oleh kita kepada masyarakat-masyarakat khususnya masyarakat Bima," beber Ajwar Anas.

Selaku moderator, Asrizal mengatakan bahwasannya suatu sesi kegiatan seperti ini menjadi suatu kebanggaan bagi kita (mahasiswa Bima), dimana forum-forum dialektika seperti ini kembali hidup, karena selama ini forum seperti ini sudah lama tidak hadir di tengah-tengah kita. Hal demikian terlihat mengingat hasrat teman-teman yang mengikuti diskusi malam ini begitu tinggi demi rasa cintanya kepada tanah kelahiran, sampai menggugah optimisme saya yang tadinya pesimis, setelah melihat semangat anggota diskusi saya kembali optimis.

Dalam kesempatan itu, hadir juga diantaranya Wakil Sekretaris Forum Silaturrahim Weki Ndai Mbojo-Yogyakarta M. Jamil, S.H., Mantan Ketua Umum KEPMA Bima-Yogyakarta Arif Rahman, dan juga perwakilan-perwakilan organisasi dibawah naungan KEPMA Bima-Yogyakarta. Terakhir, harapan bersama kita adalah, semoga Bima kedepannya lebih ramah sesuai dengan slogan yang dibuat oleh Pemda Bima, yakni Bima Ramah yang benar-benar ramah sesuai ekspektasi akal sehat kita.

Penulis: Siti Hawa
Sekretaris Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) / Mahasiswa Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website