Headlines News :

    Like Fun Page Kami

    Alergi Filsafat

    Gunawan.
    PEWARTAnews.com -- Bagi seorang mahasiswa atau akademisi, mendengar kata filsafat sudah tidak asing lagi. Mengingat, filsafat merupakan salah satu mata kuliah yang pernah dipelajarinya ketika ia kuliah. Misalnya, mahasiswa yang kuliah di fakultas pendidikan, minimal ia akan mendapatkan materi tentang filsafat pendidikan. Mahasiwa S2 dan S3, misalnya, ia mendapati mata kuliah filsafat ilmu atau sejenisnya, begitu pula dengan tiap-tiap jurusan yang digelutinya.

    Namun, bagi masyarakat awam, mendengar kata filsafat merupakan suatu yang jarang sekali mereka dengar, bahkan ada yang tidak pernah mendengarnya sama sekali. Ironisnya, ada juga masyarakat yang menilai bahwa pelajaran filsafat adalah pelajaran yang “menyesatkan.” Mereka sangat alergi ketika mendengar kata filsafat, apalagi sampai mempelajarinya. Mungkin, hal ini wajar-wajar saja karena mereka belum tahu dan paham tentang filsafat itu sendiri.

    Sebenarnya, bukan hanya masyarakat awam yang alergi terhadap filsafat ini. Justru banyak juga dari kalangan mahasiswa, yang kurang bahkan tidak suka dengan filsafat ini. Alih-alih mempelajari dan mendalaminya, mendengar saja, mereka tidak suka.

    Pernah, saya punya cerita menarik terkait dengan filsafat ini. Dahulu, ketika saya berangkat ke Makassar (dari Bima) untuk keperluan mengurus berbagai administrasi dan berbagai persyaratan untuk penyelesaian studi, saya pernah dinasihati oleh salah satu orang tua di atas kapal laut, yang kebetulan beliau mau ke Makassar untuk mendampingi proses wisuda anaknya. Beliau menasihati saya agar menjauhi dan tidak mempelajari filsafat. Karena katanya, pelajaran itu dapat membuat orang “tersesat.” Ya, saya meng-iya-kan saja nasihat beliau. Saya tidak mau berdebat panjang dengannya. Kalau pun saya berdebat dengannya, tidak akan ada ujungnya. Sebab, dia tidak akan pernah mau tahu soal filsafat.

    Saya juga tidak tahu, mengapa beliau begitu membenci dan alergi dengan filsafat. Entah, beliau mempunyai pengalaman yang tidak menyenangkan dengan “filsafat.” Atau mungkin ada yang merasukinya. Masa sampai segitunya. Hehehe. Yang jelas, beliau tidak suka dan alergi terdapat yang berbau filsafat.

    Sesampai di Makassar, saya sempat berkontemplasi terkait dengan perkataan bapak di atas. Sebegitu ngeri dan ektrim-kah pelajaran filsafat di mata kebanyakan orang? Tapi, sekali lagi, saya tetap berpikir positif, karena barangkali mereka belum paham hakikat daripada filsafat itu sendiri.

    Bila kita mencoba menggunakan teori peluang pada kasus di atas, maka besar kemungkinan banyak orang yang memang dan betul-betul alergi terhadap filsafat. Contoh, bila dalam suatu komunitas terdapat 50 anggota, lantas yang pernah mempelajari dan mendalami filsafat hanya 5 orang, maka berdasarkan teori peluang/kemungkinan, akan ada kemungkinan 45 orang yang alergi dan tidak menyukai filsafat. Artinya, lebih banyak yang tidak menyukainya daripada yang menyukainya.

    Mari kita kembali kepada persoalan di atas. Sebenarnya, berbicara masalah filsafat berarti berbicara masalah atau terkait dengan persoalan hidup kita. Memang persoalan filsafat tidaklah mudah. Karena dibutuhkan pemikiran yang betul-betul komprehensif, mendalam sampai ke akar-akarnya (berpikir filsafati) sehingga bisa menemukan hakikat yang sebenarnya.

    Menurut saya, pelajaran filsafat sebenarnya sangat menarik, karena menyangkut berpikir lintas ilmu. Artinya, bahwa orang yang berpikir filsafati merupakan orang yang mampu mensintesiskan berbagai lintas ilmu. Sehingga, ia bisa menemukan hakikat terhadap persoalan yang dipikirkannya. Namun, sebenarnya tidak hanya persoalan hakikat (ontologi), tetapi juga persoalan cara atau metodologi (epistemologi) yang digunakan, dan manfaat/nilai yang dipikirkan/dihasilkan (aksiologi).

    Anda semua pasti sudah mengetahui, bahwa Pancasila merupakan dasar NKRI. Bila kita cermati sila-sila dalam Pancasila, sebenarnya itu merupakan buah dari berpikir filsafati. Ya, para pendiri bangsa ini merumuskan Pancasila sebagai dasar negara melalui cara berpikir sintesis. Begitu pula, untuk menyelesaikan berbagai problem bangsa ini, para pembuat kebijakan/regulasi, tidak akan bisa lepas dari berpikir filsafati.

    Maka, "tidaklah benar", bila ada yang mengatakan bahwa berfilsafat dapat menjadikan orang “tersesat.” Akibatnya, melahirkan banyak orang yang tidak suka dan alergi terhadap filsafat. Perlu diingat, bahwa lahirnya berbagai macam teknologi yang kita nikmati sekarang ini tidak terlepas dari peran filsafat.


    Wallahu a’lam.


    Ditulis pada hari Selasa, 28 Februari 2017
    Oleh: Gunawan
    Pemuda asal NTB.

    PKB Kota Jogja Gelorakan Tagline "Pemuda Berani, Indonesia Mandiri" untuk Sambut Tahun Politik

    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kota Yogyakarta dalam menyambut tahun politik 2019 mengklaim sudah siap pasang badan dalam mengambil bagian untuk meramaikan kancah perpolitikan.

    Ketua Tanfidziyah Dewan Pengurus Cabang Partai Kebangkitan Bangsa (DPC PKB) Kota Yogyakarta Solihul Hadi, S.H. membeberkan bahwasannya untuk menyambut tahun politik 2019 PKB menggandeng dan bersinergis dengan jiwa-jiwa muda untuk mewujudkan kemenangan 2019 seperti secara nasional terus digelorakan oleh Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar (Cak Imin). "Intinnya PKB harus bersinergi dengan generasi muda, hal ini senada dengan semangat pembaharuan yang digelorakan oleh Cak Imin. Saya mengajak para pemuda untuk berani mengambil bagian dalam mewujudkan Indonesia mandiri," ucapnya melalui PEWARTAnews.com pada 29/03/2018.

    Hal senada, Sekretaris Tanfidziah DPC PKB Kota Yogyakarta Ricco Yubaidi, S.H., M.Kn. menuturkan bahwa PKB Kota Yogyakarta siap meramaikan pesta demokrasi 2019 dengan riang gembira. "Sesuai dengan tagline 'Pemuda Berani Indonesia Mandiri' diharapkan momentum ini menjadi langkah yang tepat dengan munculnya para pemuda-pemudi yang punya daya saing dalam meramaikan kursi legislatif kedepan," beber Ricco.

    Lebih jauh Ricco mengatakan bahwa dalam mengambil hati masyarakat harus dimunculkan terobosan-terobosan yang inspiratif dan tidak menyebarkan kebencial yang menyebabkan rusaknya tatanan masyarakat. "Politik harus disikapi dengan saling merebut hati rakyat, saling menawarkan terobosan dan inspirasi, bukan dengan menebarkan kebencian baik terhadap seseorang atau golongan tertentu," seruannya.

    "Saat ini PKB Kota Yogyakarya tengah melakukan konsolidasi dan penguatan Dewan Pengurus Anak Cabang (DPAC) di setiap kecamatan se-Yogyakarta serta menjalankan beberapa program pengabdian masyarakat," kata pria alumni UGM ini. (PEWARTAnews)

    Menebar Manfaat, Menuai Berkah

    PEWARTAnews.com -- Judul tulisan ini merupakan salah satu sajian yang telah disampaikan oleh Ustadz kondang H. Abdul Somad, Lc., M.A. ketika memenuhi undangan PT. Beraucoal (Batu Bara) yang bekerja sama dengan Pemkab Berau.

    Beliau tiba di Berau kemarin (Rabu, 28/3/2018) dan pulang hari ini (Kamis, 29/3/2018). Selama beliau di Berau, oleh PT Beraucoal diberikan empat waktu untuk mengisi di tiga tempat, yakni dua kali di masjid Agung Baitul Hikmah (malam setelah sampai, mengisi Tabligh Akbar dan pagi keesokannya menyampaikan Kajian Duha), sedangkan subuh di masjid Rayatul Ikhlas mengisi Kajian Subuh. Selanjutnya kajian terakhir di Balai Mufakat dengan bahasan, Diskusi Lintas Ormas.

    Menurut beliau, Ada yang menarik dari judul di atas. Dari sekian lama beliau menjadi muballigh, baru kali ini mendapatkan judul kajian yang belum pernah dibahas sebelumnya. Di samping itu, beliau juga merupakan kali pertamanya mengisi pengajian di Berau.

    Pada awal membuka kajian atau bakda mukaddimah. Beliau mengawali dengan redaksi yang intinya "Beraucoal yang di sini adalah batu bara sedangkan yang saya kenal selama ini adalah obat batuk". Kalimat pengawal itupun sontak membuat hadirin melepas tawa. Walaupun hal ini, bukan hal yang tabu dari beliau karena memang tiap sajian ceramah beliau memang sudah tidak luput dari itu. Aspek ini jugalah yang menjadi daya tarik tersendiri dari Ustadz alumni Al-Azhar dan Maroko ini terhadap jamaahnya di mana pun beliau mengisi ceramah.

    Penulis memahami isi anekdot dan sindiran halus dari ceramah beliau, bukanlah tanpa makna. Melainkan sebagian besarnya menyiratkan nilai-nilai yang dapat menggugah hati jamaah untuk memikirkan dan sekaligus merealisasikan isi anekdot itu, bukan semata dijadikan canda tawaan yang tidak ternilai harganya. Sebagai contoh, salah satu anekdot yang penulis pernah dapatkan melalui ceramah unggahan di youtube adalah "Perempua dengan laki-laki berzina, tetap yang hancur adalah perempuan, bagaikan DURIAN (laki-laki) dengan TIMUN (perempuan), ketika pun diadu, kedua buah ini, pasti yang hancur adalah timun. Maka, janganlah mencoblos sebelum hari H. Penulis mengartikan dan menyimpulkan dengan kadar yang dimiki bahwa anekdot di atas, tetap perempuan yang akan hancur dan perempuan jualah yang akan rugi kelak setelah menikah (intensitas kepercayaan suami menurun) kalaulah tidak jujur terhadap kenyataan yang telah terjadi.

    Kembali dari judul di atas. Manusia pada dasarnya tercipta di muka bumi ini untuk memberikan manfaat terhadap orang lain. Jangankan manusia, hewan-hewan atau semua tumbuhan yang Allah sajikan untuk manusia di muka bumi ini pun diciptakan untuk memberikan manfaat (tidak sia-sia). Salah satunya yang dapat memberikan manfaat adalah lintah. Hewan ini pada umumnya, bagi manusia hanya dikenal sebagai musuh karena suka menyedot darah (jika manusia yang sudah ditempelkan mulutnya), begitu pun dari semua yang berkulit, berdaging, dan berdarah juga diparasit oleh lintah. Padahal, lintah ini, di sisi lain, dapat dijadikan sebagai alternatif penyembuhan penyakit terutama penggumpalan darah dan pembekuan nanah pada luka. Dengan terapi lintah ini dapat melancarkan darah karena liurnya berkhasiat melancarkan darah kemudian menyedot nanah pada luka yang rata-rata usai disedot, pasien itu akan sembuh.

    Manusia yang tidak dapat memberikan manfaat adalah manusia yang hanya memikirkan dirinya sendiri, baik sukses sendiri, salat sendiri, punya kekayaan untuk sendiri, punya ilmu untuk sendiri, dan sebagainya. Padahal, manusia pada hakikatnya adalah diciptakan untuk hidup sosial. Oleh karena itu, perlulah dirinya hadir di tengah-tengah masyarakat untuk menjadi bagian dari masyrakat itu dalam bentuk apapun caranya yang penting bermanfaat.

    Lalu, bagaiman sebaliknya dari judul di atas? Inilah yang menjadi segmen akhir dari tulisan ini. Kata beliau, manusia yang menebar mudharat akan menuai laknat. Artinya, kalaulah manusia mau selamat dan agar tidak dicap penebar mudharat, maka janganlah hidup, senang dengan iri, suka menganggap remeh orang lain, dan senang akan penderitaan orang lain. Sebab, kalau sudah seperti itu, maka akan halallah baginya menggosip atau suka menebar aib dan menjelek-jelekkan orang lain. Dengan demikian, orang yang seperti ini, hidupnya hanyalah menciptakan neraka sebelum ke neraka yang asli. Karena laknat yang didapat dari menebar mudharat tadi akan memancing murka Allah dalam hidupnya yang pada akhirnya menyusahkan diri sendiri di dunia dan ditambah lagi rugi di hari akhir.

    Marilah kita berikhtiar dengan sungguh-sungguh dari sekarang, dengan cara menuntut ilmu sebanyak-banyaknya dan mencari harta yang halalan toyyibah. Tentu dengan jalan/cara yang baik-baik. Kemudian, dengan modal itulah kita dapat menebarkan manfaat dalam arti, menjadi orang yang senang berbagi ilmu kepada siapa pun yang membutuhkan dan suka memberi kepada orang lain sesuai kadar kemampuan yang kita miliki, baik terhadap fakir miskin dan anak terlantar karena dengan itu, Insya Allah kita akan menuai berkah. Jangan sebaliknya, yakni menjadi manusia yang menebar mudharat, karena dengan itu, pasti menuai laknatullah. Naudzubillah hi min dzalik tsumma na'udzu billahi min dzalik.

    Sebagai penutup. Saya kutipkan salah satu hadits: "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no:3289)".


    Penulis: Saharudin, S.Pd., M.Pd.I.
    Dosen STIE Muhammadiyah Berau / Dosen STIT Muhammadiyah Berau / Dosen STIPER BERAU / Pemuda Asal Bima NTB / Email: saharudin.yuas178@gmail.com

    Spirit Perempuan dalam Perspektif Pendidikan Islam

    (Happy Woman’s Day 8 Maret 2018)

    “Laki-laki sukses dapat dilihat dari 2 hal, yang pertama siapa ibunya dan kedua siapa istrinya” (Umar Bin Khattab RA)
    Wanita merupakan tonggak peradaban bangsa. Dalam sejarah Indonesia kita mengenal Ibu Kartini (sosok wanita hebat) yang memperjuangkan hak-hak perempuan dalam sektor publik baik dalam hal bersosialisasi, berpendapat, ekonomi maupun pendidikan. Beliau-lah yang menyadarkan kaum hawa untuk bangkit dari keterpurukan dan penindasan menuju jalan pembebasan yang “independent”. Bebas dalam berpikir, bertindak dan mempunyai kesempatan dan peluang yang sama seperti laki-laki untuk berkancah dalam ruang publik.

    Jalan yang pertama kali ditempuh oleh RA.Kartini ialah dengan melalui “Pendidikan”. Karena pendidikan merupakan salah satu alternatif untuk mengolah akal dan hati agar selalu dekat dengan Tuhan-nya, menyatu dengan alam dan peka terhadap realitas sosial. Senada dengan UU Sisdiknas Nomor 20 tahun 2003 bahwa pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi manusia agar memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

    Sejak RA Kartini memperjuangkan hak-hak perempuan terutama dalam hal pendidikan, sejak saat itulah wanita Indonesia mempunyai kesadaran bahwa ditangannya terdapat harapan bangsa. Sehingga wanita harus cerdas dan mencerdaskan. Artinya, sebelum wanita mencerdaskan yang lain terlebih dahulu wanita harus “cerdas” (read : mencerdaskan dirinya sendiri) dengan “belajar/ngangsu kawruh” agar memiliki science, knowledge, skill, best attitude dan qalbun salim.

    Hal tersebut dapat digali, diolah dan dikembangkan dengan senantiasa membuka cakrawala dalam segala hal. Sebagaimana wahyu yang pertama kali Allah turunkan kepada Nabi Muhammad ialah perintah untuk belajar (menuntut ilmu).

    Agama Islam sangat menjunjung tinggi “Ilmu”, sehingga orang yang beriman nan ber-ilmu mempunyai kedudukan yang istimewa dihadapan Tuhan (Qs. Al Mujadalah ayat 11). Bahkan dalam kitab ala-ala disebutkan “fa inna faqihan wahidan mutawarri’a, asyaddu ‘ala asy-syathani min alfi ‘abidi”, bahwa seorang yang faqih (berilmu) lebih ditakuti syaithan daripada 1000 orang yang ahli ibadah tanpa didasari dengan ilmu”.

    Begitu pula dengan wanita, wanita harus haus akan ilmu dan pengetahuan karena ia akan melahirkan spies yang kelak akan menjadi generasi penerus ummat dan bangsa. Penulis teringat quote yang dulu pernah ditulis oleh Dian Sastrowardoyo bahwa “Entah kelak menjadi ibu rumah tangga atau wanita karier namun yang jelas wanita harus berpendidikan”. Kata “berpendidikan” penulis memberikan tafsiran yakni “senantiasa belajar dan menjadi pembelajar dalam segala lini kehidupan”. Karena belajar tidak dibatasi dalam lingkup strata/marhalah (S1, S2, S3 dll/lingkup formal) namun yang lebih dari itu ialah bagaimana mengambil inspirasi dari al qur’an untuk dijadikan sebagai spirit untuk terus semangat belajar dan self continous improvement.

    Dengan wanita memiliki kecerdasan (IQ, EQ dan SQ) maka ia akan dapat mendidik anak bi tarbiyatin hasanatin, sesuai dengan Qs. Al A’raf ayat 58 bahwa tanah ibarat wanita dan bibit ibarat laki-laki. Jika tanahnya baik, meski bibitnya kurang baik maka akan tumbuh tanaman yang baik. Sebaliknya apabila bibitnya baik ditanam ditanah yang gandus, gersang dan kering maka tanamannya tidak akan tumbuh dengan baik. Apalagi kalau tanah dan bibitnya baik, insyaAllah tanamannya pun akan baik. Artinya, perempuan dapat mempengaruhi segala hal. Hal ini dapat dilihat dari berbagai macam kisah, yakni Thomas Alfa Edison. Dibalik sosok beliau yang luar biasa, tentunya ada wanita hebat yang luar biasa pula, yakni ibunya. Ibu-nya lah yang selalu meyakinkan dia bahwa dia hebat dan merupakan anak cerdas meski pada saat itu Thomas di DO (drop out) dan di justifikasi oleh guru nya bahwa ia merupakan anak bodoh, sehingga guru-gurunya tidak sanggup lagi mendidiknya. Dibalik kisah Sukses Motivator Islam terkenal Dr. Ibrahim El Fikky, ada seorang wanita hebat yakni istrinya yang senantiasa mensupport dan mendoakan beliau hingga pada akhirnya beliau menjadi manager hotel berbintang 5 saat sebelumnya menjadi cleaning service disebuah hotel.

    Di Indonesia misalnya, kita mengenal sosok BJ. Habibi yang luar biasa dan pasti dibelakangnya ada sosok hebat pula yakni Ibu Ainun, bahkan sangat banyak contoh-contoh lain yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu, salah satunya ialah kisah dari pembaca sendiri. Anda hebat, karena istri anda dan atau ibu anda.!

    Sudah saat-nya kaum wanita berkarya, mengeksplore diri dengan terus menjajaki berbagai macam pengalaman dan pelatihan serta memperluas cakrawala berpikir dengan membaca, menganalisis, beretorika, berdialektika dan berdiskusi.

    Saat diri kita lelah dan penat dalam belajar, ingatlah bahwa “anak-anak kita kelak berhak terlahir dari rahim wanita yang cerdas dan mencerdaskan”! Motivasi penulis satu, karena IBU. Doakan semoga ibu saya sehat selalu.


    Penulis : Mukaromah
    Mahasiswi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta


    Presidium PENA 98: Kritik Permenhub 108 Bukan Berarti Pembangkangan

    Adian Napitupulu. Foto: wikidpr.org.
    Jakarta, PEWARTAnews.com -- Menyikapi pernyataan Wakil Sekjend ProDEM dimuat oleh beberapa media mengatakan bahwa  broadcast Adian Napitupulu mengkritik moratorium dikeluarkan oleh Menteri Koordinator merupakan sebuah pembangkangan kepada pemerintahan Jokowi. Menanggapi hal tersebut, Presidium PENA 98 dan sekaligus Pembina Pospera Sumatra Barat saudara Aznil menyayangkan sikap tersebut. "Saya sebagai Presidium PENA 98 sangat menyayangkan pernyataan wakil Sekjen ProDem tersebut," ucap Azril melalui siaran persnya yang diterima PEWARTAnews.com pada 14 Maret 2018.

    Lebih lanjut Azril mengatakan bahwa tidak benar Adian Napitupulu selaku Pembina Pospera menyerang Pemerintahan Jokowi. Pada Rakernas III Pospera tgl 28 Januari di Medan secara aklamasi dalam rapat pleno memutuskan mendukung sepenuhnya Jokowi sebagai Capres 2019 dan bertekad all out bergerak memenangkan Jokowi 2 Periode.

    Lanjutnya, ketika dukungan dan loyalis Pospera kepada Presiden Jokowi bukan berarti menghilangkan kekritisan terhadap pemerintah. Itu namanya fanatik membabi buta. Pospera adalah kumpulan aktivis 98 yang rasional dan berjuang untuk kepentingan rakyat.

    "Permenhub 108 yang mewajiban para driver online untuk mengurus izin angkutan sewa khusus adalah sebuah kebijakan yang tidak bijak. Driver online harus berbadan hukum secara bersama-sama akan membunuh hak para driver untuk bermitra secara langsung dengan aplikator. Pola ini mirip dengan pola Orde Baru yang menerapkan tata niaga cengkeh pada tahun 70-an yang akhirnya membunuh masa depan petani," beber Azril.

    Pospera menilai, kata Azril, kebijakan tersebut salah alamat. Seharusnya kebijakan tersebut ditujukan kepada perusahaan jasa aplikasi bukan kepada driver. Jadi objeknya harus dirubah.

    "Pospera mengkritisi Permenhub 108 tersebut jangan sampai melahirkan konglomerasi dengan cara memeras keringat rakyat. Bahwa tanpa membuat perantara, rakyat bisa sejahtera," narasinya.

    Azril beberkan bahwa Adian melihat moratorium penghentian pendafataran taksi online merupakan kebijakan yang aneh. Alasan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan adanya moratorium itu untuk melindungi pengemudi taksi online agar tidak gagal bayar dalam pembayaran kredit mobil seolah-olah dijadikan masalah. Sementara kredit macet pengusaha yang sangat banyak kenapa tidak menjadi prioritas untuk diselesaikan.

    Untuk itu, keluh Azril, alasan Luhut Binsar tersebut tidak Logis. Seharusnya Menteri Perhubungan tetap konsisten menunda diberlakukannya Permenhub 108 setelah merevisi pasal-pasal yang merugikan driver online sebagaimana disepakati hasil pertemuan Menteri Perhubungan dengan Perwakilan Driver Online pada tanggal 13 Februari 2018.

    PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta Gelar Mubes, Ilmidin Pegang Nahkoda Baru

    Direktur PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta terpilih Ilmidin (bersarung) dan M. Jamil, S.H. (Mantan Ketua Umum PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta 2016-2017)
    Gunungkidul, PEWARTAnews.com -- Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta mengadakan kegiatan Musawarah Besar (Mubes) yang ke - VII dengan mengangkat tema "Bangkit Menyatukan Visi dengan Kepemimpinan Kolektif Menuju Perubahan". Berlangsung di Wisma Opak Jindogo Njelog, Parangrejo, Girijati, Purwosari, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (24-25/03/2018)

    Selama kegiatan berlangsung, Mubes berjalan dengan baik, tidak ada unsur kekerasaan yang menimbulkan profokator, baik secara lisan maupun secara fisik. Kegiatan berlangsung pada tanggal 24-25 Maret 2018 mulai pukul 20.00, dan dihadiri oleh banyak peserta sekitar 40-an, peserta yang hadir tidak hanya anggota PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta saja, melainkan ada juga tamu undangan dari forum-forum lain.

    Penyelenggaraan kegiatan Mubes merupakan kegiatan tahunan PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta, salahsatu unsur terpenting didalamnya yaitu untuk memilih pemimpin baru bagi organisasi Pascasarjana Mbojo yang berada di Yogyakarta. Nawassarif, S. Kom selaku Dewan Perimbangan Organisasi PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta dalam sambutan pembukaan mengatakan bahwasannya keberadaan kegiatan seperti ini akan melahirkan garda-garda baru dalam setiap kepemimpinan pada internal PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta.

    Lanjutnya, PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta merupakan wadah kita bersama, yang harus kita jaga adanya, serta bertujuan untuk melakukan kegiatan kegiatan studi penelitian yang sifatnya membangun sehingga PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta bisa menjadi wadah terdepan dalam menghadapi tatangan jaman.

    Disisi lain Mir'atun Syarifah, S.Farm., selaku penjabat sementara (Pjs) Ketua Umum yang berhalangan, dalam sambutannya menyampaikan hal yang sama, bahwa PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta adalah sisi besar yang memiliki pengaruh tinggi terhadap pendidikan sekarang, dengan lembut dia menyampaikan bahwa bekerjasama adalah cara tuntas untuk menyelesaikan semuanya, dan ikhlas adalah cara terbaik sehingga menjadi pemimpin untuk diri sendiri maupun orang lain.

    Salahsatu perubahan yang mencolok dari hasil Mubes PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta kali ini, salahsatu diantaranya adalah dalam penyebutan pucuk pimpinan organisasi, sebelumnya penyebutan sebagai Ketua Umum berubah menjadi Direktur.

    Kegiatan ini berlangsung dengan baik walau sedikit dinamika, namun tetap berujung pada suatu prosesi pemilihan Direktur baru.

    Acara yang berlangsung dengan santai dengan dibumbui dengan dinamika-dimamika yang alot, sampai memasuki acara pemilihan, terdapat sekurang-kurang nya 5 kandidat yang lolos pada tahap verifikasi kriteria calon, termasuk salah satunya adalah Ilmidin, S.K.M.

    Dalam tahapan pemilihan tersebut, terpilihlah Ilmidin, S.K.M., yang merupakan mahasiswa Pascasarjana Fakultas Kedokteran UGM Yogyakarta yang berasal dari Langgudu Bima, sebagai Direktur PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta periode 2018-2019.

    Keluarga besar PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta usai mubes berlangsung.

    Dalam sambutanya, Direktur baru PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta Ilmidin, S.K.M. mengucapkan terimakasih karena sudah dipercaya menjadi Direktur, dan berharap roda PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta berjalan dengan baik selama kepemimpinanya. Namun lanjutnya, semua tidak akan bisa berjalan dengan baik kalau saja kita tidak bekerjasama, kerjasama merupakan suatu tolak ukur pencapaian visi dan misi organisasi, yang tidak bisa kita pungkiri adanya bahwa kita adalah manusia yang saling membutuhkan. (Muhammad Akhir / PEWARTAnews)
    Suasana usai Mubes PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta.

    Direktur LKBH PANDAWA Sayangkan Pencabutan SK Rektor UIN SUKA terkait Pembinaan Mahasiswa Bercadar

    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Akhir-akhir ini pro dan kontra keluarnya SK Rektor UIN Sunan Kalijaga terkait Pembinaan Mahasiswa Bercadar ramai menghiasi media lokal maupun media nasional. Endingnya, SK pembinaan tersebut di cabut dengan surat tertanggal 10 Maret 2018. Direktur LKBH PANDAWA Sugiarto, S.H., M.H. menyayangkan atas pencabutan SK Rektor Sunan Kalijaga yang telah menerbitkan Surat No. B-1679/UN.02/R/AK.00.3/03/2018 tentang Pencabutan Pembinaan Mahasiswi Bercadar pada tanggal 10 Maret 2018 atas terbitnya surat keputusan Rektor No. B-1301/UN.02/R/AK.00.3/02/2018 tentang Pembinaan Mahasiswi Bercadar. "Saya sangat menyayangkan (pencabutan SK Rektor UIN Sunan Kalijaga terkait Pembinaan Mahasiswa Bercadar), dikarenakan tugas institusi pendidikan tidak hanya memberikan pelajaran yang berbasis kurikulum saja namun juga kewajiban memberikan pembinaan kepada mahasiswanya," ucap Sugiarto.

    Sugi (panggilan akrab Sugiarto) juga membeberkan hasil riset Anas Sayidi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada akhirnya Febuari 2016 yang sangat mengejutkan, dalam riset tersebut, kata Sugi, terungkap bahwa paham radikalisme sudah merasuk di kampus melalui jaringan organisasi kemahasiswaan dengan status darurat kampus. Hal ini terjadi juga di kampus-kampus DIY termasuk Universitas UIN Sunan Kalijaga yang beberapa waktu lalu terbukti telah ditemukan oleh pihak kampus adanya deklarasi dan pengibaran bendera HTI di kampus UIN Sunan Kalijaga yang dilakukan oleh sekelompok orang yang mengenakan cadar. Padahal organisasi tersebut sudah di cabut badan hukumnya oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, karena bertentangan dengan ideologi Pancasila dan UUD 1945 dan berdasarkan Perppu Nomor 2 Tahun 2017 tentang Perubahan atas UU Nomor 17 Tahun 2017 tentang Organisasi Kemasyarakatan.

    Lebih jauh Sugi membeberkan bahwasannya, "Tindakan urgensial yang segera diambil kampus untuk mengantisipasi dan pencegahan penyebarluasan paham radikalisme Islam radikal di kampus, maka melalui surat keputusan Rektor tersebut (SK No. B-1301/UN.02/R/AK.00.3/02/2018 tentang Pembinaan Mahasiswi Bercadar) merupakan tindakan yang sesuai prosedur hukum dan tidak melanggar Hak Asasi Manusia, karena pendataan dan pembinaan mahasiswa merupakan tugas institusi kampus terhadap meraka yang patut diduganya mahasiswa/mahasiswi yg melenceng dari ideologi Pancasila dan UUD 1945. Namun dimungkinkan akan ada SK rektor lain yang berlaku untuk umum sebagai strategi penguatan idiologi Pancasila dan UUD 1945 di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga," beber Sugi. (PEWARTAnews / PN-001)

    Diwartakan Ada Kekosongan Obat di Bima, Ashadi Husein: Tidak Ada Kekosongan Obat

    Bima, PEWARTAnews.com -- Beberapa hari terakhir ini heboh diberitakan media lokal terkait kekosongan obat untuk 21 Puskesmas di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Menanggapi pemberitaan tersebut, terutama yang diwartakan Inside Post tanggal 9 Maret 2018 dengan judul "Soal Obat Kosong Kepala Dikes Dan Pemda Tutup Mata", Dinas Kesehatan Kabupaten Bima melalui Kepala Sub Bagian Program dan Pelaporan, Ashadi Husein, S.K.M., M.H.Kes. membantah terkait kekosongan obat di sejumlah UPT Puskesmas di Kabupaten Bima. "Dinas Kesehatan Kabupaten Bima telah mengumpulkan seluruh kepala Puskesmas dan menyatakan bahwa pelayanan berjalan normal. Kalaupun ada kekurangan masih bisa tertutupi dengan stok dari dana JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) Kapitasi," beber Ashadi Husein melalui siaran pers tertanggal 10 Maret 2018.

    Lebih lanjut, menurut lelaki gagah Alumni Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada ini membeberkan bahwasannya perencanaan obat bukan 100% tapi 150% (bisa untuk kebutuhan selama 18 bulan). Jadi masih ada buffer stok 6 bulan itu dari dana DAK. Ada juga buffer stok dari provinsi NTB  dan Pemerintah pusat, di samping itu ada juga  dari JKN kapitasi sebesar 40 % yang ada di rekening Puskesmas yang sifatnya insidentil atau emergency yang bisa dibelanjakan. Jadi, menurutnya, untuk ketersediaan obat  tidak pernah mengalami kekosongan karena banyak sumber yang bisa didapatkan antara lain dari DAK sebesar 3,3 M untuk pengadaan obat dan perbekalan kesehatan, JKN kapitasi 40%, Buffer stok propinsi maupun pusat. "Biaya distribusi obat  lebih dari Rp. 200 Juta  dari DAK non fisik TA 2017 untuk distribusi e-logistik yang dikelola langsung oleh IFK (Instalasi Farmasi Kesehatan). Sementara tugas merencanakan, menyimpaan dan mendistribusi obat adalah IFK," ucapnya.

    Selain itu, pria brewokan yang juga Sekretaris Umum Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Bima ini menginfokan bahwasannya untuk berkaitan dengan pengadaan obat tahun 2018 ini damana-mana  di seluruh Indonesia belum ada yang datang (ke kabupaten - kota) karena masih dalam proses pengadaan. "Untuk menutupi awal-awal tahun itulah direncanakan pangadaan obat untuk 18 bulan dan bukan 12 bulan. Ada juga JKN untuk dibelanjakan sendiri oleh Puskesmas dan buffer stok propinsi maupun pusat. Untuk  tahun 2018 ini dialokasikan Rp.4.073.334.000 dari Dana DAK untuk kegiatan pengadaan obat dan perbekalan kesehatan serta kegiatan distribusi obat dan e-logistik (DAK non fisik) sebesar Rp.400.880.000." katanya. (PEWARTAnews / PN-001)

    Beyond Thinking

    Nahrul Saputra.
    Preface
    Bima merupakan sebuah Daerah yang terletak di ujung Timur Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Secara sosial-kultural Kabupaten Bima memiliki lapisan masyarakat yang sangat plural, hal tersebut disebabkan karena masyarakat yang menempati Daerah tersebut terdiri dari beragam budaya, karakter, dan agama. Secara sosiologis masyarakat Bima dibentuk oleh budaya dan karakter-karakter tersebut, di samping juga peran agama di sisi lain.

    Dari proses pembentukan tersebut sehingga melahirkan budaya dan karakter yang khas dari masing-masing komunitas masyarakat. Namun, dalam lintasan historisnya komunitas masyarakat yang terbentuk tersebut saling memanfaatkan antara yang satu dengan yang lain, sehingga timbulah hal-hal yang tidak diinginkan oleh masing-masing komunitas atau kelompok tertentu. Dari sinilah salah satu akar permasalahan yang menimbulkan chaos atau konflik (dengan pengertian pertentangan, karena ada juga konflik yang hanya berhenti pada tahap perbedaan) dalam masyarakat atau komunitas.

    Konflik-konflik yang muncul tentu sangat beragam (kalau tidak dikatakan kompleks), tergantung bagaimana metode kita memandangnya. Di Bima, baik itu di tataran Kabupaten maupun Kota, sejak empat tahun terakhir terdapat 170 (kahaba.net)  kasus dengan motif yang berbeda, mulai dari kasus melibatkan masyarakat akar rumput (grass root) sampai kepada kasus yang melibatkan masyarakat elit (estate society) khususnya pihak birokrasi pemerintahan.

    Tulisan pendek ini akan sedikit mencoba mencari solutif alternatif dari permasalahan tersebut, walaupun tentunya tidak akan membawa dampak yang besar bagi masyarakat Bima.

    Konstruksi Teori
    Seacra teori, konflik sebagian berkembang sebagai reaksi (to response) terhadap fungsionalisme struktural. Teori konflik berasal dari berbagai pemikir, seperti Karl Marx dengan Marxian teory-nya, dan pemikiran konflik sosial dari  George Simmel.(Geprge Ritzer dan Douglas J. Goodman, 2004: 153)

    Menurut Dahrendorf, masyarakat mempunyai dua wajah yaitu konflik dan konsensus. (Geprge Ritzer dan Douglas J. Goodman, 2004: 153) Oleh karena itu, teori sosiologi mesti dibagi dua yaitu teori konflik dan teori konsensus. Teori konsensus mesti menguji integritas dalam masyarakat dan teoretisi konflik mesti menguji konflik kepentingan dan penggunaan kekerasan yang mengungkung masyarakat bersama dihadapan tekanan itu.

    Di sisi lain, Ibnu Khaldun mencoba memberikan devinisi atau batasan tentang konsep masyarakat. Menurut Ibnu Khaldun, kumpulan manusia itu bersifat niscaya. Dari devinisi ini Ibnu Khaldun tidak secara eksplisit menjelaskan tentang konsep masyarakt. Namun, devinisi tersebut dapat dipahami bahwa sebuah masyarakat (society) tidak akan dapat berdiri tanpa adanya manusia. Oleh karena itu, dalam pandangan Ibnu Khaldun bahwa perilaku berkumpul (seabagai karakter sosiologis manusia) itu merupakan hal yang pokok atau mendasar bagi kehidupannya seabgaimana watak dan perilaku lainnya, seperti makan, minum, dan  berkeluarga.

    Village Society and Town Society

    Pertama, Village Society
    Konsep masyarakat desa kalau ditinjau dari perspektif historis akan berakar pada pandangan sosial Ibnu Khaldun. Karena biar bagaimana pun seperti yang dikemukakan oleh beberapa pemikir bahwa kalau berbicara tentang masyarakat maka akan merujuk pada pendapat tokoh seperti Emile Durkheim, Karl Marx, Herbert Spencer, dan tokoh lainnya yang hadir belakangan dari pada Ibnu Khaldun.

    Masyarakat Desa pada umumnya berprofesi sebagai petani, nelayan, dan peternak. Walaupun di sisi lain bisa juga berprofesi sebagai pemburu (hunter). Dalam konteks masyarakat Bima, dengan tanpa memunafikan sebagian yang berprofesi sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), Honores, dan berbagai profesi lainnya yang sejenis, namun dapat dikatakan bahwa secara komprehensif masyarakat Bima berprofesi sebagaimana umumnya masyarakat Desa yaitu seabagai petani, nelayan, dan peternak.

    Seacra struktural, masyarakat desa merupakan cikal bakal dari munculnya masyarakat kota. Karena antara masyarakat desa dan masyarakat kota laksana bangunan piramida yang asal muasal atau dasar dan penyanggannya adalah masyarakat desa. Keduanya memiliki kesinambungan sosial seacra vertikal yang dilandasi oleh suatu proses perkembangan (progress).

    Dari sisi tingkah laku, masyarakat desa lebih dekat pada kebaikan (moral society) dari pada masyarakat kota. Hal ini disebabkan karena cara hidup yang ditempuh oleh masyarakat desa relatif lebih sederhana (simple), apa adanya (bukan ada apanya), dan alami. Gaya hidup (live style) masyarakat desa jauh berbeda dengan masyarakat kota yang penuh dengan hal-hal yang bebentuk kemewahan, dan penuh rekayasa sosial.

    Cara hidup yang ditempuh oleh masyarakat Bima, khususnya yang berada di Kabupaten, pada prinsipnya berjalan dengan alami dan penuh dalam suasana saling menghargai (mutual respect), saling mengasihi (mutual loving), dan penuh dengan sikap egaliter. Namun, ketika mereka tersentuh dengan cara atau pola hidup yang ke-kotaan, maka tercemar dan berubahlah pola pikir (mind set) yang semula sangat respek terhadap orang lain menjadi sangat terisolasi dan relative amoral.

    Sisi lain yang dimiliki oleh masyarakat desa ialah jiwa keberanian. Masyarakt desa secara psikologis jauh lebih berani dari pada masyarakat kota. Hal ini disebabkan karena dalam kehidupan sehari-hari di desa relatif banyak tantangan dari pada di kota, seperti tantangan dari bahaya binatang buas, dan lain sejenisnya. Sikap berani ini nantinya ketika bergaul dengan masyarakat kota yang akan menjadi modalnya dalam berhubungan.

    Kedua, Town Society
    Secara hierarkis masyarakat kota (town society) merupakan puncak dan metamorfosis dari masyarkat desa (village society). Masyarakat kota dari sisi profesi lebih banyak bekerja sebagai pegawai yang tantangannya relatif kecil (tantangan dari sisi fisik). Mereka ialah pelayan Negara (waiter of state) seperti yang dituturkan oleh Ibnu Khaldun:

    “Ketauhilah bahwa sesungguhnya suatu kesultanan (pemerintah) pasti membutuhkan layanan dalam berbagai departemen dan bidang yang melahirkan badan ketentaraan, kepolisian, dan kesekretariatan. Masing-masing departemen dan bidang diwakili oleh satu orang yang menguasai bidangnya dan digaji dari khas Negara. Semua ini masuk dalam kategori struktur pemerintahan, dan seorang raja sebagai pejabat tertinggi mengeluarkan kebijakan-kebijakan programnya”. (Moh. Pribadi, 2014: 132).

    Dalam sistem pemerintahan tugas pegawai Negara disebut pendelegasian tugas Negara (pembagian tugas). Kebiasaan seperti ini dapat menyebabkan seorang pemimpin dinilai lemah dan buruk.

    Dari sisi pola hidup, masyarakat kota jauh lebih berfoya-foya, karena disekelilingnya penuh dengan gemerlapnya kemewahan dan kesenangan. Sedangkan dari sisi solidaritas, masyarakat kota lebih memilih lebih hidup sendiri-sendiri dan atau isolatif. Bentuk kerajasama (cooperation) mereka tidak lagi hanya memenuhi kebutuhan primer, akan tetapi lebih kepada hal-hal yang bersifat sekunder dan terseier.

    Masyarakat kota secara ekonomi memang relatif mapan, namun sikap dan perilaku mereka cenderung kepada hal-hal yang bersifat hedonistis. Orientasi hidup mereka lebih kepada hal yang bersifat kesenagan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama kehidupannya.

    Dalam konteks Bima, bukan maksud untuk menggeneralisir, bahwa pola hidup yang dipraktekan sekarang lebih ke hal-hal yang demikian, sehingga jauh dari tuntutan kemajuan dan perkembangan. Hal itu terjadi tidak saja berlaku bagi masyarakat yang menetap di kota, akan tetapi juga terjadi masyarakat yang ada di desa. Belum lagi dari sisi solidaritas, masyarakat Bima saat ini hanya memiliki solidaritas parsial, atau terbatas pada kelompoknya sendiri. Akibatnya, akan rawan terjadinya konflik dan atau chaos. Chaos muncul karena disebabkan adanya ego dari masing-masing kelompok, yang tidak mau saling memahami antara yang satu dengan yang lain.

    Seperti yang dikatakan oleh Dahrendorf bahwa masyarakat memiliki dua wajah yaitu wajah konflik (faced conflict) dan wajah konsensus (consensus faced). Jadi, mestinya masyarakat Bima saat ini lebih menampakkan wajah konsensusnya dari pada wajah konfliknya. Sebab, dengan demikian maka perkembangan dan perubahan akan terjadi.

    Praktek Demokrasi di Kabupaten Bima
    Demokrasi sebagai sebuah istilah (terminology) itu diperkenalkan oleh Abraham Lincoln presiden Amerika Serikat (united state), namun dalam prakteknya konsep demokrasi telah dilakukan sejak di zaman Plato. Hakikat demokrasi adalah dengan diberikannya kesempatan secara penuh kepada rakyat untuk menentukan segala pilihan dan aktivitasnya, sepanjang hal itu tidak tidak bertentangan dengan hokum yang berlaku. Di Indonesia sendiri menurut R. William Liddle, ciri khas demokrasi era Ode Baru (orba) ialah bahwa yang berkuasa itu satu orang yaitu presiden, yang dalam hal ini ialah Soeharto. Sedangkan, ciri khas demokrasi di era Reformasi yang berkuasa itu adalah rakyat.

    Dalam konteks Kabupaten Bima, proses demokrasi yang berlangsung saat ini nampaknya agak jauh dari substansi dan atau hakikat demokrasi itu sendiri. Hal tersebut disebabkan karena praktek demokrasi yang dijalankan masih penuh dengan hal-hal yang berlawanan dengan nilai demokrasi (value of democracy), seperti masih terjadinya praktek politik uang (money politic), politik jabatan, dan lain sebagainya yang sejenis. Di sisi lain juga, masih dibiarkannya para Pegawai Negeri Sipil (PNS) untuk terlibat dalam politik, padahal di dalam hokum yang berlaku, bahwa PNS itu dilarang untuk melakukan politik. Hemat penulis, hal-hal semacam inilah yang menghambat dan atau bahkan mencederai jalannya demokrasi kita (di Kabupaten Bima).

    Praktek demokrasi akan berjalan dengan baik apabila tingkat partisipatif para warga masyarakat tinggi. Bentuk partisipatif warga masyarakat mestinya bukan berdasarkan kepentingan sesaat (seperti dikasih uang baru akan ikut andil), akan tetapi lebih dari pada itu yaitu bagaiamna menciptakan tatanan kehidupan menjadi labih baik dari sebelumnya. Hal tersebut akan terwujud apabila masyarakat dan pemerintah betul-betul menyadari bahwa betapa berharganya kepentingan bersama warga masyarakat, bukan kepentingan kolektif atau kelompok tertentu saja.

    Kabupaten Bima akan maju dan menjadi pioner atau lokomotif bagi Kabupaten-Kabupaten lain di Indonesia khususnya di Provinsi NTB dalam hal demokrasi, apabila bentuk partisipatif warga dilakukan dengan penuh sikap terbuka (opened attitude), toleran, inklusif dalam berpikir, dan demokratis dalam bertindak.

    Outboxism Thinking bukan Inboxism Thinking
    Akademisi dan sosiolog salah satu Kampus yang ada di Bima, Aidin, mengatakan bahwa konflik atau chaos yang terjadi di Bima bukan disebabkan oleh faktor ekonomi, akan tetapi lebih disebabkan oleh munculnya kelompok-kelompok separatis yang dengan sengaja menciptakan konflik. Lanjut Aidin, konflik tersebut tidak akan dapat diatasi kalau pihak yang berweanag atau dalam hal ini Pemerintah dan pihak kepolisian tidak turun menyelesaikannya.

    Hemat penulis, bukan waktunya lagi untuk membikin kelompok atau gang semacam itu (apalagi di zaman postmodernisme ini), sudah saatnya kita untuk keluar dari cara berpikir yang bersekat-sekat untuk menuju cara berpikir yang terbuka, toleran, dan demokratis. Cara berpikir semacam inilah yang relatif kurang nampak dalam masyarakat Bima saat ini, khususnya kita sebagai agent of change. Baik pelajar/mahsiswa maupun masyarakat biasa khususnya di Bima saat ini seperti tidak memiliki sumber rasa arah (sense of direction) dan pangkal tujuan (sense of purpose), masyarakat Bima saat ini cenderung kepada hal yang destruktif, tentu tidak semuanya, akan tetapi inilah fenomena yang terjadi saat ini di Bima.

    Semestinya pola pikir yang dikembangkan tidak sebatas pada halaman rumah saja, namun mesti mampu keluar, dan kalau perlu mesti cara berpikirnya mesti bersifat internasional, walaupun dalam prakteknya kultural-partikular. Dengan pola semacam inilah hemat penulis, konflik dan atau chaos yang terjadi di Bima sedikit teratasi.

    Dari sisi teologis, masyarakat Bima secara umum menyandarkan keyakinannya pada Islam (Islam sebagai institusional dan sebagai doktirn). Namun, nilai-nilai universal yang terkandung di dalamnya  nampaknya masih tersimpan dalam pikiran dan laci mejanya masing-masing. Mestinya, nilai Islam (Islamic value) tersebut mesti diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai landasan dalam berpikir dan bertindak. Hemat penulis, seandainya nilai teresbut menjiwai dan menjadi spirit dalam berpikir dan bertindak, maka tidak akan ada daya pengkaliman, apalagi saling membunuh antara satu dengan yang lain.


    Penulis: Nahrul Saputra
    Ketua Umum Ikatan keluarga Mahasiswa Pascasarjana (IKMP) UIN Sunan Kalijaga Yogayakarta

    NB:
    Tulisan ini pernah disampaikan dalam Dialog Publik yang diselenggarakan oleh Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) pada Hari Sabtu, 3 Maret 2018 di Yogyakarta.

    Urgensi Kewirausahaan

    Mukaromah.
    PEWARTAnews.com -- "Nak, kalau kamu jadi guru, dosen atau jadi kiyai kamu harus tetap usaha. Harus punya usaha sampingan agar hatimu tidak selalu berharap dan menggantungkan pemberian orang karena usaha yang dihasilkan dari keringat sendiri itu barokah” (KH. Maimun Zubair).

    Motivasi KH. Maimun Zubair bahwa manusia jangan hanya berharap dan  menggantungkan dirinya menjadi seorang PNS namun harus di-imbangi dengan senantiasa mengasah dan mengembangkan skill kewirausahaan. Mari kita menengok sejarah, bahwa profesi yang pertama kali dicontohkan oleh Kanjeng Nabi Muhammad ialah berdagang. Dalam sabda-Nya bahwa berdagang merupakan salah satu diantara pekerjaan-pekerjaan baik yang diperintahkan Rasulullah kepada ummat-ummat nya.

    Berdagang/berwirausaha merupakan sebuah konsep, gagasan dan atau ide yang dimiliki oleh setiap  manusia untuk mengatur, mengelola, mengembangkan, mewujudkan gagasannya menjadi sesuatu yang nyata/kongkrit serta mempunyai mental untuk menanggung risiko dari usaha yang dijalankannya. Ide/gagasan tersebut dapat dimiliki oleh setiap manusia. Karena memang setiap manusia dianugrahi Allah dengan potensi fisik dan akal yang amat sangat luar biasa. Dengan anugrah potensi itulah, manusia bisa tetap mempertahankan eksistensinya sebagai ’ibad yang menghambakan diri kepada Allah serta sebagai khalifatullahu fil ardi yang bertugas nguri-uri dan memakmurkan bumi, termasuk untuk mengembangkan ide berwirausaha.

    Sama halnya ketika kita berbicara mengenai leadership atau jiwa kepemimpinan. Hal itupun juga dimiliki oleh setiap insan, karena memang setiap manusia adalah pemimpin, sebagaimana dalam hadist mengatakan bahwa : kullukum ra’in, wa kullukum mas’uliyyatun ‘ala ro’iyyatihi. Sama halnya dapat dikatakan bahwa setiap manusia mempunyai potensi untuk menjadi pengusaha, tergantung dari seberapa optimal dalam menggali dan mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya.

    Tentu untuk menjadi pengusaha, manusia harus mengetahui kelemahan dan kelebihan dirinya. Hal itu dimaksudkan agar manusia mampu mengembangkan suatu usaha berdasar pada jobdes  (bidang keahliannya). Ketika si A mempunyai kelebihan dalam bidang IT maka sebaiknya mengembangkan usaha yang berbau IT/teknologi, seperti : membuka warnet, fotocopyan, warung ketik, teknisi komputer, service laptop dsb. Begitupula si B yang mempunyai skill dalam hal leadership manajerial, mungkin bisa membuka lembaga private (bimbingan belajar), pelatihan kepemimpinan, dsb.

    Penting bagi setiap manusia mengetahui kelemahan dan kelebihan dirinya. Ketika mempunyai kelebihan dalam satu bidang, maka kembangkanlah. Begitupula ketika ingin mengembangkan bidang-bidang lain, maka penting untuk mengikuti pelatihan-pelatihan, agar nantinya bisa hebat dalam segala bidang.

    Seseorang yang kuliah di jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) bukan berarti hanya menguasai satu bidang keilmuan saja yang berkaitan dengan ilmu Agama Islam. Akan tetapi, dalam kurikulum juga di-imbangi dengan mata kuliah ilmu-ilmu sosial dan ilmu-ilmu lain yang mendukung pengembangan diri. Seperti halnya ilmu psikologi, ilmu filsafat dan ilmu kewirausahaan. Sehingga ketika mempelajari banyak hal, maka wawasan akan semakin luas dan lebih bijak dalam menanggapi suatu hal. Dalam hal ini, pemerintah sudah mendukung pengembangan ilmu mahasiswa dalam hal kurikulum. Didalam kurikulum PAI terdapat mata kuliah Kewirausahaan, diharapkan agar mahasiswa mempunyai ilmu dan wawasan terkait dengan kewirausahaan agar nantinya dapat menjadi enterpreunership yang tidak hanya berharap dan menggantungkan dirinya menjadi PNS.

    Manusia bisa hebat dalam segala hal dengan syarat. Syarat tersebut antara lain adalah bersungguh-sungguh, ulet, tekun, rajin, pantang menyerah, tanpa mengenal lelah, semangat, bijak, jujur serta visioner dalam belajar segala hal. Begitupula ketika ingin mempelajari kewirausahaan. Hal-hal yang telah penulis sampaikan tadi merupakan kunci awal untuk menjadi seorang PENGUSAHA.

    Banyak dijumpai, alumni Tarbiyah menjadi pedagang sukses, pebisnis sukses, mempunyai properti dan berbagai macam usaha. Sehingga tak jarang pula banyak alumni Tarbiyah disamping menjadi dosen pun juga sebagai pengusaha. Jiwa enterpreunership seharusnya ada dalam setiap mahasiswa. Karena memang mahasiswa tidak bisa hanya mengandalkan pekerjaan yang disediakan oleh pemerintah (Negara). Lowongan PNS, BUMN, Pegawai Swasta sangat minim dan terbatas, padahal yang mendaftar sangat banyak bahkan membludak.

    Hal tersebut dapat dilihat bahwa fakultas tarbiyah dengan jurusan PAI, PBA, MPI, PIAUD, PGMI tidak hanya di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, akan tetapi kini sudah banyak sekali universitas baik negeri maupun swasta yang membuka jurusan-jurusan tersebut. Sehingga setiap tahun banyak pula wisudawan dan wisudawati PAI (misalnya) dari berbagai macam universitas memperebutkan dunia kerja sebagai guru/pendidik. Padahal tidak semua sekolah membutuhkan guru PAI (karena guru PAI di sekolah tersebut masih ada). Dan jika hanya mengandalkan lowongan CPNS, bisa jadi setiap tahun hanya ada kuota 100 untuk guru PAI, dan yang mendaftar lebih dari 1000 orang. Itu artinya, dunia semakin kompetetif. Hanya yang mempunyai kompetensi, skill komparatif dan modal intangible capital lah (modal yang tidak kasat mata yang berupa niat, kemauan, kerja keras, semangat, ghirah dan azam) yang akan tetap eksis melangsungkan kehidupannya.

    Setiap manusia mempunyai peluang dan kesempatan yang sama untuk berubah. Dari yang buruk menjadi baik, dari yang baik menjadi lebih baik serta dari yang kurang kreatif dan produktif menjadi lebih kreatif dan produktif dengan cara berlatih dan terus mencoba. Kunci dalam berwirausaha ialah berani mengambil risiko. Pengusaha hebat bukanlah mereka yang penakut, akan tetapi mereka yang berani mencoba dan menjelajahi hal-hal baru. Ketika seorang pengusaha berhasil menakhlukan satu bidang, misal dalam bidang pendidikan. Maka pengusaha tersebut akan mencoba hal-hal baru seperti terjun daam bidang properti. Tak ayal banyak dijumpai pengusaha hebat dalam segala bidang, karena mereka tidak cepat puas dengan apa yang didapat. Justru mereka dare to outoff the box.

    Senada dengan hal itu, manusia pun juga jangan cepat puas dengan apa yang sudah didapat. Tidak cepat puas bukan berarti tidak bersyukur dengan anugrah yang Allah berikan. Akan tetapi, sebagai manusia harus mengimplementasikan wujud syukur tersebut dalam menjelajahi banyak hal, termasuk enterpreuner. Tidak menjadi persoalan bila ada orang-orang yang bercita-cita menjadi “Abdi Negara” sebagai guru atau dosen, namun akan lebih baik lagi jika dikembangkan jiwa enterpreuner sesuai dengan bakat dan minat kita.

    Sebagai contoh, Dahlan Iskan (lahir di Magetan, Jawa Timur, 17 Agustus 1951 yang merupakan Direktur Utama PLN sejak 23 Desember 2009. Selain sebagai direktur PLN, beliau juga merupakan sosok yang menjadikan Jawa Pos yang waktu itu hampir mati dengan oplah 6.000 ekslempar, dalam waktu 5 tahun menjadi surat kabar dengan oplah 300.000 eksemplar. Lima tahun kemudian terbentuk Jawa Pos News Network (JPNN), salah satu jaringan surat kabar terbesar di Indonesia yang memiliki 134 surat kabar, tabloid, dan majalah, serta 40 jaringan percetakan di Indonesia.

    Kunci pengusaha adalah mempunyai daya kreatif dan inovatif yang visioner. Banyak mahasiswa-mahasiswa di Indonesia yang mempunyai ide cemerlang membuat aplikasi yang berbasis digital (sebagai wadah untuk penjualan online dan pelayanan masyarakat) akhirnya booming dan menghasilkan keuntungan yang sangat besar. GOJEK, GRAB, SHOPIE dsb merupakan aplikasi digital yang dibuat oleh maahasiswa-mahasiswa yang mempunyai daya kreatif yang luar biasa. Contoh sederhana, kala itu ada seorang anak yang sama sekali tidak mempunyai modal (materi berupa uang) untuk mendirikan sebuah restaurant di bawah kampus. Akhirnya ia memutar otak dan menemukan ide cemerlangnya, kemudian ia mengkonsep lalu membuat proposal guna chemistry dan kerjasama kepada konglomerat. Singkat cerita, kontrak kerjasama tersebut di-acc dan kemudian cair-lah dana untuk membangun restaurant dibawah kampus tersebut. Begitulah kiranya, untuk menjadi pengusaha tidak selamanya harus mempunyai modal uang terlebih dahulu. Namun berawal dari menemukan ide dan mengembangkan konsep lah akhirnya cita-cita menjadi pengusaha terealisasikan.

    Beberapa bulan yang lalu, penulis tertarik mengobrol dengan seorang laki-laki penjual donat yang keliling di kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Obrolan singkat tersebut berawal ketika penulis melontarkan pertanyaan “apa motivasi jenengan hidup mas”?. Beliau menjawab, motivasi saya adalah membahagiakan kedua orangtua saya, mbak. Kemudian saya tanya, omset penghasilan bersih jenengan per bulan berapa mas? Dengan tersenyum dia menjawab, ya kira-kira 2,8 juta mbak/bulan. Batin saya “wah ngalah-ngalahi PNS saja, “ hehe. Doakan ya mbak, semoga saya bisa lanjut S2 dan cita-cita saya menjadi pengusaha mbak, ungkap dia. Meskipun begitu, jangan pernah meremehkan orang, ternyata dia sudah Sarjana.

    Begitulah hidup, hidup itu tidak serumit apa yang dipikirkan, karena yang rumit adalah “gengsi” kita. Menjadi pengusaha harus tidak boleh gengsi. Sebagaimana pesan Allah : “lakukanlah pekerjaan apapun dengan syarat HALAL.

    Marilah kita bersama-sama mengembangkan jiwa enterpreunership sebagai bekal untuk mengarungi kehidupan, karena kita tidak bisa selamanya menggantungkan negara (read : berharap PNS). Ubah paradigma menjadi PNS dengan mari berwirausaha, karena tugas kita pun juga sebagai problem solving, agent of change, agent of social control  yang mempunyai peran dan tanggungjawab untuk mensejahterakan masyarakat dan lingkungan agar terbebas dari penjara kemiskinan dengan berwirausaha.

    Penulis berharap, semoga ilmu kewirausahaan juga diajarkan dan dikembangkan di sekolah-sekolah menegah bawah, atas dan PT negeri maupun swasta, mengingat amat sangat penting sekali untuk menyadarkan dan menumbuhkembangkan motivasi berwirausaha dikalangan pelajar dan mahasiswa.


    Penulis: Mukaromah Asy-Syarmidi
    Mahasiswi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
     

    Iklan

    Iklan
    Untuk Info Lanjut Klik Gambar
    Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website