Headlines News :
Home » , » Menebar Manfaat, Menuai Berkah

Menebar Manfaat, Menuai Berkah

Written By Pewarta News on Kamis, 29 Maret 2018 | 20.45

PEWARTAnews.com -- Judul tulisan ini merupakan salah satu sajian yang telah disampaikan oleh Ustadz kondang H. Abdul Somad, Lc., M.A. ketika memenuhi undangan PT. Beraucoal (Batu Bara) yang bekerja sama dengan Pemkab Berau.

Beliau tiba di Berau kemarin (Rabu, 28/3/2018) dan pulang hari ini (Kamis, 29/3/2018). Selama beliau di Berau, oleh PT Beraucoal diberikan empat waktu untuk mengisi di tiga tempat, yakni dua kali di masjid Agung Baitul Hikmah (malam setelah sampai, mengisi Tabligh Akbar dan pagi keesokannya menyampaikan Kajian Duha), sedangkan subuh di masjid Rayatul Ikhlas mengisi Kajian Subuh. Selanjutnya kajian terakhir di Balai Mufakat dengan bahasan, Diskusi Lintas Ormas.

Menurut beliau, Ada yang menarik dari judul di atas. Dari sekian lama beliau menjadi muballigh, baru kali ini mendapatkan judul kajian yang belum pernah dibahas sebelumnya. Di samping itu, beliau juga merupakan kali pertamanya mengisi pengajian di Berau.

Pada awal membuka kajian atau bakda mukaddimah. Beliau mengawali dengan redaksi yang intinya "Beraucoal yang di sini adalah batu bara sedangkan yang saya kenal selama ini adalah obat batuk". Kalimat pengawal itupun sontak membuat hadirin melepas tawa. Walaupun hal ini, bukan hal yang tabu dari beliau karena memang tiap sajian ceramah beliau memang sudah tidak luput dari itu. Aspek ini jugalah yang menjadi daya tarik tersendiri dari Ustadz alumni Al-Azhar dan Maroko ini terhadap jamaahnya di mana pun beliau mengisi ceramah.

Penulis memahami isi anekdot dan sindiran halus dari ceramah beliau, bukanlah tanpa makna. Melainkan sebagian besarnya menyiratkan nilai-nilai yang dapat menggugah hati jamaah untuk memikirkan dan sekaligus merealisasikan isi anekdot itu, bukan semata dijadikan canda tawaan yang tidak ternilai harganya. Sebagai contoh, salah satu anekdot yang penulis pernah dapatkan melalui ceramah unggahan di youtube adalah "Perempua dengan laki-laki berzina, tetap yang hancur adalah perempuan, bagaikan DURIAN (laki-laki) dengan TIMUN (perempuan), ketika pun diadu, kedua buah ini, pasti yang hancur adalah timun. Maka, janganlah mencoblos sebelum hari H. Penulis mengartikan dan menyimpulkan dengan kadar yang dimiki bahwa anekdot di atas, tetap perempuan yang akan hancur dan perempuan jualah yang akan rugi kelak setelah menikah (intensitas kepercayaan suami menurun) kalaulah tidak jujur terhadap kenyataan yang telah terjadi.

Kembali dari judul di atas. Manusia pada dasarnya tercipta di muka bumi ini untuk memberikan manfaat terhadap orang lain. Jangankan manusia, hewan-hewan atau semua tumbuhan yang Allah sajikan untuk manusia di muka bumi ini pun diciptakan untuk memberikan manfaat (tidak sia-sia). Salah satunya yang dapat memberikan manfaat adalah lintah. Hewan ini pada umumnya, bagi manusia hanya dikenal sebagai musuh karena suka menyedot darah (jika manusia yang sudah ditempelkan mulutnya), begitu pun dari semua yang berkulit, berdaging, dan berdarah juga diparasit oleh lintah. Padahal, lintah ini, di sisi lain, dapat dijadikan sebagai alternatif penyembuhan penyakit terutama penggumpalan darah dan pembekuan nanah pada luka. Dengan terapi lintah ini dapat melancarkan darah karena liurnya berkhasiat melancarkan darah kemudian menyedot nanah pada luka yang rata-rata usai disedot, pasien itu akan sembuh.

Manusia yang tidak dapat memberikan manfaat adalah manusia yang hanya memikirkan dirinya sendiri, baik sukses sendiri, salat sendiri, punya kekayaan untuk sendiri, punya ilmu untuk sendiri, dan sebagainya. Padahal, manusia pada hakikatnya adalah diciptakan untuk hidup sosial. Oleh karena itu, perlulah dirinya hadir di tengah-tengah masyarakat untuk menjadi bagian dari masyrakat itu dalam bentuk apapun caranya yang penting bermanfaat.

Lalu, bagaiman sebaliknya dari judul di atas? Inilah yang menjadi segmen akhir dari tulisan ini. Kata beliau, manusia yang menebar mudharat akan menuai laknat. Artinya, kalaulah manusia mau selamat dan agar tidak dicap penebar mudharat, maka janganlah hidup, senang dengan iri, suka menganggap remeh orang lain, dan senang akan penderitaan orang lain. Sebab, kalau sudah seperti itu, maka akan halallah baginya menggosip atau suka menebar aib dan menjelek-jelekkan orang lain. Dengan demikian, orang yang seperti ini, hidupnya hanyalah menciptakan neraka sebelum ke neraka yang asli. Karena laknat yang didapat dari menebar mudharat tadi akan memancing murka Allah dalam hidupnya yang pada akhirnya menyusahkan diri sendiri di dunia dan ditambah lagi rugi di hari akhir.

Marilah kita berikhtiar dengan sungguh-sungguh dari sekarang, dengan cara menuntut ilmu sebanyak-banyaknya dan mencari harta yang halalan toyyibah. Tentu dengan jalan/cara yang baik-baik. Kemudian, dengan modal itulah kita dapat menebarkan manfaat dalam arti, menjadi orang yang senang berbagi ilmu kepada siapa pun yang membutuhkan dan suka memberi kepada orang lain sesuai kadar kemampuan yang kita miliki, baik terhadap fakir miskin dan anak terlantar karena dengan itu, Insya Allah kita akan menuai berkah. Jangan sebaliknya, yakni menjadi manusia yang menebar mudharat, karena dengan itu, pasti menuai laknatullah. Naudzubillah hi min dzalik tsumma na'udzu billahi min dzalik.

Sebagai penutup. Saya kutipkan salah satu hadits: "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no:3289)".


Penulis: Saharudin, S.Pd., M.Pd.I.
Dosen STIE Muhammadiyah Berau / Dosen STIT Muhammadiyah Berau / Dosen STIPER BERAU / Pemuda Asal Bima NTB / Email: saharudin.yuas178@gmail.com

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website