Headlines News :
Home » , » Spirit Perempuan dalam Perspektif Pendidikan Islam

Spirit Perempuan dalam Perspektif Pendidikan Islam

Written By Pewarta News on Selasa, 27 Maret 2018 | 04.47

(Happy Woman’s Day 8 Maret 2018)

“Laki-laki sukses dapat dilihat dari 2 hal, yang pertama siapa ibunya dan kedua siapa istrinya” (Umar Bin Khattab RA)
Wanita merupakan tonggak peradaban bangsa. Dalam sejarah Indonesia kita mengenal Ibu Kartini (sosok wanita hebat) yang memperjuangkan hak-hak perempuan dalam sektor publik baik dalam hal bersosialisasi, berpendapat, ekonomi maupun pendidikan. Beliau-lah yang menyadarkan kaum hawa untuk bangkit dari keterpurukan dan penindasan menuju jalan pembebasan yang “independent”. Bebas dalam berpikir, bertindak dan mempunyai kesempatan dan peluang yang sama seperti laki-laki untuk berkancah dalam ruang publik.

Jalan yang pertama kali ditempuh oleh RA.Kartini ialah dengan melalui “Pendidikan”. Karena pendidikan merupakan salah satu alternatif untuk mengolah akal dan hati agar selalu dekat dengan Tuhan-nya, menyatu dengan alam dan peka terhadap realitas sosial. Senada dengan UU Sisdiknas Nomor 20 tahun 2003 bahwa pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi manusia agar memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Sejak RA Kartini memperjuangkan hak-hak perempuan terutama dalam hal pendidikan, sejak saat itulah wanita Indonesia mempunyai kesadaran bahwa ditangannya terdapat harapan bangsa. Sehingga wanita harus cerdas dan mencerdaskan. Artinya, sebelum wanita mencerdaskan yang lain terlebih dahulu wanita harus “cerdas” (read : mencerdaskan dirinya sendiri) dengan “belajar/ngangsu kawruh” agar memiliki science, knowledge, skill, best attitude dan qalbun salim.

Hal tersebut dapat digali, diolah dan dikembangkan dengan senantiasa membuka cakrawala dalam segala hal. Sebagaimana wahyu yang pertama kali Allah turunkan kepada Nabi Muhammad ialah perintah untuk belajar (menuntut ilmu).

Agama Islam sangat menjunjung tinggi “Ilmu”, sehingga orang yang beriman nan ber-ilmu mempunyai kedudukan yang istimewa dihadapan Tuhan (Qs. Al Mujadalah ayat 11). Bahkan dalam kitab ala-ala disebutkan “fa inna faqihan wahidan mutawarri’a, asyaddu ‘ala asy-syathani min alfi ‘abidi”, bahwa seorang yang faqih (berilmu) lebih ditakuti syaithan daripada 1000 orang yang ahli ibadah tanpa didasari dengan ilmu”.

Begitu pula dengan wanita, wanita harus haus akan ilmu dan pengetahuan karena ia akan melahirkan spies yang kelak akan menjadi generasi penerus ummat dan bangsa. Penulis teringat quote yang dulu pernah ditulis oleh Dian Sastrowardoyo bahwa “Entah kelak menjadi ibu rumah tangga atau wanita karier namun yang jelas wanita harus berpendidikan”. Kata “berpendidikan” penulis memberikan tafsiran yakni “senantiasa belajar dan menjadi pembelajar dalam segala lini kehidupan”. Karena belajar tidak dibatasi dalam lingkup strata/marhalah (S1, S2, S3 dll/lingkup formal) namun yang lebih dari itu ialah bagaimana mengambil inspirasi dari al qur’an untuk dijadikan sebagai spirit untuk terus semangat belajar dan self continous improvement.

Dengan wanita memiliki kecerdasan (IQ, EQ dan SQ) maka ia akan dapat mendidik anak bi tarbiyatin hasanatin, sesuai dengan Qs. Al A’raf ayat 58 bahwa tanah ibarat wanita dan bibit ibarat laki-laki. Jika tanahnya baik, meski bibitnya kurang baik maka akan tumbuh tanaman yang baik. Sebaliknya apabila bibitnya baik ditanam ditanah yang gandus, gersang dan kering maka tanamannya tidak akan tumbuh dengan baik. Apalagi kalau tanah dan bibitnya baik, insyaAllah tanamannya pun akan baik. Artinya, perempuan dapat mempengaruhi segala hal. Hal ini dapat dilihat dari berbagai macam kisah, yakni Thomas Alfa Edison. Dibalik sosok beliau yang luar biasa, tentunya ada wanita hebat yang luar biasa pula, yakni ibunya. Ibu-nya lah yang selalu meyakinkan dia bahwa dia hebat dan merupakan anak cerdas meski pada saat itu Thomas di DO (drop out) dan di justifikasi oleh guru nya bahwa ia merupakan anak bodoh, sehingga guru-gurunya tidak sanggup lagi mendidiknya. Dibalik kisah Sukses Motivator Islam terkenal Dr. Ibrahim El Fikky, ada seorang wanita hebat yakni istrinya yang senantiasa mensupport dan mendoakan beliau hingga pada akhirnya beliau menjadi manager hotel berbintang 5 saat sebelumnya menjadi cleaning service disebuah hotel.

Di Indonesia misalnya, kita mengenal sosok BJ. Habibi yang luar biasa dan pasti dibelakangnya ada sosok hebat pula yakni Ibu Ainun, bahkan sangat banyak contoh-contoh lain yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu, salah satunya ialah kisah dari pembaca sendiri. Anda hebat, karena istri anda dan atau ibu anda.!

Sudah saat-nya kaum wanita berkarya, mengeksplore diri dengan terus menjajaki berbagai macam pengalaman dan pelatihan serta memperluas cakrawala berpikir dengan membaca, menganalisis, beretorika, berdialektika dan berdiskusi.

Saat diri kita lelah dan penat dalam belajar, ingatlah bahwa “anak-anak kita kelak berhak terlahir dari rahim wanita yang cerdas dan mencerdaskan”! Motivasi penulis satu, karena IBU. Doakan semoga ibu saya sehat selalu.


Penulis : Mukaromah
Mahasiswi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta


Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website