Headlines News :
Home » , » Urgensi Kewirausahaan

Urgensi Kewirausahaan

Written By Pewarta News on Minggu, 04 Maret 2018 | 04.27

Mukaromah.
PEWARTAnews.com -- "Nak, kalau kamu jadi guru, dosen atau jadi kiyai kamu harus tetap usaha. Harus punya usaha sampingan agar hatimu tidak selalu berharap dan menggantungkan pemberian orang karena usaha yang dihasilkan dari keringat sendiri itu barokah” (KH. Maimun Zubair).

Motivasi KH. Maimun Zubair bahwa manusia jangan hanya berharap dan  menggantungkan dirinya menjadi seorang PNS namun harus di-imbangi dengan senantiasa mengasah dan mengembangkan skill kewirausahaan. Mari kita menengok sejarah, bahwa profesi yang pertama kali dicontohkan oleh Kanjeng Nabi Muhammad ialah berdagang. Dalam sabda-Nya bahwa berdagang merupakan salah satu diantara pekerjaan-pekerjaan baik yang diperintahkan Rasulullah kepada ummat-ummat nya.

Berdagang/berwirausaha merupakan sebuah konsep, gagasan dan atau ide yang dimiliki oleh setiap  manusia untuk mengatur, mengelola, mengembangkan, mewujudkan gagasannya menjadi sesuatu yang nyata/kongkrit serta mempunyai mental untuk menanggung risiko dari usaha yang dijalankannya. Ide/gagasan tersebut dapat dimiliki oleh setiap manusia. Karena memang setiap manusia dianugrahi Allah dengan potensi fisik dan akal yang amat sangat luar biasa. Dengan anugrah potensi itulah, manusia bisa tetap mempertahankan eksistensinya sebagai ’ibad yang menghambakan diri kepada Allah serta sebagai khalifatullahu fil ardi yang bertugas nguri-uri dan memakmurkan bumi, termasuk untuk mengembangkan ide berwirausaha.

Sama halnya ketika kita berbicara mengenai leadership atau jiwa kepemimpinan. Hal itupun juga dimiliki oleh setiap insan, karena memang setiap manusia adalah pemimpin, sebagaimana dalam hadist mengatakan bahwa : kullukum ra’in, wa kullukum mas’uliyyatun ‘ala ro’iyyatihi. Sama halnya dapat dikatakan bahwa setiap manusia mempunyai potensi untuk menjadi pengusaha, tergantung dari seberapa optimal dalam menggali dan mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya.

Tentu untuk menjadi pengusaha, manusia harus mengetahui kelemahan dan kelebihan dirinya. Hal itu dimaksudkan agar manusia mampu mengembangkan suatu usaha berdasar pada jobdes  (bidang keahliannya). Ketika si A mempunyai kelebihan dalam bidang IT maka sebaiknya mengembangkan usaha yang berbau IT/teknologi, seperti : membuka warnet, fotocopyan, warung ketik, teknisi komputer, service laptop dsb. Begitupula si B yang mempunyai skill dalam hal leadership manajerial, mungkin bisa membuka lembaga private (bimbingan belajar), pelatihan kepemimpinan, dsb.

Penting bagi setiap manusia mengetahui kelemahan dan kelebihan dirinya. Ketika mempunyai kelebihan dalam satu bidang, maka kembangkanlah. Begitupula ketika ingin mengembangkan bidang-bidang lain, maka penting untuk mengikuti pelatihan-pelatihan, agar nantinya bisa hebat dalam segala bidang.

Seseorang yang kuliah di jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) bukan berarti hanya menguasai satu bidang keilmuan saja yang berkaitan dengan ilmu Agama Islam. Akan tetapi, dalam kurikulum juga di-imbangi dengan mata kuliah ilmu-ilmu sosial dan ilmu-ilmu lain yang mendukung pengembangan diri. Seperti halnya ilmu psikologi, ilmu filsafat dan ilmu kewirausahaan. Sehingga ketika mempelajari banyak hal, maka wawasan akan semakin luas dan lebih bijak dalam menanggapi suatu hal. Dalam hal ini, pemerintah sudah mendukung pengembangan ilmu mahasiswa dalam hal kurikulum. Didalam kurikulum PAI terdapat mata kuliah Kewirausahaan, diharapkan agar mahasiswa mempunyai ilmu dan wawasan terkait dengan kewirausahaan agar nantinya dapat menjadi enterpreunership yang tidak hanya berharap dan menggantungkan dirinya menjadi PNS.

Manusia bisa hebat dalam segala hal dengan syarat. Syarat tersebut antara lain adalah bersungguh-sungguh, ulet, tekun, rajin, pantang menyerah, tanpa mengenal lelah, semangat, bijak, jujur serta visioner dalam belajar segala hal. Begitupula ketika ingin mempelajari kewirausahaan. Hal-hal yang telah penulis sampaikan tadi merupakan kunci awal untuk menjadi seorang PENGUSAHA.

Banyak dijumpai, alumni Tarbiyah menjadi pedagang sukses, pebisnis sukses, mempunyai properti dan berbagai macam usaha. Sehingga tak jarang pula banyak alumni Tarbiyah disamping menjadi dosen pun juga sebagai pengusaha. Jiwa enterpreunership seharusnya ada dalam setiap mahasiswa. Karena memang mahasiswa tidak bisa hanya mengandalkan pekerjaan yang disediakan oleh pemerintah (Negara). Lowongan PNS, BUMN, Pegawai Swasta sangat minim dan terbatas, padahal yang mendaftar sangat banyak bahkan membludak.

Hal tersebut dapat dilihat bahwa fakultas tarbiyah dengan jurusan PAI, PBA, MPI, PIAUD, PGMI tidak hanya di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, akan tetapi kini sudah banyak sekali universitas baik negeri maupun swasta yang membuka jurusan-jurusan tersebut. Sehingga setiap tahun banyak pula wisudawan dan wisudawati PAI (misalnya) dari berbagai macam universitas memperebutkan dunia kerja sebagai guru/pendidik. Padahal tidak semua sekolah membutuhkan guru PAI (karena guru PAI di sekolah tersebut masih ada). Dan jika hanya mengandalkan lowongan CPNS, bisa jadi setiap tahun hanya ada kuota 100 untuk guru PAI, dan yang mendaftar lebih dari 1000 orang. Itu artinya, dunia semakin kompetetif. Hanya yang mempunyai kompetensi, skill komparatif dan modal intangible capital lah (modal yang tidak kasat mata yang berupa niat, kemauan, kerja keras, semangat, ghirah dan azam) yang akan tetap eksis melangsungkan kehidupannya.

Setiap manusia mempunyai peluang dan kesempatan yang sama untuk berubah. Dari yang buruk menjadi baik, dari yang baik menjadi lebih baik serta dari yang kurang kreatif dan produktif menjadi lebih kreatif dan produktif dengan cara berlatih dan terus mencoba. Kunci dalam berwirausaha ialah berani mengambil risiko. Pengusaha hebat bukanlah mereka yang penakut, akan tetapi mereka yang berani mencoba dan menjelajahi hal-hal baru. Ketika seorang pengusaha berhasil menakhlukan satu bidang, misal dalam bidang pendidikan. Maka pengusaha tersebut akan mencoba hal-hal baru seperti terjun daam bidang properti. Tak ayal banyak dijumpai pengusaha hebat dalam segala bidang, karena mereka tidak cepat puas dengan apa yang didapat. Justru mereka dare to outoff the box.

Senada dengan hal itu, manusia pun juga jangan cepat puas dengan apa yang sudah didapat. Tidak cepat puas bukan berarti tidak bersyukur dengan anugrah yang Allah berikan. Akan tetapi, sebagai manusia harus mengimplementasikan wujud syukur tersebut dalam menjelajahi banyak hal, termasuk enterpreuner. Tidak menjadi persoalan bila ada orang-orang yang bercita-cita menjadi “Abdi Negara” sebagai guru atau dosen, namun akan lebih baik lagi jika dikembangkan jiwa enterpreuner sesuai dengan bakat dan minat kita.

Sebagai contoh, Dahlan Iskan (lahir di Magetan, Jawa Timur, 17 Agustus 1951 yang merupakan Direktur Utama PLN sejak 23 Desember 2009. Selain sebagai direktur PLN, beliau juga merupakan sosok yang menjadikan Jawa Pos yang waktu itu hampir mati dengan oplah 6.000 ekslempar, dalam waktu 5 tahun menjadi surat kabar dengan oplah 300.000 eksemplar. Lima tahun kemudian terbentuk Jawa Pos News Network (JPNN), salah satu jaringan surat kabar terbesar di Indonesia yang memiliki 134 surat kabar, tabloid, dan majalah, serta 40 jaringan percetakan di Indonesia.

Kunci pengusaha adalah mempunyai daya kreatif dan inovatif yang visioner. Banyak mahasiswa-mahasiswa di Indonesia yang mempunyai ide cemerlang membuat aplikasi yang berbasis digital (sebagai wadah untuk penjualan online dan pelayanan masyarakat) akhirnya booming dan menghasilkan keuntungan yang sangat besar. GOJEK, GRAB, SHOPIE dsb merupakan aplikasi digital yang dibuat oleh maahasiswa-mahasiswa yang mempunyai daya kreatif yang luar biasa. Contoh sederhana, kala itu ada seorang anak yang sama sekali tidak mempunyai modal (materi berupa uang) untuk mendirikan sebuah restaurant di bawah kampus. Akhirnya ia memutar otak dan menemukan ide cemerlangnya, kemudian ia mengkonsep lalu membuat proposal guna chemistry dan kerjasama kepada konglomerat. Singkat cerita, kontrak kerjasama tersebut di-acc dan kemudian cair-lah dana untuk membangun restaurant dibawah kampus tersebut. Begitulah kiranya, untuk menjadi pengusaha tidak selamanya harus mempunyai modal uang terlebih dahulu. Namun berawal dari menemukan ide dan mengembangkan konsep lah akhirnya cita-cita menjadi pengusaha terealisasikan.

Beberapa bulan yang lalu, penulis tertarik mengobrol dengan seorang laki-laki penjual donat yang keliling di kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Obrolan singkat tersebut berawal ketika penulis melontarkan pertanyaan “apa motivasi jenengan hidup mas”?. Beliau menjawab, motivasi saya adalah membahagiakan kedua orangtua saya, mbak. Kemudian saya tanya, omset penghasilan bersih jenengan per bulan berapa mas? Dengan tersenyum dia menjawab, ya kira-kira 2,8 juta mbak/bulan. Batin saya “wah ngalah-ngalahi PNS saja, “ hehe. Doakan ya mbak, semoga saya bisa lanjut S2 dan cita-cita saya menjadi pengusaha mbak, ungkap dia. Meskipun begitu, jangan pernah meremehkan orang, ternyata dia sudah Sarjana.

Begitulah hidup, hidup itu tidak serumit apa yang dipikirkan, karena yang rumit adalah “gengsi” kita. Menjadi pengusaha harus tidak boleh gengsi. Sebagaimana pesan Allah : “lakukanlah pekerjaan apapun dengan syarat HALAL.

Marilah kita bersama-sama mengembangkan jiwa enterpreunership sebagai bekal untuk mengarungi kehidupan, karena kita tidak bisa selamanya menggantungkan negara (read : berharap PNS). Ubah paradigma menjadi PNS dengan mari berwirausaha, karena tugas kita pun juga sebagai problem solving, agent of change, agent of social control  yang mempunyai peran dan tanggungjawab untuk mensejahterakan masyarakat dan lingkungan agar terbebas dari penjara kemiskinan dengan berwirausaha.

Penulis berharap, semoga ilmu kewirausahaan juga diajarkan dan dikembangkan di sekolah-sekolah menegah bawah, atas dan PT negeri maupun swasta, mengingat amat sangat penting sekali untuk menyadarkan dan menumbuhkembangkan motivasi berwirausaha dikalangan pelajar dan mahasiswa.


Penulis: Mukaromah Asy-Syarmidi
Mahasiswi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website