Headlines News :

    Follow Kami di Twitter

    Cari Berita / Artikel disini

    Arsip Web

    Like Fun Page Kami

    Sekjen PENA 98: Soeharto Bapak Tenaga Kerja Asing

    Adian Napitupulu. Foto: jpnn.com.
    Jakarta, PEWARTAnews.com -- Sekretaris Jenderal Perhimpunan Nasional Aktivis 98 (PENA 98) yang juga Anggota DPR RI Adian Napitupulu memjawab tudingan Fadli Zon kepada Jokowi. "Ini saya tulis untuk Peringatan 20 tahun Reformasi sekaligus menjawab tudingan Fadli Zon kepada Jokowi," beber Adian melalui rilisnya yang diterima PEWARTAnews.com pada 30 April 2018 melalui pesan WhatsApp.

    Entah Fadli Zon lupa atau pura-pura tidak tahu, kata Adian, sejarah saat ini Fadli Zon mati matian menuding Jokowi ada di belakang masuk nya Tenaga Kerja Asing. Berlagak bagai pahlawan kesiangan Fadli bahkan mengancam akan mengajukan pansus hak angket terkait Perpres 20 tahun 2018.

    "Mereka yang berpendidikan dan mengerti sejarah tentu tahu bahwa yang membuka pintu gerbang masuknya Tenaga Kerja Asing yang ada hari ini bukanlah keputusan Jokowi melainkan keputusan yang di ambil oleh mertua Prabowo yaitu Soeharto yang embrionya sudah di desain sejak tahun 1989 saat Soeharto menyetujui usul Bob Hawke untuk bergabung di APEC," ucap sang Sekjen PENA 98 ini.

    Lebih lanjut, Adian membeberkan bahwa pertemuan pertama APEC tahun 1993 di prakarsai oleh Presiden Amerika saat itu yaitu Bill Clinton dan PM Australia Paul Keating di pulau Blake. "Setahun kemudian Pertemuan APEC tahun 1994 di Bogor menghasilkan Bogor Goals isi nya adalah mendorong investasi terbuka Asia Pacifik yang ditargetkan di mulai 16 tahun kemudian yaitu tahun 2010. Selanjutnya pada tahun 1995 di bentuklah AFTA (Asean Free Trade Area) dan atas keputusan Soeharto Indonesia ikut bergabung di dalamnya. AFTA ini kelak  di kemudian hari menjadi cikal bakal MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) dengan limitasi waktu pasar bebas di mulai dari tahun 2015," kata sang Aktifis 98 ini.

    Beber Adian, pematangan AFTA terus berlanjut hingga KTT ASEAN (Tidak resmi) pada bulan Desember 1997 dilanjutkan KTT ASEAN di Hanoi Vietnam pada bulan Desember 1998 yg menghasilkan Statement Of Bold Measures yang isinya meneguhkan komitmen pelaksanaan AFTA yang di percepat satu tahun dari 2003 menjadi 2002. Sebagai upaya lanjutan di KTT tahun 2001 di Brunei di bentuk lagi CAFTA (China Asean Free Trade Area) yaitu perjanjian perdagangan bebas antara negara negara ASEAN dan Negara China selama 10 tahun. Pengesahan CAFTA selanjutnya di lakukan pada tahun 2008.

    "Berangkat dari sejarah panjang lahirnya Pasar Bebas Barang, Jasa dan Tenaga Kerja di Indonesia yang di mulai dari tahun 1989 tersebut di atas, maka seperti nya pantas jika Soeharto diangkat menjadi Bapak Tenaga Kerja Asing. Disisi lain niat Fadli Zon untuk mempansuskan Perpres 20 tahun 2018 tentu nya tidak tepat. Jika mau di pansuskan maka baiknya yang di pansus kan adalah keputusan awal Indonesia bergabung di APEC dan serangkaian hasil keputusan Internasional lainnya yang terkait dengan pasar bebas barang, jasa serta tenaga kerja yang semua itu di putuskan sebelum Jokowi menjadi Presiden," cetus Anggota Dewan yang tetap tampil apa adanya dalam tiap momen ini.

    Mapitupulu mempertanyakan keberanian seorang Fadli Zon. Masalah pertama adalah apakah Fadli Zon punya keberanian untuk mempansus angket kan Soeharto yang nota bene adalah mertua Prabowo. Masalah kedua, apakah bisa DPR mempansus angketkan orang yang sudah meninggal dunia dan tidak lagi bisa di panggil DPR untuk di mintai keterangan dan penjelasannya? Masalah ketiga, kenapa Fadli Zon yang diangkat Soeharto menjadi anggota MPR dan dilantik pada tanggal 19 Agustus 1997 tidak menolak pelaksanaan dan keputusan-keputusan Soeharto yang terkait dengan pasar bebas termasuk menolak hasil KTT ASEAN di Hanoi tahun 1998 padahal MPR saat itu kedudukannya adalah Lembaga Tertinggi Negara yang berada di atas Presiden.

    "Fadli Zon memang terbukti tidak pernah konsisten. Mulutnya menolak komunisme tapi tangannya mengantar mawar merah ke makam Karl Marx, mulutnya menolak Komunis tapi tangannya merangkul patung Lenin dan meyebut Lenin dengan kata Kamared yang berarti saudara se partai. Fadli Zon dulu sebagai anggota MPR setuju pasar bebas barang, jasa dan tenaga kerja tapi sekarang menolak buah dari rangkaian perjajian pasar bebas yang di buat di masa Soeharto," beber Adian menyayangkan.

    Lebih rinci Adian mengatakan, pilihan Jokowi saat ini hanya dua. Pertama menolak rangkaian perjanjian internasional pasar bebas yang embrionya sudah di desain 29 tahun lalu dengan konsekuensi Indonesia menjadi lawan dunia Internasional dan mungkin saja terkena aneka macam sanksi apakah embargo atau lainnya. "Pilihan Jokowi yang kedua adalah berupaya memperlambat dan melakukan pengetatan dengan berbagai kebijakan agar ada nafas lebih panjang bagi Indonesia untuk mempersiapkan diri menghadapi pasar bebas barang, jasa dan tenaga kerja buah dari keputusan Soeharto 29 tahun lalu salah satunya dilakukan Jokowi dengan mengeluarkan Perpres 20 tahun 2018 yang salah satu substansi isi nya mengatur tentang sanksi TKA yang tidak di atur di peraturan sebelumnya," ucap Adian mengabarkan. (rls/PEWARTAnews)

    “Khilaf” Tafsir Kelompok Jihadis Memaknai Jihad Di Bulan Suci Ramadhan

    Ilustrasi. Foto: voa-islam.com.
    PEWARTAnews.com -- Beberapa hari  menjelang bulan suci Ramadhan tahun lalu masyarakat di hebohkan dengan adanya aksi-aksi teror yang dilakukan oleh kelompok-kelompok teroris dalam skala nasional maupun internasional. Tepatnya senin (22/5/2017), serangan bom bunuh diri menewaskan 22 orang di Menchester Arena (Inggris). Aksi tersebut di lakukan oleh seorang pemuda bernama Salman Abedi (22), di penghujung konser Ariana Grader penyanyi asal Amarika Serikat. (kompas.com, 23/5/2017). Dalam skala nasional beberapa hari setelah serangan di Mencherter Arena, serangan bom bunuh diri terjadi di kampung melayu Jakarta Timur rabu malam (24/5/2017). Dari dua  serangan bom tersebut Islamic State in Iraq and Syria (ISIS) mengklaim sebagai “dalang” di balik aksi-aksi bom bunuh diri tersebut.

    Serangan teror dan aksi bom bunuh diri seperti yang terjadi di Menchester Arena dan di kampung Melayu berangkat dari pemahaman terhadap doktrin-doktrin keagamaan secara sempilistik, totalislis dan non-kompromis. Misalnya terhadap doktrin “jihad”, Al-wala’ wal-Bara’ apalagi jika dikawinkan dengan isu ketimpangan sosial ekonomi dan ketidakadilan hukum membuat orang berpemahaman seperti itu tidak bisa bepikir rasional tapi cederung irasional.  Menurut Zuhairi Mursawi, serangan teror bom dengan mambawa nama “Islam” seperti ini, khususnya  dalam dunia Islam modern bermula pada tahun 1998, tatkala pimpinan Al-Qaedah Osama bin Laden mengeluarkan sebuah maklumat, Al-Jabha al-Islamiyyah li al-Jihad ‘ala al-Yahud wa al-Shalibiyyin. Maklumat tersebut berisi fatwa kepada semua kaum muslimin untuk memerangi orang-orang Yahudi dan Kristen dimanapun mereka hidup. Secara khusus Bin Laden menyebutkan AS dan para sekutunya sebagai musuh umat Islam, karena  menurut Bin Laden keterpurukan umat Islam di latar belakangi koloniasasi barat yang beragama Yahudi dan Kristen. Maklumat Bin Laden tersebut berhasil melancarkan serangan ke Dutaan Besar AS di Kenya dan Tanzani pada 1998. Puncaknya, pada tanggal 11 September 2001 maklumat tersebut berhasil menghancurkan menara kembar World Trade Center (WTC) di New York Amerika Serikat .(Zuhairi Mursawi, "Masa depan Timur Tengah dan Globalisasi Terorisme").

     Setelah meredupnya Al-Qaedah muncul kelompok puritan ISIS sebagai antitesa dari Arab Sping (revolusi Arab) yang menyapu negara-negara arab di timur-tengah. ISIS memperjuangkan idiologi yang mereka sebut dengan khilafah yaitu entitas politik pemersatu umat Islam di seluruh dunia yang berpusat di Iraq dan Surya dan membai’at Abu Umar Al-Bagdadi sebagai pemimpin (khalifah). ISIS dalam memperjuangkan idiologinya tidak segan melakukan kekerasan di luar nalar kemanusiaan, bahkan ISIS bertanggung jawab terhadap aksi teror bom yang terjadi di berbagai tempat di beberapa belahan dunia. Misalnya Pada tanggal 23 Juni 2015 Amir ISIS Abu Umar Al Bagdadi mengeluarkan fatwa jihad di bulan Ramadhan. Fatwa tersebut di bacakan oleh juru bicara ISIS Abu Muhamad Adani (Koran Sindo Online, 4/72015). Selang beberapa hari setelah fatwa tersebut, tepatnya pada tanggal 27 Juni 2015 terjadi pengeboman  dan penembakan warga sipil yang terjadi di tiga negara berbeda; Tunisia, Kuwait dan Prancis.

    Khilaf Tafsir Kelompok “Jihadis”
    Prof. Ach. Minhaji (Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta) dalam tulisan “Jihad di Bulan Ramadhan”. Sejarah awal Islam dimasa nabi Muhammad Saw menjadi rujukan salah kapra” oleh teroris untuk mengmbil legitimasi Ramadhan sebagai bulan jihahd (syahr al-jihad) dan bulan kemenangan (syahr al-fath). Pada masa nabi memang terjadi beberapakali peperangan di bulan ramadhan. Pertama, perang Badar Kubra tanggal 17 Ramadhan tahun kedua hijriah, dimana pasukan Islam yang hanya berjumlah 313 orang berhasil mengalahkan pasukan kafir yang jumlahnya lebih dari 1000 orang. Kedua, penaklukan Mekkah (fathu makkah) pada tahun kedelapan hijriah dilatarbelangi penghianatan orang-orang kafir yang melanggar gencatan senjata pada perjanjian Hudaibiyah.

    Dari peristiwa sejarah inilah setidaknya ada tiga hal yang salah dimaknai oleh teroris atau ISIS menurut Ach. Minhaji. Pertama, peperangan pada masa nabi bertujuan untuk membela diri, mempertahankan hak-hak kaum muslimin dari kezaliman dan kejahatan orang-orang kafir. Nabi sama sekali tidak ingin mendakwakan Islam dengan kekerasan, apalagi perang. Perang adalah pilihan yang takterelakan ketika umat Islam harus melindungi hak-haknya dan harga dirinya dari serangan dan serbuan orang kafir. Kedua, perang dalam Islam memiliki adab dan etika yang harus dipatuhi. Diantaranya pasukan Islam dilarang membunuh  rakyat sipil, tidak boleh melukai wanita dan anak-anak, tidak boleh merusak tempat ibadah,  tidak boleh menggangu ekosistem lingkungan seperti merusak tanaman atau membunuh hewan, dan tawanan perang harus dilindungi. Ketiga, perang terbesar dan musuh hakiki umat Islam sesunggunya perang melawan hawa nafsunya, inilah yang dimaksud oleh rasul peperangan besar (jihad akbar)”.

    Serangan dan aksi teror bom yang dilakuan ISIS khususnya pada bulan Ramdhan yang membunuh masyarakat sipil, wanita, anak-anak, merusak tempat ibadah dan ekosistem lingkungan hidup bukanlah jihad yang benar dalam Islam dan sangat jauh dari ajaran nabi, akan tetapi justru merusak wajah-wajah Islam di mata dunia. Kekejaman yang di pertontonkan ISIS adalah bukti kegagalan mereka dalam melawan hawa nafsunya sendiri (jihadun-nafsi).

    Diakhir tulisan ini, penulis ingin mengigatkan, karena sebentar lagi akan memasuki bulan suci Ramdhan agar aparat keamanan untuk lebih memperketat keamanan (security) supaya masyarakat muslim Indonesia khusuh menjalankan ibadah di bulan suci Ramdhan dan tidak terganggu oleh aksi-aksi bom orang yang tidak bertanggung jawab seperti tahun kemarin.

    Referensi:
    - Zuhairi Mursawi, "Masa Depan Timur Tengah dan Globalisasi Terorisme", Makalah yang disampaikan pada Seminar Nasional "Peran Indonesia Terhadap Perdamian Timur-Tengah", di Convention Hall UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2016.
    - Prof. Ach. Minhaji, "Jihad di Bulan Ramadhan" dan dari berbagai sumber Online.


    Penulis: Abdul Ghafur
    Ikatan Pelajar Mahasiswa Lambu Yogyakarta (IPMLY)


    Aku Lupa dan Sengaja untuk Lupa

    Jumratun.
    Katanya aku kaum terpelajar, memalingkan muka dari riuk segar pedesaan hanya untuk membanggakan diri di tanah rantauan.

    Saya mahasiswa katanya, mengurung diri di kamar, melupakan hal yang pernah saya janjikan hanya untuk kepentingan yang sia-sia

    Aktivitasku hanya memengang dan memutar-mutar benda kecil, bukan pena atau buku melainkan gadget.

    Demi mengejar target, aku harus menelanjangi diri sendiri bukan menelanjangi ilmu.

    Di ajak berdealektika saya tidak bisa
    karena pemahaman saya biasa-biasa saja.

    Saya ini mahasiswa katanya,
    Bukan mahasiswa baik melainkan mahasiswa munafik mengingkari janji orang tua untuk kepentingan level semata

    Bukan mahasiswa kampus melaikan mahasiswa kos-kosan

    Kebiasan saya seperti kelelawar, tidur di siang hari menjelalatkan mata di malam hari

    Ah alangkah lucunya saya pernah bercita-cita namun masih mungkin akan tercipta.

    Saya pernah berkata akan menjauh dari debu yang berserak
    Karena debu tak pernah menciptakan sejarah
    Sebab debu adalah sampah yang selalu diinjak-injak waktu

    Sekarang saya merasakan sedikit menjadi debu karena tugas tak pernah terlaksana dan aku menjadi sia-sia

    Aduh berat jadi mahasiswa

    Mari sama-sama merenung. Tentang diri dan juga peran dari diri.


    Yogyakarta, 16 April 2018
    Karya: Jumratun
    Mahasiswa STIPRAM Yogyakarta.

    Belum Lama Dilantik, CBN Kota Yogyakarta Gelar Sosiallisasi Anti NAPZA


    Suasana usai CBN gelar Sosialisasi NAPZA.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Dalam Pasal 1 ayat 1 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika, memberi pengertian bahwa Narkotika merupakan zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupunsemi sintetis yang menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, menghilangkan rasa, mengurangi hingga menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan/adiktif.

    Begitu pentingnya melindungi masyarakat, terutama pemuda dalam menangggulangi bahaya penyalahgunaan narkotika yang telah begitu masif terjadi di Indonesia, termasuk juga di Kota Yogyakarta. Berangkat dari hal itu, Cegah Berantas Narkoba (CBN) Kota Yogyakarta yang merupakan organisasi unit dari Karang Taruna Kota Yogyakarta menyelenggarakan Sosialisasi Anti NAPZA dengan mengangkat tema “Pemuda Jogja Kreatif Tanpa Narkoba” pada hari Sabtu, 28 April 2018 jam 13.00-17.00 di Ruang Bima  Lantai 3 Balaikota Yogyakarta.

    Dalam Sosialisasi ini menghadirkan dua pemateri yang kompeten diantaranya, Solihul Hadi, S.H. (Ketua Karang Taruna Kota Yogyakarta) dan Bro Eko Prasetyo (Senior Konselor pada Panti Sosial Pamardi Putra, Dinas Sosial Daerah Istimewa Yogyakarta), dengan dimoderatori oleh Irwan Yunianto (Pengurus Karang Taruna Kota Yogyakarta).

    Pada kesempatan itu, Ketua Karang Taruna Kota Yogyakarta Solihul Hadi, S.H. selaku pemateri membeberkan bahwasanya minuman keras (Miras) oplosan di Yogyakarta peredarannya sudah begitu luas dan begitu meresahkan masyarakat, oleh karenanya keterlibatan semua elemen untuk mengambil bagian dalam pemberantasannya sangat diharapkan, dalam hal ini terutama keterlibatan secara intens pemudanya. “Miras oplosan udah gak karuan terjadi di Kota Yogyakarta, yang harus dilakukan bila kita menemukan hal yang mencurigakan terjadi, maka itu tugas kita untuk menelusuri lebih lanjut dengan melibatkan ketua RT RW setempat, bila sudah ada indikasi penyalahgunaan narkoba, segera dilaporkan ke pihak yang berwajib,” ucap Solihul Hadi.

    Lebih jauh Solihul Hadi menyampaikan bahwasannya adanya CBN Kota Yogyakarta yang belum lama ini dilantik, mereka akan melebarkan sayapnya untuk membentuk lebih lanjut sayap-sayapnya disemua kelurahan sebagai upaya memudahkan cegah berantas narkoba di seluruh wilayah Kota Yogyakarta. “Belum lama ini CBN dilantik, yang mana pengurusnya terdiri dari 14 orang dari perwakilan semua kecamatan yang ada, dari 14 orang itu akan ditugaskan lebih lanjut untuk membentuk sayap di 45 kelurahan se kota Yogyakarta, tujuan utamanya adalah untuk mencegah dan memberantas narkoba di Kota Yogyakarta lebih masif lagi,” beber Solihul.

    Jumlah peserta yang hadir 130 orang dari perwakilan Karang Taruna se-Kota Yogyakarta dan juga perwakilan dari organisasi-organisasi kepemudaan (OKP) di lingkup Kota Yogyakarta. Agenda ini sukses terlaksana atas kerjasama antara Karang Taruna Kota Yogyakarta melalui CBN Kota Yogyakarta, Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Yogyakarta, dan Dewan Pengurus Daerah Gerakan Nasional Anti Narkotika Daerah Istimewa Yogyakarta (DPD GRANAT DIY).

    Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, Bro Eko Prasetyo (Senior Konselor) sebagai pemateri kedua, memberikan penjelasan lebih gamblang terkait narkoba dan pencegahannya.  Setelah memberikan sosialisasi pada 130 peserta yang hadir, Bro Eko Prasetyo mengamanahkan kepada seluruh peserta yang hadir untuk menularkan kembali pengetahuannnya yang telah didapat kepada minimal lima orang di kampungnya masing-masing. “Maka saya sangat tersanjung bisa bertemu dengan adik-adik, mulai hari ini anda semua sebagai partnership. Setelah mendapat ilmu dari saya, sampaikanlah pada sekitar anda lima orang, berarti kalau seratus tiga puluh, dikali lima, saya punya networking, saya punya tangan di kecamatan sebanyak 650 orang,” katanya dengan penuh semangat menggebu-gebu. (PEWARTAnews)

    Kapitalisasi Pendidikan di Era Milenial



    PEWARTAnews.com -- Indonesia adalah salah satu Negara yang masuk dalam survei Barat yang akan berkembang dalam waktu tidak lama lagi ke depan. Posisi dalam survei tersebut Indonesia masuk dalam urutan ke-4 setelah India. Ada yang mengatakan bahwa Indonesia di tahun 2045 sebagai puncak keemasan ekonominya. Ada juga yang mengatakan dibawah tahun 2045. Jikalau itu terjadi, maka akan ada perkembangan besar dalam dunia pendidikan, budaya, dan sosial dalam masyarakat Indonesia. Gedung-gedung sekolah, kampus dan institusi lain akan menjulang tinggi di berbagai pelosok negeri ini, sehingga membantu dan menopang dari kesenjangan pendidikan saat ini. Tahun 2016 jumlah sekolah negeri maupun swasta di Indonesia hampir 300 ribu unit di seluruh wilayah Indonesia, jumlah tersebut belum lagi ditambah jumlah kampus negeri maupun swasta yang ribuan juga jumlahnya. Tahun 2018 ini menandakan bahwa makin hari negeri kita makin baik dalam membangun fisik institusi pendidikannya.

    Tetapi dalam hal ini ada sesuatu yang kurang menurut penulis dalam pelaksanaan pendidikan di era milenial ini yang seharusnya pemerintah kita mengayomi dan mempermudah anak bangsa untuk menempuh pendidikan setinggi-tingginya bukan malah sebaliknya yaitu mempersulit anak negeri untuk menempuh pendidikan, perihalnya seolah pemerintah sudah memberi garis batas antara orang kaya dengan orang miskin, kebanyakan orang kaya bisa masuk di sekolah-sekolah fovorit dan bergengsi yang penuh dengan fasilitas mewah sedangkan orang miskin hanya bisa sekolah di sekolah apa adanya tampa fasilitas memadai kenapa tidak, di sekolah favorit tersebut biayanya mahal dan bahkan selangit yang hanya bisa di jangkau oleh orang-orang kaya dan sangat tidak mungkin di masuki oleh orang-orang miskin yang tidak mampu membayar, ini sangat diskriminasi dalam pendidikan kita yang sangat nyata di depan mata kita.

    Disatu sisi pemerintah memberi seluas-luasnya pihak swasta untuk mengelola pendidikan sehingga tidak sedikit sekolah-sekolah dan kampus-kampus swasta yang membludak di pelosok negeri dan efeknya adalah biaya sekolah dan kuliah sangatlah mahal, anak negeripun banyak yang putus sekolah dan kuliah karena mengingat mahalnya biaya sekolah dan kuliah di negeri yang kaya akan alamnya. Ini pertanda bahwa indikasi dari praktek kapitalisasi oleh institusi-institusi pendidikan yang menganggap bahwa pasar terbesar yang bisa maraup rupiah adalah pasar pendidikan, ini terjadi di sekeliling kita dan sudah menjadi idiologi bisnis bahwa pendidikanlah yang bisa menguntungkan diri dan kelompok mereka. Kondisi yang paling menyedihkan lagi adalah para kapitalis ini tidak memikirkan bahwa anak bangsa tidak bisa menjangkau bayaran itu dan berakibat fatal dalam pendidikan mereka, tetapi yang dipikirkan oleh kaum kapitalis hanyalah keuntungan semata dan bagaimana mereka dapat keuntungan besar-besaran dalam pasar pendidikan tersebut.

    Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional merupakan undang-undang yang secara institusional mengatur sistem pendidikan. Undang-undang tersebut bermakna pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dan sebagainya. Kalau kita berkaca kepada undang-undang tersebut seharusnya kita menegakkan nilai-nilai keadilan dalam menjalankan pendidikan tetapi pada hakikatnya malah sebaliknya. Menurut penulis, kata keadilan adalah kata yang maknanya sama rata sama rasa dalam segala hal termasuk dalam kehidupan sosial. Jadi kita harus berlaku adil baik dalam urusan kecil, lebih-lebih dalam urusan yang besar seperti pendidikan seharusnya tidak ada garis diskriminasi antara yang miskin dan yang kaya untuk menempuh pendidikan di negeri tercinta ini.

    Sejatinya tujuan pendidikan Indonesia adalah untuk memanusiakan manusia, tetapi fakta dilapangan pendidikan dijadikan sebagai lahan bisnis bagi para pemegang kebijakan, sehingga dari sekian juta anak-anak di negeri ini hanya sebagian yang bisa melanjutkan pendidikan menuju jenjang yang lebih tinggi, karena mahalnya biaya pendidikan yang di patok oleh pemangku kebijakan baik negeri maupun swasta yang tidak mengenal dan mentolerir anak-anak yang kurang mampu. Akhirnya tidak sedikit dari anak-anak negeri ini menggantungkan cita-citanya kepada harapan belaka yang tidak mungkin lagi di raih dan diperjuangkan. Indonesia adalah Negara yang besar, Negara yang kaya akan alamnya tetapi masih ada anak negeri yang tidak lagi mendapatkan pendidikan yang layak sebagai penentu masa depan mereka.


    Penulis: Andri Ardiansyah Al-Bimawy
    Mahasiswa Pascasarjana Program Doktor (S3) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

    Dialog IPMLY: Hoax adalah Musuh Kita Bersama

    Pemateri dan Moderator saat Dialog Publik berlangsung.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Ikatan Pelajar Mahasiswa Lambu Yogyakarta (IPMLY) menggelar Dialog Publik dan Pelantikan Pengurus Baru Periode 2018/2019 yang diselenggarakan pada hari Jum’at, 20 April 2018 di DPD Golkar Kota Yogyakarta. Momentum Pelantikan mengangkat tema “Meningkatkan Integritas, serta Kompetensi SDM Guna Terwujudnya IPMLY yang Lebih Baik”, dan Dialog mengangkat tema “Peran Mahasiswa dalam Menangkal Isu Hoax Menyambut Pesta Demokrasi”.

    Dalam acara dialog tersebut, Wakil Sekretaris Forum Silaturrahim Weki Ndai Mbojo-Yogyakarta M. Jamil, S.H. selaku pemateri mengatakan bahwasannya begitu pentingnya mahasiswa dan masyarakat untuk turut andil memerangi isu hoax yang telah marak terjadi di Indonesia. “Kita sebagai masyarakat, lebih-lebih sebagai pemuda terpelajar (Mahasiswa) harus mengambil bagian untuk melakukan sesuatu perubahan positif dalam masyarakat, salahsatunya dalam menangkal hoax yang tersebar luar di masyarakat,” ucap Jamil.

    Pemuda yang juga sebagai mahasiswa Magister Kenotariatan FH UGM ini beberkan bahwa isu hoax yang marak terjadi dewasa ini merupakan musuh kita bersama sebagai masyarakat dan mahasiswa. “Biar bagaimana pun, peran mahasiswa dalam menangkal hoax di tahun politik ini sangat diharapkan, karena karakter mahasiswa yang sejatinya masih murni dari kendali atau pengaruh siapapun (independent),” beber Jamil.

    Lebih jauh M. Jamil mengatakan, “Mahasiswa harus berperan aktif membantu mengawas dan mengontrol berjalannya Pemilu agar terbebas dari hal-hal yang tidak kita inginkan, seperti penyebaran ujaran kebencian, hoax, dan hal-hal lainnya yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia,” ujar Jamil yang juga sebagai kader Forum Bela Negara Republik Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta ini. (PEWARTAnews)

    FBN Beri Warna dalam Pra-Kongres Boemipoetra di Jogja

    Beberapa pengurus FBN di lingkup DIY saat menghadiri Pra-Kongres Boemipoetra.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Forum Bela Negara Republik Indonesia Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (FBN RI DIY) menghadiri Pra-Kongres Boemipoetra dengan tagline “Jadilah Tuan di Negeri Sendiri” pada hari Senin, 23 April 2018. Kegiatan tersebut dihadiri Ketua dan Sekretaris dari masing-masing Forum Bela Negara di Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman, Kabupaten Bantul, Kabupaten Gunungkidul dan Kabupaten Kulonprogo.

    Dalam acara tersebut hadir lintas organisasi masyarakat (ORMAS) maupun organisasi kepemudaan (OKP) seperti Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), BEM Fakultas Hukum, Gerakan Pribumi Indonesia, Pembela Tanah Air, dan lain-lain.

    Pra Kongres dimulai dengan pemaparan materi oleh tokoh nasional yaitu Yusri Ihza Mahendra, MS Ka’ban, Maswadi Rauf, Jenderal TNI (Purn) Djoko Santoso, Dr Ichsanuddin Noorsy, Prof Kaelan, M. Dahlan La Ode, Prof. Sobar Sutisna, dan beberapa tokoh lainnya.

    Acara yang diselenggarakan di Hotel Santika, Yogyakarta sengaja dipilih karena dinilai Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki sejarah kuat perjuangan priboemi Indonesia. Sekaligus menegaskan peran dan tantangan boemipoetra dalam menghadapi perkembangan dan kemajuan zaman.

    Pengertian Bumiputra menurut Guru Besar Ilmu Politik UI mengacu pada kelompok warga masyarakat yang mendiami daerah tertentu secara turun temurun dalam jangka waktu yang sangat panjang. Pemaparan lainnya, Prof. Sobar dalam acara tersebut menyampaikan NKRI adalah designasi sospol Bumiputera yang diraih melalui pengorbanan panjang, pertumpahan darah dan olah otak pikiran para Bumiputera pendiri bangsa. Ia berharap bumiputera dapat menjadi tuan di negeri sendiri karena NKRI didirikan, dimiliki dan harus dikuasai oleh Bumiputera.

    Sekretaris Forum Bela Negara Kota Yogyakarta, Ricco Survival Yubaidi, S.H., M.Kn. Mengatakan tantangan pemuda saat ini dihadapkan dengan arus persaingan global dan keterbukaan. Sehingga menuntut untuk mempunyai kualitas dan kuantitas diri dalam menghadapi persaingan. "Para Boemipoetra harus mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri dengan bekerja sama dan bersatu dalam membangun negara. Langkah mudah yang dapat dilakukan dengan memberikan keberpihakan terhadap produk-produk asli Indonesia seperti turut mensosialisasikan (busana, tas sepatu karya anak bangsa),  berbelanja di Toko Kelontong ataupun Toko Milik Rakyat, menciptakan lapangan pekerjaan yang pro rakyat," ucap Ricco.

    Sementara menurut Ketua Panitia Pra-Kongres Boemipoetra, Muhardi Zainuddin, di usia Indonesia ke 73 tahun terdapat beberapa persoalan yang perlu mendapat perhatian semua elemen masyarakat terutama keadilan dan kesejahteraan yang dicitakan para founding fathers. Ia menyayangkan adanya penguasaan SDA yang hanya dinikmati oleh segelintir orang dimana sebanyak 1% orang kaya di Indonesia menguasai 46% kekayaan di Indonesia. (PEWARTAnews)

    CBN Kota Jogja Siap Terjun Masyarakat untuk Berantas Narkoba

    Suasana saat pelantikan CBN Kota Yogyakarta.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Karang Taruna Kota Jogja melakukan regenerasi dan pembaruan pengurus Cegah Berantas Narkoba (CBN). CBN merupakan unit pelaksana teknis dari Karang Taruna Kota Yogyakarta yang bergerak dalam bidang kepemudaan untuk menyerukan perlawanan terhadap bahaya NAPZA.

    Ketua Karang Taruna Kota Yogyakarta, Solihul Hadi, S.H., mengatakan, proses reorganisasi CBN kali ini melibatkan 14 orang yang berasal dari 14 kecamatan se-Kota Jogja.  Dalam proses pengkaderan, Karang Taruna Kota Jogja bekerja sama dengan Dewan Pengurus Daerah Gerakan Nasional Anti Narkotika Daerah Istimewa Yogyakarta (DPD GRANAT DIY).

    “Diklat-nya berlangsung selama tiga hari di Facility Sompok, Imogiri, Bantul. Pengkaderan menggunakan sistem Terapeutik Community (TC) bertujuan untuk membangun character building, kedisiplinan dan cara bersikap yang baik, sehingga ketika kembali ke masyarakat, teman-teman CBN mampu mengembalikan fungsi sosial yang bertanggungjawab,” tutur Solihul Hadi. 

    Lebih lanjut pria yang saat ini sedang menempuh pendidikan di Magister Kenotariatan UGM ini menambahkan, dalam ketugasannya, CBN mengemban tiga tugas utama, yaitu campaign (kampanye dan sosialisasi), investigation (investigasi dan pelaporan), dan counselling (konseling remaja).

    Menurutnya, pembaruan CBN ini didasari oleh keprihatinannya terhadap kondisi pemuda saat ini, dimana banyak pemuda yang mengalami degradasi moral dan lemahnya iman dikarenakan  penyalahgunaan NAPZA.

    “Dari hasil data yang ada pada kami, banyak pemuda di Yogyakarta yang bermasalah dengan narkoba, ada yang terjaring sebagai pengguna dan ada juga yang terciduk menjadi pengedar maupun kurir, sehingga regenerasi atau pembentukan pengurus CBN ini, bagi kami (Karang Taruna Jogja) menjadi suatu keharusan, dan tidak bisa ditawar lagi,” tutur Solihul.

    Susunan kepengurusan CBN dibentuk pada Selasa (17/4/2018) malam lalu di Pendapa Kantor Kecamatan Jetis, Kota Jogja. Dalam kepengurusan CBN kali ini, sebagai Ketua Aditya Muhammad Syamsudin (Mahasiswa Tekhnologi Mineral UPN), dan Sekretaris Yardema Mulyani (Mahasiswa Ketahanan Nasional S2 UGM). Ketua CBN Kota Yogyakarta membeberkan keinginannya untuk berkomitmen kuat dalam upaya pencegahan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba di Kota Gudeg Yogyakarta. “Target kerja ketua CBN yang baru, CBN harus tumbuh di semua kelurahan se-Kota Jogja dan berkomitmen bersama dalam mencegah penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba di Kota Jogja,” tegas pria yang biasa disapa Adit tersebut. (PEWARTAnews)

    Mata Garuda NTB sasar SMK Kesehatan Yahya Bima buat Toreh Cita 1000 Anak Bangsa

    Suasana acara Massive Action di Bima, NTB.
    Bima, PEWARTAnews.com -- Puluhan alumni penerima beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) di Propinsi Nusa Tenggara Barat yang tergabung dalam organisasi Mata Garuda menggelar kegiatan akbar Massive Action. Kegiatan tersebut bertemakan “Toreh Cita 1000 Anak Bangsa” yang merupakan rangkaian dari acara welcoming alumni 2018 serta menjadi satu dari banyak bentuk kontribusi para alumni dan penerima beasiswa LPDP dalam memberikan inspirasi serta motivasi kepada siswa SMA/Sederajat di 26 provinsi se-Indonesia dengan tujuan untuk menanamkan keberanian bermimpi pada generasi penerus bangsa serta merencanakan strategi untuk menggapai mimpi tersebut.

    Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat menjadi salah satu tempat diselenggarakannya kegiatan massive action tepatnya di SMK Kesehatan Yahya Bima (23/4/2018), penunjukan SMK Kesehatan Yahya Bima merupakan hasil musyawarah para alumni penerima beasiswa LPDP Bima. Dalam kegiatan tersebut terlihat para siswa SMK Kesehatan Yahya Bima sangat antusias, terbukti dari ramainya yang menghadiri kegiatan tersebut, tidak hanya para siswa, guru-guru serta staf kepegawaiannya pun ikut menghadiri acara tersebut hingga selesai.

    PIC Mata Garuda NTB Musahrain, M.Pd dalam sambutannya menyampaikan laporan kegiatan massive action yang diselenggarakan serentak pada (19/4/2018) sebelumnya sangat menarik minat siswa/siswi, "Hal ini terbukti dari melonjaknya kehadiran siswa/siswi yang menghadiri kegiatan tersebut tidak terkecuali yang dilaksanakan di Nusa Tenggara Barat," ucap Musahrain.

    Lebih lanjut Musahrain menjelaskan terkait tujuan dari diadakannya organisasi Mata Garuda, "Tujuan organisasi Mata Garuda ini ialah sebagai wadah bagi para awardee dan alumni untuk bekerja sama sehingga tetap berkontribusi bagi bangsa dan negara," bebernya.

    Kegiatan ini disambut bahagia oleh Ketua Yayasan Al-Yahya Burhan, S.E., lantaran terpilihanya SMK Kesehatan Yahya Bima sebagai tempat terselenggaranya kegiatan tersebut selain itu beliau menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh awardee LPDP Bima yang telah mau memberikan motifasi dan semangat kepada siswa SMK Kesehatan Yahya. “Alhamdulillah kita dipercaya, rupanya di Kabupaten Bima ini kita dipercaya yang kedua setelah SMA di Wera yang sebelumnya telah menyelanggarakan acara ini, saya cukup bangga, alhamdulillah dipilih (SMK Kesehatan Yahya, red) sebagai lokasi kegiatan massive action,” kata Burhan.

    Lebih lanjut kepala Yayasan berpesan kepada para siswa agar dapat mengikuti kegiatan tersebut dengan saksama agar dapat mengambil manfaat untuk meraih prestasi yang lebih tinggi lagi.

    Kegiatan massive action selanjutnya di isi dengan pemaparan singkat perjalanan hidup para awardee Bima hingga mampu meraih beasiswa LPDP, tentu hal tersebut menjadi suntikan motifasi bagi para siswa untuk dapat mengambil sikap sehingga mampu berbicara banyak demi majunya bangsa dan negara lebih khusus daerah Bima. Dalam pemaparan perjalan hidup para awardee diwakili oleh tiga awardee yakni Arif Bulan, M.Pd lulusan Magister Ilmu Linguistik Terapan Universitas Negeri Yogyakarta, M. Averil Prima Putra R., S.Farm.Apt kandidiat master ilmu forensik Uppsala University dan Amar Ma’ruf, M.Pd lulusan magister pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta. Diakhir kegiatan seluruh siswa ditugaskan untuk mengisi lembar peta mimpi mereka yang kemudian menjadi pegangan bagi para siswa untuk terus menjaga mimpi tersebut. (PEWARTAnews)

    Warga Jogja Gelar Deklarasi dan Peresmian Posko Relawan C1NTA

    Suasana saat peresmian Posko Relawan C1NTA di Jogjakarta.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Siang tadi, tepatnya tanggal 23 April 2018, Relawan Cak Imin Untuk Indonesia (C1NTA) mendeklarasikan diri sekaligus meresmikan ihwal pendirian Posko C1NTA di Yogyakarta.

    Koordinator Posko Relawan C1NTA Jogja Abdul Khalid Boyan dalam rilisnya yang diterima PEWARTAnews.com pada 23/04/2018 mengatakan bahwa Posko C1NTA didirikan dalam rangka mendukung A. Muhaimin Iskandar (Cak Imin) menjadi cawapres pada Pemilu Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) 2019. "Deklarasi dan peresmian Posko C1NTA di Yogyakarta bukan lahir dari ruang kosong, tetapi ini merupakan manifestasi dari label Yogyakarta sebagai kota seribu cinta. Di kota ini, toleransi, keadaban, dan kemanusiaan atas dasar cinta, terpatri secara kuat. Sehingga Posko C1NTA betul-betul menemukan pelabuhannya," ucap Khalid.

    Posko C1NTA, kata Khalid, merupakan ide bottom up (dari bawah ke atas), sebagai wujud inisiatif warga (terutama pemuda) Yogyakarta yang ingin membuka posko secara mandiri. Posko C1NTA dibuat sebagai pusat informasi tentang Cak Imin, mulai profil, sepak terjang, prestasi, dan dedikasi Cak Imin. Sehingga publik Yogyakarta makin mengenal sosok Cak Imin secara utuh. "Mengenalnya sebagai sosok yang selalu menebar rasa cinta terhadap masyarakat, Bangsa dan Negara. Gerakan-gerakan cinta Cak Imin, sudah tak dapat diragukan. Ia kerapkali menjadi garda depan dalam ikut serta membangun harmoni, kerukunan antar agama, dan membumikan Islam yang  rahmatan lil alamin," katanya.

    Lebih lanjut, Khalid mengatakan Posko C1NTA ini berfungsi sebagai tempat berkumpul warga, bersilaturrahim, berdiskusi, berdialog, untuk saling mengingatkan, menguatkan, dan share pengetahuan. "Dengan begitu, masyarakat Yogyakarta semakin mudah mendapatkan dan kemudian menyebarkan informasi seputar Cak Imin terkait cawapres secara luas dan secara benar. Latar belakang warga yang berminat untuk membuat posko ini adalah para pemuda. Mulai dari pelajar, mahasiswa, sosialita, hingga hijabers. Mereka berkumpul secara tulus dengan menghilangkan sekat agama, suku dan ras. Sebab bagi mereka rasa cinta lebih penting dari sentimen apa saja," beber Khalid.

    Sebagai tindak lanjut, ucap Khalid, Posko ini akan mengupayakan untuk menyebarkan pesan-pesan cinta dari Cak Imin sebagai salah satu tokoh yang layak menjadi Cawapres. Selain karena rekam jejak dan prestasi, Cak imin adalah kandidat Cawapres yang masif relatif muda. Pernah menjadi pimpinan DPR termuda, menteri di usia yang relatif muda, dan inspirator gerakan sosial-kegamaan kaum muda. Sehingga salah satu segmen yang akan diajak untuk berbartisipasi dalam posko ini tentu saja  adalah kelompok-kelompok melenial yang merepresentasikan kaum muda.

    "Kelompok milenial inilah yang kerapkali gandrung akan pesan-pesan cinta, dan rentan punya masalah dengan cinta. Kaum melenial, rata-rata memiliki keterikatan yang lemah dengan parpol, mudah kagum ataupun benci pada tokoh tertentu, dan sangat aktif di media sosial. Padahal pada Pemilu 2019  jumlah pemilih melenial hampir mencapai 40 persen dari total pemilih di tahun 2019. Dengan Posko C1NTA, kegelisan-kegelisan kaum melenial perihal politik dan sebagainya akan segera menemukan jawabannya," terang lelaki alumni UIN Sunan Kalijaga ini.

    Lebih jauh, Khalid yang juga Ketua GEMASABA DIY ini mengatakan bahwa, kedepan Posko-posko C1NTA akan terus digerakkan secara massif, tidak hanya di kabupaten atau kota saja, tapi di seluruh pelosok desa, khususnya di Yogyakarta. Termasuk lahirnya Posko-posko C1NTA yang berlatar belakang profesi, dari profesi nelayan, petani, guru, dan profesi-profesi yang lain.

    "Posko C1NTA ke depan akan terus menjadi sarana aspirasi masyarakat Yogyakarta. Terutama keluh-kesah dan kebutuhan yang dihadapi masyarakat Yogyakarta hari ini. Sehingga Posko C1NTA akan menjadi sumber kehangatan antara masyarakat karena di sini mereka akan saling bertatap muka dan ngobrol santai tentang semua hal. Di Posko ini para relawan-relawan dan seluruh masyarakat akan terus menyuarakan dan mendoakan Cak Imin agar dilantik menjadi Wapres pada tahun 2019. Aamiin," ucapnya. (PEWARTAnews)

    Pemuda KUB TIRTA Gempita Gemparkan Pertanian Bantul

    Pusat pembuatan pupuk organik di Bantul.
    Bantul, PEWARTAnews.com -- Program Regenerasi petani yang diluncurkan Menteri Pertanian (Mentan) Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, MP melalui Gerakan Nasional Gerakan Pemuda Tani Indonesia (Gernas Gempita) berbuah manis. Kali ini sekelompok pemuda yang tergabung dalam Kelompok Usaha Berusaha (KUB) berhasil ciptakan inovasi pupuk organik tidak tanggung-tanggung pemakaian inovasi kelompok pemuda ini dongkrak 60% produksi petani.

    Jajaran Koordinator Gerakan Nasional Gempita secara khusus meninjau pusat Pengolahan dan Produksi KUB Tirta Gempita di Desa Giritirto, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada hari Minggu, 22 April 2018.

    Seiring makin maraknya para petani menggunakan pupuk kimia pengusir hama mengundang keprihatinan. Berangkat dari rasa prihatin tersebut Kelompok Usaha Bersama pertanian disingkat KUB mencoba ber inovasi dengan menciptakan pupuk cair organik berkualitas tinggi yang mampu meningkatkan hasil produksi para petani," ujar Sugiarto Korwil Gempita DIY.

    Salah satu kepedulian tersebut muncul dari Kelompok Usaha Bersama Tirta Gempita DIY yang bernaung di bawah Gerakan Pemuda Tani (GEMPITA) luncuran Mentan Amran berbuah bukti. KUB ini berhasil menciptakan Pupuk Cair Organik yang sangat ampuh mengusir hama dan memaksimalkan hasil produksi panen para petani.

    Menurut Ketua KUB Tirta Gempita DIY Sunardi, KUB sendiri berjuang untuk Meningkatkan peran pemuda/petani muda dalam mendukung program prioritas Kementerian Pertanian dan Menumbuhkan kelembagaan ekonomi yang dikelola pemuda/petani muda dalam rangka membangun daya saing dan posisi tawar dengan pelaku usaha lain.

    "Terkait hal tersebut KUB kami fokus untuk pengembangan Pupuk Organik sebagai karya yang kami akan persembahkan buat pelaku Pertanian/pemuda tani seluruh Indonesia agar hasil panen yang diharapkan para petani lebih memuaskan," tutur Sunardi

    Lanjut Sunardi, salah satu bukti yang menakjubkan dari pupuk cair organik ini adalah kemampuan menumbuhkan tembakau secara subur diatas media Batu, selain itu penggunaan pupuk organik juga bisa meningkatkan hasil panen yang cukup membanggakan, “Untuk Gunungkidul saja hasil panen petani meningkat hingga 60 persen setelah beralih menggunakan pupuk organik produksi KUB Tirta Gempita tersebut,” sebut Sunardi.

    "Pupuk cair ini juga mampu menghemat biaya produksi, karena selain sebagai pupuk, pupuk cair bisa digunakan sebagai bahan aktif untuk mempercepat pembuatan kompos atau pupuk kandang yang bekerja dalam proses pembusukan dan pematangan,” tambahnya.

    Kornas Gempita Andi Anugerah Wijaya yang mengunjungi pusat Kegiatan produksi KUB Tirta Gempita menyebut inovasi ini bukti kehadiran pemuda akan berdampak positif bagi menjawab persoalan yang ada di petani.

    Anugerah menegaskan, KUB sebagai kelembagaan tani bagi pemuda untuk memberikan layanan cepat dan  cikal bakal terbentuknya Korporasi petani disetiap kecamatan.

    "KUB akan jadi wadah belajar dan bekerja pemuda, dimana pertanian kita dapat dioptimalkan berkat pemuda dari hulu hingga hilirnya. Ini amanah Presiden Jokowi, pemuda harus kembali rebut kesempatan bekerja di sektor pertanian yang sangat menjanjikan," pungkas Anugerah. (PEWARTAnews)

    Sebuah Kajian Menyoal Multitafsir Puisi Sukmawati

    “Jika teriakanmu tidak didengar orang lain, maka teriaklah lewat TULISAN” (Tan Malaka)

    PEWARTAnews.com – Kali ini saya ingin mengulas hasil diskusi Komunitas Dialektika LARIS dengan Tema “Multitafsir Puisi Sukmawati” yang diselenggarkan pada hari Kamis, 5 April 2018, Lt.2 FITK UIN Sunan Kalijaga, dengan berdasar pada opini teman-teman diskusi. Diskusi ini dihadiri oleh saya sendiri (Penulis), Bintan, Karina, Totu, Zaenal, Zainal Arifin/Ipin, Nindi, Dewi, Shiffu, Bayu, Ilyas dan Romdhoni. Opini dapat dikatakan sebagai pendapat yang didasari dengan argumen yang logis, rasional dan empirik. Tak ayal, banyak orang yang menyebut opini dengan hasil pemikiran otaknya. Dengan demikian, opini sifatnya subjektif yang tidak bisa digeneralisasikan/disamakan dengan pemikiran orang lain. Bisa jadi antara satu orang dengan yang lain pun berbeda-beda dalam melihat suatu hal.

    Dekat-dekat ini Indonesia dihebohkan dengan hotnews yang mampu mengalihkan isu nasional yakni terkait dengan kontroversi puisi Ibu Sukmawati yang mengandung pro dan kontra di masyarakat. Sejumlah organisasi keagamaan-kemasyarakatan dan partai politik pun mengeluarkan surat dan himbauan kepada masyarakat untuk tetap tenang dan tetap menjaga persatuan dan kesatuan agar tidak semakin membuat suasana menjadi panas. Berkenaan dengan hal itu, (sebagian) mahasiswa di kampus menjadikan isu aktual itu sebagai bahan diskusi menarik untuk diperbincangkan, tak terkecuali oleh Komunitas Dialektika LARIS dibawah naungan PAI yang mayoritas anggotanya adalah angkatan 2015 (Sekarang semester 6).

    Dari hasil diskusi tersebut dapat disimpulkan bahwa Masyarakat Indonesia itu terlalu “sepaneng” dalam beragama. Menurut kami, tidak ada yang salah dari teks puisi yang dibacakan oleh Bu Sukma. Karena puisi merupakan karya sastra yang bebas, penuh dengan majaz dan merupakan manifestasi dari luapan emosi si Penulis. Sehingga yang mengetahui “hakikat substansi” dari sebuah penciptaan karya/tulisan ialah yang menulisnya, dan yang meng-interpretasi adalah si pembaca. Dengan demikian, tidak ada yang salah. Karena puisi tidak bisa diadili, yang ada hanyalah estetika. Puisi mengandung kata-kata bermajaz. Dulu ketika pelajaran Bahasa Indonesia dikenal ada majaz hiperbola, personifikasi, metofora dll. Persoalannya adalah tidak banyak masyarakat Indonesia yang mengetahui itu lebih dalam, karena hanya melihat pada yang terlihat/tekstual.

    Sebagai contoh, manusia mudah menyimpulkan dan menilai sesuatu berdasar pada apa yang dilihat, atau apa yang didengar dan apa yang dibaca. Apa yang terlihat, itulah kesimpulannya. Faktanya begitu, kan. Meski kita tahu, bahwa melihat sesuatu yang hanya terlihat “luar nya” saja tidak baik. Namun lihatlah dari berbagai perspektif, dari berbagai sudut pandang. Sehingga pemahaman real dan komprehensif meski tidak 100% obyektif, karena sifat manusia adalah nisbi. Hal ini jika dihubungkan dengan sebuah tulisan (karya sastra) jangan hanya terfokus pada tekstual-nya saja, namun lihatlah substansinya dan bawa teks itu pada konteksnya. Untuk memahami itu, perlu pendekatan historis, sosiologis, fenomenologis dan estetika.

    Dengan pendekatan historis, Bu Sukma membacakan puisi tersebut saat dalam acara “Anne Avantie Berkarya” di Indonesia Fashion Week 2018. Jelas, terkait dengan budaya baik pakaian maupun hal-hal yang berkenaan dengan identitas negara. Wajar kalau beliau menaruh perhatian yang lebih terhadap budaya Indonesia, yakni konde dan kidung ibu Pertiwi. Persoalannya kini ada di bait “Tak tau syariat Islam, suara adzan dan cadar” (mengkomparasikan antara konde dengan cadar, antara kidung ibu pertiwi dengan suara adzan serta membawa-bawa nama Islam).

    Hal tersebut jika dikorelasikan dengan fenomenologi memang nyata adanya. Cadar kini dianggap sebagai syariat Islam, padahal jelas Al-Qur’an hanya meyuruh untuk menutup aurat. Sedangkan konde merupakan budaya asli Indonesia, dengan begitu substansi puisi tersebut ialah mengajak masyarakat Indonesia untuk “mencintai budaya-nya, bukan malah Arabisasi. Lalu terkait dengan membawa-bawa nama Islam, ini bermakna “agama Islam yang dianut oleh kaum muslim” atau islam yang speerti apa maksud ibu Sukma? Karena menurut kami, Islam itu Universal. Islam bermakna tunduk, taat, patuh terhadap perintah Tuhan Yang Maha Esa. Meminjam kata Nurcholish Madjid, Agama apapun di dunia ini yang “mengajarkan” tunduk, taat dan patuh kepada Tuhan Yang Maha Esa dapat disebut sebagai Islam. Sehingga makna Islam dalam puisi tersebut dapat dimaknai sebagai agama-agama di Indonesia yang mengajarkan ketaatan dan ketundukan epada Tuhan YME, tanpa dibatasi hanya agama Islam semata. Arti Islam dalam puisi Ibu Sukma dapat juga dimaknai Indonesia ini merupakan negara yang terdiri dari berbagai macam agama, namun yang terlihat hanyalah agama Islam semata. Oleh karenanya, tetaplah jaga persatuan dan kesatuan antar agama sebagai upaya untuk membangun stabilitas nasional dan pembangunan bangsa. Jadikanlah Islam yang rahmatan lil ‘alamin, yang melindungi kaum “minoritas” dan memberikan peluang dan kesempatan yang sama untuk berkancah dalam ranah publik dengan dasar Hak Asasi Manusia (HAM) dan egality.

    Solusi yang ditawarkan dalam diskusi ini ialah bagaimana memberikan edukasi sastra kepada peserta didik. Selama ini materi pelajaran bahasa Indonesia hanya seputar ide pokok, kesimpulan, kata baku, membuat kalimat yang memahamkan orang namun sangat kurang dalam menginterpretasi karya sastra yang berbentuk satir. Implikasinya adalah mudah menyimpulkan sesuatu yang literlek/tekstual.

    Ayolah beragama jangan sepaneng, jangan “fanatik yang berlebihan” (ingat dalam tanda kutip) dan marilah melihat sesuatu lebih dalam. Jangan gumunan dan mudah menjudge sesuatu kalau belum menganlisis lebih dalam.

    Akhir kata dari Penulis, mohon maaf jika tulisan sederhanana ini (ulasan dari diskusi yang bersumber dari hasil pemikiran teman-teman diskusi LARIS) tidak berkenan dihati pembaca. Perlu diketahui, bahwa kami adalah orang-orang yang “santai” alias nggak sepaneng dalam beragama dan memahami agama secara universal meski mayoritas jebolan dari pesantren. Kalau tidak setuju, silahkan debat dengan tulisan jangan jotos-jotosan, yang penting sedulur kabeh yo.


    Penulis: Mukaromah
    Mahasiswi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta


    Peran Mahasiswa sebagai Masyarakat dalam Menangkal Isu Hoax di Tahun Politik

    M. Jamil, S.H.
    PEWARTAnews.com – Akhir-akhir ini suasana bangsa Indonesia kian hari kian memanas, salah satu penyebabnya adalah kini Indonesia memasuki tahun politik. Tahun 2018 Pilkada Serentak. Tahun 2019 pemilihan anggota DPR, DPD, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota serta pencalonan presiden dan wakil presiden.

    Dalam lampiran Peraturan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Nomor 1 Tahun 2017 disebutkan, kegiatan sosialisasi kepada masyarakat sudah dimulai sejak pada 14 Juni 2017 dan pemungutan dan penghitungan suara Pilkada Serentak 2018 akan dilaksanakan pada 27 Juni 2018.

    Sedangkan tahapan jadwal penyelenggaraan Pemilu 2019 yang dirilis KPU untuk pemilihan anggota DPR, DPD, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota serta pencalonan presiden dan wakil presiden yakni, 1 Agustus 2017-28 Februari 2019 penyusunan peraturan KPU. 26 Maret 2018-21 September 2018 pencalonan. 23 September 2018-13 April 2019 masa kampanye. 14 April 2019-16 April 2019 masa tenang. 8 April 2019-17 April 2019 pemungutan dan penghitungan suara. Juli-September 2019 peresmian keanggotaan. Agustus-Oktober 2019 pengucapan sumpah/janji.

    Dalam suasana tahun politik ini, tidak jarang ditemukan isu-isu yang seksi yang ditampakkan di khalayak publik. Dari adu dan penawaran program yang pro rakyat, saling serang dan cari kesalahan lawan politik, bahkan tidak jarang ada juga yang menyebarkan hoax untuk kepentingan politiknya.

    Peran Mahasiswa sebagai Masyarakat dalam Menangkal Isu Hoax di Tahun Politik
    Masyarakat merupakan sekelompok orang yang membentuk sebuah sistem semi tertutup (atau semi terbuka), di mana sebagian besar interaksi adalah antara individu-individu yang berada dalam kelompok tersebut. Kata "masyarakat" sendiri berakar dari kata dalam bahasa Arab, musyarak. Lebih abstraknya, sebuah masyarakat adalah suatu jaringan hubungan-hubungan antar entitas-entitas. Masyarakat adalah sebuah komunitas yang interdependen (saling tergantung satu sama lain). Umumnya, istilah masyarakat digunakan untuk mengacu sekelompok orang yang hidup bersama dalam satu komunitas yang teratur (https://id.wikipedia.org, 19/04/2017).

    Sarwono (1978) memberi gambaran bahwa mahasiswa merupakan setiap orang yang secara resmi telah terdaftar untuk mengikuti pelajaran di perguruan tinggi. Mahasiswa adalah suatu kelompok dalam masyarakat yang memperoleh status karena memiliki ikatan dengan perguruan tinggi. Mahasiswa juga merupakan seorang calon intelektual ataupun cendekiawan muda dalam suatu lapisan masyarakat yang sering kali syarat dengan berbagai predikat dalam masyarakat itu sendiri. (https://masukuniversitas.com, 19/04/2018.

    Kita sebagai masyarakat, lebih-lebih sebagai pemuda terpelajar (Mahasiswa) harus mengambil bagian untuk melakukan sesuatu perubahan positif dalam masyarakat, salahsatunya dalam menangkal hoax yang tersebar luar di masyarakat. Biar bagaimana pun, peran mahasiswa dalam menangkal hoax di tahun politik ini sangat diharapkan, karena karakter mahasiswa yang sejatinya masih murni dari kendali atau pengaruh siapapun (independent). Mahasiswa harus berperan aktif membantu mengawas dan mengontrol berjalannya Pemilu agar terbebas dari hal-hal yang tidak kita inginkan, seperti penyebaran ujaran kebencian, hoax, dan hal-hal lainnya yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia.

    Dengan kemurnian pikiran yang disandang oleh mahasiswa, diharapkan ketika hadir di tengah-tengah masyarakat menjadi benar-benar sebagai agen perubahan (agent of change), jangan malah menjadi bagian dalam penyebaran hoax dan ujaran kebencian tersebut.

    Peran Masyarakat Umum di Tahun Politik
    Hidup dan kehidupan dalam bermasyarakat syarat akan nilai kebersamaan, itulah sejatinya hidup dalam bermasyarakat yang telah menjadi tradisi dari masa ke masa sejak ribuan tahun silam, yang mana kebersamaan tersebut dibuktikan dengan adanya nilai-nilai yang tertanam dalam pribadi-pribadi masyarakat, diantaranya seperti gotong royong, musyawarah mufakat, dan lain sebagainya. Sikap kebersamaan (kolektifitas) tersebut juga harus terpartri dalam mensukseskan tahun politik, karena tahun ini (2018) dan tahun depan (2019) kita sudah dihadapkan dengan Pemilu yang akan menyita lebih dalam daya kepekaan kita dalam memilih pemimpin atau wakil rakyat, karena hasilnya tersebut akan menentukan perubahan bangsa ini untuk 5 tahun selanjutnya. Maka oleh karena itu, semua lapisan masyarakat harus berperan aktif untuk mensukseskannya, yang bisa dilakukan masyarakat adalah ketika para calon kepala daerah/caleg/capres turun di masyarakat mengubarkan janji-janji manisnya, maka masyarakat harus jeli dan cerdas dalam menyikapinya, jangan sampai orang yang di pilih tidak mewakili aspirasi-aspirasi masyarakat hingga sebaliknya yang terjadi kelak bila telah terpilih malah menyimpangi dari tanggungjawab yang harus diembannya. Bila mana dalam lapangan ada yang melakukan penyuapan di masyarakat, yakin dan percayalah, orang-orang semacam itu tidak akan sepenuhnya mau melaksanakan apa yang menjadi kewajibannya bila kelak telah terpilih. Karena ketika telah terpilih yang paling pertama  dia pikirkan adalah, bagaimana caranya untuk mengembalikan uang-uang yang telah mereka keluarkan, dan dengan kewenangannya yang besar, mereka bisa dengan leluasa memanfaatkannya untuk menggunakan dana yang seharusnya untuk kepentingan masyarakat digunakan sepenuhnya untuk pribadinya, agar uang yang dia keluarkan semasa kampanye cepat kembali dan bahkan mengambil sebanyak-banyaknya untuk memperkaya dirinya dan keluarganya.

    Peran Mahasiswa dalam Menyambut Tahun Politik
    Mahasiswa merupakan agen pengontrol sosial (agents of social control) dan agen perubahan (agent of change), yang mana ditangan mahasiswa bisa membuat atau menciptakan suatu perubahan dalam suatu lingkup masyarakat, bangsa, Negara, bahkan dunia. Karena dengan sifat dan karakter mahasiswa yang sejatinya masih murni dari kendali atau pengaruh siapapun (independent), dengan kemurnian hati dan pikiran seorang mahasiswa bisa merangkul dari aspirasi semua kalangan, lebih-lebih untuk kepentingan masyarakat menengah kebawan. Seperti selogan yang pernah digembar-gemborkan oleh sang pendiri bangsa (funding father) kita yaitu Soekarno, tentang besarnya pengaruh pemuda/mahasiswa bila mereka bersatu, beliau pernah mengatakan dengan lantang “berikan saya sepuluh pemuda, maka saya akan bisa mengguncangkan dunia”, itulah sejatinya prestasi yang akan diraih oleh pemuda/mahasiswa bila mana mereka menyatukan ide, pikiran, gagasan, dan bersama-sama melangkah melakukan perubahan untuk masyarakat, bangsa dan Negara tercinta ini, maka suatu perubahan yang nyata akan terlihat atau terpampang dengan jelas dari buah tangan atau karya pemuda/mahasiswa.

    Sejatinya kita semua harus menyatu dengan indah seperti halnya lidi-lidi yang berserakan dikumpulkan jadi satu, membentuk satu kekuatan yang utuh, yaitu kekuatan untuk membangun suatu masyarakat, bangsa dan Negara. Karena  seberapa besarpun suatu persoalan kalau dikerjakan secara bersama maka akan terasa mudah, begitu juga sebaliknya, sesederhana apa pun suatu pekerjaan kalau dikerjakan sendirian akan terasa sulit adanya, seperti halnya sapu lidi, sapu lidi merupakan gabungan dari puluhan atau ratusan lidi, bila satu lidi ingin menyapu batu yang besarnya sebesar genggam tangan maka lidi tersebut tidak akan bisa menyapu batu itu, begitu juga sebaliknya, bila mana lidi-lidi tersebut digabungkan jadi satu dalam satu ikatan akan menjadi sapu lidi dan juga akan bisa menyapu batu yang besarnya sebesar genggaman tangan tersebut. Oleh karena itu, makna atau hasil yang didapat dari suatu kebersamaan itu akan bernilai tinggi adanya. Itulah sikap-sikap kolektifitas yang harus tertanam dalam hidup dan kehidupan dalam suatu masyarakat, bangsa dan Negara, yang mana bila kita ingin menggapai tujuan yang mulia sejatinya kita harus melaksakan tujuan tersebut secara bersama-sama biar suatu persoalan sesulit apapun bisa dilakukan atau disa dipecahkan secara bersama-sama. Begitu juga apabila kita semua ingin mensukseskan dan turut andil dalam menjaga keharmonisan tahun politik, kita harus bahu membahu membentuk satu kekuatan yang utuh untuk mensukseskannya.

    Wallahu a’lam bish-shawabi.


    Penulis: M. Jamil, S.H.
    - Mahasiswa Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada -- IG/FB/Twitter: @MJamilSH
    - Tulisan ini disampaikan sebagai pengantar dalam acara Pelantikan dan Dialog Publik Ikatan Pelajar Mahasiswa Lambu (IPMLY) Bima-Yogyakarta pada 20 April 2018.

    Guru pun Harus Menulis

    Ilustrasi Guru. Foto: merdeka.com.
    PEWARTAnews.com – Aktivitas tulis-menulis sudah barang tentu melekat pada diri setiap guru. Hal ini bukan lagi sesuatu yang langka atau pun asing baginya. Mengingat, guru harus mengajar dan menyampaikan materi kepada siswanya. Tentu menyampaikannya lewat tulisan. Mungkin dituliskan di papan tulis, atau ditampilkan tulisannya lewat LCD Proyektor atau pun sejenisnya. Sehingga siswanya pun bisa membaca dan menuliskannya di bukunya masing-masing.

    Saya yakin, setiap kali mengajar, besar kemungkinan guru pasti menulis. Di samping itu juga, mengenai persoalan administrasi, seperti perangkat pembelajaran, tentu seorang guru harus menyiapkannya sebelum mengajar. Contoh, menyusun program tahunan, program semester,  kriteria ketuntasan minimal (KKM), rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), dan lainnya. Belum lagi administrasi lainnya juga untuk persiapan akan datangnya tim supervisi. Hemat saya, semuanya tentu berhubungan dengan tulis-menulis.

    Namun, bukan lagi menjadi sebuah rahasia, bahwa kebiasaan tulis-menulis yang dimaksud hanya sebatas rutinitas kewajiban dari sekolah saja. Jarang kita lihat guru yang mau betul-betul membiasakan diri untuk menulis, selain dari yang disebutkan di atas. Padahal, kalau saja guru mau membiasakan diri untuk menulis dari apa yang dialami, yang diketahui selama hidup dan selama ia mengajar, sungguh guru yang luar biasa.

    Kalau saja kita mau menelusuri satu per satu dari sekolah ke sekolah, guru penulis bisa dihitung jari. Bahkan, banyak sekolah yang tidak kita temukan guru penulis seperti yang dimaksud. Yang jelas, di setiap sekolah lebih banyak guru yang biasa daripada guru yang luar biasa (baca: guru penulis).

    Menjadi seorang guru itu, mestinya harus membiasakan diri untuk menulis (di luar rutinitas di sekolah). Apalagi guru merupakan pencetak generasai bangsa. Guru penulis itu, besar kemungkinan akan bisa menginspirasi siswanya untuk menulis juga. Sehingga lahirlah generasi-generasi yang cinta akan menulis. Dengan demikian, kelak ketika mereka (baca: siswa-siswa) bekerja, mereka tidak lupa juga untuk meluangkan waktunya untuk menulis. Bila ada di antara mereka yang menjadi tentara negara Indonesia (TNI), maka ia akan menjadi TNI penulis. Jika mereka bekerja sebagai politisi, maka ia akan menjadi politisi penulis. Begitu pula dengan profesi-profesi lainnya.

    Wallahu a’lam.


    Penulis: Gunawan
    Pemuda asal Dompu NTB

    Bangkitlah Mahasiswa (Telaah Mahasiswa Aktivis dan Akademis Berdasar Pengamatan Empirik)

    PEWARTAnews.com – Hidup adalah anugrah Allah Yang Maha Kuasa. Namun dalam hidup ada banyak pilihan, begitupula dengan mahasiswa. Mahasiswa mempunyai peran penting dalam membangun bangsa. Sebagaimana maqalah arab mengatakan syubbaanul yaum rijalul ghad. Pemuda (syabab) yang dapat juga diartikan sebagai mahasiswa merupakan pemimpin masa depan. Realitanya tak hanya untuk masa depan, namun juga pemimpin saat ini. Sehingga mahasiswa harus mempersiapkan diri untuk masa depannya serta mempersiapkan untuk menjadi agent of change (agen perubahan), agent of social control (agen kontrol sosial) dan agent of problem solver (agen pemecah masalah) dalam menghadapai problema kehidupan. Mahasiswa disebut sebagai Maha Atas Ke-Siswaan-nya, yang berarti memiliki tanggungjawab yang lebih besar dibanding dengan dahulu ketika mengenyam pendidikan dasar, pertama dan menengah. Oleh karena itu, sudah sepatutnya bagi Mahasiswa untuk mengembangkan dirinya baik didalam maupun luar kelas.

    Pernakah berfikir mengapa IP maupun IPK maksimal hanya 4,0? Karena selebihnya mahasiswa sendiri-lah yang harus mencari, menelaah, mengeksplore hal-hal baru dan memikirkan cara untuk meraih keberhasilan yang dapat dicari dengan berbagai hal, yakni melalui kajian literasi, berdiskusi maupun berorganisasi. Hal ini diperkuat dengan sebuah penelitian yang mengemukakan bahwa peran dosen maksimal hanya 20% untuk menunjang keberhasilan mahasiswa-nya. Sehingga belajar didalam kelas saja lalu pulang ke rumah ataupun kos (Mahasiswa Kupu-kupu) merupakan kerugian nyata yang dapat membunuh kreativitas dirinya (read : mahasiswa) secara perlahan.

    Penulis sering mengamati mahasiswa yang hanya fokus pada akademiknya, dengan mahasiswa aktivis. Tentu ini berdasar pada pengamatan empirik di Kampus. Untuk menelaah lebih dalam hal itu, saya sering mengajak berdiskusi (apapun itu) dengan mahasiswa aktivis dan mahasiswa akademis dengan memaparkan sebuah persoalan dan saya minta solusi juga pendapat berdasar pada persoalan yang telah saya kemukakan. Ternyata jawaban yang memuaskan (analitik, konkrit, logis, rasional dan bereferensi) lebih banyak saya dapatkan dari mahasiswa aktivis. Tentu aktivis tidak hanya sekedar demo, debat dll. Namun seorang aktivis yang mengimbangi dirinya dengan selalu membaca buku.

    Yang menjadi persoalan ialah telah mendarah daging pola pikir (mind set) kalangan akademis dan masyarakat mengenai mahasiswa aktivis yang terkenal dengan “lulusnya lama”, sehingga memandang anak-anak aktivis dengan sebelah mata. Hal ini kongkrit, faktanya memang begitu!.

    Penulis pun banyak menjumpai teman-teman aktivis yang lulusnya lama, ingat “bukan berarti mereka bodoh”. Namun mereka hanya ingin menikmati masa-masa menjadi mahasiswa, karena masa-masa mahasiwa merupakan masa yang nikmat dan penuh warna. Ada pula faktor lain, karena mereka beranggapan bahwa “dirinya” belum layak untuk lulus dengan indikator belum banyak buku-buku yang dibaca dan dikuasai. Dari hal ini jelas bahwa mereka mengedepankan aspek “kualitas keilmuan” daripada mengejar angka 3,9 sekian diatas kertas putih. Karena faktanya IPK tinggi itu mudah dicari dengan hanya terus masuk kelas tanpa ada keterangan sakit, izin atau bahkan alfa alias “tidak masuk tanpa keterangan” (saya pastikan nilai-nya 4,0) karena yang menyebabkan seseorang IPK-nya rendah bukan karena faktor intelegensi, namun karena faktor “kehadiran/administratif”. Hal ini tidak bisa diubah, karena sistem yang telah berperan, sehingga secerdas apapun mahasiswa kalau dia tidak pernah masuk kelas jangan harap dapat IPK 3,5. Boro-boro 3,5 dapat 3,0 pun tidak akan pernah. Kalau tak percaya coba saja buktikan.

    Dulu lulus SD masuk ke SMP harus mempunyai nilai yang tinggi, begitupula dengan lulus SMA ke PT memerlukan nilai yang tinggi pula, meskipun faktanya nilai saja tidak cukup. Akan tetapi perlu dan harus memiliki sertifikat penghargaan/kejuaraan yang diraih saat di SMA baik dalam bidang akademik maupun non akademik. Begitupula dengan lulus Kuliah, tidak cukup hanya dengan nilai yang baik, akan tetapi yang lebih dari itu ialah harus memiliki nilai plus atau biasa disebut dengan skill komparatif yang salah satunya mempunyai jiwa leadership. Itu yang jauh dibutuhkan untuk masa depan, daripada hanya sekedar IPK tinggi ataupun embel-embel yang lain.

    Penulis teringat nasihat dari Prof. Anis Baswedan saat seminar di UGM Yogyakarta tahun 2015 yang lalu bahwa “Kemampuan belajar” menjadi satu kunci, bukan “kemampuan menguasai suatu bidang”. Karena ketika lulus, mahasiswa belum tentu melakukan dan berhadapan dengan bidang yang digelutinya saat masa-masa kuliah. Namun kemampuan dalam belajar akan membuat mahasiswa menjadi pembelajar terus menerus, sehingga mempunyai peluang untuk terus mengembangkan diri dan meningkatkan kontribusi disekelilingnya. Sehingga saat-saat menjadi mahasiswa seperti ini jangan hanya disebut sebagai “masa kuliah nan masa muda semata” namun harus dijadikan sebagai spirit untuk “terus mengembangkan diri secara optimal dan berkelanjutan”. Jika hal ini dilakukan, maka InsyaAllah “jalan kedepan akan jauh lebih lebar, jauh lebih menantang, dan akan menemukan simpul-simpul baru kebahagiaan yang membanggakan termasuk dalam memperluas jaringan”.

    Tulisan ini bukan berarti mengesampingkan hal-hal akademik, seperti IPK. Karena faktanya IPK juga penting namun harus diimbangi dengan soft skill dan pengalaman yang lain. Penulis hanya ingin membukakan “sedikit” cakrawala dan paradigma berpikir ala anak-anak aktivis yang seharusnya dipahami oleh kalangan akademis seperti dosen dan masyarakat pada umumnya agar tidak menjustifikasi anak-anak aktivis sebagai mahasiswa yang malas dan terkenal dengan lulus kuliah “lama”. Coba lihat 10-20 tahun yang akan datang, siapa yang lebih banyak berkontribusi nyata untuk Indonesia. Mahasiswa aktivis-kah atau mahasiswa yang hanya “Mencerdaskan dirinya sendiri” yang acuh terhadap realitas sosial?


    Penulis: Mukaromah
    Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta / Ketua IPPNU Sewon, Bantul, DIY.

    Jadi Mahasiswa Itu Harus Menulis

    Ilustrasi Mahasiswa Menulis. Foto: gradschools.com
    PEWARTAnews.com -- Bagi seorang mahasiswa, menulis itu bukan merupakan sesuatu yang asing. Bahkan, menulis itu sudah menyatu dengan diri mahasiswa. Sebab, tugas-tugas yang diberikan oleh dosennya selalu ada yang berhubungan dengan menulis, seperti membuat makalah. Mahasiswa semester akhir, misalnya haru menulis skripsi, tesis, atau disertasi sebagai salah satu syarat kelulusan. Contoh lain, mahasiswa yang kuliah di fakultas kesehatan, setidaknya mereka membuat laporan setiap kali selesai melakukan praktikum. Semua itu, tentu berhubungan dengan tulis-menulis.

    Walaupun menulis sudah tidak asing lagi bagi mereka, namun kegiatan yang dimaksud hanya seputar rutinitas tugas kuliah yang dibebankan oleh dosen kepadanya. Sangat jarang terdapat mahasiswa yang mau menulis di luar kewajiban sebagaimana yang dimaksud di atas. Jarang sekali mahasiswa yang mau membiasakan menulis artikel, buku, dan lainnya. Seperti yang disebutkan di atas, kegiatan menulisnya baru muncul ketika ada tugas yang berhubungan dengan menulis yang diberikan oleh dosennya.

    Saya sendiri kurang tahu pasti, mengapa hal demikian bisa terjadi. Apakah budaya literasi di kalangan mahasiswa yang masih kurang atau memang dosennya tidak pernah atau jarang memberikan motivasi kepada mahasiswa untuk menulis (baca: selain tugas perkuliahan). Namun, semuanya itu harus kembali kepada diri masing-masing. Kesadaran akan dunia literasi itu harus muncul dari dalam diri individu itu sendiri.

    Semestinya, sebagai mahasiswa itu harus membiasakan diri untuk menulis (baca: di luar tugas perkuliahan). Begitu banyak pengalaman diperoleh di dunia organisasi, komunitas, dan lainnya, namun sebaliknya minim dalam karya tulis. Bukankah sangat bagus, bila berbagai pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh di kampus, di berbagai organisasi, dan lainnya dituangkan dalam bentuk tulisan. Sehingga, orang lain pun bisa menikmati hasil jerih payahnya ketika masa-masa itu.

    Jadi mahasiswa itu harus menulis. Jangan hanya pintar berorasi kiri-kanan. Jangan hanya jago bakar-bakar ban. Jangan hanya bisanya menutup jalan (ketika demo). Jangan hanya bergabung dan berkecimpung dari organisasi ke organisasi. Cobalah Anda berbagi lewat karya tulis. Sayang rasanya berbagai pengetahuan dan pengalaman yang didapatkan di dunia kampus dan di berbagai organisasi, bilamana hanya dinikmati oleh seorang diri. Mari kita sama-sama membangun peradaban bangsa ini dengan budaya literasi. Ayo, gaungkan literasi kapan dan di mana pun Anda berada. Menulislah!

    Wallahu a’lam.


    Penulis: Gunawan
    Pemuda asal Dompu NTB

    Pendidikan yang Menghidupkan

    Mukaromah (berkacamata) usain melakukan proses belajar mengajar.
    PEWARTAnews.com – Pendidikan merupakan suatu hal yang urgent dan mempengaruhi masa depan suatu bangsa. Maju mundurnya bangsa dapat dilihat dari seberapa berkualitas pendidikannya. Jika warga negara mayoritas orang-orangnya berpendidikan dan mempunyai kesadaran untuk belajar, maka bangsa tersebut akan maju. Namun sebaliknya, jika kualitas dan tingkat pendidikan warga negara rendah, maka negara tersebut sulit untuk maju dan sulit bersaing dengan warga negara yang lain. Betapapun itu, pendidikan merupakan kunci mata rantai yang turut ikut andil dalam memajukan bangsa dan negara. Sebagai contoh, ketika tentara sekutu menyerang Jepang dan melakukan pengeboman di kota Nagasaki dan Hirosima hingga pada akhirnya menewaskan jutaan orang, hal yang pertama kali ditanyakan oleh Kaisar adalah berapa banyak “guru” yang masih hidup. Mengapa tidak bertanya berapa jumlah doktor, insinyur, pegawai bank, tentara, polisi yang masih hidup, namun menanyakan jumlah guru yang masih hidup? Tak lain guru memegang kunci dalam membangun peradaban suatu bangsa. Adanya kaisar, insinyur, tentara, polisi karena adanya guru. Sehingga wajar jika Kaisar bertanya berapa jumlah guru yang masih ada, karena ditangan guru-lah peradaban akan dibangun kembali.

    Dalam sejarah dunia, kita mengenal Thomas Alfa Edison. Seorang tokoh yang menemukan bola lampu dunia yang telah menggunakan 999 cara sebelum ia berhasil menemukan bola lampu yang saat ini dapat kita nikmati manfaatnya. Thomas mempunyai kegigihan dan semangat yang menggelora untuk membuktikan kepada guru-nya bahwa ia anak yang hebat. Karena sebelum itu, guru-nya telah menyerahkan dirinya (drop out) kepada ibunya dengan alasan Thomas anak yang bodoh. Sejak saat itulah ibunya mendidik dan mengajarinya dengan penuh kasih sayang dan bi tarbiyatin hasanatin.

    Pada saat itu, Thomas berkata kepada ibunya, “Ibu, mengapa sekarang aku tidak sekolah, seperti teman-teman ku”? Ibunya berkata “Nak, gurumu sudah tidak bisa lagi mendidikmu karena kamu anak yang CERDAS, sehingga mulai sekarang ibu lah yang akan mendidikmu langsung karena ibu yang melahirkan kamu sehingga tuangkan kecerdasanmu itu dalam melakukan percobaan dan eksperimen ya”. Disaat yang seperti ini, ibunya terus meyakinkan dan selalu berkata bahwa Thomas merupakan anak yang cerdas. Hal ini sangat penting untuk dikatakan, karena ucapan (read: pujian) merupakan salah satu bentuk motivasi yang dapat membuat orang menjadi lebih semangat dan percaya diri dalam mewujudkan cita-cita dan keinginannya.

    Dengan intangible capital (modal tidak kasat mata yang berbentuk niat, tekad, gigih dan semangat) akhirnya Thomas berhasil membuat bola lampu dunia. Thomas Alfa Edison merupakan salah satu contoh diantara banyak tokoh lainnya yang berhasil dan sukses tanpa melalui jalur pendidikan formal. Namun ia selalu menggali, mengasah dan mengembangkan skill dan kompetensi nya sebagai manifestasi atas rasa syukur kepada Tuhan-nya. Tak hanya Thomas, ilmuan seperti Albert Einstein Benjamin Franklin, Isaac Newton, Charles Darwin pun orang hebat yang sukses tanpa melalui jalur pendidikan formal.

    Meski ada orang yang beranggapan bahwa tanpa guru, ternyata bisa sukses. Penulis merasa kurang setuju dengan argumen ini. Karena Penulis yakin, setiap orang mempunyai ilmu, terlepas dari kadarnya seberapa. Dan ilmu tidak hanya disampaikan dengan pembelajaran yang formal, namun dapat disampaikan dengan cara-cara lain seperti sharing, bercengkrama dan berdiskusi. Hal ini lah yang “mematahkan” argumen pertama bahwa orang bisa sukses tanpa guru. Karena faktanya, setiap orang adalah “guru”. Itulah mengapa Ali Bin Abi Thalib berkata bahwa beliau merupakan hamba dari seorang yang mengajari-nya walau satu huruf.

    Meskipun Thomas, Darwin, Isaac Newton dll sukses meski tidak melalui jalur pendidikan formal, bukan berarti mereka tidak membutuhkan seorang guru. Siapapun yang mereka jumpai dan membimbing serta mendidik mereka itulah gurunya, meskipun berstatus ibu-nya. Sehingga penulis rasa, di dunia ini tidak ada satu orang pun yang berhasil tanpa bimbingan dari seorang guru. Meskipun terkadang guru lah yang menghambat daya kreatifitas anak didiknya, sebagai contoh membatasi kreatifitas siswa dalam menulis makalah atau paper dengan memberikan batas maksimal halaman. Mungkin disisi lain guru ingin membaca pokok-pokoknya saja, dan mengajak siswa untuk berpikir to the point.

    Berpendidikan saja tidak cukup, namun juga harus diimbangi dengan terus self continous improvement. Mengasah dan menggali sofskill juga hardskill. Itulah sebabnya hakikat dari belajar ialah perubahan tingkah laku yang menyebabkan seseorang sadar akan sesuatu yang dilakukannya. Melakukan sesuatu dengan penuh kesadaran, keoptimisan serta penuh tanggungjawab dengan disertai niat dan kemauan untuk lebih baik dari sebelumnya. Oleh karenanya, orang yang mengasah intelektual dengan belajar seharusnya juga menumbuhkan sifat emosional dalam dirinya yang berarti paham dan mampu memahami realita sosial dan masyarakat yang kemudian dimanifestasikan dengan akhlaq yang baik dan benar, yakni dengan memanusiakan manusia secara manusiawi. Karena pada hakikatnya, haruslah sinergi antara IQ, EQ, dan SQ. Ketika seorang peka terhadap realita sosial, maka akan menambah rasa cinta pada Rabb yang telah menganugrahkan nafas hidup untuk nya (aspek spiritual). Akibat seperti inilah puncak tertinggi dari belajar, dimana seseorang mampu mengenal Tuhannya setelah ia mengenal dirinya sendiri dan orang lain. Sehingga ia mampu menemukan cahaya suci nan indah yang dapat menuntunnya ke jalan yang haqqul abadi. (min adzulumaati ilannuur) dari yang tidak tau apa-apa menjadi dikit demi sedikit tau, paham dan mengerti eksistensi dirinya sebagai 'ibad yang menghambakan diri kepada-Nya sekaligus sebagai khalifatullah fil ardi yang mempunyai peran dan tanggungjawab hidup untuk memaknai kehidupan serta merealisasikan visi misi hidupnya.

    Pendidik yang baik nan hebat tidak hanya transfer of knowledge namun juga transfer of value yakni dengan menanamkan nilai-nilai karakter, inspirasi dan motivasi kepada peserta didik agar mereka memiliki kepercayaan diri dan optimis dalam menatap masa depan.

    Terakhir, Penulis menukilkan pesan hikmah dari Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M.Ag., bahwasannya beliau berucap, "Guru dan orangtua merupakan orang yang membimbing murid dan anak-anaknya untuk menemukan rencana Tuhan bagi dirinya".

    Khairukum man ta'allamal Qur'an, ta'allamal 'ulum, wa 'allamahumaa.


    Penulis: Mukaromah
    Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta


    Alumni Awarde LPDP Siap Toreh Cita Seribu Anak Bangsa

    Informasi agenda Massive Action.
    Jakarta, PEWARTAnews.com -- Lembaga Dana Pengelola Pendidikan (LPDP) akan menyelenggarakan kegiatan akbar bertajuk Massive Action secara serentak di 26 provinsi seluruh Indonesia, yang akan diselenggarakan pada 19 April 2018 mendatang. Kegiatan bertema Toreh Cita Seribu Anak Bangsa ini dilaksanakan di 190 sekolah menengah atas, dengan ratusan alumni penerima beasiswa LPDP yang siap terjun menyapa para siswa.

    26 provinsi beruntung yang akan dikunjungi para alumni dalam Massive Action 2018 ini antara lain Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Sumatra Selatan, Riau, Jambi, Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Yogyakarta, Jakarta, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, Gorontalo, Maluku, Maluku Utara, dan Papua.

    Ketua Acara Massive Action Surya Asra, mengatakan bahwa dalam kegiatan Massive Action ini, para alumni yang baru saja menyelesaikan studi di dalam dan luar negeri itu bakal menginspirasi sehingga para siswa berani bermimpi setinggi-tingginya. "Alumni-alumni akan berbagi cerita tentang perjuangan mereka menggapai mimpi dan membantu siswa-siswi SMA dalam merencanakan impian mereka," ujar Surya Asra.

    Lebih lajut, Surya Asra membeberkan dalam kegiatan ini bukan hanya sekadar bercerita di depan kelas, para alumni LPDP mendorong adik-adik SMA agar membuat seribu peta mimpi-mimpi yang berisikan rencana jangka pendek, menengah, dan jangka panjang mereka. "Harapannya, kelak peta itu menjadi pengingat mereka untuk bertekad kuat mewujudkan mimpi, yakni meneruskan sampai pendidikan tinggi," kata Surya.

    Kegiatan Massive Action melibatkan Mata Garuda sebagai wadah alumni penerima beasiswa LPDP agar bersinergi mengabdi kepada Indonesia. Kerjasama yang solid antara Mata Garuda Pusat dan Mata Garuda Daerah menjadi wujud solidaritas dalam mensukseskan Massive Action 2018 ini.

    Selain Massive Action, ada pula kegiatan pengabdian masyarakat dari para alumni LPDP berupaTargeted Action. Targeted Action ialah proyek jangka panjang yang dirancang dan diselesaikan oleh alumni dalam kurun waktu satu tahun. “Targeted Action ini tujuannya untuk memecahkan permasalahan-permasalahan masyarakat dari berbagai pelosok di Indonesia," tutur Surya.

    Massive Action dan Targeted Action adalah salah satu rangkaian dari puncak agenda rutin tahunan bertajuk Welcoming Alumni 2018.  Pesta bertabur tokoh nasional ini akan menjadi penyambutan para alumni yang baru saja kembali ke tanah air dan daerah asalnya masing-masing, sekaligus momentum berakhirnya masa studi.

    Welcoming Alumni 2018 kali ini mengambil tema "Alumni untuk Negeri". Tema ini, kata Surya, selaras dengan Nawacita pemerintah dan Presiden Joko Widodo yang ingin memeratakan pembangunan di segala sektor.  Orang nomor satu di Indonesia itu berpesan bahwa LPDP harus menjadi instrumen pemerataan bagi anak-anak bangsa di seluruh pelosok Tanah Air dalam memperoleh pendidikan.

    “Pesan tersebut menggambarkan bahwa besar harapan Presiden Jokowo untuk alumni LPDP untuk belajar dengan sebaik-baiknya, sehingga memperoleh ilmu dan berhasil. Kemudian menjadi mesin penggerak di daerahnya masing-masing untuk menuju Indonesia Emas tahun 2045," kata Surya.

    Tentang LPDP:
    Lembaga Dana Pengelola Pendidikan (LPDP) ialah Badan Layanan Umum (BLU) yang diberikan mandat untuk mengelola dana abadi pendidikan dan menyeleksi serta memfasilitasi putra-putri terbaik bangsa. LPDP memberikan beasiswa prestisius yang diberikan pemerintah Indonesia untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat Magister (S2) dan Doktoral (S3). Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) LPDP adalah salah satu cara negara untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia Indonesia, sehingga diharapkan seluruh Alumni BPI LPDP dapat menjadi solusi dari berbagai permasalahan-permasalahan yang sedang dihadapi oleh bangsa ini.

    Sebanyak lebih dari 5.538 alumni dengan total awardee 18.466 orang telah menerima beasiswa dari LPDP, baik yang telah menyelesaikan studi baik di dalam maupun di luar negeri. Para alumni LPDP ini diharapkan dapat mengambil peran strategis dan terjun langsung dalam pembangunan di seluruh penjuru tanah air. (PEWARTAnews)

    Peluang Besar Pemuda Dalam Partai Politik

    Ketua DPC PKB Kota Yogyakarta Solihul Hadi, S.H. (baju hijau) saat menerima kenang-kenangan dari Ketua Panitia Ali Ruslan usai dialog berlangsung.
    SLEMAN - Dalam kemajuan jaman di era digital saat ini pemuda sebagai generasi milineal mempunyai peluang besar masuk dalam partai politik dan menang dalam pemilu 2019. Salah satu alasannya peran pemuda yang masih segar dinilai bisa memunculkan ide baru dan karya yang inovatif untuk kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Hal ini di sampaikan Solihul Hadi, S.H, Ketua DPC PKB Kota Yogyakarta selaku Narasumber dalam kegiatan diskusi Lingkar Studi Muballigh di aula Pondok Pesantren Takwinul Muballighin Sleman, Jumat (13/4) malam, bertemakan Mengukur Kemampuan Pemuda Muslim dalam Kontestasi Politik 2019, dalam usianya yang baru menginjak 29 tahun, Solihul menyebutkan potensi lain masuknya peran pemuda dalam partai ini dikarenakan mempunyai track record yang masih bersih dalam dunia perpolitikkan.

    Solihul juga mengemukakan bahwa Kunci kemenangan pemilu di tahun 2019 adalah, "Anak muda harus bisa melakukan konsolidasi, menjalin silaturahmi, aktif dalam kegiatan organisasi sosial keagamaan maupun kemasyarakatan dan memiliki daya kreatifitas positif untuk membawa perubahan dan warna baru dalam dunia politik, karena politik hari ini cenderung dipandang abstrak dan negatif oleh generasi muda jaman now, serta menjadi pemuda yang toleran agar tidak mudah terpancing pada sebuah opini yang berkembang sehingga pikiran dan tenaga kita tidak terforsir," beber Solihul.

    Mahasiswa Magister Kenotariatan UGM ini menambahkan, "Saat ini ada sekitar 85 persen dalam partainya diisi oleh anak muda yang masih fresh dan memiliki kemampuan yang bisa diandalkan untuk terjun ke dunia politik. Pihaknya mengaku salah satu upaya untuk mengajak generasi muda aktif dalam partai politik adalah dengan kegiatan semacam ini, diskusi publik, sosialisasi, dsb sebagai ajang untuk bertukar pikiran, ide, dan pendapat untuk membangun konstruksi berfikir yang sehat dan rasional," ucap Solihul.

    Sementara itu Narasumber dari PKS Muda Daerah Istimewa Yogyakarta Bisma Putra, S.Pd., juga berpendapat setengah dari total penduduk di Indonesia di dominasi pemilih dari anak-anak muda, "Mereka berfikir lebih kreatif dan linear dengan apa yang dibutuhkan jaman pada saat ini, otomatis mereka akan mempertimbangkan calon-calon yang masih berusia muda," jelas Bisma.

    Dalam kegiatan ini Bisma memaparkan, dari segi pengamalan bisa dikatakan anak muda yang berani masuk dalam parpol belum mengantongi bekal yang cukup namun kemampuan dalam kepemimpinan dapat dilihat dari kapasitas yang dimiliki masing-masing individu yang sudah aktif dalam kegiatan bermasyarakat di sekitar. Juga berkaca dari era yang serba digital, mereka bisa menelurkan ide baru, menggaungkan kreativitas dari problema bangsa saat ini, imbuh pria berusia 23 tahun tersebut.


    Penulis: VITA WAHYU HARYANTI

    PP Ulul Albab Balirejo Gelar Khitanan Massal Gratis

    Suasana saat kirab sebelum khitanan berlangsung.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Pondok Pesantren Ulul Albab Balirejo Yogyakarta mengadakan Khitanan Masal Gratis masih dalam rangka agenda Hari Lahir Pondok Pesantren yang ke-V yang diselenggarakan pada hari Minggu, 14 April 2018 di wilayah Pondok Pesantren Ulul Albab Balirejo Yogyakarta.

    Acara khitanan masal ini diikuti oleh 28 peserta setingkat usia sekolah dasar dari berbagai daerah di Yogyakarta, diantaranya berasal dari Balirejo, Gendeng Gondokusuman, SDM Karangbendo, SD Nogopuro, Kepuh Wetan Bantul, SDN Sukowaten, Pringgokusuman, SD Demakijo, Mutihan RT4, SDN Lempuyangwati, Banguntapan Bantul dan Ngabean Kebumen.

    Peserta khitan yang mengikuti acara ini mendapatkan bingkisan berupa seperangkat sarung, baju koko, peci dan sejumlah uang saku setelah melaksanakan daftar ulang untuk mengambil nomor urut khitan.

    Acara ini diawali dengan pembukaan dan sambutan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Ulul Albab Balirejo yakni K.H. Ahmad Yubaidi, S.H., S.Pd., M.H., menyampaikan bahwa acara khitanan masal gratis yang diadakan Pondok Pesantren Ulul Albab Balirejo ini bukan yang pertama kalinya namun sudah diadakan untuk kelima kalinya. "Alhamdulillah acara khitanan seperti ini merupakan acara yang kesekian kalinya yang diselenggarakan oleh Ulul Albab, mudahan kami terus dapan memberikan sesuatu buat masyarakat sekitar," bebernya.

    Selain itu, beliau yang juga Dosen Terbang di Fakultas Syari'ah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini juga sempat menanyakan testimoni kepada para wali peserta khitan tentang pendapat diadakannya khitanan masal gratis ini apakah sekiranya perlu diteruskan untuk tahun-tahun yang akan datang. "Alhamdulillah para wali khitan mendukung dan mengapresiasi serta sangat berharap Pondok Pesantren Ulul Albab Balirejo dapat terus melanjutkan dakwah ini, sehingga selain membantu dan memfasilitasi masyarakat dalam melaksanakan sunah untuk anak laki-lakinya, juga membantu meringankan beban masyarakat yang kurang mampu untuk melaksanakan khitan kepada anak laki-lakinya," ucap Yubaidi.

    Lebih lanjut, Ahmad Yubaidi juga memberikan semangat kepada para peserta sebelum berkhitan, beliau berpesan agar peserta memperbanyak membaca shalawat yang berguna untuk meminimalisir rasa cemas dan takut saat dikhitan, "Karena membaca shalawat ini juga dapat menjadi jurus yang dapat mengurangi rasa takut serta akan menambah keberanian kepada diri para peserta," katanya.

    Setelah mendapat sambutan dan wejangan dari Pengasuh Pondok Pesantren Ulul Albab, para peserta dan wali khitan diajak oleh Keluarga Ulul Albab yakni pengasuh dan seluruh santri untuk kirab keliling Kampung Balirejo yang diiringi dengan tim Hadrah Ulul Albab sebagai penyemaraknya. Para santri yang berpartisipasi juga telah membuat berbagai macam pernak pernik seperti balon, poster bertuliskan “Aku Anak Shaleh”, “Aku Cinta Nabi” untuk meramaikan kirab dan memberikan semangat kepada peserta.

    Keceriaan peserta setelah kirab dilanjutkan dengan pengarahan dari dokter pelaksana khitan yakni Dokter Suryono. Beliau menyampaikan terkait dengan proses pelaksanaan khitan dengan laser serta hal-hal yang boleh dilakukan dan berpantangan dilakukan oleh peserta setelah selesai khitan.

    Proses pelaksanaan khitan berlangsung dengan tertib dan teratur sesuai dengan nomer urut daftar ulang. Setelah selesai prosesi khitan peserta mendapat obat untuk dibawa pulang. Ada berbagai macam ekspresi yang tampak dari para peserta, sebagian besar memperlihatkan keceriaan yang menggambarkan perasaan lega dan bangga kepada dirinya sendiri. Kebahagiaan ini bisa dilihat dari ekspresi foto bersama keluarga pasca khitan yang diabadikan oleh santri yang bertugas mendokumentasikan acara.


    Kontributor: Azima dan Hanah
    Editor: PEWARTAnews

     

    Iklan

    Iklan
    Untuk Info Lanjut Klik Gambar
    Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website