Headlines News :

    Follow Kami di Twitter

    Cari Berita / Artikel disini

    Arsip Web

    Like Fun Page Kami

    CBN Kota Jogja Siap Terjun Masyarakat untuk Berantas Narkoba

    Suasana saat pelantikan CBN Kota Yogyakarta.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Karang Taruna Kota Jogja melakukan regenerasi dan pembaruan pengurus Cegah Berantas Narkoba (CBN). CBN merupakan unit pelaksana teknis dari Karang Taruna Kota Yogyakarta yang bergerak dalam bidang kepemudaan untuk menyerukan perlawanan terhadap bahaya NAPZA.

    Ketua Karang Taruna Kota Yogyakarta, Solihul Hadi, S.H., mengatakan, proses reorganisasi CBN kali ini melibatkan 14 orang yang berasal dari 14 kecamatan se-Kota Jogja.  Dalam proses pengkaderan, Karang Taruna Kota Jogja bekerja sama dengan Dewan Pengurus Daerah Gerakan Nasional Anti Narkotika Daerah Istimewa Yogyakarta (DPD GRANAT DIY).

    “Diklat-nya berlangsung selama tiga hari di Facility Sompok, Imogiri, Bantul. Pengkaderan menggunakan sistem Terapeutik Community (TC) bertujuan untuk membangun character building, kedisiplinan dan cara bersikap yang baik, sehingga ketika kembali ke masyarakat, teman-teman CBN mampu mengembalikan fungsi sosial yang bertanggungjawab,” tutur Solihul Hadi. 

    Lebih lanjut pria yang saat ini sedang menempuh pendidikan di Magister Kenotariatan UGM ini menambahkan, dalam ketugasannya, CBN mengemban tiga tugas utama, yaitu campaign (kampanye dan sosialisasi), investigation (investigasi dan pelaporan), dan counselling (konseling remaja).

    Menurutnya, pembaruan CBN ini didasari oleh keprihatinannya terhadap kondisi pemuda saat ini, dimana banyak pemuda yang mengalami degradasi moral dan lemahnya iman dikarenakan  penyalahgunaan NAPZA.

    “Dari hasil data yang ada pada kami, banyak pemuda di Yogyakarta yang bermasalah dengan narkoba, ada yang terjaring sebagai pengguna dan ada juga yang terciduk menjadi pengedar maupun kurir, sehingga regenerasi atau pembentukan pengurus CBN ini, bagi kami (Karang Taruna Jogja) menjadi suatu keharusan, dan tidak bisa ditawar lagi,” tutur Solihul.

    Susunan kepengurusan CBN dibentuk pada Selasa (17/4/2018) malam lalu di Pendapa Kantor Kecamatan Jetis, Kota Jogja. Dalam kepengurusan CBN kali ini, sebagai Ketua Aditya Muhammad Syamsudin (Mahasiswa Tekhnologi Mineral UPN), dan Sekretaris Yardema Mulyani (Mahasiswa Ketahanan Nasional S2 UGM). Ketua CBN Kota Yogyakarta membeberkan keinginannya untuk berkomitmen kuat dalam upaya pencegahan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba di Kota Gudeg Yogyakarta. “Target kerja ketua CBN yang baru, CBN harus tumbuh di semua kelurahan se-Kota Jogja dan berkomitmen bersama dalam mencegah penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba di Kota Jogja,” tegas pria yang biasa disapa Adit tersebut. (PEWARTAnews)

    Mata Garuda NTB sasar SMK Kesehatan Yahya Bima buat Toreh Cita 1000 Anak Bangsa

    Suasana acara Massive Action di Bima, NTB.
    Bima, PEWARTAnews.com -- Puluhan alumni penerima beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) di Propinsi Nusa Tenggara Barat yang tergabung dalam organisasi Mata Garuda menggelar kegiatan akbar Massive Action. Kegiatan tersebut bertemakan “Toreh Cita 1000 Anak Bangsa” yang merupakan rangkaian dari acara welcoming alumni 2018 serta menjadi satu dari banyak bentuk kontribusi para alumni dan penerima beasiswa LPDP dalam memberikan inspirasi serta motivasi kepada siswa SMA/Sederajat di 26 provinsi se-Indonesia dengan tujuan untuk menanamkan keberanian bermimpi pada generasi penerus bangsa serta merencanakan strategi untuk menggapai mimpi tersebut.

    Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat menjadi salah satu tempat diselenggarakannya kegiatan massive action tepatnya di SMK Kesehatan Yahya Bima (23/4/2018), penunjukan SMK Kesehatan Yahya Bima merupakan hasil musyawarah para alumni penerima beasiswa LPDP Bima. Dalam kegiatan tersebut terlihat para siswa SMK Kesehatan Yahya Bima sangat antusias, terbukti dari ramainya yang menghadiri kegiatan tersebut, tidak hanya para siswa, guru-guru serta staf kepegawaiannya pun ikut menghadiri acara tersebut hingga selesai.

    PIC Mata Garuda NTB Musahrain, M.Pd dalam sambutannya menyampaikan laporan kegiatan massive action yang diselenggarakan serentak pada (19/4/2018) sebelumnya sangat menarik minat siswa/siswi, "Hal ini terbukti dari melonjaknya kehadiran siswa/siswi yang menghadiri kegiatan tersebut tidak terkecuali yang dilaksanakan di Nusa Tenggara Barat," ucap Musahrain.

    Lebih lanjut Musahrain menjelaskan terkait tujuan dari diadakannya organisasi Mata Garuda, "Tujuan organisasi Mata Garuda ini ialah sebagai wadah bagi para awardee dan alumni untuk bekerja sama sehingga tetap berkontribusi bagi bangsa dan negara," bebernya.

    Kegiatan ini disambut bahagia oleh Ketua Yayasan Al-Yahya Burhan, S.E., lantaran terpilihanya SMK Kesehatan Yahya Bima sebagai tempat terselenggaranya kegiatan tersebut selain itu beliau menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh awardee LPDP Bima yang telah mau memberikan motifasi dan semangat kepada siswa SMK Kesehatan Yahya. “Alhamdulillah kita dipercaya, rupanya di Kabupaten Bima ini kita dipercaya yang kedua setelah SMA di Wera yang sebelumnya telah menyelanggarakan acara ini, saya cukup bangga, alhamdulillah dipilih (SMK Kesehatan Yahya, red) sebagai lokasi kegiatan massive action,” kata Burhan.

    Lebih lanjut kepala Yayasan berpesan kepada para siswa agar dapat mengikuti kegiatan tersebut dengan saksama agar dapat mengambil manfaat untuk meraih prestasi yang lebih tinggi lagi.

    Kegiatan massive action selanjutnya di isi dengan pemaparan singkat perjalanan hidup para awardee Bima hingga mampu meraih beasiswa LPDP, tentu hal tersebut menjadi suntikan motifasi bagi para siswa untuk dapat mengambil sikap sehingga mampu berbicara banyak demi majunya bangsa dan negara lebih khusus daerah Bima. Dalam pemaparan perjalan hidup para awardee diwakili oleh tiga awardee yakni Arif Bulan, M.Pd lulusan Magister Ilmu Linguistik Terapan Universitas Negeri Yogyakarta, M. Averil Prima Putra R., S.Farm.Apt kandidiat master ilmu forensik Uppsala University dan Amar Ma’ruf, M.Pd lulusan magister pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta. Diakhir kegiatan seluruh siswa ditugaskan untuk mengisi lembar peta mimpi mereka yang kemudian menjadi pegangan bagi para siswa untuk terus menjaga mimpi tersebut. (PEWARTAnews)

    Warga Jogja Gelar Deklarasi dan Peresmian Posko Relawan C1NTA

    Suasana saat peresmian Posko Relawan C1NTA di Jogjakarta.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Siang tadi, tepatnya tanggal 23 April 2018, Relawan Cak Imin Untuk Indonesia (C1NTA) mendeklarasikan diri sekaligus meresmikan ihwal pendirian Posko C1NTA di Yogyakarta.

    Koordinator Posko Relawan C1NTA Jogja Abdul Khalid Boyan dalam rilisnya yang diterima PEWARTAnews.com pada 23/04/2018 mengatakan bahwa Posko C1NTA didirikan dalam rangka mendukung A. Muhaimin Iskandar (Cak Imin) menjadi cawapres pada Pemilu Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) 2019. "Deklarasi dan peresmian Posko C1NTA di Yogyakarta bukan lahir dari ruang kosong, tetapi ini merupakan manifestasi dari label Yogyakarta sebagai kota seribu cinta. Di kota ini, toleransi, keadaban, dan kemanusiaan atas dasar cinta, terpatri secara kuat. Sehingga Posko C1NTA betul-betul menemukan pelabuhannya," ucap Khalid.

    Posko C1NTA, kata Khalid, merupakan ide bottom up (dari bawah ke atas), sebagai wujud inisiatif warga (terutama pemuda) Yogyakarta yang ingin membuka posko secara mandiri. Posko C1NTA dibuat sebagai pusat informasi tentang Cak Imin, mulai profil, sepak terjang, prestasi, dan dedikasi Cak Imin. Sehingga publik Yogyakarta makin mengenal sosok Cak Imin secara utuh. "Mengenalnya sebagai sosok yang selalu menebar rasa cinta terhadap masyarakat, Bangsa dan Negara. Gerakan-gerakan cinta Cak Imin, sudah tak dapat diragukan. Ia kerapkali menjadi garda depan dalam ikut serta membangun harmoni, kerukunan antar agama, dan membumikan Islam yang  rahmatan lil alamin," katanya.

    Lebih lanjut, Khalid mengatakan Posko C1NTA ini berfungsi sebagai tempat berkumpul warga, bersilaturrahim, berdiskusi, berdialog, untuk saling mengingatkan, menguatkan, dan share pengetahuan. "Dengan begitu, masyarakat Yogyakarta semakin mudah mendapatkan dan kemudian menyebarkan informasi seputar Cak Imin terkait cawapres secara luas dan secara benar. Latar belakang warga yang berminat untuk membuat posko ini adalah para pemuda. Mulai dari pelajar, mahasiswa, sosialita, hingga hijabers. Mereka berkumpul secara tulus dengan menghilangkan sekat agama, suku dan ras. Sebab bagi mereka rasa cinta lebih penting dari sentimen apa saja," beber Khalid.

    Sebagai tindak lanjut, ucap Khalid, Posko ini akan mengupayakan untuk menyebarkan pesan-pesan cinta dari Cak Imin sebagai salah satu tokoh yang layak menjadi Cawapres. Selain karena rekam jejak dan prestasi, Cak imin adalah kandidat Cawapres yang masif relatif muda. Pernah menjadi pimpinan DPR termuda, menteri di usia yang relatif muda, dan inspirator gerakan sosial-kegamaan kaum muda. Sehingga salah satu segmen yang akan diajak untuk berbartisipasi dalam posko ini tentu saja  adalah kelompok-kelompok melenial yang merepresentasikan kaum muda.

    "Kelompok milenial inilah yang kerapkali gandrung akan pesan-pesan cinta, dan rentan punya masalah dengan cinta. Kaum melenial, rata-rata memiliki keterikatan yang lemah dengan parpol, mudah kagum ataupun benci pada tokoh tertentu, dan sangat aktif di media sosial. Padahal pada Pemilu 2019  jumlah pemilih melenial hampir mencapai 40 persen dari total pemilih di tahun 2019. Dengan Posko C1NTA, kegelisan-kegelisan kaum melenial perihal politik dan sebagainya akan segera menemukan jawabannya," terang lelaki alumni UIN Sunan Kalijaga ini.

    Lebih jauh, Khalid yang juga Ketua GEMASABA DIY ini mengatakan bahwa, kedepan Posko-posko C1NTA akan terus digerakkan secara massif, tidak hanya di kabupaten atau kota saja, tapi di seluruh pelosok desa, khususnya di Yogyakarta. Termasuk lahirnya Posko-posko C1NTA yang berlatar belakang profesi, dari profesi nelayan, petani, guru, dan profesi-profesi yang lain.

    "Posko C1NTA ke depan akan terus menjadi sarana aspirasi masyarakat Yogyakarta. Terutama keluh-kesah dan kebutuhan yang dihadapi masyarakat Yogyakarta hari ini. Sehingga Posko C1NTA akan menjadi sumber kehangatan antara masyarakat karena di sini mereka akan saling bertatap muka dan ngobrol santai tentang semua hal. Di Posko ini para relawan-relawan dan seluruh masyarakat akan terus menyuarakan dan mendoakan Cak Imin agar dilantik menjadi Wapres pada tahun 2019. Aamiin," ucapnya. (PEWARTAnews)

    Pemuda KUB TIRTA Gempita Gemparkan Pertanian Bantul

    Pusat pembuatan pupuk organik di Bantul.
    Bantul, PEWARTAnews.com -- Program Regenerasi petani yang diluncurkan Menteri Pertanian (Mentan) Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, MP melalui Gerakan Nasional Gerakan Pemuda Tani Indonesia (Gernas Gempita) berbuah manis. Kali ini sekelompok pemuda yang tergabung dalam Kelompok Usaha Berusaha (KUB) berhasil ciptakan inovasi pupuk organik tidak tanggung-tanggung pemakaian inovasi kelompok pemuda ini dongkrak 60% produksi petani.

    Jajaran Koordinator Gerakan Nasional Gempita secara khusus meninjau pusat Pengolahan dan Produksi KUB Tirta Gempita di Desa Giritirto, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada hari Minggu, 22 April 2018.

    Seiring makin maraknya para petani menggunakan pupuk kimia pengusir hama mengundang keprihatinan. Berangkat dari rasa prihatin tersebut Kelompok Usaha Bersama pertanian disingkat KUB mencoba ber inovasi dengan menciptakan pupuk cair organik berkualitas tinggi yang mampu meningkatkan hasil produksi para petani," ujar Sugiarto Korwil Gempita DIY.

    Salah satu kepedulian tersebut muncul dari Kelompok Usaha Bersama Tirta Gempita DIY yang bernaung di bawah Gerakan Pemuda Tani (GEMPITA) luncuran Mentan Amran berbuah bukti. KUB ini berhasil menciptakan Pupuk Cair Organik yang sangat ampuh mengusir hama dan memaksimalkan hasil produksi panen para petani.

    Menurut Ketua KUB Tirta Gempita DIY Sunardi, KUB sendiri berjuang untuk Meningkatkan peran pemuda/petani muda dalam mendukung program prioritas Kementerian Pertanian dan Menumbuhkan kelembagaan ekonomi yang dikelola pemuda/petani muda dalam rangka membangun daya saing dan posisi tawar dengan pelaku usaha lain.

    "Terkait hal tersebut KUB kami fokus untuk pengembangan Pupuk Organik sebagai karya yang kami akan persembahkan buat pelaku Pertanian/pemuda tani seluruh Indonesia agar hasil panen yang diharapkan para petani lebih memuaskan," tutur Sunardi

    Lanjut Sunardi, salah satu bukti yang menakjubkan dari pupuk cair organik ini adalah kemampuan menumbuhkan tembakau secara subur diatas media Batu, selain itu penggunaan pupuk organik juga bisa meningkatkan hasil panen yang cukup membanggakan, “Untuk Gunungkidul saja hasil panen petani meningkat hingga 60 persen setelah beralih menggunakan pupuk organik produksi KUB Tirta Gempita tersebut,” sebut Sunardi.

    "Pupuk cair ini juga mampu menghemat biaya produksi, karena selain sebagai pupuk, pupuk cair bisa digunakan sebagai bahan aktif untuk mempercepat pembuatan kompos atau pupuk kandang yang bekerja dalam proses pembusukan dan pematangan,” tambahnya.

    Kornas Gempita Andi Anugerah Wijaya yang mengunjungi pusat Kegiatan produksi KUB Tirta Gempita menyebut inovasi ini bukti kehadiran pemuda akan berdampak positif bagi menjawab persoalan yang ada di petani.

    Anugerah menegaskan, KUB sebagai kelembagaan tani bagi pemuda untuk memberikan layanan cepat dan  cikal bakal terbentuknya Korporasi petani disetiap kecamatan.

    "KUB akan jadi wadah belajar dan bekerja pemuda, dimana pertanian kita dapat dioptimalkan berkat pemuda dari hulu hingga hilirnya. Ini amanah Presiden Jokowi, pemuda harus kembali rebut kesempatan bekerja di sektor pertanian yang sangat menjanjikan," pungkas Anugerah. (PEWARTAnews)

    Sebuah Kajian Menyoal Multitafsir Puisi Sukmawati

    “Jika teriakanmu tidak didengar orang lain, maka teriaklah lewat TULISAN” (Tan Malaka)

    PEWARTAnews.com – Kali ini saya ingin mengulas hasil diskusi Komunitas Dialektika LARIS dengan Tema “Multitafsir Puisi Sukmawati” yang diselenggarkan pada hari Kamis, 5 April 2018, Lt.2 FITK UIN Sunan Kalijaga, dengan berdasar pada opini teman-teman diskusi. Diskusi ini dihadiri oleh saya sendiri (Penulis), Bintan, Karina, Totu, Zaenal, Zainal Arifin/Ipin, Nindi, Dewi, Shiffu, Bayu, Ilyas dan Romdhoni. Opini dapat dikatakan sebagai pendapat yang didasari dengan argumen yang logis, rasional dan empirik. Tak ayal, banyak orang yang menyebut opini dengan hasil pemikiran otaknya. Dengan demikian, opini sifatnya subjektif yang tidak bisa digeneralisasikan/disamakan dengan pemikiran orang lain. Bisa jadi antara satu orang dengan yang lain pun berbeda-beda dalam melihat suatu hal.

    Dekat-dekat ini Indonesia dihebohkan dengan hotnews yang mampu mengalihkan isu nasional yakni terkait dengan kontroversi puisi Ibu Sukmawati yang mengandung pro dan kontra di masyarakat. Sejumlah organisasi keagamaan-kemasyarakatan dan partai politik pun mengeluarkan surat dan himbauan kepada masyarakat untuk tetap tenang dan tetap menjaga persatuan dan kesatuan agar tidak semakin membuat suasana menjadi panas. Berkenaan dengan hal itu, (sebagian) mahasiswa di kampus menjadikan isu aktual itu sebagai bahan diskusi menarik untuk diperbincangkan, tak terkecuali oleh Komunitas Dialektika LARIS dibawah naungan PAI yang mayoritas anggotanya adalah angkatan 2015 (Sekarang semester 6).

    Dari hasil diskusi tersebut dapat disimpulkan bahwa Masyarakat Indonesia itu terlalu “sepaneng” dalam beragama. Menurut kami, tidak ada yang salah dari teks puisi yang dibacakan oleh Bu Sukma. Karena puisi merupakan karya sastra yang bebas, penuh dengan majaz dan merupakan manifestasi dari luapan emosi si Penulis. Sehingga yang mengetahui “hakikat substansi” dari sebuah penciptaan karya/tulisan ialah yang menulisnya, dan yang meng-interpretasi adalah si pembaca. Dengan demikian, tidak ada yang salah. Karena puisi tidak bisa diadili, yang ada hanyalah estetika. Puisi mengandung kata-kata bermajaz. Dulu ketika pelajaran Bahasa Indonesia dikenal ada majaz hiperbola, personifikasi, metofora dll. Persoalannya adalah tidak banyak masyarakat Indonesia yang mengetahui itu lebih dalam, karena hanya melihat pada yang terlihat/tekstual.

    Sebagai contoh, manusia mudah menyimpulkan dan menilai sesuatu berdasar pada apa yang dilihat, atau apa yang didengar dan apa yang dibaca. Apa yang terlihat, itulah kesimpulannya. Faktanya begitu, kan. Meski kita tahu, bahwa melihat sesuatu yang hanya terlihat “luar nya” saja tidak baik. Namun lihatlah dari berbagai perspektif, dari berbagai sudut pandang. Sehingga pemahaman real dan komprehensif meski tidak 100% obyektif, karena sifat manusia adalah nisbi. Hal ini jika dihubungkan dengan sebuah tulisan (karya sastra) jangan hanya terfokus pada tekstual-nya saja, namun lihatlah substansinya dan bawa teks itu pada konteksnya. Untuk memahami itu, perlu pendekatan historis, sosiologis, fenomenologis dan estetika.

    Dengan pendekatan historis, Bu Sukma membacakan puisi tersebut saat dalam acara “Anne Avantie Berkarya” di Indonesia Fashion Week 2018. Jelas, terkait dengan budaya baik pakaian maupun hal-hal yang berkenaan dengan identitas negara. Wajar kalau beliau menaruh perhatian yang lebih terhadap budaya Indonesia, yakni konde dan kidung ibu Pertiwi. Persoalannya kini ada di bait “Tak tau syariat Islam, suara adzan dan cadar” (mengkomparasikan antara konde dengan cadar, antara kidung ibu pertiwi dengan suara adzan serta membawa-bawa nama Islam).

    Hal tersebut jika dikorelasikan dengan fenomenologi memang nyata adanya. Cadar kini dianggap sebagai syariat Islam, padahal jelas Al-Qur’an hanya meyuruh untuk menutup aurat. Sedangkan konde merupakan budaya asli Indonesia, dengan begitu substansi puisi tersebut ialah mengajak masyarakat Indonesia untuk “mencintai budaya-nya, bukan malah Arabisasi. Lalu terkait dengan membawa-bawa nama Islam, ini bermakna “agama Islam yang dianut oleh kaum muslim” atau islam yang speerti apa maksud ibu Sukma? Karena menurut kami, Islam itu Universal. Islam bermakna tunduk, taat, patuh terhadap perintah Tuhan Yang Maha Esa. Meminjam kata Nurcholish Madjid, Agama apapun di dunia ini yang “mengajarkan” tunduk, taat dan patuh kepada Tuhan Yang Maha Esa dapat disebut sebagai Islam. Sehingga makna Islam dalam puisi tersebut dapat dimaknai sebagai agama-agama di Indonesia yang mengajarkan ketaatan dan ketundukan epada Tuhan YME, tanpa dibatasi hanya agama Islam semata. Arti Islam dalam puisi Ibu Sukma dapat juga dimaknai Indonesia ini merupakan negara yang terdiri dari berbagai macam agama, namun yang terlihat hanyalah agama Islam semata. Oleh karenanya, tetaplah jaga persatuan dan kesatuan antar agama sebagai upaya untuk membangun stabilitas nasional dan pembangunan bangsa. Jadikanlah Islam yang rahmatan lil ‘alamin, yang melindungi kaum “minoritas” dan memberikan peluang dan kesempatan yang sama untuk berkancah dalam ranah publik dengan dasar Hak Asasi Manusia (HAM) dan egality.

    Solusi yang ditawarkan dalam diskusi ini ialah bagaimana memberikan edukasi sastra kepada peserta didik. Selama ini materi pelajaran bahasa Indonesia hanya seputar ide pokok, kesimpulan, kata baku, membuat kalimat yang memahamkan orang namun sangat kurang dalam menginterpretasi karya sastra yang berbentuk satir. Implikasinya adalah mudah menyimpulkan sesuatu yang literlek/tekstual.

    Ayolah beragama jangan sepaneng, jangan “fanatik yang berlebihan” (ingat dalam tanda kutip) dan marilah melihat sesuatu lebih dalam. Jangan gumunan dan mudah menjudge sesuatu kalau belum menganlisis lebih dalam.

    Akhir kata dari Penulis, mohon maaf jika tulisan sederhanana ini (ulasan dari diskusi yang bersumber dari hasil pemikiran teman-teman diskusi LARIS) tidak berkenan dihati pembaca. Perlu diketahui, bahwa kami adalah orang-orang yang “santai” alias nggak sepaneng dalam beragama dan memahami agama secara universal meski mayoritas jebolan dari pesantren. Kalau tidak setuju, silahkan debat dengan tulisan jangan jotos-jotosan, yang penting sedulur kabeh yo.


    Penulis: Mukaromah
    Mahasiswi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta


    Peran Mahasiswa sebagai Masyarakat dalam Menangkal Isu Hoax di Tahun Politik

    M. Jamil, S.H.
    PEWARTAnews.com – Akhir-akhir ini suasana bangsa Indonesia kian hari kian memanas, salah satu penyebabnya adalah kini Indonesia memasuki tahun politik. Tahun 2018 Pilkada Serentak. Tahun 2019 pemilihan anggota DPR, DPD, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota serta pencalonan presiden dan wakil presiden.

    Dalam lampiran Peraturan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Nomor 1 Tahun 2017 disebutkan, kegiatan sosialisasi kepada masyarakat sudah dimulai sejak pada 14 Juni 2017 dan pemungutan dan penghitungan suara Pilkada Serentak 2018 akan dilaksanakan pada 27 Juni 2018.

    Sedangkan tahapan jadwal penyelenggaraan Pemilu 2019 yang dirilis KPU untuk pemilihan anggota DPR, DPD, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota serta pencalonan presiden dan wakil presiden yakni, 1 Agustus 2017-28 Februari 2019 penyusunan peraturan KPU. 26 Maret 2018-21 September 2018 pencalonan. 23 September 2018-13 April 2019 masa kampanye. 14 April 2019-16 April 2019 masa tenang. 8 April 2019-17 April 2019 pemungutan dan penghitungan suara. Juli-September 2019 peresmian keanggotaan. Agustus-Oktober 2019 pengucapan sumpah/janji.

    Dalam suasana tahun politik ini, tidak jarang ditemukan isu-isu yang seksi yang ditampakkan di khalayak publik. Dari adu dan penawaran program yang pro rakyat, saling serang dan cari kesalahan lawan politik, bahkan tidak jarang ada juga yang menyebarkan hoax untuk kepentingan politiknya.

    Peran Mahasiswa sebagai Masyarakat dalam Menangkal Isu Hoax di Tahun Politik
    Masyarakat merupakan sekelompok orang yang membentuk sebuah sistem semi tertutup (atau semi terbuka), di mana sebagian besar interaksi adalah antara individu-individu yang berada dalam kelompok tersebut. Kata "masyarakat" sendiri berakar dari kata dalam bahasa Arab, musyarak. Lebih abstraknya, sebuah masyarakat adalah suatu jaringan hubungan-hubungan antar entitas-entitas. Masyarakat adalah sebuah komunitas yang interdependen (saling tergantung satu sama lain). Umumnya, istilah masyarakat digunakan untuk mengacu sekelompok orang yang hidup bersama dalam satu komunitas yang teratur (https://id.wikipedia.org, 19/04/2017).

    Sarwono (1978) memberi gambaran bahwa mahasiswa merupakan setiap orang yang secara resmi telah terdaftar untuk mengikuti pelajaran di perguruan tinggi. Mahasiswa adalah suatu kelompok dalam masyarakat yang memperoleh status karena memiliki ikatan dengan perguruan tinggi. Mahasiswa juga merupakan seorang calon intelektual ataupun cendekiawan muda dalam suatu lapisan masyarakat yang sering kali syarat dengan berbagai predikat dalam masyarakat itu sendiri. (https://masukuniversitas.com, 19/04/2018.

    Kita sebagai masyarakat, lebih-lebih sebagai pemuda terpelajar (Mahasiswa) harus mengambil bagian untuk melakukan sesuatu perubahan positif dalam masyarakat, salahsatunya dalam menangkal hoax yang tersebar luar di masyarakat. Biar bagaimana pun, peran mahasiswa dalam menangkal hoax di tahun politik ini sangat diharapkan, karena karakter mahasiswa yang sejatinya masih murni dari kendali atau pengaruh siapapun (independent). Mahasiswa harus berperan aktif membantu mengawas dan mengontrol berjalannya Pemilu agar terbebas dari hal-hal yang tidak kita inginkan, seperti penyebaran ujaran kebencian, hoax, dan hal-hal lainnya yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia.

    Dengan kemurnian pikiran yang disandang oleh mahasiswa, diharapkan ketika hadir di tengah-tengah masyarakat menjadi benar-benar sebagai agen perubahan (agent of change), jangan malah menjadi bagian dalam penyebaran hoax dan ujaran kebencian tersebut.

    Peran Masyarakat Umum di Tahun Politik
    Hidup dan kehidupan dalam bermasyarakat syarat akan nilai kebersamaan, itulah sejatinya hidup dalam bermasyarakat yang telah menjadi tradisi dari masa ke masa sejak ribuan tahun silam, yang mana kebersamaan tersebut dibuktikan dengan adanya nilai-nilai yang tertanam dalam pribadi-pribadi masyarakat, diantaranya seperti gotong royong, musyawarah mufakat, dan lain sebagainya. Sikap kebersamaan (kolektifitas) tersebut juga harus terpartri dalam mensukseskan tahun politik, karena tahun ini (2018) dan tahun depan (2019) kita sudah dihadapkan dengan Pemilu yang akan menyita lebih dalam daya kepekaan kita dalam memilih pemimpin atau wakil rakyat, karena hasilnya tersebut akan menentukan perubahan bangsa ini untuk 5 tahun selanjutnya. Maka oleh karena itu, semua lapisan masyarakat harus berperan aktif untuk mensukseskannya, yang bisa dilakukan masyarakat adalah ketika para calon kepala daerah/caleg/capres turun di masyarakat mengubarkan janji-janji manisnya, maka masyarakat harus jeli dan cerdas dalam menyikapinya, jangan sampai orang yang di pilih tidak mewakili aspirasi-aspirasi masyarakat hingga sebaliknya yang terjadi kelak bila telah terpilih malah menyimpangi dari tanggungjawab yang harus diembannya. Bila mana dalam lapangan ada yang melakukan penyuapan di masyarakat, yakin dan percayalah, orang-orang semacam itu tidak akan sepenuhnya mau melaksanakan apa yang menjadi kewajibannya bila kelak telah terpilih. Karena ketika telah terpilih yang paling pertama  dia pikirkan adalah, bagaimana caranya untuk mengembalikan uang-uang yang telah mereka keluarkan, dan dengan kewenangannya yang besar, mereka bisa dengan leluasa memanfaatkannya untuk menggunakan dana yang seharusnya untuk kepentingan masyarakat digunakan sepenuhnya untuk pribadinya, agar uang yang dia keluarkan semasa kampanye cepat kembali dan bahkan mengambil sebanyak-banyaknya untuk memperkaya dirinya dan keluarganya.

    Peran Mahasiswa dalam Menyambut Tahun Politik
    Mahasiswa merupakan agen pengontrol sosial (agents of social control) dan agen perubahan (agent of change), yang mana ditangan mahasiswa bisa membuat atau menciptakan suatu perubahan dalam suatu lingkup masyarakat, bangsa, Negara, bahkan dunia. Karena dengan sifat dan karakter mahasiswa yang sejatinya masih murni dari kendali atau pengaruh siapapun (independent), dengan kemurnian hati dan pikiran seorang mahasiswa bisa merangkul dari aspirasi semua kalangan, lebih-lebih untuk kepentingan masyarakat menengah kebawan. Seperti selogan yang pernah digembar-gemborkan oleh sang pendiri bangsa (funding father) kita yaitu Soekarno, tentang besarnya pengaruh pemuda/mahasiswa bila mereka bersatu, beliau pernah mengatakan dengan lantang “berikan saya sepuluh pemuda, maka saya akan bisa mengguncangkan dunia”, itulah sejatinya prestasi yang akan diraih oleh pemuda/mahasiswa bila mana mereka menyatukan ide, pikiran, gagasan, dan bersama-sama melangkah melakukan perubahan untuk masyarakat, bangsa dan Negara tercinta ini, maka suatu perubahan yang nyata akan terlihat atau terpampang dengan jelas dari buah tangan atau karya pemuda/mahasiswa.

    Sejatinya kita semua harus menyatu dengan indah seperti halnya lidi-lidi yang berserakan dikumpulkan jadi satu, membentuk satu kekuatan yang utuh, yaitu kekuatan untuk membangun suatu masyarakat, bangsa dan Negara. Karena  seberapa besarpun suatu persoalan kalau dikerjakan secara bersama maka akan terasa mudah, begitu juga sebaliknya, sesederhana apa pun suatu pekerjaan kalau dikerjakan sendirian akan terasa sulit adanya, seperti halnya sapu lidi, sapu lidi merupakan gabungan dari puluhan atau ratusan lidi, bila satu lidi ingin menyapu batu yang besarnya sebesar genggam tangan maka lidi tersebut tidak akan bisa menyapu batu itu, begitu juga sebaliknya, bila mana lidi-lidi tersebut digabungkan jadi satu dalam satu ikatan akan menjadi sapu lidi dan juga akan bisa menyapu batu yang besarnya sebesar genggaman tangan tersebut. Oleh karena itu, makna atau hasil yang didapat dari suatu kebersamaan itu akan bernilai tinggi adanya. Itulah sikap-sikap kolektifitas yang harus tertanam dalam hidup dan kehidupan dalam suatu masyarakat, bangsa dan Negara, yang mana bila kita ingin menggapai tujuan yang mulia sejatinya kita harus melaksakan tujuan tersebut secara bersama-sama biar suatu persoalan sesulit apapun bisa dilakukan atau disa dipecahkan secara bersama-sama. Begitu juga apabila kita semua ingin mensukseskan dan turut andil dalam menjaga keharmonisan tahun politik, kita harus bahu membahu membentuk satu kekuatan yang utuh untuk mensukseskannya.

    Wallahu a’lam bish-shawabi.


    Penulis: M. Jamil, S.H.
    - Mahasiswa Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada -- IG/FB/Twitter: @MJamilSH
    - Tulisan ini disampaikan sebagai pengantar dalam acara Pelantikan dan Dialog Publik Ikatan Pelajar Mahasiswa Lambu (IPMLY) Bima-Yogyakarta pada 20 April 2018.

    Guru pun Harus Menulis

    Ilustrasi Guru. Foto: merdeka.com.
    PEWARTAnews.com – Aktivitas tulis-menulis sudah barang tentu melekat pada diri setiap guru. Hal ini bukan lagi sesuatu yang langka atau pun asing baginya. Mengingat, guru harus mengajar dan menyampaikan materi kepada siswanya. Tentu menyampaikannya lewat tulisan. Mungkin dituliskan di papan tulis, atau ditampilkan tulisannya lewat LCD Proyektor atau pun sejenisnya. Sehingga siswanya pun bisa membaca dan menuliskannya di bukunya masing-masing.

    Saya yakin, setiap kali mengajar, besar kemungkinan guru pasti menulis. Di samping itu juga, mengenai persoalan administrasi, seperti perangkat pembelajaran, tentu seorang guru harus menyiapkannya sebelum mengajar. Contoh, menyusun program tahunan, program semester,  kriteria ketuntasan minimal (KKM), rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), dan lainnya. Belum lagi administrasi lainnya juga untuk persiapan akan datangnya tim supervisi. Hemat saya, semuanya tentu berhubungan dengan tulis-menulis.

    Namun, bukan lagi menjadi sebuah rahasia, bahwa kebiasaan tulis-menulis yang dimaksud hanya sebatas rutinitas kewajiban dari sekolah saja. Jarang kita lihat guru yang mau betul-betul membiasakan diri untuk menulis, selain dari yang disebutkan di atas. Padahal, kalau saja guru mau membiasakan diri untuk menulis dari apa yang dialami, yang diketahui selama hidup dan selama ia mengajar, sungguh guru yang luar biasa.

    Kalau saja kita mau menelusuri satu per satu dari sekolah ke sekolah, guru penulis bisa dihitung jari. Bahkan, banyak sekolah yang tidak kita temukan guru penulis seperti yang dimaksud. Yang jelas, di setiap sekolah lebih banyak guru yang biasa daripada guru yang luar biasa (baca: guru penulis).

    Menjadi seorang guru itu, mestinya harus membiasakan diri untuk menulis (di luar rutinitas di sekolah). Apalagi guru merupakan pencetak generasai bangsa. Guru penulis itu, besar kemungkinan akan bisa menginspirasi siswanya untuk menulis juga. Sehingga lahirlah generasi-generasi yang cinta akan menulis. Dengan demikian, kelak ketika mereka (baca: siswa-siswa) bekerja, mereka tidak lupa juga untuk meluangkan waktunya untuk menulis. Bila ada di antara mereka yang menjadi tentara negara Indonesia (TNI), maka ia akan menjadi TNI penulis. Jika mereka bekerja sebagai politisi, maka ia akan menjadi politisi penulis. Begitu pula dengan profesi-profesi lainnya.

    Wallahu a’lam.


    Penulis: Gunawan
    Pemuda asal Dompu NTB

    Bangkitlah Mahasiswa (Telaah Mahasiswa Aktivis dan Akademis Berdasar Pengamatan Empirik)

    PEWARTAnews.com – Hidup adalah anugrah Allah Yang Maha Kuasa. Namun dalam hidup ada banyak pilihan, begitupula dengan mahasiswa. Mahasiswa mempunyai peran penting dalam membangun bangsa. Sebagaimana maqalah arab mengatakan syubbaanul yaum rijalul ghad. Pemuda (syabab) yang dapat juga diartikan sebagai mahasiswa merupakan pemimpin masa depan. Realitanya tak hanya untuk masa depan, namun juga pemimpin saat ini. Sehingga mahasiswa harus mempersiapkan diri untuk masa depannya serta mempersiapkan untuk menjadi agent of change (agen perubahan), agent of social control (agen kontrol sosial) dan agent of problem solver (agen pemecah masalah) dalam menghadapai problema kehidupan. Mahasiswa disebut sebagai Maha Atas Ke-Siswaan-nya, yang berarti memiliki tanggungjawab yang lebih besar dibanding dengan dahulu ketika mengenyam pendidikan dasar, pertama dan menengah. Oleh karena itu, sudah sepatutnya bagi Mahasiswa untuk mengembangkan dirinya baik didalam maupun luar kelas.

    Pernakah berfikir mengapa IP maupun IPK maksimal hanya 4,0? Karena selebihnya mahasiswa sendiri-lah yang harus mencari, menelaah, mengeksplore hal-hal baru dan memikirkan cara untuk meraih keberhasilan yang dapat dicari dengan berbagai hal, yakni melalui kajian literasi, berdiskusi maupun berorganisasi. Hal ini diperkuat dengan sebuah penelitian yang mengemukakan bahwa peran dosen maksimal hanya 20% untuk menunjang keberhasilan mahasiswa-nya. Sehingga belajar didalam kelas saja lalu pulang ke rumah ataupun kos (Mahasiswa Kupu-kupu) merupakan kerugian nyata yang dapat membunuh kreativitas dirinya (read : mahasiswa) secara perlahan.

    Penulis sering mengamati mahasiswa yang hanya fokus pada akademiknya, dengan mahasiswa aktivis. Tentu ini berdasar pada pengamatan empirik di Kampus. Untuk menelaah lebih dalam hal itu, saya sering mengajak berdiskusi (apapun itu) dengan mahasiswa aktivis dan mahasiswa akademis dengan memaparkan sebuah persoalan dan saya minta solusi juga pendapat berdasar pada persoalan yang telah saya kemukakan. Ternyata jawaban yang memuaskan (analitik, konkrit, logis, rasional dan bereferensi) lebih banyak saya dapatkan dari mahasiswa aktivis. Tentu aktivis tidak hanya sekedar demo, debat dll. Namun seorang aktivis yang mengimbangi dirinya dengan selalu membaca buku.

    Yang menjadi persoalan ialah telah mendarah daging pola pikir (mind set) kalangan akademis dan masyarakat mengenai mahasiswa aktivis yang terkenal dengan “lulusnya lama”, sehingga memandang anak-anak aktivis dengan sebelah mata. Hal ini kongkrit, faktanya memang begitu!.

    Penulis pun banyak menjumpai teman-teman aktivis yang lulusnya lama, ingat “bukan berarti mereka bodoh”. Namun mereka hanya ingin menikmati masa-masa menjadi mahasiswa, karena masa-masa mahasiwa merupakan masa yang nikmat dan penuh warna. Ada pula faktor lain, karena mereka beranggapan bahwa “dirinya” belum layak untuk lulus dengan indikator belum banyak buku-buku yang dibaca dan dikuasai. Dari hal ini jelas bahwa mereka mengedepankan aspek “kualitas keilmuan” daripada mengejar angka 3,9 sekian diatas kertas putih. Karena faktanya IPK tinggi itu mudah dicari dengan hanya terus masuk kelas tanpa ada keterangan sakit, izin atau bahkan alfa alias “tidak masuk tanpa keterangan” (saya pastikan nilai-nya 4,0) karena yang menyebabkan seseorang IPK-nya rendah bukan karena faktor intelegensi, namun karena faktor “kehadiran/administratif”. Hal ini tidak bisa diubah, karena sistem yang telah berperan, sehingga secerdas apapun mahasiswa kalau dia tidak pernah masuk kelas jangan harap dapat IPK 3,5. Boro-boro 3,5 dapat 3,0 pun tidak akan pernah. Kalau tak percaya coba saja buktikan.

    Dulu lulus SD masuk ke SMP harus mempunyai nilai yang tinggi, begitupula dengan lulus SMA ke PT memerlukan nilai yang tinggi pula, meskipun faktanya nilai saja tidak cukup. Akan tetapi perlu dan harus memiliki sertifikat penghargaan/kejuaraan yang diraih saat di SMA baik dalam bidang akademik maupun non akademik. Begitupula dengan lulus Kuliah, tidak cukup hanya dengan nilai yang baik, akan tetapi yang lebih dari itu ialah harus memiliki nilai plus atau biasa disebut dengan skill komparatif yang salah satunya mempunyai jiwa leadership. Itu yang jauh dibutuhkan untuk masa depan, daripada hanya sekedar IPK tinggi ataupun embel-embel yang lain.

    Penulis teringat nasihat dari Prof. Anis Baswedan saat seminar di UGM Yogyakarta tahun 2015 yang lalu bahwa “Kemampuan belajar” menjadi satu kunci, bukan “kemampuan menguasai suatu bidang”. Karena ketika lulus, mahasiswa belum tentu melakukan dan berhadapan dengan bidang yang digelutinya saat masa-masa kuliah. Namun kemampuan dalam belajar akan membuat mahasiswa menjadi pembelajar terus menerus, sehingga mempunyai peluang untuk terus mengembangkan diri dan meningkatkan kontribusi disekelilingnya. Sehingga saat-saat menjadi mahasiswa seperti ini jangan hanya disebut sebagai “masa kuliah nan masa muda semata” namun harus dijadikan sebagai spirit untuk “terus mengembangkan diri secara optimal dan berkelanjutan”. Jika hal ini dilakukan, maka InsyaAllah “jalan kedepan akan jauh lebih lebar, jauh lebih menantang, dan akan menemukan simpul-simpul baru kebahagiaan yang membanggakan termasuk dalam memperluas jaringan”.

    Tulisan ini bukan berarti mengesampingkan hal-hal akademik, seperti IPK. Karena faktanya IPK juga penting namun harus diimbangi dengan soft skill dan pengalaman yang lain. Penulis hanya ingin membukakan “sedikit” cakrawala dan paradigma berpikir ala anak-anak aktivis yang seharusnya dipahami oleh kalangan akademis seperti dosen dan masyarakat pada umumnya agar tidak menjustifikasi anak-anak aktivis sebagai mahasiswa yang malas dan terkenal dengan lulus kuliah “lama”. Coba lihat 10-20 tahun yang akan datang, siapa yang lebih banyak berkontribusi nyata untuk Indonesia. Mahasiswa aktivis-kah atau mahasiswa yang hanya “Mencerdaskan dirinya sendiri” yang acuh terhadap realitas sosial?


    Penulis: Mukaromah
    Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta / Ketua IPPNU Sewon, Bantul, DIY.

    Jadi Mahasiswa Itu Harus Menulis

    Ilustrasi Mahasiswa Menulis. Foto: gradschools.com
    PEWARTAnews.com -- Bagi seorang mahasiswa, menulis itu bukan merupakan sesuatu yang asing. Bahkan, menulis itu sudah menyatu dengan diri mahasiswa. Sebab, tugas-tugas yang diberikan oleh dosennya selalu ada yang berhubungan dengan menulis, seperti membuat makalah. Mahasiswa semester akhir, misalnya haru menulis skripsi, tesis, atau disertasi sebagai salah satu syarat kelulusan. Contoh lain, mahasiswa yang kuliah di fakultas kesehatan, setidaknya mereka membuat laporan setiap kali selesai melakukan praktikum. Semua itu, tentu berhubungan dengan tulis-menulis.

    Walaupun menulis sudah tidak asing lagi bagi mereka, namun kegiatan yang dimaksud hanya seputar rutinitas tugas kuliah yang dibebankan oleh dosen kepadanya. Sangat jarang terdapat mahasiswa yang mau menulis di luar kewajiban sebagaimana yang dimaksud di atas. Jarang sekali mahasiswa yang mau membiasakan menulis artikel, buku, dan lainnya. Seperti yang disebutkan di atas, kegiatan menulisnya baru muncul ketika ada tugas yang berhubungan dengan menulis yang diberikan oleh dosennya.

    Saya sendiri kurang tahu pasti, mengapa hal demikian bisa terjadi. Apakah budaya literasi di kalangan mahasiswa yang masih kurang atau memang dosennya tidak pernah atau jarang memberikan motivasi kepada mahasiswa untuk menulis (baca: selain tugas perkuliahan). Namun, semuanya itu harus kembali kepada diri masing-masing. Kesadaran akan dunia literasi itu harus muncul dari dalam diri individu itu sendiri.

    Semestinya, sebagai mahasiswa itu harus membiasakan diri untuk menulis (baca: di luar tugas perkuliahan). Begitu banyak pengalaman diperoleh di dunia organisasi, komunitas, dan lainnya, namun sebaliknya minim dalam karya tulis. Bukankah sangat bagus, bila berbagai pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh di kampus, di berbagai organisasi, dan lainnya dituangkan dalam bentuk tulisan. Sehingga, orang lain pun bisa menikmati hasil jerih payahnya ketika masa-masa itu.

    Jadi mahasiswa itu harus menulis. Jangan hanya pintar berorasi kiri-kanan. Jangan hanya jago bakar-bakar ban. Jangan hanya bisanya menutup jalan (ketika demo). Jangan hanya bergabung dan berkecimpung dari organisasi ke organisasi. Cobalah Anda berbagi lewat karya tulis. Sayang rasanya berbagai pengetahuan dan pengalaman yang didapatkan di dunia kampus dan di berbagai organisasi, bilamana hanya dinikmati oleh seorang diri. Mari kita sama-sama membangun peradaban bangsa ini dengan budaya literasi. Ayo, gaungkan literasi kapan dan di mana pun Anda berada. Menulislah!

    Wallahu a’lam.


    Penulis: Gunawan
    Pemuda asal Dompu NTB

    Pendidikan yang Menghidupkan

    Mukaromah (berkacamata) usain melakukan proses belajar mengajar.
    PEWARTAnews.com – Pendidikan merupakan suatu hal yang urgent dan mempengaruhi masa depan suatu bangsa. Maju mundurnya bangsa dapat dilihat dari seberapa berkualitas pendidikannya. Jika warga negara mayoritas orang-orangnya berpendidikan dan mempunyai kesadaran untuk belajar, maka bangsa tersebut akan maju. Namun sebaliknya, jika kualitas dan tingkat pendidikan warga negara rendah, maka negara tersebut sulit untuk maju dan sulit bersaing dengan warga negara yang lain. Betapapun itu, pendidikan merupakan kunci mata rantai yang turut ikut andil dalam memajukan bangsa dan negara. Sebagai contoh, ketika tentara sekutu menyerang Jepang dan melakukan pengeboman di kota Nagasaki dan Hirosima hingga pada akhirnya menewaskan jutaan orang, hal yang pertama kali ditanyakan oleh Kaisar adalah berapa banyak “guru” yang masih hidup. Mengapa tidak bertanya berapa jumlah doktor, insinyur, pegawai bank, tentara, polisi yang masih hidup, namun menanyakan jumlah guru yang masih hidup? Tak lain guru memegang kunci dalam membangun peradaban suatu bangsa. Adanya kaisar, insinyur, tentara, polisi karena adanya guru. Sehingga wajar jika Kaisar bertanya berapa jumlah guru yang masih ada, karena ditangan guru-lah peradaban akan dibangun kembali.

    Dalam sejarah dunia, kita mengenal Thomas Alfa Edison. Seorang tokoh yang menemukan bola lampu dunia yang telah menggunakan 999 cara sebelum ia berhasil menemukan bola lampu yang saat ini dapat kita nikmati manfaatnya. Thomas mempunyai kegigihan dan semangat yang menggelora untuk membuktikan kepada guru-nya bahwa ia anak yang hebat. Karena sebelum itu, guru-nya telah menyerahkan dirinya (drop out) kepada ibunya dengan alasan Thomas anak yang bodoh. Sejak saat itulah ibunya mendidik dan mengajarinya dengan penuh kasih sayang dan bi tarbiyatin hasanatin.

    Pada saat itu, Thomas berkata kepada ibunya, “Ibu, mengapa sekarang aku tidak sekolah, seperti teman-teman ku”? Ibunya berkata “Nak, gurumu sudah tidak bisa lagi mendidikmu karena kamu anak yang CERDAS, sehingga mulai sekarang ibu lah yang akan mendidikmu langsung karena ibu yang melahirkan kamu sehingga tuangkan kecerdasanmu itu dalam melakukan percobaan dan eksperimen ya”. Disaat yang seperti ini, ibunya terus meyakinkan dan selalu berkata bahwa Thomas merupakan anak yang cerdas. Hal ini sangat penting untuk dikatakan, karena ucapan (read: pujian) merupakan salah satu bentuk motivasi yang dapat membuat orang menjadi lebih semangat dan percaya diri dalam mewujudkan cita-cita dan keinginannya.

    Dengan intangible capital (modal tidak kasat mata yang berbentuk niat, tekad, gigih dan semangat) akhirnya Thomas berhasil membuat bola lampu dunia. Thomas Alfa Edison merupakan salah satu contoh diantara banyak tokoh lainnya yang berhasil dan sukses tanpa melalui jalur pendidikan formal. Namun ia selalu menggali, mengasah dan mengembangkan skill dan kompetensi nya sebagai manifestasi atas rasa syukur kepada Tuhan-nya. Tak hanya Thomas, ilmuan seperti Albert Einstein Benjamin Franklin, Isaac Newton, Charles Darwin pun orang hebat yang sukses tanpa melalui jalur pendidikan formal.

    Meski ada orang yang beranggapan bahwa tanpa guru, ternyata bisa sukses. Penulis merasa kurang setuju dengan argumen ini. Karena Penulis yakin, setiap orang mempunyai ilmu, terlepas dari kadarnya seberapa. Dan ilmu tidak hanya disampaikan dengan pembelajaran yang formal, namun dapat disampaikan dengan cara-cara lain seperti sharing, bercengkrama dan berdiskusi. Hal ini lah yang “mematahkan” argumen pertama bahwa orang bisa sukses tanpa guru. Karena faktanya, setiap orang adalah “guru”. Itulah mengapa Ali Bin Abi Thalib berkata bahwa beliau merupakan hamba dari seorang yang mengajari-nya walau satu huruf.

    Meskipun Thomas, Darwin, Isaac Newton dll sukses meski tidak melalui jalur pendidikan formal, bukan berarti mereka tidak membutuhkan seorang guru. Siapapun yang mereka jumpai dan membimbing serta mendidik mereka itulah gurunya, meskipun berstatus ibu-nya. Sehingga penulis rasa, di dunia ini tidak ada satu orang pun yang berhasil tanpa bimbingan dari seorang guru. Meskipun terkadang guru lah yang menghambat daya kreatifitas anak didiknya, sebagai contoh membatasi kreatifitas siswa dalam menulis makalah atau paper dengan memberikan batas maksimal halaman. Mungkin disisi lain guru ingin membaca pokok-pokoknya saja, dan mengajak siswa untuk berpikir to the point.

    Berpendidikan saja tidak cukup, namun juga harus diimbangi dengan terus self continous improvement. Mengasah dan menggali sofskill juga hardskill. Itulah sebabnya hakikat dari belajar ialah perubahan tingkah laku yang menyebabkan seseorang sadar akan sesuatu yang dilakukannya. Melakukan sesuatu dengan penuh kesadaran, keoptimisan serta penuh tanggungjawab dengan disertai niat dan kemauan untuk lebih baik dari sebelumnya. Oleh karenanya, orang yang mengasah intelektual dengan belajar seharusnya juga menumbuhkan sifat emosional dalam dirinya yang berarti paham dan mampu memahami realita sosial dan masyarakat yang kemudian dimanifestasikan dengan akhlaq yang baik dan benar, yakni dengan memanusiakan manusia secara manusiawi. Karena pada hakikatnya, haruslah sinergi antara IQ, EQ, dan SQ. Ketika seorang peka terhadap realita sosial, maka akan menambah rasa cinta pada Rabb yang telah menganugrahkan nafas hidup untuk nya (aspek spiritual). Akibat seperti inilah puncak tertinggi dari belajar, dimana seseorang mampu mengenal Tuhannya setelah ia mengenal dirinya sendiri dan orang lain. Sehingga ia mampu menemukan cahaya suci nan indah yang dapat menuntunnya ke jalan yang haqqul abadi. (min adzulumaati ilannuur) dari yang tidak tau apa-apa menjadi dikit demi sedikit tau, paham dan mengerti eksistensi dirinya sebagai 'ibad yang menghambakan diri kepada-Nya sekaligus sebagai khalifatullah fil ardi yang mempunyai peran dan tanggungjawab hidup untuk memaknai kehidupan serta merealisasikan visi misi hidupnya.

    Pendidik yang baik nan hebat tidak hanya transfer of knowledge namun juga transfer of value yakni dengan menanamkan nilai-nilai karakter, inspirasi dan motivasi kepada peserta didik agar mereka memiliki kepercayaan diri dan optimis dalam menatap masa depan.

    Terakhir, Penulis menukilkan pesan hikmah dari Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M.Ag., bahwasannya beliau berucap, "Guru dan orangtua merupakan orang yang membimbing murid dan anak-anaknya untuk menemukan rencana Tuhan bagi dirinya".

    Khairukum man ta'allamal Qur'an, ta'allamal 'ulum, wa 'allamahumaa.


    Penulis: Mukaromah
    Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta


    Alumni Awarde LPDP Siap Toreh Cita Seribu Anak Bangsa

    Informasi agenda Massive Action.
    Jakarta, PEWARTAnews.com -- Lembaga Dana Pengelola Pendidikan (LPDP) akan menyelenggarakan kegiatan akbar bertajuk Massive Action secara serentak di 26 provinsi seluruh Indonesia, yang akan diselenggarakan pada 19 April 2018 mendatang. Kegiatan bertema Toreh Cita Seribu Anak Bangsa ini dilaksanakan di 190 sekolah menengah atas, dengan ratusan alumni penerima beasiswa LPDP yang siap terjun menyapa para siswa.

    26 provinsi beruntung yang akan dikunjungi para alumni dalam Massive Action 2018 ini antara lain Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Sumatra Selatan, Riau, Jambi, Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Yogyakarta, Jakarta, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, Gorontalo, Maluku, Maluku Utara, dan Papua.

    Ketua Acara Massive Action Surya Asra, mengatakan bahwa dalam kegiatan Massive Action ini, para alumni yang baru saja menyelesaikan studi di dalam dan luar negeri itu bakal menginspirasi sehingga para siswa berani bermimpi setinggi-tingginya. "Alumni-alumni akan berbagi cerita tentang perjuangan mereka menggapai mimpi dan membantu siswa-siswi SMA dalam merencanakan impian mereka," ujar Surya Asra.

    Lebih lajut, Surya Asra membeberkan dalam kegiatan ini bukan hanya sekadar bercerita di depan kelas, para alumni LPDP mendorong adik-adik SMA agar membuat seribu peta mimpi-mimpi yang berisikan rencana jangka pendek, menengah, dan jangka panjang mereka. "Harapannya, kelak peta itu menjadi pengingat mereka untuk bertekad kuat mewujudkan mimpi, yakni meneruskan sampai pendidikan tinggi," kata Surya.

    Kegiatan Massive Action melibatkan Mata Garuda sebagai wadah alumni penerima beasiswa LPDP agar bersinergi mengabdi kepada Indonesia. Kerjasama yang solid antara Mata Garuda Pusat dan Mata Garuda Daerah menjadi wujud solidaritas dalam mensukseskan Massive Action 2018 ini.

    Selain Massive Action, ada pula kegiatan pengabdian masyarakat dari para alumni LPDP berupaTargeted Action. Targeted Action ialah proyek jangka panjang yang dirancang dan diselesaikan oleh alumni dalam kurun waktu satu tahun. “Targeted Action ini tujuannya untuk memecahkan permasalahan-permasalahan masyarakat dari berbagai pelosok di Indonesia," tutur Surya.

    Massive Action dan Targeted Action adalah salah satu rangkaian dari puncak agenda rutin tahunan bertajuk Welcoming Alumni 2018.  Pesta bertabur tokoh nasional ini akan menjadi penyambutan para alumni yang baru saja kembali ke tanah air dan daerah asalnya masing-masing, sekaligus momentum berakhirnya masa studi.

    Welcoming Alumni 2018 kali ini mengambil tema "Alumni untuk Negeri". Tema ini, kata Surya, selaras dengan Nawacita pemerintah dan Presiden Joko Widodo yang ingin memeratakan pembangunan di segala sektor.  Orang nomor satu di Indonesia itu berpesan bahwa LPDP harus menjadi instrumen pemerataan bagi anak-anak bangsa di seluruh pelosok Tanah Air dalam memperoleh pendidikan.

    “Pesan tersebut menggambarkan bahwa besar harapan Presiden Jokowo untuk alumni LPDP untuk belajar dengan sebaik-baiknya, sehingga memperoleh ilmu dan berhasil. Kemudian menjadi mesin penggerak di daerahnya masing-masing untuk menuju Indonesia Emas tahun 2045," kata Surya.

    Tentang LPDP:
    Lembaga Dana Pengelola Pendidikan (LPDP) ialah Badan Layanan Umum (BLU) yang diberikan mandat untuk mengelola dana abadi pendidikan dan menyeleksi serta memfasilitasi putra-putri terbaik bangsa. LPDP memberikan beasiswa prestisius yang diberikan pemerintah Indonesia untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat Magister (S2) dan Doktoral (S3). Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) LPDP adalah salah satu cara negara untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia Indonesia, sehingga diharapkan seluruh Alumni BPI LPDP dapat menjadi solusi dari berbagai permasalahan-permasalahan yang sedang dihadapi oleh bangsa ini.

    Sebanyak lebih dari 5.538 alumni dengan total awardee 18.466 orang telah menerima beasiswa dari LPDP, baik yang telah menyelesaikan studi baik di dalam maupun di luar negeri. Para alumni LPDP ini diharapkan dapat mengambil peran strategis dan terjun langsung dalam pembangunan di seluruh penjuru tanah air. (PEWARTAnews)

    Peluang Besar Pemuda Dalam Partai Politik

    Ketua DPC PKB Kota Yogyakarta Solihul Hadi, S.H. (baju hijau) saat menerima kenang-kenangan dari Ketua Panitia Ali Ruslan usai dialog berlangsung.
    SLEMAN - Dalam kemajuan jaman di era digital saat ini pemuda sebagai generasi milineal mempunyai peluang besar masuk dalam partai politik dan menang dalam pemilu 2019. Salah satu alasannya peran pemuda yang masih segar dinilai bisa memunculkan ide baru dan karya yang inovatif untuk kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Hal ini di sampaikan Solihul Hadi, S.H, Ketua DPC PKB Kota Yogyakarta selaku Narasumber dalam kegiatan diskusi Lingkar Studi Muballigh di aula Pondok Pesantren Takwinul Muballighin Sleman, Jumat (13/4) malam, bertemakan Mengukur Kemampuan Pemuda Muslim dalam Kontestasi Politik 2019, dalam usianya yang baru menginjak 29 tahun, Solihul menyebutkan potensi lain masuknya peran pemuda dalam partai ini dikarenakan mempunyai track record yang masih bersih dalam dunia perpolitikkan.

    Solihul juga mengemukakan bahwa Kunci kemenangan pemilu di tahun 2019 adalah, "Anak muda harus bisa melakukan konsolidasi, menjalin silaturahmi, aktif dalam kegiatan organisasi sosial keagamaan maupun kemasyarakatan dan memiliki daya kreatifitas positif untuk membawa perubahan dan warna baru dalam dunia politik, karena politik hari ini cenderung dipandang abstrak dan negatif oleh generasi muda jaman now, serta menjadi pemuda yang toleran agar tidak mudah terpancing pada sebuah opini yang berkembang sehingga pikiran dan tenaga kita tidak terforsir," beber Solihul.

    Mahasiswa Magister Kenotariatan UGM ini menambahkan, "Saat ini ada sekitar 85 persen dalam partainya diisi oleh anak muda yang masih fresh dan memiliki kemampuan yang bisa diandalkan untuk terjun ke dunia politik. Pihaknya mengaku salah satu upaya untuk mengajak generasi muda aktif dalam partai politik adalah dengan kegiatan semacam ini, diskusi publik, sosialisasi, dsb sebagai ajang untuk bertukar pikiran, ide, dan pendapat untuk membangun konstruksi berfikir yang sehat dan rasional," ucap Solihul.

    Sementara itu Narasumber dari PKS Muda Daerah Istimewa Yogyakarta Bisma Putra, S.Pd., juga berpendapat setengah dari total penduduk di Indonesia di dominasi pemilih dari anak-anak muda, "Mereka berfikir lebih kreatif dan linear dengan apa yang dibutuhkan jaman pada saat ini, otomatis mereka akan mempertimbangkan calon-calon yang masih berusia muda," jelas Bisma.

    Dalam kegiatan ini Bisma memaparkan, dari segi pengamalan bisa dikatakan anak muda yang berani masuk dalam parpol belum mengantongi bekal yang cukup namun kemampuan dalam kepemimpinan dapat dilihat dari kapasitas yang dimiliki masing-masing individu yang sudah aktif dalam kegiatan bermasyarakat di sekitar. Juga berkaca dari era yang serba digital, mereka bisa menelurkan ide baru, menggaungkan kreativitas dari problema bangsa saat ini, imbuh pria berusia 23 tahun tersebut.


    Penulis: VITA WAHYU HARYANTI

    PP Ulul Albab Balirejo Gelar Khitanan Massal Gratis

    Suasana saat kirab sebelum khitanan berlangsung.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Pondok Pesantren Ulul Albab Balirejo Yogyakarta mengadakan Khitanan Masal Gratis masih dalam rangka agenda Hari Lahir Pondok Pesantren yang ke-V yang diselenggarakan pada hari Minggu, 14 April 2018 di wilayah Pondok Pesantren Ulul Albab Balirejo Yogyakarta.

    Acara khitanan masal ini diikuti oleh 28 peserta setingkat usia sekolah dasar dari berbagai daerah di Yogyakarta, diantaranya berasal dari Balirejo, Gendeng Gondokusuman, SDM Karangbendo, SD Nogopuro, Kepuh Wetan Bantul, SDN Sukowaten, Pringgokusuman, SD Demakijo, Mutihan RT4, SDN Lempuyangwati, Banguntapan Bantul dan Ngabean Kebumen.

    Peserta khitan yang mengikuti acara ini mendapatkan bingkisan berupa seperangkat sarung, baju koko, peci dan sejumlah uang saku setelah melaksanakan daftar ulang untuk mengambil nomor urut khitan.

    Acara ini diawali dengan pembukaan dan sambutan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Ulul Albab Balirejo yakni K.H. Ahmad Yubaidi, S.H., S.Pd., M.H., menyampaikan bahwa acara khitanan masal gratis yang diadakan Pondok Pesantren Ulul Albab Balirejo ini bukan yang pertama kalinya namun sudah diadakan untuk kelima kalinya. "Alhamdulillah acara khitanan seperti ini merupakan acara yang kesekian kalinya yang diselenggarakan oleh Ulul Albab, mudahan kami terus dapan memberikan sesuatu buat masyarakat sekitar," bebernya.

    Selain itu, beliau yang juga Dosen Terbang di Fakultas Syari'ah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini juga sempat menanyakan testimoni kepada para wali peserta khitan tentang pendapat diadakannya khitanan masal gratis ini apakah sekiranya perlu diteruskan untuk tahun-tahun yang akan datang. "Alhamdulillah para wali khitan mendukung dan mengapresiasi serta sangat berharap Pondok Pesantren Ulul Albab Balirejo dapat terus melanjutkan dakwah ini, sehingga selain membantu dan memfasilitasi masyarakat dalam melaksanakan sunah untuk anak laki-lakinya, juga membantu meringankan beban masyarakat yang kurang mampu untuk melaksanakan khitan kepada anak laki-lakinya," ucap Yubaidi.

    Lebih lanjut, Ahmad Yubaidi juga memberikan semangat kepada para peserta sebelum berkhitan, beliau berpesan agar peserta memperbanyak membaca shalawat yang berguna untuk meminimalisir rasa cemas dan takut saat dikhitan, "Karena membaca shalawat ini juga dapat menjadi jurus yang dapat mengurangi rasa takut serta akan menambah keberanian kepada diri para peserta," katanya.

    Setelah mendapat sambutan dan wejangan dari Pengasuh Pondok Pesantren Ulul Albab, para peserta dan wali khitan diajak oleh Keluarga Ulul Albab yakni pengasuh dan seluruh santri untuk kirab keliling Kampung Balirejo yang diiringi dengan tim Hadrah Ulul Albab sebagai penyemaraknya. Para santri yang berpartisipasi juga telah membuat berbagai macam pernak pernik seperti balon, poster bertuliskan “Aku Anak Shaleh”, “Aku Cinta Nabi” untuk meramaikan kirab dan memberikan semangat kepada peserta.

    Keceriaan peserta setelah kirab dilanjutkan dengan pengarahan dari dokter pelaksana khitan yakni Dokter Suryono. Beliau menyampaikan terkait dengan proses pelaksanaan khitan dengan laser serta hal-hal yang boleh dilakukan dan berpantangan dilakukan oleh peserta setelah selesai khitan.

    Proses pelaksanaan khitan berlangsung dengan tertib dan teratur sesuai dengan nomer urut daftar ulang. Setelah selesai prosesi khitan peserta mendapat obat untuk dibawa pulang. Ada berbagai macam ekspresi yang tampak dari para peserta, sebagian besar memperlihatkan keceriaan yang menggambarkan perasaan lega dan bangga kepada dirinya sendiri. Kebahagiaan ini bisa dilihat dari ekspresi foto bersama keluarga pasca khitan yang diabadikan oleh santri yang bertugas mendokumentasikan acara.


    Kontributor: Azima dan Hanah
    Editor: PEWARTAnews

    Profesor Juga Manusia

    PEWARTAnews.com -- Kata “profesor” tentu tidak asing lagi di telinga kita. Apalagi bagi kalangan akademisi, terlebih masyarakat kampus pada umumnya. Profesor, biasanya dikenal oleh publik sebagai seorang pakar. Istilah lainnya juga adalah seorang guru senior atau guru besar.

    Di Indonesia, gelar Profesor merupakan jabatan fungsional, bukan gelar akademis. Hal ini sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Pasal 1 Butir 3, yang menyebutkan bahwa guru besar atau profesor adalah jabatan fungsional tertinggi bagi dosen yang masih mengajar di lingkungan satuan pendidikan tinggi.

    Ada paradigma di masyarakat awam khususnya, bahwa profesor merupakan orang yang sangat-sangat cerdas, orang yang mengetahui segala sesuatu. Pokoknya orang yang serba tahu. Bahkan para masyarakat kampus (khususnya mahasiswa) pun, ketika bertemu dan berbincang dengannya banyak yang “takut.” Sangat banyak orang yang memuji profesor, layaknya Tuhan. Sebaliknya, sangat sedikit orang yang berani menentangnya ketika ia salah (baca: keliru) dalam menyampaikan materi perkuliahan atau sejenisnya.

    Sadarkah kita bahwa profesor juga manusia? Artinya, bahwa tidak selamanya apa yang dilakukan atau disampaikannya itu selalu benar. Tidak semua pemikiran-pemikirannya “benar.” Ada kalanya ia keliru. Ada kalanya ia bertindak di luar koridor. Wajarlah, profesor juga manusia.

    Menurut saya, bahwa seorang profesor “tidak ada bedanya” dengan orang lain (baca: orang yang bukan profesor). Ya, kita sama-sama makhluk Tuhan yang sedang belajar di alam kehidupan. Kedudukan masyarakat kampung, masyarakat kampus, dan para profesor adalah sama. Sama sebagai makhluk yang tidak pernah luput dari  dosa dan kesalahan. Karena sejatinya makhluk yang bernama manusia merupakan tempatnya dosa dan kesalahan.

    Profesor tidak perlu “terlalu dihormati” layaknya seorang raja. Bertindaklah sewajarnya, sesuai dengan etika yang berlaku. Demikian juga, seorang profesor tidak boleh memaksa seseorang untuk menghormatinya. Profesor dan manusia lainnya (baca: yang bukan profesor) sama-sama sebagai makhluk Tuhan yang sedang belajar. Dengan demikian, buang jauh-jauh paradigma bahwa seseorang yang bergelar profesor adalah orang yang serba tahu dan serba bisa (baca: tidak pernah berbuat salah).

    Sedikit cerita, pernah saya lihat dan perhatikan ketika saya berada di ruang perkuliahan. Banyak teman-teman saya yang tidak berani membantah (baca: menanggapi) apa yang dikatakan oleh profesor tersebut dalam menyampaikan materi perkuliahan. Padahal mereka tahu bahwa apa yang dikatakan olehnya (baca: profesor) memang salah/keliru. Mereka takut dan menganggap, bahwa profesor tersebut tidak akan mau menerima sanggahan dari mereka. Ada juga profesor yang ngotot dan tidak mau dibantah oleh mahasiswanya. Padahal semestinya seorang profesor harus bersikap dewasa. Harus siap dan mau menerima kritikan dan masukan dari siapa pun orangnya. Tidak boleh merasa dirinya paling hebat dan paling “benar.”

    Wallahu a’lam.


    Penulis: Gunawan
    Pemuda asal Dompu NTB

    Menjelang Deklarasi 11 April, Spanduk Prabowo Capres Beredar di Jogja

    Spanduk Prabowo Capres terlihat di salahsatu perempatan di Yogyakarta.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Pemberitaan di media lokal maupun nasional beberapa hari terakhir ini diwarnai dengan salah satu informasi yang menarik perhatian masyarakat, yakni adanya informasi bahwa Prabowo Subianto akan mendeklarasikan diri untuk maju Calon Presiden (Capres) 2019 saat Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Partai Gerindra pada 11 April 2018 besok. Menjelang Deklarasi 11 April 2018 besok ini, Spanduk Prabowo Capres 2019 pun ikut beredar mewarnai dan menambah keindahan kota Gudeg Yogyakarta. Hal itu menandakan bahwa begitu banyaknya dukungan dari masyarakat yang ditujukan pada mantan Komandan Jenderal Kopassus, Prabowo Subianto Capres 2019.

    Adanya informasi Prabowo deklarasi Capres tersebut, itu menandai semakin kencangnya genderang Pilpres 2019 dalam menampakkan kebolehannya. Secara resmi jadwal pendaftaran Capres yang dicanangkan di Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia (KPU RI) akan dibuka pada Agustus 2018 mendatang.

    Berkaitan dengan hal diatas, salahsatu tokoh muda yang juga Direktur Lembaga Bantuan Hukum PANDAWA Sugiarto, S.H., M.H. memandang bahwa Prabowo Subianto masih berpeluang besar untul maju dan memenangkan Capres 2019 mendatang. "Tokoh berbagai kelompok masyarakat telah menunjukkan dukungannya terhadap para kandidat Capres termasuk pak Prabowo, karena ia masih punya kesempatan yang besar dan saya kira ia sudah menyiapkan dengan matang untuk memenagkan Pilpres di 2019," ujar Sugiarto dalam rilisnya yang diterima PEWARTAmews.com pada 10/04/2018 pagi tadi.

    Lebih lanjut, Sugianto mengatakan, "Keberadaan kelompok masyarakat yang menginginkan Prabowo Subianto untuk menjadi Presiden di 2019 yang akan di usung oleh Partai berlambang kepala burung Garuda tersebut pada 10 April ini telah muncul banyak sepanduk terpasang di sudut jalan di Yogyakarta yang berisi tentang dukungan Prabowo sebagai Capres," ucapnya.

    Lebih jauh alumni Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia ini membeberkan, "Ini membuktikan bahwa masih banyaknya masyarakat yang tetap menginginkan agar Prabowo Subianto maju sebagai kandidat Capres 2019. Bukan hanya dari kader-kader atau internal Gerindra saja yang menaruh harapan, melainkan dari masyarakat juga menginginkan agar Ketua Umum Gerindra itu menjadi Calon Presiden seperti yang pernah disampaikan oleh kader Gerindra dalam beberapa media," beber Sugiarto.

    Selain Prabowo Subianto, tokoh lain yang sering di beritakan media akan maju kembali bertarung jadi Capres 2019 mendatang adalah Presiden petahana Joko Widodo. Sampai detik ini Prosiden Joko Widodo telah mendapat dukungan dari tujuh partai peserta Pemilu 2019 untuk mencalonkannya kembali pada 2019 mendatang, diantaranya Partai Golkar, Nasdem, PDIP, Hanura, PSI, PPP dan Perindo.

    Kita saksikan bersama, apakah Prabowo Subianto mampu menandingi Presiden petahana Ir. Joko Widodo pada Pilpres 2019 mendatang? Atau jangan-jangan selain Prabowo dan Joko Widodo akan ada kuda hitam yang akan penambah panas suasana Pilpres 2019? Kita saksikan bersama 2019 mendatang, dan jangan lupa terus gelorakan dukungannya kepada jagoannya masing-masing. Siapapun yang kelak terpilih menjadi Presiden pada 2019 mendatang, hal yang terpenting adalah memberikan persembahan kerja terbaiknya dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, serta menjamin kemajuan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tercinta. (PEWARTAnews / PN-001)


    Spanduk Dukungan Prabowo Subianto Capres mulai Beredar di Jogja

    Spanduk dukungan Prabowo Capres 2019 terpasang di Jl. Gading Yogyakrta.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Genderang Pilpres 2019 semakin menampakkan kebolehannya. Secara resmi jadwal pendaftaran Capres yang dicanangkan di Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia (KPU RI) akan dimulai pada Agustus 2018 mendatang.

    Mantan Komandan Jenderal Kopassus, Prabowo Subianto terlihat telah banyak datang dukungan dari masyarakat, beberapa diantaranya adanya spanduk dukungan Prabowo Subianto sebagai bakal Capres mulai Beredar di kota Gudek Yogyakarta.

    Berkaitan dengan hal diatas, salahsatu tokoh muda yang juga Direktur Lembaga Bantuan Hukum PANDAWA Sugiarto, S.H., M.H. memandang bahwa Prabowo Subianto masih berpeluang besar untul maju dan memenangkan Capres 2019 mendatang. "Tokoh berbagai kelompok masyarakat telah menunjukkan dukungannya terhadap para kandidat Capres termasuk pak Prabowo, karena ia masih punya kesempatan yang besar dan saya kira ia sudah menyiapkan dengan matang untuk memenagkan Pilpres di 2019," ujar Sugiarto dalam rilisnya yang diterima PEWARTAmews.com pada 10/04/2018 pagi tadi.

    Lebih lanjut, Sugianto mengatakan, "Keberadaan kelompok masyarakat yang menginginkan Prabowo Subianto untuk menjadi Presiden di 2019 yang akan di usung oleh Partai berlambang kepala burung Garuda tersebut pada 10 April ini telah muncul banyak sepanduk terpasang di sudut jalan di Yogyakarta yang berisi tentang dukungan Prabowo sebagai Capres," ucapnya.

    Lebih jauh alumni Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia ini membeberkan, "Ini membuktikan bahwa masih banyaknya masyarakat yang tetap menginginkan agar Prabowo Subianto maju sebagai kandidat Capres 2019. Bukan hanya dari kader-kader atau internal Gerindra saja yang menaruh harapan, melainkan dari masyarakat juga menginginkan agar Ketua Umum Gerindra itu menjadi Calon Presiden seperti yang pernah disampaikan oleh kader Gerindra dalam beberapa media," beber Sugiarto.

    Selain Prabowo Subianto, tokoh lain yang sering di beritakan akan maju kembali bertarung jadi Capres 2019 mendatang adalah Presiden petahana Joko Widodo. Sampai detik ini Joko Widodo telah mendapat dukungan dari tujuh partai peserta Pemilu 2019, diantaranya Golkar, Nasdem, PDIP, Hanura, PSI, PPP dan Perindo.

    Apakah Prabowo Subianto mampu menandingi Joko Widodo pada Pilpres 2019 mendatang? Atau jangan-jangan akan ada kuda hitam selain dua nama diatas sebagai penambah panas suasana Pilpres 2019? Kita saksikan bersama 2019 mendatang, dan jangan lupa terus gelorakan dukungannya kepada jagoannya masing-masing. (PEWARTAnews)

    Mahasiswa Bima Jogja Pertanyakan Dana Perawatan Aset Kedaerahan pada Pemda Bima

    Foto Asrama Bima bagian Depan.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Menindaklanjuti permasalahan terkait dugaan ketidakjelasan dana anggaran terkait perawatan aset-aset kedaerahan, terutama terkait perawatan asrama mahasiswa Bima yang berada di berbagai wilayah di Indonesia, salahsatunya Asrama Bima yang berada di Yogyakarta. Pembahasan berkaitan dengan itu, mengemuka juga dalam pertemuan mahasiswa Bima Yogyakarta dengan sesepuh Bima Yogyakarta yang diselenggarakan pada hari Minggu, 8 April 2018 di Aula Asrama Bima Yogyakarta "Sultan Abdul Kahir".
    Suasana saat pertemuan rutin Sesepuh Mbojo dengan mahasiswa di Yogyakarta pada 08/04/2018.

    Saat pertemuan mahasiswa dengan sesepuh tersebut, pembahasan terkain renovasi asrama terus disuarakan dan menjadi perhatian lebih, dan diharapkan keterlibatan semua pihak membantu mengetuk kesedaran Pemda Bima agar secepatnya tersadarkan untuk mempermudah proses renovasi. Pemda harap cepat sadar sebelum adanya kekhawatiran serta adanya anggapan penggelapan yang dilakukan oleh oknum Pemda Bima karena adanya peristiwa penguluran pelaksanaan renovasi Asrama Bima Yogyakarta.

    Belum lama ini, kehadiran Bapak Sekda Bima Haji Taufik bersama beberapa staff-nya pada awal bulan Maret 2018 lalu, menjanjikan bahwa asrama akan direnovasi pada tanggal 15 Maret 2018. Mendengar hal demikian, perwakilan mahasiswa merasa sedikit lega, namun kelegaan itu ternyata hanya hiasan kata yang menjadi makanan keseharian Pemda untuk mengalibi serta menyenangkan sementara hati mahasiswa.

    Sekda Bima saat survey Asrama Bima Yogyakarta.
    Pada pertemuan dengan pihak Pemda Bima itupun perwakilan dari mahasiswa Bima diundang ke Hotel Wize Prime Kota Jogjakarta untuk melakukan tanda tangan SPDP yang menandakan bahwa mereka benar-benar hadir di Jogjakarta tepatnya di Asrama Bima Sultan Abdul Kahir kurang lebih selama 30 menit.

    Setelah kehadiran Sekda Bima tersebut, sampai hari ini belum ada informasi lanjut dari Pemda, bahkan perwakilan mahasiswapun sudah sering menelpon tapi tidak diangkat oleh Pemda, dan Pemda juga sudah menghadirkan tim survey Asrama.

    Oleh karena peristiwa demikian, sehingga  mengharuskan mahasiswa Bima Jogja melakukan komunikasi intens kembali dengan berbagai Forum yang berada di bawah naungan KEPMA Bima Yogyakarta dan mengadakan pertemuan ulang bersama Sesepuh Mbojo Jogjakarta pada Sabtu, 8 April 2018.

    Adanya ketidakpastian waktu renovasi Asrama Bima Yogyakarta, kami menganggap bahwa ini benar-benar ada inisiatif penipuan yang dilakukan oleh Pemda Bima kepada mahasiswa Yogyakarta. Peristiwa demikian, ketika apapun yang terjadi mengenai kemungkinan adanya penggelapan Dana Anggaran Perawatan Aset Kedaearahan yang seharusnya menjadi anggaran perawatan setiap tahunnya untuk Asrama. Pemda harus membuka informasi seluas-luasnya tentang peristiwa ini sebelum adanya inisiatif dan upaya mahasiswa membongkar secara bersama. "Upaya hukum pun akan menjadi langkah baik untuk mendampingi proses ini," ucap perwakilan mahasiswa pada saat Rapat di Aula Asrama Bima yang tidak ingin namanya disebut.

    Lebih lanjut, "Upaya hukumpun akan kita tindaklanjuti, bahkan upaya menghadirkan KPK RI untuk memeriksa dana perawatan Asrama Sultan Abdul Kahir Yogyakarta selama 10 tahun terakhir akan dilakukan. Karena ini, mahasiswa pikir Pemda melihat apa yang mahasiswa lakukan terkait inisiatif mengangkat isu ini hanya main-main, maka perlu di coba sikap main-main ini kami ajak KPK untuk hadir di Pemda Bima. Terutama bertemu dengan bang Kasmir selaku Kepala Bagian Umum Pemda Bima yang menangani persoalan Aset Kedaeraha," lanjutnya.

    Peristiwa yang menariknya lagi adalah bahwa permainan ini akan menjadi indah karena selama 10 tahun terakhir ini bentuk pengelolaan Aset Pemda Bima (Asrama Mahasiswa Bima Yogyakarta) sama sekali tidak terlihat adanya perhatian dari Pemda, bahkan 10 tahun asrama Bima belum dibayarkan pajaknya. Oleh karena itu, maka akan menjadi khawatiran besar juga bagi mahasiswa Bima Yogyakarta, bahwa kemungkinan ada penggelapan dana di internal Pemda (oknum Pemda Bima). Dana Anggaran yang seharusnya setiap tahunya keluar untuk merawat aset-aset, namun masuk dikantung oknum Pemda. Inilah yang kami katakan sangat menarik, yang kemudian apabila kami menghadirkan KPK kami akan mengetahui informasi seutuhnya.


    Penulis: Muhammad Akhir
    Salahsatu Mahasiswa Bima-Yogyakarta

    Ketika Facebook Disalahgunakan

    PEWARTAnews.com -- Hampir setiap hari saya membuka akun facebook. Selalu saja ada status dari teman-teman facebook saya, yang kadang mengundang orang lain yang berkomentar saling memaki, saling mem-fitnah, dan saling berdebat yang tak kunjung usai. Ya, facebook seolah-olah sudah menjadi wadah yang tepat bagi mereka (baca: beberapa masyarakat facebook) untuk saling mengolok-olok satu sama lain. Saya yang menyimak pun kadang berpikir, apakah hanya ini yang biasa mereka lakukan tiap harinya? Sayang rasanya, kalau hanya ini saja yang biasa mereka lakukan tiap harinya.

    Itulah dampak dari teknologi (baca: facebook), bila kita tidak bisa menyikapinya dengan baik. Akibatnya, bisa menyebabkan saling bermusuhan antara satu dengan yang lain, sehingga tali persaudaraan yang sudah lama terjalin harmonis di dunia nyata, bisa berbalik seratus delapan puluh derajat, akibat dunia maya (baca: facebook). Bukan sebaliknya, dimanfaatkan untuk bersilaturrahim, menanyakan kabar masing-masing, atau mencari dan menyebarkan informasi yang bermanfaat (bukan hoax). Sehingga, efeknya pun, kita sendiri yang akan merasakannya.

    Media facebook atau lainnya, akan mendatangkan berkah bahkan bernilai ibadah bagi penggunanya, manakala seseorang mau menggunakannya untuk kebaikan. Begitu pula, sebaliknya. Ia akan mendatangkan malapetaka bagi penggunanya, bila tidak dimanfaatkan untuk kebaikan.

    Perlu diingat, bahwa facebook merupakan salah satu produk dari manusia itu sendiri. Jika disalahgunakan, sekali lagi, efeknya pun akan kembali kepada manusia itu pula.

    Mari kita memanfaatkan media facebook atau lainnya untuk berbuat kebaikan, untuk meraup segala macam kebaikan (sesuatu yang bernilai ibadah di sisi-Nya). Jangan sampai menggunakannya untuk sesuatu yang kurang bermanfaat atau tidak baik (baca: kejahatan/kejelekan). 

    Wallahu a’lam.


    Ditulis pada hari Rabu, 1 Maret 2017
    Penulis: Gunawan
    Pemuda asal Dompu NTB.

    Masalah Selesai Cukup dengan Mencium Tangan Seorang Kiyai

    PEWARTAnews.com -- Akhir-akhir ini bangsa Indonesia dihebohkan dengan puisi seorang anak dari sang proklamator (Bung Karno) yaitu Sukmawati yang isi puisinya dipandang mayoritas masyarakat Indonesia mengandung sara yakni membandingkan cadar dengan konde dan suara adzan dengan kidung. Akibat hal itu, banyak dari kalangan Muslim bereaksi untuk mengecam isi puisi tersebut karena dinilai menyalahi values Islam. Sikap yang diambil tidak sekedar mengecam Sukmawati, sebagian besar Muslim juga menyuarakan dan menyampaikan kepada pemerintah khususnya dalam hal ini Kepolisian untuk mengusut tuntas masalah yang berisi sara tersebut sehingga tidak menimbulkan kegaduhan dan polemik kepada umat Muslim yang merasa dirugikan atas isi puisi tersebut bahkan sebagian umat Muslim ingin turun ke jalan sekedar ingin mengingatkan pemerintah sebagai pemegang kendali negeri ini untuk mengawal kasus tersebut sehingga umat Muslim pun merasa mendapatkan keadilan dalam derajat hukum.

    Dalam kasus Sukmawati ini, banyak orang yang menilai bahwa Sukmawati harusnya tidak membuat sesuatu yang mengarah kepada perpecahan terhadap Bangsa ini dan membuat gaduh di kehidupan sosial masyarakat yang majemuk penduduk, budaya, ras, suku, serta norma. Supaya kehidupan berbangsa dan bernegara kita aman, damai dan rukun dalam selimut kebhinekaan, kita tahu dari Sabang sampai Merauke kita hidup dibawah naungan perbedaan maka tidaklah pantas bagi seorang anak dari sang proklamator (yang memperjuangkan nilai-nilai perbedaan untuk merawat dan menjaga negeri ini) menya’irkan lantunan sya’ir yang bagi umat Muslim adalah penghinaan terhadap agama Islam.  Kita semua adalah generasi bangsa yang cerdas. Cerdas dalam memilih kata, cerdas dalam merangkaikan kata, cerdas dalam melantunkan kata dan cerdas dalam membahasakan kata-kata yang baik dan bijak sehingga orang lainpun merasa senang dengan lantunan kata tersebut.

     Sukmawati dalam sya’irnya juga menyadari bahwa dirinya tidak paham tentang syari’at Islam, dengan begitu seharusnya Sukmawati tidak melakukan apa yang dia belum tahu dan lebih baiknya Sukmawati belajar lebih dulu, belajar lebih banyak dan belajar lebih serius lagi syari’at Islam sehingga bisa menya’irkan dimana letak ketidakelokan tentang syari’at Islam. Di tahun-tahun ini adalah tahun dimana tensi darah rakyat memanas karena belum lepas dari ingatan sebagian besar rakyat Indonesia dengan kasus penistaan agama (Ahok) yang cukup dramatis bagi rakyat ini sehingga menimbulkan demonstrasi di berbagai penjuru negeri ini. Di tambah lagi dengan kasus baru yang wajah dan esensi permasalahannya sama persis dengan kasus sebelumnya yaitu sama-sama menyinggung perasaan sebahagian umat Muslim dengan lantunan sya’ir dan argument yang mengandung penghinaan terhadap agama.

    Di tahun-tahun ini pun rentan dan rawan kecelakaan bersikap sehingga menimbulkan multi tafsir dalam menanggapi sikap dan perilaku seseorang karena kita di apit oleh tahun-tahun politik, sehingga apapun boleh salah dan boleh benar, ditambah lagi dengan panasnya politik negeri ini yang kebanyakan orang mudah saja terprovokasi dan memprovokasi sehingga lagi-lagi menimbulkan perpecahan dalam berbangsa dan bernegara, dalam rukun, aman dan tentram. Sejatipun begitu keadaan negeri ini diantara kita tetap masih ada saja yang tidak paham situasi dan kondisi yang begitu rapuh sehingga terjadilah anomali (penyimpangan) dalam bersikap dan berkomunikasi dengan publik sehingga lagi-lagi menimbulkan ketidaknyamanan sebagian rakyat terhadap sebagian yang lain.

    Cukuplah sudah persoalan-persoalan yang dulu untuk kita mengambil pelajaran darinya sehingga tidak lagi terjadi di masa mendatang dengan persoalan yang sama, jadikanlah perbedaan itu bagian dari kecantikkan dan keelokan kehidupan bersosial, dan cukuplah masa lalu untuk kita intropeksi diri bukan malah menjadi-jadi seolah menantanng kelompok lain yang berbeda warna dengan kita lalu menjadikan dia instrument (alat) untuk keindahan syai’irmu, seolah sya’irmu adalah sastra yang menggebu-gebu untuk memikat hati para pendengar tanpa melihat sikon dan tanpa memikirkan akibatnya, juga mungkin sya’irmu seolah harganya taktertandingi dan seolah sya’irmu harganya milliaran yang dimana orang tidak lagi bisa menghargakannya saking begitu mahalnya, pikirmu. Tidakkah sang Penyair (Sukmawati) sedikit berpikir cerdas dampak dan efek ketika menyampaikan dan melantunkan sya’irnya itu adalah berakibat fatal dalam kehidupan bersosial dan bermasyarakan di negeri yang majemuk ini.

    Sukmawati juga tidak paham keberagaman Indonesia, tidak tahu kekayaan negerinya sendiri dengan banyaknya budaya yang terbentang dengan beragam, lantunan sya’irnya Sukmawati tidak hanya menyinggung perasaan umat Muslim secara umum tetapi juga sudah mencabik-cabik hati masyarakat Bima dan Dompu (Nusa Tenggara Barat) yang memiliki budaya Rimpu (cadar yang menutupi semua badan Muslimah dengan menggunakan Sarung Tenun kerajinan masyarakat Bima-Dompu sendiri) rimpu (cadar) ini sendiri bagi orang Bima-Dompu selain diyakini sebagai budaya nusantara juga diyakini sebagai sebuah syari’at dari Tuhan nya, karena rimpu (cadar/jilbab) itu sendiri adalah bagian dari menjaga kesucian masyarakat Bima-Dompu dalam menjalani kehidupan di negeri ini dan yang jelas masyarakat Bima-Dompu tidak menerima ketika ada segelintir orang yang ingin mengadu-domba negeri ini dengan menyinggung budaya mereka sendiri.

    Tapi betapa mengejutkan kita dengan melihat beberapa waktu lalu sang penya’ir (Sukmawati) itu duduk bersama dengan seorang ulama dalam menyampaikan perihalnya meminta ma'af kepada umat Islam kepada awak media, setelah memberikan perihalnya kepada media sang penya’ir lalu mendekati ulama tersebut kemudian mencium tangan ulama mungkin sebagai tanda permintaan ma'afnya. Sependek dan sesingkat itukah tragedi yang di hadapi oleh sang penya’ir yang melukai hati umat Muslim tanpa di hukum sesuai hukum Negara kita yang berlaku yang jelas-jelas terpampang di dalam undang-undang Negara Kesatuan Republik Indonesia ini.

    Menurut analisa penulis persoalan sang penya’ir ini adalah sebuah tragedi pema'afan tanpa balas jasa. Dengan begitu suatu sa'at suara sang penya’ir mungkin akan kembali dengan raungan yang begitu kencang yang memenuhi ruang-ruang jiwa umat dan kembali menyakiti lagi, penulis merasa bahwa kita hidup di negeri yang sama, di atur oleh pemerintahan yang sama dan di bawah hukum dan Undang-Undang yang sama, lalu haruskah umat Muslim terus bersuara baru ada kata keadilan.


    Penulis: Andri Ardiansyah
    Mahasiswa Pascasarjana Program Doktor (S3) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayahtullah Jakarta

    Tips Sukses Bisnis Tanpa Modal

    PEWARTAnews.com -- Salam sukses, mulia! Banyak sekali seseorang yang bingung memulai bisnis, dengan alasan kendala modal. Betul sekali, sebelum memulai bisnis kita harus mempunyai modal, tapi bukan berarti modal yang dimaksud tersebut yakni modal uang dengan berjuta-juta rupiah, puluhan juta bahkan milyaran. Alasan seperti ini jangan sampai terjadi, karena menjadi penghalang buat anda yang mau serius di dunia  bisnis. Untuk memulai di dunia bisnis sebenarnya point utamanya yakni niat. Kenapa niat, karena jika kita tidak berniat memulai bisnis maka tidak akan ada namanya usaha untuk memulai.

    Generasi Y atau lebih sering disebut generasi millennials saat ini sudah banyak sekali yang merambah di dunia bisnis, tidak hanya generasi millennials saja tapi generasi X yang hampir kebanyakan di dominasi oleh ibu-ibu rumah tangga juga terjun di dunia bisnis. Dengan bermodalkan hanya hand phone (HP) android dan kuota internet, cukup mudah bukankah itu sudah termasuk awal kita memulai bisnis. Iya cukup menggunakan HP android dan kuota anda sudah bisa memulai bisnis sendiri dan memiliki toko online sendiri.

    Kemudian bagaimana action selanjutnya? Yakni anda tinggal tentukan ingin memulai bisnis apa? Fashion, property, food atau yang lainnya, bisa dipilih sesuai hati anda ingin berbisnis dalam hal apa. Bagi pemula yang memang masih awam belum mempunyai banyak channel cukup mengandalkan media social saja yakni dengan memanfaatkan facebook, Instagram, Line dan lain-lain. Untuk saat ini media social yang sangat mendukung dunia pemasaran online yakni instagram, sudah bisa dibilang dunianya pasar online, anda cukup mencari salah satu akun yang cocok untuk di follow kemudian silahkan menghubungi admin tersebut untuk menjadi reseller, selanjutnya anda memulai memasarkan produk yang ada di akun instagram tersebut. Mudah bukan?

    Masih bingung cara pemasarannya atau dunia marketing onlinenya. Mudah saja, cukup bikin akun toko online anda di online shop (Instagram, Facebok, line, dll) atau market place (tokopedia, bukalapak, shoppe, dll), atau E-Commerce (website) anda sudah bisa meng-upload picture produk, harga produk dan keterangan produk anda. Karena dunia pemasaran online sudah meningkat anda juga bisa membuat akun produk lebih menarik, misal dengan meng-endorse produk anda, dengan demikian dapat menambah costumer. Tanpa disadari semakin banyak costumer anda juga sudah bisa membuka toko offline sendiri. 

    Selamat bekerja keras! Kesuksesan tanpa niat, doa dan usaha akan kurang bernilai untuk diri sendiri.


    Penulis: SANIYATUN
    Mahasiswi Institut Ilmu Al-Quran Annur Yogyakarta / Owner Intprogres Bookstore & Qiana Moslem Wear
     

    Iklan

    Iklan
    Untuk Info Lanjut Klik Gambar
    Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website