Headlines News :
Home » , » Bangkitlah Mahasiswa (Telaah Mahasiswa Aktivis dan Akademis Berdasar Pengamatan Empirik)

Bangkitlah Mahasiswa (Telaah Mahasiswa Aktivis dan Akademis Berdasar Pengamatan Empirik)

Written By Pewarta News on Rabu, 18 April 2018 | 03.07

PEWARTAnews.com – Hidup adalah anugrah Allah Yang Maha Kuasa. Namun dalam hidup ada banyak pilihan, begitupula dengan mahasiswa. Mahasiswa mempunyai peran penting dalam membangun bangsa. Sebagaimana maqalah arab mengatakan syubbaanul yaum rijalul ghad. Pemuda (syabab) yang dapat juga diartikan sebagai mahasiswa merupakan pemimpin masa depan. Realitanya tak hanya untuk masa depan, namun juga pemimpin saat ini. Sehingga mahasiswa harus mempersiapkan diri untuk masa depannya serta mempersiapkan untuk menjadi agent of change (agen perubahan), agent of social control (agen kontrol sosial) dan agent of problem solver (agen pemecah masalah) dalam menghadapai problema kehidupan. Mahasiswa disebut sebagai Maha Atas Ke-Siswaan-nya, yang berarti memiliki tanggungjawab yang lebih besar dibanding dengan dahulu ketika mengenyam pendidikan dasar, pertama dan menengah. Oleh karena itu, sudah sepatutnya bagi Mahasiswa untuk mengembangkan dirinya baik didalam maupun luar kelas.

Pernakah berfikir mengapa IP maupun IPK maksimal hanya 4,0? Karena selebihnya mahasiswa sendiri-lah yang harus mencari, menelaah, mengeksplore hal-hal baru dan memikirkan cara untuk meraih keberhasilan yang dapat dicari dengan berbagai hal, yakni melalui kajian literasi, berdiskusi maupun berorganisasi. Hal ini diperkuat dengan sebuah penelitian yang mengemukakan bahwa peran dosen maksimal hanya 20% untuk menunjang keberhasilan mahasiswa-nya. Sehingga belajar didalam kelas saja lalu pulang ke rumah ataupun kos (Mahasiswa Kupu-kupu) merupakan kerugian nyata yang dapat membunuh kreativitas dirinya (read : mahasiswa) secara perlahan.

Penulis sering mengamati mahasiswa yang hanya fokus pada akademiknya, dengan mahasiswa aktivis. Tentu ini berdasar pada pengamatan empirik di Kampus. Untuk menelaah lebih dalam hal itu, saya sering mengajak berdiskusi (apapun itu) dengan mahasiswa aktivis dan mahasiswa akademis dengan memaparkan sebuah persoalan dan saya minta solusi juga pendapat berdasar pada persoalan yang telah saya kemukakan. Ternyata jawaban yang memuaskan (analitik, konkrit, logis, rasional dan bereferensi) lebih banyak saya dapatkan dari mahasiswa aktivis. Tentu aktivis tidak hanya sekedar demo, debat dll. Namun seorang aktivis yang mengimbangi dirinya dengan selalu membaca buku.

Yang menjadi persoalan ialah telah mendarah daging pola pikir (mind set) kalangan akademis dan masyarakat mengenai mahasiswa aktivis yang terkenal dengan “lulusnya lama”, sehingga memandang anak-anak aktivis dengan sebelah mata. Hal ini kongkrit, faktanya memang begitu!.

Penulis pun banyak menjumpai teman-teman aktivis yang lulusnya lama, ingat “bukan berarti mereka bodoh”. Namun mereka hanya ingin menikmati masa-masa menjadi mahasiswa, karena masa-masa mahasiwa merupakan masa yang nikmat dan penuh warna. Ada pula faktor lain, karena mereka beranggapan bahwa “dirinya” belum layak untuk lulus dengan indikator belum banyak buku-buku yang dibaca dan dikuasai. Dari hal ini jelas bahwa mereka mengedepankan aspek “kualitas keilmuan” daripada mengejar angka 3,9 sekian diatas kertas putih. Karena faktanya IPK tinggi itu mudah dicari dengan hanya terus masuk kelas tanpa ada keterangan sakit, izin atau bahkan alfa alias “tidak masuk tanpa keterangan” (saya pastikan nilai-nya 4,0) karena yang menyebabkan seseorang IPK-nya rendah bukan karena faktor intelegensi, namun karena faktor “kehadiran/administratif”. Hal ini tidak bisa diubah, karena sistem yang telah berperan, sehingga secerdas apapun mahasiswa kalau dia tidak pernah masuk kelas jangan harap dapat IPK 3,5. Boro-boro 3,5 dapat 3,0 pun tidak akan pernah. Kalau tak percaya coba saja buktikan.

Dulu lulus SD masuk ke SMP harus mempunyai nilai yang tinggi, begitupula dengan lulus SMA ke PT memerlukan nilai yang tinggi pula, meskipun faktanya nilai saja tidak cukup. Akan tetapi perlu dan harus memiliki sertifikat penghargaan/kejuaraan yang diraih saat di SMA baik dalam bidang akademik maupun non akademik. Begitupula dengan lulus Kuliah, tidak cukup hanya dengan nilai yang baik, akan tetapi yang lebih dari itu ialah harus memiliki nilai plus atau biasa disebut dengan skill komparatif yang salah satunya mempunyai jiwa leadership. Itu yang jauh dibutuhkan untuk masa depan, daripada hanya sekedar IPK tinggi ataupun embel-embel yang lain.

Penulis teringat nasihat dari Prof. Anis Baswedan saat seminar di UGM Yogyakarta tahun 2015 yang lalu bahwa “Kemampuan belajar” menjadi satu kunci, bukan “kemampuan menguasai suatu bidang”. Karena ketika lulus, mahasiswa belum tentu melakukan dan berhadapan dengan bidang yang digelutinya saat masa-masa kuliah. Namun kemampuan dalam belajar akan membuat mahasiswa menjadi pembelajar terus menerus, sehingga mempunyai peluang untuk terus mengembangkan diri dan meningkatkan kontribusi disekelilingnya. Sehingga saat-saat menjadi mahasiswa seperti ini jangan hanya disebut sebagai “masa kuliah nan masa muda semata” namun harus dijadikan sebagai spirit untuk “terus mengembangkan diri secara optimal dan berkelanjutan”. Jika hal ini dilakukan, maka InsyaAllah “jalan kedepan akan jauh lebih lebar, jauh lebih menantang, dan akan menemukan simpul-simpul baru kebahagiaan yang membanggakan termasuk dalam memperluas jaringan”.

Tulisan ini bukan berarti mengesampingkan hal-hal akademik, seperti IPK. Karena faktanya IPK juga penting namun harus diimbangi dengan soft skill dan pengalaman yang lain. Penulis hanya ingin membukakan “sedikit” cakrawala dan paradigma berpikir ala anak-anak aktivis yang seharusnya dipahami oleh kalangan akademis seperti dosen dan masyarakat pada umumnya agar tidak menjustifikasi anak-anak aktivis sebagai mahasiswa yang malas dan terkenal dengan lulus kuliah “lama”. Coba lihat 10-20 tahun yang akan datang, siapa yang lebih banyak berkontribusi nyata untuk Indonesia. Mahasiswa aktivis-kah atau mahasiswa yang hanya “Mencerdaskan dirinya sendiri” yang acuh terhadap realitas sosial?


Penulis: Mukaromah
Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta / Ketua IPPNU Sewon, Bantul, DIY.

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website