Headlines News :
Home » , » Kapitalisasi Pendidikan di Era Milenial

Kapitalisasi Pendidikan di Era Milenial

Written By Pewarta News on Sabtu, 28 April 2018 | 09.13



PEWARTAnews.com -- Indonesia adalah salah satu Negara yang masuk dalam survei Barat yang akan berkembang dalam waktu tidak lama lagi ke depan. Posisi dalam survei tersebut Indonesia masuk dalam urutan ke-4 setelah India. Ada yang mengatakan bahwa Indonesia di tahun 2045 sebagai puncak keemasan ekonominya. Ada juga yang mengatakan dibawah tahun 2045. Jikalau itu terjadi, maka akan ada perkembangan besar dalam dunia pendidikan, budaya, dan sosial dalam masyarakat Indonesia. Gedung-gedung sekolah, kampus dan institusi lain akan menjulang tinggi di berbagai pelosok negeri ini, sehingga membantu dan menopang dari kesenjangan pendidikan saat ini. Tahun 2016 jumlah sekolah negeri maupun swasta di Indonesia hampir 300 ribu unit di seluruh wilayah Indonesia, jumlah tersebut belum lagi ditambah jumlah kampus negeri maupun swasta yang ribuan juga jumlahnya. Tahun 2018 ini menandakan bahwa makin hari negeri kita makin baik dalam membangun fisik institusi pendidikannya.

Tetapi dalam hal ini ada sesuatu yang kurang menurut penulis dalam pelaksanaan pendidikan di era milenial ini yang seharusnya pemerintah kita mengayomi dan mempermudah anak bangsa untuk menempuh pendidikan setinggi-tingginya bukan malah sebaliknya yaitu mempersulit anak negeri untuk menempuh pendidikan, perihalnya seolah pemerintah sudah memberi garis batas antara orang kaya dengan orang miskin, kebanyakan orang kaya bisa masuk di sekolah-sekolah fovorit dan bergengsi yang penuh dengan fasilitas mewah sedangkan orang miskin hanya bisa sekolah di sekolah apa adanya tampa fasilitas memadai kenapa tidak, di sekolah favorit tersebut biayanya mahal dan bahkan selangit yang hanya bisa di jangkau oleh orang-orang kaya dan sangat tidak mungkin di masuki oleh orang-orang miskin yang tidak mampu membayar, ini sangat diskriminasi dalam pendidikan kita yang sangat nyata di depan mata kita.

Disatu sisi pemerintah memberi seluas-luasnya pihak swasta untuk mengelola pendidikan sehingga tidak sedikit sekolah-sekolah dan kampus-kampus swasta yang membludak di pelosok negeri dan efeknya adalah biaya sekolah dan kuliah sangatlah mahal, anak negeripun banyak yang putus sekolah dan kuliah karena mengingat mahalnya biaya sekolah dan kuliah di negeri yang kaya akan alamnya. Ini pertanda bahwa indikasi dari praktek kapitalisasi oleh institusi-institusi pendidikan yang menganggap bahwa pasar terbesar yang bisa maraup rupiah adalah pasar pendidikan, ini terjadi di sekeliling kita dan sudah menjadi idiologi bisnis bahwa pendidikanlah yang bisa menguntungkan diri dan kelompok mereka. Kondisi yang paling menyedihkan lagi adalah para kapitalis ini tidak memikirkan bahwa anak bangsa tidak bisa menjangkau bayaran itu dan berakibat fatal dalam pendidikan mereka, tetapi yang dipikirkan oleh kaum kapitalis hanyalah keuntungan semata dan bagaimana mereka dapat keuntungan besar-besaran dalam pasar pendidikan tersebut.

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional merupakan undang-undang yang secara institusional mengatur sistem pendidikan. Undang-undang tersebut bermakna pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dan sebagainya. Kalau kita berkaca kepada undang-undang tersebut seharusnya kita menegakkan nilai-nilai keadilan dalam menjalankan pendidikan tetapi pada hakikatnya malah sebaliknya. Menurut penulis, kata keadilan adalah kata yang maknanya sama rata sama rasa dalam segala hal termasuk dalam kehidupan sosial. Jadi kita harus berlaku adil baik dalam urusan kecil, lebih-lebih dalam urusan yang besar seperti pendidikan seharusnya tidak ada garis diskriminasi antara yang miskin dan yang kaya untuk menempuh pendidikan di negeri tercinta ini.

Sejatinya tujuan pendidikan Indonesia adalah untuk memanusiakan manusia, tetapi fakta dilapangan pendidikan dijadikan sebagai lahan bisnis bagi para pemegang kebijakan, sehingga dari sekian juta anak-anak di negeri ini hanya sebagian yang bisa melanjutkan pendidikan menuju jenjang yang lebih tinggi, karena mahalnya biaya pendidikan yang di patok oleh pemangku kebijakan baik negeri maupun swasta yang tidak mengenal dan mentolerir anak-anak yang kurang mampu. Akhirnya tidak sedikit dari anak-anak negeri ini menggantungkan cita-citanya kepada harapan belaka yang tidak mungkin lagi di raih dan diperjuangkan. Indonesia adalah Negara yang besar, Negara yang kaya akan alamnya tetapi masih ada anak negeri yang tidak lagi mendapatkan pendidikan yang layak sebagai penentu masa depan mereka.


Penulis: Andri Ardiansyah Al-Bimawy
Mahasiswa Pascasarjana Program Doktor (S3) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website