Headlines News :
Home » , » “Khilaf” Tafsir Kelompok Jihadis Memaknai Jihad Di Bulan Suci Ramadhan

“Khilaf” Tafsir Kelompok Jihadis Memaknai Jihad Di Bulan Suci Ramadhan

Written By Pewarta News on Senin, 30 April 2018 | 03.39

Ilustrasi. Foto: voa-islam.com.
PEWARTAnews.com -- Beberapa hari  menjelang bulan suci Ramadhan tahun lalu masyarakat di hebohkan dengan adanya aksi-aksi teror yang dilakukan oleh kelompok-kelompok teroris dalam skala nasional maupun internasional. Tepatnya senin (22/5/2017), serangan bom bunuh diri menewaskan 22 orang di Menchester Arena (Inggris). Aksi tersebut di lakukan oleh seorang pemuda bernama Salman Abedi (22), di penghujung konser Ariana Grader penyanyi asal Amarika Serikat. (kompas.com, 23/5/2017). Dalam skala nasional beberapa hari setelah serangan di Mencherter Arena, serangan bom bunuh diri terjadi di kampung melayu Jakarta Timur rabu malam (24/5/2017). Dari dua  serangan bom tersebut Islamic State in Iraq and Syria (ISIS) mengklaim sebagai “dalang” di balik aksi-aksi bom bunuh diri tersebut.

Serangan teror dan aksi bom bunuh diri seperti yang terjadi di Menchester Arena dan di kampung Melayu berangkat dari pemahaman terhadap doktrin-doktrin keagamaan secara sempilistik, totalislis dan non-kompromis. Misalnya terhadap doktrin “jihad”, Al-wala’ wal-Bara’ apalagi jika dikawinkan dengan isu ketimpangan sosial ekonomi dan ketidakadilan hukum membuat orang berpemahaman seperti itu tidak bisa bepikir rasional tapi cederung irasional.  Menurut Zuhairi Mursawi, serangan teror bom dengan mambawa nama “Islam” seperti ini, khususnya  dalam dunia Islam modern bermula pada tahun 1998, tatkala pimpinan Al-Qaedah Osama bin Laden mengeluarkan sebuah maklumat, Al-Jabha al-Islamiyyah li al-Jihad ‘ala al-Yahud wa al-Shalibiyyin. Maklumat tersebut berisi fatwa kepada semua kaum muslimin untuk memerangi orang-orang Yahudi dan Kristen dimanapun mereka hidup. Secara khusus Bin Laden menyebutkan AS dan para sekutunya sebagai musuh umat Islam, karena  menurut Bin Laden keterpurukan umat Islam di latar belakangi koloniasasi barat yang beragama Yahudi dan Kristen. Maklumat Bin Laden tersebut berhasil melancarkan serangan ke Dutaan Besar AS di Kenya dan Tanzani pada 1998. Puncaknya, pada tanggal 11 September 2001 maklumat tersebut berhasil menghancurkan menara kembar World Trade Center (WTC) di New York Amerika Serikat .(Zuhairi Mursawi, "Masa depan Timur Tengah dan Globalisasi Terorisme").

 Setelah meredupnya Al-Qaedah muncul kelompok puritan ISIS sebagai antitesa dari Arab Sping (revolusi Arab) yang menyapu negara-negara arab di timur-tengah. ISIS memperjuangkan idiologi yang mereka sebut dengan khilafah yaitu entitas politik pemersatu umat Islam di seluruh dunia yang berpusat di Iraq dan Surya dan membai’at Abu Umar Al-Bagdadi sebagai pemimpin (khalifah). ISIS dalam memperjuangkan idiologinya tidak segan melakukan kekerasan di luar nalar kemanusiaan, bahkan ISIS bertanggung jawab terhadap aksi teror bom yang terjadi di berbagai tempat di beberapa belahan dunia. Misalnya Pada tanggal 23 Juni 2015 Amir ISIS Abu Umar Al Bagdadi mengeluarkan fatwa jihad di bulan Ramadhan. Fatwa tersebut di bacakan oleh juru bicara ISIS Abu Muhamad Adani (Koran Sindo Online, 4/72015). Selang beberapa hari setelah fatwa tersebut, tepatnya pada tanggal 27 Juni 2015 terjadi pengeboman  dan penembakan warga sipil yang terjadi di tiga negara berbeda; Tunisia, Kuwait dan Prancis.

Khilaf Tafsir Kelompok “Jihadis”
Prof. Ach. Minhaji (Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta) dalam tulisan “Jihad di Bulan Ramadhan”. Sejarah awal Islam dimasa nabi Muhammad Saw menjadi rujukan salah kapra” oleh teroris untuk mengmbil legitimasi Ramadhan sebagai bulan jihahd (syahr al-jihad) dan bulan kemenangan (syahr al-fath). Pada masa nabi memang terjadi beberapakali peperangan di bulan ramadhan. Pertama, perang Badar Kubra tanggal 17 Ramadhan tahun kedua hijriah, dimana pasukan Islam yang hanya berjumlah 313 orang berhasil mengalahkan pasukan kafir yang jumlahnya lebih dari 1000 orang. Kedua, penaklukan Mekkah (fathu makkah) pada tahun kedelapan hijriah dilatarbelangi penghianatan orang-orang kafir yang melanggar gencatan senjata pada perjanjian Hudaibiyah.

Dari peristiwa sejarah inilah setidaknya ada tiga hal yang salah dimaknai oleh teroris atau ISIS menurut Ach. Minhaji. Pertama, peperangan pada masa nabi bertujuan untuk membela diri, mempertahankan hak-hak kaum muslimin dari kezaliman dan kejahatan orang-orang kafir. Nabi sama sekali tidak ingin mendakwakan Islam dengan kekerasan, apalagi perang. Perang adalah pilihan yang takterelakan ketika umat Islam harus melindungi hak-haknya dan harga dirinya dari serangan dan serbuan orang kafir. Kedua, perang dalam Islam memiliki adab dan etika yang harus dipatuhi. Diantaranya pasukan Islam dilarang membunuh  rakyat sipil, tidak boleh melukai wanita dan anak-anak, tidak boleh merusak tempat ibadah,  tidak boleh menggangu ekosistem lingkungan seperti merusak tanaman atau membunuh hewan, dan tawanan perang harus dilindungi. Ketiga, perang terbesar dan musuh hakiki umat Islam sesunggunya perang melawan hawa nafsunya, inilah yang dimaksud oleh rasul peperangan besar (jihad akbar)”.

Serangan dan aksi teror bom yang dilakuan ISIS khususnya pada bulan Ramdhan yang membunuh masyarakat sipil, wanita, anak-anak, merusak tempat ibadah dan ekosistem lingkungan hidup bukanlah jihad yang benar dalam Islam dan sangat jauh dari ajaran nabi, akan tetapi justru merusak wajah-wajah Islam di mata dunia. Kekejaman yang di pertontonkan ISIS adalah bukti kegagalan mereka dalam melawan hawa nafsunya sendiri (jihadun-nafsi).

Diakhir tulisan ini, penulis ingin mengigatkan, karena sebentar lagi akan memasuki bulan suci Ramdhan agar aparat keamanan untuk lebih memperketat keamanan (security) supaya masyarakat muslim Indonesia khusuh menjalankan ibadah di bulan suci Ramdhan dan tidak terganggu oleh aksi-aksi bom orang yang tidak bertanggung jawab seperti tahun kemarin.

Referensi:
- Zuhairi Mursawi, "Masa Depan Timur Tengah dan Globalisasi Terorisme", Makalah yang disampaikan pada Seminar Nasional "Peran Indonesia Terhadap Perdamian Timur-Tengah", di Convention Hall UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2016.
- Prof. Ach. Minhaji, "Jihad di Bulan Ramadhan" dan dari berbagai sumber Online.


Penulis: Abdul Ghafur
Ikatan Pelajar Mahasiswa Lambu Yogyakarta (IPMLY)


Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website