Headlines News :
Home » , , » Masalah Selesai Cukup dengan Mencium Tangan Seorang Kiyai

Masalah Selesai Cukup dengan Mencium Tangan Seorang Kiyai

Written By Pewarta News on Jumat, 06 April 2018 | 23.38

PEWARTAnews.com -- Akhir-akhir ini bangsa Indonesia dihebohkan dengan puisi seorang anak dari sang proklamator (Bung Karno) yaitu Sukmawati yang isi puisinya dipandang mayoritas masyarakat Indonesia mengandung sara yakni membandingkan cadar dengan konde dan suara adzan dengan kidung. Akibat hal itu, banyak dari kalangan Muslim bereaksi untuk mengecam isi puisi tersebut karena dinilai menyalahi values Islam. Sikap yang diambil tidak sekedar mengecam Sukmawati, sebagian besar Muslim juga menyuarakan dan menyampaikan kepada pemerintah khususnya dalam hal ini Kepolisian untuk mengusut tuntas masalah yang berisi sara tersebut sehingga tidak menimbulkan kegaduhan dan polemik kepada umat Muslim yang merasa dirugikan atas isi puisi tersebut bahkan sebagian umat Muslim ingin turun ke jalan sekedar ingin mengingatkan pemerintah sebagai pemegang kendali negeri ini untuk mengawal kasus tersebut sehingga umat Muslim pun merasa mendapatkan keadilan dalam derajat hukum.

Dalam kasus Sukmawati ini, banyak orang yang menilai bahwa Sukmawati harusnya tidak membuat sesuatu yang mengarah kepada perpecahan terhadap Bangsa ini dan membuat gaduh di kehidupan sosial masyarakat yang majemuk penduduk, budaya, ras, suku, serta norma. Supaya kehidupan berbangsa dan bernegara kita aman, damai dan rukun dalam selimut kebhinekaan, kita tahu dari Sabang sampai Merauke kita hidup dibawah naungan perbedaan maka tidaklah pantas bagi seorang anak dari sang proklamator (yang memperjuangkan nilai-nilai perbedaan untuk merawat dan menjaga negeri ini) menya’irkan lantunan sya’ir yang bagi umat Muslim adalah penghinaan terhadap agama Islam.  Kita semua adalah generasi bangsa yang cerdas. Cerdas dalam memilih kata, cerdas dalam merangkaikan kata, cerdas dalam melantunkan kata dan cerdas dalam membahasakan kata-kata yang baik dan bijak sehingga orang lainpun merasa senang dengan lantunan kata tersebut.

 Sukmawati dalam sya’irnya juga menyadari bahwa dirinya tidak paham tentang syari’at Islam, dengan begitu seharusnya Sukmawati tidak melakukan apa yang dia belum tahu dan lebih baiknya Sukmawati belajar lebih dulu, belajar lebih banyak dan belajar lebih serius lagi syari’at Islam sehingga bisa menya’irkan dimana letak ketidakelokan tentang syari’at Islam. Di tahun-tahun ini adalah tahun dimana tensi darah rakyat memanas karena belum lepas dari ingatan sebagian besar rakyat Indonesia dengan kasus penistaan agama (Ahok) yang cukup dramatis bagi rakyat ini sehingga menimbulkan demonstrasi di berbagai penjuru negeri ini. Di tambah lagi dengan kasus baru yang wajah dan esensi permasalahannya sama persis dengan kasus sebelumnya yaitu sama-sama menyinggung perasaan sebahagian umat Muslim dengan lantunan sya’ir dan argument yang mengandung penghinaan terhadap agama.

Di tahun-tahun ini pun rentan dan rawan kecelakaan bersikap sehingga menimbulkan multi tafsir dalam menanggapi sikap dan perilaku seseorang karena kita di apit oleh tahun-tahun politik, sehingga apapun boleh salah dan boleh benar, ditambah lagi dengan panasnya politik negeri ini yang kebanyakan orang mudah saja terprovokasi dan memprovokasi sehingga lagi-lagi menimbulkan perpecahan dalam berbangsa dan bernegara, dalam rukun, aman dan tentram. Sejatipun begitu keadaan negeri ini diantara kita tetap masih ada saja yang tidak paham situasi dan kondisi yang begitu rapuh sehingga terjadilah anomali (penyimpangan) dalam bersikap dan berkomunikasi dengan publik sehingga lagi-lagi menimbulkan ketidaknyamanan sebagian rakyat terhadap sebagian yang lain.

Cukuplah sudah persoalan-persoalan yang dulu untuk kita mengambil pelajaran darinya sehingga tidak lagi terjadi di masa mendatang dengan persoalan yang sama, jadikanlah perbedaan itu bagian dari kecantikkan dan keelokan kehidupan bersosial, dan cukuplah masa lalu untuk kita intropeksi diri bukan malah menjadi-jadi seolah menantanng kelompok lain yang berbeda warna dengan kita lalu menjadikan dia instrument (alat) untuk keindahan syai’irmu, seolah sya’irmu adalah sastra yang menggebu-gebu untuk memikat hati para pendengar tanpa melihat sikon dan tanpa memikirkan akibatnya, juga mungkin sya’irmu seolah harganya taktertandingi dan seolah sya’irmu harganya milliaran yang dimana orang tidak lagi bisa menghargakannya saking begitu mahalnya, pikirmu. Tidakkah sang Penyair (Sukmawati) sedikit berpikir cerdas dampak dan efek ketika menyampaikan dan melantunkan sya’irnya itu adalah berakibat fatal dalam kehidupan bersosial dan bermasyarakan di negeri yang majemuk ini.

Sukmawati juga tidak paham keberagaman Indonesia, tidak tahu kekayaan negerinya sendiri dengan banyaknya budaya yang terbentang dengan beragam, lantunan sya’irnya Sukmawati tidak hanya menyinggung perasaan umat Muslim secara umum tetapi juga sudah mencabik-cabik hati masyarakat Bima dan Dompu (Nusa Tenggara Barat) yang memiliki budaya Rimpu (cadar yang menutupi semua badan Muslimah dengan menggunakan Sarung Tenun kerajinan masyarakat Bima-Dompu sendiri) rimpu (cadar) ini sendiri bagi orang Bima-Dompu selain diyakini sebagai budaya nusantara juga diyakini sebagai sebuah syari’at dari Tuhan nya, karena rimpu (cadar/jilbab) itu sendiri adalah bagian dari menjaga kesucian masyarakat Bima-Dompu dalam menjalani kehidupan di negeri ini dan yang jelas masyarakat Bima-Dompu tidak menerima ketika ada segelintir orang yang ingin mengadu-domba negeri ini dengan menyinggung budaya mereka sendiri.

Tapi betapa mengejutkan kita dengan melihat beberapa waktu lalu sang penya’ir (Sukmawati) itu duduk bersama dengan seorang ulama dalam menyampaikan perihalnya meminta ma'af kepada umat Islam kepada awak media, setelah memberikan perihalnya kepada media sang penya’ir lalu mendekati ulama tersebut kemudian mencium tangan ulama mungkin sebagai tanda permintaan ma'afnya. Sependek dan sesingkat itukah tragedi yang di hadapi oleh sang penya’ir yang melukai hati umat Muslim tanpa di hukum sesuai hukum Negara kita yang berlaku yang jelas-jelas terpampang di dalam undang-undang Negara Kesatuan Republik Indonesia ini.

Menurut analisa penulis persoalan sang penya’ir ini adalah sebuah tragedi pema'afan tanpa balas jasa. Dengan begitu suatu sa'at suara sang penya’ir mungkin akan kembali dengan raungan yang begitu kencang yang memenuhi ruang-ruang jiwa umat dan kembali menyakiti lagi, penulis merasa bahwa kita hidup di negeri yang sama, di atur oleh pemerintahan yang sama dan di bawah hukum dan Undang-Undang yang sama, lalu haruskah umat Muslim terus bersuara baru ada kata keadilan.


Penulis: Andri Ardiansyah
Mahasiswa Pascasarjana Program Doktor (S3) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayahtullah Jakarta

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website