Headlines News :
Home » , » Pendidikan yang Menghidupkan

Pendidikan yang Menghidupkan

Written By Pewarta News on Rabu, 18 April 2018 | 02.30

Mukaromah (berkacamata) usain melakukan proses belajar mengajar.
PEWARTAnews.com – Pendidikan merupakan suatu hal yang urgent dan mempengaruhi masa depan suatu bangsa. Maju mundurnya bangsa dapat dilihat dari seberapa berkualitas pendidikannya. Jika warga negara mayoritas orang-orangnya berpendidikan dan mempunyai kesadaran untuk belajar, maka bangsa tersebut akan maju. Namun sebaliknya, jika kualitas dan tingkat pendidikan warga negara rendah, maka negara tersebut sulit untuk maju dan sulit bersaing dengan warga negara yang lain. Betapapun itu, pendidikan merupakan kunci mata rantai yang turut ikut andil dalam memajukan bangsa dan negara. Sebagai contoh, ketika tentara sekutu menyerang Jepang dan melakukan pengeboman di kota Nagasaki dan Hirosima hingga pada akhirnya menewaskan jutaan orang, hal yang pertama kali ditanyakan oleh Kaisar adalah berapa banyak “guru” yang masih hidup. Mengapa tidak bertanya berapa jumlah doktor, insinyur, pegawai bank, tentara, polisi yang masih hidup, namun menanyakan jumlah guru yang masih hidup? Tak lain guru memegang kunci dalam membangun peradaban suatu bangsa. Adanya kaisar, insinyur, tentara, polisi karena adanya guru. Sehingga wajar jika Kaisar bertanya berapa jumlah guru yang masih ada, karena ditangan guru-lah peradaban akan dibangun kembali.

Dalam sejarah dunia, kita mengenal Thomas Alfa Edison. Seorang tokoh yang menemukan bola lampu dunia yang telah menggunakan 999 cara sebelum ia berhasil menemukan bola lampu yang saat ini dapat kita nikmati manfaatnya. Thomas mempunyai kegigihan dan semangat yang menggelora untuk membuktikan kepada guru-nya bahwa ia anak yang hebat. Karena sebelum itu, guru-nya telah menyerahkan dirinya (drop out) kepada ibunya dengan alasan Thomas anak yang bodoh. Sejak saat itulah ibunya mendidik dan mengajarinya dengan penuh kasih sayang dan bi tarbiyatin hasanatin.

Pada saat itu, Thomas berkata kepada ibunya, “Ibu, mengapa sekarang aku tidak sekolah, seperti teman-teman ku”? Ibunya berkata “Nak, gurumu sudah tidak bisa lagi mendidikmu karena kamu anak yang CERDAS, sehingga mulai sekarang ibu lah yang akan mendidikmu langsung karena ibu yang melahirkan kamu sehingga tuangkan kecerdasanmu itu dalam melakukan percobaan dan eksperimen ya”. Disaat yang seperti ini, ibunya terus meyakinkan dan selalu berkata bahwa Thomas merupakan anak yang cerdas. Hal ini sangat penting untuk dikatakan, karena ucapan (read: pujian) merupakan salah satu bentuk motivasi yang dapat membuat orang menjadi lebih semangat dan percaya diri dalam mewujudkan cita-cita dan keinginannya.

Dengan intangible capital (modal tidak kasat mata yang berbentuk niat, tekad, gigih dan semangat) akhirnya Thomas berhasil membuat bola lampu dunia. Thomas Alfa Edison merupakan salah satu contoh diantara banyak tokoh lainnya yang berhasil dan sukses tanpa melalui jalur pendidikan formal. Namun ia selalu menggali, mengasah dan mengembangkan skill dan kompetensi nya sebagai manifestasi atas rasa syukur kepada Tuhan-nya. Tak hanya Thomas, ilmuan seperti Albert Einstein Benjamin Franklin, Isaac Newton, Charles Darwin pun orang hebat yang sukses tanpa melalui jalur pendidikan formal.

Meski ada orang yang beranggapan bahwa tanpa guru, ternyata bisa sukses. Penulis merasa kurang setuju dengan argumen ini. Karena Penulis yakin, setiap orang mempunyai ilmu, terlepas dari kadarnya seberapa. Dan ilmu tidak hanya disampaikan dengan pembelajaran yang formal, namun dapat disampaikan dengan cara-cara lain seperti sharing, bercengkrama dan berdiskusi. Hal ini lah yang “mematahkan” argumen pertama bahwa orang bisa sukses tanpa guru. Karena faktanya, setiap orang adalah “guru”. Itulah mengapa Ali Bin Abi Thalib berkata bahwa beliau merupakan hamba dari seorang yang mengajari-nya walau satu huruf.

Meskipun Thomas, Darwin, Isaac Newton dll sukses meski tidak melalui jalur pendidikan formal, bukan berarti mereka tidak membutuhkan seorang guru. Siapapun yang mereka jumpai dan membimbing serta mendidik mereka itulah gurunya, meskipun berstatus ibu-nya. Sehingga penulis rasa, di dunia ini tidak ada satu orang pun yang berhasil tanpa bimbingan dari seorang guru. Meskipun terkadang guru lah yang menghambat daya kreatifitas anak didiknya, sebagai contoh membatasi kreatifitas siswa dalam menulis makalah atau paper dengan memberikan batas maksimal halaman. Mungkin disisi lain guru ingin membaca pokok-pokoknya saja, dan mengajak siswa untuk berpikir to the point.

Berpendidikan saja tidak cukup, namun juga harus diimbangi dengan terus self continous improvement. Mengasah dan menggali sofskill juga hardskill. Itulah sebabnya hakikat dari belajar ialah perubahan tingkah laku yang menyebabkan seseorang sadar akan sesuatu yang dilakukannya. Melakukan sesuatu dengan penuh kesadaran, keoptimisan serta penuh tanggungjawab dengan disertai niat dan kemauan untuk lebih baik dari sebelumnya. Oleh karenanya, orang yang mengasah intelektual dengan belajar seharusnya juga menumbuhkan sifat emosional dalam dirinya yang berarti paham dan mampu memahami realita sosial dan masyarakat yang kemudian dimanifestasikan dengan akhlaq yang baik dan benar, yakni dengan memanusiakan manusia secara manusiawi. Karena pada hakikatnya, haruslah sinergi antara IQ, EQ, dan SQ. Ketika seorang peka terhadap realita sosial, maka akan menambah rasa cinta pada Rabb yang telah menganugrahkan nafas hidup untuk nya (aspek spiritual). Akibat seperti inilah puncak tertinggi dari belajar, dimana seseorang mampu mengenal Tuhannya setelah ia mengenal dirinya sendiri dan orang lain. Sehingga ia mampu menemukan cahaya suci nan indah yang dapat menuntunnya ke jalan yang haqqul abadi. (min adzulumaati ilannuur) dari yang tidak tau apa-apa menjadi dikit demi sedikit tau, paham dan mengerti eksistensi dirinya sebagai 'ibad yang menghambakan diri kepada-Nya sekaligus sebagai khalifatullah fil ardi yang mempunyai peran dan tanggungjawab hidup untuk memaknai kehidupan serta merealisasikan visi misi hidupnya.

Pendidik yang baik nan hebat tidak hanya transfer of knowledge namun juga transfer of value yakni dengan menanamkan nilai-nilai karakter, inspirasi dan motivasi kepada peserta didik agar mereka memiliki kepercayaan diri dan optimis dalam menatap masa depan.

Terakhir, Penulis menukilkan pesan hikmah dari Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M.Ag., bahwasannya beliau berucap, "Guru dan orangtua merupakan orang yang membimbing murid dan anak-anaknya untuk menemukan rencana Tuhan bagi dirinya".

Khairukum man ta'allamal Qur'an, ta'allamal 'ulum, wa 'allamahumaa.


Penulis: Mukaromah
Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta


Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website