Headlines News :
Home » , , » Sebuah Kajian Menyoal Multitafsir Puisi Sukmawati

Sebuah Kajian Menyoal Multitafsir Puisi Sukmawati

Written By Pewarta News on Minggu, 22 April 2018 | 22.51

“Jika teriakanmu tidak didengar orang lain, maka teriaklah lewat TULISAN” (Tan Malaka)

PEWARTAnews.com – Kali ini saya ingin mengulas hasil diskusi Komunitas Dialektika LARIS dengan Tema “Multitafsir Puisi Sukmawati” yang diselenggarkan pada hari Kamis, 5 April 2018, Lt.2 FITK UIN Sunan Kalijaga, dengan berdasar pada opini teman-teman diskusi. Diskusi ini dihadiri oleh saya sendiri (Penulis), Bintan, Karina, Totu, Zaenal, Zainal Arifin/Ipin, Nindi, Dewi, Shiffu, Bayu, Ilyas dan Romdhoni. Opini dapat dikatakan sebagai pendapat yang didasari dengan argumen yang logis, rasional dan empirik. Tak ayal, banyak orang yang menyebut opini dengan hasil pemikiran otaknya. Dengan demikian, opini sifatnya subjektif yang tidak bisa digeneralisasikan/disamakan dengan pemikiran orang lain. Bisa jadi antara satu orang dengan yang lain pun berbeda-beda dalam melihat suatu hal.

Dekat-dekat ini Indonesia dihebohkan dengan hotnews yang mampu mengalihkan isu nasional yakni terkait dengan kontroversi puisi Ibu Sukmawati yang mengandung pro dan kontra di masyarakat. Sejumlah organisasi keagamaan-kemasyarakatan dan partai politik pun mengeluarkan surat dan himbauan kepada masyarakat untuk tetap tenang dan tetap menjaga persatuan dan kesatuan agar tidak semakin membuat suasana menjadi panas. Berkenaan dengan hal itu, (sebagian) mahasiswa di kampus menjadikan isu aktual itu sebagai bahan diskusi menarik untuk diperbincangkan, tak terkecuali oleh Komunitas Dialektika LARIS dibawah naungan PAI yang mayoritas anggotanya adalah angkatan 2015 (Sekarang semester 6).

Dari hasil diskusi tersebut dapat disimpulkan bahwa Masyarakat Indonesia itu terlalu “sepaneng” dalam beragama. Menurut kami, tidak ada yang salah dari teks puisi yang dibacakan oleh Bu Sukma. Karena puisi merupakan karya sastra yang bebas, penuh dengan majaz dan merupakan manifestasi dari luapan emosi si Penulis. Sehingga yang mengetahui “hakikat substansi” dari sebuah penciptaan karya/tulisan ialah yang menulisnya, dan yang meng-interpretasi adalah si pembaca. Dengan demikian, tidak ada yang salah. Karena puisi tidak bisa diadili, yang ada hanyalah estetika. Puisi mengandung kata-kata bermajaz. Dulu ketika pelajaran Bahasa Indonesia dikenal ada majaz hiperbola, personifikasi, metofora dll. Persoalannya adalah tidak banyak masyarakat Indonesia yang mengetahui itu lebih dalam, karena hanya melihat pada yang terlihat/tekstual.

Sebagai contoh, manusia mudah menyimpulkan dan menilai sesuatu berdasar pada apa yang dilihat, atau apa yang didengar dan apa yang dibaca. Apa yang terlihat, itulah kesimpulannya. Faktanya begitu, kan. Meski kita tahu, bahwa melihat sesuatu yang hanya terlihat “luar nya” saja tidak baik. Namun lihatlah dari berbagai perspektif, dari berbagai sudut pandang. Sehingga pemahaman real dan komprehensif meski tidak 100% obyektif, karena sifat manusia adalah nisbi. Hal ini jika dihubungkan dengan sebuah tulisan (karya sastra) jangan hanya terfokus pada tekstual-nya saja, namun lihatlah substansinya dan bawa teks itu pada konteksnya. Untuk memahami itu, perlu pendekatan historis, sosiologis, fenomenologis dan estetika.

Dengan pendekatan historis, Bu Sukma membacakan puisi tersebut saat dalam acara “Anne Avantie Berkarya” di Indonesia Fashion Week 2018. Jelas, terkait dengan budaya baik pakaian maupun hal-hal yang berkenaan dengan identitas negara. Wajar kalau beliau menaruh perhatian yang lebih terhadap budaya Indonesia, yakni konde dan kidung ibu Pertiwi. Persoalannya kini ada di bait “Tak tau syariat Islam, suara adzan dan cadar” (mengkomparasikan antara konde dengan cadar, antara kidung ibu pertiwi dengan suara adzan serta membawa-bawa nama Islam).

Hal tersebut jika dikorelasikan dengan fenomenologi memang nyata adanya. Cadar kini dianggap sebagai syariat Islam, padahal jelas Al-Qur’an hanya meyuruh untuk menutup aurat. Sedangkan konde merupakan budaya asli Indonesia, dengan begitu substansi puisi tersebut ialah mengajak masyarakat Indonesia untuk “mencintai budaya-nya, bukan malah Arabisasi. Lalu terkait dengan membawa-bawa nama Islam, ini bermakna “agama Islam yang dianut oleh kaum muslim” atau islam yang speerti apa maksud ibu Sukma? Karena menurut kami, Islam itu Universal. Islam bermakna tunduk, taat, patuh terhadap perintah Tuhan Yang Maha Esa. Meminjam kata Nurcholish Madjid, Agama apapun di dunia ini yang “mengajarkan” tunduk, taat dan patuh kepada Tuhan Yang Maha Esa dapat disebut sebagai Islam. Sehingga makna Islam dalam puisi tersebut dapat dimaknai sebagai agama-agama di Indonesia yang mengajarkan ketaatan dan ketundukan epada Tuhan YME, tanpa dibatasi hanya agama Islam semata. Arti Islam dalam puisi Ibu Sukma dapat juga dimaknai Indonesia ini merupakan negara yang terdiri dari berbagai macam agama, namun yang terlihat hanyalah agama Islam semata. Oleh karenanya, tetaplah jaga persatuan dan kesatuan antar agama sebagai upaya untuk membangun stabilitas nasional dan pembangunan bangsa. Jadikanlah Islam yang rahmatan lil ‘alamin, yang melindungi kaum “minoritas” dan memberikan peluang dan kesempatan yang sama untuk berkancah dalam ranah publik dengan dasar Hak Asasi Manusia (HAM) dan egality.

Solusi yang ditawarkan dalam diskusi ini ialah bagaimana memberikan edukasi sastra kepada peserta didik. Selama ini materi pelajaran bahasa Indonesia hanya seputar ide pokok, kesimpulan, kata baku, membuat kalimat yang memahamkan orang namun sangat kurang dalam menginterpretasi karya sastra yang berbentuk satir. Implikasinya adalah mudah menyimpulkan sesuatu yang literlek/tekstual.

Ayolah beragama jangan sepaneng, jangan “fanatik yang berlebihan” (ingat dalam tanda kutip) dan marilah melihat sesuatu lebih dalam. Jangan gumunan dan mudah menjudge sesuatu kalau belum menganlisis lebih dalam.

Akhir kata dari Penulis, mohon maaf jika tulisan sederhanana ini (ulasan dari diskusi yang bersumber dari hasil pemikiran teman-teman diskusi LARIS) tidak berkenan dihati pembaca. Perlu diketahui, bahwa kami adalah orang-orang yang “santai” alias nggak sepaneng dalam beragama dan memahami agama secara universal meski mayoritas jebolan dari pesantren. Kalau tidak setuju, silahkan debat dengan tulisan jangan jotos-jotosan, yang penting sedulur kabeh yo.


Penulis: Mukaromah
Mahasiswi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta


Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website