Headlines News :

    Follow Kami di Twitter

    Cari Berita / Artikel disini

    Arsip Web

    Like Fun Page Kami

    Puisi dan Mudik

    Eka Ilham, M.Si.
    PEWARTAnews.com – Puisi adalah ungkapan kebahagian dan kebenaran yang mewakili setiap penulis dan penyair. Bagaimana puisi bukan hanya sekedar berkata kata namun puisi juga berpotensial untuk hadir secara filosofis. Kekuatan kata dan pilihan kata dapat mengena di hati, akan menancapkan memori kerinduan yang kuat. Kata-kata yang dipilih di ucapkan ataupun disampaikan dengan jujur, tulus, dan diniatkan sungguh-sungguh maka kata akan menjadi sugesti yang mampu mempengaruhi sikap dan prilaku. Sebuah kerinduan akan kampung halaman melahirkan tradisi mudik di saat bulan ramadhan tidak dapat dibendung lagi kerinduan itu. Melalui kata-kata melahirkan sebuah puisi yang hidup dengan diksi yang indah mewakili setiap doa-doa orang mudik yang berbunyi:

    Doa-Doa Orang Mudik 

    Semoga yang dalam perjalanan selamat sampai tujuan
    Bertemu dengan ayah dan ibunya
    Semoga yang dalam perjalanan bertemu kembali dengan saudara dan keluarga
    Semoga yang dalam perjalanan meraih kemenangan
    Semoga yang tertinggal di rantauan menitipkan doa dan rindu untuk semuanya

    Bima, 3 Juli 2016


    Dari Kumpulan Puisi Kesaksian

    Kata 'mudik' bukan sesuatu yang asing di negeri ini. Mendengar kata mudik  akan tersemat sebuah makna kerinduan pada kampung halaman, silaturahim antara sanak saudara, keluarga, sahabat dan orang tua. Maka bukan suatu hal yang aneh jika negeri ini memiliki tradisi mudik. Mereka rela berdesak-desakan mengantri tiket, berpanas-panasan di jalan, perjalanan yang menghabiskan energi dan materi hanya untuk bertemu dengan keluarga di kampung halamannya. Betapa tradisi mudik telah mengakar di negeri ini, nyaris kebiasaan ini merupakan upacara kemenangan di bulan penuh berkah. Menghadapi fenomena ini, penyair memiliki cara sendiri dalam mengungkapkannya melalui puisi "doa-doa orang mudik". Apa yang dilakukan oleh penyair menulis puisi-puisi bertemakan tradisi mudik dan sebagainya yang berhubungan dengan bulan ramadhan, pada dasarnya merupakan cara ungkapan dari kebaikan di bulan penuh berkah ini. Semangat silaturahim di wakili melalui tradisi mudik yang akan terus menjadi budaya bagi bangsa ini. Di sinilah peran karya sastra berupa puisi sebagai alat ampuh untuk mengungkapkan kerinduan akan kampung halamannya. Dengan membaca puisi di atas dapat mengobati kerinduan terutama bagi saudara-saudara se imanku yang ada di tanah rantauan.


    Penulis: Eka Ilham, M.Si.
    Ketua Umum Serikat Guru Indonesia (SGI) Kabupaten Bima

    Menyapa Sangiang Wera Bima dari Sisi Kearifan Lokal Masyarakatnya

    PEWARTAnews.com -- Di bawah sinar matahari menjelang senja, penulis menyaksikan betapa indahnya karya cipta Tuhan yang maha seni. Panorama alam sore ditepi laut gunung Sangiang Wera membuatku semakin terkagum akan tanah kelahiran istriku. Sinar matahari begitu malu-malu dan manja dibalik gunung Sangiang. Seakan-akan berbicara kepadaku bahwa ia ingin bersantai karena lelah melihat para nelayan yang bergelut dengan ombak keseharian dalam kehidupan mereka. Matahari keluar dari peraduannya, menyingkap selimut awannya, menebarkan senyum manisnya kepada semua makhluk dan benda sekitarnya. Seakan gunung Sangiang dan desiran ombak laut Sangiang ingin sekedar menyapaku dengan secangkir kopi manis ditepi laut. Dari ujung pinggiran laut, aku melihat para nelayan berjalan ke arah perahunya untuk kembali mengais rezeki di tengah laut. Berharap ada ikan-ikan segar untuk dijual pada para penikmat ikan segar. Inilah saat-saat yang paling indah dalam mengisi liburanku di rumah mertuaku di ujung timur Kabupaten Bima Nusa Tenggara Barat. Dibalik kemegahan gunung Sangiang ada sebuah misteri yang belum terungkap, ada sejuta cerita turun temurun yang diwariskan oleh para leluhur di kaki gunung Sangiang. Cerita tersebut sampai generasi-ke generasi masih dapat dinikmati dari tutur bahasa.

    Konon ada sebuah cerita tentang Ompu Sinta dan Wai Sinta, mereka melahirkan anak perempuan yang bernama La Sinta. La Sinta adalah gadis yang seperti bidadari yang turun dari kayangan. Karena kecantikannya La Sinta di sukai oleh makhluk-makhluk gaib sebangsa jin dan pada akhirnya konon La Sinta menghilang tampa jejak, ada yang mengatakan bahwa La Sinta di bawa menikah sebangsa jin. Oleh masyarakat Sangiang mempercayai bahwa Ompu Sinta dan Wai Sinta adalah penjaga kampungnya mereka. Menurut cerita masyarakat konon di gunung Sangiang hanya bisa ditanami gandum, wijen dan jewawo 'witir'. Dilarang menanam padi, beternak sapi dan kerbau. Namun seiring dengan waktu masyarakat Sangiang tidak berpatok pada cerita tersebut. Bahkan saat ini kerbau dan sapi terbanyak untuk beternak ada pada gunung Sangiang.

    Pada masyarakat Sangiang dalam kesehariannya memiliki kebiasaan "Mama Nahi" memakan daun sirih yang dicampur dengan buah pinang "U'a" dan tembakau. Kebiasaan memakan daun sirih ini mempunyai sejarah sendiri pada masa penjajahan belanda. Konon pada masa penjajahan belanda, para penjajah ini kapal-kapalnya sering mampir atau bertandang di pulau Sangiang. Oleh karena itu untuk melindungi kehormatan bagi para wanita Sangiang, mereka memakan sirih dengan alasan apabila gigi mereka merah dan bercampur dengan tembakau para penjajah belanda tersebut tidak akan mendekati para wanita Sangiang tersebut. Karena nampak tidak bersih dan bau sehingga belanda-belanda tidak berani mengganggu. Wanita Sangiang pada saat itu mampu menjaga kehormatan dirinya dari tangan penjajah. Kebiasaan memakan sirih sampai hari ini kita temukan di masyarakat Sangiang.

    Para wanita Sangiang wajib memakai sarung nggoli "Senggentu Tembe" sebagai wujud kepatuhan mereka pada tradisi dan perintah agama Islam. Pada saat itu setiap wanita Sangiang harus bisa menenun, sehingga disetiap rumah memiliki banyak sarung nggoli sebagai prasyarat antar mahar. Sarung nggoli dibagi menjadi beberapa macam. Pertama sarung nggoli untuk dipakai keseharian. Kedua sarung glendo yang dimana benang tenunannya agak kasar, ini disajikan pada saat antar mahar dan acara-acara budaya. Ketiga sarung hitam Sangiang "Tembe mee Sangiang" sarung ini dipakai pada acara-acara kesultanan oleh para penari menyambut kedatangan raja/sultan dan dipakai oleh para penari pada saat acara pernikahan. Keempat sarung Weri "Tembe Weri" untuk mengafani jenazah jenis sarungnya benang yang berwarna putih. Kelima sarung gelia "Tembe glendo dan galia" jenis benangnya kasar diperuntukkan untuk acara lamaran.

    Pada prosesi meminang wanita yang dijadikan istri melewati banyak proses tidak semudah pernikahan didaerah lain. Kearifan lokal ini masih tumbuh dan berkembang di masyarakat Sangiang Wera. Pertama proses "Sodi Ntaru" artinya gadis ini belum ada yang memiliki oleh orang lain, pihak dari laki-laki mengirim utusan untuk menanyakan kepada pihak keluarga perempuan untuk memastikan wanita tersebut belum ada yang memiliki. Setelah mendapat jawaban dari pihak laki-laki baru masuk pada tahap kedua yaitu "Mai Kai" mendatangi pihak keluarga perempuan dimana tujuannya untuk siap untuk dilamar. Ketiga "Pita Nggahi" memastikan untuk bertunangan apa yang telah disepakati dan dibicarakan. Keempat "Sodi Angi" bertunangan pra lamaran. Kelima "Ka'deni Ma'doo" istilahnya mendekatkan yang jauh untuk persiapan pernikahan. Keenam "Nuntu Coi" kesepakatan mahar ini dibicarakan oleh utusan kedua keluarga. Ketujuh "Pamaco" menentukan agenda pernikahan dan membentuk panitia.


    Penulis: Eka Ilham, M.Si.
    Ketua Umum Serikat Guru Indonesia Kabupaten Bima

    Menjadi Mahasiswa yang Produktif

    Ilustrasi mahasiswa menulis. Foto: okezone.com.
    PEWARTAnews.com -- Menjadi seorang mahasiswa itu bukanlah sesuatu yang mudah. Di pundaknya terdapat setumpuk beban. Sebagai agen perubahan, juga sebagai generasi penerus masa depan suatu bangsa, adalah amanat yang begitu besar. Tak begitu mudah mengemban itu.

    Barangkali, sebagian besar di antara kita sudah barang tentu tahu bahwa mahasiswa juga amat lekat dengan yang namanya dunia organisasi. Kata guru saya dulu, mahasiswa tanpa berorganisasi itu hampa terasa. Idealnya, bahwa mahasiswa itu harus mau berorganisasi, demi mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya.

    Tak bisa dielak juga, bahwa mahasiswa erat hubungannya dengan persoalan unjuk rasa (demonstrasi). Persoalan yang satu ini, hampir kita cium aromanya tiap hari di kampus, khususnya di bumi Indonesia ini. Di berita-berita lokal (baik yang ditampilkan di media elektronik, cetak maupun online), hampir tiap hari, kita disuguhkan dengan unjuk rasa mahasiswa. Menuntut ini dan itu. Tentu, sebagai penyambung lidah rakyat dan aspirasi masyarakat, ini harus kita hargai dan acungi jempol. Asalkan, hal demikian dilakukan dengan cara yang baik dan memberi dampak positif.

    Namun, kesemua hal yang saya sebutkan di atas, merupakan hal yang biasa saja. Saya katakan “biasa” karena memang seperti itulah yang terjadi di dunia mahasiwa kita, yaitu “berorganisasi” dan “berunjuk rasa.” Kedua hal tersebut, rasanya agak susah dipisahkan dari pribadi yang bernama mahasiswa. Saya sendiri pun merasakan hal yang demikian.

    Di era milenial dan teknologi canggih kini, ada satu hal yang barangkali dilupakan oleh sebagian besar kalangan mahasiswa. Perihal yang dimaksud adalah aktivitas menulis. Tak banyak mahasiswa yang begitu peduli dengan persoalan “menulis.” Padahal, aktivitas yang satu ini begitu besar kontribusi dan efek sampingnya. Namun, lagi dan lagi, tak banyak yang peduli dengan hal ini. Kita boleh meninjau langsung dari kampus ke kampus, kira-kira berapa persentase mahasiswa yang mencoba berbagi dan memperjuangkan sesuatu lewat aksara. Dan, bandingkan dengan kedua aktivitas yang saya sebut sebelumnya.

    Menurut Asma Nadia (salah satu penulis produktif Indonesia), menulis itu merupakan kegiatan yang produktif daripada berunjuk rasa. Dibanding dengan unjuk rasa (demonstrasi) yang belum tentu didengar orang mengenai aspirasinya, tulisan yang dituangkan dalam bentuk buku atau dimuat di media cetak dan/atau media online, akan lebih banyak orang yang peduli, yaitu dengan membacanya. Apalagi di era gawai kini, dalam hitungan detik, seseorang mampu mengetahui beragam tulisan yang ditampilkan oleh media tertentu maupun perorangan. Artinya, peluang menyampaikan sesuatu lewat tulisan itu adalah perlu dicoba oleh rekan-rekan mahasiswa. Dan, kalau bisa dibiasakan.

    Ya, seorang mahasiswa tak boleh hanya bergelut dan berkutat di dunia organisasi saja. Juga, tak sekadar melakukan unjuk rasa semata. Cobalah untuk melakukan sesuatu yang berbeda (tanpa meniadakan kedua hal itu), yaitu lewat tulisan. Saya rasa, hal yang satu ini jauh lebih efektif dan produktif. Kita bisa mengisi kolom dan rubrik di beragam surat kabar. Atau, mungkin sekadar menuliskannya, kemudian dibagikan melalui linimasa Facebook dan beragam aplikasi lainnya. Lebih bagus lagi, jika mampu diabadikan lewat buku. Sehingga, beragam pengalaman, pengetahuan, ide, dan gagasan yang ingin disampaikan bisa menjadi sesuatu yang lebih bermakna dan dikenang di kemudian hari.

    Seorang mahasiswa perlu membiasakan diri untuk menulis. Dengan begitu, secara tak langsung akan menuntun kita untuk membaca, membaca, dan membaca. Sehingga, beragam persoalan yang terjadi di masyarakat, setidaknya bisa kita carikan jalan keluarnya. Kemudian, solusinya itu bisa kita sampaikan lewat tulisan, salah satunya. Pada akhirnya, bisa diketahui oleh banyak orang, tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu.

    Oleh karena itu, sudah saatnya mahasiswa yang hidup di era kontemporer dan zaman digital kini mampu berkontribusi atau menyampaikan sesuatu lewat tulisan. Percayalah, ini akan jauh lebih produktif. Ikatlah segala macam pengalaman, pengetahuan, ide, dan gagasan yang diperoleh di dunia organisasi, kampus, dan masyarakat. Urai itu semua menjadi tulisan demi tulisan. Bagikan melalui media online, media cetak, dan/atau jenis lainnya. Lakukanlah mulai dari sekarang juga. Buka mata hati kita, ubah mindset kita, cobalah untuk melewati jalan sunyi tersebut.

    Wallahu a’lam.


    Penulis: Gunawan
    Pemuda Produktif asal Dompu NTB

    Strategi Pembelajaran Kelas Puisi Menyenangkan di Sekolah

    PEWARTAnews.com -- Pembelajaran puisi merupakan bagian dari pembelajaran Bahasa Indonesia, yang dalam pelaksanaan pembelajarannya tidak dipisahkan, namun dilaksanakan secara itegratif. Harapan dalam pelaksanaan tersebut, dimaksudkan agar pembelajaran dapat mencapai tujuan yang menyenangkan yaitu siswa dapat meningkatkan keterampilan berbahasa, berekspresi, dan mengambil moral values melalui karya puisi.

    Pembelajaran puisi mempunyai banyak komponen, salah satunya adalah tujuan. Upaya untuk mencapai tujuan tersebut seorang guru puisi hendaklah dapat mempraktekkan sendiri dan menulis sendiri karya-karya puisi dan meningkatkan efektivitas pembelajarannya, yakni penguasaan kurikulum sesuai dengan kondisi peserta didiknya dan pemilihan metode yang menyenangkan bagi murid-murid kelas puisi. Hal tersebut dapat dilakukan melalui teknik pembelajaran puisi yang menarik, menyenangkan, mencerdaskan, dan sekaligus menghaluskan budi. Contoh tekniknya pembelajaran kelas puisi melalui latihan dasar olah vokal, olah karakter, olah indra serta pembacaan puisi. Pemberian puisi hendaklah memenuhi karakter peserta didik, lingkungan, usia dan minat. Dengan demikian diharapkan dapat dicapai pembelajaran kelas puisi yang menarik dan bermakna. Guru puisi yang baik harus mampu menjadi actor dan sutradara yang baik bagi kelas puisinya agar dapat menyenangkan bagi para muridnya.

    Namun, fakta di lapangan pada pelaksanaan pembelajaran puisi disekolah bukan menjadi hal yang di unggulkan tetapi hanya sekedar pelengkap untuk memenuhi prestise sekolah pada setiap perlombaan, padahal sesungguhnya itu bukan tujuan dari kelas puisi. Hal ini di sebabkan kurang berminatnya sekolah, siswa ataupun guru. Pemahaman dan ketrampilan kreativitas guru dalam memahami sebuah karya sastra puisi sangat minim karena pengalaman dan keilmuan di bidang puisi hanya sebatas pemaparan teoritis dalam buku tidak sejalan dalam praktek kelas puisinya. Guru hendaklah mempunyai keberanian mencoba dengan cara yang positif untuk melakukannya. Dengan kata lain pembelajaran karya sastra puisi masih mengalami hambatan. Oleh karena itu, pelaksanaan pembelajaran karya sastra puisi diakui banyak orang masih belum memberikan hasil yang memuaskan. Salah satu cara untuk mengatasi hal tersebut adalah yang menyangkut faktor guru. Sebagai pengajar karya sastra puisi, guru haruslah menunjukkan minat, penguasaan, ketrampilan dan kreativitas, serta dengan cara-cara yang bukan hanya menarik namun, juga mencerdaskan, menyenangkan dan dapat menghaluskan budi.

    Mengajar karya sastra puisi pada hakikatnya adalah memciptakan kondisi yang bersifat menyenangkan yang memungkinkan siswa tidak kaku dalam prosesy pembelajaran. Kemampuan seorang guru dalam mengarahkan minat dan bakat siswa adalah yang utama. Menghilangkan rasa malu dan takut merupakan langkah awal dalam pembelajaran kelas puisi. Dengan jalan membangun kepercayaan siswa. Proses kreativitas, aktivitas dan pengalaman siswa berlangsung secara alamiah.

    Kealamihan berlangsungnya pembelajaran tersebut dimaksudkan agar dalam proses membaca puisi tidak terlalu kaku, namun dapat dilakukan secara fleksibel dan dapat memberikan nilai-nilai energi positif bagi siswa. Untuk itu hendaklah model kelas puisinya dapat dilakukan dengan cara guru mempraktekkan, menjelaskan pesan dari puisi untuk di ekspresikan oleh siswanya dengan cara memberi contoh yang tepat dalam membacakan sebuah karya sastra puisi. Pembelajaran membaca puisi hendaklah memahami aspek kosakata, kalimat, vokal, gesture tubuh dan bermain peran. Misalnya siswa disuruh membaca, menceritakan maksud dari puisi tersebut di depan kelas puisi, yang kemudian mereka mampu mengekspresikan setiap kata dan kalimat puisi sehingga menghasilkan sebuah puisi yang ruhnya hidup dan bermakna.

    Kelas puisi bagi para siswa memiliki sejumlah alasan dan manfaat. Pertama, puisi merangsang memperoleh kenikmatan estetis, belajar kejujuran, mentertawan diri sendiri tampa ada yang menyakiti tersakiti, belajar bercermin diri dan sebagai puisi sebagai sejata perubahan. Kedua, puisi menumbuhkan imajinasi. Ketiga, Puisi membantu siswa untuk memahami diri sendiri dan orang lain. Keempat, memahami bahwa terdapat orang lain tidak seperti dirinya. Selain itu karya sastra puisi dapat meningkatkan kepekaan sosial. Kelima, mampu menunjang perkembangan pengetahuan, bahasa, moral dan personalitas siswa.

    Untuk pembelajaran di kelas yang dilakukan secara konkret, guru dapat merumuskan tujuan sendiri berdasarkan tujuan kelas puisi. Kejelasan karya sastra puisi haruslah sesuai dengan kemampuan bahasa siswa yang berupa kata-kata. Diksi kata dalam karya puisi sebaiknya sebaiknya dengan kata-kata yang sudah dikenal, siswa dapat memahami dan dapat segera merasakan serta menikmati bahasa tersebut. Secara umum bahasa karya sastra puisi yang dipilih haruslah mempunyaig kejelasan bahasa dan pesan sehingga tidak mempersulit siswa dalam proses pemahaman dan penghayatannya.

    Bahasa yang struktur kalimatnya relatif kompleks dan panjang hendaknya tidak dipilih karenayy akan membosankan siswa terkecuali siswa mampu membawakan puisi dengan perannya yang bagus. Pemilihan puisi hendaknya menampilkan lingkungan yang telah di akrabpi karena siswa lebih mudah memahaminya.

    Sumber bahan pembelajaran siswa dapat di peroleh dari karya-karya penyair puisi Indonesia, karya puisi gurunya, televisi, vidio, bumi, manusia, dan alam semesta.

    Teknik pelaksanaan pembelajaran sastra di sekolah:

    Setiap sekali mengajar hendaklah guru dapat menyisihkan waktunya lebih kurang 10 sampai dengan 15 menit sebelum pembalajaran berakhir untuk membacakan puisi dan karya sastra lainnya. Puisi atau karya sastra lainnya ini dapat dipetik oleh siswa nilai-nilai kebaikannya baik oleh guru dan siswanya.

    Pertama, guru dapat menanamkan nilai moral dan daya kritis siswa. Siswa selain mendapat hiburan, juga secara langsung akan membentuk mental dan ketrampilan berbahasanya. Untuk itu guru harus mampu membawakan puisinya dengan baik, menjadi seorang aktor dan sutradara di kelas puisinya.

    Kedua, dengan karya sastra puisi dapat menimbulkan minat baca siswa. Dengan gaya dan cara guru membawakan puisinya akan berkeinginan untuk membaca buku-buku karya sastra lain.

    Ketiga, siswa akan selalu menunggu gurunya ketika mengajar, karena guru selalu membacakan puisinya sebelum berakhirnya pelajaran, sehingga ketika bel tanda pergantian jam mata pelajaran atau bel tanda pulang sekolah berbunyi, siswa tidak bersorak gembira karena akan pulang, namun kecewa karena puisi dari guru harus di akhiri.

    Akhirnya guru sebagai pelaksana pengajaran di kelas, jika tidak memahami dan tidak menyenangkan maka sulit untuk memperoleh kelas puisi yang menyenangkan serta inspirasi bagi murid-muridnya.


    Penulis: Eka Ilham, M.Si.
    -Penulis Buku Kumpulan Puisi Kesaksian
    Guru Itu Melawan
    -Ketua Umum Serikat Guru Indonesia Kabupaten Bima
    - Mantan Ketua Umum Teater Rimpu Yogyakarta (Tahun 2004)
    -Mantan Kabid Seni Dan Budaya Kepma Bima-Yogyakarta(Tahun 2004)

    Antara Aku, Elfa dan Bapak


    PEWARTAnews.com -- Beruntunglah kalian yang masih bisa mencium tangan seorang bapak, bercengkrama dengannya sambil menceritakan suka dukanya menjalani kehidupan. Bahkan disaat lebaran nanti, kalian masih bisa sungkem kepadanya sambil meminta doa restu agar dipermudah dalam segala hal.

    Dia adalah seorang laki-laki paruh baya yang mendambakan dan berusaha seoptimal mungkin dalam mendidik putra putrinya agar menjadi permata yang elok, shaleh-shalehah nan cerdas iman, hati, pikiran dan tindakan. Seorang laki-laki yang bekerja keras demi menafkahi istri dan anaknya dalam menggapai ridha illahi Rabbi serta laki-laki yang merindukan pelukan hangat dari putra putri tercintanya. Begitu besar jasa, perjuangan dan pengorbanan seorang bapak, sehingga grup band Seventeen pun mengabadikan namanya dalam sebuah lirik lagu “Ayah”, berikut cuplikan nya :
    Engkaulah nafasku
    Yang menjaga di dalam hidupku
    Kau ajarkan aku menjadi yang terbaik
    Kau tak pernah lelah
    Sebagai penopang dalam hidupku
    Kau berikan aku semua yang terindah.

    Sore tadi (Jum'at/5/2018) saya mendapat kabar lewat WA kalau bapak-nya mba Elfa (sahabatku sejak dari Aliyah hingga kini) meninggal dunia. Sontak kaget, meski hanya ada waktu 15 menit sebelum pemakaman untuk perjalanan menuju ke Wonokromo, Bantul. Di perjalanan rasa tak karuan, membayangkan bagaimana keadaan sahabatku itu, mengingat kami sama-sama sedang berjuang dalam menuntut ilmu. Sudah pasti dukungan dan do'a dari seorang “bapak” sangat berarti.

    Tak lama kemudian, sampailah di rumah Elfa yang sudah lama sekali aku tak menginjakkan kaki disini. Bahkan lebaran tahun kemarin kami belum saling bertemu, karena Elfa mondok di Ponorogo untuk menyelesaikan hafalan Qur’an-nya.

    Dari kejauhan, ku lihat Elfa begitu tegar. Sama persis ketika 3 tahun silam saat ia bercerita kepada-ku bahwa ia merindukan seorang ibu (ibunya meinggal saat Elfa SD).

    Perlahan ku dekati, lalu dia memelukku dan mengatakan “bapak belum melihatku wisuda bil ghaib 30 Juz, aku baru mempersembahkannya setengah Qur’an ty,” ujar Elfa. Ty itu singkatan dari ukhty, ini panggilan akrab kami saat Aliyah. Aku tak bisa menahan tangis, dengan suara terbata-bata ku katakan “Bapak sangat bahagia memiliki putri seperti-mu, mba”. Meski suatu saat nanti bapak tidak mendampingi wisuda bil ghaibmu, tapi bapak menyaksikan dan bangga melihatmu bahkan memelukmu meski tak terlihat oleh mata. Apapun yang terjadi, harus diselesaikan ya mba Elfa. Tetap semangat dan aku yakin Allah akan mempermudah segalanya.

    Insya Allah suatu saat nanti, Allah akan mengirimkan seorang “bapak”  yang amat menyayangi kita meski dengan darah yang berbeda (mertua maksud saya). Do'aku untukku, do'aku untukmu, dan do'aku untuk kita semua yang merindukan kasih sayang dari seorang bapak. Seandainya kini telah tiada, yakinlah ada bapak-bapak lain yang siap mencurahkan kasih sayangnya untuk kita.

    Mohon fatihahnya kagem bapak Mufid dan Sarmidi. Lahumul Fatihah.


    Penulis : Mukaromah
    Mahasiswi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Membangun Masyarakat Muslim, Prespektif Maqashid Jasser Auda

    Profesor Yasser Auda.
    PEWARTAnews.com -- Umat muslim kini menghadapi tantangan zaman yang sangat kompleks. Soal khilafah, hak asasi maunusia, kesetaraan gender, hubungan muslim dan non muslim, lingkungan, pengembangan sumber daya manusia, perkembangan ilmu dan teknologi, pembangunan, kemiskinan dan kesejahteraan adalah di antara sejumlah isu yang menonjol saat ini[1]. Untuk keluar dari kompleksitas masalah tersebut umat muslim memerlukan ijtihad-ijtihad segar atau fress ijtihad  (istilah Abdullah Saeed cendekiawan muslim kontemporer) agar mampu mengatasi probematika kontemporer yang begitu kompleks.

    Dalam studi keislaman khususnya dalam kajian ushul al-fiqh salah satu tema  yang di bahas dan diskusikan oleh para cendik-cedekiawan muslim adalah Maqashid al-Syari’ah, yaitu tujuan-tujuan utama dalam Syari’at Islam. Telah banyak tokoh dan pemikir muslim pada masa klasik yang membahas tentang Maqashid al-Syari’ah, antara lain untuk menyebut beberapa diantaranya, adalah al-Syatibi (w.766/1388) dalam kitab al-Muwafaqat, al-Tufi (w.716/1316) dalam kitab Risalah-nya dan Abu Hamid al-Gazali (w. 505 H/ 1111 M).  Maqashid al-Syari’ah pada masa klasik lebih menekankan pada perlindungan (protection) dan penjagaan (preservation) atau yang lebih di kenal dengan al-hifz. Yaitu, menjaga agama (hifz al-Din), menjaga jiwa (hifz al-Irdh), menjaga akal (hifz al-Aql), menjaga keturunan (hifz al-Nasl) dan menjaga harta (hifz al-Mal).

    Maqashid Jasser Auda
    Profesor Jasser Auda adalah salah satu pakar terkemuka saat ini di bidang Maqhasid Syariah.  Auda adalah anggota Dewan Eropa untuk fatwa dan Penelitian; anggota, pendiri dan kepala Komite Dewan pada Perhimpunan Sarjana Muslim Internasional; mengajar di Fakultas di Studi-Studi Islam di Doha, Uni Emirat Arab. Meraih gelar Ph.D. di dua bidang: Filsafat Hukum Islam Di Universitas Wales, Inggris dan Analis Sistem di Universitas Waterloo, Kanada. Gelar master diraih di Islamic American University dengan tesis tentang Maqashid Syariah. Pernah menjadi direktur Maqashid Center di London, Inggris. Pernah menjabat Deputi Direktur di Pusat Legislasi dan Etika Islam, di Doha. Pernah menjadi guru besar di Fakultas Hukum, Universitas Aleksandria, Akademi Fiqh Islam di India, dan American University di Syarjah, serta Universitas Waterloo, Kanada.

    Dalam bukunya Maqasid Shariah as Philosophy of Islamic Low, Auda memperkenalkan Maqashid al-Syari’ah dalam prespektif kontemporer yaitu, dengan pengoprasikan fitur-fitur teori Sistem yang ia tawarkan diantaranya,  Kognitif (al-idrakiyyah, konition), Kemeyeluruhan (al-kulliyyah, wholeness), Keterbukaan (al-infitahyyah; openness), hierarki-saling berkaitan (al-harakiriyyah al-mu’atamadah tabaduliyyan; interrelated hierarchy), multi-dimensionalitas (ta’addud al-ab’ad; multidimensionalty), terakhir adalah fitur kebermaksudan (al-maqasidiyyah; purposefulness[2]. Adalah fitur-fitur teori Sistem yang di tawarkan Jasser Auda.

    Dari pengaplikasian teori sistem di atas dalam kajian hukum Islam, sehingga Maqashid al-Syari’ah dalam prespektif Jasser Auda memiliki radius jangkauan yang berbeda dengan teori Maqashid al-Syari’ah pada masa klasik. Jika Maqashid al-Syari’ah pada masa klasik menekankan pada perlindungan (protection) dan penjagaan (preserfation) maka teori Maqashid al-Syari’ah Jasser Auda lebih menekankan pada pembangunan, pengembagan (dofolopment) dan hak-hak (right). Untuk melihat lebih dekat bagaimana pergeseran teori Maqashid al-Syari’ah  klasik  ke toeri Maqashid al-Syari’ah kontemporer Jasser Auda atau dari protection dan preserfation ke dofolopment dan right, penulis akan mencoba menguraikanya agar lebih mudah di pahami.

    Menjaga agama (hifz al-Din) bergeser dan diperluas radius jangkauanya menjadi menjaga, melindungi dan menghormati kebebasan beragama dan berkepercayaan. Menjaga akal (hifz al-Aql) bergeser  menjadi melipatgandakan pola pikir dan research ilmiah; mengutamakan perjalanan untuk mencari ilmu pengetahuan, menekan pola pikir yang mendahulukan kriminalitas kerumunan gerombolan, menghindari upaya-upaya untuk meremehkan kerja otak. Menjaga kehormatan; menjaga jiwa (hifz al-Ird) bergeser menjadi menjaga dan melindungi martabat kemanusiaan; menjaga dan melindungi hak-hak asasi manusia Universal. Menjaga keturunan (hifz al-Nasl) bergeser menjadi berorientasi kepada perlindungan keluarga, menaruh kepedulian yang lebih kepada instasi keluarga, mengingat banyaknya kasus kekerasan pada perempuan dan anak.

    Menjaga harta (hifz al-Mal) bergeser menjadi mengutamakan kepedulian sosial; menaruh perhatian pada pembagunan dan pengembangan ekonomi; mendorong kesejahteraan manusia; mempersempit jurang yang lebar antara miskin dan kaya. Terakhir yang  membedakan teori Maqashid al-Syari’ah Jasser Auda dengan yang lain yaitu, dengan menjadikan Human Defolopment atau pembangunan sumber daya manusia sebagai target utama dari maslahah (public interest), sehingga Maqashid dapat dilihat dan dichek perkembanganya dari waktu ke waktu, diuji, dikontrol dan divalidasi melalui human devolopment index dan human defolopment target yang dicanangkan dan dirancang  oleh badan dunia, seperti PBB maupun yang lain. Dengan begitu kemajuan dan kesejahteraan umat Islam dari waktu ke waktu dapat di upayakan, diperjuangkan, diukur dan dipertanggung jawabkan secara publik[3]. Nah, dengan berpandangan seperti ini di harapkan masyarakat muslim khususnya muslim Indonesia dapat keluar dari segala komplesitas masalah yang dihadapinya. Sehingga dapat meningkatkan dan mengoptimalkan segala potensi yang ada.

    Wallahu ‘a'lam bishawab


    Referensi :
    [1] M. Amin Abdullah, 2015, Membumikan Hukum Islam dengan Maqasid Syari’ah, Terjemahan "Maqasid Shariah as Philosophy of Islamic Low", Jasser Auda, Bandung, Mizan Pustaka.

    [2] M. Amin Abdullah, "Bangunan Baru Epistemologi Keilmuan Studi Hukum Islam Dalam Merespon Globalisasi", Jurnal Asy-Syir'ah, Volume 46, Nomor 2, Desember 2012.

    [3] M. Amin Abdullah, "Hak Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan: Pendekatan Filsafat Sistem dalam Usul Fiqh Sosial", Jurnal Salam, Volume 14, Nomor 1, 2011.


    Penulis: Abdul Gafur
    Ikatan Pelajar Mahasiswa Lambu Yogyakarta (IPMLY)

    Malaikat Pengatur Alam

    Ilustrasi. Foto: dibalikislam.com.
    PEWARTAnews.com – Siang yang cukup mendung. Mungkin sebentar lagi akan segera turun hujan. Matanya memandang atap-atap langit yang hitam dipenuhi awan tebal. Sesekali ia perhatikan padi-padi yang sudah menghijau. Kadang-kadang pandangannya tertuju kearah kampung, sebelah selatan tempatnya duduk – sawah. Atap-atap rumah yang terbuat dari seng hanya terlihat samar-samar. Mungkin karena penglihatannya yang sudah kabur dan suasana hari yang mendung, membuat  pandangannya semakin tidak jelas.

    Ibrahim, seorang kakek yang hidup dengan anak perempuan satu-satunya. Karena garis takdir, anak perempuannya ditinggal pergi oleh suaminya. Bukan karena menantunya tidak setia terhadap janji suci dengan anaknya yang disahkan dalam ikatan suci olehnya. Melainkan yang Maha Kuasa memanggilnya terlalu cepat dibanding dirinya, untuk menghadap Sang pemilik kehidupan, Tuhan yang Maha Hidup. Kepergian menantunya cukup membuat anak perempuannya bersedih hati. Namun Tuhan tidak pernah kehabisan cara untuk menghibur hamba-hamba-Nya yang bersedih. Para tetua sering kali mengingatkan “jangan bersedih, Allah bersama hamba-Nya!”. Kesedihan anak perempuan Ompu Bai[1] terobati oleh keberadaan putranya – cucu Ompu Bai – yang berumur dua tahun sewaktu ayahnya menghadap Tuhan. Kini Ompu Bai tidak hanya hidup dengan anak perempuannya yang telah menjanda, tapi sudah ditambah oleh cucu laki-lakinya. Sedangkan istri Ompu Bai, juga telah menghadap Tuhan. Bahkan setahun lebih awal dari kepergian menantunya yang bernama Firdaus. Kejadian yang menimpa diri dan keluarganya, atas kepergian Firdaus dan juga Istrinya Halimah – Ina Lomi[2] – ia jadikan pelajaran hidup yang paling berharga. “Bahwa kematian adalah peristiwa yang paling misterius, ia hadir kapan dan dimana saja dan untuk siapa saja”. Tanpa ada kepastian kapan ia hadir. Hanya ada satu kepastian, yaitu kematian pasti hadir!

    Siang pukul dua belas lewat, masih tetap mendung. Padahal sudak sejak pukul sembilan tadi ia mendung. Tapi hujan belum juga turun. Sedangkan sang pembawa berita gembira tiada hentinya membelai lembut wajah Ompu Bai yang kusut dan keriput termakan usia. Sesekali petir mengkilap di pucuk-pucuk gunung serta suara-suaranya yang terus menggelegar. Menggantikan suara burung-burung yang bernyanyi dengan merdu. Walau hanya sesekali bertengger pada dahan pohon samping salaja[3]-nya.

    Sekali lagi Ompu Bai memandang kearah Desa. Hanya atap-atap rumah seng yang sudah berkarat dan berwarna coklat yang terlihat. Secara perlahan pandangannya menyusuri hamparan padi-padi milik warga Desa, tanpa pepohonan atau sekedar orang yang berjalan. Seperti pada hari-hari kemarin atau pada pukul tujuh pagi tadi. Ada sesuatu yang ia tunggu. Mungkin itulah alasan mengapa ia selalu mengarahkan pandangannya ke Desa, lalu pada hamparan padi-padi sampai pada posisinya duduk. Kadang-kadang ia melakukannya dengan cermat. Berharap ada orang yang jalan, tepatnya seorang anak yang berjalan kerahnya – Zainul. Hanya kata ‘khawatir’ yang bisa menggambarkan suasan hati Ompu Bai saat ini. Wajar Ompu Bai sangat mencemaskan Zainul – cucunya. Selain karena Zainul merupakan cucu dia satu-satunya. Zainul sangat ia sayangi, tiada limpahan kasih sayang Ompu Bai saat ini sebesar limpahan kasih sayangnya pada Zain.

    Rasa-rasanya Ompu Bai ingin tidur saja. Bersembunyi dibalik selimutnya yang hangat. Selimut yang entah telah berapa bulan tidak dicuci. Padahal seringkali Aulia – putrinya – mengingatkan untuk membawa serta selimut itu ke rumah kalau pulang. “Biar saya dicuci”. Kata Aulia. Bersembunyi dibalik selimut ia urungkan. Ia teringat dengan sesuatu yang belum ia selesaikan. Salat Zuhur. “Kecemasan pada dunia dan kecintaan pada anak -cucu, ternyata tak jarang membuat orang lupa, pada diri dan pada-Nya”. Ucapan guru ngajinya – yang sering disapa Guru Dero[4] - kini terngiang lagi dari memorinya. Sembari berjalan menuju aliran air untuk berwudhu.

    Usai salam. Ompu Bai duduk bersila diatas sajadah hitamnya. Sajadah yang paling sering ia pakai untuk salat, walaupun masih ada dua sajadah lain dirumahnya. Sajadah itu dibelikan khusus oleh istrinya, beberapa bulan sebelum kepergiannya, menghadap Allah. Di atas sajadah hitam itulah Ompu Bai sering bersimpuh manja dan merayu-Nya lewat lantunan zikir-zikir suci yang ia ucapkan. Mengharap belas kasih dan ampunan serta mengadu segala apa yang ia adukan dan memohon segala macam keinginannya. Disela-sela waktunya yang sunyi dan bersahaja itu. Ompu Bai selalu mengirimkan hadiah-hadiah untuk istri dan menantunya. Sesuatu yang paling indah saat ini untuk mereka. Bukan bingkisan kado yang berisi kalung dan gelang atau sejenisnya. Melainkan hadiah berupa bingkisan do’a-do’a yang beirisi rayuan manja dan harapan belas kasih Tuhan untuk istri dan menantunya. Tak lupa ia sisihkan hadiah-hadiah itu untuk umat mukmin dan umat manusia seluruhnya. Dan yang terpenting adalah untuk Zainul. Semoga tumbuh menjadi manusia soleh dan pemimpin umat yang amanah. “rabbana hablana min azwajina wa djurriyyatina kurrata’ayun waja’alana lil muttaqina imama”! Ucapnya. Disaat-saat suasana alam yang mencemaskan seperti sekarang ini. Ompu Bai mengkhususkan satu bacaan Al-Fatihah dan salawat untuk para malaikat yang diberi tugas oleh-Nya untuk mengurus alam. Usai mengirimkan hadiah-hadiah untuk keluarga, orang-orang mukmin, umat manusia, dan juga untuk malaikat pengatur alam semesta. Ompu Bai melipat sajadahnya, lalu mengambil selimutnya. Sebelum ia membaringkan tubuhnya yang rapuh. Mulutnya terlihat bergerak, seperti orang yang sedang mengucapkan mantra. Mungkin Ompu Bai berdo’a.

    Ompu Bai tak merasakan lagi hembusan angin yang menerpa tubuhnya yang rapuh. Dentuman suara alam dan halilintar yang berlomba, tak lagi ia dengarkan. Hanya ada satu suara yang ia dengar, yang terus memanggili namanya. Ia tak tahu dari mana dan siapa. Panggilan nama yang cukup lengkap, tak pernah ia dengar sebelumnya.

    “Assalamu’alaikum....., Ibrahim bin Yusuf”. Sapa suara yang misterius itu. Ompu Bai tak langsung menjawabnya. Ia perhatikan sekelilingnya, membuatnya semakin bertanya-bertanya. Pohon-pohon dan gunung ia lihat ada dibawahnya, petir menyambar dibawahnya tapi tak mengenainya. Bintang-bintang berada disekelilingnya. Ompu Bai berada pada suatu ruang tanpa batas.

    “Assalamu’alaiku...., wahai Ibrahim!”. Kembali suara itu memanggilnya.

    “ Wa.., wa’alaikumsalam”. Jawabnya, dengan suara yang gemetar. Ompu Bai bingung. Mengapa suaranya keluar dan terdengar, padahal ia tak menggerakkan mulutnya sama sekali.

    “Kamu tidak perlu bingung apalagi takut wahai Ibrahim”. Ucap suara itu, mengetahui suasana psikologisnya yang sedang kacau.

    “Sekarang..., antara kamu dan aku tak ada lagi ruang dan waktu. Semuanya berada pada titik nol. Antara kita tak ada lagi pembatas dan tak perlu lagi perantara apa-apa”. Lanjutnya.

    “Bolehkah saya tahu siapa gerangan saudara?”. Tanya Ompu Bai.

    “Aku adalah malaikat yang bertugas mengatur alam, termasuk cuaca dan musim. Namum, tetap atas perintah-Nya”. Jawab Malaikat Pengatur alam.

    “Berarti engkau yang mengatur turunnya hujan, dan mengatur halilintar yang menyambar itu?”

    “Iya, saudaraku. Tapi atas ijin-Nya”.
    “Ijin siapa?”.
    “Tentu saja atas ijin Allah yang Maha Kuasa”.
    “Yang menguasai aku dan dirimu, juga jagat raya ini” Lanjutnya.

    Ompu Bai teringat suasan alam yang cukup mencemaskannya, juga kebanyakan manusia. Angin yang kencang, halilintar yang menyambar, awan tebal yang menutupi atap-atap langit dan matahari yang menjadikannya mendung. Dalam hati ia melirih.

    “Lalu..., Apakah saya masih tertidur atau sudah sadar?”. Rupanya tetap didengar oleh malaikat pengatur alam. Walaupun Ompu Bai menganggapnya sekedar dalam hati. Bahkan semua yang ia pikirkan sejak tadi, juga diketahui.

    “Wahai Ibrahim!”. Malaikat kembali menyapanya.

    “Dihadapan manusia kamu memang sedang tertidur. Tapi, sesungguhnya inilah kesadaranmu yang sebenarnya. Setiap hari banyak manusia merasa terjaga, padahal mereka sedang tertidur”. Jelas maliakat pengatur alam.

    “Halilintar yang menyambar keras, angin yang berhembus kencang, dan awan tebal sehingga menjadikan harimu mendung adalah wajar engkau cemaskan. Karena ia akan mendatangkan bencana banjir dan kehancuran bagi kalian”. Lanjut malaikat, menjawab semua apa yang di anggap Ompu Bai hanya ada dalam pikirannya.

    “Ibrahim saudaraku. Kamu sudah mencapai puncak tertinggi dari manusia pada umumnya. Karena itulah kita bisa berkomunikasi dengan kejujuran tingkat tinggi. Juga dengan bahasa yang hanya penduduk langit saja yang tahu. Apa yang engkau ingat dan pikirkan aku mengetahuinya, begitupun sebaliknya”. Kata malaikat pengatur alam. Membuat Ompu Bai merasa tenang.

    “Wahai malaikat pengatur alam! Mengapa hujan tidak jadi turun, padahal terjadi mendung yang lama, angin yang kencang juga halilintar yang tak hentinya menyambar”.

    “Sebenarnya hujan sedang turun, hanya tidak berlebihan Ibrahim!”.
    “Mengapa?”

    “Karena alam disekitar tempat kalian tinggal kurang mampu lagi menyerap air. Tentu saja kau tahu alasannya”. Ompu Bai langsung memahaminya. Muncul dalam ingatannya, hutan-hutan sudah banyak yang dibabat dan digunduli serta sungai yang semakin dangkal dan sempit. Keserakahan manusia membuatnya lupa pada akibat perbuatan mereka.

    “Ibrahim saudaraku. Andaikan bukan karena lantunan do’a keselamatan untuk umat manusia yang kau panjatkan pada-Nya dan hadiah yang sering kau kirimkan untuk para malaikat pengatur alam. Mungkin badai akan datang bersama hujan yang sangat deras. Tetapi kasih sayang Allah melebihi murka-Nya”. Ompu Bai terharu. Lantunan do’a-do’a yang ia pinta tenyata diijabah oleh-Nya. Sehingga sesuatu yang ia cemaskan kini tidak terjadi. “Alhamdulillah”. Lirihnya, air matanya tak terasa telah sampai di pipi.

     “Kek.... kakek...”.
    “Bangun kek..”. Ada suara lain yang memanggil.

    Ompu Bai terbangun, lalu melihat wajah cucunya – Zain – disamping Zain ada tiga rantan yang tersusun rapi. Zain dan tiga rantan yang tersusun rapi tidak bisa mengalihkan perhatiannya. Ia kemabali mengingat sesuatu yang ia rasakan sewaktu “tertidur”. Ompu Bai merasa sangat bersyukur, bisa berkomunikasi langsung dengan Sang Malaikat pengatur alam. Hanya ada sedikit hal yang disesalinya, yaitu tidak mengucapkan salam perpisahan dengan pengatur alam itu. Kemudian mulutnya bergerak pelan tanpa suara yang terdengar. “Assalamu’alaikum malaikat pengatur alam. Semoga lain kesempatan kita bisa bersua lagi”. Lirihnya. Zain hanya melihat mulutnya bergerak tapi tak mendengar apa-apa juga tak bertanya.

    “Ayo makan dulu”. Ajak cucunya. “Tadi saya terlambat karena dilarang sama Ibu juga sama Ina Osi – tetangganya – kata mereka hari sangat mendung, takut terjadi apa-apa ditengah jalan”. Lanjutnya dengan wajah yang polos penuh kejujuran.

     “Ndak apa-apa nak. Justru kakek lebih khawatir sama keadaanmu”.
    “Ayo kita makan bareng dulu”. Sambil melepas rantan satu persatu dari ganggangnya.
    “Oh iya. Uda asar nak?” Tanyanya pada Zain. Memecah suasana.
    “Belum kek. Tadi aku berangkat dari rumah pukul dua lewat empat puluh tujuh”.
    “Berarti bentar lagi. Usai kita makan kita solat berjama’ah dulu”. Katanya pada Zain.

    Sembari menikmati suguhan yang dibawa oleh cucunya. Ompu Bai menasehati cucunya banyak hal tentang hidup. Seperti yang dilakukan kakeknya sewaktu ia sendiri kecil dulu. Di sela-sela itu pula. Ompu Bai mengatakan pada Zain, kalau usai solat nanti akan bersama-sama mengirimkan hadiah untuk ayah dan neneknya. Juga untuk seluruh umat manusia. Kemudian ia tambahkan, “dan untuk malaikat pengatur alam”.

    “Malaikat pengatur alam?”. Tanya Zain memperlihatkan wajah polosnya yang penuh tanya.
    “Emang ada kek. Bukankannya Allah yang mengatur segalanya?”. Lanjutnya.

    “Ia Nak. Memang Allah yang mengaturnya, bahkan semuanya. Tapi, Allah menugaskannya pada malaikat”. Jawab Ompu Bai. Sedangkan Zain hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Lalu lanjut menikmati santapan didepannya. Walaupun sederhana, tapi keduanya sangat suka. Apalagi Zain. Selain itu, makanannya cukup sehat. Nasi ditemani sayur bening yang terbuat dari kangkung, bayam, dan juga daun kelor. Ditambah ikan teri yang dicampur sambal tomat yang agak pedas. Khas buatan ibu Zain dan juga kesukaannya.

    “Enak ya kek”.
    “Ayo tambah lagi”. Ucap Ompu Bai sembari mencubit manja pipi cucunya.
    “Heh....heh... iya kek..”. Zain tersipu malu. Tapi tetap tambah juga.

    Mereka menikmati hidangannya. Ditemani daun-daun padi yang menari diiringi kicauan burung yang bernyanyi dengan irama yang merdu.


    Pengarang : A.S. Matupha
    Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta


    Catatan Kaki:
    [1] Ompu : kakek, Bai : Sapaan hormat untuk nama Ibrahim. Ompu Bai merupakan cara sapaan menghormati atau sapaan tanda sayang dalam masyarakat Bima.
    [2] Ina : ibu, Lomi : sapaan Hormat untuk nama Halimah. Jadi, Ina Lomi : ibu Halimah. Fungsinya sama seperti pada catatan kaki nomor [1]
    [3] Tempat untuk berteduh yang berada di pinggir sawah. Terdiri dari empat penyangga kayu, lantainya terbuat dari bambu yang dibelah dan dipehalus. Sedangkan atapnya terbuat dari daun kelapa yang dianyam dengan rapi.
    [4] Sapan hormat Untuk Guru Idris. Dero : sapaan hormat untuk nama Idris

    Hakikat Pernikahan adalah Untuk Regenerasi Perjuangan Orangtuanya

    PEWARTAnews.com -- Menikah. Singkat tapi bermakna. Bermakna tapi rumit. Rumit karena dipikirkan hanya dengan menggunakan logika saja, tanpa mensinergikan dengan rasa. Padahal sejatinya antara rasio dengan hati haruslah seimbang agar tidak terjadi ketimpangan suatu hal. Sebagaimana diketahui bahwa Tuhan memberikan kesempatan kepada manusia untuk hidup. Hal tersebut merupakan suatu anugerah yang luar biasa, karena faktanya diri kita termasuk orang yang terpilih (dalam bahasa motivasinya kita merupakan “pemenang” yang berhasil mengalahkan berjuta-juta sel dalam rahim ibu kita) sebelum pada akhirnya diri kita terlahir ke dunia.

    Namun tidak dalam menikah. Bukan persoalan siapa cepat ia menang dan siapa lambat ia kalah, namun menikah adalah pilihan “setiap orang” yang “dapat” diambil dan dilakukan, ataupun sebaliknya. Dalam Islam, menikah merupakan sunnah nabi, yang jika dilaksanakan akan mendapatkan pahala dari Allah serta mendapatkan kemanfaatan (nilai plus) dalam hidup. Nilai plus tersebut terwujud dalam berbagai aspek yang meliputi aspek psikologis, sosiologis - antropologis, fenomenologis dan agama. Dalam aspek psikologis, pada dasarnya manusia memiliki suatu “keinginan dan kebutuhan” yang mendorongnya untuk menyalurkan hasrat tersebut kepada lawan jenis. Hal ini merupakan fitrah yang Allah berikan kepada manusia yang sifatnya bawaan dari lahir, sehingga perlu dipertanyakan apabila orang tidak memiliki perasaan dengan lawan jenis. Akan tetapi, jika tujuan menikah hanya untuk menyalurkan keinginan seks-nya maka hal tersebut tidak jauh beda dengan binatang.

    Dalam sebuah penelitian mengatakan bahwa rentang waktu nafsu seks manusia terbatas yakni mulai umur baligh sampai 40 tahun. Selebihnya, manusia akan merasa jenuh namun bukan berarti tidak ingin melakukan, akan tetapi hal seperti ini tidak diprioritaskan lagi dalam sebuah pernikahan dan ternyata hal tersebut tidak akan dapat “melanggengkan sebuah kebahagiaan” jika didasari tanpa agama. Oleh karena itu, manusia akan mencari sesuatu yang baru dan lebih mencerahkan yakni dengan beralih perhatian/fokus kepada anak-anaknya dan berharap agar anak-anaknya tumbuh menjadi orang yang baik, mandiri dan cerdas. Dengan demikian, dapat diambil benang merahnya bahwa hakikat sebuah pernikahan ialah mencetak generasi yang kelak akan meneruskan kiprah perjuangan dari kedua orangtua nya. Karena seperti apapun orang tua, pasti menginginkan anak-anaknya dapat “lebih baik” dari dirinya.

    Hal ini yang melatarbelakangi pengamalan doa-doa yang diajarkan oleh para pendidik di satuan pendidikan (pondok pesantren, sekolah dan atau madrasah). Salah satu doa tersebut ialah "Rabbanaa hab lanaa min azwajinaa wa dzurriyyatinaa qurrata a'yuninin waj'alnaa lil muttaqiina imaama" yang merupakan permohonan seorang hamba kepada Tuhan-nya (sufla ilal a'la) yang dapat bermakna harapan agar dikaruniai pasangan dan dzurriyah-dzurriyah yang menyejukkan mata (menentramkan kalbu, shaleh dan atau shalehah nan cerdas dzahir maupun batin).

    Oleh karenanya, dari hal tersebut penulis yakin bahwa mencetak keturunan (generasi penerus) dapat dilakukan pada saat masa-masa berjuang seperti ini (single/belum punya pasangan/terikat akad tetapi belum menikah) dengan cara “mengindahkan cetakan-nya” melalui tindakan dan perilaku yang baik nan benar. Setelah itu berlanjut pada pemilihan pasangan (laki-laki/perempuan), dengan menomorsatukan Agama, Akhlaq dan Ilmu. Setelah itu, pada masa konsepsi dan masa kandungan (hamil) dengan memberikan asupan intern maupun ekstern yang berupa penjagaan yang baik dan gizi yang cukup. Itulah mengapa anak-anak kecil Israel cerdas-cerdas dan kuat-kuat fisiknya. Banyak anak-anak kecil disana yang berumur 8 tahun sudah dapat menciptakan sesuatu hal (produktif), karena ternyata saat "mengandung", kedua orangtuanya memecahkan masalah yang berkaitan dengan logika (matematika) dan makan ikan patin yang memang gizinya luar biasa.

    Maka dari itu, wanita dan laki-laki harus berpendidikan, mengingat "tanggung jawabnya dalam mendidik anak". Berpendidikan tidak hanya yang sekolah formal, tetapi mereka yang selalu dan tak mengenal lelah dalam mencari ilmu pun juga disebut berpendidikan. Oleh karena itu, mencetak keturunan dapat dilakukan sekarang dan saat ini dengan cara berbenah diri dan memantaskan diri dengan terus belajar dan belajar (berthalabul 'ilm) dalam segala aspek. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa apa yang saat ini dilakukan akan berpengaruh kepada anak cucu. Sehingga tak salah, jika orang Jawa (simbah-simbah) mengatakan “aku iso koyo ngene sebab tirakate leluhurku" (saya bisa seperti sekarang ini karena tirakat/usaha/perjuangan dari orangtuaku). Baru setelah anak lahir ke dunia, saatnya memberikan education seems karena golden age yang pada usia tersebut seluruh kekuatan, pertumbuhan dan perkembangan otak amat maksimal. Pada masa ini pula seharusnya digunakan untuk mempersiapkan segenap potensi fisik, akal maupun mental yang ada pada diri anak dengan sebaik-baiknya. Bukankah الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدّنيا ? (Bukankah harta dan anak-anak merupakan perhiasan di dunia ini?).

    Rabby inniy limaa anzalta ilayya min khoirin faqiir.


    Penulis : Mukaromah
    Mahasiswi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Mahasiswa Bima-Dompu di Jogja Canangkan Dua Agenda Besar

    Arif Rahman.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Agenda Malam Keakraban (MAKRAB) Raya dan Pawai Rimpu rencananya akan digelar pada tanggal 25-26 Agustus dan 2 September 2018 oleh Komunitas Kasama Weki Ndai Mbojo-Dompu. Event yang bersegmentasi pada mahasiwa asal Bima dan Dompu sepulau Jawa tersebut menargetkan diikuti oleh 1200 peserta. Beragam kegiatan menarik akan dihelat pada masing-masing agenda yang bertema, "Merajut Kebersamaan di Kota Budaya".

    Mantan Ketua KEPMA Bima-Yogyakarta Arif Rahman, yang juga sebagai koordinator acara event menjelaskan, kekompakan dan kesepahaman serta kedekatan secara emosional menjadi tujuan utama dari event yang akan dihelat. "Tujuan dari agenda ini yaitu mengangkat nilai-nilai kebudayan dan khasanah daerah, hal ini juga merupakan tanggungjawab generasi sebagai pengakuan terhadap semboyan Bhineka Tunggal Ika," beber Arif.

    Kata Arif, adanya budaya rimpu menjadi sesuatu hal yang perlu di lestarikan keberadaannya agar semakin luas dikenal secara nasional bahkan dunia. "Rimpu adalah satu-satunya bentuk adat yang berkembang di daerah Bima dan Dompu. Inilah yang menjadikan Rimpu sebagai sesuatu yang unik dan khas," ucap Arif.

    Untuk memeriahkan acara, kata Arif, dalam dua agenda besar ini akan diisi dengan berbagai macam kegiatan yang menarik. "Rencananya saat Makrab akan ada training motivasi, pelatihan team work dan malam unggun berbudaya. Sedangkam saat Pawai Rimpu akan ada juga seni gerak kolosal rimpu dan saremba tembe," kata Arif.

    Lokasi Makrab, akan diselenggarakan di Bumi Perkemahan Kepurun, sedangkan untuk Pawai Budaya akan dimulai di mandalakrida - kridasono - gramedia - tugu - malioboro - alun alun utara. (Siti Hawa / PEWARTAnews)

    Selamat Ulang Tahun Dek

    PEWARTAnews.com -- Wuiih, dek ulang tahun yach hari ini. Selamat yach dek. Maafkan kak, karena telat ngucapinnya. Selamat ulan tahun. Kini usiamu semakin bertambah. Semoga dengan bertambahnya umur, semakin meningkatkan kualitas keimanan dan keilmuannya. Sayang yach dek, kak gak bisa ucapin langsung padamu sambil melihat senyum bahagiamu. Walaupun kini belum bisa bertatap muka, paling tidak harapan kak,  dek bisa sambil tersenyum baca pesan ini, dikit lebay, hehe.

    Walau pun kini kak gak bisa mengucapkannya secara langsung, namun doanya kak pasti langsung terucap untuk mu dek. Dek, jaga selalu kesehatannya di sana, di kota Bandung lautan api (versi sejarah). Semoga kini bandung tersulap menjadi kota lautan Ilmu dan limpahan pengetahahuan, sehingga kelak jika waktunya dek menjalin mahligai rumah tanggga bisa dan mampu menopang dan bisa menjadi penyempurna dari kekurangan Iman-nya dek, dan juga mampu sama-sama membina keluarga (siapa pun kelak yang beruntuk memiliki dek) menjadi keluarga yang mampu membawa kebahagiaan dunia, lebih-lebih kebahagiaan akhirat. Semoga terlimpah juga rahmat dan kasih sayang Tuhan Yang Maha Esa.

    Dek, selamat ulang tahun, dimana pun dek berada, berusahalah selalu menjadi seseorang yang menjadi tumpuan harapan, agar orang-orang disekelilingmu merasakan begitu nikmatnya mensyukuri kehidupan di dunia yang fana ini. Ketika menjadi seorang guru, jadikan pribadi dek menjadi pribadi seorang guru yang penyayang dan welas kasih dalam mengajar, sehingga apa yang dek ajarkan mampu dengan mudah diserap murid-murid dek. Ketika dek menjadi seorang teman dan sahabat, jadillah seorang teman/sahabat yang trus menjadi penyemangat dalam pembenahan, agar sahabat dek lebih baik lagi dari hari keharinya. Ketika dek menjadi seorang murid (mahasiswa), jadilah sebagai murid yang penuh semangat menyerap apa-apa yang telah disampaikan seorang guru (dosen).

    Dek, jaga selalu kesehatan dek, teruslah tersenyum bahagia dalam keadaan apapun, dimanapun dan sampai kapanpun. Dek, ada dan tiadanya seseorang yang menemani hari-harimu kini, tetaplah semangat, karna kelak pasti akan ada waktunya yang tepat dek dihampiri seorang pangeran yang akan menyayangimu dengan penuh kasih dan tentunya atas ridho Ilahi Robbi. Kelak siapapun jodoh dek, semoga semoga selalu dilimpahkan kebahagiaan. Dek, ulang tahun mu sekarang bertepatan dengan bulan Ramadhan, semoga keberkahan bulan ramadhan juga tercurahlimpah juga untuk dek. Aamiin ya robbal aalamiin. (*)


    Yogyakarta, 17 Mei 2018.


    Sekilas tentang Cak Nun

    Cak Nun.
    PEWARTAnews.com -- Pemikiran Islam Emha Ainun Nadjib atau yang akrab disapa Cak Nun memang memilik titik kesamaan dengan pemikiran Nurcholish Madjid (Cak Nur) dan Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Titik kesamaan tersebut ialah inklusif, toleran dan moderat serta menyentuh esensi Islam terdalam yang tidak hanya sekedar halal, haram, makruh (aspek fiqih af’alul khamsah) yang menekankan kesalehan individu dihadapan Tuhan, namun yang jauh lebih dari itu ialah mencerahkan dan membawa Islam untuk kebaikan sosial (humanis) serta non-doktriner.

    Dalam setiap maiyah Cak Nun tidak pernah menekankan janji-janji agama (surga dan neraka), namun lebih menekankan pada kesadaran dalam ber-agama. Hal ini penting, karena kesadaran merupakan titik awal seseorang dalam melakukan suatu tindakan. Jika kesadaran beragamanya baik, maka tingkah lakunya pun akan baik, begitu sebaliknya.

    Kesadaran inilah yang akan menjadi pangkal dari terciptanya kasih sayang, cinta kasih, saling menghormati, menghargai dan saling memiliki diantara makhluk-makhluk-Nya yang dapat berimplikasi pada tatanan kehidupan yang aman, tentram dan damai. Dalam tataran individu, kesadaran ini nilainya jauh lebih tinggi daripada punishment maupun reward. Sebagai contoh, anak kecil akan tumbuh menjadi orang bijak manakala ia diberikan pendidikan yang “demokratis”. Dari, oleh dan untuk serta akan kembali kepada anak. Biarkan anak meng-ekspresikan diri dengan banyak hal, bebaskan dia bermain apa saja, meskipun diluar keinginan orangtua. Setelah anak mengalami sendiri dan ternyata terjadi hal-hal yang kurang mengenakkan, baru-lah orang tua memberikan edukasi dengan sebuah nasihat “oh ini loh akibatnya kalau kamu melakukan seperti itu”. Jadi lebih kepada kesadaran inividu, berbuat ke arah yang lebih baik karena dituntun kesadaran dan mengambil ibrah dari perbuatan yang telah dilakukan, tak terkecuali bagi orang dewasa.

    Karena punishment dan reward sifatnya hanya sementara yang mana “orang melakukan sesuatu karena dapat hadiah atau karena takut (dihukum/didenda). Implikasinya apa? Setelah orang dapat hadiah mungkin semangat melakukan sesuatu akan turun, apabila tidak dibarengi dengan pemberian reward yang lebih besar. Begitu pula dengan punishment, orang akan melakukan sesuatu karena terpaksa.

    Oleh dasar itulah, dalam setiap maiyah cak Nun selalu menekankan “jangan anggap aku ini kiyaimu, ustadzmu dan jangan berbuat baik karena-ku, tapi lakukan suatu perbuatan karena kesadaranmu, karena cintamu kepada Sang Pemilik Cinta”. Cak Nun tidak mau dianggap sebagai seorang kiyai atau ustadz yang setiap tutur katanya, perbuatannya ditiru oleh jama’ahnya. Namun yang diharapkan oleh Cak Nun kepada jamaahnya ialah melakukan suatu hal karena kesadaran, sekali lagi karena kesadaran. Kata Cak Nun “Ayo SINAU BARENG”, bareng-bareng sowan Gusti Allah.

    Oleh karena itu, tak ayal Maiyah Cak Nun diikuti oleh orang dari berbagai macam kelompok dan golongan, bahkan berbagai macam agama. Cak Nun pun juga sering mendatangkan tokok-tokoh pemuka agama lain dan memberi kesempatan kepada mereka untuk berbagi ilmu dan pengalaman atau sepatah dua patah kata.

    Terakhir, dalam menyampaikan pesan ajaran Gusti Allah, Cak Nun tidak pernah mendoktrin jama’ahnya dengan menyampaikan janji-janji surga dan kabar menakutkan dan bengisnya siksa neraka. Cak Nun ingin mengenalkan islam rahmat lil ‘alamin.


    Penulis : Mukaromah
    Mahasiswi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    KPU Kota Jogja Pastikan PKB Kota Jogja Bisa Ikuti Kontestasi Legislatif 2019

    Suasana saat DPC PKB Kota Yogyakarta audiensi di KPU Kota Yogyakarta (21/05/2018).
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Dewan Pengurus Cabang Partai Kebangkitan Bangsa (DPC PKB) Kota Yogyakarta sambangi Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Yogyakarta di jalan Magelang Kota Yogyakarta pada hari Senin, 21/05/2018.

    Ketua DPC PKB Kota Yogyakarta Solihul Hadi, S.H. datang didampingi Rochmad Mujari (Ketua Lembaga Pemenangan Pemilu PKB Kota Yogyakarta), Muhammad Rikazi (Wakil Ketua PKB Kota Yogyakarta), Ricco Yubaidi, S.H. (Sekretaris PKB Kota Yogyakarta), dan Saniyatun (Bendahara PKB Kota Yogyakarta).

    Point penting yang menjadi pertanyaan dalam pertemuan tersebut, salahsatu diantaranya adalah terkait polemik bisa atau tidaknya PKB Kota Yogyakarta mengajukan Calon Anggota Legislatif di Kota Yogyakarta pada 2019 mendatang. Pertemuan tersebut diterima langsung oleh 3 anggota KPU Kota Yogyakarta, Sri Surani, S.P., R. Moeh N. Aris Munandar, S.E., dan Hidayat Widodo, S.P.

    Anggota KPU Kota Yogyakarta, Sri Surani, S.P. saat menerima audiensi PKB Kota Yogyakarta mengatakan bahwasannya walau saat pendataan Parpol belum lama ini PKB Kota Yogyakarta tidak melakukan pendaftaran/verikasi, namun secara nasional Partai PKB sudah dinyatakan lolos seleksi. Oleh karenanya PKB Kota Yogyakarta juga berhak ikut serta dalam bursa calon legislatif 2019 mendatang. "Yang pasti (PKB secara nasional) sudah ditetapkan sebagai peserta pemilu dan sudah dapat nomor, artinya (PKB Kota Yogyakarta) punya hak yang sama untuk menjadi peserta pemilu seperti partai-partai yang lain, terkait dengan tekhnisnya ada di PKPU (Peraturan Komisi Pemilihan Umum), dan PKB Kota Yogyakarta dinyatakan lolos karena ketentuan dalam satu wilayah provinsi itu yang lolos verifikasi minimal 75% dan empat kabupaten di DIY sudah lolos semua, maka otomatis sisanya satu yaitu PKB Kota Yogyakarta juga dinyatakan lolos verifikasi karena sudah memenuhi syarat minimum tadi," ucap anggota KPU Sri Surani, S.P..

    Selanjutnya akan diatur lebih tehnis setelah nanti ada PKPU yang baru, kata Sri Sunani, pihaknya akan menginformasikan langsung secepatnya kepada seluruh partai politik peserta pemilu dan juga masyarakat pada umumnya sebagai bentuk keterbukaan sistem kerja KPU.

    Menanggapi penjelasan dari KPU Kota Yogyakarta, Ketua DPC PKB Kota Yogyakarta Solihul Hadi, S.H. merasa bersyukur atas info baik yang diterimanya. "Kalau demikian adanya, kami merasa senang atas info dari KPU Kota Yogyakarta, dengan ini kami bisa leluasa meyakinkan masyarakat untuk memantapkan pilihannya dalam memilih caleg DPRD Kota Yogyakarta dari PKB, terlebih lagi saat ini caleg yang sudah mendaftar ada sekitar 30 orang lebih yang terbagi dalam lima dapil se Kota Yogyakarta," ucap Solihul Hadi.

    Disela pertemuan tersebut, Ricco Yubaidi, S.H. selaku Sekretaris PKB Kota Yogyakarta turut mengapresiasi pelaksanaan Pencocokan dan Penelitian terhadap Daftar Pemilih Tetap (DPT) oleh KPU Kota Yogyakarta beserta segenap jajarannya. Ia berharap kegiatan tersebut menghasilkan data valid calon pemilih pada pemilu serentak 2019 mendatang. (rls / PEWARTAnews)

    PERKASA Yogyakarta Gelar Pelantikan dan Dialog Publik

    Para pemateri dan moderator saat acara dialog berlangsung.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Persatuan Kasama Weki Sanggar (PERKASA) Yogyakarta menggelar Pelantikan Pengurus Baru Periode 2018-2019 dan juga dirangkaikan Dialog Publik dengan mengangkat tema "Membentuk Mental dan Karakter Kader PERKASA yang Berkemajuan" pada hari Minggu, 20 Mei 2018 jam 14.00-selesai di gedung PAUD dan Dikmas Daerah Istimewa Yogyakarta.

    Momentum kegiatan tersebut menghadirkan pemateri-pemateri yang kompeten dengan tema yang diangkat. Pemateri pertama, M. Saleh Ahalik, S.Pd., M.Pd. (Mantan Ketua PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta Periode 2017-2018) dengan sub tema materi penyampaian "Pembentukan Karakter dengan Berorganisasi". Pemateri Kedua, Mir'atun Syarifah, S.Farm. (mantan Sekretaris Umum PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta Periode 2017-2018) dengan sub tema penyampaian "Peran Wanita dalam Organisasi". Guna untuk memperlancar acara dialog, hadir sebagai sebagai moderator Cita Suci Resnanda, S.Pd. (mantan Pengurus PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta Periode 2017-2018).

    Mir'atun Syarifah, S.Farm. (sapaan akrab Mira), mengatakan bahwasannya dalam berperan di masyarakat seorang wanita dan laki-laki itu punya peran yang sama, sama-sama besar sesuai dengan porsinya. "Karena wanita itu tugasnya bukan hanya berfungsi sebagai ratu rumah tangga yang mengurus dapur, anak, keluarga, dan sebagainya. Tapi perempuan itu bisa aktif di beberapa pekerjaan atau kesibukan, contohnya organisasi," ucap Mira.

    Mira beralasan bahwa perempuan itu cenderung multitasking jika dibandingkan laki-laki, perempuan bisa melakukan banyak pekerjaan dalam sehari kecuali waktu tidurnya. "Artinya dalam organisasi pun wanita tentunya mengambil peran yang sangat besar, dengan tingkat kecerdasan seorang wanita itu lebih besar dibandingkan laki-laki, kemudian tingkat ketelitian, kreativitas, keuletan dan kemampuan managerial dari perempuan itu sangat bagus," beber perempuan yang sedang menempuh studi Pascasarjana di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta ini.

    Lebih lanjut Mira membeberkan bahwasannya banyak hal yang bisa dilakukan oleh perempuan dalam berorganisasi. "Beberapa hal yang menjadi inti dari peran wanita dalam organisasi diantaranya adalah, Pertama, Berbakat dari segi negosiasi. Kedua, Dapat memperluas jaringan/menjalin networking. Ketiga, Penentu suksesnya organisasi. Keempat, Berperan penting dalam pembangunan organisasi," kata Mira.

    Bayangkan jika organisasi tidak adanya seorang wanita, kata Mira, mungkin organisasi itu ada tapi yakinlah organisasi itu akan menjadi tidak berwarna, kurang seru dan tidak maksimal dalam menjalankan tugas sesuai visi misi organisasi dengan sebaik-baiknya.

    Karena begitu besarnya peran yang bisa dilakukan perempuan, Mira pun mengajak perempuan Indonesia dan juga lebih khusus perempuan Bima untuk berani mengambil peran dalam bermasyarakat atau dalam berorganisasi. "Maka dari sekarang Mira mengajak semua teman-teman, khususnya para wanita Indonesia, khususnya wanita-wanita yang berkiprah di organisasi asal Bima di Yogyakarta untuk terus berperan aktif dalam area organisasi sesuai passionnya, melanjutkan semangat RA Kartini untuk terus memajukan wanita-wanita Indonesia agar menjadi wanita yang cerdas dan bisa memecahkan setiap persoalan yang ada," ketus perempuan berjiwa bisnis ini.

    Acara pelantikan dan dialog berlangsung lancar. Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Ketua Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta periode 2015-2017, M. Jamil, S.H., Direktur PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta Ilmidin, S.K.M., Senior Sanggar Seni Rimpu Yogyakarta Rizalul Fiqry, Mantan Ketua Umum Keluarga Pelajar Mahasiswa (KEPMA) Bima-Yogyakarta Arif Rahman, Ketua Asrama Bima Yogyakarta M. Lubis Arham, S.Pd., Advokat Muda Khairul Rizal, S.H.I., Sekretaris KEPMA Bima-Yogyakarta Muhammad Akhir, perwakilan organisasi-organisasi dibawah naungan KEPMA Bima-Yogyakarta, dan juga mahasiswa-mahasiswi Bima lainnya. (PEWARTAnews)

    Rochmad: Ramadhan Kuatkan Silaturrahim

    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Alhamdulillah, tidak terasa kita telah berjumpa kembali dengan bulan suci Ramadhan. Sesuai dengan ketetapan yang dirilis oleh Kementerian Agama Republik Indonesia (KEMENAG RI), Ramadhan tahun ini jatuh pada hari Kamis, 17 Mei 2018. Jadi, malam ini Masyarakat Islam Indonesia sudah mulai melangsungkan tarawih pertamanya.

    Sungguh warna-warni suasana yang terjadi dalam momentum menyambut bulan ramadhan tahun ini, seperti maraknya terjadi teror di berbagai daerah di Indonesia. Menanggapi kondisi yang tidak stabil akhir-akhir ini, Ketua Forum Pengusaha Mula Kota Yogyakarta Rochmad menyayangkan apa yang terjadi tersebut. Selain itu, Rochmad juga menyarankan bahwasannya dalam menyambut bulan suci Ramadhan kita harus sering-sering kuatkan silaturrahim antar sesama, biar terjalin kebersamaan dan tali kasih. Bila kebersamaan sudah terjalin, kata Rochmad, kita semua akan bisa saling mengingatkan jikalau ada khilaf yang tidak sengaja diperbuat.  "Dengan datangnya bulan suci Ramadhan, mari kita eratkan hubungan silaturahim antar sesama manusia. Karena dengan jalan silaturahmi hubungan kekeluargaan dalam lingkungan masyarakat akan terus terjaga," ucap Rochmad melalui rilisnya yang diterima PEWARTAnews.com pada hari Rabu, 16/05/2018 sore tadi.

    Lebih lanjut Rochmad yang juga Ketua Lembaga Pemenangan Pemilu Partai Kebangkitan Bangsa (LPP PKB) Kota Yogyakarta ini mengatakan bahwasannya dengan keberadaan lingkungan kita yang terjaga maka akan mampu menghalau ajaran-ajaran radikal yang kini kian menggurita di Negara kita tercinta. "Dengan lingkungan sekitar kita yang terjaga maka ajaran-ajaran yang mengarah radikal akan mudah terbendung," beber Rochmad. (PEWARTAnews)

    Meneropong Mahasiswa PAI Angkatan 2015

    PEWARTAnews.com – Tepatnya kini (26 April 2018) berada disemester 6. Semester akhir yang katanya sangat menjemukan bagi sebagian mahasiswa. Ada pula yang menyebut semester ini “seharusnya” sudah mempunyai calon agar ketika wisuda nanti ada yang menemani sambil membawakan bunga untuk-nya sambil berkata “dek, selamat ya”, begitu kata salah seorang mahasiswi semester 6.

    Ada yang unik dengan angkatan ini, pasalnya sudah banyak yang mengajukan tema skripsi bahkan sudah ada yang seminar proposal. Padahal dulu ketika saya masih semester 4, yang biasa mengajukan tema dan semprop adalah mahasiswa yang menginjak semester 7/ bahkan 8, tapi tak bisa dipungkiri tetap ada yang mengajukan meski masih disemester 6 namun hanya seglintir orang saja.

    Berbeda hal nya dengan angkatan ini. Baik mahasiswa aktivis maupun akademis, sama saja. Berebut waktu untuk menemui DPA dan kajur guna konsultasi dan acc tema skripsi. Tentu hal ini menimbulkan tanda tanya besar, Ada apakah ini? Karena sesuatu yang terjadi pasti ada sebab. Tak biasanya semester 6 sudah mulai fokus skripsi padahal KKN saja baru akan dimulai bulan Juli-Agustus ini.

    Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penulis melakukan obrolan ringan dengan (banyak) mahasiswa PAI 2015. Mayoritas jawaban mereka hampir sama dengan argumen yang hampir sama pula. Nah berdasar obrolan ringan tersebut dapat disimpulkan bahwa mereka ingin segera lulus, karena beberapa sebab, yakni (1) Ingin melanjutkan hafalan kitab dan Qur’an-nya. (2) Ada pula yang ingin menjadi wisudawan/wati tercepat di Fakultas Tarbiyah. (3) Ingin segera menikah karena sudah tunangan, mayoritas yang menjawab ini adalah kaum hawa. Karena bagi mereka “jangan sampai telat nikah”. Hal ini dipengaruhi oleh lingkungan/kondisi geografis daerah mereka. Wanita yang lulus S1 sudah dipandang tua oleh masyarakat, sehingga suatu ketidakwajaran apabila tidak segera menikah, ungkap salah seorang mahasiswi.

    Meski ada yang ingin segera lulus, namun juga ada mahasiswa/i yang tidak terobsesi untuk segera mengajukan tema dan fokus skripsi. Hal itu dikarenakan masih ingin menikmati masa-masa kuliah, masa muda dan masa mengembangkan kreativitas. Bagi orang-orang dalam kelompok ini, mereka masih ingin menjajaki berbagai macam pengalaman dan pelatihan guna bekal masa depan. Ada juga yang masih ingin fokus untuk melengkapi SKPI (Surat Keterangan Pendamping Ijazah), sehingga lulus tidak hanya sekedar lulus, namun memiliki skill komparatif atau setidaknya mempunyai sesuatu yang membedakan dengan sarjana-sarjana lain.

    Dengan demikian, mengumpulkan sertifikat seminar, perlombaaan baik akademik maupun non akademik menjadi prioritas kelompok ini sebelum fokus skripsi dengan pertimbangan yang penting lulus dengan predikat “berkualitas” meski tidak menjadi wisudawan/wati tercepat. “Mungkin nanti pas kumpul di gedung Multi Purpose (MP) ekspresinya sama, baik yang tercepat maupun yang biasa-biasa saja tapi punya skill komparatif lain. Yang membedakan hanyalah “senyum lebar/tidaknya”, yang dinobatkan menjadi wisudawan/wati tercepat senyumnya akan lebih lebar dibanding yang lain”, ungkap salah seorang mahasiswa PAI. Jujur saja, penulis ngampet ngguyu.

    Hidup itu anugrah dari Tuhan Yang Maha dengan segala ke-Mahaannya. Dalam hidup ada berbagai macam pilihan, dan manusia diberi kebebasan Tuhan untuk menentukan pilihan hidupnya namun tetap harus bertanggungjawab atas pilihan-nya. Biarlah mahasiswa sendiri yang menentukan kemana dan seperti apa dirinya. Yang penting “BERJUANG”. Karena Tuhan menyuruh dan memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk terus dan senantiasa berjuang, bukan kalah/menang - nasihat guru spiritual saya, Emha Ainun Nadjib.


    Penulis: Mukaromah
    Mahasiswi Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

    Dari Islam Muram dan Seram, Menuju Islam Cinta nan Ramah

    Peristiwa Bom yang terjadi di Sirabaya. Foto: viva.co.id.
    PEWARTAnews.com -- Dita Oepriarto adalah Kakak kelas saya di SMA 5 Surabaya Lulusan ‘91.

    Dia bersama-sama istri dan 4 orang anaknya berbagi tugas meledakkan diri di 3 gereja di surabaya. Keluarga yang nampak baik-baik dan normal seperti keluarga muslim yang lain, seperti juga keluarga saya dan anda ini ternyata dibenaknya telah tertanam paham radikal ekstrim.

    Dan akhirnya kekhawatiran saya sejak 25 tahun lalu benar-benar terjadi saat ini.

    Saat saya SMA dulu, saya suka belajar dari satu pengajian ke pengajian, mencoba menyelami pemikiran dan suasana batin dari satu kelompok aktivis islam ke kelompok aktivis Islam yang lain. Beberapa menentramkan saya, seperti pengajian “Cinta dan Tauhid” Alhikam, beberapa menggerakkan rasa kepedulian sosial seperti pengajian Padhang Mbulan Cak Nun.  Pengajian yang lain menambah wawasan saya tentang warna warni pola pemahaman Islam dan pergerakannya.

    Diantaranya ada juga pengajian yang isinya menyemai benih-benih ekstrimisme radikalisme. Acara rihlah (rekreasinya) saja ada simulasi game perang-perangan. Acara renungan malamnya diisi indoktrinasi Islam garis keras.

    Pernah di satu pengajian saat saya kuliah di UNAIR, saya harus ditutup matanya untuk menuju lokasi. Sesampai disana ternyata peserta pengajian di-brainwash tentang pentingnya menegakkan Negara Islam Indonesia. Dan untuk menegakkan ini kita perlu dana besar. Dan untuk itu kalau perlu kita ambil uang (mencuri) dari orang tua kita untuk disetor ke mereka.

    Bahkan ketua Rohis saya di buku Agendanya menyebut profesi dirinya bukan pelajar SMA, tapi Mujahid. Karena memang saat itu majalah Sabili sangat laris di sekolah kami. Isinya banyak menampilkan secara Vulgar pembantaian etnis muslim Bosnia oleh Serbia. Dan ini dijadikan pembakar semangat anak-anak muda jaman saya waktu itu untuk menjadi “mujahid-mujahid pembela Islam”, beberapa akhirnya berangkat beneran ke medan perang.

    Dari pengalaman menjelajah berbagai versi pemikiran dan aktivis Islam dari yang paling radikal sampai liberal itu, dari sunni, sufi, wahabi, syiah, NII, dll itu, saya menyadari walaupun Islam ini mestinya satu, tapi ada banyak versi cara orang memahaminya, sehingga melahirkan banyak versi ekspresi keislaman dan pola tindakan.

    Dan dari semua versi tadi, yang paling saya khawatirkan adalah versi kakak kelas saya mendiang Dita Supriyanto yang jadi ketua Anshorut Daulah Cabang Surabaya ini. Saya sedih sekali akhirnya ini benar-benar terjadi, tapi saya sebenarnya tidak terlalu kaget ketika akhirnya dia meledakkan diri bersama keluarganya sebagai puncak “jihad” dia, karena benih-benih ekstrimisme itu telah ditanam sejak 30 tahun lalu.

    Dia mengingatkan saya pada kakak kelas lain, ketua rohis SMA 5 Surabaya waktu itu, yang menolak ikut upacara bendera karena menganggap hormat bendera adalah syirik, ikut bernyanyi lagu kebangsaan adalah bid’ah dan pemerintah Indonesia ini adalah thoghut.

    Waktu itu sepertinya pihak sekolah tidak menganggap terlalu serius. Karena memang belum ada bom-bom teroris seperti sekarang. Semua sekedar “gerakan pemikiran”. Memang dia dipanggil guru Bimbingan Konseling (BK) untuk diajak diskusi, tapi kalau sebuah ideologi sudah tertancap kuat, seribu nasehat ndak akan masuk ke hati. Dan Akhirnya pihak sekolah menyerah, toh dia tidak bertindak anarkis, bahkan terkenal cerdas, lemah lembut dan baik hati.

    Akhirnya Ketua rohis saya ini tiap upacara bendera i’tikaf di mushola sekolah. Ngomong-ngomong, kadang saya kalau lagi males upacara, ikut menemani dia di mushola dan ikut mendegarkan siraman rohaninya. Dan yang seperti ketua rohis saya ini tidak hanya di SMA 5, tapi yang saya tahu ada di hampir semua SMA dan kampus di Surabaya atau bahkan di seluruh Indonesia.

    Yang ingin saya katakan, Terorisme dan budaya kekerasan yang kita alami saat ini adalah panen raya dari benih-benih ekstrimisme-radikalisme yang telah ditanam sejak 30-an tahun yang lalu di sekolah-sekolah dan kampus-kampus. Saya tidak tahu kondisi sekolah dan kampus saat ini, tapi itulah yang saya rasakan jaman saya SMA dan kuliah dulu.

    Mohon jangan salah paham, main stream-nya pergerakan Islam di sekolah dan kampus ini tidak se-ekstrim kakak kelas saya tersebut. Tapi ada cukup banyak yang sifatnya sembunyi-sembunyi dimana saya waktu itu ikut merasakan ngaji bersama mereka.

    Serangkaian bom di tanah kelahiran saya dengan tempat-tempat yang sangat akrab di telinga dengan segala kenangan masa kecil, plus pelaku utama yang terasa begitu dekat dengan memori masa-masa SMA-Kuliah dulu ini membuat saya tersentak bahwa Ekstrimisme, Radikalisme, bahkan Terorisme ini sudah menjadi “Clear and Present Danger”. Ini tidak lagi sebuah film di bioskop atau berita koran yang terjadi nun jauh di negeri seberang. Ini sudah terjadi disini dan saat ini disekitar kita.

    Maka kita harus menetralisir kegilaan ini sampai ke akar-akarnya. Tidak ada gunanya kita melakukan penyangkalan (denial) bahwa ini cuman rekayasa, pelakunya ndak paham Islam, ini bukan bagian dari ajaran Islam, ini pasti cuman adu domba, dll.

    Nyatanya pelakunya masih sholat subuh berjamaah di mushola, lalu satu keluarga berpelukan sebelum mereka menyebar ke 3 gereja untuk meledakkan diri.

    Nyatanya memang ada saudara-saudara kita yang memahami Islam versi garis keras yang hobinya mengutip mentah-mentah ayat-ayat perang dan melupakan substansi “cinta dan kasih sayang” sebagai inti ajaran Islam.

    Nyatanya memang benih-benih radikalisme, ekstrimisme ini telah ditabur 30 tahun terakhir di pikiran anak-anak muda kita, di sekolah-sekolah terbaik dan di kampus-kampus top di Indonesia. Dan  kalau akhirnya mewujud menjadi tindakan nyata terorisme, mestinya tidak mengagetkan kita.

    Kalau kita masih saja melakukan penyangkalan, maka kita tidak akan pernah berbenah diri. Tapi kalau kita insyaf bersama, kalau kita dengan gentle mengakui -- bahwa IYA memang kita sedang sakit, bahwa memang ada banyak diantara kita, dan saudara-saudara kita yang memahami Islam versi garis keras, yang merasa bahwa Islam harus diperjuangkan dengan kekerasan -- maka kita bisa mulai mengambil langkah-langkah solutif.

    Dan langkah-langkah solutif nyata yang bisa kita lakukan diantaranya adalah:

    1. Mulai menetralisir alias melunakkan paham islam garis keras dan mulai menyebar luaskan paham islam moderat (washothiyah).

    2. SMA-SMA dan Kampus-Kampus harus disterilkan dari gerakn-gerakan bawah tanah Islam garis keras, diganti dengan kemeriahan dan kegembiraan aktivitas Islam yang menebarkan “cinta dan welas asih” pada sesama manusia.

    3. Sosial media harus dipenuhi kampanye “Islam yang ramah dan penuh kasih sayang”. Bukan Islam yang keras, penuh umpatan, dan kata-kata kasar, apalagi hoax dan berdarah-darah.

    4. Pertarungan politik mohon jangan lagi menggunakan isu SARA sebagai komoditas rebutan kekuasaan. Apalagi disertai kampanye hitam saling menghujat yang membuat bahkan setelah selesai Pilkada/Pilpres-nya masyarakat jadi terbelah saling bermusuhan.

    5. Mawas diri dan sama-sama menahan diri dalam menyikapi perbedaan-perbedaan dalam penafsiran Islam. Islamnya satu dan sumbernya sama, tapi nyatanya cara kita memahaminya bisa macem-macam. Dan ini fenomena psikologi yang wajar. Ayo tebarkan sikap saling memahami dan berempati, bukannnya saling curiga dan menyalahkan. Islam harus dipulihkan reputasinya dari wajah muram penuh kekerasan menjadi wajah ramah penuh Cinta pada sesama manusia.

    Benar kata Muhammad Abduh, cendekiawan muslim abad 20, “Al-islamu Mahjubun bil muslimin”, Keindahan Islam ini terhijab/tertutupi oleh akhlak buruk sebagian umat Islam sendiri”. Jadi mari kita yang akan bersama-sama memulihkan wajah Indah Islam.

    Terakhir, mari kita dengar seruan  seorang remaja Islam peraih Nobel Perdamaian, Malala Yousafzai:

    “Peluru hanya bisa menewaskan teroris, tapi hanya PENDIDIKAN-lah yang bisa melenyapkan paham terorisme (sampai akar-akarnya: radikalisme, ekstrimisme)”

    Stay Save.. Keep Optimism.. Spread Love and Compassion..

    And for my beloved Christian brothers and sisters.. My deep condolence for all of you.. From the bottom of my heart, I am really sorry..

    Love & Peace for all of us..

    Saya yang sedang berduka,

    Penulis: Ahmad Faiz Zainuddin
    Alumni SMA 5 Surabaya Lulusan 1995

    Terkait Maraknya Aksi Teroris di Berbagai Daerah, Ini Sikap LAKPESDAM PBNU

    Ketua LAKPESDAM PBNU Rumadi Ahmad. Foto: nuonline.
    Jakarta, PEWARTAnews.com -- Runutan peristiwa yang dilakukan teroris sungguh menghebohkan jagad nusantara akhir-akhir ini. Belum lama hilang dalam ingatan kita terkait peristiwa yang terjadi di Mako Brimob Depok, lalu peristiwa yang terjadi di beberapa Gereja di Surabaya, serta peristiwa yang terjadi di Rusunawa Sidoarjo.

    Berkaitan dengan peristiwa-peristiwa teror diatas, juga juga mengusik Pengurus Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LAKPESDAM PBNU) memberikan sikap yang tegas terkait itu.

    Dalam press rilisnya yang dibuat di Jakarta tertanggal 14 Mei 2018, Ketua LAKPESDAM PBNU Rumadi Ahmad mengutuk keras tindakan terorisme tersebut, sebagaimana uraian dibawah ini.

    Pertama, Orang-orang yang pernah bergabung dengan ISIS di Syiria dan kini pulang ke Indonesia nyata-nyata sudah menjadi ancaman serius. Keberadaan mereka, cepat atau lambat, akan menjadi duri dan terus menjadi persoalan bagi bangsa Indonesia. Sementara itu, negara --terutama POLRI-- tidak bisa melakukan tindakan apapun karena tidak ada payung hukum yang secara efektif bisa menjerat mereka.

    Kedua, Pengesahan revisi UU Terorisme yg memberi kewenangan kepada POLRI utk mengambil tindakan terhadap orang-orang yang nyata-nyata bergabung dengan organisasi terorisme menjadi sangat penting. Para politisi di DPR yg membahas revisi UU Terorisme harus lebih serius untuk menutup semua celah tumbuhnya terorisme, termasuk ujaran kebencian  di ruang publik yang bisa menjadi benih radikalisme dan terorisme.

    Ketiga, Politisi DPR jangan menjadikan isu terorisme hanya sebagai dagangan politik elektoral, apalagi dikaitkan dengan kontestasi perebutan kekuasaan 2019. Mestinya semua elemen bangsa bersatu pada saat-saat seperti ini, bahu membahu untuk melawan terorisme. DPR harus lebih serius menyelesaikan revisi UU Terorisme.

    Keempat, Kalau revisi UU terorisme di DPR tidak bisa diselesaikan dalam waktu dekat karena berbagai kepentingan yang ada di dalamnya, kami mendorong presiden agar mengeluarkan PERPPU agar persoalan-persoalan yang sangat mendesak dalam penanggulangan terorisme ada payung hukum. PERPPU menjadi jalan terakhir jika memang DPR tidak bisa diharapkan kinerja cepatnya dalam menyelesaikan revisi UU Terorisme.

    Kelima, Mari kita tunjukkan kepada dunia internasional bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yg kuat dan beradab. Kita tidak akan pernah tunduk pada kekuatan jahat terorisme. Islam adalah agama rahmatan lil alamin, bukan penebar teror dan kebencian.

    (rls / PEWARTAnews)

    Ricco Bekali Mahasiswa Hukum Jogja dengan Pengetahuan Dasar Notaris

    Ricco Survival Yubaidi (berbaju batik) saat menerima kenang-kenangan dari DPC PERMAHI DIY.
    Bantul, PEWARTAnews.com -- 50 peserta yang terdiri dari mahasiswa Hukum se-Daerah Istimewa Yogyakarta mengikuti Masa Perkenalan Calon Anggota (MAPERCA) ke XXI DPC PERMAHI DIY. Kegiatan yang berlangsung selama 2 hari (12-13 Mei 2018) di Balai Pemuda dan Olahraga (BPO) Ambarbinangun Disdikpora DIY tersebut mengangkat tema “Terbinanya Kader PERMAHI yang Harmonis, Berintegritas dan Menjunjung Azas Kekeluargaan dalam Bingkai Kebhinekaan.”

    Perhimpunan Mahasiswa Hukum (PERMAHI) DIY merupakan organisasi kader profesi hukum yang bukan organisasi masa, independen dan tidak berdiri maupun memihak pada salah satu golongan tertentu ataupun kelompok agama/daerah. Kegiatan MAPERCA diselenggarakan dalam rangka membuka perekrutan Calon Anggota Baru dan bertujuan untuk menambah khazanah wawasan tentang ke-PERMAHIAN, Sejarah PERMAHI, dan Ilmu seputar Profesi Hukum dan Keorganisasian.

    Dalam rangka menyiapkan bekal kepada para peserta sebagai kader profesi hukum yang berintegritas dan menjunjung tinggi asas kekeluargaan, PERMAHI yang dinahkodai oleh Ketua Umum DPC PERMAHI DIY Rouf Fajrin Widiantoro, S.H., dan Ketua Panitia MAPERCA XXI Wenten Arianto menghadirkan beberapa pembicara yang aktif di bidang profesi masing-masing seperti Jaksa, Hakim, Pengacara dan Notaris.

    Salah satu pembicara yang turut hadir, Ricco Survival Yubaidi, S.H., M.Kn. menjelaskan materi dasar profesi kenotariatan. Dalam sesi tersebut dijelaskan pengertian, fungsi, kewajiban maupun larangan dari seorang pejabat Notaris dan PPAT. "Profesi Notaris diatur sebagaimana melekat segala peraturan dalam menjalankan jabatan pada Undang-Undang Nomor 30 tahun 2004 jo. Undang-Undang Nomor 2 tahun 2014 dan Kode Etik Notaris," ucap Ricco pada 12/05/2018 disela-sela acara berlangsung.

     Lebih jauh Ricco menyampaikan, "Apabila nantinya para kader PERMAHI ingin mengabadikan diri menjadi Notaris dan PPAT, maka harus mampu memiliki integritas, berani dan tegas dalam mengakomodir setiap pembuatan akta," bebernya.


    Kegiatan MAPERCA berlangsung dengan cukup antusias diikuti sesi tanya jawab antar pemateri dan peserta. Pada akhir pelaksanaan acara, para peserta mengikuti pengukuhan sebagai Kader PERMAHI. (rls / PEWARTAnews).

    Pelaku Terorisme bukan Orang Gila

    Solihul Hadi, S.H. (baju hijau) bersama para personil Banser.
    PEWARTAnews.com -- Berawal dari kasus yang terjadi di Mako Brimob sampai dengan bom yang meledak di tiga gereja Surabaya dan satu di Rusunawa Sidoarjo. Jujur, dari hati kecil penulis merasa sangat perihatin dan mengucapkan turut berbela sungkawa yang sedalam-dalamnya pada semua keluarga korban, namun ada satu hal lagi yang membuat hati saya tersayat-sayat, disaat suasana sedang berkabung seperti ini ternyata masih banyak juga orang yang menganggap bahwa aksi radikalisme dan terorisme ini hanya untuk mengalihkan isu, kepentingan politik 2019 dan rekayasa pemerintah, seharusnya kita bisa berfikir bahwa orang-orang yang meninggal itu adalah saudara kita sebangsa dan setanah air, kalaupun ada diantara mereka yang bukan saudara seiman dengan kita, mereka itu ya saudaramu dalam kemanusiaan.

    Lebih parah lagi banyak orang yang mengatakan bahwa aksi terorisme tersebut dilakukan oleh orang gila, maaf dalam kondisi ini penulis tidak setuju, karena terorisme ini adalah murni dilakukan oleh mereka yang mengenyam pendidikan sampai perguruan tinggi dan berakal sehat, hanya saja pemahamanya terhadap ilmu agama sangat kurang dan cenderung menyimpang, sehingga dalam pikirannya hanya berisi propaganda dan faham yang mengajak pada kebencian dan kekerasan dengan janji-janji surga fatamorgana.

    Para calon teroris ini sebenarnya dapat dilihat dari beberapa indikator non fisik, pertama mereka memiliki kecendrungan membentuk kelompok yang sangat ekslusif, kedua selalu memaksakan kehendak sendiri atau merasa paling benar, ketiga tidak bisa mentolerir sesuatu yang berseberangan dengan paham mereka, keempat cenderung menggunakan
    cara-cara yang radikal untuk mencapai tujuanya dan kelima mereka sering mengatakan “kafir” pada orang yang tidak sependapat dengan kelompoknya.

    Penulis mengajak pada sahabat-sahabat generasi muda NU, khususnya GP Ansor dan Banser agar selalu rapatkan barisan, jalin komunikasi dan koordinasi disemua tingkatan dan satu komando dengan Gus Yaqut, serta kita jangan mudah terprovokasi oleh opini-opini yang bertaburan di media mainstream maupun medsos, serta selalu bersiap dalam situasi apapun apabila sewaktu-waktu Negara memanggil atau Para Kiai mengeluarkan perintah kepada kita.

    Semoga pemerintah dapat segera mengusut sampai ke akar-akarnya terkait dalang dibalik semua kegaduhan ini, dan bisa menindak tegas para teroris, bila perlu hukum mati pada para pelaku yang telah terbukti melakukan aksi terorisme.



    Penulis: Solihul Hadi, S.H.
    Ketua Karang Taruna Kota Yogyakarta / Wakil Ketua Gerakan Pemuda Ansor Kota Yogyakarta.
     

    Iklan

    Iklan
    Untuk Info Lanjut Klik Gambar
    Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website