Headlines News :
Home » » Antara Aku, Elfa dan Bapak

Antara Aku, Elfa dan Bapak

Written By Pewarta News on Jumat, 25 Mei 2018 | 11.46


PEWARTAnews.com -- Beruntunglah kalian yang masih bisa mencium tangan seorang bapak, bercengkrama dengannya sambil menceritakan suka dukanya menjalani kehidupan. Bahkan disaat lebaran nanti, kalian masih bisa sungkem kepadanya sambil meminta doa restu agar dipermudah dalam segala hal.

Dia adalah seorang laki-laki paruh baya yang mendambakan dan berusaha seoptimal mungkin dalam mendidik putra putrinya agar menjadi permata yang elok, shaleh-shalehah nan cerdas iman, hati, pikiran dan tindakan. Seorang laki-laki yang bekerja keras demi menafkahi istri dan anaknya dalam menggapai ridha illahi Rabbi serta laki-laki yang merindukan pelukan hangat dari putra putri tercintanya. Begitu besar jasa, perjuangan dan pengorbanan seorang bapak, sehingga grup band Seventeen pun mengabadikan namanya dalam sebuah lirik lagu “Ayah”, berikut cuplikan nya :
Engkaulah nafasku
Yang menjaga di dalam hidupku
Kau ajarkan aku menjadi yang terbaik
Kau tak pernah lelah
Sebagai penopang dalam hidupku
Kau berikan aku semua yang terindah.

Sore tadi (Jum'at/5/2018) saya mendapat kabar lewat WA kalau bapak-nya mba Elfa (sahabatku sejak dari Aliyah hingga kini) meninggal dunia. Sontak kaget, meski hanya ada waktu 15 menit sebelum pemakaman untuk perjalanan menuju ke Wonokromo, Bantul. Di perjalanan rasa tak karuan, membayangkan bagaimana keadaan sahabatku itu, mengingat kami sama-sama sedang berjuang dalam menuntut ilmu. Sudah pasti dukungan dan do'a dari seorang “bapak” sangat berarti.

Tak lama kemudian, sampailah di rumah Elfa yang sudah lama sekali aku tak menginjakkan kaki disini. Bahkan lebaran tahun kemarin kami belum saling bertemu, karena Elfa mondok di Ponorogo untuk menyelesaikan hafalan Qur’an-nya.

Dari kejauhan, ku lihat Elfa begitu tegar. Sama persis ketika 3 tahun silam saat ia bercerita kepada-ku bahwa ia merindukan seorang ibu (ibunya meinggal saat Elfa SD).

Perlahan ku dekati, lalu dia memelukku dan mengatakan “bapak belum melihatku wisuda bil ghaib 30 Juz, aku baru mempersembahkannya setengah Qur’an ty,” ujar Elfa. Ty itu singkatan dari ukhty, ini panggilan akrab kami saat Aliyah. Aku tak bisa menahan tangis, dengan suara terbata-bata ku katakan “Bapak sangat bahagia memiliki putri seperti-mu, mba”. Meski suatu saat nanti bapak tidak mendampingi wisuda bil ghaibmu, tapi bapak menyaksikan dan bangga melihatmu bahkan memelukmu meski tak terlihat oleh mata. Apapun yang terjadi, harus diselesaikan ya mba Elfa. Tetap semangat dan aku yakin Allah akan mempermudah segalanya.

Insya Allah suatu saat nanti, Allah akan mengirimkan seorang “bapak”  yang amat menyayangi kita meski dengan darah yang berbeda (mertua maksud saya). Do'aku untukku, do'aku untukmu, dan do'aku untuk kita semua yang merindukan kasih sayang dari seorang bapak. Seandainya kini telah tiada, yakinlah ada bapak-bapak lain yang siap mencurahkan kasih sayangnya untuk kita.

Mohon fatihahnya kagem bapak Mufid dan Sarmidi. Lahumul Fatihah.


Penulis : Mukaromah
Mahasiswi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website