Headlines News :
Home » , » Hakikat Pernikahan adalah Untuk Regenerasi Perjuangan Orangtuanya

Hakikat Pernikahan adalah Untuk Regenerasi Perjuangan Orangtuanya

Written By Pewarta News on Rabu, 23 Mei 2018 | 10.20

PEWARTAnews.com -- Menikah. Singkat tapi bermakna. Bermakna tapi rumit. Rumit karena dipikirkan hanya dengan menggunakan logika saja, tanpa mensinergikan dengan rasa. Padahal sejatinya antara rasio dengan hati haruslah seimbang agar tidak terjadi ketimpangan suatu hal. Sebagaimana diketahui bahwa Tuhan memberikan kesempatan kepada manusia untuk hidup. Hal tersebut merupakan suatu anugerah yang luar biasa, karena faktanya diri kita termasuk orang yang terpilih (dalam bahasa motivasinya kita merupakan “pemenang” yang berhasil mengalahkan berjuta-juta sel dalam rahim ibu kita) sebelum pada akhirnya diri kita terlahir ke dunia.

Namun tidak dalam menikah. Bukan persoalan siapa cepat ia menang dan siapa lambat ia kalah, namun menikah adalah pilihan “setiap orang” yang “dapat” diambil dan dilakukan, ataupun sebaliknya. Dalam Islam, menikah merupakan sunnah nabi, yang jika dilaksanakan akan mendapatkan pahala dari Allah serta mendapatkan kemanfaatan (nilai plus) dalam hidup. Nilai plus tersebut terwujud dalam berbagai aspek yang meliputi aspek psikologis, sosiologis - antropologis, fenomenologis dan agama. Dalam aspek psikologis, pada dasarnya manusia memiliki suatu “keinginan dan kebutuhan” yang mendorongnya untuk menyalurkan hasrat tersebut kepada lawan jenis. Hal ini merupakan fitrah yang Allah berikan kepada manusia yang sifatnya bawaan dari lahir, sehingga perlu dipertanyakan apabila orang tidak memiliki perasaan dengan lawan jenis. Akan tetapi, jika tujuan menikah hanya untuk menyalurkan keinginan seks-nya maka hal tersebut tidak jauh beda dengan binatang.

Dalam sebuah penelitian mengatakan bahwa rentang waktu nafsu seks manusia terbatas yakni mulai umur baligh sampai 40 tahun. Selebihnya, manusia akan merasa jenuh namun bukan berarti tidak ingin melakukan, akan tetapi hal seperti ini tidak diprioritaskan lagi dalam sebuah pernikahan dan ternyata hal tersebut tidak akan dapat “melanggengkan sebuah kebahagiaan” jika didasari tanpa agama. Oleh karena itu, manusia akan mencari sesuatu yang baru dan lebih mencerahkan yakni dengan beralih perhatian/fokus kepada anak-anaknya dan berharap agar anak-anaknya tumbuh menjadi orang yang baik, mandiri dan cerdas. Dengan demikian, dapat diambil benang merahnya bahwa hakikat sebuah pernikahan ialah mencetak generasi yang kelak akan meneruskan kiprah perjuangan dari kedua orangtua nya. Karena seperti apapun orang tua, pasti menginginkan anak-anaknya dapat “lebih baik” dari dirinya.

Hal ini yang melatarbelakangi pengamalan doa-doa yang diajarkan oleh para pendidik di satuan pendidikan (pondok pesantren, sekolah dan atau madrasah). Salah satu doa tersebut ialah "Rabbanaa hab lanaa min azwajinaa wa dzurriyyatinaa qurrata a'yuninin waj'alnaa lil muttaqiina imaama" yang merupakan permohonan seorang hamba kepada Tuhan-nya (sufla ilal a'la) yang dapat bermakna harapan agar dikaruniai pasangan dan dzurriyah-dzurriyah yang menyejukkan mata (menentramkan kalbu, shaleh dan atau shalehah nan cerdas dzahir maupun batin).

Oleh karenanya, dari hal tersebut penulis yakin bahwa mencetak keturunan (generasi penerus) dapat dilakukan pada saat masa-masa berjuang seperti ini (single/belum punya pasangan/terikat akad tetapi belum menikah) dengan cara “mengindahkan cetakan-nya” melalui tindakan dan perilaku yang baik nan benar. Setelah itu berlanjut pada pemilihan pasangan (laki-laki/perempuan), dengan menomorsatukan Agama, Akhlaq dan Ilmu. Setelah itu, pada masa konsepsi dan masa kandungan (hamil) dengan memberikan asupan intern maupun ekstern yang berupa penjagaan yang baik dan gizi yang cukup. Itulah mengapa anak-anak kecil Israel cerdas-cerdas dan kuat-kuat fisiknya. Banyak anak-anak kecil disana yang berumur 8 tahun sudah dapat menciptakan sesuatu hal (produktif), karena ternyata saat "mengandung", kedua orangtuanya memecahkan masalah yang berkaitan dengan logika (matematika) dan makan ikan patin yang memang gizinya luar biasa.

Maka dari itu, wanita dan laki-laki harus berpendidikan, mengingat "tanggung jawabnya dalam mendidik anak". Berpendidikan tidak hanya yang sekolah formal, tetapi mereka yang selalu dan tak mengenal lelah dalam mencari ilmu pun juga disebut berpendidikan. Oleh karena itu, mencetak keturunan dapat dilakukan sekarang dan saat ini dengan cara berbenah diri dan memantaskan diri dengan terus belajar dan belajar (berthalabul 'ilm) dalam segala aspek. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa apa yang saat ini dilakukan akan berpengaruh kepada anak cucu. Sehingga tak salah, jika orang Jawa (simbah-simbah) mengatakan “aku iso koyo ngene sebab tirakate leluhurku" (saya bisa seperti sekarang ini karena tirakat/usaha/perjuangan dari orangtuaku). Baru setelah anak lahir ke dunia, saatnya memberikan education seems karena golden age yang pada usia tersebut seluruh kekuatan, pertumbuhan dan perkembangan otak amat maksimal. Pada masa ini pula seharusnya digunakan untuk mempersiapkan segenap potensi fisik, akal maupun mental yang ada pada diri anak dengan sebaik-baiknya. Bukankah الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدّنيا ? (Bukankah harta dan anak-anak merupakan perhiasan di dunia ini?).

Rabby inniy limaa anzalta ilayya min khoirin faqiir.


Penulis : Mukaromah
Mahasiswi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website