Headlines News :
Home » , » Kunjungi PBNU, Grand Syaikh Al Azhar Prof. Ahmed: Al Azhar akan Dorong Islam Moderat Ala NU

Kunjungi PBNU, Grand Syaikh Al Azhar Prof. Ahmed: Al Azhar akan Dorong Islam Moderat Ala NU

Written By Pewarta News on Kamis, 03 Mei 2018 | 05.05

Ketua Umum PBNU, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj saat menyambut Grand Syaikh Al Azhar, Mesir, Prof. Dr. Ahmed Al Thayyeb ketika berkunjung ke kantor PBNU.
Jakarta, PEWARTAnews.com -- Melalui rilis Sekretariat Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menginformasikan bahwa Grand Syaikh Al Azhar, Mesir, Prof. Dr. Ahmed Al Thayyeb berkunjung ke kantor PBNU, Rabu (2/5/2018). Kunjungan ini merupakan rangkaian agenda High Level Consultation of World Moslem Scholars on Wasatiyyah Islam di Bogor, 1-4 Mei 2018. Grand Syaikh datang tepat pukul 18.00 WIB ditemani mantan Ketua Organisasi Internasional Alumni Al Azhar Indonesia, Prof. Dr. Quraish Shihab. Setibanya di halaman gedung PBNU, Mufti Besar Mesir ini langsung disambut oleh Ketua Umum PBNU, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, Sekjen PBNU Dr. H. Helmy Faishal Zaini, dan Ketua PBNU KH. Marsudi Syuhud. Grand Syaikh beserta rombongan lantas diterima di ruang Ketua Umum PBNU di lantai 3 Gedung PBNU. Sekitar 15 menit Ketua Umum PBNU memberikan pengantar dan ucapan selamat datang.

Acara resmi mulai berlangsung pukul 18.15 WIB di gelar di Aula PBNU di lantai 8. Di ruangan berskala 500 audience ini Grand Syaikh disambut dengan sholawat badr. Acara silaturrahim Grand Syaikh Al Azhar dengan kiai dan warga nahdliyyin kemudian diawali dengan pembacaan alfatihah, dilanjutkan dengan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Ya Lal Wathon.

Mengawali dialog, Ketua Umum PBNU Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj sedikit memberikan pengantar dengan menceritakan kronologis sejarah berdirinya Nahdlatul Ulama. Kiai Said juga memaparkan keberadaan badan otonom dan lembaga yang bernaung dibawah Nahdlatul Ulama.

Sementara Grand Syaikh Al Azhar menyampaikan beberapa poin, diantaranya : Pertama, Ucapan terima kasih atas undangan Nahdlatul Ulama dalam rangka memperkuat silaturahim tokoh-tokoh agama. Kedua, Grand Syaikh memaparkan pandangan moderat Al Azhar di dalam pemikiran agama dan konsep-konsep bernegara. Ketiga, Grand Syaikh menegaskan bahwa adanya perbedaan-perbedaan hendaknya menjadi perekat umat Islam. Kita umat Islam, menurut Grand Syaikh sudah diajarkan oleh rasulullah bahwa perbedaan itu akan menjadi rahmat ketika direspon dan disikapi dengan bijak dan tepat.
 Al Azhar akan mendorong penguatan Islam moderat yang dilakukan NU. Dan akan bersama-sama dalam memberikan penguatan dan mengkampanyekan Islam moderat di dunia.

Keempat, Grand Syaikh menyambut baik rencana kegiatan bersama NU dan al Azhar serta siap memberikan beasiswa kepada santri berprestasi untuk studi di Al Azhar khususnya di jurusan umum bagi perempuan. Termasuk di dalamnya terkait rencana pelaksanaan konferensi internasional bersama.

Selanjutnya, Grand Syaikh Al Azhar berkesempatan berdialog dengan peserta yang hadir. "Bagaimana Grand Syaikh menilai tentang politisasi agama?," tanya peserta. Hadirnya politisasi agama, kata Grand Syaikh hanya membuat agama tidak dipandang baik dan politik akan dipandang buruk. "Politisisasi agama jika tidak dipahami dengan benar akan menimbulkan dua kerugian; pertama kerugian agama yang menjadi jelek. Dan kedua, juga politik yang menjadi buruk," jawaban Grand Syaikh dengan lugas.

Sepertinya peserta yang hadir tidak menyia-nyiakan kesempatan emas itu, lalu timbul lagi pertanyaan, "Bagaimana pandangan Grand Syaikh tentang kelompok yang ingin mendirikan khilafah di dunia?," ucap peserta. Tentang adanya isu khilafah islamiyah, Grand Syaikh membeberkan bahwa dunia menolaknya. "Dunia sepakat menolak khilafah islamiyah. Maka itu sangat sulit untuk terjadi. Hal ini karena masing-masing banyak perbedaan yang sudah tertanam. Adanya perbedaan itu justru menjadi keindahan agama Islam," ujar Grand Syaikh.

Akhir-akhir ini di media sosial maupun dunia nyata sering kita temukan orang dengan mudahnya mengkafirkan orang lain, hal seperti ini juga ditanyakan peserta pada Grand Syaikh dalam moment tersebut. "Apakah yang terjadi saat ini ketika ada kelompok Islam yang menuduh kafir diluar kelompoknya?," ucap salahsatu peserta yang hadir. Grand Syaikh memandang bahwa mengkafirkan orang biasanya karena tidak secara utuh mampu memaknai ruh agama, dan hal itu perlu kita kolektif menolaknya. "Gerakan radikalisasi dan takfirisasi, mengkafir-kafirkan orang lain itu merupakan kebodohan terhadap memahami ruh dan substansi agama. Saya dengan tegas menolak pemahaman agama yang memonopoli kebenaran," kata Prof. Ahmed tersebut.

Mudahnya kita mengkses media sosial seharusnya itu menjadi hal yang membangkan bagi umat manusia karena mempermudah kita berkomunikasi dan mendapatkan informasi, namun kenyataannya tidak sedikit malah menjadi momok yang menakutkan dengan dijadikan media untuk memupuk benih perpecahan. Hal ini juga tidak ketinggalan ditanyakan oleh hadirin dalam momentum tersebut. "Bagaimana menyikapi perkembangan media sosial yang dijadikan benih perpecahan?," ucap peserta yang hadir. Mengenai hal tersebut, Grand Syaikh memandang bahwa semua elemen harus bersatu padu dalam menyuarakan Islam moderat di dunia maya dan perlu di manage dengan baik agar tidak menjadi media penghancur kedamaian. "Kita harus bersama-sama memberikan penguatan moderat islam melalui media sosial. Karena jika tidak di manage dengan baik, media sosial akan menjadi penghancur bagi kedamaian," beber Grand Syaikh.

Demikian beberapa poin silaturrahim dan poin dialog bersama Grand Syaikh Al Azhar di gedung PBNU. Banyak hal positif yang dapat dipetik dalam pertemuan tersebut. Kehadiran Grand Syaikh Al Azhar di gedung PBNU menjadi kebanggaan tersendiri bagi jajaran pengurus NU dan juga secara keseluruhan warga nahdiyin seantero negeri ini. Lebih umumnya, kehadiran Grand Syaikh Al Azhar di Indonesia semoga menjadi berkah bagi bangsa, negara dan seisinya. (rls/MJ/PEWARTAnews)
Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website