Headlines News :
Home » » Malaikat Pengatur Alam

Malaikat Pengatur Alam

Written By Pewarta News on Rabu, 23 Mei 2018 | 12.28

Ilustrasi. Foto: dibalikislam.com.
PEWARTAnews.com – Siang yang cukup mendung. Mungkin sebentar lagi akan segera turun hujan. Matanya memandang atap-atap langit yang hitam dipenuhi awan tebal. Sesekali ia perhatikan padi-padi yang sudah menghijau. Kadang-kadang pandangannya tertuju kearah kampung, sebelah selatan tempatnya duduk – sawah. Atap-atap rumah yang terbuat dari seng hanya terlihat samar-samar. Mungkin karena penglihatannya yang sudah kabur dan suasana hari yang mendung, membuat  pandangannya semakin tidak jelas.

Ibrahim, seorang kakek yang hidup dengan anak perempuan satu-satunya. Karena garis takdir, anak perempuannya ditinggal pergi oleh suaminya. Bukan karena menantunya tidak setia terhadap janji suci dengan anaknya yang disahkan dalam ikatan suci olehnya. Melainkan yang Maha Kuasa memanggilnya terlalu cepat dibanding dirinya, untuk menghadap Sang pemilik kehidupan, Tuhan yang Maha Hidup. Kepergian menantunya cukup membuat anak perempuannya bersedih hati. Namun Tuhan tidak pernah kehabisan cara untuk menghibur hamba-hamba-Nya yang bersedih. Para tetua sering kali mengingatkan “jangan bersedih, Allah bersama hamba-Nya!”. Kesedihan anak perempuan Ompu Bai[1] terobati oleh keberadaan putranya – cucu Ompu Bai – yang berumur dua tahun sewaktu ayahnya menghadap Tuhan. Kini Ompu Bai tidak hanya hidup dengan anak perempuannya yang telah menjanda, tapi sudah ditambah oleh cucu laki-lakinya. Sedangkan istri Ompu Bai, juga telah menghadap Tuhan. Bahkan setahun lebih awal dari kepergian menantunya yang bernama Firdaus. Kejadian yang menimpa diri dan keluarganya, atas kepergian Firdaus dan juga Istrinya Halimah – Ina Lomi[2] – ia jadikan pelajaran hidup yang paling berharga. “Bahwa kematian adalah peristiwa yang paling misterius, ia hadir kapan dan dimana saja dan untuk siapa saja”. Tanpa ada kepastian kapan ia hadir. Hanya ada satu kepastian, yaitu kematian pasti hadir!

Siang pukul dua belas lewat, masih tetap mendung. Padahal sudak sejak pukul sembilan tadi ia mendung. Tapi hujan belum juga turun. Sedangkan sang pembawa berita gembira tiada hentinya membelai lembut wajah Ompu Bai yang kusut dan keriput termakan usia. Sesekali petir mengkilap di pucuk-pucuk gunung serta suara-suaranya yang terus menggelegar. Menggantikan suara burung-burung yang bernyanyi dengan merdu. Walau hanya sesekali bertengger pada dahan pohon samping salaja[3]-nya.

Sekali lagi Ompu Bai memandang kearah Desa. Hanya atap-atap rumah seng yang sudah berkarat dan berwarna coklat yang terlihat. Secara perlahan pandangannya menyusuri hamparan padi-padi milik warga Desa, tanpa pepohonan atau sekedar orang yang berjalan. Seperti pada hari-hari kemarin atau pada pukul tujuh pagi tadi. Ada sesuatu yang ia tunggu. Mungkin itulah alasan mengapa ia selalu mengarahkan pandangannya ke Desa, lalu pada hamparan padi-padi sampai pada posisinya duduk. Kadang-kadang ia melakukannya dengan cermat. Berharap ada orang yang jalan, tepatnya seorang anak yang berjalan kerahnya – Zainul. Hanya kata ‘khawatir’ yang bisa menggambarkan suasan hati Ompu Bai saat ini. Wajar Ompu Bai sangat mencemaskan Zainul – cucunya. Selain karena Zainul merupakan cucu dia satu-satunya. Zainul sangat ia sayangi, tiada limpahan kasih sayang Ompu Bai saat ini sebesar limpahan kasih sayangnya pada Zain.

Rasa-rasanya Ompu Bai ingin tidur saja. Bersembunyi dibalik selimutnya yang hangat. Selimut yang entah telah berapa bulan tidak dicuci. Padahal seringkali Aulia – putrinya – mengingatkan untuk membawa serta selimut itu ke rumah kalau pulang. “Biar saya dicuci”. Kata Aulia. Bersembunyi dibalik selimut ia urungkan. Ia teringat dengan sesuatu yang belum ia selesaikan. Salat Zuhur. “Kecemasan pada dunia dan kecintaan pada anak -cucu, ternyata tak jarang membuat orang lupa, pada diri dan pada-Nya”. Ucapan guru ngajinya – yang sering disapa Guru Dero[4] - kini terngiang lagi dari memorinya. Sembari berjalan menuju aliran air untuk berwudhu.

Usai salam. Ompu Bai duduk bersila diatas sajadah hitamnya. Sajadah yang paling sering ia pakai untuk salat, walaupun masih ada dua sajadah lain dirumahnya. Sajadah itu dibelikan khusus oleh istrinya, beberapa bulan sebelum kepergiannya, menghadap Allah. Di atas sajadah hitam itulah Ompu Bai sering bersimpuh manja dan merayu-Nya lewat lantunan zikir-zikir suci yang ia ucapkan. Mengharap belas kasih dan ampunan serta mengadu segala apa yang ia adukan dan memohon segala macam keinginannya. Disela-sela waktunya yang sunyi dan bersahaja itu. Ompu Bai selalu mengirimkan hadiah-hadiah untuk istri dan menantunya. Sesuatu yang paling indah saat ini untuk mereka. Bukan bingkisan kado yang berisi kalung dan gelang atau sejenisnya. Melainkan hadiah berupa bingkisan do’a-do’a yang beirisi rayuan manja dan harapan belas kasih Tuhan untuk istri dan menantunya. Tak lupa ia sisihkan hadiah-hadiah itu untuk umat mukmin dan umat manusia seluruhnya. Dan yang terpenting adalah untuk Zainul. Semoga tumbuh menjadi manusia soleh dan pemimpin umat yang amanah. “rabbana hablana min azwajina wa djurriyyatina kurrata’ayun waja’alana lil muttaqina imama”! Ucapnya. Disaat-saat suasana alam yang mencemaskan seperti sekarang ini. Ompu Bai mengkhususkan satu bacaan Al-Fatihah dan salawat untuk para malaikat yang diberi tugas oleh-Nya untuk mengurus alam. Usai mengirimkan hadiah-hadiah untuk keluarga, orang-orang mukmin, umat manusia, dan juga untuk malaikat pengatur alam semesta. Ompu Bai melipat sajadahnya, lalu mengambil selimutnya. Sebelum ia membaringkan tubuhnya yang rapuh. Mulutnya terlihat bergerak, seperti orang yang sedang mengucapkan mantra. Mungkin Ompu Bai berdo’a.

Ompu Bai tak merasakan lagi hembusan angin yang menerpa tubuhnya yang rapuh. Dentuman suara alam dan halilintar yang berlomba, tak lagi ia dengarkan. Hanya ada satu suara yang ia dengar, yang terus memanggili namanya. Ia tak tahu dari mana dan siapa. Panggilan nama yang cukup lengkap, tak pernah ia dengar sebelumnya.

“Assalamu’alaikum....., Ibrahim bin Yusuf”. Sapa suara yang misterius itu. Ompu Bai tak langsung menjawabnya. Ia perhatikan sekelilingnya, membuatnya semakin bertanya-bertanya. Pohon-pohon dan gunung ia lihat ada dibawahnya, petir menyambar dibawahnya tapi tak mengenainya. Bintang-bintang berada disekelilingnya. Ompu Bai berada pada suatu ruang tanpa batas.

“Assalamu’alaiku...., wahai Ibrahim!”. Kembali suara itu memanggilnya.

“ Wa.., wa’alaikumsalam”. Jawabnya, dengan suara yang gemetar. Ompu Bai bingung. Mengapa suaranya keluar dan terdengar, padahal ia tak menggerakkan mulutnya sama sekali.

“Kamu tidak perlu bingung apalagi takut wahai Ibrahim”. Ucap suara itu, mengetahui suasana psikologisnya yang sedang kacau.

“Sekarang..., antara kamu dan aku tak ada lagi ruang dan waktu. Semuanya berada pada titik nol. Antara kita tak ada lagi pembatas dan tak perlu lagi perantara apa-apa”. Lanjutnya.

“Bolehkah saya tahu siapa gerangan saudara?”. Tanya Ompu Bai.

“Aku adalah malaikat yang bertugas mengatur alam, termasuk cuaca dan musim. Namum, tetap atas perintah-Nya”. Jawab Malaikat Pengatur alam.

“Berarti engkau yang mengatur turunnya hujan, dan mengatur halilintar yang menyambar itu?”

“Iya, saudaraku. Tapi atas ijin-Nya”.
“Ijin siapa?”.
“Tentu saja atas ijin Allah yang Maha Kuasa”.
“Yang menguasai aku dan dirimu, juga jagat raya ini” Lanjutnya.

Ompu Bai teringat suasan alam yang cukup mencemaskannya, juga kebanyakan manusia. Angin yang kencang, halilintar yang menyambar, awan tebal yang menutupi atap-atap langit dan matahari yang menjadikannya mendung. Dalam hati ia melirih.

“Lalu..., Apakah saya masih tertidur atau sudah sadar?”. Rupanya tetap didengar oleh malaikat pengatur alam. Walaupun Ompu Bai menganggapnya sekedar dalam hati. Bahkan semua yang ia pikirkan sejak tadi, juga diketahui.

“Wahai Ibrahim!”. Malaikat kembali menyapanya.

“Dihadapan manusia kamu memang sedang tertidur. Tapi, sesungguhnya inilah kesadaranmu yang sebenarnya. Setiap hari banyak manusia merasa terjaga, padahal mereka sedang tertidur”. Jelas maliakat pengatur alam.

“Halilintar yang menyambar keras, angin yang berhembus kencang, dan awan tebal sehingga menjadikan harimu mendung adalah wajar engkau cemaskan. Karena ia akan mendatangkan bencana banjir dan kehancuran bagi kalian”. Lanjut malaikat, menjawab semua apa yang di anggap Ompu Bai hanya ada dalam pikirannya.

“Ibrahim saudaraku. Kamu sudah mencapai puncak tertinggi dari manusia pada umumnya. Karena itulah kita bisa berkomunikasi dengan kejujuran tingkat tinggi. Juga dengan bahasa yang hanya penduduk langit saja yang tahu. Apa yang engkau ingat dan pikirkan aku mengetahuinya, begitupun sebaliknya”. Kata malaikat pengatur alam. Membuat Ompu Bai merasa tenang.

“Wahai malaikat pengatur alam! Mengapa hujan tidak jadi turun, padahal terjadi mendung yang lama, angin yang kencang juga halilintar yang tak hentinya menyambar”.

“Sebenarnya hujan sedang turun, hanya tidak berlebihan Ibrahim!”.
“Mengapa?”

“Karena alam disekitar tempat kalian tinggal kurang mampu lagi menyerap air. Tentu saja kau tahu alasannya”. Ompu Bai langsung memahaminya. Muncul dalam ingatannya, hutan-hutan sudah banyak yang dibabat dan digunduli serta sungai yang semakin dangkal dan sempit. Keserakahan manusia membuatnya lupa pada akibat perbuatan mereka.

“Ibrahim saudaraku. Andaikan bukan karena lantunan do’a keselamatan untuk umat manusia yang kau panjatkan pada-Nya dan hadiah yang sering kau kirimkan untuk para malaikat pengatur alam. Mungkin badai akan datang bersama hujan yang sangat deras. Tetapi kasih sayang Allah melebihi murka-Nya”. Ompu Bai terharu. Lantunan do’a-do’a yang ia pinta tenyata diijabah oleh-Nya. Sehingga sesuatu yang ia cemaskan kini tidak terjadi. “Alhamdulillah”. Lirihnya, air matanya tak terasa telah sampai di pipi.

 “Kek.... kakek...”.
“Bangun kek..”. Ada suara lain yang memanggil.

Ompu Bai terbangun, lalu melihat wajah cucunya – Zain – disamping Zain ada tiga rantan yang tersusun rapi. Zain dan tiga rantan yang tersusun rapi tidak bisa mengalihkan perhatiannya. Ia kemabali mengingat sesuatu yang ia rasakan sewaktu “tertidur”. Ompu Bai merasa sangat bersyukur, bisa berkomunikasi langsung dengan Sang Malaikat pengatur alam. Hanya ada sedikit hal yang disesalinya, yaitu tidak mengucapkan salam perpisahan dengan pengatur alam itu. Kemudian mulutnya bergerak pelan tanpa suara yang terdengar. “Assalamu’alaikum malaikat pengatur alam. Semoga lain kesempatan kita bisa bersua lagi”. Lirihnya. Zain hanya melihat mulutnya bergerak tapi tak mendengar apa-apa juga tak bertanya.

“Ayo makan dulu”. Ajak cucunya. “Tadi saya terlambat karena dilarang sama Ibu juga sama Ina Osi – tetangganya – kata mereka hari sangat mendung, takut terjadi apa-apa ditengah jalan”. Lanjutnya dengan wajah yang polos penuh kejujuran.

 “Ndak apa-apa nak. Justru kakek lebih khawatir sama keadaanmu”.
“Ayo kita makan bareng dulu”. Sambil melepas rantan satu persatu dari ganggangnya.
“Oh iya. Uda asar nak?” Tanyanya pada Zain. Memecah suasana.
“Belum kek. Tadi aku berangkat dari rumah pukul dua lewat empat puluh tujuh”.
“Berarti bentar lagi. Usai kita makan kita solat berjama’ah dulu”. Katanya pada Zain.

Sembari menikmati suguhan yang dibawa oleh cucunya. Ompu Bai menasehati cucunya banyak hal tentang hidup. Seperti yang dilakukan kakeknya sewaktu ia sendiri kecil dulu. Di sela-sela itu pula. Ompu Bai mengatakan pada Zain, kalau usai solat nanti akan bersama-sama mengirimkan hadiah untuk ayah dan neneknya. Juga untuk seluruh umat manusia. Kemudian ia tambahkan, “dan untuk malaikat pengatur alam”.

“Malaikat pengatur alam?”. Tanya Zain memperlihatkan wajah polosnya yang penuh tanya.
“Emang ada kek. Bukankannya Allah yang mengatur segalanya?”. Lanjutnya.

“Ia Nak. Memang Allah yang mengaturnya, bahkan semuanya. Tapi, Allah menugaskannya pada malaikat”. Jawab Ompu Bai. Sedangkan Zain hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Lalu lanjut menikmati santapan didepannya. Walaupun sederhana, tapi keduanya sangat suka. Apalagi Zain. Selain itu, makanannya cukup sehat. Nasi ditemani sayur bening yang terbuat dari kangkung, bayam, dan juga daun kelor. Ditambah ikan teri yang dicampur sambal tomat yang agak pedas. Khas buatan ibu Zain dan juga kesukaannya.

“Enak ya kek”.
“Ayo tambah lagi”. Ucap Ompu Bai sembari mencubit manja pipi cucunya.
“Heh....heh... iya kek..”. Zain tersipu malu. Tapi tetap tambah juga.

Mereka menikmati hidangannya. Ditemani daun-daun padi yang menari diiringi kicauan burung yang bernyanyi dengan irama yang merdu.


Pengarang : A.S. Matupha
Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta


Catatan Kaki:
[1] Ompu : kakek, Bai : Sapaan hormat untuk nama Ibrahim. Ompu Bai merupakan cara sapaan menghormati atau sapaan tanda sayang dalam masyarakat Bima.
[2] Ina : ibu, Lomi : sapaan Hormat untuk nama Halimah. Jadi, Ina Lomi : ibu Halimah. Fungsinya sama seperti pada catatan kaki nomor [1]
[3] Tempat untuk berteduh yang berada di pinggir sawah. Terdiri dari empat penyangga kayu, lantainya terbuat dari bambu yang dibelah dan dipehalus. Sedangkan atapnya terbuat dari daun kelapa yang dianyam dengan rapi.
[4] Sapan hormat Untuk Guru Idris. Dero : sapaan hormat untuk nama Idris

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website