Headlines News :
Home » , » May Day, Demonstrasi itu Biasa Karena Kita Demokrasi

May Day, Demonstrasi itu Biasa Karena Kita Demokrasi

Written By Pewarta News on Selasa, 01 Mei 2018 | 15.11

PEWARTAnews.com -- Hari buruh sedunia (1 Mei) baru saja berlangsung, demonstrasi terus berangsur, sampai media pun siaran langsung dan di beberapa daerah rusuh karena beberapa unsur. Hari buruh dijadikan kontestasi disetiap tahunnya di Indonesia untuk menyampaikan aspirasi rakyat kepada pemerintah demi melihat dan memandang kehidupan rakyat yang lebih layak, pasalnya para buruh menilai upah yang di terima oleh mereka belum bisa dikatakan sebuah upah yang layak sehingga disetiap tahunnya para buruh turun kejalan dan menyampaikan aspirasinya dan tuntutannya kepada pemerintah mengenai perihal upah buruh.

Hari buruh jatuh pada tanggal 1 Mei dan di setiap tanggal dan bulan tersebut para buruh melakukan aksi demonstrasi di berbagai tempat, tujuannya adalah supaya pemerintah pusat sedikit melirik para buruh di negeri ini untuk kesejahteraan mereka. Bukanlah sebuah masalah ketika kita melihat para buruh berdemonstrasi di berbagai tempat, bukan pula menjadi penghalang Negara untuk berkembang karena perihalnya buruh sering rusuh ketika menyampaikan aspirasinya karena Negara kita adalah Negara demokrasi sudah pasti undang-undang dan aturan yang ada di negeri ini sudah mengatur semua tentang buruh dan demosntrasi oleh karena itu mereka (buruh) melakukan demonstrasi itu adalah perintah undang-undang. Di satu sisi undang-undang memberi kebebasan beraspirasi kepada seluruh rakyat Indonesia disisi lain pemangku kebijakan pun mendiskriminasi siapa saja yang argumennya menyinggung perasaan pemangku kebijakan itu sendiri.

Kali ini buruh tidak sendirian dalam menyampaikan aspirasinya kepada pemerintah tapi di temani ratusan mahasiswa, di Jogja para mahasiswa menyampaikan aspirasinya berakhir ricuh bertempat di Jl. Solo di depan kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, terlihat jelas para mahasiswa gabungan tersebut melempar Pos Polisi dengan sesuatu benda yang berakibat terbakarnya Pos Polisi, demosntrasi kali ini bisa dikatakan demonstrasi besar dibanding dengan tahun lalu, perihalnya demonstrasi di Jogja ini menuntut beberapa hal salah satunya turunkan harga BBM dan stop pembangunan NYIA (New Yogyakarta International Airport) yang menurut mereka menyengsarakan rakyat. Demonstrasi dalam tubuh Buruh dan Mahasiswa itu sudah mengendap lama dalam jiwa-jiwa mereka dan sekaranglah saatnya melepaskan uneg-uneg mereka kepada pemangku kebijakan, karena Buruh dan Mahasiswa menilai pemangku kebijakan hari ini tidak pro terhadap rakyat sehingga demonstrasilah panggung sebagai instrument menyampaikan aspirasi mereka.

Kita seharusnya bisa memilah ketika kita melihat para buruh atau mahasiswa dalam menyampaikan aspirasinya dengan cara merusak fasilitas Negara, itu semua di lakukan sebagai kekecewaan mereka terhadap kebijakan pemerintah yang tidak merakyat. Jangan kita meluangkan emosi kita kepada buruh maupun mahasiswa dengan mencaci maki mereka atau dengan mengatakan mereka bodoh karena mereka sudah merusak fasilitas yang ada, tapi itulah cara mereka mengekspresikan kekecewaan dan ketidakpuasan mereka terhadap kebijakan yang ada. Demonstrasi hari ini tidak seberapa rusaknya dibandingkan dengan demonstrasi di tahun 1998 yang mengakibatkan turunnya Soeharto dari Kerajaannya yang melibatkan jutaan mahasiswa di seluruh pelosok negeri, dan demonstrasi tersebut tidak saja menurunkan Soeharto dari kursi kekuasaanya tetapi juga menghilangkan nyawa orang lain karena benturan dengan aparat waktu itu. Lalu dimana letak kesalahan demonstrasi buruh atau mahasiswa hari ini yang belum seberapa, tidakkah kita berkaca pada tahun 1998 tersebut yang dimana aparat Negara tanpa merasa bersalah membabi buta melepaskan peluru mereka kepada mahasiswa sehingga tidak sedikit mahasiswa di zaman itu meregang nyawa. Bukankah menyampaikan aspirasi itu dilindungi undang-undang dan bukankah kebebasan berpendapat itu tercatat dalam kitab Negara, lalu kenapa harus kita menyalahkan para demonstan.

Dalam hemat penulis bahwa jiwa kita sudah melekat dengan sejarah, dan sejarah yang mengajarkan kita dalam berbagai hal sehingga terbentuklah jiwa-jiwa yang kuat, jiwa-jiwa kritis, dan jiwa-jiwa pejuang hak rakyat. Mahasiswa adalah penyambung lidah rakyat sekaligus tameng kekuatan rakyat ketika ingin berhadapan dengan kebijakan pemerintah yang tidak merakyat, demosntrasi hari ini adalah sebuah kewajaran karena kita hidup dalam genggaman Negara demokrasi dan hanya itu cara mahasiswa untuk mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah yang membelok dengan keinginan rakyat.
 

Penulis: Andri Ardiansyah
Mahasiswa Pascasarjana Program Doktor (S3) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
  
Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website