Headlines News :
Home » » Membangun Masyarakat Muslim, Prespektif Maqashid Jasser Auda

Membangun Masyarakat Muslim, Prespektif Maqashid Jasser Auda

Written By Pewarta News on Kamis, 24 Mei 2018 | 11.02

Profesor Yasser Auda.
PEWARTAnews.com -- Umat muslim kini menghadapi tantangan zaman yang sangat kompleks. Soal khilafah, hak asasi maunusia, kesetaraan gender, hubungan muslim dan non muslim, lingkungan, pengembangan sumber daya manusia, perkembangan ilmu dan teknologi, pembangunan, kemiskinan dan kesejahteraan adalah di antara sejumlah isu yang menonjol saat ini[1]. Untuk keluar dari kompleksitas masalah tersebut umat muslim memerlukan ijtihad-ijtihad segar atau fress ijtihad  (istilah Abdullah Saeed cendekiawan muslim kontemporer) agar mampu mengatasi probematika kontemporer yang begitu kompleks.

Dalam studi keislaman khususnya dalam kajian ushul al-fiqh salah satu tema  yang di bahas dan diskusikan oleh para cendik-cedekiawan muslim adalah Maqashid al-Syari’ah, yaitu tujuan-tujuan utama dalam Syari’at Islam. Telah banyak tokoh dan pemikir muslim pada masa klasik yang membahas tentang Maqashid al-Syari’ah, antara lain untuk menyebut beberapa diantaranya, adalah al-Syatibi (w.766/1388) dalam kitab al-Muwafaqat, al-Tufi (w.716/1316) dalam kitab Risalah-nya dan Abu Hamid al-Gazali (w. 505 H/ 1111 M).  Maqashid al-Syari’ah pada masa klasik lebih menekankan pada perlindungan (protection) dan penjagaan (preservation) atau yang lebih di kenal dengan al-hifz. Yaitu, menjaga agama (hifz al-Din), menjaga jiwa (hifz al-Irdh), menjaga akal (hifz al-Aql), menjaga keturunan (hifz al-Nasl) dan menjaga harta (hifz al-Mal).

Maqashid Jasser Auda
Profesor Jasser Auda adalah salah satu pakar terkemuka saat ini di bidang Maqhasid Syariah.  Auda adalah anggota Dewan Eropa untuk fatwa dan Penelitian; anggota, pendiri dan kepala Komite Dewan pada Perhimpunan Sarjana Muslim Internasional; mengajar di Fakultas di Studi-Studi Islam di Doha, Uni Emirat Arab. Meraih gelar Ph.D. di dua bidang: Filsafat Hukum Islam Di Universitas Wales, Inggris dan Analis Sistem di Universitas Waterloo, Kanada. Gelar master diraih di Islamic American University dengan tesis tentang Maqashid Syariah. Pernah menjadi direktur Maqashid Center di London, Inggris. Pernah menjabat Deputi Direktur di Pusat Legislasi dan Etika Islam, di Doha. Pernah menjadi guru besar di Fakultas Hukum, Universitas Aleksandria, Akademi Fiqh Islam di India, dan American University di Syarjah, serta Universitas Waterloo, Kanada.

Dalam bukunya Maqasid Shariah as Philosophy of Islamic Low, Auda memperkenalkan Maqashid al-Syari’ah dalam prespektif kontemporer yaitu, dengan pengoprasikan fitur-fitur teori Sistem yang ia tawarkan diantaranya,  Kognitif (al-idrakiyyah, konition), Kemeyeluruhan (al-kulliyyah, wholeness), Keterbukaan (al-infitahyyah; openness), hierarki-saling berkaitan (al-harakiriyyah al-mu’atamadah tabaduliyyan; interrelated hierarchy), multi-dimensionalitas (ta’addud al-ab’ad; multidimensionalty), terakhir adalah fitur kebermaksudan (al-maqasidiyyah; purposefulness[2]. Adalah fitur-fitur teori Sistem yang di tawarkan Jasser Auda.

Dari pengaplikasian teori sistem di atas dalam kajian hukum Islam, sehingga Maqashid al-Syari’ah dalam prespektif Jasser Auda memiliki radius jangkauan yang berbeda dengan teori Maqashid al-Syari’ah pada masa klasik. Jika Maqashid al-Syari’ah pada masa klasik menekankan pada perlindungan (protection) dan penjagaan (preserfation) maka teori Maqashid al-Syari’ah Jasser Auda lebih menekankan pada pembangunan, pengembagan (dofolopment) dan hak-hak (right). Untuk melihat lebih dekat bagaimana pergeseran teori Maqashid al-Syari’ah  klasik  ke toeri Maqashid al-Syari’ah kontemporer Jasser Auda atau dari protection dan preserfation ke dofolopment dan right, penulis akan mencoba menguraikanya agar lebih mudah di pahami.

Menjaga agama (hifz al-Din) bergeser dan diperluas radius jangkauanya menjadi menjaga, melindungi dan menghormati kebebasan beragama dan berkepercayaan. Menjaga akal (hifz al-Aql) bergeser  menjadi melipatgandakan pola pikir dan research ilmiah; mengutamakan perjalanan untuk mencari ilmu pengetahuan, menekan pola pikir yang mendahulukan kriminalitas kerumunan gerombolan, menghindari upaya-upaya untuk meremehkan kerja otak. Menjaga kehormatan; menjaga jiwa (hifz al-Ird) bergeser menjadi menjaga dan melindungi martabat kemanusiaan; menjaga dan melindungi hak-hak asasi manusia Universal. Menjaga keturunan (hifz al-Nasl) bergeser menjadi berorientasi kepada perlindungan keluarga, menaruh kepedulian yang lebih kepada instasi keluarga, mengingat banyaknya kasus kekerasan pada perempuan dan anak.

Menjaga harta (hifz al-Mal) bergeser menjadi mengutamakan kepedulian sosial; menaruh perhatian pada pembagunan dan pengembangan ekonomi; mendorong kesejahteraan manusia; mempersempit jurang yang lebar antara miskin dan kaya. Terakhir yang  membedakan teori Maqashid al-Syari’ah Jasser Auda dengan yang lain yaitu, dengan menjadikan Human Defolopment atau pembangunan sumber daya manusia sebagai target utama dari maslahah (public interest), sehingga Maqashid dapat dilihat dan dichek perkembanganya dari waktu ke waktu, diuji, dikontrol dan divalidasi melalui human devolopment index dan human defolopment target yang dicanangkan dan dirancang  oleh badan dunia, seperti PBB maupun yang lain. Dengan begitu kemajuan dan kesejahteraan umat Islam dari waktu ke waktu dapat di upayakan, diperjuangkan, diukur dan dipertanggung jawabkan secara publik[3]. Nah, dengan berpandangan seperti ini di harapkan masyarakat muslim khususnya muslim Indonesia dapat keluar dari segala komplesitas masalah yang dihadapinya. Sehingga dapat meningkatkan dan mengoptimalkan segala potensi yang ada.

Wallahu ‘a'lam bishawab


Referensi :
[1] M. Amin Abdullah, 2015, Membumikan Hukum Islam dengan Maqasid Syari’ah, Terjemahan "Maqasid Shariah as Philosophy of Islamic Low", Jasser Auda, Bandung, Mizan Pustaka.

[2] M. Amin Abdullah, "Bangunan Baru Epistemologi Keilmuan Studi Hukum Islam Dalam Merespon Globalisasi", Jurnal Asy-Syir'ah, Volume 46, Nomor 2, Desember 2012.

[3] M. Amin Abdullah, "Hak Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan: Pendekatan Filsafat Sistem dalam Usul Fiqh Sosial", Jurnal Salam, Volume 14, Nomor 1, 2011.


Penulis: Abdul Gafur
Ikatan Pelajar Mahasiswa Lambu Yogyakarta (IPMLY)

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website