Headlines News :
Home » , » Menyapa Sangiang Wera Bima dari Sisi Kearifan Lokal Masyarakatnya

Menyapa Sangiang Wera Bima dari Sisi Kearifan Lokal Masyarakatnya

Written By Pewarta News on Sabtu, 26 Mei 2018 | 21.55

PEWARTAnews.com -- Di bawah sinar matahari menjelang senja, penulis menyaksikan betapa indahnya karya cipta Tuhan yang maha seni. Panorama alam sore ditepi laut gunung Sangiang Wera membuatku semakin terkagum akan tanah kelahiran istriku. Sinar matahari begitu malu-malu dan manja dibalik gunung Sangiang. Seakan-akan berbicara kepadaku bahwa ia ingin bersantai karena lelah melihat para nelayan yang bergelut dengan ombak keseharian dalam kehidupan mereka. Matahari keluar dari peraduannya, menyingkap selimut awannya, menebarkan senyum manisnya kepada semua makhluk dan benda sekitarnya. Seakan gunung Sangiang dan desiran ombak laut Sangiang ingin sekedar menyapaku dengan secangkir kopi manis ditepi laut. Dari ujung pinggiran laut, aku melihat para nelayan berjalan ke arah perahunya untuk kembali mengais rezeki di tengah laut. Berharap ada ikan-ikan segar untuk dijual pada para penikmat ikan segar. Inilah saat-saat yang paling indah dalam mengisi liburanku di rumah mertuaku di ujung timur Kabupaten Bima Nusa Tenggara Barat. Dibalik kemegahan gunung Sangiang ada sebuah misteri yang belum terungkap, ada sejuta cerita turun temurun yang diwariskan oleh para leluhur di kaki gunung Sangiang. Cerita tersebut sampai generasi-ke generasi masih dapat dinikmati dari tutur bahasa.

Konon ada sebuah cerita tentang Ompu Sinta dan Wai Sinta, mereka melahirkan anak perempuan yang bernama La Sinta. La Sinta adalah gadis yang seperti bidadari yang turun dari kayangan. Karena kecantikannya La Sinta di sukai oleh makhluk-makhluk gaib sebangsa jin dan pada akhirnya konon La Sinta menghilang tampa jejak, ada yang mengatakan bahwa La Sinta di bawa menikah sebangsa jin. Oleh masyarakat Sangiang mempercayai bahwa Ompu Sinta dan Wai Sinta adalah penjaga kampungnya mereka. Menurut cerita masyarakat konon di gunung Sangiang hanya bisa ditanami gandum, wijen dan jewawo 'witir'. Dilarang menanam padi, beternak sapi dan kerbau. Namun seiring dengan waktu masyarakat Sangiang tidak berpatok pada cerita tersebut. Bahkan saat ini kerbau dan sapi terbanyak untuk beternak ada pada gunung Sangiang.

Pada masyarakat Sangiang dalam kesehariannya memiliki kebiasaan "Mama Nahi" memakan daun sirih yang dicampur dengan buah pinang "U'a" dan tembakau. Kebiasaan memakan daun sirih ini mempunyai sejarah sendiri pada masa penjajahan belanda. Konon pada masa penjajahan belanda, para penjajah ini kapal-kapalnya sering mampir atau bertandang di pulau Sangiang. Oleh karena itu untuk melindungi kehormatan bagi para wanita Sangiang, mereka memakan sirih dengan alasan apabila gigi mereka merah dan bercampur dengan tembakau para penjajah belanda tersebut tidak akan mendekati para wanita Sangiang tersebut. Karena nampak tidak bersih dan bau sehingga belanda-belanda tidak berani mengganggu. Wanita Sangiang pada saat itu mampu menjaga kehormatan dirinya dari tangan penjajah. Kebiasaan memakan sirih sampai hari ini kita temukan di masyarakat Sangiang.

Para wanita Sangiang wajib memakai sarung nggoli "Senggentu Tembe" sebagai wujud kepatuhan mereka pada tradisi dan perintah agama Islam. Pada saat itu setiap wanita Sangiang harus bisa menenun, sehingga disetiap rumah memiliki banyak sarung nggoli sebagai prasyarat antar mahar. Sarung nggoli dibagi menjadi beberapa macam. Pertama sarung nggoli untuk dipakai keseharian. Kedua sarung glendo yang dimana benang tenunannya agak kasar, ini disajikan pada saat antar mahar dan acara-acara budaya. Ketiga sarung hitam Sangiang "Tembe mee Sangiang" sarung ini dipakai pada acara-acara kesultanan oleh para penari menyambut kedatangan raja/sultan dan dipakai oleh para penari pada saat acara pernikahan. Keempat sarung Weri "Tembe Weri" untuk mengafani jenazah jenis sarungnya benang yang berwarna putih. Kelima sarung gelia "Tembe glendo dan galia" jenis benangnya kasar diperuntukkan untuk acara lamaran.

Pada prosesi meminang wanita yang dijadikan istri melewati banyak proses tidak semudah pernikahan didaerah lain. Kearifan lokal ini masih tumbuh dan berkembang di masyarakat Sangiang Wera. Pertama proses "Sodi Ntaru" artinya gadis ini belum ada yang memiliki oleh orang lain, pihak dari laki-laki mengirim utusan untuk menanyakan kepada pihak keluarga perempuan untuk memastikan wanita tersebut belum ada yang memiliki. Setelah mendapat jawaban dari pihak laki-laki baru masuk pada tahap kedua yaitu "Mai Kai" mendatangi pihak keluarga perempuan dimana tujuannya untuk siap untuk dilamar. Ketiga "Pita Nggahi" memastikan untuk bertunangan apa yang telah disepakati dan dibicarakan. Keempat "Sodi Angi" bertunangan pra lamaran. Kelima "Ka'deni Ma'doo" istilahnya mendekatkan yang jauh untuk persiapan pernikahan. Keenam "Nuntu Coi" kesepakatan mahar ini dibicarakan oleh utusan kedua keluarga. Ketujuh "Pamaco" menentukan agenda pernikahan dan membentuk panitia.


Penulis: Eka Ilham, M.Si.
Ketua Umum Serikat Guru Indonesia Kabupaten Bima

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website