Headlines News :
Home » » Mocopat Syafa'at Emha Ainun Nadjib

Mocopat Syafa'at Emha Ainun Nadjib

Written By Pewarta News on Minggu, 13 Mei 2018 | 11.23

PEWARTAnews.com -- Tulisan ini saya tulis dengan kata-kata sendiri namun “substansi”-nya sama dengan apa yang dimaksud dan dipaparkan oleh Cak Nun pada edisi bulan April 2018.

Seperti biasa mocopat syafa’at dibuka dengan lagu-lagu khas Kiyahi Kanjeng dan lantunan bacaan Al-Qur’an oleh salah seorang utusan, santri ataupun orang yang mendermakan dirinya untuk mengisi pra acara dalam tradisi setiap tanggal 17 di kediaman Cak Nun. Mocopat bulan ini diawali dengan pantomim oleh salah seorang sahabat karib EAN sejak kecil yang bernama mas Eko. Sesekali membaca puisi dengan penuh ekspresi dan diselingi drama yang menghibur, terbukti banyak jama’ah ma’iyah yang tertawa geli menyaksikan gerak gerik tubuhnya. Diakhir penampilannya, mas Eko bercerita bahwa beliau merupakan salah seorang teman yang setia dengan Ebiet G. Ade (Seorang penyanyi terkenal yang saat ini namanya masih sangat populer di tanah air). Hal itu karena mas Eko lah yang sering menyiapkan air mandi (ngangsu sumur) untuk Ebiet. Kala itu mas Eko bilang ke Ebiet, “Ebiet, kamu besok harus jadi orang yang berhasil, kalau tidak awas kamu ya!, Eh ternyata benar kini Ebiet yang paling melangit diantara sahabat-sahabtnya," ujar mas Eko. Tak hanya itu ternyata Ebiet juga orang yang diistimewakan oleh Cak Nun kala itu, meski saat itu Ebiet masih biasa-biasa saja (belum menjadi yang sekarang ini). Pada tahun 1976 Emha Ainun Nadjib dan Ebiet duet bernyanyi dalam acara Ramadhan in Campus di UGM, pada waktu itu.

Tak lama kemudian, Kiyahi Kanjeng melantunkan shalawat untuk menyambut kedatangan Cak Nun ke atas panggung. Bahkan jika saya boleh mengatakan, Sang Baginda Nabiyullah Muhammad pun juga ikut menyambut kedatangan orang terkasih yang amat mencintai Nya, mencintai Utusan Nya dan penebar kasih sayang kepada segenap makhluk Nya dialam ini.

Cak Nun mengawali dialognya dengan mengatakan, “Selebar dan seluas apapun benda di alam raya ini, termasuk manusia dan pepohonon jika diperkecil maka ukurannya akan sama”, dan jika dikreasi maka akan membentuk sesuatu yang baru. Artinya, seperti apapun manusia, sehebat, sekaya dan banyak pengikutnya pun kalau sudah tiba waktunya dipanggil kehadirat-Nya maka akan kembali seperti sediakala yang tidak membawa apa-apa. Masih pantaskah manusia sombong?

Di era sekarang banyak orang yang bangga manakala mempunyai banyak pengikut, mempunyai banyak santri dan hal-hal lain yang melekat dalam dirinya entah itu yang berbentuk jabatan, kekayaan, maupun popularitas. Dengan nada lirih, Cak Nun mengatakan bahwa “dirinya tidak pernah menginginkan mempunyai santri, bahkan beliau juga sedikitpun tidak pernah berdo'a dan meminta kepada Allah agar jama’ah maiyah-nya membludak seperti saat ini”. Namun sesuatu yang tidak pernah dipintakan Cak Nun kepada Gusti Allah itu-lah yang justru dianugrahkan Allah kepadanya. Cak Nun hanya ingin orang yang mendengar petuah dan dialognya dalam setiap kesempatan/diskusi dapat berubah ke arah yang lebih baik. Karena pada dasarnya, setiap manusia mempunyai kesempatan dan peluang yang sama untuk berubah ke arah yang lebih baik, meski harus melampaui setiap proses dalam kehidupan. Atas dasar itulah, Cak Nun mengatakan bahwa untuk sampai kepada Allah (sikap pasrah, taat, tunduk dan patuh) dibutuhkan sikap kesetiaan, andap asor dan tidak “gumede/merasa dirinya paling benar dan paling oke sehingga berimplikasi pada sikap eksklusif yang tidak mau menerima segala bentuk perbedaan, kritik konstruktif dan mudah menyalahkan orang lain.

Diskusi ini berlanjut pada dialog antara Cak Nun, bintang tamu dan para jama’ah maiyah. Banyak pertanyaan yang terlontar, diantaranya terkait dengan (1) ungkapan Nistische yang mengatakan “Tuhan Telah Mati”. (2) Bagaimana cara mengontol nafsu agar tidak marah dan tetap istiqamah untuk menebar kebaikan kepada sesama makhluk Tuhan, meski selalu dikhianati, dicaci dan dihina oleh manusia? (3) Apakah seorang da’i boleh memasang tarif?. (4) Bagaimana konsep Tuhan yang sesungguhnya? (5) Bagaimana penafsiran tentang Fir’aun dan seperti apakah gambaran fir’aun dimasa kini?

Orang Muslim tidak pantas “menjudge” orang atheis dengan sebutan “kafir dan neraka”. Bisa jadi, orang atheis tersebut hanya menutup-nutupi keimananya dan ia tidak ingin orang lain mengetahui apa agamanya karena itu merupakan hak antara dirinya dengan Tuhan-nya, bisa juga ia tidak ingin mendengar perspektif Tuhan dari mulut orang lain, karena ia ingin menemukan Tuhan yang lebih benar berdasar pada pencarian melalui berbagai pengalaman yang dilalui-nya. Dalam sebuah penelitian mengatakan lebih dari 3.400 nama tuhan yang digunakan oleh manusia untuk menyebut Tuhannya. Sehingga bisa jadi antara satu orang dengan yang lain memiliki perspektif yang berbeda tentang Tuhan-nya. Hal ini berkaitan dengan Tuhan yang selama ini dikenal oleh manusia merupakan bentuk imajinasi-nya yang dimanifestasikan dengan bentuk yang berbeda-beda sebagai wujud rasa cinta dan pengabdian total kepada-Nya, kalau umat Islam ya shalat. Manusia tidak akan bisa mencapai kepada Tuhan yang sesungguhnya, karena manusia itu nisbi. Sehingga untuk mengenal Allah, maka Allah mengutus Rasul-Nya dengan membawa ajaran/kitab sesuai dengan zaman Rasul tersebut, namun tetap esensinya membawa ajaran monotheistik (Tuhan Yang Maha Esa).

Terkait dengan ungkapan yang mengatakan “Tuhan Telah Mati”, maksudnya mati dalam bayangan si nistiche itu tadi. "Apa yang terlintas dalam benak manusia tentang Tuhan, itu bukan Tuhan yang sesungguhnya karena Tuhan diluar jangkauan manusia," ungkap Cak Nun. Namun, yakinlah bahwa Tuhan akan selalu bersemayam dalam diri manusia yang juga mencintai-Nya dengan menebar rahmat dan kasih sayang kepada makhluk-makhluk ciptaan-Nya. Implikasinya adalah, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Tak peduli orang lain akan baik/menghianati kita, yang penting tugas kita adalah “beramal”. Pada dasarnya, Fitrah manusia ialah hanif/condong kepada kebaikan. Hal itu terbukti bahwa potensi manusia 99% adalah (+/ positif). Sisanya yang 1% adalah nafsu lawwamah. Nafsu inilah yang terkadang membuat manusia terlena dan jika tidak bisa diminimalisir maka akan mendorong manusia untuk melakukan kejahatan. Atas diasar inilah, apabila manusia berbuat kesalahan dan kekhilafan, maka hatinya tidak akan nyaman. Cara mengontrol nafsu ialah ya dengan cara dikontrol. Analoginya seorang pecandu narkoba jika ingin bebas dari narkoba, maka harus berhenti mengkonsumsinya. Begitupula usaha manusia untuk mengontrol nafsunya, yakni harus ada dorongan dan niat untuk meminimalisir (man jadda wajada) sopo sik tenanan bakal iso.

Selanjutnya, terkait dengan da’i boleh nggak pasang tarif? Jangan minta, tapi kalau dikasih ya diterima. Wong itu rejeki. Itu merupakan hak dari orang yang mengeluarkan keringat atau tenaga-nya. Ada sebuah kisah dari sahabat Nabi yang sedang melakukan rihlah, ditengah-tengah perjalanan mereka berhenti disebuah rumah milik kepala suku yang sedang sakit gigi. Lalu salah seorang sahabt itu mengobati kepala suku tersebut dengan ayat-ayat Al Qur’an. Tak lama kemudian, sembuh. Sebagai ucapan terimakasih dari kepala suku, ia memberikan kambing kepada sahabt yang mengobati tadi. Namun sahabat tersebut enggan untuk menerima-nya dikarenakan takut memperjual belikan ayat-ayat Al-Qur’an. Kemudian sahabt tersebut datang kepada Nabi dan menceritakan itu semua, lalu jawab Nabi “terima saja, itu hak-mu, sebaik-baik obat adalah Al Qur’an".

Adapun karakter Fir’aun sebagaiamana dalam Qs. Al-Qashash ayat 4 disebutkan bahwa Fir’aun merupakan orang yang merasa dirinya “paling tinggi paling benar dan paling hebat” (‘ala fil ardhi..), Selain itu Fir’aun juga merupakan orang yang suka memperpecah belah kelompok dalam suatu masyarakat (wa ja’ala ahlahaa syiya’a), dan mematikan sifat kejantanan (yu dzabbihuna abna'ahum....). Implikasi dalam dunia modern saat ini ialah, apabila manusia memiliki sifat sombong, eksklusif, tirani, anti kritik (otoriter) maka dapat disebut sebagai fir’aun modern.

Terakhir, penulis akan menutup dengan kata-kata yang sering diucapkan Cak Nun, “Hidup ini puncaknya adalah keindahan, maka belajarlah seni. Kalau mencari kebenaran jalannya bukan dengan cinta, apalagi kebencian. Namun jalan menuju kebenaran adalah dengan Ilmu, meski setelah lengkap akan bertemu dengan Cinta. Dan jalan menuju kebaikan ialah dengan akhlaq yang dilandasi dengan semangat Al-Qur’an untuk dijadikan inspirasi menebar kedamaian dimuka bumi sebagai Rahmatan Lil ‘alamin.


Penulis: Mukaromah
Mahasiswi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website