Headlines News :
Home » , » Perpaduan Dua Insan

Perpaduan Dua Insan

Written By Pewarta News on Kamis, 03 Mei 2018 | 22.03

PEWARTAnews.com -- Tulisan ini ku persembahkan untukmu yang jauh disana, yang tak terlihat tapi hati selalu mengingat. Bicara cinta adalah bicara tentang hati! Ya, hati yang saling memiliki perasaan, hati yang saling merindu, dan hati yang selalu bersama berdo'a kepada-Nya untuk dipersatukan dalam ikatan yang halal. Hati ibaratkan raja yang memberi perintah kepada rakyatnya, dipatuhi perintahnya, diikuti kemauan dan keinginannya. Begitu pula dengan posisi hati dalam tubuh kita. Hati adalah king (raja) atas semua anggota badan yang harus dituruti keinginan dan kemauannya. Hati memiliki perasaan, entah itu perasaan baik maupun perasaan buruk. Hati juga memilki perasaan cinta maupun benci, dalam hati manusia memiliki perasaan bermacam-macam tetapi paling tidak manusia memiliki perasaan cinta kepada sesamanya.

Begitupun dengan saya. Saya memiliki perasaan cinta kepada seorang wanita dambaan yang jauh disana, yang tak terlihat oleh panca indra tetapi dapat difikirkan oleh logika sehatku. Tulisan ini ku deskripsikan untuk dia! Ya, dialah yang tidak bisa dilihat oleh indra ku, tetapi dapat ku ilustrasikan dengan logika sehatku. Ya, dia “Lolo Lika” namanya, seorang putri yang mampu melumpuhkan hatiku, seorang putri yang mampu membangunkan semangatku, seorang putri yang mampu mengembalikan senyumku yang manis. Ku ingin puisikan namanya di atas panggung cinta, tetapi apalah daya logika ku telah dilumpuhkan oleh cintanya, sehingga aku tidak mampu lagi berpikir inovatif. Bagiku dia adalah wanita yang sulit ku kenal karena dengan wajahnya yang paras cantik sama persis dengan kakak kembarannya, sehingga jika mereka berdiri bersamaan maka sangat sulit ku membedakan mana dia dan mana kakaknya.

Dulu (2016) aku mengenalnya lewat organisasi perkumpulan mahasiswa S1, S2, dan S3 se-NTB-Jogja, pada saat itu ada agenda kumpul bersama sehingga dalam pertemuan itu kitapun memperkenalkan diri satu-persatu di forum tersebut. Nah disitulah rasa ini mulai timbul seolah bunga yang mekar di pagi hari yang menerima energi dari sinarnya matahari. Rasa inipun terus terpendam karena waktu itu kita juga jarang ketemu fase to fase melainkan sesekali kalau ada agenda kumpul-kumpul saja, belum ada ruang dan waktu untuk mengungkapkan rasa yang terpendam dalam hati, sehingga lambat laun kitapun jarang ngumpul-ngumpul lagi, ditambah dengan kesibukan kuliah kita masing-masing.

Kebetulan kami satu almamater (universitas) di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, waktu itu dia sedang menjalani semester 2 jurusan Perbankan Fakultas Ekonomika dan Bisnis Islam (S1), sedangkan saya semester 2 (S2) di kampus yang sama. Seperti pada umumnya anak kuliahan, dengan dipisahkan oleh kesibukan masing-masing kamipun tidak lagi saling menanyakan kabar satu sama lain. Waktu terus berjalan menuju kedepan, tetapi rasa ini seolah masih ingin terus menanyakan keadaan dia yang sudah lama hilang dari fikiran, tetapi hati tidak lagi kuat untuk melontarkan sepatah kalimat walau itu dengan menanyakan kabarnya. Cinta memang tidak kita tahu kapan datangnya dan kapan munculnya, tetapi dia datang tiba-tiba dengan mendobrak hati ini sekuat mungkin. Cinta tidak seperti jelangkung yang datang tak di undang pulangpun tak di antar, tetapi cinta ibarat spidol permanen ketika kita menulis di papan putih maka sulit bagi kita untuk menghapusnya kembali. Begitu pula dengan cinta, dia datang dan muncul dalam hati lalu dia tinggal selamanya seolah hati itu menjadi rumah permanen yang tidak bisa di gusur oleh Pol PP.

Waktu terus bergulir, hingga akhirnya terpisah jauh dan tanpa kabar sedikitpun. Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan dan tahun demi tahun pun kulewati tanpanya. Kini sudah tahun 2018, tepat 2 tahun lebih tanpa kabar. Beberapa waktu lalu ku beranikan diri menanyakan kabarnya, dan mulai hari itu komunikasipun kembali terjalin erat dengannya. Hatiku hanya ingin melihatnya senyum walau kita berjauhan, hatiku hanya ingin mendengarnya tertawa walau hanya lewat kabar angin yang membawa masuk ke dalam hatiku. Dia adalah yang ku panjatkan do’a kepada Sang Pencipta semoga nanti hatiku dengan hatinya menyatu atas takdir-Nya.

Kisah Besambung…!
Tunggu episode selanjutnya.


Penulis: Andri Ardiansyah
Mahasiswa Pascasarjana Program Doktor (S3) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website