Headlines News :
Home » , , , » Sebuah Kajian tentang Kepenulisan

Sebuah Kajian tentang Kepenulisan

Written By Pewarta News on Selasa, 01 Mei 2018 | 13.29

Suasana Diskusi Kepenulisan.
PEWARTAnews.com – Menulis merupakan suatu hal yang sangat urgent dalam kehidupan manusia. Tanpa adanya tulisan, maka manusia tidak akan dapat berkomunikasi. Tutur kata dan paradigma berpikir manusia dipengaruhi oleh bacaan, apapun itu. Dapat dibayangkan, apabila di dunia ini tak ada tulisan, mungkin manusia tidak akan dapat survive seperti saat ini. Tak hanya itu, menulis merupakan ladang investasi dunia akhirat yang akan abadi, meski jasad telah tiada. Sebagaimana ungkapan orang bijak yang mengatakan bahwa gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan amal. Salah satu bentuk amal ialah tulisan.

Dengan menulis maka manusia akan tetap ada dan terkenang. Gagasan, ide, pemikiran dalam suatu karya seseorang akan tetap hidup yang dijadikan sebagai sumber inspirasi, rujukan/referensi dalam hal keilmuan. Sebagai contoh, Nurcholish Madjid, Ahmad Wahib, Hasyim Asy’ari, Ahmad Dahlan, Socrates, Karl Marx, Muhammad Rasyid Ridha, Muhammad Abduh, Jamaluddin Al Afghani, Ir. Soekarno, dan lain-lain yang mana pemikiran (karya) mereka sampai “saat ini” masih dijadikan sebagai spirit untuk menapaki jejak ilmu dan pengetahuan baik dalam pendidikan formal dan non formal, training maupun organisasi.

Dalam sejarah Islam, Allah SWT pertama kali menurunkan firman-Nya yang memerintahkan manusia untuk mencari ilmu pengetahuan dan menggali potensi diri dengan “membaca”, membaca apapun itu baik qauliyah maupun kauniyah. Dengan demikian, budaya literasi sudah diperkenalkan Allah sejak Al Qur’an pertama kali diturunkan. Lalu apa kaitannya membaca dengan menulis? Jelas ada. Seorang penulis tidak akan mampu menulis dengan baik dan berbobot manakala tidak didukung oleh wacana yang luas (read: bacaan yang banyak). Oleh karena itu ada korelasi positif antara membaca, menulis dan spirit untuk menjelajahi ilmu pengetahuan.

Ibnu Sina, Al Ghazali, Ibnu Rusyd, Imam Malik, Abu Hurairah, Anas bin Malik dan sederet sahabat-sahabat nabi merupakan contoh orang-orang muslim yang haus akan ilmu, sebagai manifestasi dari pencarian–nya maka mereka berkarya dan menghabiskan sisa hidupnya untuk berkontribusi penuh bagi kemajuan islam dan negaranya. Itulah mengapa, maju mundurnya suatu bangsa dapat dilihat dari kualitas peradabannya, salah satunya melalui pendidikan. Dunia pendidikan memegang peran sentral dalam upaya membangun peradaban bangsa. Dalam sejarah pendidikan disebutkan bahwa bangsa Parsi Kuno dikenal sebagai bangsa yang memiliki kualitas peradaban tinggi tatkala berhasil menggerakkan bangsanya dalam tulis menulis. Hal tersebut bertolak belakang dengan Indonesia yang masih berada dalam tingkat literasi yang rendah.

Data United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) mengatakan bahwa Indonesia berada di urutan nomor 2 dari bawah dalam hal literasi. Banyak persoalan di dunia akademik yang harus segera diatasi guna perbaikan kualitas bangsa agar lebih baik, salah satunya dengan meningkatkan minat dan motivasi menulis dikalangan akademisi.

Oleh karena itu, pada hari Kamis 12/4/2018 diadakan Diskusi Kepenulisan yang diselenggarakan oleh LAPMI Edukasi HMI Komisariat Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dengan pemantik Bang Mugiharjo. Diskusi ini diikuti oleh beberapa kader HMI yang mengalami keresahan dan kegelisahan akademik dalam hal tulis menulis. Karena tak bisa dipungkiri bahwa dalam dunia pendidikan, sebagai legitimasi seseorang dapat lulus dari suatu jenjang (S1,S2,S3) harus dapat membuat karya ilmiah yang berbentuk tulisan sebagai hasil dari penelitian dan pengabdian dalam realita empirik.

Namun yang menjadi persoalan ialah menulis jangan hanya “musiman” (Saat mau nyusun skripsi, thesis, disertasi, paper, jurnal, makalah, dll) namun bagaimana kiat menulis dijadikan sebagai “habit dan spirit” untuk membangun peradaban bangsa yang lebih baik.

Diskusi yang bertujuan untuk mengembangkan skill dan membangun kesadaran kader-kader HMI (khususnya) terhadap urgensi menulis ini mendapatkan perhatian penuh dari beberapa peserta, terbukti dengan adanya pertanyaan dan tanya jawab serta dialog dalam forum. Lebih dari itu, dalam diskusi ini juga dipaparkan terkait dengan Etika Jurnalistik, cara jitu menyusun skripsi dan karya ilmiah serta tips dan trik mudah untuk menulis agar kontinue dan menyenangkan.

Besar harapan, semoga perintah Allah pertama kali yang termaktub dalam (salah satunya) dalam Qs. Al-Alaq ayat 1 (iqra’) dapat dijadikan sebagai spirit untuk berliterasi dan membangun peradaban dengan membaca, berdiskusi, berdialektika, beretorika dan menuliskannya dalam tulisan agar terkenang dan abadi selamanya. Menulis untuk keabadian! “Jika kau bukan anak raja pun juga bukan anak ulama’ terkenal, maka menulislah (Imam Ghazali).



Penulis: Mukaromah Zain Asy-Syarmidi
Mahasiswi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta


Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website