Headlines News :
Home » » Sekilas tentang Cak Nun

Sekilas tentang Cak Nun

Written By Pewarta News on Senin, 21 Mei 2018 | 11.44

Cak Nun.
PEWARTAnews.com -- Pemikiran Islam Emha Ainun Nadjib atau yang akrab disapa Cak Nun memang memilik titik kesamaan dengan pemikiran Nurcholish Madjid (Cak Nur) dan Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Titik kesamaan tersebut ialah inklusif, toleran dan moderat serta menyentuh esensi Islam terdalam yang tidak hanya sekedar halal, haram, makruh (aspek fiqih af’alul khamsah) yang menekankan kesalehan individu dihadapan Tuhan, namun yang jauh lebih dari itu ialah mencerahkan dan membawa Islam untuk kebaikan sosial (humanis) serta non-doktriner.

Dalam setiap maiyah Cak Nun tidak pernah menekankan janji-janji agama (surga dan neraka), namun lebih menekankan pada kesadaran dalam ber-agama. Hal ini penting, karena kesadaran merupakan titik awal seseorang dalam melakukan suatu tindakan. Jika kesadaran beragamanya baik, maka tingkah lakunya pun akan baik, begitu sebaliknya.

Kesadaran inilah yang akan menjadi pangkal dari terciptanya kasih sayang, cinta kasih, saling menghormati, menghargai dan saling memiliki diantara makhluk-makhluk-Nya yang dapat berimplikasi pada tatanan kehidupan yang aman, tentram dan damai. Dalam tataran individu, kesadaran ini nilainya jauh lebih tinggi daripada punishment maupun reward. Sebagai contoh, anak kecil akan tumbuh menjadi orang bijak manakala ia diberikan pendidikan yang “demokratis”. Dari, oleh dan untuk serta akan kembali kepada anak. Biarkan anak meng-ekspresikan diri dengan banyak hal, bebaskan dia bermain apa saja, meskipun diluar keinginan orangtua. Setelah anak mengalami sendiri dan ternyata terjadi hal-hal yang kurang mengenakkan, baru-lah orang tua memberikan edukasi dengan sebuah nasihat “oh ini loh akibatnya kalau kamu melakukan seperti itu”. Jadi lebih kepada kesadaran inividu, berbuat ke arah yang lebih baik karena dituntun kesadaran dan mengambil ibrah dari perbuatan yang telah dilakukan, tak terkecuali bagi orang dewasa.

Karena punishment dan reward sifatnya hanya sementara yang mana “orang melakukan sesuatu karena dapat hadiah atau karena takut (dihukum/didenda). Implikasinya apa? Setelah orang dapat hadiah mungkin semangat melakukan sesuatu akan turun, apabila tidak dibarengi dengan pemberian reward yang lebih besar. Begitu pula dengan punishment, orang akan melakukan sesuatu karena terpaksa.

Oleh dasar itulah, dalam setiap maiyah cak Nun selalu menekankan “jangan anggap aku ini kiyaimu, ustadzmu dan jangan berbuat baik karena-ku, tapi lakukan suatu perbuatan karena kesadaranmu, karena cintamu kepada Sang Pemilik Cinta”. Cak Nun tidak mau dianggap sebagai seorang kiyai atau ustadz yang setiap tutur katanya, perbuatannya ditiru oleh jama’ahnya. Namun yang diharapkan oleh Cak Nun kepada jamaahnya ialah melakukan suatu hal karena kesadaran, sekali lagi karena kesadaran. Kata Cak Nun “Ayo SINAU BARENG”, bareng-bareng sowan Gusti Allah.

Oleh karena itu, tak ayal Maiyah Cak Nun diikuti oleh orang dari berbagai macam kelompok dan golongan, bahkan berbagai macam agama. Cak Nun pun juga sering mendatangkan tokok-tokoh pemuka agama lain dan memberi kesempatan kepada mereka untuk berbagi ilmu dan pengalaman atau sepatah dua patah kata.

Terakhir, dalam menyampaikan pesan ajaran Gusti Allah, Cak Nun tidak pernah mendoktrin jama’ahnya dengan menyampaikan janji-janji surga dan kabar menakutkan dan bengisnya siksa neraka. Cak Nun ingin mengenalkan islam rahmat lil ‘alamin.


Penulis : Mukaromah
Mahasiswi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website